Leticia baru saja menerima fakta bahwa Daniel adalah seorang yang telah berumah tangga. Tak cukup menelan pil pahit dari sang kekasih. Kini, dia harus menemukan seorang arsitek untuk berbaikan dengan sang ayah atau dosa-dosanya di masa lalu takkan pernah termaafkan. Sementara sang arsitek yang bernama Raymond, baru saja ditinggal nikah oleh Nikita, sang kekasih. Di saat Ray terpuruk dalam kekecewaan, dia harus berhadapan dengan Leticia yang tengah di ambang kehancuran. Sulitnya komunikasi membuat mereka salah paham hingga Leticia dan Raymond terjebak di keadaan yang tak diinginkan. Akankah keduanya saling mengisi hati yang sama-sama terpuruk, atau hanya menjadi kisah cinta satu malam?
View MoreLeticia Lauretta Ricardo baru saja pulang bekerja. Jemari lentiknya menari lincah di atas setir seirama dengan alunan musik yang dia dengar. Sementara, cacing-cacing dalam perut kian meronta.
Ketika Leticia keluar dari sedan hitamnya, bibir tipis merah jambu wanita itu tersenyum manis. Kafe di hadapannya terlihat bergemerlapan. Sangat kontras dengan pekatnya malam.
Dengan anggunnya Leticia melangkahkan kaki jenjangnya yang berbalut stiletto hitam sepuluh senti. Perpaduan celana jeans, kemeja putih, dan blazer merah muda membuat penampilan wanita itu tampak elegan.
Semerbak wangi beef steak favoritnya seperti menyambut di pintu masuk. Suara orang berbicara, tertawa, dan berteriak memenuhi rongga pendengaran. Bersahutan dengan denting piring dan sendok yang beradu. Netra biru Leticia beredar ke seantero kafe yang hiruk pikuk. Asap rokok mengepul, baunya menyengat hidung.
Wanita itu duduk di dekat jendela, meletakkan hermes birkin hitam di sampingnya. Kemudian meraup rambut hitam yang tergerai sepinggang untuk dikuncir kuda. Sejenak, wanita berusia 26 tahun itu memainkan ponsel sambil menunggu pesanannya tiba.
Ketika Leticia asik menikmati santapan favorit, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Wajah yang putih berseri seketika pucat pasi. Suara seseorang dari belakang tubuh ramping wanita itu, membuat dia tersentak.
"Ayah, aku kenyang. Ayo pulang sekarang!" Terdengar suara anak kecil merajuk.
"Baiklah, Jagoan Ayah ... tunggu di mobil sama Ibu. Ayah ke toilet dulu, oke." Suara pria itu sangat familiar di telinga Leticia.
Leticia menoleh ke belakang, memastikan siapa pemilik suara itu. Tak diragukan lagi, dia adalah kekasihnya, Daniel.
Rahang wanita berkulit putih itu mengeras, tangannya mengepal hingga buku-buku kulit memucat. Dia gemetaran karena kemarahan yang sudah memuncak. Namun, Leticia sadar, ini bukan tempat untuk meluapkan amarahnya pada Daniel.
Leticia memejamkan mata seraya mengembuskan napas berat. Apa yang dia saksikan seolah meluluhlantakan hatinya. Wanita itu merogoh lembaran uang dan meletakkan di atas meja. Kemudian, dia bergegas pergi dari kafe.
[Hubungan kita berakhir!]
Leticia menyandarkan tubuh di kursi kemudi, air matanya berderai membasahi pipi saat mengirim pesan. Batinnya berteriak. Apa arti kejujuran yang selalu dijunjung tinggi jika pada akhirnya kau sendiri seorang pembohong, Daniel!
Wanita itu menginjak pedal gas melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Satu jam perjalanan, Leticia tiba di apartemen. Dengan langkah cepat dia ke kamar lalu memasukan pakaian ke koper.
Brak!
Suara pintu terhempas keras seolah membentur dinding. Leticia bergegas menyeret koper keluar dari kamar. Wanita itu tersentak hingga langkahnya terhenti di ambang pintu.
