"Awhhss.! Mas Permadi.." Shara mendesah, dalam kenikmatan yang belum pernah didapatnya dari Ramses. Baru kali ini Shara benar-benar menikmati permainan asmaranya di ranjang. Timbul rasa berdenyut gatal yang sangat, pada bagian bawah tubuhnya. Dan itu merupakan wujud, dari hasrat kewanitaannya yang makin berkobar. Sementara bibir dan lidah Permadi perlahan mulai turun, menyusuri bagian perut dan pinggang Shara. Dengan tangan tetap meremas dan memilin lembut sepasang buah kembar Shara, yang makin mencuat kencang. Permadi kini sampai di bagian pangkal paha Shara yang masih mengenakan celana dalamnya. Tampak dari luar celana segitiga Shara yang berwarna krem tersebut sudah agak basah, di penuhi bercak cairan yang tercetak di permukaannya. "Kamu sudah basah Shara," ucap Permadi pelan. "Uhhhss.. Lakukanlah Mas Permadi..! Ja..jangan siksa aku lebih lama lagi..hss," Shara memohon dalam desahnya. Tubuhnya menggeliat ke sana kemari, saat lidah dan bibir Permadi mulai bermain di seputaran
Brugh..! Akhirnya tubuh Permadi bergulir rebah ke sisi Shara. Nafas keduanya tersengal, permainan pertama mereka di ranjang telah terjadi. "Terimakasih Mas Permadi. Hhhh.. hh.. Ini adalah 'orgasme' terindah dalam hidupku," Shara berkata penuh rasa kebahagiaan. "Sama-sama Shara," sahut Permadi. "Ahhh..!" Tiba-tiba Permadi beranjak terbangun dari ranjang, dia teringat harus datang di markas warung kopi malam itu. Jam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. "Kenapa Mas Permadi..?!" tanya Shara kaget."Aku harus datang ke warung kopi Shara," jelas Permadi, sambil mengenakan pakaiannya kembali. "Ohh, hati-hati di jalan ya Mas Permadi," ucap Shara lembut, dia memang tak bisa melarang Permadi dalam hal itu. Karena memang Permadi kini adalah pimpinan gank GASStreet. Ngunngg..! Tak lama kemudian terdengar suara deru motor Permadi, meninggalkan rumah. *** Keesokkan harinya di kediaman Hiroshi. Elang sudah terbangun dari tidurnya sejak jam 6:05 pagi. Dia langsung keluar dari kamarnya
"Tepat..! Kanaki..! Berikan data-data Midori yang ada di sana padaku nanti di kantor. Terimakasih Kanaki." Klik.!Hiroshi menutup panggilannya, wajahnya agak cerah kini. Ya, misteri siapa yang membocorkan kode brankasnya, sepertinya telah hampir terkuak. Walau dia masih bingung, bagaimana caranya pelayan itu mendapatkan kode brankasnya. "Elang, sekali lagi kau memberi titik terang dalam kemelut ini. Kejadian 'pencurian' dokumen memang terjadi pada tanggal 17 malam. Terimakasih Elang," Hiroshi berkata tulus dan senang. "Pak Hiroshi, menurut pandangan saya ada yang aneh dengan 'sakit'nya Tami. Saya merasa dia tidak sakit, tapi di sandera sementara waktu. Mungkin dia juga yang dipaksa merekomendasikan Midori, untuk menggantikan dirinya saat sakit," Elang memberikan pandangannya. "Ahhh..! Kau benar lagi Elang, itu sangat mungkin terjadi. Aku akan tanyakan juga hal itu nanti pada Kanaki," Hiroshi memandang kagum, atas kecepatan analisa Elang. "Pak Hiroshi, apakah Bapak memiliki foto
"Rasanya tak pernah Elang. Hanya beberapa hari setelah pertanyaannya itu, dia masuk ruangan atas perintahku. Untuk mengantarkan minuman. Tapi aku sedang berada di kamar mandi ruangan, saat dia masuk dan pintu memang tak dikunci saat itu. Tapi..! Haii..! Itu waktu yang cukup, untuk melihat brankas di balik lukisan, dan melakukan sesuatu di sana..!" Hiroshi kembali berseru terkejut, saat mengingat hal itu. "Saya yakin Midori bukan wanita biasa Pak Hiroshi. Coba nanti Bapak cek tombol brankas itu. Sepertinya ada sesuatu di sana," Elang berkata sambil tersenyum tenang. "Baik Elang, akan saya cek nanti tombol brankas saya, sepertinya begitu. Mata pelayan wanita itu memang terlihat tajam, dan gerakannya juga terlihat gesit. Aku jadi curiga Midori adalah seorang kunoichi (Ninja perempuan)," ujar Hiroshi, yang kini jadi sangat respek terhadap Elang. Karena kini hampir semua tanda tanya di benaknya perlahan terjawab semua. Di saat Elang hadir di kediamannya. Kini dia merasa menyesal, k
