Share

Bab 2

Author: Frands
last update Last Updated: 2024-10-31 19:12:40

Juned berdiri dalam keadaan yang berbeda, setelah berada di ambang antara hidup dan mati akibat memakan Jamur yang hanya tumbuh 1000 tahun sekali. Beberapa luka yang di derita sebelumnya menghilang seketika. “Wah, kok aneh. Lukaku sembuh tak berbekas.” Juned merasa takjub dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.

Sudah semalaman Juned tidur di dalam hutan, lukanya juga telah sembuh.

Juned juga menyadari bahwa ada beberapa perubahan, seperti mentalnya yang kini kembali pulih. Juned bergegas kembali ke rumah, dia takut jika Tante Lilis khawatir karena semalaman dia tak pulang.

Ketika dalam perjalanan pulang, Juned melewati sungai yang airnya masih bersih di kampungnya. Juned berniat membasuh mukanya di sana agar terlihat lebih segar. Karena airnya yang bersih, sungai itu sering digunakan warga kampung untuk beraktivitas, mulai dari mandi sampai mencuci baju.

Saat berada di tepi sungai dan hendak menciduk air. Juned melepas kaos dan celana jeans milikinya menyisakan celana kolor pendek, dengan maksud agar pakaiannya tidak basah.

Ketika membasuh muka, terdengar suara tangisan tak jauh dari tempatnya. Tangisan yang terdengar pelan namun jelas bagi Juned. Dia baru menyadari ternyata ada seorang wanita yang sedang mencuci baju di sungai.

Ternyata itu adalah Vivi, istri seorang jawara di kampung itu. Juned melihat Vivi yang sedang menangis sesenggukan di tepi sungai.

Vivi saat itu hanya mengenakan kemben bermotif batik, menutup sebagian dada hingga atas lutut saja, mempertontonkan tubuhnya yang menggoda.

Juned mendekat ke arah Vivi hingga terlihat paha mulus yang menyilaukan mata. Seketika membuat bagian tubuh bawah Juned bereaksi, hal itu membuktikan bahwa miliknya kembali normal.

“Loh, kok jadi sesak celanaku,” gumam Juned, sambil berusaha menyembunyikan reaksi yang terjadi.

Juned yang awalnya melihat Vivi dengan pandangan penuh nafsu, berubah menjadi kasihan terhadapnya.

Juned melihat luka lebam di wajah cantik wanita itu. “Vivi, Apa yang terjadi dengan wajahmu itu?” Tegur Juned.

Vivi menoleh dan melihat kehadiran Juned yang hanya memakai celana pendek. “Juned, apa yang kau lakukan di sini?” dengan suara sedikit tersentak Vivi bertanya balik kepada Juned.

Awalnya Vivi merasa takut dengan adanya Juned yang mendekatinya, apalagi dia hanya memakai kemben yang hanya menutupi setengah bagian tubuhnya saja. Namun karena Vivi sering mendengar kabar bahwa Juned adalah seorang yang memiliki lemah syahwat.

Ketakutannya seketika menghilang. “Mana mungkin pria yang tak bisa berdiri melakukan hal yang tidak-tidak padaku.” Pikir Vivi dalam hati, membiarkan Juned duduk di sampingnya.

“Aku hanya membasuh muka saja kok, Vi.” Juned duduk di samping Vivi dengan rasa penasaran yang semakin besar tentang yang terjadi dengan wajah lebam itu.

Merasa belum terjawab keingintahuan, Juned mendesak Vivi untuk bercerita. “Apa ini ulah suamimu, Vi?” tanya Juned.

Vivi mengangguk pelan seolah membenarkan pertanyaan dari Juned. Dalam tangisan yang masih tersisa Vivi berusaha membagi cerita dengan Juned. Karena selama ini dia hanya memendam rasa sakit itu sendirian, tanpa ada orang lain yang mampu mengerti betapa tersiksanya batin dan jasmaninya.

“Semalam, Aku melihat Mas Anton bersama wanita lain, dan tak pulang ke rumah. Lalu tadi pagi saat dia pulang, aku mencoba bertanya kepadanya perihal wanita yang bersamanya semalam. Tapi....”cerita Vivi terhenti, seperti ada beban yang menahan ucapannya.

