Share

Bab 11

Author: Abimana
Tidak mungkin, bukan?

Ketika Arjuna tertegun, Disa sudah bergeser ke sisinya. Dia membuka setengah selimut untuk menyelimuti Arjuna.

Hangat dan harum.

Aroma tubuh Disa mirip dengan kepribadiannya yang panas.

Kuat dan hangat!

Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak menghela napas.

Para pria di negara ini sungguh bahagia.

Ketika Arjuna menghela napas, sebelahnya tiba-tiba menjadi kosong.

Ketika dia sadar, Disa sudah turun dari atas perapian.

Arjuna membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa Disa hanya membantunya menghangatkan selimut.

Dia kira .... Sejujurnya, dia merasa sedikit kecewa.

"Uhuk, uhuk!"

"Apakah kurang hangat?" tanya Disa, menoleh.

"Cukup, cukup," jawab Arjuna dengan buru-buru.

Usai menjawab, sebenarnya dia merasa sedikit menyesal.

Arjuna, kenapa kamu takut? Seharusnya kamu jawab kurang.'

Bagian atas perapian cukup besar, Disa dan Daisha seharusnya tidur di sisi lain. Namun, beberapa saat kemudian, Arjuna tidak juga melihat mereka berdua.

Ada suara gemerisik di lantai, Arjuna pun menoleh ke arah suara.

Disa dan Daisha membentangkan tikar jerami di pojokan. Mereka meringkuk di atas tikar jerami, selimut mereka lebih tipis dan rusak daripada milik Arjuna.

Daisha takut dingin, jadi Disa memberikan sebagian besar selimut kepada Disa.

Arjuna melihatnya dan merasa sangat tidak nyaman.

Meski ada perapian, suhunya sangat rendah pada malam hari. Demi menghemat, Arjuna tidak memasukkan banyak kotoran sapi kering.

"Kenapa kalian tidak tidur di sini?"

"Aku jamin tidak akan menyentuh kalian."

Karena takut mereka salah paham, Arjuna pun menambahkan satu kalimat lagi.

Kedua perempuan itu memandang Arjuna seolah-olah mereka tidak mengenalinya.

Sejak menikah, mereka selalu tidur di lantai. Bukannya mereka tidak mau tidur di atas perapian, tetapi Arjuna tidak mengizinkannya.

"Aish!"

Arjuna menepuk keningnya. Dia baru kepikiran bahwa Arjuna yang sebelumnya tidak mengizinkan Disa dan Daisha tidur di atas tempat tidur.

"Aku memerintahkan kalian untuk tidur di atas perapian mulai hari ini. Kalian harus mematuhinya."

Setelah Arjuna menekankan tiga kali, Disa dan Daisha baru pindah ke atas tempat tidur dengan gelisah. Mereka berbaring di tempat yang paling jauh dari Arjuna.

Malam itu, Arjuna tidak tahu apakah kedua istrinya itu tidur, tetapi yang jelas dia tidak bisa tidur.

Dia merapikan ingatan dalam benaknya untuk waktu yang lama barulah menemukan alasan Arjuna yang sebelumnya tidak menyentuh mereka.

Waktu kecil, Arjuna yang sebelumnya pernah ditindas oleh gadis yang lebih besar darinya. Sejak saat itu, dia pun trauma.

Selain dialokasikan oleh pemerintah kerajaan, tujuan Arjuna yang sebelumnya menikah adalah untuk dinafkahi dan dilayani oleh istrinya.

...

Begitu ayam berkokok, Disa langsung bangun, kemudian dia menoleh ke arah Daisha yang ada di sampingnya.

Mungkin karena hangatnya perapian, wajah Daisha memerah, dia tidur dengan nyenyak.

Alangkah baiknya jika selalu seperti ini.

Hati Disa menegang saat dia mengingat bahwa tong beras di rumah sudah kosong.

Dia tidak bisa lagi melihat adiknya menderita. Biarpun berbahaya, dia harus pergi berburu di Gunung Harimau hari ini.

