Terdengar suara kentongan 3 kali dari pos siskamling yang tak jauh dari rumah pertanda sekarang sudah pukul 3 dini hari. Aku menutup mulutku menahan isak tangisku sambil merekam perbuatan bejat lelaki yang masih berstatus suamiku itu. Perbuatan mereka terekam dengan jelas walaupun kamar itu temaram yang hanya diterangi lampu tidur. Setelah durasinya hampir mencapai 1 menit aku berhenti dan segera mengirimnya ke ponselku. Itu sudah cukup menjadi bukti. Pesanku sudah terkirim dan kulemparkan ponsel Anton begitu saja ke lantai.Dengan sinis kupandangi aktivitas kedua manusia laknat itu dan mundur. Kuhapus air mata di pipiku dengan kasar. Tak sudi rasanya menangisi pria bejat itu. Dengan sengaja kuraih daun pintu dan kuhempaskan dengan keras. Suaranya berdentam keras di malam sunyi itu. Segera kunyalakan lampu Kedua makhluk yang sedang berbagi peluh itu terkejut dan menoleh ke belakang. Aku tak dapat menggambarkan betapa terkejutnya mereka melihatku berdiri di ambang pintu dan menatap mer
Setelah selesai merekam perbuatan bejat suamiku dengan Lola memakai ponsel Anton, aku segera mengirimnya ke ponselku juga ke grup keluarga kami. Tidak main-main, aku tidak mengirimnya ke grup keluarga kecil kami tapi aku mengirimnya ke 2 grup besar atas nama nenek Anton dari pihak ayah mertuaku yang anggotanya ada 30 orang lebih dan atas nama kakek dari pihak ibu mertuaku, mulai dari anak SD sampai orang tua ada di sana sebagai anggota."Silakan dinikmati pertunjukan gratis ini!" Itu caption yang kutulis sebagai pengantar pesan itu."Aku nggak menyangka kalau kamu bersikap kasar kepadaku dan selalu membela Lola, itu karena ternyata kalian menjalin hubungan?" kataku pelan seolah kepada diriku sendiri. "Betapa bodohnya aku.""Aku memang tidak mencintaimu lagi, Ton. Aku sudah mati rasa sejak menjadi istrimu. Aku bertahan demi anak ini tapi semua sia-sia. Aku memang menuntut cerai dari kamu. Tapi aku tak menyangka akan menyertakan bukti perselingkuhanmu ini juga ke pengadilan. Tadinya ak
Sehari sudah berlalu sejak kejadian itu. Aku sudah kembali ke rumah kontrakanku ditemani oleh Wina. Kemarin saat aku keluar dari rumah mertuaku, aku mendatangi Wina ke kosnya. Di sana, dalam pelukan sahabatku itu, tanpa dapat kutahan lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Kalau di rumah mertuaku, aku tidak bisa menangis dan aku pun tidak tahu kenapa. Rasa marah, dongkol, kesal, kecewa dan entah rasa apa lagi yang menumpuk di rongga dadaku, seakan tersalurkan lewat tangisanku."Menangislah, keluarkan semua bebanmu," kata Wina sambil memeluk aku sangat erat. Dia pun ikut menangis sesenggukan. "Ada apa?" tanya Bu Sari heran mendapati kami berdua berpelukan sambil menangis di kamar Wina. Suara tangisku yang keras membuat beliau mendatangi kamar Wina."Nggak apa-apa, Bu. Nanti juga ibu akan tahu," jawab Wina.Bu Sari keluar dan menutup kembali pintu kamar. Aku yakin hatinya sekarang penuh tanda tanya dan kebingungan. Tapi seperti kata Wina, beliau juga bakalan segera tahu penyebabnya.Wina me
Darahku tersirap memandang benda pipih kecil di tanganku."Tina..." teriakan dari luar serta gedoran di pintu kamar mandi membuat benda itu jatuh ke lantai."Iya..." jawabku dengan jantung berdetak kencang."Buruan... Lama amat?" teriak Wina."Iya, sebentar." sahutku.Aku mengambil benda yang jatuh itu.Mataku nanar menatap hasil test pack di tanganku. Test pack termahal yang katanya hasilnya 99,99% akurat. Dan sama seperti test pack sebelumnya, kali ini pun hasilnya tetap garis dua yang sangat jelas dan tegas. Sebenarnya aku yang naif dan berusaha menyangkal. Enam test pack sebelumnya (yang kupakai untuk tes urine setiap hari), walaupun harganya murah, sudah menunjukkan garis dua yang artinya aku positif hamil. Tapi aku tetap mengulanginya, berharap hasilnya berbeda.Bagaimana aku harus menyangkalnya? Bahkan tanpa test pack ini pun, aku sudah tahu kalau aku hamil. Perubahan tubuhku sangat nyata. Aku sering merasakan mual terutama di pagi hari dan emosiku gampang sekali berubah-ubah d
