Valerio mengangguk puas, "Bagus."Dia menambahkan dengan nada serius, "Zayden, kamu ingat. Kamu adalah putra Valerio, pewaris masa depan Perusahaan Regulus, putra sulung Keluarga Regulus. Kamu harus punya pandangan yang lebih luas dan nggak boleh terjebak dalam sentimentalitas sesaat. Kamu mengerti?"Zayden mengangguk. "Mengerti."Valerio melihat ke arah Queena dan menasihati Zayden, "Queena itu adikmu. Meskipun dia dilahirkan bukan dari ibu yang sama denganmu, aku ingin kamu memperlakukannya seperti adikmu sendiri. Kamu harus menjaga dan mencintainya, mengambil tanggung jawabmu sebagai seorang kakak.""Aku akan melakukannya. Papa jangan khawatirkan itu. Aku akan menjaga Queena seperti adikku sendiri. Hanya saja ....""Katakan.""Di hatiku cuma ada satu Mama. Aku nggak akan pernah mengakui Mama yang jahat sebagai Mama ku. Aku harap Papa bisa mengerti.""Aku nggak akan memaksa. Aku juga akan mengakhiri hubunganku dengan dia."Keduanya berbincang dari sudut pandang dua orang pria, membic
"Pantas saja Davira terkadang bersikap seperti itu saat emosinya terpancing. Ternyata begitu." Briella menghela napas dalam. "Sebenarnya, dengan semua tekanan yang ada di masyarakat saat ini, kalau emosi kita nggak berhasil dikondisikan dengan baik, gejala mental semacam itu bisa muncul. Khususnya bagi wanita, yang pada dasarnya sedikit lebih emosional daripada pria. Mereka sangat mudah terluka kalau hubungan atau pernikahan mereka nggak berjalan dengan baik.""Benar. Jadi karena itulah aku lebih perhatian pada masalah mental adikku. Aku pun akan memberinya lebih banyak pengertian dan dukungan. Aku pikir sangat sulit bagi pasien depresi untuk mendapatkan pengertian dan empati dari orang lain. Sebagai anggota keluarga, yang bisa aku lakukan juga nggak banyak."Briella sangat setuju dengan apa yang dikatakan Klinton karena dia pernah mengalami depresi ringan. Renata yang menyedihkan karena belenggu rasa sakit berhasil dikuasai oleh monster emosi yang tak terlihat. Rasa sakit ini tidak ja
Briella menimpali santai, "Jangan khawatir. Aku nggak akan membuat diriku merasa nggak nyaman. Kalaupun ada yang seperti itu, aku akan menjaga diriku sendiri dengan baik."Klinton menimpali tidak senang, "Kapan kamu bisa bergantung padaku? Kamu selalu menyelesaikan semuanya sendiri, membuatku terlihat nggak berguna."Briella tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Setelah sampai sejauh ini, dia akhirnya sadar. Dia tidak bisa mengandalkan siapa pun kecuali dirinya sendiri, bahkan Tuhan.Keduanya berjalan ke kediaman Keluarga Atmaja. Mereka datang lebih awal, jadi makan malam masih belum dimulai. Klinton mempersilakan Briella pergi ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Saat makan malam tiba, dia akan memanggilnya.Briella berjalan menuju kamar Klinton. Ketika melewati kamar mandi untuk umum, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya masuk ke dalam."Siapa kamu? Lepaskan aku!"Briella merenggut tangan itu dengan paksa dan memukul balik dengan pukulan standar karate. Pukulan ini ma
"Duh, jangan khawatir. Aku akan mengirimkan kontaknya kepadamu."Ditha mengambil ponselnya dan mengirimkan nomor itu ke Davira."Aku beritahukan, lembaga itu sangat luar biasa. Bukan hanya bisa mendeteksi selingkuhan, mereka juga bisa mencegahnya. Mereka pasti bisa membantumu menyelamatkan pernikahanmu. Tapi sekali lagi, bukankah hal yang normal kalau banyak wanita yang berada di sekitar Valerio? Selama ini kamu selalu bersikap tenang, kenapa sekarang punya pemikiran buat menyingkirkan para wanita itu?"Davira menimpali kesal, "Lebih baik nggak usah tanya. Aku benar-benar sangat kesal dengan masalah yang terjadi akhir-akhir ini."Hari ini, Davira pergi ke perusahaan Valerio untuk menguji sikap pria itu. Melihat wajah Valerio, sepetinya pria itu memang bertekad untuk bercerai dengan Davira.Ditha menepuk pundaknya. "Apa yang membuatmu kesal? Kamu menikah dengan Valerio yang berpengaruh, dia pun menyayangimu. Bukankah nasibku lebih menyedihkan darimu?"Dia sudah menunggu selama bertahun-
