Share

Penjelasan yang Menoreh Luka

Author: Young Lady
last update Last Updated: 2024-11-08 19:16:59

Ringisan pelan lolos dari bibir Irish karena cengkraman Arthur hingga membuat pergelangan tangannya terasa perih. “Sakit. Lepas!”

Irish pikir Arthur akan mengabulkan permintaannya dengan mudah. Namun, yang dirinya dapati malahan ekspresi lelaki itu semakin gelap. Tanpa peduli dengan Irish yang meringis meminta dilepaskan, Arthur malah sengaja menarik Irish hingga menabrak tubuhnya.

“Apa? Cerai?” desis Arthur sinis.

“Beraninya kamu meminta cerai? Kamu bukan siapa-siapa tanpa diriku!” sembur Arthur penuh penekanan.

Sekuat tenaga Irish mendorong Arthur hingga akhirnya cekalan lelaki itu terlepas dari tangannya. Menyisakan rasa perih hingga berdenyut-denyut. Namun, ia mempertahankan ekspresinya tetap datar. Wanita itu mengangkat kepala membalas tatapan Arthur tak kalah sengit.

“Aku ingin kita berpisah secepatnya. Dia sudah kembali. Kurasa sudah waktunya pernikahan ini berakhir,” jawab Irish tanpa ragu.

Ekspresinya memang tampak sangat meyakinkan. Seolah-olah inilah yang dirinya inginkan. Padahal kini hatinya tersayat-sayat hingga terasa pedih. Tadinya Irish berharap pernikahan ini tidak akan pernah berakhir. Namun, sekarang harapannya telah sirna.

“Kalau kalian ingin kembali bersama, kita harus bercerai. Jangan sampai namamu menjadi buruk karena ini,” imbuh wanita itu lagi.

Irish tahu kalau Arthur sangat menjaga nama baik dan reputasi. Oleh karena itu, mereka selalu tampil kompak di depan umum. Seolah seperti pasangan serasi yang saling mencintai. Ia ingin mempermudah lelaki itu sekaligus melepaskan diri dari status yang mengikatnya.

Jika hubungan Arthur dan Elyza terendus publik. Bukan hanya nama Arthur yang jelek, tetapi juga nama Elyza. Irish yakin Arthur tidak akan membiarkan nama pujaan hatinya menjadi buruk. Dan itu tidak akan terjadi kalau Arthur dan Irish sudah berpisah.

Arthur kembali menarik Irish, memangkas jarak di antara mereka. “Hanya aku yang berhak memutuskan hubungan kita. Kamu tidak berhak memerintahku!”

Irish terkekeh sinis. “Baiklah. Aku yang akan mengurusnya. Kamu hanya perlu menandatanganinya.”

Beberapa orang yang berseliweran di sekitar sana membuat Arthur kontan melepas cengkramannya pada lengan Irish. Lelaki itu memang selalu menjaga reputasi dengan baik di mana pun itu. “Pulanglah. Lupakan omong kosong ini. Aku akan memaafkanmu.”

Irish tertawa miris dan menarik kasar cincin yang tersemat di jari manisnya. Kemudian melemparkan benda itu ke arah Arthur. “Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah menikah denganmu!”

Tindakan Irish membuat Arthur terkejut bukan main. Sepersekian detik kemudian, air muka lelaki itu berubah. Kobaran amarah tampak sangat jelas di manik hitamnya. “Ambil dan pakai cincin itu lagi!” titahnya penuh penekanan.

“Tidak akan!” jawab Irish tak kalah tegas.

Sejak hari pernikahan mereka, Irish bahkan tak pernah melihat Arthur memakai cincin itu. Hanya dirinya saja yang memakai cincin tersebut. Arthur tidak berhak memaksanya menggunakan cincin itu lagi karena mungkin saja lelaki itu sudah lebih dulu membuang cincin kawinnya.

