"Pahammm..Boss..!!!" "Siap Boss..!!!"Serentak dengan penuh semangat segenap anggota genk GASStreet berseru keras. Penuh keyakinan atas kemampuan bos baru mereka, Permadi.! "Bagaimana dengan chapter-chapter kita di kota-kota lain Bos..?" Rodent bertanya serius. "Bagus Rodent..! Untuk sementara biarkan mereka bergerak seperti biasa. Namun semua pimpinan cabang GASStreet harus ikut berlatih di sini selama sebulan ini bersama kita. Kirim kabar pada para pimpinan mereka, agar semuanya datang dan mengikuti pelatihan di sini..! Setelah masa pelatihan selama sebulan telah selesai dengan baik. Maka kita akan memulai 'gerakkan' kita yang terkoordinasi rapih, hingga ke seluruh chapter-chapter kita di kota lain..! GASStreet harus jaya..!!" seru Permadi penuh keyakinan. "Jaya GASStreet..!!" "Hidup Bos Permadi....!!!" Teriakkan membahana semua anggota genk GASStreet terdengar dari area warung kopi. Beberapa pengendara yang melintas bahkan menoleh, ke arah warung kopi tengah malam itu. Ya,
"Sanada..! Tugasmu adalah membebaskan istri Kimura, yang di sandera oleh orang-orang Hakeda. Tepatnya Shaburo adalah penggerak dari semua kemelut, yang menerpa perusahaanku saat ini. Ini alamat tempat mereka di sandera telah kucatat. Tapi jangan sampai kedua orang yang menjaga sandera, sempat mengabarkan hal ini pada Shaburo atau Hakeda. Bungkam mereka dengan rapih Sanada..!" Hiroshi memberi perintah pada Sanada, yang menyimak baik-baik perintah dari Tuannya itu. Sanada menerima secarik kertas, berisi alamat tempat istri dan kedua putra Kimura di sandera. Ya, Hiroshi memang masih memiliki garis keturunan, dengan penguasa kastil Osaka di masa lalu. Kastil Osaka merupakan tempat moyangnya Sanada mengabdi, yaitu pada clan Toyotomi.Demikianlah, betapa garis keturunan masih merupakan 'lingkaran karma' berkelanjutan, bagi generasi-generasi berikutnya. Dan Elang kini telah masuk dalam lingkaran itu, sengaja ataupun tidak..! "Baik Tuan Hiroshi..! Segera akan saya bebaskan sandera itu.
'Hmm. Selama 7 jam mereka tak akan sadarkan diri. Situasi terkendali', bathin Sanada. Sanada segera keluar dari hotel itu, untuk kembali menuju kediaman Hiroshi. Sanada dengan diam-diam membayangi ketiga anggota keluarga Kimura, yang baru saja dibebaskannya dari penyanderaan. Sementara itu di kediaman Hiroshi. Nampak Elang masuk ke dalam mobil Bugatti La Voiture Noire hitam, yang dikendarai sendiri oleh Keina. Setelah Hiroshi berangkat ke kantornya, Keina memang mengajak Elang jalan-jalan ke kebun binatang Tennoji Park. Mobil itu pun meluncur keluar dari gerbang kediaman Keina. Dan tak sampai 1 jam kemudian, mereka sudah tiba di gerbang masuk Ten-Shiba. Kebun binatang ini berdiri pada tahun 1915, dan menjadi rumah bagi lebih dari ribuan satwa dari 230 jenis. Lahan kebun binatang itu luasnya kurang lebih 11 hektar. Terdapat dua pintu masuk utama menuju kebun binatang itu, yaitu Shinsekai dan Ten-Shiba. Kebun Binatang Tennoji ini menempatkan satwa dalam beberapa wilayah. Terdap
Sebuah mobil sedan yang membawa sepasang suami istri, dan seorang anak lelaki berusia 3 tahun nampak meluncur tak terkendali. Di depan mobil itu, terpampang sebuah kelokkan tajam lembah Cipanas yang curam dan dalam. Ya, akibat menghindari pengemudi motor yang ugal-ugalan di jalan. Rupanya Sukanta tak bisa melihat, bahwa di depannya terdapat tikungan tajam,“Awas Pahhh..!!” teriak panik dan ketakutan Wulandari sang istri. Sang suami berusaha mengendalikan mobilnya yang oleng. Dan tak sengaja dalam kepanikkannya melihat lembah curam di depannya, Sukanta malah menginjak gas dan rem bersamaan. Brrrmm...!! Ciitttt..!!“Huhuhuuu..! Elang takut Mahh, Pahh,” tangis sang anak, yang menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi.“Pahh..! Innalillahi ...!!” teriak sang istri, wajahnya pucat pasi.“Astaghfirullahaladzim ....!!” seru sang suami keras. Dan tak ayal mobilnya menabrak pagar besi di bibir lembah. Braagghhh !! Pagar besi pun roboh. Sadar akan jatuh ke lembah curam yang tinggi, Wuland
