“Jangan macam-macam, Mbak. Nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang lain,” tegas Victory memberi ancaman kepada Cani.Tingkah Victory yang panik. Makin membuat Cani tahu jika adiknya itu tengah main belakang. Cani yang tak takut sama sekali, malah balik mengancam Victory. Dengan menyindir soal kesetiaan seorang istri.“Mbak Cani nuduh aku selingkuhi Mas Indra?” sungut Victory tidak terima.“Loh, aku nggak nuduh kamu, kok. Aku ‘kan cuma bilang kalau istri nggak boleh keluar rumah bareng cowok lain, yang bukan suami,” tukas Cani menjelaskan. Victory menatap Cani dengan tatapan penuh rasa tidak suka.“Siapa juga yang bilang kamu selingkuh? Kamu merasa ta?” celetuk Cani sengaja ingin membuat sang adik kesal.“Kamu ya!”Ketika Victory hendak memukul Cani. Dengan cekatan Marci menarik lengan Victory. Dan meminta Victory untuk tenang. Karena kini mereka tengah menjadi bahan tontonan oleh pengunjung lain.“Kayaknya asyik banget, mengobrolnya. Gimana kalau kita lanjut di kafe saja?”
Bu Helena benar-benar melakukan apa yang diminta oleh anaknya tercinta. Yakni, mengancam Cani dengan mendatangi kediaman Cani. Lebih tepatnya, Bu Helena menghampiri Cani yang sedang menjaga toko.“Eh, Ibu,” sambut Cani.Saat Cani ingin bersalaman dengan sang ibu. Bu Helena langsung menarik tangannya. Seakan dia tidak ingin Cani menyentuhnya. Alhasil, Cani tak dapat mencium punggung tangan Bu Helena.“Mari, Bu. Ngobrol di dalam rumah saja,” ajak Cani sopan.“Nggak perlu! Di sini saja,” tolak Bu Helena duduk di kursi plastik.Cani hanya bisa menuruti keinginan Bu Helena. Takut kualat kalau menolak.“Ada apa ya? Kok tumben, Ibu ke sini?” tanya Cani bersuara pelan.“Langsung saja. Nggak perlu basa-basi,” ketus Bu Helena.“Iya, Bu.”“Jangan panggil aku ibu! Aku ini bukan ibumu!” nyolot Bu Helena risih dipanggil ibu oleh Cani. “Panggil aku Nyonya!” perintah Bu Helena.“Baik, Nyonya. Ada apa?” Lagi-lagi Cani menurut. Dia tidak ingin ada kekacauan di tempatnya.Bu Helena menghembuskan napa
“Istriku tidak mungkin berselingkuh. Aku mengawasinya dua puluh empat jam,” jawab Indra penuh percaya diri.“Lagi pula, Aku yang membuat hidup istriku enak. Aku yakin, istriku bukan tipe orang yang tidak tahu diri. Dia berbeda dari kebanyakan wanita,” lanjut Indra seakan memamerkan istrinya yang baik.Mendengar jawaban Indra, Marci hanya bisa membalasnya dengan senyuman manis. Marci merasa tergelitik. Pasalnya, kekasih yang dimaksud oleh Marci, tak lain dan tak bukan, adalah istri dari Indra.“Kamu beruntung mendapatkan wanita seperti istrimu,” puji Marci kemudian.“Sepertinya begitu,” balas Indra.Marci kembali memilih-milih gaun yang cocok. Sembari sesekali meminta pendapat dari Indra.“Seperti apa kekasihmu? Maksudku, bentuk fisiknya,” tanya Indra yang berniat ingin membantu dengan langsung memilih gaun.“Tubuh kekasihku, kurang lebih sama seperti tubuh istrimu,” jawab Marci.Indra sama sekali tidak merasa curiga dengan ciri-ciri kekasih yang dideskripsikan oleh Marci. Meskipun, s
“Apa kamu bilang? Tukang selingkuh?” sungut Victory. Rasa kagum Victory terhadap Han berubah menjadi rasa jengkel. “Jaga bicaramu! Kakak ipar miskin nggak tahu diri,” hina Victory geram. Han mengernyitkan alis saat melihat ekspresi marah Victory. “Kamu kenapa, Victory? Aku tidak berbicara denganmu,” kilah Han. Han menyambut seseorang yang berada di belakang Victory. Orang tersebut adalah bintang film terkenal. “Aku penggemar beratmu,” ucap Han terlihat antusias. Victory sukses dibuat malu. Pasalnya. Aktor yang kini berbincang dengan Han, memang membintangi film yang bertema perselingkuhan. Cani menarik Victory agar menoleh ke arahnya. “Kamu merasa jadi tukang selingkuh, ya? GR banget, sih?” ledek Cani. Victory mengangkat dagunya tinggi. Bertingkah seolah-olah tak termakan oleh ocehan Cani. “Heh! Siapa juga yang merasa? Aku ‘kan bukan tukang selingkuh,” tampik Victory menyangkal. Cani tertawa kecil setelah mendengar jawaban Victory. “Kata siapa kamu bukan tukang selingkuh?