“Dia marah, lalu melakukan ini padamu.” Sahut Juned sambil menunjuk wajah Vivi yang menghitam.

Sebenarnya Juned tak terkejut dengan kelakuan Anton, suami Vivi. Karena itu bukan rahasia umum lagi di masyarakat bahwa Jawara Kampung itu selalu berlaku kasar kepada istrinya.

“Iya, Juned. Dia memukulku hingga seperti ini.” Ucap Vivi dengan suara yang bergetar.

Juned ingin menenangkan wanita yang tengah bersedih itu, tangannya ingin meraih kepala Vivi namun Juned takut jika dia akan mendapat penolakan. Akhirnya Juned mengurungkan niatnya dan memilih untuk terus mendengarkan cerita Vivi.

“Akhir-akhir ini dia jarang menyentuhku karena lebih suka main perempuan di luar sana. Apa aku ini kurang cantik?” Suara Vivi semakin bergetar, tangisan yang awalnya mereda kembali melanda. Membuat pilu hati Juned yang mendengarnya.

“Kamu itu cantik kok, Vi. Memang si Anton saja yang kurang ajar. Sudah memiliki istri secantik kamu, tapi masih mencari wanita lain.” Ucap Juned.

Vivi sedikit terkejut mendengar gaya bicara Juned yang seperti orang pemberani. Padahal Dia dikenal sebagai laki-laki yang pengecut dan lemah, tapi kali ini tak sinkron dengan gaya bicaranya yang sekarang.

Tiba-tiba Vivi menyandarkan kepalanya ke pundak Juned, hal itu terjadi begitu saja tanpa rencana dan komando. Hanya refleks kilat yang dilakukan oleh Vivi hingga Juned merasa bingung apa yang harus dilakukannya.

Baru pertama kali bagi Juned ada seorang wanita yang meletakkan kepalanya di pundaknya.

Juned akhirnya memberanikan diri untuk memegang kepala Vivi dan membelai rambut hitam Vivi yang panjang dengan sentuhan lembut. “kamu sabar aja ya, Vi.” Ucap Juned.

Hal itu membuat apa yang ada di dalam celana pendeknya kembali bereaksi. Laki-laki mana yang tak tergoda saat seorang wanita yang hanya mengenakan kemben bersandar di pundaknya,

Dengan rasa iba dan nafsu kepada Vivi yang muncul saling berbenturan dalam tubuh.

Juned memandang tubuh Vivi begitu dekat dari atas sampai bawah, menikmati setiap jengkal kulit kuning langsat yang memesona mata.

Juned menelan ludah saat matanya tertuju ke bagian dada yang segar.

Sesekali Juned berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya agar Vivi tak melihatnya.

Ketika mereka berada dalam posisi yang lumayan mesra, terdengar suara samar dari balik semak-semak. Ada seorang misterius yang ternyata sedang mengintip dan mengawasi mereka sejak tadi. “Aku harus melaporkan ini kepada ketua.” ujar seorang misterius itu. Kemudian melenggang pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.

Siapa orang misterius itu? Siapa yang dimaksud dengan ketua? Dan apa yang diinginkan dengan melaporkan Juned dan Vivi. Orang misterius itu terus menjauh dari tempat Juned dan Vivi tanpa diketahui oleh mereka berdua yang saling berbagi cerita.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
ORTYA POI
Salah prasangka seorang lelaki meskipun lemah lembut tetapi sifat lelakinya tak bisa di bohongin
goodnovel comment avatar
sumyati sumyati
sangat bagus
goodnovel comment avatar
sumyati sumyati
mantul ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Tukang Pijat Super   Bab 3

