Atas pertanyaanku itu, Richard hanya tertawa terbahak-bahak tanpa memberiku jawaban yang kuinginkan, penampilannya yang tampan terlihat menakutkan saat menertawakanku seperti itu.
"Kamu... kamu bisa-bisanya menculikku saat aku sedang tidur! Ini tidak adil, Rich!" teriakku, putus asa."Menculik? Sayang, aku tidak menculikmu, tapi aku MENANGKAPMU," ralat Richard dengan tersenyum sinis, mencengkeram pipiku sehingga aku meringis kesakitan."M-menangkap?"Richard yang begitu menakutkan itu tertawa melihat pekatnya ekspresi ketakutan di wajahku."Ya, Jeany. Kamu pasti telah berpikir sudah berhasil lepas dari genggamanku, kan? Sayang sekali, kamu salah. Dari awal pelarianmu sampai sini, aku tepat berada di belakangmu, Sayang," jawabnya, tertawa meremehkan dan mengambil sebuah tablet dan menunjukkan layarnya padaku."Lihat ini. Kamu pasti langsung tahu, bahwa hidupmu sekarang ada di genggamanku, kan?"Richard berkata dengan suara penuh percaya diri, menunjukkan bagaimana seluruh kegiatan pelarianku selama semalam penuh ini, benar-benar di pantau olehnya lewat kamera yang entah dia pasang di mana saja dan sejak kapan.Aku benar-benar seperti seekor hamster yang berlarian di roda dalam kandang.Mantanku tercinta ini, sepertinya sudah benar-benar sudah menyiapkan aksi balas dendam sejak lama!"Kamu, kamu.... "Aku langsung tak bisa berkata-kata. Bagaimana tidak. Mantanku, dia sangat menakutkan sekarang!!"Aku benar-benar serius waktu bilang padamu kalau tujuan hidupku hanyalah kamu, Jeany."Richard mengatakan itu dengan tatapan sungguh-sungguh dan membelai pipiku dengan jarinya yang panjang, sedangkan aku, mendesah dengan helaan napas berat."Itu... itu tidak terdengar manis sama sekali, Rich," sahutku, menutup wajah dengan kedua tangan dan menyingkirkan tangannya dari pipiku.Aku sangat ingin menangis dengan keras saat ini, tapi bahkan air mataku sudah kering!"Tentu. Siapa yang mengatakan itu adalah hal manis? Asal kamu tahu, tujuan akhirku adalah merobek dan memotong-motong tubuhmu yang cantik itu menjadi bagian-bagian kecil, Sayang. Kamu mungkin tidak tahu, tapi di rumahku, telah kubangun sebuah ruang bawah tanah khusus, yang aku persembahkan untuk tubuhmu," jawabnya, dengan ekspresi tenang."Ugh, Rich. Aku... aku minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Bisakah kamu memaafkannya dan kita berdamai saja, Rich? Tolong, tolong jangan bunuh aku," mohonku dengan suara bergetar.Richard tertawa sinis, lalu menjawab."Membunuhmu secara langsung tidak akan sangat menyenangkan, Jeany. Apa gunanya aku tersiksa bertahun-tahun kalau aku langsung menghilangkan nyawamu, Sayang?"Mendengar bagaimana berbahayanya ucapan Richard, tubuhku seketika bergetar ketakutan."Tidak! Kamu tidak boleh menyiksaku, Rich!! Sungguh, aku takut sekali dengan rasa sakit! Jadikan saja aku budakmu atau apa, tapi jangan sakiti tubuhku, Rich! Pleaseee?"Ku satukan kedua tangan, memohon padanya dengan mata ketakutan."Bahkan air matamu ini, air mata palsu, Jeany," ejeknya, saat mengulurkan tangan dan mengusap pipiku yang basah dengan ujung jari jempolnya."Tidak! Aku benar-benar ketakutan sekarang. Ini bukan akting, Rich. Please, jangan bunuh aku atau membuat tubuhku menjadi eksperimen mengerikan! Aku minta maaf, Rich! Sungguh! Aku bersedia menebus kesalahan itu dengan melakukan apa pun, tapi tolong, tolong jangan sakiti tubuhku!" seruku, menangkap tangannya dengan pandangan putus asa."Kalau hatimu?"Richard tiba-tiba menanyakan sesuatu, seperti di luar konteks."M-maksudnya, Rich?" tanyaku, kebingungan."Kalau aku menyakiti hatimu. Bagaimana?" ulangnya, tersenyum dengan wajah yang terlihat jahat.Meski