“Alea, Alea!” suara Rafif kian melemah, sampai akhirnya dia tidak sadarkan diri.Akibat benturan keras, Rafif kehilangan banyak darah di kepalanya.Disisa-sisa kesadarannya dia hanya memanggil nama Alea.Alea hanya melihat dari kejauhan saat ambulan datang membawa Rafif pergi. Dalam hatinya ingin sekali rasanya ikut dalam mobil tersebut dan menemani suaminya.Tetapi karena ada Zayn dan kehamilan yang baru saja dia ketahui pagi tadi membuatnya lemas dan kehilangan tenaganya, bahkan hanya untuk sekedar berdiri.Papa menggendong tubuh Alea ke kamar hotel, agar lebih aman.Sementara Cindy masih memperhatikan keadaan di aula pernikahannya, berharap mendapatkan petunjuk.Keadaan di aula pernikahan sangat kacau. Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi.Yang jelas, Azfar telah meminta bantuan dari berbagai pihak untuk mengusut tuntas mengapa kecelakaan ini bisa terjadi.Selain itu, ayah Rafif juga telah mengerahkan pasukannya untuk menyelidiki kejadian tadi dan jika sampai terjadi kesengaja
Setelah mendengar kabar dari ayah Rafif, Tomi bergegas menurunkan pasukan untuk segera mengusut insiden yang terjadi di aula pernikahan Azfar dan Cindy yang menimpa Rafif sampai mengharuskannya mendapat luka di kepala.Tomi menghubungi beberapa pihak, termasuk detektif bayaran yang biasa Rafif pakai jasanya yang bernama Wira.Wira tentu tidak bekerja sendiri, dia memiliki kaki tangan untuk membantunya memecahkan setiap kasus yang datang padanya.Selain itu, Tomi juga datang ke lokasi kejadian. Dia terbang ke Surabaya segera setelah dia baru saja kembali dari Singapura.Tomi bersama dengan Wira mengecek cctv di seluruh penjuru aula.“Sejauh ini gak ada yang aneh,” ujar petugas yang membukakan akses monitor rekaman cctv.“Stop!” kata Tomi.“Tolong putar yang ini,” ujar Tomi sambil menunjuk ke layar.Petugas lalu membukanya untuk Tomi, dalam tangkapan kamera terlihat Alea yang sedang asyik mengambil makanan bertabrakan dengan seorang pria. Lalu Tomi mengawasi gerak-gerik Alea yang mengiku
Tiga hari setelah insiden itu terjadi, Rafif masih belum juga membuka matanya.Alea dengan sabar menunggunya dan merawatanya di ruang vip rumah sakit terbesar di Surabaya.Alea bergantian dengan bunda, menjaga Rafif siang dan malam tanpa kenal lelah. Mereka juga sesekali mengajak Rafif bicara agar segera terbangun dari tidur panjangnya.Namun setelah tiga hari berlalu, Rafif belum menunjukan tanda-tanda akan bangun.“Kak, mas Rafif tidak bangun juga setelah beberapa hari ini. Apa ini wajar?” tanya Alea saat Azfar memeriksa keadaan Rafif.“Semua hasil pemeriksaannya tidak ada masalah, organ vitalnya juga baik, tapi mungkin trauma di kepala Rafif membuat dia membutuhkan waktu sedikit lama untuk kembali sadar. Kamu tenang saja,” jelas Azfar pada Alea lalu mengelus kepala Alea lembut.“Besok, kita pindahkan Rafif ke rumah sakit kita di Jakarta. Kakak dan Cindy harus segera kembali kesana, tentu saja kakak tidak ingin meninggalkan kamu dan Rafif disini,” sambung Azfar.Alea mengangguk, “aku