    Juned dan Vivi masih dalam posisi yang sama, kepala Vivi yang bersandar di pundak Juned, sedangkan Juned masih membelai lembut rambut Vivi. Pria itu semakin berani dengan merangkul kan tangannya ke pundak Vivi, merasakan kulitnya yang halus nan lembut. Vivi menumpahkan semua kesedihannya untuk beberapa saat kala itu. Hingga akhirnya dia tersadar dan tubuhnya menjauh dari pelukan Juned. “Maaf, jadi terbawa suasana.” Ujar Vivi dengan lirih, menunjukkan mukanya yang memerah menahan malu. Juned merasa canggung dengan yang baru saja terjadi, “iya enggak apa-apa.” Juned berusaha mengatur nafas dan birahinya yang sudah naik dengan membetulkan posisi duduknya. Sampai akhirnya desakkan yang ada di dalam celananya mulai mengendur. “Kenapa sih, Vi? Kamu masih terus bertahan dengan laki-laki seperti Anton.” Tanya Juned untuk mengalihkan perhatian. “Aku enggak bisa melakukan itu, Jun. Pernikahanku dengan Mas Anton dulu karena kondisi terpaksa.” Jawab Vivi dengan lirih, menundukkan waj

    Last Updated : 2024-10-31
  • Tukang Pijat Super   Bab 4

    Tanpa pikir panjang, Juned berlari menerobos lingkaran orang-orang yang mengelilingi Tante Lilis. Dia mendorong satu per satu dari mereka, sampai akhirnya berdiri di depan Anton. "Berhenti!" teriak Juned dengan nafas memburu. "Apa yang kalian lakukan?!" Anton tersenyum miring. “Oh, jadi akhirnya kau berani muncul juga, Juned,” katanya dingin. “Bagus. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan.” Sebelum Juned sempat bertanya, Anton mendekatinya dengan wajah penuh kebencian. "Apa yang kau lakukan dengan Vivi di sungai, hah?" suara Anton meninggi. Juned terdiam sejenak, pucat. Bagaimana Anton bisa tahu tentang pertemuannya dengan Vivi?. "Aku tidak melakukan apa-apa!" Juned menjawab dengan tegas. "Aku bertemu dengan Vivi secara kebetulan di sungai, saat aku sedang mencari tanaman herbal. Kami hanya mengobrol sebentar." Anton tidak mempercayainya. "Jangan bohong, Pria Letoy! Kau pasti membuntuti dia! Kau pasti berniat buruk terhadap istri orang!" Anton semakin mendekat, matan

    Last Updated : 2024-10-31
  • Tukang Pijat Super   Bab 5

    Lilis yang sedari tadi meringkuk ketakutan dengan tubuh gemetar. Sambil menangis dia berkata lirih, “tolong.. berhenti..” Anton dan para Anak buahnya kembali bersiap menghantam Juned beramai-ramai. Namun sebuah teriakkan kencang memekik di telinga setiap orang. “Hentikaaan!! Anton kumohon jangan sakiti dia lagi. Aku akan melakukan apa yang kamu mau. Asal berhenti menyakiti Juned.” Lilis berteriak histeris sambil menangis. Juned terkejut mendengar perkataan itu. “Apa yang kamu bicarakan, Tante? Jangan bicara yang tidak-tidak.” Lilis yang sudah dipenuhi ketakutan justru memarahi Juned. “Diamlah Juned, Aku tak ingin melihatmu dihajar seperti itu.” Sementara Anton langsung mengangkat satu tangannya memberikan isyarat berhenti kepada anak buahnya. Anton mendekati Lilis yang meringkuk, “Kalau seperti ini kan tak perlu ada kekerasan, sayang.” Tangan Anton membelai wajah Lilis hingga ke leher jenjangnya. “Tante, Jangan mau menerima tawaran bajingan itu…” “Cukup Juned, cukup,

    Last Updated : 2024-10-31
  • Tukang Pijat Super   Bab 6

    Beberapa saat kemudian, Lilis menatap Juned dan berkata, “Vivi cantik ya? Sayang suaminya sangat kasar kepadanya.” Juned tergagap. “Ii.. iya, tante. Aku sebenarnya kasihan sama dia, aku ingin menolongnya keluar dari jerat si Anton.” “Hush.. Sudah jangan bertindak bodoh lagi, jangan coba-coba melawan Anton. Dia itu berbahaya bagi kamu.” Lilis memberi peringatan kepada Anton untuk ke sekian kalinya. Juned merasa kesal, kali ini dia merasa bisa mengalahkan siapa pun. Namun Lilis masih menganggapnya sebagai pria lemah yang butuh perlindungan. Di lain sisi, Juned juga kesal karena Lilis menggagalkan kesempatan emas untuk menyalurkan hasrat bersama Vivi. Namun secara mengejutkan Lilis mengganti baju yang tadi sempat tersobek oleh Anton, “Oh iya, Jun. Kamu suka sama si Vivi?” kata Lilis sambil melepas kaosnya. Melihat gunung kembar Lilis yang begitu kencang dalam bungkusnya, hasrat Juned kembali menanjak. Mata Juned melotot seolah tak percaya, “kenapa kok ganti baju di sini,