Daniel, pria bertubuh tinggi itu menatap garang ke arah Leticia. Suasana mencekam seketika memenuhi ruangan. "Kenapa mengakhiri hubungan kita? Kau selingkuh, hah?" tegur Daniel seraya menghampiri Leticia yang mematung di depan kamar.
"Jangan tanya kenapa! Kau telah berkeluarga!" Leticia tersenyum sinis.
Bugh! Bugh! Bugh!
Tanpa aba-aba, Daniel menghantam Leticia dengan amarah menggebu. Pukulan demi pukulan melayang di wajah dan tubuh wanita itu.
"Beraninya kau mencari tahu!" murka Daniel. Aura membunuh terpancar dari mata hitamnya saat mencekik Leticia.
"Lep-askan a-ku!" Leticia berusaha melepaskan cengkraman Daniel.
Gedebuk!
Daniel melemparkan Leticia hingga kepalanya membentur meja. Seolah tak puas, pria itu menghampiri Leticia sambil mengeluarkan pisau lipat dari saku mantelnya.
"Jika kau tak ingin aku memutus lehermu, jangan berani pergi dariku!" Daniel memelototi seraya memainkan pisau di leher Leticia.
"Bajingan!" Leticia bergemuruh.
Srek!
"Aargh ...." Leticia menjerit histeris saat Daniel merobek bajunya hingga menembus dada.
"Tutup mulutmu! Wanita bodoh!" bentak Daniel saat berdiri dan menendang Leticia yang tak berdaya.
Daniel mengurung Leticia seolah tahanan. Puas menganiaya wanita itu, dia mengambil dompet, kunci mobil, ponsel, dan kunci apartemen dari tas Leticia yang tergeletak di samping koper.
Malam menjelang subuh. Leticia terkapar di lantai yang dingin, kemeja putih yang dia pakai kini bersimbah darah.
"Kau tidak mengetahui asal-usul pria itu, Putriku."
Kalimat sang Ayah terngiang jelas dalam benak Leticia. Apa yang dialaminya saat ini membuat dia ingin segera kembali pada keluarga di Kota Ragusa.
Wanita itu merangkak menyusuri dinding. Kemudian, mengambil tas yang tergeletak di lantai. Namun, hanya tersisa beberapa lembar uang yang terselip di dalam tas.
"Tuhan ...." Leticia menitikkan air mata seraya menekan dada yang terluka.
Apa yang bisa dilakukan dengan uang ini? Jangankan membeli tiket pesawat, untuk biaya pengobatan pun tak akan cukup. Sejenak, dalam benak wanita itu terlintas sosok rekannya, dokter Maxwel. Namun, kembali dia tepis. Saat ini bahkan dia tak memiliki ponsel untuk menghubungi Maxwel.
Leticia semakin kesal saat mengetahui pintu apartemen terkunci. Daniel sungguh tak membiarkannya pergi. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, hingga menemukan cara untuk kabur.
Wanita itu bergegas mengikatkan sprei pada tiang jendela kamar. Kemudian, melemparkan gulungan kain itu hingga tanah.
Leticia melangkahi pagar balkon dengan tubuh gemetaran. Tangannya memegang erat kain yang menjuntai. Dia terus mendongak, ketinggian membuat wanita itu enggan membuka mata. Jemari kakinya berpijak pada simpul-simpul sprei.
Perlahan, napas Leticia terengah. Butir-butir keringat membasahi tubuh wanita itu. Jantungnya berdegup semakin kencang.
Leticia berpacu dengan waktu. Sebab, langit hitam perlahan berubah jingga. Dia harus pergi sebelum matahari memancarkan restunya. Wanita itu tak ingin mati konyol di tangan Daniel.
Gedebuk!
"Argh ...." Leticia memekik saat tubuhnya terjatuh dari ketinggian dua meter, dia terkapar di atas tanah berumput yang berembun.
Leticia merangkak mengambil sepatu yang berceceran dan dengan tergesa-gesa dia memakainya. Wanita itu bergegas pergi. Namun, sayangnya dia tak kunjung mendapat taksi. Akhirnya, Leticia berjalan terhuyung menyusuri trotoar dengan tubuh yang kian lemah.