begitu, melihat bagaimana ada sedikit celah bagiku untuk tidak mati dalam keadaan tersiksa di tangan Richard, segera menyahut dengan cepat."Tidak apa-apa. Selama itu bukan sakit fisik, aku akan menanggungnya! Aku bersedia menebus kesalahanku dengan mengalami apa yang dulu kamu alami dan membuat dirimu menderita, Rich! Kirimkan aku ke pria yang akan membuatku patah hati dan memohon-mohon di kakinya seperti yang dulu kamu lakukan padaku. Aku bersedia mengalami semua itu sekarang! Sungguh!" seruku penuh semangatApa pun. Asalkan tidak mengalami penyiksaan yang menyakitkan, aku bersedia.Namun, aneh. Bukannya terlihat senang dengan ucapan penuh tekadku, Richard malah memandangku dengan mata memicing. Terlihat jelas dia sedang sangat marah sekarang."Jeany, beraninya kamu menyebut laki-laki lain di depanku?" desisnya, mencengkeram kedua pipiku dengan kuat. Matanya menyiratkan kemarahan yang begitu dalam, sehingga aku hanya bisa menatap dirinya dengan kebingungan."A-apa... apa maksudmu? Kamu ingin aku mengalami yang dulu kamu alami, kan? Lalu, bukankah yang paling benar adalah mengirimku ke seorang pria untuk—""Jeany, jangan memancing kesabaranku!" bentaknya, keras.Tubuhku seketika menyusut ketakutan melihat kemarahan yang semakin membara di wajah Richard.Aku benar-benar tak mengerti! Apa sebenarnya yang dia inginkan?? Dia ingin hatiku tersiksa, kan?? Jadi, apa yang salah dari ucapanku???"R-Rich, aku minta maaf. Lalu... lalu apa yang kamu inginkan?"Hati-hati, dengan jantung berdebar kencang karena rasa takut yang begitu hebat, aku bertanya."Tidak ada laki-laki lain! Tidak, Jeany!"Richard kembali berteriak, mencengkeram pipiku dengan lebih erat.Melihat bagaimana dia sangat marah gara-gara pembahasan tentang laki-laki lain, aku segera menyahut dengan tergesa-gesa."Oke, oke. Aku tidak akan menyebutkan hal seperti itu lagi. Maafkan aku, Rich. Maaf.... ""Kalau ada pria yang harus membuat dirimu patah hati dan memohon-mohon di bawah kakinya, maka pria itu harus aku, Jeany. HARUS AKU," tegasnya, penuh penekanan.Mataku bergetar mendengar ucapan Richard yang penuh kontradiksi."B-bukannya kamu, kamu benci dan jijik melihat wajahku, Rich? Lalu kenapa.... "Aku benar-benar bingung dengan pria ini. Sungguh!Dia benci aku, kan? Lalu kenapa tidak boleh ada laki-laki lain? Apa sih sebenarnya yang dia inginkan??"Ya. Aku sangat benci sama kamu. Sangat! Karena bahkan setelah bertahun-tahun, satu-satunya wanita yang ada di mimpiku cuma kamu, Jeany. Cuma kamu. Kamu pasti bisa membayangkan bagaimana jijiknya aku padamu, kan?" sahut Richard. Wajahnya yang penuh kebencian saat menatapku, membuat aku menunduk dan hanya bisa menggumamkan kata maaf."M-maaf.... ""Aku akan menyiksamu dengan siksaan yang tidak bisa kamu bayangkan, karena itu, besok, kita menikah," ucapnya, tegas. Yang membuat aku seketika mendongak ke arahnya dengan kebingungan."APA??? MENIKAH??"Apalagi ini, ya Tuhan??!Dia benci aku, tapi mengajakku menikah???Orang sinting mana yang melakukan semua kegilaan ini?!"Kenapa? Oh, kamu pasti sangat tersiksa karena harus tiba-tiba menikah denganku, kan? Ya. Itulah tujuanku, Jeany."Richard yang sepertinya salah memahami reaksiku, tersenyum sinis. Terlihat sangat puas seakan-akan tebakannya benar.Aku tentu saja langsung menggeleng dan mencoba memberi tahu kebingunganku."Tidak. Bukan begitu.... Rich, kamu bilang kamu jijik padaku, kamu benci sekali padaku. Lalu... lalu kenapa kita harus menikah?"Aku bertanya, dengan sangat hati-hati."Kenapa? Tentu saja karena aku berniat membuatmu merasakan jatuh cinta berkali-kali padaku dan patah hati berkali-kali juga. Barulah setelah itu, kita berdua