Sekali lagi aku menatap Anton yang masih tidur dibungkus selimut. Dari tadi aku sudah berusaha membangunkannya dan menanyakan apakah dia bekerja atau tidak. Tapi jangankan bangun, untuk sekadar menjawab saja tidak ada. Dia malah menarik selimut dan menutup sekujur tubuhnya.Aku menutup pintu kamar dan meraih tasku. Saat membuka pintu, ternyata ada Bu Umar dengan tangan terangkat hendak mengetuk pintu. Beliau tersenyum manis. Aku sudah mengenal istri kepala desa sekaligus pemilik kontrakanku itu walaupun belum pernah bicara dengannya. Dia bekerja di Puskesmas pembantu yang tak jauh dari kediaman kami."Kamu Tina kan?" tanyanya. "Menantunya Pak Joko dan Bu Ria?""Iya, Bu," aku mengangguk sopan. "Ada apa, Bu?""Maaf, ya, saya baru ini bisa kenalan sama kamu. Saya baru sehat, jadi nggak pernah keluar rumah," kata Bu Umar.Wajahnya memang terlihat pucat kekuningan."Nggak apa-apa, Bu. Harusnya saya yang ke rumah Ibu memperkenalkan diri," kataku tak enak."Kamu udah mau berangkat kerja?" ta
Jam sudah menunjukkan waktu pulang. Setelah mematikan komputer dan membereskan barang-barangku, aku berjalan keluar menuju ruangan Wina. Aku lihat dia sedang berbicara dengan dua orang yang duduk membelakangi pintu."Sebentar, ya, Tin," kata Wina saat melihatku berdiri di pintu. Kedua orang itu refleks melihat ke belakang mengikuti pandangan Wina."Eh, Tina?" ternyata mereka adalah Hanna, teman sekerja Anton, dan Meta, tetangga rumahku."Halo, Kak Hanna," aku menyapa gadis cantik itu. "Hai, Met, ngapain ke sini?" tanyaku kepada Meta."Aku yang ngajak," Hanna yang menjawab. "Kalian tetanggaan kan? Udah tahu kan kalau Meta sepupuku?""Iya, Kak. Meta udah ngasih tahu aku," jawabku."Oh, Meta tinggal di samping rumahmu?" tanya Wina.Aku mengangguk."Duduk dulu, Tin," kata Wina. "Sebentar aku selesaikan dulu masalah yang dibawa si Hanna ini," candanya sambil kembali bekerja di depan komputernya."Kamu sehat kan, Tin?" tanya Hanna. Ia memutar kursinya menghadap ke aku."Sehat, Kak," jawabku
"Bukan lima juta. Tapi empat juta."Kena kamu.Ada perubahan di wajah Anton saat dia keceplosan mengungkapkan jumlah uang yang diterimanya. "Mana?" aku mengulurkan tanganku. "Nggak ada. Udah habis." Anton menepis tanganku dengan kasar."Baru kemarin Abang dapat uang itu. Masa udah habis dalam sehari? Empat juta lho, Bang," kataku."Kebutuhanku banyak," katanya ketus."Kebutuhan apa? Rokok? Tuak? Bir?" tanyaku sinis. Di samping minum tuak, Anton juga sangat menyukai bir dan juga minuman beralkohol lainnya."Bukan urusanmu," kata Anton."Abang bisa mentraktir kawan-kawan Abang tapi aku sepeser pun nggak Abang kasih?" protesku."Dia kawan-kawanku. Mereka kawanku bermain," kata Anton. "Kamu jangan melarang aku bergaul dengan mereka.""Aku tidak pernah melarang Abang bergaul dengan siapa pun, tapi jangan lupa kalau Abang udah menikah. Harusnya prioritas Abang sekarang adalah istri dan rumah tangga Abang," kataku. "Sebentar lagi kita punya anak, Bang. Kita belum beli perlengkapannya.""It
Anton menatapku dengan mulut ternganga. Dia memunguti baju-bajunya yang kulempar ke wajahnya tapi terjatuh ke lantai karena dia tidak sigap menangkapnya. Mungkin dia tidak menyangka kalau aku seberani itu. Dia tidak tahu bahwa perempuan bisa berubah sebuas serigala apabila sakit hatinya sudah di titik nadir."Aku tidak akan keluar dari rumah ini," Anton kembali menampakkan wajah normalnya_angkuh dan mengintimidasi."Kamu tidak punya hak apa pun di rumah ini," kataku dingin. "Silakan pergi dari sini. Bawa semua barang-barangmu. Jangan ada satu pun yang tertinggal karena aku bisa mual dan jijik melihatnya sama seperti saat aku melihat wajahmu.""Tapi aku masih berhak atas dirimu. Kamu istriku dan sedang mengandung anakku," katanya pongah."Anggap saja aku mengandung anak orang lain," kataku membalasnya."Dengan kata lain kamu selingkuh?" Anton mencibirku. "Aku bisa menuntutmu sudah menipuku.""Tuntut saja. Itu akan memperlancar proses perceraian kita," kataku."Kamu akan dipenjara," Ant
POV WinaSetelah mandi, aku membuka media sosialku. Melihat aneka macam gaun yang dipromosikan lewat siaran langsung oleh salah seorang pedagang online langgananku. Entah kenapa tidak ada yang menarik hatiku. Padahal namaku sudah disebut-sebut sang empunya akun. Untuk keluar rasanya kurang sopan karena aku mengenal baik si mbak pemilik dagangan itu.Tiba-tiba notifikasi pesan masuk terlihat dari beranda ponselku. Aku segera membukanya tanpa menutup akun siaran langsung itu.Ada beberapa pesan gambar dari Edwin, tetanggaku di kota, yang kebetulan juga tetangga kontrakan Tina.Aku segera membukanya dan terkejut setengah mati saat melihat foto wajah Tina yang merah dan agak bengkak. Di sudut bibirnya ada warna kemerahan. Mungkin darah. Aku yang sedang dalam posisi telungkup, bergegas duduk.Aku mencari nomor Tina dan segera memanggilnya. Dia baru mengangkat ponselnya di dering terakhir."Kamu nggak apa-apa, kan?" aku langsung bertanya sebelum dia bicara."Aku nggak apa-apa," jawab Tina.