    Last Updated : 2024-10-31
  • Tukang Pijat Super   Bab 7

    Telapak tangan Juned mengeluarkan cahaya. Juned merasakan kekuatan yang besar mengalir dalam tubuhnya. “Permisi, Mbak. Apa kamu mau dipijat?.” Pertanyaan Juned seolah ambigu di kepala Marina. Dia kan hanya ingin berobat, kenapa harus di pijat. Dari sini Marina mulai ragu dengan pengobatan yang dilakukan Juned. “Kenapa kok pijat?” Juned kembali mendekat ke arah Marina, lalu memegang tengkuk leher Marina yang jenjang. “Sepertinya ada darah yang menggumpal di dada kamu.” Kata Juned sambil memijat lembut leher Marina. “Oleh sebab itu, harus dipijat seluruh badan untuk melancarkan peredaran darah.” Marina mengerutkan kening, bola matanya berkeliling mengamati sekitar “Apa benar-benar harus mas?” Dengan santai dan percaya diri Juned berkata, “ kalau tidak mau sembuh, enggak usah.” Marina tersenyum tanpa kegembiraan, “Saya mau sembuh, mas” telapak tangannya mulai berkeringat. Juned menyuruh Marina menanggalkan kemeja beserta celana jeans yang melekat, menggantinya dengan

    Last Updated : 2024-11-01
  • Tukang Pijat Super   Bab 8

    Celana dalam itu lembut dan halus, dan seperti masih ada aroma dari Lilis yang tertinggal di dalamnya. Merasakan pakaian dalam di tangannya, Mau tak mau Juned membayangkan apa yang tadi dilihatnya. Hal yang membuat Juned semakin antusias dan bersemangat. Juned tak bisa melakukan dengan Lilis, namun dia hanya bisa berfantasi dengan barang milik Lilis saja. Di lepas ikat pinggangnya dan memasukkan celana dalam Lilis ke balik celananya. Tepat ketika Juned hendak memainkan kelima jarinya, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangnya. “Juned.. kamu sudah selesai mengobati pasiennya?” Lilis sudah berdiri di belakang Juned dalam keadaan rambut yang sudah basah. Juned sangat ketakutan hingga rohnya serasa mau keluar. Untuk beberapa saat dia menarik keluar tangannya dan membiarkan celana dalam merah tetap berada di dalam celananya. “Su.. sudah Tante.” Kata Juned dengan suara terbata-bata. “Juned, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Lilis. “eeee, enggak ngapa-ngapain

    Last Updated : 2024-11-12
  • Tukang Pijat Super   Bab 9

    Setelah kejadian tadi Juned merenung di dalam kamarnya. Membayangkan semua kejadian tadi. Sekian lama berkutat dalam pikirannya sendiri hingga akhirnya tertidur entah berapa lama. Tidurnya terganggu ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka. “Astagaa.. kenapa Tante Lilis ada di kamarku?” gumam Juned dalam hati sambil terus berpura-pura tidur. Sesekali dia mengintip dari kelopak matanya. Lilis hanya mengenakan daster bertali dengan motif bunga. Memperlihatkan pahanya yang mulus tanpa cacat sedikit pun. “Juned, sudah pagi. Kenapa masih....” Lilis berkata lirih sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Juned. Dia berhenti berucap ketika melihat sesuatu yang ada di balik selimut itu. “Aduh.. aku lupa memakai bajuku semalam.” Gumam Juned penuh kekhawatiran. Juned memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur sambil menahan malunya kepada Lilis. Barang milik Juned bereaksi ketika Lilis mendekatkan wajah ke arahnya. Lilis menelan ludah beberapa kali sambil memperhatika