impas," jawabnya, penuh percaya diri.Tak tahu harus berkata apa, aku hanya menatap dirinya dalam diam.Jujur.Aku benar-benar tak tahu apa maksudnya, tapi, bukankah ini jauh lebih baik daripada dibunuh atau dikurung di ruang bawah tanah dan dijadikan subyek eksperimen mengerikan?Melihat bahwa ini mungkin pilihan yang sangat positif, aku segera mengangguk dengan semangat."Baiklah!! Rich, aku bersedia menikah denganmu. Aku juga bersedia jatuh cinta berkali-kali padamu dan bahkan patah hati berkali-kali padamu juga! Aku benar-benar tulus ingin menebus semua dosaku padamu, Rich!" ucapku dengan wajah sumringah, yang langsung disambut tawa sinis oleh Richard."Jeany, betapa percaya dirinya. Kamu belum merasakan apa itu cinta dan patah hati, kan?""Eh, itu... itu.... "Aku tak bisa menjawab, karena memang, tebakannya benar.Aku hanya pernah pacaran satu kali, yaitu dengan seorang pria bernama Dante Richardo, itu pun dengan tujuan mengeruk harta orangtuanya. Jadi, aku benar-benar tak tahu apa itu jatuh cinta. Aku terlalu sibuk bertahan hidup karena aku sangat miskin. Jadi mana mungkin ada waktu untuk jatuh cinta?"Patah hati bahkan lebih mengerikan daripada kehilangan nyawamu, Jeany. Kamu terlalu meremehkan hal-hal seperti itu," ejek Richard dengan tawa seakan-akan menganggap aku menjijikkan."Aku... tidak apa-apa! Demi menebus kesalahanku, aku bersedia mengalami semua penderitaan itu, Rich!! Aku sungguh-sungguh," jawabku, yang masih yakin bahwa menikah dengan Richard jauh lebih baik daripada dikurung di ruang bawah tanah dan tubuhku dipotong sedikit demi sedikit.Bukankah begitu??!Sayangnya, Richard tak menanggapi positif jawabanku, dengan sinis dia berkata."Hm. Baiklah. Mari kita lihat, Jeany. Aku ingin kamu menunjukkan padaku, bagaimana kamu jatuh cinta dan patah hati karena aku. Lalu kalau semua tindakanmu tidak memuaskanku, maka.... "Richard seperti sengaja berhenti bicara di saat yang paling penting."Maka?" kejarku, tak sabar."Maka tentu saja, leher cantik ini akan kupotong sehingga terpisah dari tubuhmu, Sayang."Richard menjawab sambil mengelus leherku, yang membuat aku segera berteriak panik sambil memegangi leherku."T-tidak!! Jangan lakukan itu, Rich! Aku... aku berjanji akan memuaskanmu! Sungguh!"Richard tiba-tiba tertawa, memegang wajahku dengan kedua tangannya yang besar, lalu mendesah."Oh, Jeany. Bahkan saat seperti ini, kamu masih sangat cantik.... "Suaranya terdengar sarat oleh rasa sakit."T-terima kasih...."Gugup, aku menjawab.Richard lantas memandangku tanpa bicara, kemudian dia menelusuri lekuk wajahku dengan ujung jarinya dan berkata dengan ekspresi merenung."Aku tidak sabar, melihat air matamu jatuh karena aku dan wajah cantik ini terluka saat menatapku. Aku benar-benar menunggu moment itu, Jeany. Agar mimpi buruk yang selama bertahun-tahun ini menghimpitku, akhirnya meninggalkanku," ucapnya, seperti berbisik."Kamu, kamu ingin melihat aku menangis, kan, Rich? Aku bersedia menangis untukmu kapan saja!" seruku, penuh antisipasi.Asal jangan ambil nyawaku!Aku melanjutkan dalam hati.Namun, Richard malah menggeleng."Tidak. Itu omong kosong. Aku tidak ingin melihat tangisan aktingmu, Jeany. Aku ingin melihat air matamu yang mengalir deras ke pipi, dengan tatapan penuh kesakitan, karena menangisi diriku," tolaknya, dengan gelengan tegas."Aku... aku janji akan melakukan yang terbaik. Aku akan sungguh-sungguh mencintaimu dan bersungguh-sungguh patah hati serta terluka karena kamu. Tapi, tolong berjanjilah untuk tidak membunuhku. Oke?" pintaku, sungguh-sungguh."Berapa kali kubilang? Aku tidak tertarik membunuhmu secepat itu, Sayang.""S-syukurlah," jawabku, menghela