Sebuah mobil sedan yang membawa sepasang suami istri, dan seorang anak lelaki berusia 3 tahun nampak meluncur tak terkendali. Di depan mobil itu, terpampang sebuah kelokkan tajam lembah Cipanas yang curam dan dalam. Ya, akibat menghindari pengemudi motor yang ugal-ugalan di jalan. Rupanya Sukanta tak bisa melihat, bahwa di depannya terdapat tikungan tajam,“Awas Pahhh..!!” teriak panik dan ketakutan Wulandari sang istri. Sang suami berusaha mengendalikan mobilnya yang oleng. Dan tak sengaja dalam kepanikkannya melihat lembah curam di depannya, Sukanta malah menginjak gas dan rem bersamaan. Brrrmm...!! Ciitttt..!!“Huhuhuuu..! Elang takut Mahh, Pahh,” tangis sang anak, yang menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi.“Pahh..! Innalillahi ...!!” teriak sang istri, wajahnya pucat pasi.“Astaghfirullahaladzim ....!!” seru sang suami keras. Dan tak ayal mobilnya menabrak pagar besi di bibir lembah. Braagghhh !! Pagar besi pun roboh. Sadar akan jatuh ke lembah curam yang tinggi, Wuland
Malam itu Elang tidur dengan nyenyak. Setelah dia membantu Bu Sati mencuci piring di dapur, dan menyapu aula panti. Bu Sati memang terbiasa mencuci piring di malam hari, saat anak panti rata-rata sudah tertidur pulas. Elang yang melihatnya saat lewat dapur merasa kasihan. Dia lalu menyuruh Bu Sati untuk istirahat saja lebih awal, dan membiarkan Elang yang mencuci piring. Akhirnya Bu Sati beranjak ke kamarnya untuk tidur lebih awal. ‘Kasihan Bu Sati. Usianya sudah 57 tahun, namun masih harus bekerja keras di panti’, ujar bathin Elang, sambil menatap sosok bu Sati, yang sedang melangkah ke arah kamarnya. Elang mulai mencuci piring, benaknya teringat pembicaraannya dulu dengan Bu Sati, “Bekerja di sini adalah panggilan hati ibu, Elang. Ibu hanyalah janda tanpa anak, saat mulai bekerja di sini. Dan ibu merasa disinilah tempat ibu, bersama anak-anak yang tak tahu harus berlindung ke mana. Melihat anak-anak tersenyum merasakan kebahagiaan dan kehangatan di panti ini. Adalah sebuah k
‘Ahhh..! Andai mimpi semalam benar-benar bisa jadi nyata. Aku pasti akan menyetujuinya saja. Semoga nanti malam Aki Buyut benar-benar hadir lagi dalam mimpiku’, bathin Elang bertekad. Elang sangat menyesali kebimbangannya, dalam mimpi semalam. Elang bertekad akan menyetujui tawaran mempelajari ilmu turunan keluarganya itu. Jika memang benar mimpi itu bisa jadi kenyataan. “Mas Elang..! Mas..! Dito nakal tuh..!" seorang anak kecil perempuan usia 6 tahunan berlari kecil, dan menubruk Elang sambil mengadu.“Aduh..! Hati-hati Nindi, kamu bisa jatuh nanti,” ujar Elang, sambil memegang tubuh Nindi yang merapat di belakangnya. Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki kecil seusia Nindi datang menyusul, “Nah ya..! Kamu di sini Nindi pelit..!” seru bocah itu, sambil berusaha mendekati Nindi, seolah hendak memukulnya. “Hei..hei, Dito..! Nggak boleh begitu ya, sama anak perempuan,” ucap Elang menengahi mereka. “Habis Nindi pelit sih Mas Elang..! Masa suruh gantian main ayunan gak mau..!”