    Last Updated : 2024-11-12
  • Tukang Pijat Super   Bab 10

    Ternyata Vivi muncul di sana dengan penuh amarah kepada Sugeng. Dengan langkah yang cepat Vivi menengahi mereka berdua yang nyaris baku hantam. “Kenapa kamu selalu membuat onar di kampung ini? Jangan mentang-mentang anak kepala desa, terus kamu bisa berbuat seenaknya!.” Teriak Vivi dengan kencang. Sugeng hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Vivi, “Kalau saja kamu bukan istri Anton, sudah aku habisi sekalian seperti si lembek ini!” Dada Juned semakin terbakar mendengar hinaan dari Sugeng. Kali ini dia tidak ingin diam saja harga dirinya terus diinjak-injak. “Sini kalau kamu berani, aku akan melawanmu.” Juned berusaha meraih Sugeng namun dihalangi oleh tubuh Vivi. Di tengah keributan antara Juned dan Sugeng, terdengar suara tawa yang menggema. “Ha ha ha ha. Sugeng, Sugeng.. Apa kamu enggak malu kalau melawan pria lemah macam Juned?” Sulastri muncul di antara mereka. Sugeng menahan amarahnya bersamaan dengan munculnya Sulastri, “Sulastri sayang, kenapa kamu kemari?

    Last Updated : 2024-11-13

Latest chapter

  • Tukang Pijat Super   Bab 300

    “Alisa?!”Adik perempuannya yang berusia 18 tahun itu berdiri dengan wajah pucat, baju kusut, dan mata yang penuh ketakutan. Juned yang tadi santai seketika berdiri tegak, semua pakaiannya sudah kembali rapi."Masuk, cepat!" Tania menarik lengan Alisa dengan kasar, matanya langsung memindai jalanan di belakang adiknya. Alisa gemetar seperti daun. "Mereka... mereka menemukan persembunyian kami." Tania mengunci pintu berganda, wajahnya berubah dingin seperti saat bertugas. "Ayah?" "Masih aman," bisik Alisa. "Aku lari lewat jalur berbeda." Juned sudah berdiri di depan jendela, mengintip keluar melalui celah tirai. "Tidak ada yang mengejar." Tania menarik Alisa ke sofa. "Kau seharusnya tetap di tempat persembunyian!" Alisa menggeleng liar. "Tidak bisa! Orang-orang itu sudah tahu lokasinya. Aku... aku bisa merasakan pikiran saat tanpa sengaja menyentuh salah satu dari mereka."Tania menghela napas, tangannya mengepal. “Aku akan panggil tim darurat dari kantor.” “Ti

  • Tukang Pijat Super   Bab 299

    Bu Ningsih menghela napas. “Aku harus pergi dulu. Mungkin anakku sudah menunggu.” Sebelum pergi, dia menepuk bahu Juned. “Kalau ada waktu, mainlah ke kampung. Kuburan Lilis di belakang pohon mangga besar itu.” Langkah Juned terasa berat. Setiap kali matahari sore menyorot dari balik pepohonan, bayangan pohon mangga besar seolah muncul di depan matanya. Selama ini, Juned tak pernah tahu di mana tepatnya wanita yang pernah mengasuhnya sedari kecil itu dimakamkan. Saat kematian Tante Lilis beberapa minggu lalu, Juned sedang terpuruk dalam jurang depresi – tak bisa membedakan siang dan malam, makan dan tidak makan, hidup dan mati. Juned membuka pintu rumah dengan langkah berat. Tania sudah duduk di sofa, seragam polisinya masih rapi terpasang. “Kamu dari mana?” tanya Tania sambil meletakkan dokumen di atas meja. Juned duduk di sebelah istrinya, menatap lantai. “Aku dari rumah Mbak Rizka, saat perjalanan pulang tanpa sengaja ketemu Bu Ningsih.” Tania mengangkat alis. “Bu N

