Tabitha menaiki tangga menuju lantai dua rumah kosnya dengan langkah lemas. Hampir seolah tidak bertenaga. Bahkan, di ujung tangga tadi, awal dia baru melangkah menaikinya, dia hampir saja jatuh terpeleset. Untung saja tidak. Tangan kanannya yang bebas tanpa direpoti tas bahu sewarna putih gading dengan sigap mencengkeram besi selusur tangga di sebelah kanan badannya. Dan sekarang, bunyi sepatu pantofel hitam yang dia pakai akhirnya menggema di sepanjang lorong lantai dua. Enam kamar kos yang lainnya, yang berada di lantai dua itu, semua masih gelap gulita. Pertanda bahwa para penghuninya belum ada yang kembali dari aktivitas mereka masing-masing. Baik di kantor, di kampus, atau di mana pun. Diam-diam Tabitha bersyukur, karena itu berarti dia tidak perlu siap-siap tersenyum seandainya tiba-tiba dia harus berpapasan dengan salah satu dari mereka. Tersenyum. Satu hal yang sangat tidak ingin dia lakukan saat ini.Senyum apa? Senyum manis? Bagaimana mungkin? Hatinya sendiri saja sedang asa
Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan,Tapi tentang menghargai apa yang kamu miliki, dan sabar menanti apa yang akan menghampiri.=Koleksi Mutiara Kata= Pria itu seperti tidak menyadari kalau kehadirannya di depan mata Tabitha selalu membuat Tabitha resah.Bagaimana aku bisa melupakan dia, kalau dia selalu ada di depan mata? Tabitha mengeluh.Kedua mata bulatnya menatap seorang pria yang baru saja keluar dari lift yang membawanya turun dari gedung menara utara. Merasa enggan untuk sekedar bertegur sapa, Tabitha lekas bersembunyi, berdiri di balik tanaman hias besar di samping pintu lift. Untunglah Adriano yang terlalu sibuk dengan ponsel di tangan akhirnya melintas di depan Tabitha tanpa menyadari kehadiran Tabitha di sana. Tabitha menarik nafas lega.Diperhatikannya langkah kaki panjang pria itu dan sosok tubuh tinggi menawannya yang mulai menjauh. Punggungnya terlihat kokoh, seolah menjanjikan tempat paling nyaman untuk bersandar. Tetapi sayang, itu semua hanya sek
“Hmm … iya, kok kamu tahu?” Tabitha memandang heran.“Sudah kuduga!” Adriano tersenyum.“Apa yang dia katakan padamu waktu itu? Kamu pasti masih ingat kan?” tanya Adriano, sambil menatap wajah Tabitha lekat-lekat. Sorot mata cokelatnya terasa tajam, dan berhasil membuat Tabitha seketika merasa gugup. Tabitha menggigit bibirnya. Kebiasaan lama yang dia pikir cara yang paling efektif untuk membantu menghilangkan efek kegugupan yang datang tiba-tiba.Adriano memperhatikan Tabitha dalam diam. Dengan sabar pria itu menanti sampai akhirnya gadis itu berhenti menggigit bibirnya dan menjawab pertanyaan darinya.“Dia … dia bilang kamu itu miliknya, jadi aku nggak boleh dekat-dekat sama kamu. Bicaranya sih panjang dan lebar, tapi intinya ya cuma itu.” Tabitha menjawab dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar, seakan-akan dia sedang berbicara hanya kepada dirinya sendiri.Jeda waktu pun tercipta. Tatapan gadis itu mulai kelihatan menerawang ketika dia mencoba menelusuri kembali jalur memori ing