napas lega.Kami saling bertatapan. Mantanku, yang sekarang menjadi seorang dokter muda, tampak sangat tampan. Namun, juga menakutkan.Aku secara tak sadar mengalihkan pandangan, tak sanggup bertatapan dengan Richard terlalu lama. Auranya sangat mengintimidasi sehingga badanku gemetar tanpa sadar."Jeany. Oh, Sayang.... "Richard kembali membelai sisi wajahku dengan lembut. Secara mengejutkan, bibirnya mendekat ke arah bibirku, sehingga aku memejamkan mata secara refleks.Wajahnya begitu dekat dengan wajahku sekarang, sampai embusan napasnya terasa lembut menerpa bibirku.Kupikir, kami akan benar-benar berciuman.Namun, saat kami sudah hampir berciuman dan jarak bibir kami sudah sangat dekat, Richard secara tak terduga tiba-tiba menjauhkan bibirnya dariku."Kita sedekat ini, tapi hatimu bahkan terasa sangat jauh," bisiknya, sebelum dengan cepat berbalik pergi dan berjalan meninggalkanku, setelah mendorong tubuhku menjauh dengan kasar.Saat melihat punggungnya yang menjauh, aku tertegun.Tunggu.Tatapan apa tadi yang sekilas kurasakan dari dokter psikopat itu?Seperti seseorang yang sedang menanggung kesakitan yang teramat sangat?Dia... sebenarnya kesakitan karena terlalu membenciku, atau sebaliknya?"Dengan serius...."Aku mendesah. Sungguh, aku benar-benar masih tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi ini. Jadi, mantanku tercinta, Dante Richardo, sangat membenciku sampai ingin mencincang-cincang tubuhku menjadi potongan kecil, tapi, di saat bersamaan, dia juga mengatakan bahwa aku harus menikah dengannya? "Dia sepertinya sudah gila."Aku mendesah lagi. Sampai saat ini, aku masih belum bisa merespon apa yang sebenarnya terjadi, dan sekarang, tahu-tahu sekarang aku sudah menjadi istrinya? Sungguh. Ini sangat aneh! Apalagi saat mengingat lagi bagaimana prosesi pernikahan kami yang begitu lancar tadi, seakan-akan sudah disiapkan oleh Richard sejak lama, membuat aku dengan sangat serius mencurigai bahwa Richard sebenarnya sudah mengawasi kehidupanku jauh sebelum kami bertemu lagi hari ini. Proses pernikahan antara aku dan Richard berjalan dengan cepat, lancar dan damai. Saking cepatnya sampai-sampai aku tak sadar bahwa aku kini sudah resmi menjadi istri seorang Dante Rich
Richard tersenyum sinis dan berjalan ke arahku yang sedang buru-buru turun dari ranjang dan bertanya. "Kenapa? Apa aku bahkan tidak boleh masuk ke bagian dari rumahku sendiri?"Nadanya terdengar mengejek, sehingga aku yang merasa malu karena bersenang-senang di kamarnya, menjawab dengan wajah merah padam. "B-bukan. Bukan seperti itu. Silakan lakukan apa pun yang kamu inginkan di sini.... "Richard yang kini berdiri tepat di depanku, mencengkeram lembut kedua pipiku dengan tangannya yang besar. "Kamu tidak akan berpikir kalau ini akan menjadi malam pertama kita, kan?" tanyanya, dengan suara pelan tapi tegas. Mataku seketika terbuka lebar saat mendengar kata malam pertama, sehingga menjawab dengan suara gagap. "Hah? T-tidak. Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku—""Tidak mungkin katamu? Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Segitu jijiknya kamu sama aku?"Kemarahan berkelebat di kedua matanya, sehingga aku pun menjawab tergesa-gesa dengan suara gugup. "H-hah?! Tentu, tentu saja t