Briella itu pacar Klinton, bagaimana dia bisa bersikap murah hati seperti itu?Herman dan Resti saling bertukar pandang. Mereka merasa kalau sikap yang dilakukan Briella bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh gadis biasa. Sepertinya putra mereka masih belum bisa mendapatkan hati Renata sepenuhnya.Davira melirik Briella yang duduk di sampingnya dan menggodanya, "Aku benar-benar nggak menyangka kalau kamu cukup murah hati.""Itu hanya sebuah kursi, nggak perlu diributkan." Briella menjawab dengan percaya diri dan tenang.Resti tidak bisa menahan pujiannya lagi, "Aku benar-benar nggak menyangka kalau Renata punya karakter yang baik. Dia nggak perhitungan, murah hati dan sangat baik hati. Davira, ini sesuatu yang harus kamu pelajari dari Renata. Kamu mengerti?"Davira memutar bola matanya kesal, "Papa, lihat, sejak kapan Mama jadi cerewet begitu. Kita ada di depan meja makan, tapi Mama sangat menyebalkan."Herman pun menengahi, "Sudah, makanlah makanan kalian. Renata, malam ini kami me
Klinton mengangguk, lalu menimpali, "Kalau begitu aku jadi tenang."Mata Briella tetap tertuju pada pemandangan di kejauhan dan mulai tenggelam dalam lamunannya.Kenapa dia merasa seperti ini setiap kali nama Valerio disebut. Mungkin karena dia adalah pria yang telah terlibat dalam hidup Briella selama bertahun-tahun. Dulu, Briella berpikir kalau hubungan mereka seharusnya tidak dipenuhi dengan penyesalan, tetapi justru menjadi hubungan yang tidak bisa berakhir bahagia.Apakah Briella membohongi dirinya sendiri saat dia mengatakan tidak ada lagi perasaan pada Valerio atau memang seperti itulah yang terjadi?"Kenapa?""Capek saja."Klinton mengatur kursi Briella pada sudut yang pas untuk tidur, lalu perlahan-lahan menambah laju mobil.Briella memejamkan matanya. Dalam setengah tidurnya, dia mendengar perkataan Klinton."Kamu tahu, aku nggak akan tertarik sama wanita lain. Jadi, jangan pernah bersikap seperti malam ini dan jangan merasa tertekan karena aku terus mendekatimu. Aku melakuka
Davira sedang duduk di dalam mobil, mungkin kesal dengan Queena, jadi tidak mau peduli lagi. Queena berlari keluar dari mobil dan Davira tidak berusaha untuk mengejar.Briella menjadi cemas dan segera keluar dari mobil. Dia tidak satu detik pun mengalihkan pandangannya dari anak itu.Queena berlari sambil menangis, siap untuk menyeberang jalan dengan riuhnya lalu lintas yang ada. Ada sebuah motor yang melewatinya dengan sangat cepat, membuat Queena panik dan berjongkok di sisi jalan.Briella bergegas menghampiri dan menggendong Queena.Queena ketakutan dan terkejut saat melihat wajah Briella. "Tante, hiks, Queena takut sekali."Briella pun jadi tidak tega. Dia mengusap kepala Queena, membenamkan wajah anak itu dalam pelukannya. Dia menggendong Queena kembali ke mobilnya, melewati lalu lintas dan orang-orang yang terus berlalu lalang.Tangisan Queena mulai mereda, dia pun mulai tenang. Dia masih ingat Briella, wanita yang kemarin memberinya bros mutiara. Dia tahu kalau Briella adalah ka
Queena mengerutkan keningnya, lalu menambahkan, "Tante, aku nggak mau tinggal sama Mama. Jangan beri tahu Mama di mana aku berada, ya? Aku mohon."Briella menurunkan tangannya dan menatap Queena. Dia melihat jam, lalu menghela napas dalam dan meletakkan bukunya di tangannya.Dia duduk, memangku Queena dan menarik hidung Queena yang menggemaskan."Queena, bisa beri tahu Tante kenapa kamu nggak mau tinggal sama Mama?"Queena menjawab dengan cemberut, "Itu ... karena Mama kadang-kadang sangat jahat dan agresif. Kemarin dia melemparkan apa yang Tante kasih ke lantai. Sangat menakutkan.""Jadi, apa Mama sudah minta maaf padamu saat menjemputmu dari TK hari ini? Mungkin dia sadar kalau apa yang dia lakukan itu salah.""Nggak!" Wajah Queena berkerut karena marah. "Mama ingin membawaku pergi karena inilah cara agar Papa mendatanginya. Tapi, Queena bukan alat yang bisa dimanfaatkan sama Mama. Kenapa Mama memperlakukan Queena seperti itu."Queena berkata dengan sedih, "Kalau Mama datang menjempu