Malam itu, Eve duduk di kamar kosnya yang remang, hanya ditemani lampu meja kecil yang mulai meredup dimakan usia. Dia memandangi ponselnya dengan cemas, berharap ada kabar dari Clara. Meski harapannya terasa tipis, Eve tidak punya pilihan selain menunggu.
Ponselnya akhirnya bergetar dan nama Clara muncul di layar, membuat Eve berdegup kencang. Eve segera menjawab panggilan itu sigap. "Halo Clara?" Di ujung sana, Clara menghela napas sebelum berbicara. "Eve, aku punya kabar untukmu" Eve menegakkan punggung, harapannya tumbuh. "Iya? Ada lowongan kerja?" "Ya, ada" jawab Clara pelan, suaranya terdengar ragu. "Tapi... aku nggak yakin ini pekerjaan yang cocok untukmu" Eve mengerutkan kening. "Kenapa? Clara, aku butuh pekerjaan apa pun saat ini. Tolong, kamu bisa memberitahuku" "Masalahnya bukan aku nggak mau ngasih tahu" Clara menjelaskan. "Tapi pekerjaan ini... tingkat kesulitannya tinggi, dan aku nggak mau kamu tambah stres. Tapi kalau kamu maksa, aku akan memberi tahu" Eve menggenggam ponselnya erat. "Clara, aku nggak punya pilihan lain. Aku butuh pekerjaan secepatnya. Tolong beri tahu aku" Clara menghela napas lagi, seolah masih mempertimbangkan. "Oke, dengar baik-baik.. Aktor terkenal bernama Adam Valentino. Kamu pasti pernah mendengar namanya kan?" "Adam...Valentino?" Eve mengerutkan kening, mencoba mengingat. Nama itu terdengar familiar. "Ya, Adam Valentino Belmont lebih tepatnya" lanjut Clara. "Dia terkenal, tapi juga problematik. Skandal di sana-sini, banyak media nggak suka dia, dan dia punya reputasi yang kamu tahulah...agak buruk. Manager pribadinya baru saja mengundurkan diri pagi ini, padahal baru dua minggu bekerja padanya" Eve membelalakkan mata. "Dua minggu?" "Ya" Clara menjawab tegas. "Dan bukan karena gajinya kecil atau apa. Tapi karena Adam terkenal sebagai 'klien beracun.' Selama ini nggak banyak yang tahan bekerja di bawahnya, hanya dirahasiakan dari media saja" Eve terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Dia merasa gentar, tapi dia tahu dia tak punya banyak pilihan. "Jadi, apa yang harus kulakukan?" Clara terdengar ragu-ragu lagi sebelum menjawab. "Kalau kamu mau, aku bisa coba rekomendasikanmu. Mereka butuh manager baru secepatnya, dan kamu bisa langsung mulai besok pagi. Tapi Eve, aku nggak mau kamu ambil ini kalau kamu nggak yakin" Eve menghela napas panjang. Tawaran ini terdengar seperti jebakan, tapi di sisi lain dia tahu dia membutuhkan pekerjaan apapun secepatnya. Sewa kos, biaya hidupnya juga ibu dan kedua adiknya tidak bisa menunggu. "Aku ambil" kata Eve akhirnya. "Yakin?" Clara bertanya, suaranya penuh kekhawatiran. "Aku nggak punya pilihan Clara. Aku ambil" ulang Eve, kali ini lebih tegas. Clara terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata, "Baiklah. Aku akan bicara dengan kenalanku di manajemen Adam. Aku akan pastikan kamu ada di daftar kandidat besok pagi. Tapi Eve... hati-hati ya. Jangan biarkan dia menginjak-injak kamu. Kalau ada apa-apa, kamu harus mengabariku" "Terima kasih, Clara" ucap Eve tulus, suaranya penuh rasa syukur meskipun hatinya penuh kekhawatiran. Malam itu terasa begitu panjang bagi Eve. Setelah menutup panggilan dengan Clara, dia memandangi langit-langit kamar kosnya yang sempit. Bunyi kipas angin yang berputar pelan menjadi satu-satunya pengisi keheningan. Pikirannya berputar, mencoba meraba-raba kemungkinan apa yang akan terjadi padanya esok. “Manager pribadi Adam Valentino?” gumamnya lagi, suara lirihnya tenggelam dalam ruang kecil kosnya. Nama pria itu semakin memenuhi kepalanya. Adam Valentino bukan sekadar aktor terkenal. Dia adalah ikon media yang penuh kontroversi. Eve masih ingat beberapa berita besar tentangnya, pesta-pesta mewah yang berujung keributan, komentar pedasnya yang kerap jadi sorotan, hingga hubungan asmaranya yang berakhir dengan drama besar. Adam Valentino adalah sosok yang sulit dihindari dari