"Istriku sayang, inilah yang dinamakan sebuah ciuman."Richard mengatakan itu, lantas membungkuk dan meraih daguku dengan satu tangan agar aku memandangnya.Lalu, tanpa ragu sama sekali, dia pun menutupi bibirku dengan bibirnya. Saat aku mencoba menarik wajahku ke belakang, dia langsung menopang bagian belakang kepalaku dengan satu tangan untuk mencegahku melarikan diri.Tempat tidurnya sedikit bergoyang. Richard melompat ke tempat tidur dalam sekejap, menopang tubuhnya dengan tangannya dan mengunciku di dalamnya."Mmmmhh!"Aku sedikit berteriak saat lidah Richard mulai bergerak-gerak dengan sungguh-sungguh di mulutku.Mula-mula lidah itu menembus setiap gigi seolah menghitung jumlah gigi di mulutku, lalu masuk lebih dalam dan dengan lembut menggaruk langit-langit mulutku.Meskipun aku tidak pernah punya pengalaman dengan pria lain, tapi aku yakin. Pria ini, suamiku, adalah pencium yang sangat baik.Bibir lembutnya yang menyentuh leherku sungguh merangsang, sehingga aku mengalihkan pa
"Richard di mana?"Pagi hari, saat aku pergi sarapan, ku tanyakan kepada kepala pelayan di mana Richard, suamiku. "Tuan Richard tidak pernah sarapan, Nyonya. Dan beliau sekarang telah berangkat lebih awal untuk pergi ke kantor."Ethan, sang kepala pelayan menjawab. "Hmm, baiklah."Itu cukup bagus, toh aku juga belum tentu berani memandang wajah pria itu setelah kejadian semalam. Meski dia langsung pergi dan terlihat marah karena aku membicarakan hal yang merusak moodnya, aku masih merasa malu dengan ciuman kami. Hari ini aku kembali dibuat kagum dengan pelayanan rumah ini yang seperti hotel bintang lima, makanannya juga sangat enak sehingga aku menghabiskan sarapan dengan hati senang. "Sesuai perintah dari tuan Richard, mulai hari ini Anda akan pindah dan tinggal di kamar utama, di mana tuan Richard juga tidur di sana."Ethan mengatakan itu padaku saat aku selesai sarapan, sedangkan aku yang mendengar berita mengejutkan itu, melongo menatap dirinya. "Hah?"Ini serius? Kenapa...
"Malaikat penyelamat? Apa maksud ucapanmu, Mayes?"Tak ingin menebak-nebak, aku memutuskan untuk bertanya terus terang. "Anda mungkin tidak tahu, tapi, tuan Richard mengalami hal-hal yang cukup sulit karena seorang wanita. Saya benar-benar tidak menyangka, hari di mana beliau akhirnya membuka hati dan kembali mau dengan wanita akan datang seperti ini. Jadi, Anda benar-benar malaikat penyelamat, Nyonya! Andalah yang telah menyembuhkan tuan kami dari trauma kepada wanita, karena ulah wanita jahat saat beliau kuliah!"Mayes menjawab dengan menggebu-gebu, dia bahkan menyumpahi wanita jahat yang telah menyakiti hati Richard dengan penuh semangat, sehingga aku hanya bisa tersenyum kaku mendengarnya. Permisi, Mayes. Wanita jahat yang kamu maksud itu ada di sini, itu aku. "Sebenarnya, sesuatu yang sangat mengerikan telah terjadi semenjak tuan Richard dicampakkan wanita jahat itu, Nyonya."Suara Mayes yang tadinya penuh semangat saat menyumpah, kini terdengar sendu. "Sesuatu yang mengerik
"Siapa... kamu?"Bingung, aku bertanya pada sosok pria asing di depanku. Pria itu balas memandangku dengan kening berkerut, lalu menoleh ke belakang. "Dante, apakah kita salah rumah?" tanya pria itu kepada seseorang yang berjalan mendekat. "Salah rumah? Apa maksudmu?"Suara suamiku terdengar, aku melongok dari bahu pria asing itu untuk melihat Richard. Pria yang tadi bertanya apakah dia salah rumah, bergerak minggir untuk menunjukkan diriku pada Richard. Pada saat itulah, pandanganku dan Richard bertemu. "Tiba-tiba ada seorang wanita muda di rumahmu, bukankah ini aneh? Seperti kita benar-benar salah rumah!" seru pria itu, yang sepertinya sangat shock saat melihat ada wanita di rumah Richard. Richard yang memandangku dengan ekspresi tegas, tanpa mengalihkan pandangannya dariku, memberi jawaban. "Ryuka, sepertinya kita harus menunda membicarakan tentang pekerjaan di rumahku. Ayo bahas masalah itu nanti, sekarang pulanglah ke rumahmu," ucap Richard, masih dengan mengunci pandangan