“Kita bicara di rumah. Aku harus mengantar Elyza. Semalam dia keserempet mobil. Keluarganya sedang berlibur di luar negeri. Aku hanya—”

“Apa aku meminta penjelasan? Tidak perlu repot-repot menjelaskannya!” potong Irish tanpa mau mendengar penjelasan Arthur.

Irish tidak membutuhkannya. Penjelasan itu hanya akan menambah luka di dadanya. Selama ini Arthur tak pernah peduli padanya, bahkan ketika dirinya jatuh sakit. Namun, lelaki itu langsung pergi menemui Elyza begitu mendapat telepon.

Irish menatap Arthur yang sekarang telah beranjak pergi dengan tawa miris. Di saat seperti ini pun lelaki itu masih lebih mementingkan Elyza. Arthur seperti ingin mempertahankannya, namun juga membuangnya di waktu yang bersamaan.

Setetes cairan bening akhirnya luruh dari manik mata Irish. Pertahanannya runtuh setelah Arthur pergi. Sesak yang membelenggu dadanya kian menyiksa. Wanita itu bergegas pergi dari sana setelah menghapus kasar lelehan air matanya.

Tangis Irish benar-benar pecah ketika telah memasuki taksi. Wanita itu berjanji pada dirinya sendiri jika ini adalah terakhir kalinya ia menangis karena Arthur. Salahnya yang terlalu berharap pada pernikahan ini. Namun, sekarang hanya tinggal mengakhirinya saja.

Tatapan sinis Maudy langsung menyambut kedatangan Irish begitu sampai ke rumah. “Dari mana saja kamu? Pagi-pagi sudah keluyuran!”

“Aku ada urusan sebentar, maaf tidak sempat pamit,” jawab Irish yang sebenarnya sedang enggan berbicara dengan siapa pun.

“Jangan banyak alasan! Kalau kamu masih ingin tinggal di sini, jangan seenaknya!” sembur Maudy lagi.

Sebelah sudut bibir Irish terangkat. “Tenang saja, Ma. Sebentar lagi aku akan pergi dari sini.”

Wanita paruh baya dengan riasan tebal itu mengernyit heran. Namun, setelah mencerna ucapan Irish, senyumnya langsung mengembang. “Arthur sudah mengumumkan perceraian kalian? Baguslah.” Setelah itu, Maudy langsung melengos pergi begitu saja.

Irish melanjutkan langkah gontainya ke kamarnya. Ia mengambil kopernya yang berada di atas lemari menggunakan kursi. Koper itu sedikit berdebu karena sudah dua tahun lamanya diletakkan di sana. Setelah membersihkan debu yang menempel di kopernya, dirinya langsung memasukkan pakaiannya ke sana.

Tidak perlu menunggu lebih lama lagi, Irish akan pergi hari ini juga. Sembari menahan nyeri yang masih terasa di bawah perutnya, ia terus bergerak membereskan barang-barangnya. Memastikan tidak ada sampahnya yang tertinggal di sini saat dirinya pergi nanti.

“Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkanmu pergi?!” bentak Arthur yang baru saja memasuki kamar.

Irish terkesiap dan dibuat semakin terkejut saat Arthur mengeluarkan semua benda yang telah dirinya susun di dalam koper. Wanita itu berusaha mencegah tindakan suaminya, namun tidak berguna. Irish menatap nanar seluruh pakaian serta benda-benda miliknya yang berserakan di lantai.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak berhak melarangku pergi!” sahut Irish nyaring. Deru napasnya memburu dengan wajah memerah menahan emosi.

“Tentu saja aku berhak! Kamu lupa kalau aku adalah suamimu? Kamu tidak bisa pergi ke mana pun tanpa izinku!” tegas Arthur dengan tatapan nyalang.

Tiba-tiba Arthur melangkah ke pintu dan mencabut kunci yang menggantung di sana. Menyadari apa yang akan Arthur lakukan, Irish bergegas menyusul suaminya itu. Namun terlambat, lelaki itu sudah lebih dulu mengunci pintu kamar dari luar.