Aku masih menonton drama korea di laptopku saat kudengar suara-suara berisik dari kamar Tina. Awalnya kupikir laptopku yang bermasalah, tapi saat aku mencabut headset dari telingaku, suara itu masih terdengar samar. Suara seperti menangis tertahan dengan menutup wajah. Kulirik jam, sudah hampir jam dua belas malam. Aku mengusap mataku yang mulai perih. Tentu saja perih karena aku menonton sejak tadi sore. Begitulah kalau sudah menonton drama korea, kecanduan. Saat ingin mengakhiri satu episode, eh episode berikutnya malah bikin penasaran. Akhirnya mulai lagi menonton satu episode lagi dengan janji ini yang terakhir. Tapi janji tinggal janji. Episode tetap berjalan hahaha...Tapi kali ini aku harus menyudahinya kalau tidak mau minus mataku semakin bertambah. Kumatikan laptop dan bersiap untuk tidur saat kudengar suara Tina. Mungkin dia sedang bicara lewat ponsel. Kebiasaannya sejak pacaran dengan Anton."Aku hamil."Darahku tersirap mendengar suara Tina. Walaupun diucapkan dengan nad
Aku menatap wajahku di cermin dan terkejut melihat kondisiku yang menyedihkan. Aku seperti tidak mengenali diriku. Pipiku biru lebam dan agak bengkak sementara mataku juga merah dan sembab karena menangis semalaman mendengar penuturan Wina. Sakit di wajahku tak seberapa dibandingkan dengan sakit hatiku. Ternyata benar aku adalah korban balas dendam dan sakit hati Anton karena Wina menolaknya.Dan aku baru tahu kalau Anton menikahiku atas desakan Wina. Kalau bukan dipaksa Wina, entah bagaimana keadaanku sekarang. Apakah aku hamil tanpa dinikahi? Atau kuturuti perkataan Anton untuk menggugurkan janinku? Sungguh aku berharap bisa kembali ke keadaan sebelum Anton menikahiku. Kalau harus begini, lebih baik aku tidak menikah saja dengannya. Lebih baik kugugurkan saja kandunganku waktu itu.Tapi kenapa Anton bisa menuruti perkataan Wina untuk menikahiku? Ancaman apa yang dipakai Wina? Aku tahu dan menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Wina. Dia tidak menceritakan seluruh cerita deng
Aku sudah membuka dan membaca bolak-balik semua sumber di media online bagaimana cara mengurus perceraian. Baik perceraian di pengadilan agama bagi agama Islam maupun perceraian di pengadilan negeri bagi agama lain. Semuanya membutuhkan waktu antara empat sampai enam bulan, tergantung bagaimana kasusnya.Dan alasan perceraian juga bermacam-macam, tapi ada dua poin yang bisa kuajukan sebagai alasan perceraianku nanti, yaitu salah satu pihak melakukan kekejaman yang dapat membahayakan keselamatan pihak lain, dan salah satu pihak melakukan zinah, pemabuk, penjudi, pemadat dan sifat lain yang tidak dapat disembuhkan.Kedua alasan itu sudah cukup menurutku untuk melayangkan gugatan cerai. Untung aku sudah menyimpan foto-foto penganiayaan Anton kemarin yang dikirimkan Meta kepadaku. Dan poin kedua, Anton memang suka minum sampai mabuk dan juga suka berjudi. Bahkan selama menjadi istrinya, dia tidak pernah sekali pun menafkahiku.Yang membuat sulit adalah apakah Anton setuju bercerai? Kalau