Please, Adriano, katakan sesuatu! Jangan diam begitu! Tolong, katakan lagi!Tetapi … tidak.Pria itu hanya tersenyum sambil menatap Tabitha, tanpa berkata apa-apa. Tidak ada kalimat yang terucap. Pria itu hanya berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di dada, dan menatap Tabitha dengan matanya yang cokelat gelap.Tabitha mendongakkan kepala, karena memang harus begitu untuk bisa membalas tatapan mata pria itu. Adriano yang tubuhnya tinggi menawan membuat tubuh langsing Tabitha hanya sampai setinggi dagunya.Dan, itu sudah lama disadari oleh Tabitha, kalau dia adalah “si pendek” saat berdiri sejajar di hadapan pria itu.Dan, lagi, adalah perasaan yang sangat menyiksa ketika “si pendek” harus menunggu “si tinggi” berbicara. Ketika leher sudah terasa pegal karena kepala yang terus mendongak. Tetapi, yang ditunggu tidak kunjung berkata-kata.Lalu, ketika Tabitha sudah berdiri di ambang pintu malu. Ketika Tabitha hampir menyesali pengakuannya bahwa dia juga mencintai pria itu, sebagaimana
Dia? Tabitha terpaku.Serius nih?Ini sama sekali bukan keinginan Tabitha. Apalagi mimpinya. Bertemu dengan dia? Si pria itu? Di sini? Sekarang? Dalam situasi seperti ini?Ya Tuhan, apa masih belum cukup usahaku untuk menyembuhkan luka hatiku dulu? Melenyapkan rasa sakit itu? Trauma-trauma yang pernah kurasakan dulu ... apa aku harus mengingatnya lagi, Tuhan? Tidak sanggup rasanya! Biarkan aku bahagia dengan hidupku yang sekarang, Tuhan! Tabitha membatin.Tanpa berpikir dua kali, Tabitha langsung balik badan. Meninggalkan toko itu selagi masih sempat, tanpa membuang waktu. Berusaha secepat mungkin menjauh dari pria itu, pasti pilihan yang sangat jauh lebih baik daripada dia harus menghadapi pria itu lagi. Iya, pasti! Tidak terbayang rasanya kalau harus beramah tamah dengan orang-orang yang pernah menyakitimu, membuatmu sakit hati. Akan seperti apa rasanya?Tetapi ....“Bitha!”... terlambat! Pria itu sudah terlanjur melihat Tabitha.“Bith! Bitha! Tabitha!”Tabitha menolak untuk berhent
Sabtu cerah.Secerah hati Adriano yang sedang berdiri di tengah-tengah supermarket sambil memandangi Tabitha yang sibuk memilih buah alpukat. Sambil mendorong troli berisi aneka bahan makanan, aneka minuman dan makanan ringan yang sudah dipilih oleh Tabitha, Adriano melempar pandangan ke sekelilingnya. Sesekali pria itu tersenyum ramah pada wanita atau gadis-gadis yang mencuri pandang ke arahnya, yang akan membalas senyumannya dengan tersenyum malu-malu, atau membuang muka dengan pipi merona.Tabitha geleng-geleng kepala.“Suka tebar pesona juga rupanya ya? Aku baru tahu ...” ujarnya, sambil memasukkan sekantung buah alpukat yang sudah dia pilih ke dalam troli.Adriano tertawa kecil.“Aku hanya berusaha ramah! Apa itu salah?” Adriano balik bertanya.Tabitha merengut.“Nggak! Siapa yang bilang kalau itu salah?” ujarnya, dengan nada sedikit kesal.Kening Adriano sedikit berkerut."Kamu cemburu?" tanyanya.Tabitha menoleh."Apa? Cemburu? Nggak!" bantahnya."Yes, you are!""Nggak!"Adrian
Bayi mungil yang masih merah itu tertidur pulas di atas kasur kecilnya. Tabitha seolah tidak puas memandangi wajah cantik bayi yang berjenis kelamin perempuan itu. Bibirnya yang merah kecil. Hidungnya yang mungil. Rambut hitam yang masih sangat halus dan lembut. Anugerah yang sungguh luar biasa.“Bayi yang sangat cantik ya! Seperti dirimu!” Adriano tiba-tiba memeluk Tabitha dari belakang. Lengan berbulunya melingkar erat di pinggang gadis itu.Tabitha menggeliat kegelian. Hembusan nafas hangat pria itu mengusap lembut tengkuknya. Rambut panjang bergelombangnya memang sedang digelung. Memperlihatkan tengkuk yang putih mulus dan berbulu halus. Sangat menggoda hasrat Adriano untuk membuat “tanda merah”nya di situ. Tetapi sayang, bukan sekarang saatnya.“Berarti ... aku cantik seperti bayi, begitu ya?” tanya Tabitha.“Yes. But you are my ‘baby’!” Adriano berbisik di telinga Tabitha. Bibirnya menempel di daun telinga gadis itu. Membuat Tabitha semakin menggeliat.“Adrian ....”“Ehem!” Sand