“Arthur! Buka pintunya!” seru Irish sembari menggedor pintu kamarnya sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya memerah.

Irish terus berteriak, meminta Arthur membuka pintu meski tak tahu lelaki itu masih berada di dekat pintu atau tidak. Namun, hingga suaranya serak, Arthur tetap tak membuka pintu tersebut. Tubuh Irish meluruh di lantai dengan tangan yang masih menggedor pintu dengan sisa-sisa tenaganya.

Irish menyerah dan memilih menjauh dari pintu. Kemudian, membereskan barang-barangnya yang berserakan karena ulah Arthur. Pintu kamarnya hanya terbuka sebentar ketika waktu makan tiba. Namun, tetap saja ia tidak memiliki kesempatan untuk keluar.

Pelayan datang mengantarkan makanan untuknya setiap jam makan dan Irish tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Selera makannya benar-benar hilang. Hanya mencium aroma makanan saja sudah membuatnya mual. Irish pun tak merasa lapar sama sekali meski hanya minum saja.

“Kenapa kamu tidak menyentuh makananmu? Jangan menguji kesabaranku, Irish! Cepat habiskan makananmu!” Arthur meletakkan piring penuh makanan di depan Irish yang duduk meringkuk di samping ranjang. Wajahnya mengeras, tampak marah besar.

Irish bangkit dari posisinya dan menatap Arthur dengan sorot dingin. “Aku tidak lapar. Biarkan aku pergi. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

“Jangan ngelantur. Sekarang, kamu makan dan setelah itu tidur!” titah Arthur dengan tatapan tajam.

“Aku tidak mau!” tolak Irish mentah-mentah.

Irish menghempaskan piring yang Arthur sodorkan padanya. Piring itu pecah dan isinya berhamburan di lantai. Irish bangkit dari posisinya dan langsung menarik koper berisi barang-barangnya. Bertekad langsung pergi, namun tiba-tiba kepalanya berputar hingga pandangannya menggelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Dia Bukan Anakmu

    Usapan lembut di kepalanya membuat Irish terbangun. Namun, ketika membuka mata, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah tatapan tajam suaminya. Ia spontan mengalihkan pandangan dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Saat itu pula Irish menyadari dirinya sedang berada di rumah sakit. Dan sudah pasti Arthur telah mengetahui kehamilannya. Lelaki itu tampak marah besar. Entah karena Irish menyembunyikan kehamilannya atau karena kabar kehamilan Irish bukanlah kabar yang menyenangkan bagi lelaki itu. Sepertinya opsi kedua lah yang paling tepat. Irish yakin Arthur pasti merasa jika kehamilannya hanya akan menjadi penghalang hubungan lelaki itu dengan Elyza. Ia menyentuh perutnya, khawatir Arthur gelap mata dan melakukan sesuatu yang buruk pada janinnya. “Kamu tidak bisa membawa anakku pergi,” ucap Arthur dingin. Suara dingin itu terasa amat menusuk hingga Irish bergidik ngeri. Ia berdeham pelan dan berkata, “Dia bukan anakmu. Tenang saja, aku tidak akan meminta pertanggung

    Last Updated : 2024-11-11
  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Bertemu Penolong

    Penjelasan pria paruh baya di sampingnya membuat Irish berkaca-kaca. Tadinya ia tidak langsung mempercayai cerita pria itu. Namun, setelah melihat semua bukti yang Prayoga bawa, akhirnya Irish percaya jika pria paruh baya itu adalah kakeknya. Ayah kandung ibunya. Irish tidak pernah mengenal keluarga ibunya sebelumnya. Sebab, ibunya meninggal dunia saat melahirkannya. Dan yang merawatnya selama ini adalah ibu tirinya. Tak pernah ada yang menceritakan tentang keluar mendiang ibu kandungnya. Tidak ada juga yang menemuinya selama ini. “Irish, Kakek tahu kamu pasti terkejut dan belum mempercayai Kakek sepenuhnya. Tapi, Kakek tidak berbohong. Kakek mencarimu selama ini. Maaf, Kakek terlambat menemukanmu,” tutur Prayoga sembari menggenggam tangan Irish yang berada di atas meja. “Harusnya Kakek menemuimu lebih awal. Sebelum mereka membuatmu menderita. Mereka benar-benar pandai menyembunyikan kebusukan mereka di depan umum,” lanjut Prayoga dengan alis menukik tajam, menunjukkan amarah terta