Malam itu Elang tidur dengan nyenyak. Setelah dia membantu Bu Sati mencuci piring di dapur, dan menyapu aula panti. Bu Sati memang terbiasa mencuci piring di malam hari, saat anak panti rata-rata sudah tertidur pulas. Elang yang melihatnya saat lewat dapur merasa kasihan. Dia lalu menyuruh Bu Sati untuk istirahat saja lebih awal, dan membiarkan Elang yang mencuci piring. Akhirnya Bu Sati beranjak ke kamarnya untuk tidur lebih awal. ‘Kasihan Bu Sati. Usianya sudah 57 tahun, namun masih harus bekerja keras di panti’, ujar bathin Elang, sambil menatap sosok bu Sati, yang sedang melangkah ke arah kamarnya. Elang mulai mencuci piring, benaknya teringat pembicaraannya dulu dengan Bu Sati, “Bekerja di sini adalah panggilan hati ibu, Elang. Ibu hanyalah janda tanpa anak, saat mulai bekerja di sini. Dan ibu merasa disinilah tempat ibu, bersama anak-anak yang tak tahu harus berlindung ke mana. Melihat anak-anak tersenyum merasakan kebahagiaan dan kehangatan di panti ini. Adalah sebuah k
‘Ahhh..! Andai mimpi semalam benar-benar bisa jadi nyata. Aku pasti akan menyetujuinya saja. Semoga nanti malam Aki Buyut benar-benar hadir lagi dalam mimpiku’, bathin Elang bertekad. Elang sangat menyesali kebimbangannya, dalam mimpi semalam. Elang bertekad akan menyetujui tawaran mempelajari ilmu turunan keluarganya itu. Jika memang benar mimpi itu bisa jadi kenyataan. “Mas Elang..! Mas..! Dito nakal tuh..!" seorang anak kecil perempuan usia 6 tahunan berlari kecil, dan menubruk Elang sambil mengadu.“Aduh..! Hati-hati Nindi, kamu bisa jatuh nanti,” ujar Elang, sambil memegang tubuh Nindi yang merapat di belakangnya. Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki kecil seusia Nindi datang menyusul, “Nah ya..! Kamu di sini Nindi pelit..!” seru bocah itu, sambil berusaha mendekati Nindi, seolah hendak memukulnya. “Hei..hei, Dito..! Nggak boleh begitu ya, sama anak perempuan,” ucap Elang menengahi mereka. “Habis Nindi pelit sih Mas Elang..! Masa suruh gantian main ayunan gak mau..!”
“Nah Elang. Apakah sekarang kamu sudah siap buyut wedar..? Lalu buyut akan isi tenaga dasar ilmu turunan keluarga kita Elang ?” tanya Ki Sandaka tenang. “Siap Ki Buyut,” sahut Elang mantap. “Kalau begitu naiklah ke balai ini, dan duduklah bersila seperti buyut,” perintah Ki Sandaka. Elang pun naik ke atas balai bambu itu, dan duduk bersila seperti posisi Ki Sandaka. Sementara itu Ki Sandaka terlihat berdiri. Namun Elang spontan bergidik ngeri. Karena dia melihat kaki Ki Buyutnya itu mengambang di udara, tak menapak di atas balai. “Hehehee. Jangan takut cicitku. Ini karena buyut sudah berbeda alam denganmu, Elang,” Ki Sandaka terkekeh, melihat kengerian Elang. “Sekarang bersiaplah Elang. Pejamkan matamu dan bertahanlah, jika ada sesuatu yang dingin dan hangat mengalir di dalam tubuhmu,” ucap Ki Sandaka. “Baik Ki Buyut,” ucap Elang tanpa ragu lagi. Elang langsung memejamkan matanya, seperti yang di arahkan oleh Ki Buyut. Nafasnya pun mulai teratur tenang, dalam posisi bersila.