"Huh, aku... aku di mana? Apa ini di kamarku atau di surga?"Saat aku sadar dari pingsan, aku reflek bergumam seperti itu ketika membuka mata dan melihat langit-langit kamar yang mewah. "Nyonya, Anda sudah sadar! Syukurlah! Anda demam dan pingsan seharian, saya sangat khawatir!!"Suara Mayes yang menggelegar, membuat aku menoleh ke samping. "M-Mayes?"Mayes yang duduk di sampingku sambil memegang tanganku, menjawab dengan wajah khawatir. "Iya, ini saya, Nyonya. Bagaimana keadaan Anda?" tanyanya. Meremas lembut tanganku, seperti sedang menunjukkan kekhawatirannya yang tulus. Aku mengalihkan pandangan dan menatap sekeliling kamar, mencari seseorang. "Di mana Richard, suamiku?" "Beliau sedang pergi ke kantor, apakah Anda perlu minum, ini minumlah dulu? Hati-hati," jawab Mayes seraya mengulurkan segelas air setelah membantuku duduk dengan hati-hati.Moodku langsung memburuk saat mendengar hal itu. Hah, di saat kondisi istrinya seperti ini, dia malah pergi ke kantor? Sangat tidak pun
"R-Richard?"Aku berbalik dengan kaget saat mendapati suamiku sudah berdiri di belakang, sampai anggur yang baru saja masuk ke mulutku, meluncur jatuh. Richard yang sepertinya baru pulang kerja, memungut anggurku yang jatuh ke ranjang dan memasukkan anggur itu ke mulutnya dengan santai. "Hey, anggur itu.... "Aku ingin mengatakan bahwa anggur yang dia makan tadi sudah sempat masuk mulutku, tapi saat melihat Richard yang tampak santai mengunyah anggur itu, aku tak jadi bicara. Richard sedikit membungkuk untuk mengambil anggur lain di piringku, lalu pandangannya tertuju pada layar ponselku. "Oh, apa itu? Apakah kamu sedang asyik menonton pria lain dengan tatapan mesra sambil menghabiskan anggur yang dibeli dengan uangku, Jeany?"Richard mengambil ponselku dengan kening berkerut, menatap pria dalam drama China yang aku tonton. "Ahh, ini.... "Aku tak bisa menjawab. Haaa, apa maksudnya menonton pria lain dengan tatapan mesra? Aku hanya sedang melihat sebuah drama di ponsel! Wajahku
Pesta pernikahan Luana dan Kyle dilaksanakan di sebuah ruangan megah dengan hiasan mewah yang membuat semua orang terpana. Mereka yang datang ke pesta itu langsung tahu bahwa ini adalah pesta pernikahan yang pantas untuk seorang pemilik Zeus Group yang kaya raya tersebut. Pesta itu diadakan secara privat dengan keamanan tingkat tinggi. Gio yang disuruh ayahnya untuk hadir di pesta pernikahan 'adiknya' itu, memilih untuk tak bergabung dalam keramaian pesta dan berdiri di pojok sambil menyesap anggur di tangan. Gio tak habis pikir kenapa ayahnya memaksa dia untuk datang ke pesta ini, padahal tahu bahwa vampir muda itu belum sepenuhnya move on dari Luana. Setelah berhasil menyelamatkan Luana dari pembekuan jantung yang mengakibatkan kematiannya, Kyle memaafkan Gio dan tidak meminta dirinya untuk dikurung dalam bukit kematian lagi. Gio berpikir bahwa hidupnya akan tenang dengan dia benar-benar menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan Luana dan mulai merelakan dirinya. Na
Dia pasti sudah gila. Rion mengusap wajahnya dengan kasar lalu membuka mulut untuk membatalkan ucapannya beberapa waktu lalu. Astaga, apakah dia kehilangan akal dengan mengajak Leanna sebagai pasangan pura-pura di pernikahan Kyle? "Lupakan hal itu, aku harus segera pergi karena banyak yang musti aku urus," ralat Rion sembari bangkit dari duduknya. "Aku mau." Jawaban dari Leanna, membuat Rion urung melangkah pergi, dia berbalik dan menoleh dengan penuh tanda tanya pada gadis yang kini juga ikut berdiri tersebut. "Tolong jadilah pasanganku di pesta pernikahan Kyle, meski pura-pura, itu nggak papa daripada aku harus menanggung malu dengan datang sendiri di pernikahan mantan," lanjut Leanna dengan penuh tekad. Rion masih tak menjawab, dia benar-benar tidak serius saat mengucapkan hal tadi, murni karena rasa kasihan pada gadis yang tidak hanya kehilangan fantasi cinta pertamanya tapi juga ditinggal menikah. Rion menarik napas panjang, harusnya dia tidak memakai perasaan ket