    Last Updated : 2024-11-13
  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Aku Sudah Menggugurkannya

    [“Berani-beraninya kamu mengirim surat gugat cerai padaku!”][“Di mana kamu?! Jangan bersembunyi!”]Mendengar bentakan Arthur membuat sebelah sudut bibir Irish terangkat. Setelah beberapa hari sebagai mematikan ponselnya, ia tak menyangka akan mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Arthur. Dan akhirnya ia memilih mengangkat telepon dari Arthur ketika lelaki itu menghubunginya lagi. Irish sengaja menonaktifkan ponselnya selama beberapa hari agar tidak diganggu oleh siapa pun. Waktu tersebut ia gunakan untuk menenangkan pikirannya. Dan begitu ponselnya menyala, gangguan itu kembali datang tanpa bisa dicegah. Sebelumnya, Arthur tak pernah sekalipun menghubunginya lebih dulu. Bahkan, lelaki itu selalu membalas singkat pesan darinya dan lebih banyak yang tidak dibalas. Apalagi jika ditelepon, Arthur selalu menolak telepon dari Irish. Seolah itu sangat mengganggu. “Kenapa aku harus takut? Aku tidak membuat kesalahan. Bukankah harusnya kamu senang? Setelah perceraian kita selesai, k

    Last Updated : 2024-11-15
  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Membuang Masa Lalu

    Tatapan tajam Arthur kian menusuk. “Kamu pikir bisa membodohiku?” “Kamu tidak percaya? Buktikan saja!” jawab Irish santai. Senyum manis menghiasi wajahnya yang menawan. Akhirnya, persidangan tersebut ditunda dan Arthur langsung menyeret Irish menuju ke mobilnya. Lelaki itu tak membiarkan Irish mengendarai mobil sendiri. Sebab, tak ingin memberi kesempatan wanita itu untuk melarikan diri lagi. “Aku tidak mau meninggalkan mobilku di sini!” tolak Irish yang berusaha melepas cekalan Arthur dan hendak memasuki mobilnya sendiri. Secara kebetulan, mobil Irish dan Arthur terparkir bersebelahan. Tadi, Irish tidak menyadari itu karena terburu-buru. Ia hanya asal memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong. Kemudian, langsung buru-buru masuk ke ruang persidangan. “Aku tidak akan kabur! Kalau perlu, kamu bisa mengikuti mobilku dari belakang!” Irish tak ingin satu mobil dengan Arthur meski hanya beberapa menit saja. Irish sudah benar-benar menyerah dan malas berurusan dengan Arthur. Jika

    Last Updated : 2024-12-16
  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Aku Masih Suaminya!

    “Kamu—” “Apa yang kamu lakukan?! Jangan sakiti Irish atau kamu akan berurusan denganku!” Lelaki yang baru datang itu langsung mendorong Arthur sekuat tenaga. Kemudian, langsung menarik Irish ke sisinya. Sengaja berdiri di antara keduanya agar Arthur tidak memiliki kesempatan untuk menyakiti Irish lagi. Kedua lelaki itu saling melempar tatapan bengis. Terutama Arthur. Bahkan, wajah lelaki itu tampak merah padam dengan tatapan menggelap. Sedari tadi Arthur sudah menahan amarahnya yang nyaris meledak. Kini pengacau malah datang, merecokinya dan ingin menjadi pahlawan kesiangan. “Kamu siapa?! Jangan ikut campur!” bentak Arthur sembari menunjuk wajah lelaki di hadapannya. Lelaki bernama Billy itu tersenyum sinis. “Itu tidak penting! Aku hanya ingin memberi peringatan padamu, jangan pernah mengganggu Irish lagi! Apalagi sampai berani menyakitinya!” Irish yang menggenggam tangan Billy berusaha memberi isyarat agar lelaki itu tak perlu memperpanjang perdebatan. Ini rumah sakit dan