“Hmm … Adriano … kamu ... mau bawa aku ke mana? Adrian ... Adrian ... sayaang ...."“Ke surga, Sayang! Kita akan pergi ke sana! Sabar ya!” ujar pria itu sambil menggendong tubuh seorang gadis menaiki tangga menuju sebuah kamar di lantai tiga.Suara bising dari musik yang menghentak di lantai dua masih dapat dia dengar jelas. Suara desahan nafas dari dalam kamar dengan pintu-pintu tertutup rapat yang baru saja mereka lewati, apalagi!Setelah membaringkan tubuh gadis yang sudah tidak berdaya itu di atas kasur, pria itu langsung mengunci rapat pintu kamar yang selama ini hanya boleh digunakan olehnya.Matanya tampak nyalang menatap tubuh yang sudah terbaring di hadapannya, hampir tanpa busana. Hanya terbalut pakaian dalam yang masih melekat, dan sebuah kemeja yang sudah setengah terbuka. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah nakal dari si pria jalang itu? Jeans yang sebelumnya dipakai oleh gadis itu sudah melayang entah ke mana. Dibuka paksa dan dilemparkan begitu saja oleh pria itu.Kancing
Adriano meletakkan file berisi berkas sindikat penjualan manusia itu di atas meja kopi di hadapan Ferdinan, tanpa banyak berucap kata.Ferdinan meliriknya, lantas langsung meletakkan kaleng minuman bersoda yang sedang dipegangnya ke atas meja, dan lekas meraih berkas itu.Tidak perlu waktu lama untuk membuat pria dengan wajah tampan dan garis rahang tegas itu menyunggingkan senyum sumringah ketika menemukan bahwa ada banyak hal yang sudah lama dia selidiki dan dicarinya selama ini, ternyata sudah ada di dalam berkas itu.“Bravo! Jenius! Akhirnya ... kecakapanmu kembali lagi, Teman! Selamat! Alonzo yang aku kenal akhirnya sudah kembali! Benar kan ... sudah kubilang, terlalu lama duduk di belakang meja di perusahaan itu bisa membuat otakmu tumpul! Nah, sekarang ... kapan mau kita selesaikan pekerjaan kita?” Pria itu berkata dengan penuh semangat sambil menutup berkas itu.“Anytime. Kalau memang sudah waktunya ... lakukan saja! I'm in!” sahut Adriano, sambil berjalan menuju pantry, lalu
“Are you serious? Kita tidak jadi pulang?” Ferdinan menatap lekat-lekat pria yang tengah duduk di sofa, sibuk berkutat dengan lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Sepasang mata cokelat pria itu bergantian menatap layar laptop yang menyala di atas meja kopi di depannya, dan selembar kertas yang berada di tangannya. Pria itu mengangguk yakin, sebagai jawaban untuk pertanyaan yang diajukannya. Astagaa...! Ferdinan mengacak-acak rambutnya sendiri, geram, lalu geleng-geleng kepala. Ah, kalau saja dia tidak mengenal pria bermata cokelat itu sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya sejak mereka masih sama-sama remaja, mungkin saat ini dia sudah menganggap pria yang duduk di hadapannya itu gila dan bodoh. Bahkan, bisa jadi satu kali tinjunya pun sudah bersarang di lambung pria itu. Sekarang, bagaimana dia tidak marah, kalau dengan seenaknya pria itu baru saja bilang bahwa dia sudah membatalkan rencana kepulangan mereka ke Italia, sekaligus membatalkan semua rencana dan strategi yang suda