berita hiburan. Eve meraih ponselnya lagi, kali ini mencari nama aktor yang akan menjadi bosnya di internet. Gambar pertama yang muncul adalah potret Adam dalam setelan mahal dan menatap kamera dengan tatapan tajam. Wajahnya sempurna, hampir seperti pahatan patung yang hidup. Namun di balik semua itu, berita-berita di bawahnya penuh dengan kata-kata seperti "kontroversial" "skandal" dan "bermasalah" Eve mendesah berat, jemarinya menggulir layar hingga menemukan artikel tentang manager-manager Adam sebelumnya. Ada foto beberapa orang, semuanya terlihat sangat profesional, namun entah kenapa tak ada satu pun yang bertahan lama. Beberapa hanya sebulan, yang lain bahkan lebih singkat. Satu artikel menyebutkan bahwa Adam memiliki “ekspektasi yang tidak masuk akal” terhadap bawahannya. “Apa yang sudah aku setujui?” pikirnya sambil menutup ponselnya dengan kesal. Namun meskipun ketakutan mulai menyergapnya, rasa putus asa untuk tetap bertahan hidup lebih besar. Dia tak punya banyak waktu untuk berpikir panjang. Lusa adalah tanggal jatuh tempo biaya sewa kosnya, dan ibunya di kampung sudah menghubunginya untuk meminta bantuan biaya sekolah adiknya bulan ini segera dikirimkan. Eve akhirnya berdiri dan berjalan ke jendela. Dia menarik tirai tipisnya, memandangi lampu-lampu jalanan yang berpendar redup. Pemandangan di luar jendela malam itu terasa seperti dunia yang asing, penuh tantangan yang siap menghantamnya kapan saja. “Ini hanya pekerjaan" bisiknya kepada dirinya sendiri. “Aku hanya perlu bertahan sampai aku menemukan pekerjaan yang lebih baik” ***** Pagi datang terlalu cepat. Alarm di ponselnya berbunyi nyaring, memaksa Eve bangun dari tidurnya yang tak nyenyak. Walau matanya masih terasa berat Eve tahu dia tidak boleh terlambat di hari pertamanya. Eve segera mandi lalu memakai blazer terbaik yang dia miliki. Saat Eve berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, dia mencoba tersenyum untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tapi bayangan di cermin itu malah memperlihatkan seorang wanita yang terlihat lelah dan gugup. “Eve, kamu pasti bisa melakukan ini” ucapnya pelan, mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri. Dia mengambil tasnya, memasukkan dokumen-dokumen penting, lalu melangkah keluar dengan hati yang penuh kecemasan. Di luar, matahari pagi mulai menyingsing, menerangi jalanan kota yang mulai ramai. Ketika Eve tiba di gedung perusahaan tempat Adam Valentino bernaung, dia merasa tubuhnya menegang. Gedung itu tinggi, dengan kaca-kaca besar yang memantulkan langit biru di atasnya. Di dalam interiornya mewah, penuh dengan orang-orang berpakaian rapi yang tampak sibuk. Suasana itu mengingatkan Eve pada perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya, perusahaan milik seorang CEO yang telah mengusirnya dengan dingin setelah malam pertama mereka. Kenangan pahit itu muncul kembali, membuat dada Eve sesak mengingatnya. Seorang resepsionis wanita menyambutnya dengan senyum sopan. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Eve menarik napas dalam-dalam. "Saya Eve, di sini untuk wawancara sebagai manager pribadi Adam Valentino Belmont" Resepsionis itu mengangkat alis, lalu melirik mengamati Eve sekilas sebelum memberikan senyuman kecil. "Oh, Anda... Baiklah. Silakan tunggu sebentar. Saya akan memberitahu tim manajemen bahwa Anda sudah datang" Eve duduk di ruang tunggu, merasa perutnya mulai bergejolak. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam sebelum akhirnya seorang pria berjas hitam keluar dari pintu kaca besar tak jauh di depannya. "Miss Eve?" panggilnya dengan suara tegas. "Silakan masuk. Anda akan bertemu dengan Adam langsung. Dia ingin wawancara ini dilakukan secara pribadi" Mendengar itu, Eve membeku sesaat. 'Bertemu langsung? Dengan Adam Valentino? Sekarang?' Tapi dia mengangguk dan bangkit lalu mengikuti pria itu melewati pintu besar itu. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah dia sedang berjalan menuju sesuatu yang sangat berisiko. Ketika pintu ruangan itu terbuka, Eve melihat sosok pria yang duduk santai di sofa kulit hitam. Adam Valentino tampak lebih mencolok dibandingkan fotonya di internet. Terlihat menawan walau tubuh atletisnya hanya dibalut kaus hitam dan celana olahraga. Rambut coklat gelapnya terlihat berantakan dengan bayangan lelah di bawah matanya, pria itu menatap Eve dengan mata tajam sementara senyum tipis yang sulit dibaca terukir di wajahnya. "Jadi, kamu yang akan menjadi manajer baruku? Yah...tidak buruk kurasa" komentar Adam langsung, suaranya rendah tapi tajam sementara sepasang matanya menatap Eve dari kepala hingga kaki menilai. Eve tersenyum tipis, kebanyakan orang pasti merasa gugup di bawah tatapan tajam itu tapi Eve berbeda. Dia sudah memiliki pengalaman sebagai sekretaris pribadi Alex selama 5 tahun lamanya, seorang CEO dingin yang memiliki tatapan lebih tajam dari Adam. "Selamat pagi Tuan Adam. Saya Hawa Everalda, anda bisa memanggil saya Eve. Mulai hari ini saya yang akan menjadi manajer pribadi Anda" Adam menyeringai kecil, tetapi wajahnya tidak terlihat ramah. "Oh, yang kemarin udah berhenti ya? Mari kita lihat berapa lama kamu akan bertahan" Kata-kata Adam langsung menusuk kepercayaan diri Eve. Namun dia mencoba tetap tenang. "Saya akan berusaha melakukan yang terbaik Tuan Adam" ucap Eve yakin, tak lupa seraya memamerkan senyum tipisnya. Adam tertawa pendek dan kembali berkata dengan nada sinis. "Semua orang bilang begitu. Dua minggu, sebulan, lalu mereka kabur. Aku tidak butuh janji manis itu nona Eve. Aku butuh seseorang yang bisa mengurus semua jadwalku, menangani media, dan mengerjakan semua perintahku dengan sempurna. Bisa?" Eve mengangguk yakin "Tentu saja. Itu sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya sebelumnya" Adam menatapnya lebih lama, seolah mencoba membaca pikirannya. "Kita lihat saja nanti" katanya akhirnya sebelum kemudian berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya yang berada di bagian lain ruangan di mana tumpukan dokumen, naskah, dan kontrak berserakan di atasnya. "Ini pekerjaan pertamamu" kata Adam, menunjuk semua itu. "Bereskan. Dan, satu lagi...kemarilah" Eve mengeryitkan kening dan melangkah mendekati Adam. Adam mengisyaratkan pada Eve untuk lebih mendekat padanya, Eve menurut dan mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Cup" Tanpa peringatan, Adam menempelkan bibirnya pada bibir Eve dan melumatnya sekilas sebelum Eve mendorong tubuh Adam kasar dan menatap pria lancang itu tajam. "Tidak buruk kurasa" ucap Adam dingin. "Wajahmu cantik, tubuhmu juga menarik dan bibirmu manis. Jangan melihatku seperti orang jahat, itu hanya bagian tes dariku. Kalau keberatan kamu bisa keluar sekarang" lanjutnya seraya menyunggingkan senyum kecil. Eve merasa tenggorokannya mengering, merasa terhina tapi dia segera mengendalikan diri dan menjawab dengan tegas "Jika anda ingin kita menjadi partner kerja yang baik, saya harap anda tidak melakukan perbuatan tidak senonoh lagi untuk ke depannya tuan Adam" Adam memiringkan kepalanya, tatapannya seolah mengejek. "Itu semua tergantung pada hasil kinerjamu nona Everalda. Jika kamu menyelesaikan pekerjaanmu dengan sempurna kurasa aku akan mempertimbangkan permintaanmu barusan, dan....selamat datang di neraka" Eve menelan ludah, menyadari bahwa tantangan pekerjaannya sekarang jauh lebih besar dari pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi Alex sebelumnya. Tapi dia segera meyakinkan dirinya dan tersenyum pada Adam, orang yang akan menjadi atasannya untuk ke depannya. "Terima kasih untuk ucapan selamat datangnya tuan Adam. Saya akan berusaha agar kita bisa menjadi partner kerja yang baik ke depannya" ucap Eve dengan senyum terbaiknya. Adam hanya mendengus dan berbalik