    Last Updated : 2024-12-17
  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Derita Orang Ketiga

    Setelah pertemuannya terakhirnya dengan Arthur berakhir tidak baik, Irish berharap tak akan pernah bertemu lelaki itu lagi. Ia juga sudah berencana untuk tidak menghadiri sidang perceraian mereka. Namun, sekarang lelaki itu malah berada di hadapannya. Sepersekian detik kemudian, Irish menyadari jika Arthur tidak sendirian. Lelaki itu bersama Elyza. Padahal sekarang masih berada dalam jam kerja dan tempat ini berada cukup jauh dari kawasan kantor Arthur. Sedangkan lelaki itu termasuk orang yang tak mau membuang waktu, apalagi hanya untuk jalan-jalan. Seharusnya Irish cukup bersikap seolah tak mengenal lelaki itu dan melanjutkan langkah. Tetapi, yang dirinya lakukan malah berbalik dan bergegas melangkah masuk ke butiknya lagi. Ia benar-benar tak ingin bertemu ataupun sekadar berpapasan dengan lelaki itu lagi. “Bu, ada apa? Apa ada orang yang mengganggu Ibu?” tanya salah seorang karyawannya yang kini menghampiri Irish. Kepanikan Irish yang terlihat jelas membuatnya khawatir.

    Last Updated : 2024-12-17
  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Aku Merindukanmu

    Irish tidak berniat menghadiri pesta ulang tahun Elyza. Baginya perayaan tersebut tak penting sama sekali. Namun, akhirnya ia malah terjebak di sana. Di pesta ulang tahun Elyza. Bukan karena dirinya berubah pikiran, tetapi kaena Billy mengajaknya kemari. “Aku tidak tahu dia mantannya suamimu. Mau pulang saja?” tawar Billy, tampak tak enak hati pada Irish. Billy tidak mengetahui jika Elyza memiliki hubungan dengan Arthur. Lelaki itu hanya berniat mengajak Irish jalan-jalan sembari mendatangi pesta ulang tahun temannya. Irish yang tidak tahu ke mana tujuan mereka pun langsung menurut saja. Irish menggeleng samar. “Kita sudah sampai di sini. Setidaknya kita perlu menyapa pemilik acara. Sebenarnya aku ingin datang, tapi tidak ada teman. Sekarang aku bersamamu. Ayo masuk. Sepertinya sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Irish berusaha meyakinkan Billy jika dirinya akan baik-baik saja. Ia juga tak ingin terlihat menyedihkan karena menghindari acara ini. Lagipula, tamu undangan ya

    Last Updated : 2024-12-18
  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Untuk Terakhir Kalinya

    Ucapan Arthur membuat Irish membeku. Meskipun amat pelan, Irish dapat mendengar perkataan lelaki itu dengan jelas. Jantungnya mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Tak menyangka kalimat seperti itu akan keluar dari mulut Arthur. “Apa maksudmu?” tanya Irish tajam. Aroma alkohol yang pekat membuat Irish akhirnya menyadari jika Arthur sedang mabuk. Ia kembali mendorong lelaki itu, namun tangannya malah dicekal. Dengan langkah agak sempoyongan Arthur menarik Irish menjauh dari sana. Seharusnya, Irish langsung meninggalkan Arthur di depan toilet tadi. Namun, sekarang dirinya malah berakhir berada di mobil lelaki itu. Bahkan, sengaja duduk di bangku kemudi karena sang pemiliknya mabuk berat dan tidak mungkin menyetir sendiri. Walau Irish belum memiliki niatan mengendarai mobil ini ke mana pun. Mereka masih berada di basement hotel tempat pesta Elyza terselenggara. Arthur yang menariknya kemari setelah tiba-tiba menciumnya tanpa permisi. Irish menoleh ke samping. Menatap Arthur yan