  • Tukang Pijat Super   Bab 298

    “Sebenarnya...” Rizka memainkan ujung gamis longgarnya. “Aku sering bertanya-tanya, apakah pernikahan kami akan bertahan seperti ini.” Juned mengangkat alis. “Kenapa kamu berkata begitu?” “Kadang aku merasa seperti perempuan lajang,” ujar Rizka tiba-tiba, matanya menatap jauh ke jalanan. Juned mengerutkan kening. “Karena suamimu sering tidak di rumah?” Rizka menghela napas panjang. “Kerja shift 12 jam, pulang jam 9 malam sudah lemas. Langsung tidur, besok pagi berangkat lagi.” Tangannya memutar-mutar gelas kosong. “Aku... aku bahkan lupa kapan terakhir kali kami makan bersama.” Juned menatapnya dengan pandangan penuh pertimbangan sebelum akhirnya bertanya, “Maaf kalau ini terlalu pribadi... tapi bagaimana dengan kehidupan intim kalian?” Rizka tersedak, wajahnya langsung memerah seperti bunga kana. “M-Mas Jun!” “Maaf, aku hanya khawatir,” Juned cepat menjelaskan sambil mengangkat tangan. “Hubungan fisik itu penting dalam pernikahan.” Rizka memainkan ujung kebayanya,

  • Tukang Pijat Super   Bab 297

    Tania baru saja melepas kemeja seragam polisinya, memperlihatkan tank top hitam yang menempel ketat di tubuhnya, ketika— Ding-dong! Bel rumah berbunyi nyaring. Juned langsung tegang, batangnya yang masih keras berkedut. “Siapa itu?” Tania mengerutkan kening, berjalan ke jendela sambil merapikan pakaiannya. “Rizka,” bisiknya, matanya menyipit. Juned buru-buru menarik celananya. “Aku tidak mengundangnya.” Tania tersenyum licik. “Tidak apa-apa, Sayang.” Tangannya meraih dasi polisi yang tadi terlepas. “Mungkin ini kesempatan bagus.” Rizka berdiri di depan pintu rumah Juned dengan membawa nampan berisi kue lapis yang masih hangat.Suara langkah kaki tergesa terdengar dari dalam. Pintu terbuka, memperlihatkan Tania yang masih mengenakan seragam polisi lengkap, rambutnya sedikit acak-acakan. “Mbak Tania!” Rizka tersenyum lebar. “Aku baru saja membuat kue lapis, kebetulan banyak jadi kubawa untuk kalian.” Tania menerima nampan dengan kedua tangan. “Wah, terima kasih banya

  • Tukang Pijat Super   Bab 296

    Matahari sudah tinggi ketika Juned mengunci pintu rumahnya. Bau minyak pijat masih menempel di tangannya, bekas pijatan tadi dengan Bu Reni. Perutnya keroncongan, mengingatkannya bahwa dia dan Tania belum sempat sarapan karena bangun kesiangan. Udara siang yang panas menyengat kulitnya saat ia berjalan menuju warung makan dekat pos ronda. **Warung Makan “Sari Rasa”** “Bungkus nasi ayam satu, Bu,” pinta Juned pada ibu setengah baya di balik meja kasir. Ibu pemilik warung mengernyit. “Bumbu pedas atau biasa?” “Pedas saja.” Saat menunggu pesanannya, Juned mengamati sekeliling. Warung ini asing baginya, meskipun kemarin dia baru saja kemari. Ibu pemilik warung mengangkat alis. “Mas baru di sini ya? Kok saya belum pernah lihat.” Juned mengusap keringat di pelipis. “Saya suami Tania.” Mata ibu pemilik warung langsung berbinar. “Mbak Tania yang polisi itu ya?” Juned mengangguk sambil tersenyum kecut. “Astaga! Kenapa tidak bilang dari tadi!” Ibu itu segera menambahkan po

  • Tukang Pijat Super   Bab 295

    Bu Reni menatap langit-langit klinik yang sudah kusam, tubuhnya lemas di atas meja pijat. Minyak pijat membakar kulitnya di tempat-tempat yang seharusnya tidak terbakar. “Di sini titik pentingnya, Bu,” bisik Juned, nafasnya membelai telinga Bu Reni. Tangannya—Oh Tuhan, tangannya—sudah merayap jauh melewati batas. Bu Reni seharusnya menghentikan ini. Tapi alih-alih menolak, kakinya malah terbuka lebih lebar. Suara gemerisik di luar jendela membuatnya menegang. “Ada... ada orang ya, Jun?” suaranya gemetar. Juned hanya tertawa pendek, tak menghentikan gerakannya. “Cuma daun, Bu. Santai saja.” Tapi Bu Reni bisa merasakannya—ada yang mengamati. Mungkin Rizka, tetangga depan yang sebelumnya datang ke tempat Juned.Ah—! Tekanan jari Juned tiba-tiba berubah, kembali menyentuh tempat yang bukan seharusnya. Bukan untuk kesuburan. Bukan untuk pengobatan. “Juned... ini...” protesnya lemah, tapi tubuhnya malah melengkung mendekat. Kimono tipis itu kini terbuka sepenuhnya. Dinginn