badan lalu mengambil setumpuk lembaran naskah dari atas meja kerjanya dan membawanya menuju sofa kulit hitam yang tadi di dudukinya.Eve menghabiskan sebagian besar pagi itu dengan membenahi meja kerja Adam. Dokumen berserakan di atas meja, jadwal yang tidak jelas, dan beberapa kontrak penting yang bahkan belum ditandatangani. Dia bekerja dengan cepat dan efisien, mencoba menata semuanya sebelum Adam selesai dengan naskah di tangannya. Meskipun matanya mulai lelah dan jari-jarinya terasa kaku Eve berusaha keras untuk tetap fokus Namun belum juga setengah jalan, Adam tiba-tiba muncul di sebelah meja dengan ponsel di tangan. Ekspresinya terlihat tidak senang. "Nona Eve" panggilnya tajam. Eve menoleh, entah kenapa merasa gugup. "Ya tuan Adam?" Adam berjalan mendekat dan menunjukkan layar ponselnya. Di layar itu ada sebuah artikel gosip online yang baru saja dipublikasikan, lengkap dengan foto Adam di sebuah klub malam beberapa hari lalu dengan judul mencolok "Aktor Kontroversional Adam Terlihat Mabuk dan Membuat Keributan di Klub Eksklusif!" "Ini pekerjaan pertamamu" perintah Adam dengan nada tajam. "Bereskan
Setelah mencuci piring bekas sarapan Adam, Eve mengeringkan tangannya dengan cepat dan berjalan ke ruang tamu di mana Adam sudah menunggunya di sofa seraya memainkan ponselnya. "Udah selesai?" tanyanya tanpa menoleh, tatapan pria itu tetap terpaku pada ponselnya. Eve menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan rasa jengkelnya. 'Sedikit apresiasi tidak akan membunuhmu Tuan Adam' "Ya, sudah" jawabnya singkat. Tanpa berkata apa-apa lagi Adam berdiri dan berjalan menuju koridor, memaksa Eve untuk mengikuti di belakang. Mereka melewati beberapa ruangan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar dengan ukiran modern. Adam membuka pintu itu dan masuk, sementara Eve berdiri terpaku di ambang pintu, matanya melebar saat melihat isi ruangan di dalamnya. 'Astaga' Ruang ganti Adam dua kali lipat lebih besar dari kamar kos Eve. Di dalamnya ada rak-rak kayu tinggi yang dipenuhi jas, kemeja, celana, dan sepatu yang tersusun rapi berdasarkan warna dan jenis. Di sisi sebel
Setelah syuting selesai, Eve merasa lelah secara fisik dan mental. Hari ini dia tidak hanya harus menangani permintaan sok perfeksionis Adam, tetapi juga harus menghadapi sikap Zara yang menyebalkan. Di dalam mobil, selama perjalanan pulang suasana terasa hening. Adam duduk di kursi belakang dengan mata terpejam, sementara Eve duduk menyupir di depan. Tak tahan dengan keheningan yang membosankan, Eve akhirnya menghela napas dan bergumam pelan, “Hari ini benar-benar melelahkan…” Adam yang awalnya diam, membuka matanya sedikit dan bergumam membalas. “Kamu memang terlihat payah” Eve melotot ke kaca spion tengah, menatap Adam kesal. “Aku baru bekerja dua hari dan sudah dikerjai oleh rekan aktris anda habis-habisan! Wajar kalau aku lelah” Adam hanya mengangkat bahu cuek. “Itu salahmu sendiri. Kalau sejak awal kamu bilang ‘tidak’, dia nggak akan berani menyuruhmu terus” Eve menggigit bibirnya, menahan diri agar tidak membantah. Dia tahu Adam ada benarnya, tapi tetap saja, bukank
Malam itu setelah sampai di kamar kosnya, Eve langsung mulai mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak yang harus dia bawa, hanya pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang kecil penting lainnya. Dia sudah mempertimbangkan tawaran Adam selama di perjalanan pulang, tawaran pria itu tidak terasa buruk. Eve hanya perlu pindah tempat tidur dan uang yang seharusnya dipakainya untuk membayar kos bisa digunaka untuk menambah transferannya pada keluarga di kampung. Saat dia tengah sibuk melipat bajunya ke dalam koper, ponselnya bergetar di atas kasur. Nama Clara muncul di layar. Eve mengernyit, merasa sedikit aneh karena sahabatnya itu biasanya menelepon hanya jika ada sesuatu yang penting. Begitu dia mengangkatnya, suara Clara terdengar antusias di seberang sana. “Eve! Kamu udah liat berita hari ini? Alex mau nikah bulan depan!” Eve terdiam sejenak. Tangannya yang sedang melipat baju pun ikut berhenti. "Alex?" “Iya! Alex atasanmu dulu! Media lagi heboh banget! Kamu nggak buka