Setelah berjalan selama dua jam, wanita itu tiba di gedung serba putih. Dia segera masuk ke salah satu ruangan dalam gedung. Bau desinfektan seketika menusuk hidungnya saat membuka pintu.
"Leticia, apa yang terjadi padamu?" Dokter Maxwel, pria berjas putih itu terperanjat melihat kondisi Leticia yang bersimbah darah.
"Max, tolong aku," ucapnya terengah-engah. Leticia ringkih, dia berjalan terseok. Pandangan yang perlahan samar akhirnya menjadi gelap.
"Leticia ...!" Dengan tangkas, Max meraih tubuh Leticia yang tak sadarkan diri.
"Astaga, apa yang terjadi padamu sepagi ini? Kenapa wajahmu hancur begini, Leticia?" Max menggerutu saat meletakkan wanita itu di atas brankar.
Tangan Max begitu cekatan menangani Leticia. Dia memasangkan oxygen, infus, dan menjahit luka di dada wanita itu.
"Siapa yang menganiayamu sekejam ini, Leticia?" lirih pria itu bertanya-tanya.
Meskipun Max belum lama mengenal wanita itu, tetapi kelugasan Leticia membuat mereka cepat akrab. Terlebih lagi, tingkah ceroboh Leticia kala melakukan sesuatu, seringkali membuat Max terbahak-bahak.
Empat jam berlalu. Leticia membuka mata melihat ke langit-langit dan dinding yang serba putih. Embusan kanul oxygen membuat hidung wanita itu terasa dingin.
"Akhirnya ... kau bangun juga! Aku kira kau akan tidur seharian di ruanganku," celetuk Max saat menghampiri wanita itu.
Leticia tersenyum simpul. "Max, maaf. Aku merepotkanmu," ucap Leticia dengan lirih seraya menoleh ke arah Max yang berdiri di sisi kanan ranjang.
"Lupakan!" tukas Max, "katakan padaku, apa kau dikeroyok gangster? Aku akan menghabisi mereka!" Max tak bisa menahan kekesalan.
"Aku dirampok ...." Wanita itu menitikkan air mata.
"Kau mengingat wajah perampok itu? Kita lapor polisi!" geram Max dengan tangan terkepal.
Ray menghela napas panjang, dia menutup lembaran dokumen dan beranjak dari kursi di balik meja kerja. Air wajah Ray begitu dingin saat menghadapi Nikita. Dia berjalan dan membuka pintu lebih lebar. "Nikita, jaga batasanmu. Aku masih menghormatimu karena kamu adalah istri adikku. Sekarang cepat pergi, jangan sampai keluargaku salah paham," ucap Ray sambil berdiri di ambang pintu. Nikita tersenyum maut sebelum menyahut, "Ray, kita bisa mengulang hubungan kita diam-diam. Aku tahu kamu masih mencintaiku, lagi pula kamu dan Leticia menikah belum ...."Ucapan Nikita terhenti saat Ray menarik paksa tangannya. Saat Ray akan mendorong keluar, Nikita memutar tubuh dan melingkarkan tangan di leher Ray dan memeluk dengan erat. Wanita itu bahkan dengan berani mencium leher Ray. "Jalang!" bentak Ray sambil mendorong bahu Nikita hingga wanita itu hampir terjatuh. Ray langsung menutup pintu setelah berhasil mendorong Nikita keluar."Sialan," desis Nikita, jengkel. Saat dia memutar badan akan kemba
Saat Ray pulang bekerja malam hari, dia memarkirkan Audy S8 hitam di pelataran. Dari awal masuk gerbang, Ray sudah melihat mobil BMW milik Ayres sudah terparkir di sana. Pria itu menjadi sedikit cemas kala mengingat Nikita pasti ikut bersama. Gegas Ray mempercepat langkahnya sambil menggusur koper ke dalam rumah. Ketika dia tak melihat Leticia ikut berkumpul di ruang keluarga, Ray menjadi semakin gelisah."Bu, Istriku mana?" tanya Ray pada Mila yang sedang berbincang dengan Ayres, Nikita, dan Alfonso. Chery tentu saja sudah tinggal bersama Alex, suamimya. Sedangkan Chico, dia lebih memilih tinggal di apartemennya sendiri. masing-masing. "Dia sedang beristirahat. Sejak sore sudah masuk kamar," jawab Mila dengan lembut. Saat Ray akan menaiki tangga, Ayres tiba-tiba berkata dengan nada sedikit merajuk, "Kak Ray, kamu tidak menyapaku?"Ray melirik Nikita yang duduk di samping Ayres. Hingga saat ini, tak ada yang tahu bahwa Ray pernah menjalin hubungan dengan Nikita. Terutama Ayres, dia