Beberapa pelayan masuk ke dalam ruangan. Mereka menyajikan makanan pembuka bagi para tamu spesial Marci. Setelah hidangan tertata rapi di atas meja makan. Pelayan meninggalkan ruangan.“Silakan dinikmati,” ucap Marci melihat sekilas satu per satu teman-temannya. Tak terkecuali Han.Mereka mulai mencicipi masakan bintang lima tersebut.“Bagaimana, Baby? Kamu menyukai makanan yang barusan kamu santap?” tanya Marci pada Hime.Rupanya, pertanyaan Marci itu tak hanya didengar oleh Hime. Melainkan Victory juga mendengarnya. Dan Victory amat sangat tidak nyaman, dengan interaksi yang ditunjukkan oleh Marci dan Hime.Seperti ada kekesalan tersendiri di hati Victory. Mungkin karena Victory cemburu.“Di acara ini, aku juga ingin menyampaikan sesuatu yang penting,” ujar Marci.Suara Marci yang lantang dan serius. Menarik perhatian seisi ruangan. Kini, mereka fokus pada Marci sembari menunggu Marci melanjutkan kalimatnya.“Kemarin aku dan kekasihku telah melangsungkan acara pertunangan. Yang dis
“Oh? Tuan Marci? Sedang apa anda di sini?” tanya Victory setelah berhasil melawan rasa terkejutnya.Saat ini, Victory bersikap formal. Seakan-akan, Marci hannyalah orang asing baginya.“Aku sedang mengisi liburanku di sini. Aku kira tadi siapa, ternyata kalian berdua. Senang sekali bisa bertemu kalian,” tutur Marci mengeluarkan senyuman di wajahnya.“Kami juga senang, bertemu denganmu. Kamu ‘kan kawanku,” timpal Indra menepuk bahu Marci.Indra mengajak Marci nongkrong di dalam cafe. Mereka bertiga pun duduk bersama. Victory benar-benar tak menggubris Marci. Malahan, Victory seperti sengaja pamer kemesraan.Karena telah dibuat sakit hati. Victory sama sekali tak peduli dengan Marci sekarang. Rasa sukanya pada Marci seakan meluap entah ke mana.“Apakah kalian juga berlibur?” tanya Marci.“Kami tak hanya berlibur. Kami juga sedang menikmati bulan madu kami. Aku ingin memiliki keturunan. Semoga saja, setelah pulang dari sini. Aku lekas hamil,” cerocos Victory menunjukkan kegembiraan.Marc
Dengan senyuman penuh arti, Marci membalas, “Terima kasih, Victory.” Karena Marci dan Hime masih sibuk menyambut tamu lain. Indra mengajak Victory untuk menikmati fasilitas pesta yang disajikan. Keduanya tak sengaja bertemu dengan Cani dan Han yang juga menghadiri pesta resepsi. Indra yang malas berinteraksi dengan Han dan Cani pun, lebih memilih untuk menghampiri rekan-rekan bisnisnya. “Aduh, ketemu lagi sama orang miskin. Bosan aku lama-lama,” ejek Victory memutar kedua bola matanya. Meskipun Han tampak sangat tampan. Bibir Victory tetap gatal, dan ingin menghina kakak iparnya itu. “Kalian berdua, tuh! Udah kayak kuman tahu, nggak? Kalian punya rasa malu atau tidak? Bisa-bisanya berkeliaran di lingkungan kalangan atas,” hina Victory berbicara dengan nada ketus. Cani sangat terkejut dengan ucapan pedas Victory. Victory telah ingkar janji. Padahal, Victory sendiri yang bersumpah. Tidak akan pernah menghina Han, dan Cani. Nyatanya, Victory mengingkari janjinya sendiri. “Mas Ha
Setelah menghitung uang satu koper pemberian dari Albert. Cani memutuskan untuk membaginya menjadi dua. Yang satu untuk ditabung. Dan satu bagian lagi untuk disedekahkan di masjid, dan panti asuhan yang ada di desa.Keputusan Cani yang bijak, membuat Han makin jatuh hati pada sosok Cani. Bagaimana tidak? Tak hanya paras Cani yang cantik. Perilaku, serta hati Cani juga tak kalah cantik. Bagi Han, Cani sangat kayak untuk dikagumi.“Sayang, kita bisa menggunakan seluruh uang itu untuk membeli tanah di sebelah rumah kita,” tutur Han. “Tapi, kamu malah memilih untuk membaginya,” tambah Han.“Mas, setiap rezeki yang kita peroleh. Ada hak orang lain. Jadi, tidak ada ruginya ketika kita membagi,” terang Cani.Han menganggukkan kepala, tanda mengerti.“Kalau dapat rezeki lagi, kita bisa beli perkerangan di samping rumah. Itu pun, kalau Pak Lurah bersedia menjualnya,” kata Cani.“Kenapa begitu? Kalau kita membelinya dengan harga pantas. Pak Lurah pasti akan menjualnya,” ujar Han tak mengerti