Malam harinya Adam dan Eve menghadiri acara penghargaan yang digelar di salah satu hotel mewah di pusat kota. Adam sebagai salah satu nominasi, duduk bersama para aktor lain di barisan depan, sementara Eve ditempatkan di meja staf yang lebih jauh dari panggung utama. Sepanjang acara mereka nyaris tidak berinteraksi. Adam sibuk berbincang dengan rekan-rekan sesama aktornya sambil sesekali tersenyum ke arah kamera, sementara Eve hanya memperhatikan jalannya acara sambil menikmati makanan ringan di mejanya. Acara berlangsung cukup panjang, dengan berbagai kategori diumumkan satu per satu. Adam tidak memenangkan penghargaan malam itu, tapi dia tetap memasang ekspresi santai dan profesional. Setelah acara selesai, para tamu mulai beranjak keluar dari ballroom. Eve yang berjalan menuju pintu keluar bertemu Adam di lobi hotel, tepat saat pria itu baru selesai berbicara dengan beberapa rekannya. Namun sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, seseorang menghampiri mereka. "Adam?" Sua
Pagi harinya, Eve bangun dengan perasaan kesal yang masih membara. Bukan hanya karena Adam telah menciumnya semalam meskipun itu kecelakaan, tapi karena pria itu salah mengiranya sebagai Casey. 'Dasar pria menyedihkan!' batinnya kesal. Setelah mandi dan bersiap dengan cepat, Eve keluar dari kamarnya seraya membawa laptopnya yang terdapat jadwal Adam juga keperluan wawancara dan pemotretan hari ini. Saat menuruni anak tangga dia mendapati Adam sudah duduk santai di sofa ruang televisi, tengah menonton televisi sambil memegang secangkir kopi. Pria itu terlihat segar seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Sementara Eve? Dia masih ingin melempar sesuatu ke kepala Adam. Namun Eve memilih diam dan langsung menuju ke dapur. Saat Eve kembali dari dapur dan duduk di meja makan seraya membawa secangkir teh untuk dirinya sendiri, Adam tiba-tiba muncul dan menyodorkan roti panggang yang telah dibaluri selai ke arahnya. "Apa ini?" Eve melirik roti itu curiga. "Roti" Adam menjaw
Setelah melalui serangkaian wawancara dan pemotretan yang melelahkan sepanjang pagi hingga siang hari, jadwal terakhir Adam hari ini adalah syuting dramanya bersama Zara, aktris yang dulu sempat menjahili Eve di hari keduanya bekerja. Eve sebenarnya tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan Zara, tapi karena dia adalah manajer Adam, suka atau tidak dia harus tetap profesional. Setibanya mereka di lokasi syuting, Eve langsung melihat Zara yang tengah duduk di kursi rias, tengah mengobrol dengan managernya. Tatapannya beralih pada Adam yang sedang berbincang dengan sutradara tentang adegan yang akan mereka lakukan. "Hei, Eve!" Eve yang baru saja duduk di kursi sudut ruangan menoleh. Zara berjalan mendekatinya seraya tersenyum cerah, seolah-olah mereka adalah sepasang teman lama. "Hai, Zara" Eve membalas dengan anggukan kecil. "Santai dong, kamu masih kesal
Ponsel Eve berdering nyaring, membuat Eve yang baru selesai mandi dan tengah merapikan penampilannya meraih benda itu cepat. Saat melihat nama yang muncul di layar, dia mengernyit. Adam 'Bisa-bisanya pria itu memilih untuk menelepon walaupun kami satu atap' Eve berdecak dalam hati. Eve mengangkat telepon dan berucap malas. "Ada apa?" "Aku sakit" suara Adam di seberang telepon terdengar serak dan lemah. Eve menahan tawa. "Aku udah bilang kan semalam?" "Jangan nyalahin aku sekarang Eve. Aku butuh bantuan" Adam mengeluh. "Aku nggak bisa bangun. Badanku panas banget" Eve menghela napas panjang lalu melirik jadwal Adam hari ini. Untungnya tidak ada jadwal penting, hanya meeting dengan tim produksi dan syuting yang bisa ditunda.