“Siapa kamu?” tanya Rafif saat melihat Alea di hadapannya.“Mas,” ujar Alea pelan.Rafif merasakan kepalanya berputar. Lalu dia memejamkan kembali matanya.“Kak,” panggil Alea pada Azfar dengan penuh kekhawatiran.“Kamu tenang dulu,” jawab Azfar.Azfar lalu memeriksa Rafif kembali untuk memastikan apakah ada masalah.Rafif kembali membuka matanya, lalu bertanya pada Azfar.“Dok, saya kenapa?” tanya Rafif.Alea mundur selangkah, dia sadar Rafif berbeda. Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak mengenali Alea bahkan dia memanggil Azfar dengan panggilan ‘dok’.“Rafif, ini bunda!” bunda maju dan mendekati Rafif.Rafif memperhatikan wajah bunda dengan seksama, sedetik kemudian dia bertanya.“Kenapa aku disini, bunda?” tanyanya.Bunda lega, karena ternyata Rafif mengenalinya. Itu artinya Rafif tidak apa-apa.Namun keadaan menegang seketika Rafif bertanya pada bunda.“Bunda, siapa wanita ini?” tanya Rafif.Bunda membawa Alea mendekat.“Dia istri kamu! Alea,” jelas bunda.“Istri?” tanya Rafif.Alea
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah kecil di dalam kamar. Rafif terbangun karena merasa silau. Dia merasa asing dengan kehadiran Alea dan Zayn di kamarnya, semalam dia memutuskan untuk tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamar miliknya yang ditempati Alea dan Zayn. Setelah membuka mata, Rafif langsung bergegas kembali ke kamarnya dan melihat apakah Alea dan bayi kecil itu telah bangun. Dia membuka pintu, lalu melihat Alea yang masih tertidur. Rafif mendekatinya dan memperhatikan wajah cantik Alea. Dia menyibakan rambut yang menutupi wajah Alea. “Alea,” gumamnya. Ada rasa sedih yang menyeruak dalam hati Rafif. Dia tidak mengerti bagaimana hatinya bisa merasakan sedih dan sakit saat menatap Alea, sementara ingatannya tak kunjung kembali. Alea mengerjapkan matanya, telinganya mendengar namanya di sebut oleh pria yang sangat dicintainya. “Mas,” panggil Alea saat mengetahui Rafif sedang menatapnya begitu intens dalam jarak yang sangat dekat. “Apa kamu baik-b
Sekembalinya Rafif dari perusahaan, Alea menyambutnya selayaknya dia menyambut Rafif seperti sebelum-sebelumnya. “Gimana dengan perusahaan mas?” tanya Alea. “Semuanya lancar karena dibantu Tomi,” jawab Rafif. “Jadi mas juga tidak lupa dengan Tomi?” tanya Alea menghentikan langkahnya di belakang Rafif. Rafif menyadari jika sikapnya telah sedikit melukai hati Alea. “Aku baru mengingatnya saat bertemu dengannya tadi,” Rafif lalu menyamakan langkahnya dengan Alea. “Zayn dimana?” tanya Rafif. “Di kamar dengan bunda,” jawab Alea singkat. “Ayo ke kamar!” ajak Rafif sambil meraih tangan Alea. Ini adalah genggaman pertama Rafif setelah dia terbangun dari tidur panjangnya. Alea merasakan jantungnya berdetak cepat, akhirnya Rafif mengenggam tangannya lagi setelah sekian lama. “Zayn!” panggil Rafif saat membuka pintu kamar. “Kamu sudah pulang?” tanya bunda. Rafif mengangguk lalu menghampiri Zayn. Zayn begitu senang dengan kedatangan Rafif, bayi berusia satu tahun ini seda
Kepala Rafif berdenyut hebat tatkala bibirnya mulai bersentuhan dengan bibir Alea.Terlintas dalam ingatannya, potongan-potongan kenangan seperti gambar berjalan.Namun saat Rafif mencoba mempertajam ingatannya, dia limbung dan harus melepaskan tautan bibirnya dari Alea.Rafif merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, membuat dia harus menjauh dari Alea dan pergi ke lantai dasar untuk menenangkan diri.“Mas!” panggil Alea khawatir.Tapi Rafif tetap mengabaikannya dan pergi begitu saja.Batin Alea berkecamuk, baru saja dia mendapatkan kembali kehangatan yang dia rindukan, tiba-tiba saja Rafif pergi.Alea menangis dalam diamnya. Lalu memilih untuk membiarkan Rafif sampai dia kembali lagi ke kamar.Malam semakin larut, karena Rafif tak kunjung kembali, Alea memutuskan untuk melihatnya di bawah.Baru saja Alea menuruni anak tangga terakhir, dia melihat sebuah kepulan asap dari halaman belakang rumahnya.Karena penasaran, Alea berjalan menuju ke halaman belakang dan melihat apa yang ter