  • Tukang Pijat Super   Bab 294

    Saat sudah di dalam rumah, Juned duduk di seberang Bu Reni yang terlihat sedikit lebih santai.“Sebelum mulai pijat, saya mau tanya sesuatu, Bu,” ujar Juned, mencoba membuka percakapan dengan nada tenang.Bu Reni mengangguk, tersenyum ramah. “Silakan, Mas Juned. Ada apa?”Juned menghela napas sejenak sebelum bertanya, “Saya penasaran, Bu. Waktu ngobrol sama Tania kemarin, dia bilang di perumahan ini jarang sekali ada anak kecil. Termasuk Bu Reni sendiri, katanya belum punya anak, ya?”Mendengar itu, ekspresi Bu Reni sedikit berubah. Senyum di wajahnya tetap ada, tapi matanya terlihat sedikit redup. “Iya, Mas Juned. Saya dan suami sudah menikah lebih dari sepuluh tahun, tapi belum dikaruniai anak,” ujarnya pelan.Juned mengangguk pelan, lalu bertanya dengan hati-hati, “Kalau boleh tahu, Bu, pernah periksa ke dokter?”Bu Reni tersenyum tipis, tapi ada sedikit kegelisahan dalam ekspresinya. “Belum, Mas. Kami berdua... jujur saja, takut kalau periksa. Takut kalau ternyata salah satu dari

  • Tukang Pijat Super   Bab 293

    Pagi itu, sinar matahari sudah menembus tirai kamar saat Juned dan Tania terbangun. Tania yang biasanya bangun lebih awal justru baru membuka mata ketika jam hampir menunjukkan waktu berangkat kerja.“Astaga, udah jam segini!” seru Tania panik, langsung bangkit dari tempat tidur.Juned yang masih setengah sadar hanya bisa mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. “Santai, masih sempat kalau buru-buru,” ujarnya dengan suara serak pagi hari.Tania segera berlari ke kamar mandi, mencuci muka dengan cepat, lalu mencari pakaian kerja tanpa banyak berpikir. Sementara itu, Juned hanya duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan kesibukan Tania yang panik.“Kamu nggak sarapan dulu?” tanya Juned ketika melihat Tania mulai mengenakan sepatu.“Aku beli aja di jalan,” jawabnya terburu-buru.Juned menghela napas, lalu berjalan ke arah Tania yang sudah siap berangkat. “Hati-hati di jalan, ya,” katanya sambil mengecup kening Tania sebelum dia melangkah keluar rumah.Tania tersenyum meski t

  • Tukang Pijat Super   Bab 292

    Tania yang sedang duduk di hadapan Juned menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut. “Oh, iya. Kamu juga menyadarinya ya? Memang di perumahan ini hampir nggak ada anak kecil.”Juned mengernyit. “Serius? Nggak mungkin, kan? Masa dari sekian banyak rumah di sini nggak ada yang punya anak?”Tania menghela napas pelan. “Ada sih, tapi sangat jarang. Rata-rata pasangan di sini sudah lama menikah, tapi belum punya anak. Bahkan Bu Reni, yang udah menikah lebih dari sepuluh tahun, juga belum dikaruniai anak.”Juned semakin bingung. “Aneh banget. Itu Cuma kebetulan atau ada alasan lain?”Tania mengangkat bahu. “Nggak tahu juga. Bisa jadi Cuma kebetulan, bisa juga karena faktor lain. Aku juga nggak pernah nanya lebih jauh.”Juned termenung sejenak, lalu berucap pelan, “Mungkin aku bisa bantu mereka...”Tania menatap Juned dengan penuh rasa ingin tahu. “Maksud kamu?”Juned tersenyum tipis, “Aku kan bisa pijat. Ada yang namanya pijat kesuburan. Siapa tahu bisa membantu ibu-ibu di sini yang kesulita

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status