"Apakah kamu menghawatirkan hal itu, Luana?" Luana menatap Kyle dengan kebingungan, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil dan memandang pria yang berdiri diam dengan kening berkerut itu. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Kyle? Tentu saja aku mengharap restu dari ayahmu juga, ia akan menjadi mertuaku dan dia ayah kandungmu." Luana menjawab dengan mata menyipit karena heran dengan keanehan di wajah Kyle saat Luana menyebut tentang ayahnya. "Dia nggak pantas mendapatkan kehormatan itu darimu, Luana," desis Kyle dengan tangan terkepal, menahan marah. Bagaimana mungkin orang yang sudah berkali-kali ikut konspirasi untuk menyingkirkan Luana dari sisi Kyle, berhak mendapatkan kehormatan untuk dimintai restu oleh Luana? Dia saja tak sudi untuk melihat ayahnya lagi, jika bukan karena formalitas dan nama baik perusahaan, Kyle mungkin tak akan mengundang ayahnya dalam pesta pernikahan yang dia gelar. Sebenarnya Kyle berencana untuk mengadakan pesta privat, tapi se-privat
"Tenang." Kyle membalas genggaman Luana dengan lembut, memandang gadis yang tampak gugup itu dengan penuh perhatian. "Aku akan menemani kamu, Sayang," ujarnya seraya menempelkan telapak tangannya di leher Luana, gadis itu mendongak dan menelan ludahnya. "Aku sangat gugup," Luana berkata dengan jujur. "Nggak ada yang perlu kamu takutkan." Mendengar itu, Luana membuang napas lewat mulut dan mengangguk, memperkuat tekadnya. "Baiklah. Ayo." Saat ini, Luana meminta diantar oleh Kyle untuk menemui ibu kandungnya yang sudah lama bekerja di luar negeri. Dia tidak pernah pulang lagi semenjak pergi ke luar negeri saat Luana SMP, meski kadang mengirim uang. Luana sama sekali tak pernah bertemu muka dengan ibunya tersebut. Tak ada kenangan yang indah bagi Luana tentang ibunya tersebut, saat remaja mungkin dia pernah merindukan sosok itu menemani dirinya, tapi semenjak dia dewasa, Luana sudah tak pernah mengharapkan apa pun. Dia mengajak Kyle ke sini, ke tempat tinggal baru sa
"Nggak mau kalo nikah besok." Luana mengulangi jawaban, tapi kali ini menjelaskan dengan lembut apa maksud perkataan sebelumnya. Kini mereka tidur sambil berpelukan satu sama lain, bagi Luana, hal seperti ini adalah saat-saat paling bahagia dalam hidupnya. Dia benar-benar tidak menyangka, sosok yang dulu dibenci olehnya setengah mati ternyata kini menjadi pria yang paling dicintainya. Masalah kesetiaan, dia tidak akan pernah lagi meragukan kesetiaan Kyle, mungkin Kyle adalah malaikat yang dikirim tuhan kepada Luana. Kaya, pintar dan tampan, tapipandangan matanya hanya tertuju kepada Luana seorang. Benar-benar sebuah hal langka mendapatkan pria seperti Kyle di dunia, Luana berjanji akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Kyle. Namun, Kyle masih menganggap negatif perkataannya, mengira bahwa gadis itu tidaklah seantusias dirinya untuk menikah. "Kenapa? Kamu nggak mau menjadi istriku memangnya, Ra? Kamu tuh memang nggak sebesar aku cintanya, ya." Kyle mengatakan hal itu