“Alea!” ujar Rafif.Senyum Alea yang semula merekah, hilang seketika. Dia melihat sebuah tangan melingkar di lengan suaminya, dan tangan itu milik seseorang yang sangat dia benci.“Kalian?” tanya Alea dingin.“Sory Yes! Aku harus masuk dulu,” ucap Rafif lalu melepaskan tangan Yesi dari lengannya.“Oh! It’s okay fif! Lagipula aku sudah harus pulang, makasih ya hari ini!” ujar Yesi manis sekali, seperti disengaja karena kehadiran Alea.“Oke, sama-sama!” jawab Rafif lalu masuk ke dalam ruangan, melewati Alea.Alea terpaku menatap interaksi Rafif dan Yesi yang begitu akrab. Yesi bahkan menyeringai ke arahnya dan menaikan sebelah alisnya seolah-olah berkata “aku menang!”“Mas, kamu dari mana?” tanya Alea.“Hanya makan siang saja,” jawab Rafif singkat.“Hanya berdua dengan dia?” tanya Alea lagi.Rafif melirik ke arah Alea, “memangnya kenapa?” tanyanya.“Tapi dia Yesi mas!” pekik Alea.“Iya! Dia memang Yesi! Lalu kenapa? Bukannya seharusnya kamu tahu kalau dia temanku, jika kamu memang istrik
“Good morning sayang,” bisik Rafif di telinga Alea.Perlahan Alea membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat tentu saja suaminya, Rafif.Alea tersenyum teramat manis, membuat rasa cinta selalu mekar di hati Rafif setiap harinya, meskipun pernikahan mereka telah berlangsung bertahun-tahun.“Anak-anak dimana?” tanya Alea.“Di luar, ayo kesana!” ajak Rafif.Alea mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidurnya.“Ternyata sudah siang ya?” tanya Alea melihat jendela kamarnya sudah terbuka dan cahaya matahari masuk menerobos melalui celah-celah gorden yang tertiup angin.Lalu, Alea berjalan mendekati jendela dan menyibak kain gorden yang menghalangi pandangannya.Di depan sana, terdapat hamparan pasir yang luas serta deburan ombak yang suaranya terdengar syahdu dari jendela kamar Alea.Pemandangan indah yang selalu Alea nikmati setiap pagi.Disinilah dia dan Rafif tinggal sekarang, sebuah mansion mewah yang terletak di sebuah pulau yang dikelilingi pepohonan rindang. Dan mansion mereka
Siang harinya, ayah sudah benar-benar pulang dari rumah sakit.Kejadian salah diagnosa yang sempat membuat terkejut kini hanya berlalu begitu saja. Sebab ketakutan mereka pada akhirnya tidak terjadi.Ayah hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin dan mengkonsumsi obat yang disarankan agar kesehatannya bisa kembali seperti sedia kala.Hal ini tentu saja membuat bunda dan Rafif sangat lega. Ini artinya mereka bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.Siang itu, semua urusan di rumah sakit telah selesai dan ayah bisa langsung kembali ke rumah.Bersamaan dengan itu, Zayn bersama dengan mama dan papa ternyata tiba di rumah ayah setelah menempuh perjalanan dari Puncak.“Papa!” panggil Zayn senang melihat Rafif yang baru saja menutup pintu mobil.“Nak!” sahut Rafif, kemudian menangkap Zayn di pelukannya.“Tadi di perjalanan ada yang terus menangis loh!” ucap mama.“Oh ya? Kenapa dia terus menangis oma?” tanya Rafif.“Sstt oma!” sahut Zayn.Rafif sontak tertawa mendengar Zayn yang