“Bagaimana kalau kita ke rumah Pak Baskoro, setelah kamu pulang interview dari Betamart saja Elang..?" usul Bu Nunik. Hatinya jadi ikut tergerak dengan ucapan Elang. “Baik Bu,” ucap Elang, menyetujui usul Bu Nunik. “Elang masuk dulu ya Bu. Elang mau bersiap ke Betamart," ujar Elang, seraya undur diri.“Iya Elang, bersiaplah sebaik mungkin ya. Ajaklah Wulan untuk berangkat bersama ke sana,” ucap Bu Nunik. “Baik Bu,” sahut Elang, sambil beranjak menuju ke dalam panti. *** Pak Baskoro tengah terpekur di teras rumahnya. Sementara pikirannya menerawang, pada kenangan indahnya bersama sang istri. Istri yang kini terbaring lemah di pembaringannya. Ya, kenangan indah, rasa cinta, dan kesetiaan itulah. Hal yang mampu membuat Baskoro tetap bertahan, dan tegar merawat istrinya. Dia kembali menghisap rokoknya, dan menghembuskannya dengan nafas lepas menghela. Seolah ingin menghela jauh-jauh masalah pelik, yang selama bertahun-tahun ini menyelimutinya. Sudah hampir satu setengah tahun i
'Hmm. Selama 7 jam mereka tak akan sadarkan diri. Situasi terkendali', bathin Sanada. Sanada segera keluar dari hotel itu, untuk kembali menuju kediaman Hiroshi. Sanada dengan diam-diam membayangi ketiga anggota keluarga Kimura, yang baru saja dibebaskannya dari penyanderaan. Sementara itu di kediaman Hiroshi. Nampak Elang masuk ke dalam mobil Bugatti La Voiture Noire hitam, yang dikendarai sendiri oleh Keina. Setelah Hiroshi berangkat ke kantornya, Keina memang mengajak Elang jalan-jalan ke kebun binatang Tennoji Park. Mobil itu pun meluncur keluar dari gerbang kediaman Keina. Dan tak sampai 1 jam kemudian, mereka sudah tiba di gerbang masuk Ten-Shiba. Kebun binatang ini berdiri pada tahun 1915, dan menjadi rumah bagi lebih dari ribuan satwa dari 230 jenis. Lahan kebun binatang itu luasnya kurang lebih 11 hektar. Terdapat dua pintu masuk utama menuju kebun binatang itu, yaitu Shinsekai dan Ten-Shiba. Kebun Binatang Tennoji ini menempatkan satwa dalam beberapa wilayah. Terdap
"Sanada..! Tugasmu adalah membebaskan istri Kimura, yang di sandera oleh orang-orang Hakeda. Tepatnya Shaburo adalah penggerak dari semua kemelut, yang menerpa perusahaanku saat ini. Ini alamat tempat mereka di sandera telah kucatat. Tapi jangan sampai kedua orang yang menjaga sandera, sempat mengabarkan hal ini pada Shaburo atau Hakeda. Bungkam mereka dengan rapih Sanada..!" Hiroshi memberi perintah pada Sanada, yang menyimak baik-baik perintah dari Tuannya itu. Sanada menerima secarik kertas, berisi alamat tempat istri dan kedua putra Kimura di sandera. Ya, Hiroshi memang masih memiliki garis keturunan, dengan penguasa kastil Osaka di masa lalu. Kastil Osaka merupakan tempat moyangnya Sanada mengabdi, yaitu pada clan Toyotomi.Demikianlah, betapa garis keturunan masih merupakan 'lingkaran karma' berkelanjutan, bagi generasi-generasi berikutnya. Dan Elang kini telah masuk dalam lingkaran itu, sengaja ataupun tidak..! "Baik Tuan Hiroshi..! Segera akan saya bebaskan sandera itu.