Setelah menyelimuti Daisha, Disa bangkit dengan pelan-pelan.

"Disa."

Disa, yang baru saja turun dari tempat tidur, terkejut.

Saat ini, Arjuna membuka tirai pintu, kemudian berjalan masuk.

"Tuan, kamu sudah bangun?"

Dia tidak menyangka bahwa Arjuna akan bangun sepagi ini, jadi dia tidak menyadari bahwa Arjuna sudah tidak ada di atas tempat tidur.

"Hm." Arjuna mengangguk. "Aku sudah bangun cukup lama, aku sedang menunggumu."

"Menungguku?" Disa kebingungan.

"Ya." Arjuna duduk di pinggir perapian, kemudian mengenakan sepatu kain yang kokoh.

Perhatian Disa tertarik oleh selimut yang ada di belakang Arjuna.

Apakah Arjuna yang melipat selimut itu?

Ternyata dia bisa melipat selimut.

Dia melipatnya membentuk persegi yang rapi seperti tahu. Bagaimana dia melakukannya?

Setelahnya, Disa mencobanya secara diam-diam, tetapi bagaimana pun dia melipatnya, dia tidak dapat membuat hasil lipatan yang sama seperti Arjuna.

Bukan hanya Disa. Setelah Daisha bangun dan melihat selimut yang dilipat oleh Arjuna, dia juga meniru. Namun, hasilnya sama seperti Disa.

"Kenapa kamu masih berdiri di sana? Bukankah kamu akan pergi berburu?"

"Oh, ya." Disa, yang tersadar, bergegas keluar. Akan tetapi, dia tiba-tiba berhenti di depan pintu. "Tuan, bagaimana kamu tahu kalau aku akan pergi berburu?"

Arjuna tersenyum. Karena takut membangunkan Daisha, jadi dia merendahkan suaranya ketika berkata, "Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui pikiranmu?"

Tempat ini seperti zaman kuno di negara Arjuna, di mana orang menikah muda. Disa dan Daisha hanyalah gadis berusia belasan tahun.

Sedangkan Arjuna sudah berusia dua puluh lima tahun lebih di zaman modern.

Oleh karena itu, Disa hanyalah seorang gadis kecil di depannya.

"Aku juga tahu kalau kamu akan pergi ke Gunung Harimau."

Karena tidak bisa tidur tadi malam, Arjuna pun mengingat memori Arjuna yang sebelumnya.

Kendati belum lengkap, misalnya berapa istri yang dia miliki dan di mana mereka berada sekarang. Hal-hal itu belum dia ingat.

Namun, dia sudah mengingat lingkungan sekitarnya.

Alsava bersaudari memiliki hubungan yang baik. Takut Arjuna memarahi Daisha karena tidak ada nasi, Disa pasti akan pergi berburu pagi-pagi. Sementara tempat yang ada hewan buruannya adalah Gunung Harimau.

Gunung Harimau, seperti namanya, ada harimau di gunung tersebut. Dengar-dengar, ada setidaknya tiga ekor harimau. Bahkan pemburu berpengalaman pun tidak boleh pergi ke gunung itu sendirian. Meskipun Disa terampil dalam memanah, dia hanya berusia belasan tahun. Sangat berbahaya bila pergi sendiri.

Setelah Disa mandi, Arjuna keluar dari ruang utama.

"Ayo, aku akan pergi bersamamu."

"Trik apa yang sedang kamu mainkan?" Disa memandang Arjuna dengan waspada. "Apakah kamu ingin membiarkan orang dari Rumah Bordil Prianka datang membawa Dik Daisha pergi selagi aku tidak ada di rumah?"

"Hm?" Arjuna menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum sambil berkata, "Logikamu tidak masuk akal. Kamu akan pergi berburu, otomatis tidak ada di rumah. Kalau aku berniat membiarkan orang dari Rumah Bordil Prianka membawa Daisha pergi, untuk apa aku pergi ke Gunung Harimau bersamamu?"