    Last Updated : 2024-12-18

Latest chapter

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Merasa Bersalah

    Mendengar pemberitahuan pelayan tersebut membuat ekspresi Irish berubah seketika. Ia nyaris tak percaya. Namun, ketika mengintip dari jendela di kamarnya yang terhubung dengan halaman depan rumah, Irish tak bisa menyangkal. Arthur benar-benar ada di sini. Arthur tahu dirinya dan anak-anak mereka berada di sini sejak melarikan diri dari rumah ayahnya. Selama itu juga, Arthur tak pernah sekali pun datang kemari. Dan sekarang, setelah lelaki itu mengacaukan sidang perceraian mereka, dia malah muncul di depan rumah kakeknya. “Apa dia ingin cari mati?” gerutu Irish sembari menatap Arthur yang bersandar di belakang pintu gerbang tinggi yang kini masih tertutup rapat. Dari kamarnya yang berada di lantai dua, Irish dapat melihat lelaki itu dengan jelas. Pintu gerbang yang tak dibuka padahal ada tamu menunjukkan jika Arthur tak boleh masuk. Seharusnya lelaki itu mengerti dan langsung pergi, bukan malah menunggu. Hari ini, kakeknya dan Billy memang sedang berada di luar kota. Seharusnya Iri

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Lakukan yang Kamu Inginkan

    Penuturan Arthur membuat Irish terbelalak. Ia bisa menerima jika Arthur marah padanya karena dirinya tiba-tiba menggugat cerai lelaki itu. Namun, seharusnya kemarahan itu hanya Arthur perlihatkan saat bersamanya saja. Tak perlu membuat onar di tempat seperti ini. Irish tak menyangka Arthur akan melakukan ini. Memfitnah keluarganya seolah-olah keluarganya telah melakukan kesalahan. Keluarganya tak pernah memperalatnya. Justru, Irish mengurus gugatan ini sendirian. Kakeknya hanya membantunya mencari pengacara saja. “Jangan bicara sembarangan! Aku memang ingin bercerai denganmu!” balas Irish tajam. Irish sampai spontan berdiri. Jika akhirnya akan seperti ini, lebih baik Arthur tak perlu mendatangi persidangan ini. Ia kembali duduk saat menyadari orang-orang mulai menatapnya dengan sorot aneh. Ia memejamkan matanya sejenak, tak ingin semakin tersulut emosi. “Hubungan kita baik-baik saja. Lalu, tiba-tiba keluargamu membawamu pergi diam-diam. Kalai mereka mengancammu, harusnya kamu kata

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Kejutan dari Arthur

    “Mario masih belum mau mengaku siapa yang menyuruhnya. Tapi, aku sudah yakin orangnya pasti Arthur. Dia sangat loyal pada Arthur. Apa pun yang Arthur katakan pasti dituruti,” ucap Billy pada Irish yang sengaja ia ajak makan siang di ruangannya. Kunyahan Irish terhenti sejenak. Namun, setelah itu ia kembali melanjutkan makan siangnya dengan tenang. Sebenarnya Irish sudah mengetahui persoalan ini dari kakeknya. Dan entah bagaimana cara menyelesaikannya karena Mario benar-benar tak mau mengatakan apa pun. Mario sudah Billy jebloskan ke penjara sejak lelaki itu menyerangnya tempo hari. Akan tetapi, hingga saat ini Mario tak mau membuka suara tentang siapa yang menyuruhnya. Lelaki itu malah mengatakan bergerak sendiri karena keinginannya. Alasan tersebut kurang masuk akal karena Irish tak memiliki masalah dengan Mario. Jangankan bersinggungan, saling berbicara pun hanya beberapa kali saja selama bertahun-tahun ini. Padahal jika lelaki itu mengaku, penyidikan akan lebih mudah dilakukan.