“Kondisi om Eddo saat ini cukup stabil dan sama sekali tidak berbahaya, juga jelas bukan karena penyakit jantung. Aku secara pribadi minta maaf karena diagnosa awal yang salah. Tapi, beliau tetap membutuhkan perawatan ekstra,” jelas Azfar pada bunda dan Rafif di ruangannya.“Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bunda.“Setelah melalui pemindaian CT Scan tadi aku menemukan sebuah gumpalan di pembuluh darah otak, ini yang menyebabkan om Eddo memejamkan matanya terus menerus.” Jawab Azfar.“Jadi, ayah tidak pingsan?” tanya Rafif.“Tidak, beliau hanya tertidur,” jawab Azfar.“Kondisi ini termasuk salah satu gejala stroke, beruntung beliau bisa langsung mendapatkan penanganan.” Jelas Azfar lagi.“Hhhh,” Rafif dan bunda bernapas dengan lega.“Lalu apa perawatan terbaik yang harus dilakukan?” tanya Rafif.“Besok kita lakukan test lab, setelah hasilnya keluar baru bisa diputuskan,” jawab Azfar.“Tapi apakah jantungnya benar-benar tidak masalah?” tanya bunda.“Sejauh ini, tidak ada tante
“Mas! Ayah..” ucap Alea yang terengah-engah karena berlari.“Ayah kenapa?” tanya Rafif berdiri kemudian menghampiri Alea dan memegang kedua pundaknya. Dia melihat dengan jelas kalau Alea berlari terburu-buru, sehingga dia tidak memakai alas kaki.“Tadi ayah mengeluh dadanya sakit, lalu tiba-tiba ayah pingsan,” jelas Alea.“Apa?” tanya Rafif.Dokter yang juga mendengarnya segera berlari menuju ke ruangan ayah, begitu juga bunda yang baru saja merasa lega mendengar kondisi ayah, tiba-tiba kembali merasakan ketakutan yang begitu nyata.Rafif langsung menoleh ke arah bunda yang masih duduk di kursi depan meja dokter.Bunda hanya terdiam, tidak menangis, terlihat tenang, namun Rafif tahu dibaliknya ada ketakutan yang sangat dahsyat.“Sayang, pakai sandalku! Kamu tolong temani bunda ya, aku mau lihat keadaan ayah,” ucap Rafif.“Baik mas,” ucap Alea, kemudian menerima sandal milik Rafif dan menghampiri bunda.Sementara itu Rafif berlari kencang menyusul dokter yang sedang menangani ayahnya.
Pasca merayakan ulang tahun Cindy, Alea dan Rafif yang baru saja memasuki kamar Villa untuk beristirahat, menerima sebuah telepon.Rafif yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur mendengar ponselnya berdering, dia lalu bergegas melihat siapa penelepon tengah malam ini.Baru saja dia akan mengumpat karena merasa terganggu, dia urungkan saat melihat siapa yang menelepon.“Ada apa menelepon jam segini?” gumam Rafif.Perasaan yang semula tenang, mendadak menjadi penuh dengan kekhawatiran.“Halo bunda,” ujar Rafif.Alea yang berbaring disampingnya ikut berdiri sambil merasa heran karena ini hampir tengah malam.Hal yang pertama Rafif dengar adalah tangisan bunda, membuat ketakutan hinggap di sekujur tubuh Rafif.“Ada apa bunda?” tanya Rafif.“Ayahmu tidak sadarkan diri,” ucap bunda lirih.“Apa?” tanya Rafif terkejut.“Sekarang di rumah sakit,” jawab mama lemah.“Oke, aku kesana sekarang.” Jawab Rafif.Sebenarnya Rafif dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang
Cindy terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.Bagaimana tidak terkejut? Kedatangannya disambut meriah oleh semua orang yang sangat dia kenal, seluruh keluarganya berkumpul termasuk ibu, bapak dan adik-adiknya dari Surabaya pun turut hadir.“Kalian juga disini? Kapan datang?” tanya Cindy pada keluarganya dan memeluknya satu persatu.“Tadi siang, Azfar juga yang jemput kita di bandara!” jawab bapak.“Jadi kamu bukan ke rumah sakit tadi siang?” tanya Cindy pada Azfar.“Untuk apa ke rumah sakit di akhir pekan?” Azfar balik bertanya.Sontak saja Cindy merasa jengkel karena merasa dikerjai.Jadi, siang tadi saat Azfar menerima telepon. Itu adalah telepon dari Bayu yang mengabari kalau dia dan keluarga sudah sampai di bandara.Azfar bergegas pergi menjemput mertua dna adik iparnya yang kemudian dia antarkan ke rumah mama untuk kemudian pergi ke puncak, tempat dimana mereka berada sekarang.Setelah Cindy menyapa keluarganya, dia juga menyapa mama, papa, Alea, Rafif lengkap den