Bab 2 LINGLUNGAku menggigit bibirku. Bagaimana cara mengatakannya? Haruskah melalui telepon ini? Pikiran-pikiran itu berperang di otakku."Apa sih, Tin?" Tanya Anton."Bang, aku...""Eh, nanti aja kita sambung lagi, ya. Bosku mengajak aku ke proyek yang di Desa A itu. Jangan hubungi aku karena nanti aku yang menyetir." Tiba-tiba Anton sudah menutup pembicaraan dengan mematikan sambungan telepon sepihak.Aku memandangi ponsel itu lama sebelum melemparkannya ke atas kasur. Saat aku memandang susu yang sudah kuseduh tadi tiba-tiba perutku bergolak. Rasa mual itu kembali datang. Aku segera berlari ke kamar mandi. Aku muntah-muntah di sana."Ada apa, Tin? Kamu sakit?" Tiba- tiba saja Bu Sari sudah berdiri di belakangku. Aku lupa mengunci pintu."Iya, Bu. Mungkin masuk angin." Jawabku."Makanya kalau pacaran itu cukup malam minggu aja," omelnya. "Ini tiap malam datang, pulang sampai larut. Kalian ngomongin apa sih? Harga cabe? Bawang?"Aku tidak menjawab. Tenggorokanku terasa sakit. Ibu ko
"Aku HAMIL!" Kataku tanpa berpikir panjang karena aku sudah dikuasai amarah.Mendadak hening. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Anton di sana. Terkejut? Shock? Kenapa dia diam?"Bang..." Aku mengecek ponselku. Masih menyala. Aku pikir dia sudah mematikannya seperti biasa kalau dia marah."Apa kamu bilang?" Akhirnya aku mendengar suaranya lagi. "Ha... Hamil?""Iya, Bang. Aku hamil," jawabku."Kok bisa?""Maksudnya apa kok bisa?" Aku mulai marah lagi tapi aku tetap menjaga suaraku tetap stabil. Bisa saja Wina mendengar dari kamar sebelah."Maksudku... Eh..." Dia tergagap. "Kamu tahu dari mana?""Ya, aku pake test pack lah," seruku tertahan. "Jadi bagaimana ini?""Bagaimana apa?" Tanya Anton balik."Hamilku ini, Bang," aku menahan marah."Gugurkan aja," katanya enteng."APA?" Kali ini suaraku menggelegar."Kenapa, Tin?" Wina menegur dari kamarnya. Aku kaget. Ternyata dia masih bangun padahal sudah hampir jam 12 malam."Eh, nggak, Win, biasa lagi nelpon sama Anton," jawabku."Apa maksud Aba
Kantor kami akan pindah ke gedung baru karena gedung yang kami pakai sekarang adalah sebuah ruko yang akan habis kontraknya. Lokasi gedung baru itu jauh dari rumah kosku sekarang. Nantinya semua kantor akan berpusat di sana. Gedung kami adalah yang pertama kali selesai dibangun dan gedung yang lainnya masih dalam tahap pembangunan. Jaraknya 28 kilometer dari ibukota kabupaten walaupun masih dalam kecamatan yang sama tapi di desa yang berbeda dan bisa dijangkau kendaraan kira-kira 20-30 menit perjalanan. Kami sudah mulai berbenah. Para pegawai laki-laki hampir tiap hari ke sana melakukan pembenahan sedangkan kami para perempuan mulai mengepak barang-barang di kantor yang akan kami tinggalkan."Ada yang bisa ikut ke sana hari ini?" tanya Pak John, Kepala Tata Usaha, bosku, sambil memandangi kami satu per satu."Perempuan ikut, Pak?" tanya Bu Amalia."Iya, untuk memasang gorden," kata Pak John. "Perempuan kan lebih mahir hal-hal begituan.""Saya, Pak," tanpa pikir panjang aku langsung me
"Ada apa, Kak?" tanya Anton. Ia mematikan pengeras suara ponselnya dan memandangku biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal perkataan kakaknya sangat menohok perasaanku."...........""Apa?" Anton berseru dengan kaget. Ia bangkit dari kursinya. "Mama sakit?""..........""Iya, aku akan segera pulang."Anton mematikan ponselnya dan segera menyambar jaket dan kunci motornya."Ada apa, Bang?" tanyaku ikut berdiri."Mama sakit." jawabnya sambil naik ke motornya. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia bergegas melarikan motornya keluar dari pekarangan rumah kosku.Aku kembali duduk termangu. Perkataan Kak Ana kembali terngiang di telingaku."Lho, Anton udah pergi?" Wina muncul dari dalam. "Barusan kudengar suara motor.""Udah, Win," kataku merasa bersyukur lampu teras tadi kumatikan sehingga suasana teras remang-remang hanya diterangi lampu jalan yang jaraknya kira-kira 30 meter dari rumah sehingga Wina tidak melihat mataku yang sembab."Capek, ya," kata Wina. "Aduh, aku nggak bisa