Logika?

Apa itu?

"Ayo pergi." Ketika Disa tertegun, Arjuna menggandeng tangan Disa. "Kita harus cepat pergi agar bisa cepat pulang."

Karena jika terlalu lama, orang dari Rumah Bordil Prianka mungkin benar-benar akan datang.

Kemarin Arjuna hanya menakuti mereka untuk sementara. Arjuna yang sebelumnya telah menerima uang mereka, Rumah Bordil Prianka tidak akan diam saja.

"Lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri."

Arjuna menoleh, lalu mendapati wajah Disa yang tampak malu-malu.

Pada saat ini, Arjuna mengurung niatnya untuk melepaskan tangan Disa.

Arjuna menambah kekuatan pada cengkeramannya. "Tidak mau."

"Kamu ...."

Disa menghentakkan kakinya sambil memelototi Arjuna.

"Kamu terlihat sangat cantik seperti ini."

Setelah mengatakan itu, Arjuna mengabaikan rona merah di wajah Disa. Dia berjalan sambil menggandeng tangan Disa.

Awalnya, Disa berjalan perlahan, tetapi ketika mereka belok di tikungan, berjalan melintasi desa, dia berjalan lebih cepat dari Arjuna.

Orang yang tidak tahu akan mengira Disa yang menggandeng dan menarik tangan Arjuna.

Arjuna tersenyum memandang Disa yang berjalan tergesa-gesa dengan kepala tertunduk.

Dia tahu gadis ini berjalan begitu cepat karena takut penduduk desa melihatnya.

Sepanjang jalan, Arjuna memegang tangan Disa dengan erat, tidak mau melepaskannya.

Awalnya, Arjuna sengaja menggoda Disa karena dia suka melihat Disa tersipu malu. Ketika mereka mendekati Gunung Harimau, Arjuna takut ada bahaya.

Tidak lama setelah mereka masuk ke gunung, terdengar suara auman harimau dari depan.

Tampaknya Gunung Harimau lebih berbahaya dari yang Arjuna bayangkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Suroso Kemis
mantap keren
goodnovel comment avatar
Demi Loinenak
Bagus.Adanya rasa tanggung jawab utk melindungi adiknya sangat tinggi.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 12

    Arjuna dengan jelas merasakan tangan Disa sedikit gemetar.Menoleh, dia melihat butiran keringat di dahi Disa.Melihat Arjuna menoleh, Disa segera menyesuaikan ekspresinya, berpura-pura berani.Reaksi Disa membuat Arjuna merasa geli."Itu harimau, tidak memalukan kalau kamu takut. Aku juga takut."Arjuna memegang erat tangan Disa. "Tetap dekat denganku, jangan sok hebat, jangan masuk terlalu dalam. Kita lihat saja sekeliling apakah ada kelinci liar, burung pegar, dan sejenisnya. Setelah berhasil menangkap satu atau dua ekor, kita langsung pulang. Jangan serakah."Karena ada harimau di Gunung Harimau, orang yang datang hanya sedikit. Arjuna dan Disa dengan cepat memburu tiga burung pegar dan seekor kelinci."Siu!"Keterampilan memanah Disa sangat bagus, dia mendapatkan seekor kelinci lagi."Dapat lagi, dapat lagi!" Disa dengan gembira berlari untuk memungut kelinci itu."Disa, kembali ....""Aum ...."Suara Arjuna ditutupi oleh auman harimau.Seekor harimau tiba-tiba melompat keluar di