“Tolong ... jangan sakiti aku!” Tabitha meratap dan mengerang pelan ketika bekapan tangan pria itu dia rasakan mulai mengendur di mulutnya.“Sshhht ... siapa yang mau nyakitin lo?” ujar pria itu, masih sambil memeluk tubuh Tabitha.Astaga! Tabitha terperanjat.Suara itu ... suara itu seperti pernah aku dengar! Tapi ... suara siapa? Siapa dia?“Siapa ka_kamu ....”“Ini gue. Masa’ lo udah lupa sama gue? Kan belum lama kita pernah bermesraan! Lo pasti masih ingat kan? Ini gue yang waktu itu hampir memperkosa lo di malam itu, Sayang! Percintaan kita yang panas di kamar hotel gue dulu ... ah, seharusnya kan sangat berkesan buat lo! Lo pasti belum pernah merasakan sentuhan dari tangan lelaki sampai sejauh itu kan?” Pria itu menyeringai, menertawakan, sambil tangannya lalu mengelus bagian dalam paha Tabitha.Tabitha langsung terlonjak kaget. Tubuhnya seketika memberontak. Mata bulatnya langsung membelalak. Sementara pria itu malah tertawa tergelak. Entah di mana pria itu menaruh otaknya. Di b
Terdengar suara deru mesin mobil di halaman depan rumah Sandra. Untuk sekian detik hati Tabitha melonjak senang. Teringat olehnya kebiasaan Adriano yang tanpa bertanya akan langsung datang menjemputnya setiap kali pria itu tahu Tabitha sedang berada di rumah Sandra. Namun, kali ini tidak mungkin begitu kan? Sudah berapa minggu mereka tidak akur dan tidak saling memberi kabar?Dan ....Benar ... memang bukan Adriano!Mendadak Tabitha merasa sedih. Ditutupnya kembali gorden jendela ruang keluarga di rumah Sandra yang mengarah ke pintu gerbang, dan baru sekian detik tadi disibaknya.“Eh, ada si Neng Tabitha!” tegur Andre, yang kemudian muncul di tengah ruang keluarga dan mendapati Tabitha sedang duduk di sofa.“Tahu aja sih kalau malam ini aku bakalan pulang sambil bawa Sate Padang!” Andre tertawa lebar.Tabitha tersenyum.“Nih, makanan kesukaan kamu!” ujar Andre, sambil meletakkan plastik berisi tiga bungkus Sate Padang di hadapan Tabitha.“Waah ... terimakasih, Mas! Wangi bumbunya bikin
Ternyata memang sulit untuk menjauhkan diri dari yang namanya Cinta. Ketika kita mencintai seseorang dan kerinduan datang mendera, yang diinginkan hanya satu, selalu berada di dekatnya.Tidak perduli seberapa banyak rintangan yang harus dilewati, atau seberapa besar resiko yang harus dihadapi, akan terlihat kecil di depan mata ... kalau mau dihadapi bersama-sama. ~ Lady Rose ~ Tidak tahu apa yang harus dilakukan.Tidak tahu apa yang harus dikatakan.Kangen. Cuma kata itu yang sepertinya pantas untuk menggambarkan perasaan yang sedang Tabitha rasakan saat ini. Kangen yang masih bercampur dengan marah. Entah perasaan yang mana yang lebih mendominasi. Ingin bertemu dan bercanda berdua, atau ingin bertemu dan memaki?“Kangen ya?” tanya Sandra, sambil meraih bayi Vanya yang sudah tertidur lelap dari pelukan Tabitha.Dengan hati-hati, Sandra membaringkan tubuh mungil putri kecilnya yang baru semata wayang ke atas kasur berlapis sprei merah muda. Ketika baru diletakkan, bayi mungil itu semp
Kita hanya bisa menemukan kedamaian di kehidupan yang fana ini dengan menerima kehendak alam semesta.~Pet Sematary, Stephen King~“Mau ke mana?” tanya Adriano. Berdiri di ambang pintu kamar gadis itu.“Pulang.” jawab gadis itu, singkat, sambil mengeluarkan pakaiannya yang terakhir dari dalam lemari, lalu memindahkannya ke dalam koper besar miliknya.“Ke mana?”“Ya ke rumah kosku! Mau pulang ke mana lagi memangnya? Nggak mungkin kan kalau aku mau pulang ke kampung halaman sekarang?” sahut gadis itu.Adriano menghela nafasnya.“Bitha, please ....”“Kamu nggak usah kawatir, aku nggak akan bunuh diri lagi kok!” potong gadis itu, dengan nada sedikit marah.“Kamu, Sandra, juga Mas Andre, sudah nggak perlu mengawasi aku lagi! Aku masih mau hidup. Masalahku masih ada banyak. Kalau aku bunuh diri, bisa jadi arwah penasaran nanti! Aku nggak mau!” ujarnya lagi.Adriano memandang gadis itu. Gadisnya yang keras kepala, yang kalau sudah mengambil keputusan sudah susah untuk dirubah.“Tapi ... kamu