Eve menatap Adam dengan lembut. “Bukan itu. Aku cuma ingin menyelesaikan semuanya dengan baik. Pagi itu aku langsung pergi gitu aja, dan Alex juga langsung mengusirku ketika dia baru saja bangun” Adam memejamkan mata sejenak sebelum menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi aku ikut" Eve mengangkat alis. “Adam—” “Ini bukan tawaran Eve” Adam menatapnya serius. “Aku nggak bakal ngebiarin kamu sendirian ketemu sama dia lalu berubah fikiran dan.... berakhir meninggalkanku" ucapnya dengan suara lirih di bagian akhir kalimatnya. Eve yang mendengar ucapan lirih Adam tersenyum tipis lalu memberi isyarat pada pria itu untuk lebih mendekat padanya. Adam yang mengerti menurut dan mencondongkan tubuhnya, memudahkan Eve untuk melingkarkan kedua lengannya di tubuh Adam. "Aku nggak mungkin kembali padanya Adam. Kami tidak pe
Eve yang sedang menyeruput sup hampir tersedak. Dia buru-buru meletakkan sendoknya dan menoleh ke sekeliling, memastikan tak ada orang lain di sekitar mereka lalu menatap Adam dengan mata membesar. "Adam! Kalau ada yang dengar gimana?" Adam tertawa renyah. "Kalaupun ada yang dengar juga nggak papa. Semua juga tau turn on karena pasangan sendiri di pagi hari itu hal yang wajar" Eve terdiam selama tiga detik sebelum memalingkan wajah menutupi semburat merah di kedua pipinya. "Kamu kayak gitu karena kita udah jadi pasangan? Perasaan kemarin pagi nggak begitu deh kamu." Adam mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai dengan santai. "Kemarin juga seperti itu" akunya dengan nada datar. "Cuma aku nggak berani bertindak seperti tadi pagi aja, khawatir kamu ilfeel" lanjutnya Eve terkikik
Eve langsung diam. Dia sudah cukup tahu betapa keras kepalanya seorang Adam. Setelah beberapa saat tanpa perlawanan, Adam tertawa kecil. "Nah gitu dong. Lebih enak kan?" Eve hanya mendengus. Tapi harus diakui, kehangatan Adam membuatnya merasa nyaman. Beberapa detik kemudian, Adam tiba-tiba bicara lagi. "Eve" "Hmm?" "Kamu yakin nggak nyesel kan ya?" Eve diam sejenak sebelum menjawab, "Tanya lagi besok pagi. Kalau aku masih di sini dan belum kabur, berarti aku nggak nyesel" "Deal" Adam tertawa pelan dan mengecup puncak kepala Eve hangat.