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 13

    "Kak Disa, tumbuhan yang dimasukkan ke dalam perut ikan itu rumput cincau, bukan? Apakah rumput itu bisa dimakan?"Disa menggelengkan kepalanya yang artinya dia tidak tahu. Dia tidak pernah mendengar bahwa rumput cincau bisa dimakan."Kak Disa!" Daisha menunjuk tumpukan singkong di halaman. "Apa itu?""Tidak tahu." Disa menggelengkan kepalanya."Seperti akar pohon, apakah mau dijadikan kayu bakar?""Bukan." Disa menggelengkan kepalanya lagi. "Tuan bilang untuk dimakan.""Untuk dimakan? Apakah akar pohon bisa dimakan?""Tentu saja bisa, itu bukan akar pohon, tapi singkong." Arjuna berdiri, kemudian pergi mengambil tiga batang singkong yang panjangnya sekitar dua puluh sentimeter. "Sini, kupas kulit tiga batang singkong ini, kemudian dimasak."Singkong dalam panci matang dengan cepat, ikan di atas arang mengeluarkan bunyi bakar. Arjuna menaburkan sedikit garam, aroma ikan bakar langsung memenuhi seluruh halaman."Wangi sekali."Meskipun Daisha sudah menikah, dia masih kecil. Dia tidak bi

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 14

    Setelah sarapan, Arjuna dan Disa hendak pergi ke kota untuk menjual burung pegar dan kelinci.Daisha dibiarkan menjaga rumah karena tubuhnya lemah.Desa Embun berada di Kota Triana. Jarak dari Desa Embun ke pasar yang ada di kota tersebut hanya belasan mil, tidak jauh.Masyarakat pedesaan bangun pagi. Ketika Arjuna dan Disa tiba di pasar, pasar sudah sangat ramai dengan suara di mana-mana.Menjual burung pegar dan kelinci sudah menjadi aktivitas yang familiar bagi Disa."Nak Disa, kamu datang. Hewan apa yang kamu dapat?"Ada seorang wanita paruh baya yang menjual sayuran di sebelah. Ketika dia melihat Disa, dia bertanya dengan gembira.Saat wanita paruh baya itu melihat Arjuna yang ada di belakang Disa, senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang. Tatapannya terhadap Arjuna dipenuhi dengan rasa jijik.Dulu, Arjuna hanya fokus mengumpulkan uang. Begitu mendapat uang, dia langsung pergi berjudi. Semua orang tidak menyukainya.Disa mengangkat burung pegar yang ada di tangannya. "Hari ini aku

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 15

    Kesadaran Daisha makin menghilang, dia makin lengket ketika merasakan aura maskulin Arjuna yang mendekat.Dia melingkarkan lengannya di leher Arjuna, lalu menekannya.Daisha yang biasanya pemalu dan cantik kini sangat panas."Tuan, Tuan ...."Panggilan terus keluar dari bibir kecil Daisha.Arjuna juga menahannya dengan susah payah. Karena Daisha sangat bersemangat, dia pun tidak bersikap seperti pria sejati lagi.Ketika sudah akan berhasil ....Tiba-tiba ....Arjuna melihat darah mengalir keluar.Daisha menangis kesakitan, desakannya menghilang digantikan oleh tangisan melas.Dengan berlinangan air mata, dia menatap Arjuna dengan sedih. "Tuan, bisakah kamu lebih lembut?"Daisha hanya merasa perutnya bergejolak, terutama perut bagian bawahnya seperti ditusuk pisau.Mata Daisha seolah bisa berbicara, Arjuna dengan mudah memahami keluhannya.Namun, Arjuna juga merasa tak berdaya dan dituduh.Sakit yang Daisha rasakan bukan karena diklaim.Arjuna ingin melakukan sesuatu, tetapi dia bahkan