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Tidak Ada Perceraian

    Bunyi ketukan high heelsnya terdengar seiring laju langkah Irish. Hampir setahun dirinya tak berani memakai high heels lagi karena khawatir akan membahayakan kandungannya. Setelah itu pun, sandal biasa masih menjadi andalannya karena lebih nyaman digunakan. Irish sudah terbiasa menangani butik, namun belum pernah bekerja di kantor sungguhan. Apalagi kantor sebesar milik kakeknya. Namun, cepat atau lambat, ia memang harus ikut mengelola perusahaan tersebut. Sebenarnya kakeknya memberinya pilihan, bekerja di kantor atau mencari butik baru, dan Irish memilih bekerja di kantor. Irish masih belum selesai dengan traumanya atas insiden di butik lamanya. Ia belum siap mengelola butik baru, lengkap dengan segala persiapannya. Untuk saat ini, masuk ke perusahaan kakeknya lebih masuk akal. Ini juga menjadi caranya untuk mempelajari strategi bisnis yang baik.“Selamat pagi, Bu Irish!” sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Irish. “Pagi semuanya!” Irish menghentikan langkah sejenak dan m

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Hanya Teguran Kecil

    Bukan hanya Arthur yang terkejut, Irish tampak jauh lebih terkejut lagi. Mendadak wanita itu menyentuh tangan Arthur, khawatir Arthur kalap dan memukul kakeknya. Dan benar saja, Arthur sudah menunjukkan gelagat akan mengamuk. Namun, orang-orang kakeknya lebih dulu datang. “Belum cukup Anda membunuh ayahku?! Anda juga ingin membunuh ibuku dan semua orang yang ada di sana?!” sentak Arthur dengan suara menggelegar. Beberapa orang sudah memegangi Arthur, seolah takut lelaki itu akan bertindak nekat. Melihat itu membuat Irish tak tega. Seharusnya tak perlu sampai seperti itu. Lelaki itu hanya ingin menuntut penjelasan darinya, bukan ingin menyakiti siapa pun. “Itu karena kamu membakar butik milik mendiang putriku. Ibunya Irish. Kamu yang menggunakan cara kotor untuk menjerat cucuku, itu hanya balasan kecil yang aku berikan. Rumahmu tidak rata dengan tanah seperti butik milik putriku!” balas Prayoga tak kalah tegas. “Aku menentang hubunganmu dan Irish. Selama ini kamu hanya menyakiti cu

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Kamu Milikku Selamanya

    Arthur menjadi tamu terakhir yang tiba di pesta yang diselenggarakan oleh Prayoga Mahesa. Ekspresi malas dan enggan tampak jelas di wajahnya. Namun, Arthur terpaksa mendatangi pesta tak penting ini demi mencari keberadaan Irish. Asistennya mengatakan jika supir taksi online yang Irish tumpangi saat melarikan diri itu pernah menemui Billy dan pergi bersama. Sejak awal, Arthur sudah curiga jika Billy ada kaitannya dengan menghilangnya Irish dan anak-anaknya. Dan ia harus menemukan Irish di sini. Arthur dan sekretarisnya menempati satu-satunya meja yang kosong di dekat pintu masuk. Karena saat ini sudah detik-detik menjelang waktu pembukaan acara, tidak perlu ada basa-basi tak penting. Arthur bisa langsung duduk dan mengabaikan beberapa orang yang menyapanya. “Ck! Kenapa acaranya lama sekali?!” Belum sampai 10 menit duduk, Arthur sudah mulai menggerutu. Arthur hanya ingin melihat Irish. Namun, sejauh mata memandang, ia belum menemukan keberadaan wanita itu. Entah karena memang Irish