Butuh berbulan-bulan sampai Cindy bisa sembuh dan kembali seperti semula. Berdamai dengan diri sendiri dan menjadikan hal yang sudah berlalu sebagai pelajaran yang sangat berharga.Sekarang, Aksa sudah berusia 6 bulan waktu dimana dia mulai MPASI.“Besok Aksa sudah mulai MPASI, anterin aku belanja bahan makanan yuk?” ajak Cindy pada Azfar.“Boleh sayang,” jawab Azfar.“Sekalian kita ajak Aksa main di luar, kayaknya enak bersantai di taman. Biar dia gak jenuh,” ujar Cindy.“Hm, boleh!” jawab Azfar lagi sambil menemani Aksa bermain.“Kok cuma bilang boleh aja?” tanya Cindy.Saat hendak menjawab pertanyaan Cindy, ponsel Azfar berdering.“Maaf sayang, aku ada telepon sebentar.” Jawab Azfar sambil beranjak menjauh dari Cindy.“Telepon siapa? Kenapa harus menghindar?” gumam Cindy.Tapi Cindy tidak peduli, dia memilih sibuk bersama Aksa.“Sayang, belanjanya kita tunda dulu sampai sore ya? Aku ada telepon mendesak dari rumah sakit, ada hal yang harus diselesaikan,” ujar Azfar setelah kembali
“Selain itu, apa lagi yang kamu rasakan?” tanya dokter Mery.Cindy menarik napas perlahan, dia juga membenahi duduknya untuk mencari kenyamanan.“Saya sering merasa takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak saya, dokter,” ucapnya pelan.Dokter Mery mendekati Cindy dan menyentuh tangannya, Azfar menjauh sedikit dan mempersilahkan dokter Mery mendekat.“Sebagai seorang ibu, tentu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tetapi, jangan terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, kamu harus membuka diri pada orang sekitarmu. Kalau kamu butuh bantuan, mintalah pada orang terdekat. Termasuk pada suamimu, atau suamimu selama ini tidak pernah membantumu?” tanya dokter Mery.Cindy menggeleng cepat, dengan kesadaran penuh dia menjawab, “dia sudah sangat membantu dok, saya saja yang selalu mengabaikannya. Saya selalu merasa anak saya tidak boleh disentuh siapapun, termasuk oleh ayahnya sendiri. Hanya saya yang boleh mengurusnya,”Dokter Mery tersenyum hangat sem
Keesokan harinya, Azfar kembali mencoba mengajak Cindy keluar rumah untuk sejenak beristirahat dari kegiatannya sebagai istri dan ibu.Tetapi lagi-lagi Azfar menerima penolakan dari Cindy.“Aku gak mau!” ujar Cindy saat menyusui Aksa.“Sebentar aja sayang,” bujuk Azfar.“Kalau gak mau ya gak mau! Kamu main aja sendiri!” jawab Cindy ketus.Azfar merasa, emosi Cindy kian hari kian tidak stabil, dia lebih mudah marah dari sebelumnya. Dia juga semakin jarang bicara, membuat Azfar merasa serba salah.“Tapi kamu gak baik-baik aja!” ucap Azfar dengan nada yang sedikit tinggi.“Siapa maksud kamu? Aku baik-baik saja kok!” sahut Cindy.Azfar semakin kehilangan kesabarannya, sudah seperti ini Cindy bahkan tidak menyadarinya.Dia menarik napas perlahan, kemudian menatap Aksa yang masih menempel pada Cindy. Azfar tertegun melihat Aksa yang berusia 2 bulan, tetapi belum menunjukan kenaikan berat badan yang stabil. Dia masih terlihat sangat kecil.Azfar tentu tahu ini disebabkan karena Cindy terlalu