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 16

    Disa berdiri di depan Daisha dan menarik busurnya.Wajah Tamael tampak tidak senang. "Bawa dia pergi, aku tidak percaya dia berani macam-macam!"Kedua pria itu bergerak maju, Disa terpaksa mundur selangkah demi selangkah. Dia sudah hampir menabrak Daisha."Siapa pun yang berani membawa adikku, akan aku panah!" teriak Disa seraya menarik busur di tangannya hingga melengkung maksimal."Jangan, Kak Disa!"Daisha memeluk Disa. "Masalahnya sudah begini, aku akan ikut mereka. Jangan menyia-nyiakan nyawamu."Daisha memejamkan matanya dengan pasrah. Dia pikir setelah menghindar dari Raditya, masalahnya beres.Bagaimana dia bisa lupa bahwa dia telah dijual ke Rumah Bordil Prianka?"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Sini kalau berani!" Mata Disa merah padam, dia menggertakkan gigi, kemudian berteriak keras. "Mari kita mati bersama!""Apanya yang mati?" Arjuna mengambil anak panah dari tangan Disa. "Bukankah aku sudah memberitahumu? Kamu itu seorang gadis, jangan ingin membunuh orang setiap h

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 17

    "Oh ya, aku akan mengingatkan kalian. Tadi aku menghajar wajah kalian, kali ini bukan, melainkan ...."Tatapan Arjuna tertuju pada mata Tamael.Tamael secara naluriah melindungi matanya, lalu berkata dengan sedikit takut. "Siapa yang coba kamu takuti?"Arjuna berkata dengan santai. "Coba saja maka kamu akan tahu."Sebelum mengalami transmigrasi, Arjuna baru saja pensiun dari tim operasi khusus di suatu negara.Jika bukan karena tubuh ini kurang latihan, kayu bakar yang tadi mengenai wajah Tamael bukan hanya menyakiti Tamael, tetapi akan membuatnya berdarah.Tamael tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan ludah. Arjuna yang ada di depan jelas-jelas seorang rakyat miskin.Akan tetapi, entah kenapa kata-kata dan tatapan santai Arjuna membuat Tamael merasa takut.Teman-teman Raditya telah membangunkan Raditya.Dia dihajar sampai pingsan oleh Arjuna. Meskipun Arjuna memukulnya dengan kuat hingga Raditya kesakitan, Arjuna mengendalikan tenaganya sehingga Raditya tidak akan mati, dirinya j

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 18

    Tamael melihat anak panah yang mengenai mata anak buah itu, keringat dingin muncul di dahinya.Untungnya, bukan dia yang dihajar Arjuna. Jika tidak, matanya ....Arjuna mengeluarkan anak panah lagi dari tempat anak panah Disa, kemudian menatap para preman itu dengan dingin.Sebelum dia bersuara, para preman itu mundur satu demi satu."Dasar sekelompok pengecut! Kenapa mundur? Serang!""Serang!!!"Tidak peduli bagaimana Tamael berteriak, tidak ada satu pun preman yang berani menyerang. Mereka terus melangkah mundur.Apa daya, semua orang mengkhawatirkan mata mereka."Arjuna, apakah kamu pikir kamu sangat hebat? Apakah kamu lebih hebat dari hukum Kerajaan Bratajaya? Aku akan menuntutmu!"Bagaimanapun, Tamael adalah pemilik Rumah Bordil Prianka. Dia tidak pernah begitu marah sebelum bertemu Arjuna."Aku akan mengembalikan uangnya, kamu akan menggunakan alasan apa untuk menuntutku?""Alasan apa?""Hahaha! Jangan salahkan aku tidak mengingatkanmu. Seratus kali lipatnya seratus sen sama deng

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 19

    Arjuna menyeka keringat yang terus mengalir di wajahnya, kemudian berbalik untuk melihat kondisi Disa dan Daisha. Alhasil, dia menemukan bahwa kedua kakak adik itu sedang ribut."Dik Daisha, kalaupun harus pergi, aku yang harus pergi. Aku lebih sehat darimu.""Kak Disa, namakulah yang tertera di kontrak itu, tentu saja aku yang pergi.""Tidak bisa, tubuhmu ...."Arjuna menggelengkan kepalanya dengan tak berdaya. Kedua gadis ini lagi-lagi tidak menganggap keberadaannya."Berhentilah berdebat! Kalian berdua tidak boleh pergi. Aku yang menerima uangnya, maka aku yang akan menyelesaikannya."Disa membalas kata-kata Arjuna dengan marah. "Apakah kamu sadar kalau itu adalah sepuluh tael perak, bukan seratus sen?!""Aku tidak buta maupun tuli. Aku tahu itu sepuluh tael perak.""Baiklah, katakan padaku, dari mana kamu akan mendapatkan sepuluh tael perak dalam dua hari?""Biar aku pikir sebentar, solusi pasti lebih banyak daripada masalah.""Solusi lebih banyak daripada masalah? Huh!" Kemarahan