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Penyakit Rindu

    “Bagaimana pun caranya, cari keberadaan istri dan anak-anakku secepatnya. Atau kalian akan aku pecat!” titah Arthur pada asisten dan lima orang anak buahnya. Sudah seminggu berlalu dan tidak ada satu pun anak buahnya yang berhasil menemukan Irish. Memang tak ada petunjuk mengenai keberadaan istri dan anak-anaknya. Meskipun begitu, seharusnya mereka tetap bisa menemukan petunjuk. Satu minggu bukan waktu yang singkat. “Baik, Tuan!” jawab seluruh anak buah Arthur secara bersamaan sebelum melenggang pergi dari ruangan sang tuan. Hanya asisten baru Arthur yang tersisa di sana. Sang asisten meletakkan sebuah undangan di atas meja Arthur. “Ada undangan dari Billy Mahesa. Acaranya pekan depan.”Arthur tak berminat melirik undangan tersebut sama sekali. Ia sedang tidak mau menghadiri acara tak penting, apalagi hanya undangan dari Billy. Fokusnya sekarang adalah mencari dan menemukan keberadaan Irish dan anak-anaknya. Bahkan, selama seminggu ini ia selalu menolak undangan di luar jam kerjany

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Kehilangan Separuh Jiwa

    Sembari menghapus air matanya yang meleleh tanpa ia sadari, Irish bergegas pergi dari rumah ayahnya. Keadaan di luar kamarnya sepi, seperti yang dirinya inginkan. Mobil Billy menunggunya di area yang cukup jauh dari rumahnya. Katanya area tersebut tak terjamah CCTV. Karina dan Tristan masih menunggu di samping mobil. Sedangkan Kenneth dan Kennedy sudah berada di dalam mobil Ketiganya berpelukan singkat. Sebagai tanda perpisahan. Padahal sebenarnya mereka masih bisa bertemu kapan pun. “Hati-hati. Masalah Arthur, biar kami yang urus,” ucap Karina sebelum melepas rengkuhannya. “Terima kasih. Maaf mengganggu istirahat kalian.” Setelah mengatakan itu, Irish bergegas masuk ke mobil Billy. “Tidak ada yang tertinggal?” tanya Billy yang sudah menggendong Kennedy. Sedangkan Kenneth berada di car seat bayi di samping lelaki itu. Irish menggeleng samar. “Aku tidak membawa apa pun.”Billy langsung meminta supirnya melajukan mobil. “Oke. Kakek sudah menyiapkan semuanya. Kamu memang tak perlu

  • Setelah Berpisah, Dia Terus Mengejarku   Selamat Tinggal

    “Masih berani kamu datang ke sini?!”Irish menatap tangannya yang baru saja mendarat di wajah Arthur. Ia tak berniat menampar lelaki itu. Namun, melihat kedatangan Arthur membuat emosinya terbakar. Sehingga Irish tak bisa mengontrol pergerakannya sendiri. Tetapi, ia tidak menyesal. Irish yakin Arthur sudah mengetahui apa yang menimpanya semalam. Dan seharusnya, lelaki itu tak perlu menemuinya lagi. Melihat wajah Arthur membuat sakit di hatinya kian terasa. Apalagi lelaki itu memasang ekspresi seolah tak tahu apa-apa. Mengabaikan nyeri di wajahnya, Arthur pun menyentuh bahu Irish. “Ada apa, Sayang? Kamu dan anak-anak baik-baik saja, ‘kan? Maaf aku baru datang. Aku dengar Mario menyerangmu.”Irish tertawa sinis. “Hanya mendengar? Atau itu perintahmu?”Billy memang mengatakan kemungkinan besar Arthur bukanlah dalang dari penyerangan Mario semalam. Irish pun tak tahu kebenarannya. Akan tetapi, yang dirinya tahu selama ini, Mario sangat loyal pada Arthur. Apa pun yang lelaki itu perintah

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status