"Pahammm..Boss..!!!" "Siap Boss..!!!"Serentak dengan penuh semangat segenap anggota genk GASStreet berseru keras. Penuh keyakinan atas kemampuan bos baru mereka, Permadi.! "Bagaimana dengan chapter-chapter kita di kota-kota lain Bos..?" Rodent bertanya serius. "Bagus Rodent..! Untuk sementara biarkan mereka bergerak seperti biasa. Namun semua pimpinan cabang GASStreet harus ikut berlatih di sini selama sebulan ini bersama kita. Kirim kabar pada para pimpinan mereka, agar semuanya datang dan mengikuti pelatihan di sini..! Setelah masa pelatihan selama sebulan telah selesai dengan baik. Maka kita akan memulai 'gerakkan' kita yang terkoordinasi rapih, hingga ke seluruh chapter-chapter kita di kota lain..! GASStreet harus jaya..!!" seru Permadi penuh keyakinan. "Jaya GASStreet..!!" "Hidup Bos Permadi....!!!" Teriakkan membahana semua anggota genk GASStreet terdengar dari area warung kopi. Beberapa pengendara yang melintas bahkan menoleh, ke arah warung kopi tengah malam itu. Ya,
"Rasanya tak pernah Elang. Hanya beberapa hari setelah pertanyaannya itu, dia masuk ruangan atas perintahku. Untuk mengantarkan minuman. Tapi aku sedang berada di kamar mandi ruangan, saat dia masuk dan pintu memang tak dikunci saat itu. Tapi..! Haii..! Itu waktu yang cukup, untuk melihat brankas di balik lukisan, dan melakukan sesuatu di sana..!" Hiroshi kembali berseru terkejut, saat mengingat hal itu. "Saya yakin Midori bukan wanita biasa Pak Hiroshi. Coba nanti Bapak cek tombol brankas itu. Sepertinya ada sesuatu di sana," Elang berkata sambil tersenyum tenang. "Baik Elang, akan saya cek nanti tombol brankas saya, sepertinya begitu. Mata pelayan wanita itu memang terlihat tajam, dan gerakannya juga terlihat gesit. Aku jadi curiga Midori adalah seorang kunoichi (Ninja perempuan)," ujar Hiroshi, yang kini jadi sangat respek terhadap Elang. Karena kini hampir semua tanda tanya di benaknya perlahan terjawab semua. Di saat Elang hadir di kediamannya. Kini dia merasa menyesal, k
"Tepat..! Kanaki..! Berikan data-data Midori yang ada di sana padaku nanti di kantor. Terimakasih Kanaki." Klik.!Hiroshi menutup panggilannya, wajahnya agak cerah kini. Ya, misteri siapa yang membocorkan kode brankasnya, sepertinya telah hampir terkuak. Walau dia masih bingung, bagaimana caranya pelayan itu mendapatkan kode brankasnya. "Elang, sekali lagi kau memberi titik terang dalam kemelut ini. Kejadian 'pencurian' dokumen memang terjadi pada tanggal 17 malam. Terimakasih Elang," Hiroshi berkata tulus dan senang. "Pak Hiroshi, menurut pandangan saya ada yang aneh dengan 'sakit'nya Tami. Saya merasa dia tidak sakit, tapi di sandera sementara waktu. Mungkin dia juga yang dipaksa merekomendasikan Midori, untuk menggantikan dirinya saat sakit," Elang memberikan pandangannya. "Ahhh..! Kau benar lagi Elang, itu sangat mungkin terjadi. Aku akan tanyakan juga hal itu nanti pada Kanaki," Hiroshi memandang kagum, atas kecepatan analisa Elang. "Pak Hiroshi, apakah Bapak memiliki foto
Brugh..! Akhirnya tubuh Permadi bergulir rebah ke sisi Shara. Nafas keduanya tersengal, permainan pertama mereka di ranjang telah terjadi. "Terimakasih Mas Permadi. Hhhh.. hh.. Ini adalah 'orgasme' terindah dalam hidupku," Shara berkata penuh rasa kebahagiaan. "Sama-sama Shara," sahut Permadi. "Ahhh..!" Tiba-tiba Permadi beranjak terbangun dari ranjang, dia teringat harus datang di markas warung kopi malam itu. Jam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. "Kenapa Mas Permadi..?!" tanya Shara kaget."Aku harus datang ke warung kopi Shara," jelas Permadi, sambil mengenakan pakaiannya kembali. "Ohh, hati-hati di jalan ya Mas Permadi," ucap Shara lembut, dia memang tak bisa melarang Permadi dalam hal itu. Karena memang Permadi kini adalah pimpinan gank GASStreet. Ngunngg..! Tak lama kemudian terdengar suara deru motor Permadi, meninggalkan rumah. *** Keesokkan harinya di kediaman Hiroshi. Elang sudah terbangun dari tidurnya sejak jam 6:05 pagi. Dia langsung keluar dari kamarnya