Latest chapter

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 338

    Orang-orang melihat ke luar, lalu mendapati seorang pemuda berpakaian ungu muda berjalan masuk dengan langkah tegas dan mantap.Karena cahaya di luar, setelah pemuda itu tiba di depan semua orang, mereka baru dapat melihat wajahnya dengan jelas?"Arjuna, kenapa kamu?"Ada rasa kecewa yang kuat dalam nada terkejut semua orang.Arjuna pandai belajar, bahkan mengalahkan Cendekiawan Bima, tetapi belajar dan berbisnis adalah hal yang sangat berbeda.Jangankan Kabupaten Damai, bahkan di seluruh Dinasti Bratajaya, tidak pernah terdengar bahwa seseorang pelajar pandai berbisnis."Arjuna." Eshan berjalan mendekat dengan penuh harap. Namun, sekretaris daerah yang berada di belakang Arjuna menggelengkan kepalanya pada Eshan, mengisyaratkan bahwa Arjuna tidak membawa lencana perak itu."Siapa kamu? Maksud kata-katamu itu adalah kamu mau bertanding denganku?"Hendra menatap Arjuna dengan tatapan menilai.Sebagai pedagang, dia mengenali hampir semua orang-orang yang sebidang dengannya. Akan tetapi,

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 337

    "Apakah benar-benar tidak ada yang mau bersaing dengan mereka?" Eshan menahan amarahnya. Dia berbicara dengan nada yang lebih santai.Maksudnya sudah sangat jelas. Selama seseorang berani maju, dia tidak peduli menang atau kalah.Tatapan Eshan menyapu para pedagang sebanyak tiga kali, tetapi tidak seorang pun berani maju.Urat-urat di dahi Eshan terlihat, bisa dilihat bahwa dia mulai marah. "Bagus, kalian semua tidak ada yang mau maju ya?!"Para pedagang begitu ketakutan hingga tubuh mereka sedikit gemetar, mereka tidak berani bernapas dengan keras.Meski begitu, tidak ada seorang pun yang berani menerima tantangan itu.Sugi mencibir, "Eshan, aku sudah memberimu kesempatan, tapi ...." Sugi merentangkan tangannya, dengan ekspresi yang sangat angkuh. "Tidak ada seorang pun di Kabupaten Damai yang berani menerima tantangan kami. Oh, aku lelah!"Setelah Sugi selesai berbicara, dia pun duduk di kursi Eshan.Selain kepala daerah sendiri, hanya pejabat yang lebih tinggi dari kepala daerah yan

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 336

    "Kamu tampak sangat tidak terima." Sugi menatap Eshan dengan ekspresi angkuh. "Aku, Sugi, bukanlah orang yang tidak masuk akal."Saat Sugi berbicara, dia melirik ke arah sekelompok pedagang yang ada di belakangnya. "Ya, 'kan? Mari kita beri mereka satu kesempatan, biarkan mereka bertanding dengan kita.""Yang Mulia Bhakti bijaksana, Yang Mulia Bhakti baik hati."Suara-suara menyanjung membuat Sugi makin gembira."Bagaimana kamu ingin bertanding? Apa yang ingin kamu tandingkan?" tanya Eshan dengan suara berat.Sugi mengangkat dagunya kepada Eshan, lalu berkata dengan nada merendahkan. "Karena masalah ini tentang Rumah Bordil Prianka, pengusaha paling hebat dalam manajemen bisnis, jadi biarkan mereka bersaing dalam manajemen bisnis.""Yang Mulia!" Hendra membungkuk pada Sugi. "Mengenai kompetisi, aku punya sebuah saran."Sugi melambaikan tangannya. "Katakan.""Terima kasih, Yang Mulia." Hendra lanjut berkata, "Beberapa waktu lalu, aku membeli sebidang tanah di Desa Rambutan di luar Kabup