Tabitha memperhatikan wajah pria itu sekali lagi, dengan lebih teliti. Bekas luka yang membelah alis mata sebelah kirinya ... Tabitha tidak akan pernah lupa.“Benar kok! Bapak kan yang waktu itu ... di resort itu kan?”Pria itu tertawa terkekeh.“Iya, itu memang benar saya! Perkenalkan, Ferdinan Matteo! Dulu kita belum kenalan secara pribadi seperti ini kan ya?” ujarnya, sambil mengulurkan tangan, dan tersenyum.Tabitha menyambut uluran tangan itu.“Tabitha.”“Saya tahu!”“Oh ya? Memangnya Bapak masih ingat nama saya?”Pria itu tersenyum lagi.“Yup! Dan tolong, sudah saya bilang jangan panggil saya ‘Bapak’, apalagi ‘Pak Ferdinan’ lagi! Saya merasa tua kalau kamu yang panggil saya begitu! Umur saya saja cuma lebih tua satu tahun kok dari pacar kamu! Apa kamu juga panggil dia 'Bapak'?”Tabitha melongo.“Apa?”“Adriano Alonzo? Jangan bilang kalau dia bukan pacar kamu lagi ya! Dia bisa mengamuk nanti!”Tabitha menatap heran.“Bapak tahu dari mana kalau ....”“Kan sudah saya bilang jangan p
Beberapa jam sebelumnya.Tubuh telanjang bulat milik seorang gadis sedang berdiri di bawah pancuran air di salah satu kamar mandi di dekat kolam renang itu. Sedari tadi gadis itu sibuk menggosok-gosok sekujur tubuhnya dengan kasar. Seolah ingin membersihkan “kotoran” yang tidak pernah dia inginkan, yang tidak kunjung hilang, dan yang dia pikir masih “melekat” di kulit tubuhnya. Merasa frustasi karena akhirnya sadar bahwa “kotoran” itu tidak akan pernah bisa hilang sampai kapan pun, bahwa “kotoran” itu akan terus melekat di kulit tubuhnya, gadis itu menangis tersedu-sedu.Dia tidak rela kulit tubuhnya “ternoda”.Dia tidak ikhlas tubuhnya “tercemar” oleh tangan-tangan para lelaki yang tidak selayaknya menyentuh dia.“Kotoran” itu memang tidak tampak di mata gadis itu. Bahkan, tidak ada seorang pun yang bisa melihat “kotoran” itu. Tetapi, “kotoran” itu masih saja melekat di kulit tubuhnya, di dalam pikirannya. Menghantui dirinya, entah akan sampai kapan. Membuat dia terus merasa buruk. M
Gadis itu terbaring di ranjang rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik, walaupun masih kelihatan lemah. Tidak ada yang mengira bahwa dia mampu bertahan hidup setelah mengalami kecelakaan fatal seperti itu. Ketika tubuhnya sudah tidak bergerak, semua berpikir gadis itu sudah mati. Pengemudi mobil yang menabraknya pun berpikiran sama. Tetapi, dugaan mereka ternyata salah. Tuhan memberi gadis itu kesempatan hidup kedua. Entah untuk apa.Ketika para petugas membawa tubuh yang mereka pikir sebentar lagi akan menjadi mayat, pengemudi mobil yang menabraknya pun langsung tertangkap. Tetapi sayang, belum sempat mereka interogasi, para petugas aparat itu sudah kecolongan.Mereka hanya lengah sebentar, tetapi nyawa pengemudi yang ternyata seorang pria berbadan besar sudah terlanjur melayang.Dia bunuh diri. Menelan pil racun yang langsung menghancurkan lambungnya saat itu juga.Tidak ada surat-surat. Tidak ada tanda pengenal. Sidik jari pengemudi itu bahkan tidak terdaftar.Segala sesuatun