“Nah Elang. Apakah sekarang kamu sudah siap buyut wedar..? Lalu buyut akan isi tenaga dasar ilmu turunan keluarga kita Elang ?” tanya Ki Sandaka tenang. “Siap Ki Buyut,” sahut Elang mantap. “Kalau begitu naiklah ke balai ini, dan duduklah bersila seperti buyut,” perintah Ki Sandaka. Elang pun naik ke atas balai bambu itu, dan duduk bersila seperti posisi Ki Sandaka. Sementara itu Ki Sandaka terlihat berdiri. Namun Elang spontan bergidik ngeri. Karena dia melihat kaki Ki Buyutnya itu mengambang di udara, tak menapak di atas balai. “Hehehee. Jangan takut cicitku. Ini karena buyut sudah berbeda alam denganmu, Elang,” Ki Sandaka terkekeh, melihat kengerian Elang. “Sekarang bersiaplah Elang. Pejamkan matamu dan bertahanlah, jika ada sesuatu yang dingin dan hangat mengalir di dalam tubuhmu,” ucap Ki Sandaka. “Baik Ki Buyut,” ucap Elang tanpa ragu lagi. Elang langsung memejamkan matanya, seperti yang di arahkan oleh Ki Buyut. Nafasnya pun mulai teratur tenang, dalam posisi bersila.
"Rasanya tak pernah Elang. Hanya beberapa hari setelah pertanyaannya itu, dia masuk ruangan atas perintahku. Untuk mengantarkan minuman. Tapi aku sedang berada di kamar mandi ruangan, saat dia masuk dan pintu memang tak dikunci saat itu. Tapi..! Haii..! Itu waktu yang cukup, untuk melihat brankas di balik lukisan, dan melakukan sesuatu di sana..!" Hiroshi kembali berseru terkejut, saat mengingat hal itu. "Saya yakin Midori bukan wanita biasa Pak Hiroshi. Coba nanti Bapak cek tombol brankas itu. Sepertinya ada sesuatu di sana," Elang berkata sambil tersenyum tenang. "Baik Elang, akan saya cek nanti tombol brankas saya, sepertinya begitu. Mata pelayan wanita itu memang terlihat tajam, dan gerakannya juga terlihat gesit. Aku jadi curiga Midori adalah seorang kunoichi (Ninja perempuan)," ujar Hiroshi, yang kini jadi sangat respek terhadap Elang. Karena kini hampir semua tanda tanya di benaknya perlahan terjawab semua. Di saat Elang hadir di kediamannya. Kini dia merasa menyesal, k
"Tepat..! Kanaki..! Berikan data-data Midori yang ada di sana padaku nanti di kantor. Terimakasih Kanaki." Klik.!Hiroshi menutup panggilannya, wajahnya agak cerah kini. Ya, misteri siapa yang membocorkan kode brankasnya, sepertinya telah hampir terkuak. Walau dia masih bingung, bagaimana caranya pelayan itu mendapatkan kode brankasnya. "Elang, sekali lagi kau memberi titik terang dalam kemelut ini. Kejadian 'pencurian' dokumen memang terjadi pada tanggal 17 malam. Terimakasih Elang," Hiroshi berkata tulus dan senang. "Pak Hiroshi, menurut pandangan saya ada yang aneh dengan 'sakit'nya Tami. Saya merasa dia tidak sakit, tapi di sandera sementara waktu. Mungkin dia juga yang dipaksa merekomendasikan Midori, untuk menggantikan dirinya saat sakit," Elang memberikan pandangannya. "Ahhh..! Kau benar lagi Elang, itu sangat mungkin terjadi. Aku akan tanyakan juga hal itu nanti pada Kanaki," Hiroshi memandang kagum, atas kecepatan analisa Elang. "Pak Hiroshi, apakah Bapak memiliki foto
Brugh..! Akhirnya tubuh Permadi bergulir rebah ke sisi Shara. Nafas keduanya tersengal, permainan pertama mereka di ranjang telah terjadi. "Terimakasih Mas Permadi. Hhhh.. hh.. Ini adalah 'orgasme' terindah dalam hidupku," Shara berkata penuh rasa kebahagiaan. "Sama-sama Shara," sahut Permadi. "Ahhh..!" Tiba-tiba Permadi beranjak terbangun dari ranjang, dia teringat harus datang di markas warung kopi malam itu. Jam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. "Kenapa Mas Permadi..?!" tanya Shara kaget."Aku harus datang ke warung kopi Shara," jelas Permadi, sambil mengenakan pakaiannya kembali. "Ohh, hati-hati di jalan ya Mas Permadi," ucap Shara lembut, dia memang tak bisa melarang Permadi dalam hal itu. Karena memang Permadi kini adalah pimpinan gank GASStreet. Ngunngg..! Tak lama kemudian terdengar suara deru motor Permadi, meninggalkan rumah. *** Keesokkan harinya di kediaman Hiroshi. Elang sudah terbangun dari tidurnya sejak jam 6:05 pagi. Dia langsung keluar dari kamarnya