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 335

    Bisnis?Ada kaitannya dengan perintah wajib militer?"Yang Mulia!" Arjuna mengejar Mois.Meskipun Arjuna tidak pernah berbisnis, sebagai orang modern yang mengalami transmigrasi zaman, dia telah melihat dan membaca banyak masalah bisnis. Orang-orang kuno ini masih jauh tertinggal darinya.Dalam perjalanan ke Kabupaten Damai, Mois memberi tahu Arjuna secara garis besar.Tamael dijebak oleh Hendra Bhakti, sebagian besar harta keluarga Tamael jatuh ke tangan keluarga Bhakti di Kabupaten Sentosa.Hendra?Arjuna pernah mendengar tentang pria ini. Dia adalah tuan muda dari Keluarga Bhakti, pedagang terbesar di Kabupaten Sentosa. Dengar-dengar, dia memiliki keterampilan bisnis yang hebat, juga licik dan kejam.Sekarang keluarga Tamael hanya memiliki Rumah Bordil Prianka.Rumah Bordil Prianka tidak jatuh ke tangan Keluarga Bhakti pada awalnya. Karena, Tamael menyetujui usulan Hendra untuk memfitnah Arjuna telah mencuri soal ujian.Kini Hendra mengingkari janjinya. Dia datang mengambil Rumah Bo

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 334

    "Hari ini, kepala daerah mengirimkan surat perintah wajib militer dengan nama ayahku di atasnya. Ayahku sudah kepala empat, kesehatannya juga buruk. Kalau dia pergi ke medan perang, tidak diragukan lagi dia tidak akan kembali!"Setelah selesai berbicara, Vian sudah menangis."Bukankah ayahmu sudah cukup membayar pajak? Kenapa bisa ada namanya?" Arjuna menggendong Vian."Aku baru saja bertanya kepada pejabat yang mengeposkan dekrit itu. Bukan hanya ayahku, tapi semua laki-laki seusia ayahku yang tidak memiliki anak laki-laki harus bertugas di ketentaraan. Kalau mereka ingin dibebaskan dari dinas militer, mereka harus membayar seratus tael perak dalam bulan ini.""Bayar seratus tael perak dalam waktu sebulan?" Disa keluar dari kamar dengan marah saat mendengar kabar tersebut. "Kupikir Eshan adalah pejabat yang baik, ternyata dia berengsek juga. Bayar seratus tael perak dalam waktu sebulan? Kenapa dia tidak datang langsung menangkap orang saja?"Seorang petani biasa saja tidak dapat mempe

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 333

    Setelah Eshan selesai berbicara, keseriusan di wajahnya langsung menghilang, digantikan oleh senyuman menyanjung.Dia berlari kecil menuju Arjuna.Arjuna hanya mengangkat tatapannya sebentar. Dia masih mengabaikan Eshan. Dia mengangkat tangannya untuk menuangkan teh lagi."Aku saja, aku saja." Sebelum tangan Arjuna menyentuh teko, Eshan sudah mengambilnya terlebih dahulu.Eshan mengambil teko, menciumnya sekilas, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia kemudian memerintahkan para petugas yang ada di luar halaman. "Ambilkan kotak tehku di dalam tandu.""Arjuna, ini adalah teh musim semi tahun ini. Rasanya lembut, cobalah. Kalau kamu suka, aku akan meminta seseorang untuk membawakannya untukmu nanti."Eshan membawa tehnya sendiri, menyeduhnya sendiri, kemudian menyodorkannya ke depan Arjuna.Eshan membuat tiga cangkir teh, lalu menyajikannya kepada Arjuna lagi.Arjuna hanya minum teh, dia masih tidak mengatakan apa-apa. Namun, dia sudah minum tiga cangkir teh berturut-turut. Kend