Adam tertawa renyah, kembali menjadi Adam yang biasa. "Nggak Eve. Aku nggak mau kamu kecapekan. Jadi kamu cukup mantau aku dari rumah aja mulai sekarang. Aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah" Cup! Tanpa aba-aba Adam mengecup kening Eve singkat lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan sebelum Eve tersadar dan berteriak protes. ***** Siang harinya Eve tidak bisa tidur siang. Dia berbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan perasaan yang tak menentu. Percakapan dengan Adam tadi pagi terus terngiang di kepalanya. Kata-katanya, tatapan matanya, bagaimana dia mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Alex merebutnya… Sejak kapan Adam menjadi bagian dari hidupn
Eve tersenyum kecil menahan tawa mendengar ucapannya, bisa-bisanya pria ini masih mengatakan bayi 'kita' di saat seperti ini. "Aku nggak bisa menjanjikan apapun Adam. Aku... aku nggak tahu...." ucapnya pelan, dia sendiri juga masih belum yakin dengan perasaannya. Adam menghela nafas panjang, lalu tersenyum kecil. “Ya udah, aku nggak bisa maksa juga. Tapi kalau nanti kamu udah tahu jawabannya, kasih tahu aku ya?" Eve hanya mengangguk pelan, dan mereka kembali duduk di sofa depan televisi. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. Keheningan yang menggantung di udara bukan sesuatu yang canggung, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Setelah beberapa saat, Adam tiba-tiba berkata, “Aku sangat membencinya" Eve menoleh. “Alex?” A
"Pergi sana! Nggak usah drama!" Eve langsung mendorong Adam menjauh. Adam tertawa kecil lalu bangkit dan mencium puncak kepala Eve singkat sebelum berlari cepat ke kamar mandi. Sementara itu, Eve memejamkan mata dan tersenyum kecil. Jika terus menghadapi Adam yang seperti ini Eve yakin hatinya akan mencair dalam waktu yang tak lama. ***** Pagi harinya, Eve terbangun lebih dulu. Biasanya dia bukan tipe orang yang bangun pagi dengan penuh energi, tapi pagi ini berbeda. Mungkin karena semalam dia tidur dengan cukup nyaman... atau karena ada sosok di belakangnya yang masih memeluknya erat. Eve melirik ke belakang. Adam masih tidur, wajahnya tenang, dan nafasnya teratur. Tapi... ada sesuatu yang aneh. "Adam..." Eve mengerutkan dahi, mencoba menarik tangann
Mendengar pertanyaan tiba-tiba Adam, tangan Eve mengepal di pangkuannya, menahan rasa sakit, marah juga kecewa yang kembali muncul. Eve menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pelan. "Adam…." Adam meliriknya sekilas, ekspresi wajah pria itu tak terbaca. "Aku butuh jawaban Eve" Suaranya lebih dalam kali ini, nyaris seperti bisikan. Eve menggigit bibir, hatinya berdebar kencang. Apa yang harus dia katakan? Eve menatap Adam tajam, mencoba menahan gejolak emosinya sebelum akhirnya membuka mulutnya dan bertanya ragu. "Boleh aku bertan
“Kamu terlalu dramatis" Eve mendecakkan lidah. “Aku kan aktor, wajar kalau aku dramatis" Adam menyeringai kecil. Eve mendengus, tapi tidak bisa menyangkal kalau ucapan Adam memang terdengar masuk akal, walaupun alasan itu terasa dibuat-buat. “Aku masih bisa memanggil pembantu kalau ada apa-apa. Aku akan tetap tidur di kamarku” Eve berdalih. Adam menggeleng lagi. “Kalau kamu bersikeras tidur di situ, biar aku yang tidur di kamarmu. Aku lebih percaya diri kalau aku sendiri yang ada di dekatmu dibanding seorang pembantu” “Ranjangnya sempit Adam, nggak muat untuk kita berdua" Eve memijat pelipisnya lelah. "Aku tidak masalah" Adam mengangguk santai. Eve ingin membantah, tapi dia tahu Adam. Pria itu tidak akan menyerah sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. “Oke, aku tidur di kamarmu" gumam Eve akhirnya. “Tapi aku tidur di sofa" “Sofa? Serius? Itu nggak nyaman buat ibu hamil” Adam mengangkat sebelah alisnya, tampak tak setuju. “Bayiku baru enam minggu Adam” “
Adam melipat tangan di dada. "Dan aku orang yang bertanggung jawab. Aku bakal jadi ayah yang baik. Aku bisa gendong bayi, bisa bikin susu, bisa...." "Kamu bahkan nggak bisa masak mie instan tanpa bikin dapur kebakaran" potong Eve tajam. Adam mengerjap sebentar lalu berkata santai penuh percaya diri. "...Itu kan kemarin. Mulai sekarang aku bakal belajar dan berusaha" "Oh ya? Buktiin" Eve tertawa sinis. Adam berpikir sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu. "Kamu ngapain?" Eve melangkah mendekat dan melirik ponsel Adam curiga. "Aku mau cari tutorial cara jadi ayah yang baik di YouTube" sahutnya santai, sibuk menggulir jarinya di layar ponsel. Eve menepuk dahinya sendiri. 'Pria ini sungguhan gila!' batinnya frustasi. "Eve, serius" Adam mendongak dari layar ponselnya, kali ini suaranya lebih le