"Awhhss.! Mas Permadi.." Shara mendesah, dalam kenikmatan yang belum pernah didapatnya dari Ramses. Baru kali ini Shara benar-benar menikmati permainan asmaranya di ranjang. Timbul rasa berdenyut gatal yang sangat, pada bagian bawah tubuhnya. Dan itu merupakan wujud, dari hasrat kewanitaannya yang makin berkobar. Sementara bibir dan lidah Permadi perlahan mulai turun, menyusuri bagian perut dan pinggang Shara. Dengan tangan tetap meremas dan memilin lembut sepasang buah kembar Shara, yang makin mencuat kencang. Permadi kini sampai di bagian pangkal paha Shara yang masih mengenakan celana dalamnya. Tampak dari luar celana segitiga Shara yang berwarna krem tersebut sudah agak basah, di penuhi bercak cairan yang tercetak di permukaannya. "Kamu sudah basah Shara," ucap Permadi pelan. "Uhhhss.. Lakukanlah Mas Permadi..! Ja..jangan siksa aku lebih lama lagi..hss," Shara memohon dalam desahnya. Tubuhnya menggeliat ke sana kemari, saat lidah dan bibir Permadi mulai bermain di seputaran
"Ayah. Dimana kamar yang pas buat Mas Elang beristirahat..? Dia pasti lelah dan ingin beristirahat setelah perjalanan panjangnya," tanya Keina. Wajah Keina terlihat gembira sekali, mengetahui akhirnya sang ayah menyukai dan mengagumi Elang. "Oh iya, maaf Elang. Saya sampai lupa menyambutmu. Keina antarkan Elang ke kamar tamu sebelah kanan yang di tengah ya," perintah Hiroshi pada putrinya, seraya tersenyum. Hatinya merasa agak lebih tenang saat itu. Karena kabut yang menyelimuti kemelut di perusahaannya, kini perlahan telah terkuak. "Baik Ayah, terimakasih," Keina terlihat sangat senang. Ya, istilah kamar tamu 'sebelah kanan' artinya adalah Elang di anggap tamu terhormat. Dan jika di tempatkan di bagian tengah, itu artinya status Elang di mata Hiroshi adalah 'tamu kehormatan keluarga'. Hal inilah yang menyebabkan wajah Keina terlihat sangat gembira. "Mari Mas Elang. Keina antar ke kamar Mas Elang," ajak Keina dengan wajah senang. "Baik Keina. Terimakasih Pak Hiroshi," Elang m
"Pak Kimura, semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Tenanglah, alat sadap di tubuh Bapak sudah saya lumpuhkan. Kita bisa bicara bebas sekarang," Elang berkata dengan nada pelan namun tegas. "A-apa..?! Apa maksudmu anak muda..?!" seru Kimura gugup dan kaget. Walau dia mengetahui di tubuhnya ada alat penyadap, tapi dia sendiri tak tahu dibagian tubuh yang mana alat penyadap itu dipasang oleh Shaburo cs. Shaburo hanya berpesan keras agar dia tak macam-macam. Karena di tubuhnya terpasang alat penyadap, pada saat dia hendak berangkat ke rumah Hiroshi tadi. 'Bagaimana pemuda ini bisa mengetahuinya?' bathinnya bingung dan kaget. "Elang..! Jangan kurang ajar dengan sahabatku..!" seru Hiroshi menggelegar marah. Namun dia sendiri sebenarnya kaget dan bingung, dengan ekspresi Kimura yang seolah kaget dan gugup. Tapi sebagai sahabat lama Kimura, tentu saja dia harus mengingatkan Elang. Agar Elang berlaku sopan, pada sahabatnya yang lebih tua. "Mas E-elang.." ucap Keina resah dan panik.
'Akhirnya sampai', bathin Elang, saat pesawat baru saja selesai melakukan 'landing' di Kansai International Airport, Osaka. Elang beranjak turun dari pesawat, dan langsung melangkah menuju lobi kedatangan/keluar bandara Kansai. Baru saja Elang memasuki area lobi kedatangan, "Mas Elanng..!" seru Keina gembira, seraya melambaikan tangannya ke arah Elang. "Keina," balas Elang tersenyum memanggil, sambil melambaikan tangannya. Elang berjalan menghampiri Keina, yang terlihat di dampingi dua pengawal berjas hitam di kiri kanannya. Keina tak dapat menahan diri dari rasa rindu dan gembiranya, karena bertemu kembali dengan Elang. Dia pun langsung menubruk dan memeluk Elang erat. "Mas Elang, Keina rindu.." desah Keina di dada Elang. "Kamu makin cantik Keina," puji Elang tulus, sambil menatap penampilan Keina saat itu. Keina memakai kaos panjang agak longgar berwarna krem muda, dan bawahan crlana katun yang juga longgar. Penampilan yang casual dengan rambut terurai lepas. "Ahh, Mas Elan
"Hah..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya.
"Hahh..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya. Perm