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 332

    Menyenangkan, tetapi kurang menyenangkan.Arjuna mengeraskan hatinya, lalu mendorong orang yang berada di dalam pelukannya.Dia harus mendorong Daisha karena suara kepala daerah, Eshan, terdengar dari luar rumah.Begitu Arjuna keluar dari kamar, Eshan berlari menghampirinya, diikuti oleh sekelompok pejabat Kabupaten Damai dan petugas."Arjuna, kamu sudah bangun?" Wajah keriput Eshan penuh dengan senyuman.Kabar bahwa Arjuna yang berusia 19 tahun mengalahkan ahli sastra, Bima, menyebabkan kegemparan tidak hanya di Kabupaten Damai, tetapi juga di seluruh Kota Perai.Gubernur mengirim seseorang untuk mengonfirmasinya. Setelah konfirmasi, gubernur juga sangat senang dan merasa bahwa kotanya telah memiliki seorang genius lagi. Selain memberi penghargaan besar kepada Arjuna, Eshan juga mendapat benefit dan pujian dari gubernur.Begitu anak buah gubernur pergi, kepala daerah dari daerah lain pun turut mengirimkan ucapan selamat.Ketika orang-orang yang datang untuk memberi selamat ada, Eshan

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 331

    Gadis ini biasanya lembut, pendiam dan santun, tetapi dia selalu memberi Arjuna kejutan."Hm?" Arjuna tersenyum, kemudian bertanya dengan ekspresi bingung. "Kalau ingin melahirkan anak laki-laki, wanita harus apa?""Aku ...." Daisha yang duduk di atas tubuh Arjuna merasa malu dan kacau. Dia merasa gelisah, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.Meskipun mereka sudah pernah melakukannya sekali pada malam sebelumnya, itu terjadi setelah dia mabuk. Daisha tidak sepenuhnya sadar, jadi Arjuna yang membimbingnya melalui semuanya.Sekarang Daisha diminta untuk mengambil inisiatif, dia tidak tahu harus mulai dari mana."Tuan." Daisha menatap Arjuna seolah meminta bantuan. "Bisakah kamu mengajariku?"Arjuna menggelengkan kepalanya. "Kali ini kita mau menghasilkan anak laki-laki, aku mana bisa?"Binalnya seorang wanita yang lembut dan anggun adalah kesempatan yang langka. Arjuna ingin melihat lebih lama."Ka ... kamu ...." Daisha menundukkan kepalanya dengan malu-malu. Kedua tangannya saling memil

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 330

    "Karena ...."Telinga Daisha tiba-tiba tidak lagi memerah, ekspresinya tidak lagi malu. Ekspresi tegasnya tampak tidak percaya. "Ternyata Shaka yang memasukkan kertas-kertas itu ke dalam kotak kayu kita."Shaka?Tatapan dingin melintas di mata Arjuna, lalu tatapannya segera kembali tenang.Arjuna tidak terlalu terkejut bahwa pelakunya adalah Shaka.Melakukan hal seperti itu cukup sesuai dengan karakter Shaka yang munafik dan jahat.Arjuna mendapat peringkat pertama, sedangkan Shaka tidak lulus. Jika tidak melakukan sesuatu, itu bukan Shaka namanya."Meskipun hubungan kita dengan mereka tidak baik, Shaka juga selalu memandang rendah kita. Bagaimanapun juga, kamu adalah keponakannya. Bagaimana boleh dia melakukan hal seperti itu?!"Tubuh Daisha terlihat kurus saat berpakaian, tetapi memiliki lekuk yang indah saat tidak berpakaian. Dia begitu menggebu-gebu saat berbicara sehingga seluruh tubuhnya terus bergoyang.Arjuna tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Daisha.Tatapannya panas.A

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status