Leticia akhirnya patuh dengan keputusan Ray untuk kembali tinggal di kediaman Ray. Selain mengutus orang untuk mengelola toko perhiasan, Ray juga siaga mengantar jemput Leticia kuliah di tengah kesibukannya mengurus VR Group.Hal itu berlangsung lama hingga usia kandungan Leticia menginjak enam bulan. Leticia sangat bersyukur karena kehamilannya saat ini tak mengalami morning sick terlalu parah. Hanya saja, tubuhnya yang sedikit kecil membuat wanita itu lebih cepat lelah. Setiap akhir bulan, Leticia selalu pergi untuk memeriksa kondisi tokonya. Sesekali dia dan Ray juga pergi ke kediaman Alfonso. Seperti saat ini, sejak pagi Leticia berkunjung ke kediaman mertuanya. "Cia, Ibu selalu mengkhawatirkan kamu akhir-akhir ini. Apa tak sebaiknya kamu menetap di sini saja?" ucap Mila sambil menyiapkan makanan untuk makan malam. "Ray merawatku dengan sangat baik, Bu. Ibu jangan terlalu cemas," sahut Leticia, lembut. "Tapi kandunganmu semakin besar. Ray juga tidak 24 jam berada di rumah." Mi
Leticia menghela napas pelan sebelum menjelaskan pada Mila bahwa dia harus mengurus toko perhiasan di pusat kota. Terlebih lagi, dirinya baru saja memulai kuliah satu bulan lalu. Jarak dari toko miliknya ke universitas hanya butuh waktu lima belas menit perjalanan. Namun, kediaman Alfonso ke universitas terlalu jauh, tidak mungkin Leticia harus menempuh perjalanan pulang pergi selama tiga jam setiap hari. Ray terdiam mendengar ucapan Leticia. Dia baru tersadar, saat itu sudah mengatur rumah, universitas, dan toko perhiasan di pusat kota untuk Leticia. "Sayang, aku akan mengatur orang untuk mengelola toko perhiasan. Jangan terlalu lelah, kamu sedang hamil. Ambil kelas siang hari saja, ya?" Ray akhirnya memusatkan fokusnya pada kehamilan sang istri. Leticia menoleh sambil melambaikan tangan, tak setuju dengan saran sang suami. "Tidak bisa, Ray. Aku masih sanggup menanganinya. Lagi pula kuliahku hanya sampai pukul sepuluh malam," jawab Leticia. Ekspresi Ray berubah dingin mendengar
Ekspresi Ray berubah muram dan tak sedap dipandang. Kecemburuan mulai merebak di matanya. Walaupun Chico adalah adiknya, tetapi dia tahu bahwa Alfonso sempat akan menjodohkan dengan Leticia. Leticia tersenyum simpul melihat wajah Ray yang tiba-tiba murung. 'Apa Ray sedang cemburu?' batin Leticia bertanya-tanya."Ray," kata Leticia saat memegang punggung tangan Ray. "Temani aku memasak untuk makan malam, ya?"Ray membalikkan telapak tangan, menautkan jemarinya dengan jemari Leticia. Tatapan penuh memanjakan perlahan tersebar di manik matanya."Dengan senang hati, Nyonya Ray." Ray menyahut dengan lembut saat berdiri sambil menggandeng pinggang ramping Leticia. Chico mendecakkan lidah melihat kemesraan Ray dan Leticia yang begitu intim. Chico mengakui bahwa dirinya tak kalah tampan dari sang Kakak. Mata hazelnya sama-sama diwarisi dari Alfonso, hidungnya juga mancung dengan bibir tipis. Hanya saja, Chico mengakui bahwa tubuhnya tak setinggi dan segagah Ray. "Cia, biar Ibu saja yang m