Luana membuka matanya setelah mengerjap beberapa kali, dia sedang mengumpulkan ingatan bagaimana bisa tertidur tadi. Kepalanya mati rasa dan tubuhnya terasa lamban. Ketika indra-indranya makin menajam, Luana bisa mendengar napas di telinganya. Dia bisa merasakan dada seseorang tengah menempel di punggungnya. Pria itu, yang dia tahu siapa tanpa harus menoleh, tengah memeluknya erat-erat dari belakang. Satu tangan membungkus pingguinya, sementara tangan lain memegang dadanya. Setiap napasnya terasa menggelitik leher Luana. Sinar matahari tumpah di antara tirai dan sepertinya sudah beberapa waktuberlalu. Berapa jam telah berlalu? Luana selalu bangun lebih awal di pagi hari, jadi itu adalah pertama kalinya dia tidak bisa memperkirakan waktu dalam sehari. Ketika dia dengan hati-hati mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu, Luana merasakan lengannya kencang dan menarik dirinya kembali ke pelukan. Luana merasakan bibirnya dengan ringan mencium tengkuknya. "Kyle." Lu
"Kyle!" Luana berlari dengan sangat cepat ke arah pria yang terbaring tak sadarkan diri di sebuah ranjang yang besar. Tubuhnya jatuh terduduk di samping ranjang sambil memegangi tangan sang pria, menangis tersedu-sedu. "Katanya kamu bakal kembali dengan baik-baik saja, kenapa malah begini?!" jerit Luana disela isak tangisnya, memegang erat tangan Kyle dan menempelkannya di kening. Kyle belum bergerak, selang infus menempel di pergelangan tangannya sedangkan pria tampan itu masih memejamkan mata, tidak sadarkan diri. "Mungkin dia hanya kelelahan, jangan terlalu khawatir, Luana," hibur Rion yang berdiri tak jauh darinya. Bagaimanapun juga Kyle belum istirahat sejak turun dari pesawat kemarin, dia juga baru datang dari dunia vampir, kekuatannya pasti banyak terpakai sehingga setelah melakukan pengusiran hantu, dia sampai pingsan seperti ini. Rion menjelaskan semua itu kepada Luana agar dia tidak khawatir terlalu banyak. Namun, Luana menggeleng, tak percaya bahwa Kyle pingsa
Hal itu mengingatkan Kyle pada masa SMA, di mana ketika dia mulai memiliki kekuatan ini, kekuatan miliknya itu dieksploitasi oleh sang ayah sampai Kyle sering kehabisan kekuatan dan berada dalam batasnya. Hal itu seperti meninggalkan bekas yang sangat dalam di hati Kyle, menimbulkan rasa trauma sehingga dia sangat menghindari pekerjaan seperti ini kalau tidak karena sangat terpaksa seperti saat ini. "Ayo segera selesaikan ini," bisik Kyle pada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat, hantu itu benar-benar muncul dan melayang-layang di dekat Kyle, seperti tertarik dengan aura yang keluar dari tubuh pria itu. Semua menonton dengan jantung berdebar melalui CCTV yang terpasang di lorong hotel tersebut dengan jantung berdebar kencang saat melihat hantu itu muncul dan terlihat sangat jelas, beda dengan biasanya. Wajah mereka ngeri seperti sedang menonton film horor, bedanya ini adalah siaran langsung. Kyle berhadapan dengan hantu itu tanpa rasa takut sedikit pun, mengulurkan kedu
Kyle mendatangi Luana yang sedang asyik membaca komik di kamar Kyle yang mewah. "Luna, aku pergi dulu, ya? Tiba-tiba ada urusan bisnis yang harus kukerjakan," pamit pria tersebut sambil melayangkan kecupan lembut di pipi Luana. "Baik, Tuan Muda. Jaga diri Anda baik-baik." "Bagaimana kalau kamu mulai membiasakan diri memanggil aku Kyle? Seperti saat kita masih SMA dulu?" tawar Kyle dengan senyum menawan yang membuat Luana tersenyum malu-malu. "Anda... Anda sudah tidak amnesia?" Gadis itu merasa terkejut, padahal dia sendiri yang amnesia. "Aku nggak pernah amnesia, dan perasaanku padamu nggak berubah sejak SMA. Jadi, mau memanggil aku Kyle?" "Eh, s-sepertinya saya masih butuh sedikit waktu." Akhirnya, Luana menjawab seperti itu karena sejak semalam, segala hal terlihat membingungkan bagi dirinya. Kyle untungnya mengangguk dengan penuh pengertian, sehingga Luana menjadi lega. "Baiklah kalau begitu. Ingat, jangan keluar ke mana-mana sampai aku datang. Kalau butuh apa-ap