"Awhhss.! Mas Permadi.." Shara mendesah, dalam kenikmatan yang belum pernah didapatnya dari Ramses. Baru kali ini Shara benar-benar menikmati permainan asmaranya di ranjang. Timbul rasa berdenyut gatal yang sangat, pada bagian bawah tubuhnya. Dan itu merupakan wujud, dari hasrat kewanitaannya yang makin berkobar. Sementara bibir dan lidah Permadi perlahan mulai turun, menyusuri bagian perut dan pinggang Shara. Dengan tangan tetap meremas dan memilin lembut sepasang buah kembar Shara, yang makin mencuat kencang. Permadi kini sampai di bagian pangkal paha Shara yang masih mengenakan celana dalamnya. Tampak dari luar celana segitiga Shara yang berwarna krem tersebut sudah agak basah, di penuhi bercak cairan yang tercetak di permukaannya. "Kamu sudah basah Shara," ucap Permadi pelan. "Uhhhss.. Lakukanlah Mas Permadi..! Ja..jangan siksa aku lebih lama lagi..hss," Shara memohon dalam desahnya. Tubuhnya menggeliat ke sana kemari, saat lidah dan bibir Permadi mulai bermain di seputaran
"Ayah. Dimana kamar yang pas buat Mas Elang beristirahat..? Dia pasti lelah dan ingin beristirahat setelah perjalanan panjangnya," tanya Keina. Wajah Keina terlihat gembira sekali, mengetahui akhirnya sang ayah menyukai dan mengagumi Elang. "Oh iya, maaf Elang. Saya sampai lupa menyambutmu. Keina antarkan Elang ke kamar tamu sebelah kanan yang di tengah ya," perintah Hiroshi pada putrinya, seraya tersenyum. Hatinya merasa agak lebih tenang saat itu. Karena kabut yang menyelimuti kemelut di perusahaannya, kini perlahan telah terkuak. "Baik Ayah, terimakasih," Keina terlihat sangat senang. Ya, istilah kamar tamu 'sebelah kanan' artinya adalah Elang di anggap tamu terhormat. Dan jika di tempatkan di bagian tengah, itu artinya status Elang di mata Hiroshi adalah 'tamu kehormatan keluarga'. Hal inilah yang menyebabkan wajah Keina terlihat sangat gembira. "Mari Mas Elang. Keina antar ke kamar Mas Elang," ajak Keina dengan wajah senang. "Baik Keina. Terimakasih Pak Hiroshi," Elang m
"Pak Kimura, semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Tenanglah, alat sadap di tubuh Bapak sudah saya lumpuhkan. Kita bisa bicara bebas sekarang," Elang berkata dengan nada pelan namun tegas. "A-apa..?! Apa maksudmu anak muda..?!" seru Kimura gugup dan kaget. Walau dia mengetahui di tubuhnya ada alat penyadap, tapi dia sendiri tak tahu dibagian tubuh yang mana alat penyadap itu dipasang oleh Shaburo cs. Shaburo hanya berpesan keras agar dia tak macam-macam. Karena di tubuhnya terpasang alat penyadap, pada saat dia hendak berangkat ke rumah Hiroshi tadi. 'Bagaimana pemuda ini bisa mengetahuinya?' bathinnya bingung dan kaget. "Elang..! Jangan kurang ajar dengan sahabatku..!" seru Hiroshi menggelegar marah. Namun dia sendiri sebenarnya kaget dan bingung, dengan ekspresi Kimura yang seolah kaget dan gugup. Tapi sebagai sahabat lama Kimura, tentu saja dia harus mengingatkan Elang. Agar Elang berlaku sopan, pada sahabatnya yang lebih tua. "Mas E-elang.." ucap Keina resah dan panik.