Keesokan harinya. Seperti yang Leticia inginkan, Ray membawa Leticia untuk bertemu dengan ayah dan ibunya. Sebenarnya, Leticia meminta Ray mengajaknya semalam. Hanya saja~Semalam Ray tak bisa menahan kerinduan yang sudah memuncak pada Leticia. Jadi, pria itu membawanya kembali ke rumah pernikahan mereka terlebih dulu. Pun demikian dengan Leticia, wanita itu juga tak kalah merindu Ray. Siang ini, di sepanjang perjalanan menuju kediaman Alfonso, bibir Leticia merekah dengan wajah merona. Teringat adegan panas semalam yang mereka lakukan. Ray meminta banyak hal dari Leticia, dan wanita itu memberikan lebih dari apa yang Ray inginkan. Dia ingat betul saat Ray dengan mesra berbisik, "You got it, My Lovely Wife."'Sepertinya aku harus membuat kejutan untuk Ray,' batin Leticia bermonolog sambil tersenyum mesem manis.Lamunan Leticia buyar saat Ray memegang tangannya setelah memanuver persneling, mengatur kecepatan mobil
Leticia berjalan mendekati pria bermata hazel itu hingga berjarak satu langkah. Tatapan mereka beradu di udara untuk beberapa detik. "Jangan digigit terus, kamu bisa terluka." Ray berkata dengan lembut saat mengangkat tangan menyentuh bibir ranum Leticia. Leticia memejamkan mata, dia menunduk menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Tubuh wanita itu sedikit gemetaran saat Ray menyentuhnya. "Ray, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?" Leticia bertanya tanpa mengangkat pandangan, ucapannya terdengar begitu gugup. Ray meraih dagu Leticia agar mendongak menatapnya. Tampaklah butiran bening kristal menumpuk di kelopak mata wanita itu. "Umm?" gumam Ray sebelum bertanya dengan cemas. "Kenapa bersedih?" Leticia tak bisa menahan diri untuk tidak menabrakan diri ke pelukan Ray. Dia terisak-isak di dada bidang pria itu sambil memeluknya dengan erat. "Kenapa tak pernah memberitahuku bahwa Cheryl adalah adikmu?
Satu bulan kemudian.Seperti yang Leticia inginkan, Ray mendaftarkan wanita itu di universitas yang Ray rekomendasikan. Leticia awalnya menolak saat Ray memfasilitasi rumah, mobil, dan toko perhiasan di pusat Kota Ragusa. Meski Leticia pernah mengatakan bahwa dia tak ingin dilupakan, tetapi justru dia lah yang menutup komunikasi langsung dengan Ray. Bahkan, wanita itu sengaja mengganti nomor agar Ray tidak menghubunginya. Leticia tak ingin menjadi bayang-bayang dalam hubungan Ray dan Cheryl. Demi tak ingin menjadi orang ketiga, dan demi kebahagiaan pria itu, dia menutup rapat perasaannya. Rasa cinta yang besar, tak ingin terbagi dan dibagi. "Apa aku hamil lagi?" Leticia bertanya pada diri sini.Resah~Itulah yang Leticia rasakan saat ini. Di tengah kepadatan aktivitasnya mengurus toko di siang hari, dan kuliah di malam hari, Leticia saat ini sedang dilanda rasa gelisah.Sebab, dia kembali terlambat datang bulan setelah berpisah dengan Ray satu bulan lalu. Namun, memang besar harapan
Tiba di depan kamar presidential suite. Leticia sedikit ragu apakah akan melakukan hal itu bersama Ray."Kenapa, umm?" tanya Ray sambil mengulurkan tangan ketika masuk ke kamar hotel.Leticia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, "Tidak, aku hanya …."Ucapan Leticia terhenti saat Ray memeluknya dengan erat."Kamu ragu? Kamu yang mengajakku menghabiskan malam sebelum kita berpisah. Apa sekarang kita akan pulang, umm?" Ray berbisik dengan lembut.Embusan napas Ray begitu hangat membuat debar jantung Leticia menjadi tak karuan.Wanita itu menengadah, melingkarkan lengan di leher pria berwajah tampan di hadapannya.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments