Ekspresi wajah kedua teman Danartama mendadak semakin terkejut dengan melirik pada Danartama sekilas selalu beralih Nayaka Manggala .
"Pendekar iblis ?" pekik salah satu orang"Pendekar aliran kejahatan yang banyak di luar kerajaan Malingga ?" sambung orang lainnya."Bagaimana bisa ada kultivator demonic di kerajaan Malingga ini? Bukankah itu sama saja ia merupakan penghianat yang harus dibunuh!""Tidak kusangka jika di Perguruan Cakra Kembar yang sangat lemah tersebut ternyata ada seorang seniman beladiri menjijikan sepertimu."Danartama dan kedua temannya mencibir jijik Nayaka Manggala .Namun Nayaka Manggala diam saja dengan tidak merespon. Ia tidak peduli dengan ejekan tersebut karena menurutnya selama ia menjadi kuat itu bukanlah masalah.Lagi pula karena mereka telah mengetahui hal tersebut, maka kematian adalah satu-satunya jalan yang akan mereka tempuh setelah ini."Melihat kamu yang merupakan seniman beladiri iblis yang terkenal begitMendengar provokasi dari Nayaka Manggala tersebut. Danartama bertambah marah sembari mengeluarkan tenaga dalam miliknya."Benar-benar mengejutkan bocah sepertimu mampu bertahan sampai sejauh ini. Tetapi pertarungan sebenarnya baru saja akan dimulai!" ujar Danartama Tubuh Danartama diselimuti tenaga dalam . Setelahnya dengan cepat ia menerjang ke arah Nayaka Manggala .Sementara itu Nayaka Manggala tidak hanya diam saja, ia menerjang ke arah Danartama .Duar!Bentrokan dari keduanya membuat ledakan besar. Bang! Bang!Setelah ledakan terjadi keduanya saling bertukar serangan beberapa putaran. Klang! Klang!Suara bentrokan pedang terdengar. Krak!Nayaka Manggala dan Danartama saling berhadapan dengan tatapan yang tajam. Kedua belah pedang saling bersinggungan satu sama lain membuat suara derita."Mengagumkan melihatmu bisa mengimbangiku! Tetapi aku baru akan saja mulai serius?" ujar Danartama "Berhentilah ngoc
Nayaka Manggala mengangkat kepalanya sembari menarik tangannya setelah melancarkan serangan cakar hantu miliknya."Kamu harusnya berbangga hati karena berhasil melukai tubuh tuan muda ini." Nayaka Manggala tersenyum lebar.Hosh! Hosh!Danartama melirik kebelakang. "Ba-bagaimana kamu bisa seperti sekuat ini? Ke-kenapa aku bisa kalah darimu..."Nayaka Manggala mendongakkan kepalanya menatap langit yang mulai cerah kembali setelah mendung selama pertarungan terjadi. "Bagaimana mungkin tuan muda ini kalah darimu. Kalian para kultivator aliran kebenaran benar benar berpikir telah menjadi kuat hanya dengan berlatih keras seperti ini? Sungguh menggelikan."Bruk!Tubuh Danartama ambruk ke depan dengan langsung tertelungkup. Matanya perlahan tertutup. Danartama kalah dan mati dalam pertarungan tersebut.Bruk!Nayaka Manggala terduduk di tanah sembari memegang perut sampingnya yang tadi terkena serangan telak beberapa kali."Seper
"Apakah kamu mengancamku? Apa kamu pikir dengan bergabung bersama pak tua itu bisa membunuhku! Kamu terlalu meremehkanku!" tegas Saroni sembari melonjakan tenaga dalam miliknya Seketika gelombang kejut menyebar ke sekitar hingga sejenak membuat pertarungan berhenti."Sudahi perlawanan mu! Kamu hanya akan buang-buang waktu dan tenaga yang sia-sia!" seru Pancaka "Berhentilah omong kosong dan maju lawan aku!" tantang Saroni Pancaka melirik pada Gatawati yang nampak tidak menganggap ancaman tersebut. "Baiklah! Aku akan meladenimu sebentar!"Wuz!Tiba-tiba kedua orang tersebut langsung melesat dengan saling bentrok.Duar!"Kalian semua segera bantai mereka tanpa ada yang tersisa. Jangan buang waktu lagi!" perintah Gatawati "Baik sesepuh !"Perintah yang terdengar tersebut membuat orang dari Perguruan Sagara Saktib dan Perguruan Tangan Besi kembali melanjutkan pertarungan dengan beringas. Jayanegara yang sedang bertarung bersama
Keempat faksi yang tengah berkumpul tidak bisa lagi menahan diri untuk tak saling serang. Saat ini keadaan benar-benar pergi kacau di mana pertempuran akhirnya pecah. Gatawati memimpin Perguruan Sagara Sakti , Pancaka memimpin Perguruan Tangan Besi, Ishwar memimpin Perguruan Cakra Kembar dan Raden Mahajaya Kusumawarta memimpin keluarga kerajaan."Aku tidak mengangkat jika kalian berdua akan bekerja sama!" cibir Ishwar "Tidak ada yang namanya musuh abadi, bisa saja mereka menjadi teman untuk beberapa saat lalu kembali menjadi musuh begitupun sebaliknya. Jangan begitu kaget seperti itu. Kamu bukanlah orang baru yang memasuki dunia beladiri." cibir balik Pancaka Sekte Tianwu bentrok dengan Perguruan Tangan Besi."Pangeran ketiga, jujur saja jika saya sangat tidak menyukai kata-kata anda barusan seolah Anda bisa berdiri sendiri tanpa ada dukungan dari kami." lirik Gatawati Raden Mahajaya Kusumawarta hanya tersenyum tipis, "bukannya kalian tidak ingin
Nayaka Manggala melompat di antara pepohonan hutan setelah berhasil merebut buah delima yang hampir saja didapatkan oleh Raden Mahajaya Kusumawarta ."Ini buka buah delima biasa. Ini adalah buah delima yin yang di mana tenaga dalam alam yang telah terkumpul akhirnya bersatu di dalam buah ini. Pantas saja sampai membuat keempat faksi memperebutkannya." gumam Nayaka Manggala Sekilas Nayaka Manggala menoleh ke belakang untuk memastikan kelompok yang mengejarnya, namun mereka tidak terlihat sejauh ini karena ia sempat membuat beberapa pengecoh sembari ia berlari."Sepertinya tidak ada yang mengejarku, aku bisa pergi dengan."Namun baru saja berpikir demikian, tiba tiba sebuah serangan dari samping mengincar kepalanya. Wuzz!Duar!Nayaka Manggala berhasil menghindari serangan tersebut dengan langsung berhenti melompati antara dahan pohon. Srak!Ia menyimpan buah delima di dalam cincin ruangannya sembari memperhatikan kesekitarnya. "Siapa y
Dua hari kemudian di aula istana kerajaan.Bruk!Panglima Janardhana berlutut di depan jasad anaknya yang terbujur kaku dengan tertutup kain putih.Semua yang hadir di Aula istana Kerajaan Malingga sangat terkejut mengetahui jika anak dari panglima perang kembali dengan keadaan tak bernyawa. "Semuanya! Berikan penghormatan pada Jaktiwardhana !" seru Maharaja Prabujaya Linggawarta Mereka yang ada di aula langsung Jaktiwardhana ."Panglima, saya sangat bersedih dengan hal ini. Jasa jasa kepahlawanan yang di lakukan Jaktiwardhana akan selalu diingat oleh seluruh kerajaan terutama keluarga raja yang selama ini kalian layani." ujar Maharaja Prabujaya Linggawarta Panglima Janardhana menghadap pada Maharaja Prabujaya Linggawarta yang duduk di singgasananya. "Terima kasih atas kemurahan hati baginda raja ." Panglima Janardhana menangkupkan tangannya memberi hormat.Raja Maharaja Prabujaya Linggawarta mengangkat tangannya, Panglima Janardhana k
Nayaka Manggala dan Batari Candawani terus melanjutkan perjalanan menuju alam surga setelah membuat sebuah keputusan jika mereka akan tetap pergi ke sana dan bertambah kuat tanpa memperdulikan waktu dari pelatihan yang sudah hampir habis. "Sepertinya kamu telah naik satu bintang, Bagaimana bisa kamu meningkat secepat ini. Apa yang kamu lakukan saat kamu bilang ingin memeriksa sesuatu?" lirik Batari Candawani "Aku tidak melakukan apa-apa kok hanya sedikit bertarung dengan beberapa orang yang kutemui. Sudahlah jangan terlalu banyak bertanya tentang hal itu dan fokus pada apa yang menjadi tujuan kita saat ini. Seharusnya kolam surga semakin dekat dengan kita." ajak Nayaka Manggala dengan mempercepat lompatan kakinya di antara dahar pepohonan hutan. Hup!Dua hari kemudian, akhirnya keduanya memasuki wilayah dari kolam surga di mana tenaga dalam yang tersebar begitu terasa kental. "Energi alam yang sangat pekat! Apa kita telah mendekati kolamnya? ""Tentu
Setelah beberapa, Batari Candawani menghampiri Nayaka Manggala yang sedang duduk di sebuah akar pohon. "Kenapa wajahmu terus merah seperti itu?" tanya Nayaka Manggala Batari Candawani menahan rasa malunya. Ini adalah kalo kedua Nayaka Manggala melihatnya dengan pakaian tipis seperti itu setelah sebelumnya saat ia menolongnya dari Gumilar Seno."Sudah kubilang jika aku tidak tertarik dengan hal seperti itu." lanjut Nayaka Manggala "Jangan bohong kamu! Tidak mungkin laki-laki seperti kalian tidak tertarik dengan hal yang seperti tadi.""Aku tidak tertarik dengan yang ukurannya segitu."Deg!Ekspresi wajah Batari Candawani yang awalnya begitu malu mendadak jadi terkejut penuh rasa kesal."Apa katamu?" "Sudahlah, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Aku merasakan jika ada beberapa orang dengan ranah yang tinggi tengah menuju ke sini." Nayaka Manggala beranjak dari tempatnya dengan berjalan pergi "Nayaka Manggala ! Apa
Sore harinya, Nayaka Manggala keluar dari ruangan setelah memulihkan tenaga dalam miliknya."Ternyata sudah sore saja." Nayaka Manggala meregangkan otot-otot tubuhnya setelah keluar dari bangunan utama kediaman."Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sesepuh Gantari yang menghampiri Nayaka Manggala "Murid sudah lebih baik dari sebelumnya, guru jangan khawatir."Sesepuh Gantari memberikan beberapa pil tingkat 3 pada muridnya tersebut. "Makan ini untuk segera memulihkan tenaga dalam milikmu ke kondisi semula.""Terimakasih banyak guru."Pil yang diterima segera disimpan dalam cincin penyimpanan. "Kamu telah berhasil membuat pil tingkat 3 meskipun dengan bantuan teknik pemurnian yang sangat mengejutkan tersebut. Tetapi guru bangga melihatmu yang bisa berkembang secepat ini.""Guru terlalu memuji murid tanya memiliki keberuntungan yang lebih baik.""Beberapa pil yang telah kamu murnikan tadi akan guru simpan untuk dipelajari nantinya. Apa kam
Tiba-tiba seseorang masuk ke tengah pertarungan dengan langsung menghempaskan keduanya menjauh.Srak!Nayaka Manggala berhenti terdorong setelah menguatkan pijakan kakinya, iya menghunuskan pedangnya ke samping membuat sebuah gelombang kejut.Sementara Wulandari langsung menancapkan pedangnya pada lantai altar guna mengurangi dampak dari terdorongnya."Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan! Ini bukanlah tempat untuk bertarung!"Tiba-tiba suara wanita terdengar dari kepulauan asap tempat tadi pertarungan terjadi. Dengan kibasan tangannya, kepulauan debu langsung menghilang dan terlihat sosok orang yang masuk ke dalam pertarungan tadi. "Guru!" seru Wulandari Wulandari bergegas menyimpan pedangnya lalu menghampiri gurunya. "Guru, bocah ini datang tiba-tiba dengan langsung menyerangku!" lanjutnya dengan menunjuk pada Nayaka Manggala Sesepuh Gantari melirik pada Nayaka Manggala yang asik mengayunkan pedangnya. "Apa benar begitu
Beberapa hari kemudian, Nayaka Manggala dan Batari Candawani akhirnya sampai di perguruan. Mereka langsung menuju ke kediaman sesepuh kedua untuk melaporkan diri mereka."Apa kamu yakin jika guru tidak akan marah pada kita?" Tanya Batari Candawani yang merasa ragu begitu menginjak altar kediaman sesepuh kedua "Sudah aku bilang, "Nayaka Manggala melirik pada Batari Candawani . "Guru tidak akan marah pada kita selama kita menunjukkan hasil latihan yang memuaskan padanya. Aku sudah membuktikan hal itu dengan kembalinya aku setelah dari pelatihan hutan arasta. Meskipun aku lebih lama keluar dari sana untuk kembali ke manapun dia sama sekali tidak marah dan justru memujiku dengan pencapaian yang aku dapatkan.""Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu, tetapi rasanya aku masih sedikit ragu.""Daripada ragu lebih baik kita segera temui saja. Jika guru marah aku akan memarahinya balik, aku akan melindungimu kakak senior."Mendengar perkataan tersebut Batari Canda
Setelah beberapa, Batari Candawani menghampiri Nayaka Manggala yang sedang duduk di sebuah akar pohon. "Kenapa wajahmu terus merah seperti itu?" tanya Nayaka Manggala Batari Candawani menahan rasa malunya. Ini adalah kalo kedua Nayaka Manggala melihatnya dengan pakaian tipis seperti itu setelah sebelumnya saat ia menolongnya dari Gumilar Seno."Sudah kubilang jika aku tidak tertarik dengan hal seperti itu." lanjut Nayaka Manggala "Jangan bohong kamu! Tidak mungkin laki-laki seperti kalian tidak tertarik dengan hal yang seperti tadi.""Aku tidak tertarik dengan yang ukurannya segitu."Deg!Ekspresi wajah Batari Candawani yang awalnya begitu malu mendadak jadi terkejut penuh rasa kesal."Apa katamu?" "Sudahlah, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Aku merasakan jika ada beberapa orang dengan ranah yang tinggi tengah menuju ke sini." Nayaka Manggala beranjak dari tempatnya dengan berjalan pergi "Nayaka Manggala ! Apa
Nayaka Manggala dan Batari Candawani terus melanjutkan perjalanan menuju alam surga setelah membuat sebuah keputusan jika mereka akan tetap pergi ke sana dan bertambah kuat tanpa memperdulikan waktu dari pelatihan yang sudah hampir habis. "Sepertinya kamu telah naik satu bintang, Bagaimana bisa kamu meningkat secepat ini. Apa yang kamu lakukan saat kamu bilang ingin memeriksa sesuatu?" lirik Batari Candawani "Aku tidak melakukan apa-apa kok hanya sedikit bertarung dengan beberapa orang yang kutemui. Sudahlah jangan terlalu banyak bertanya tentang hal itu dan fokus pada apa yang menjadi tujuan kita saat ini. Seharusnya kolam surga semakin dekat dengan kita." ajak Nayaka Manggala dengan mempercepat lompatan kakinya di antara dahar pepohonan hutan. Hup!Dua hari kemudian, akhirnya keduanya memasuki wilayah dari kolam surga di mana tenaga dalam yang tersebar begitu terasa kental. "Energi alam yang sangat pekat! Apa kita telah mendekati kolamnya? ""Tentu
Dua hari kemudian di aula istana kerajaan.Bruk!Panglima Janardhana berlutut di depan jasad anaknya yang terbujur kaku dengan tertutup kain putih.Semua yang hadir di Aula istana Kerajaan Malingga sangat terkejut mengetahui jika anak dari panglima perang kembali dengan keadaan tak bernyawa. "Semuanya! Berikan penghormatan pada Jaktiwardhana !" seru Maharaja Prabujaya Linggawarta Mereka yang ada di aula langsung Jaktiwardhana ."Panglima, saya sangat bersedih dengan hal ini. Jasa jasa kepahlawanan yang di lakukan Jaktiwardhana akan selalu diingat oleh seluruh kerajaan terutama keluarga raja yang selama ini kalian layani." ujar Maharaja Prabujaya Linggawarta Panglima Janardhana menghadap pada Maharaja Prabujaya Linggawarta yang duduk di singgasananya. "Terima kasih atas kemurahan hati baginda raja ." Panglima Janardhana menangkupkan tangannya memberi hormat.Raja Maharaja Prabujaya Linggawarta mengangkat tangannya, Panglima Janardhana k
Nayaka Manggala melompat di antara pepohonan hutan setelah berhasil merebut buah delima yang hampir saja didapatkan oleh Raden Mahajaya Kusumawarta ."Ini buka buah delima biasa. Ini adalah buah delima yin yang di mana tenaga dalam alam yang telah terkumpul akhirnya bersatu di dalam buah ini. Pantas saja sampai membuat keempat faksi memperebutkannya." gumam Nayaka Manggala Sekilas Nayaka Manggala menoleh ke belakang untuk memastikan kelompok yang mengejarnya, namun mereka tidak terlihat sejauh ini karena ia sempat membuat beberapa pengecoh sembari ia berlari."Sepertinya tidak ada yang mengejarku, aku bisa pergi dengan."Namun baru saja berpikir demikian, tiba tiba sebuah serangan dari samping mengincar kepalanya. Wuzz!Duar!Nayaka Manggala berhasil menghindari serangan tersebut dengan langsung berhenti melompati antara dahan pohon. Srak!Ia menyimpan buah delima di dalam cincin ruangannya sembari memperhatikan kesekitarnya. "Siapa y
Keempat faksi yang tengah berkumpul tidak bisa lagi menahan diri untuk tak saling serang. Saat ini keadaan benar-benar pergi kacau di mana pertempuran akhirnya pecah. Gatawati memimpin Perguruan Sagara Sakti , Pancaka memimpin Perguruan Tangan Besi, Ishwar memimpin Perguruan Cakra Kembar dan Raden Mahajaya Kusumawarta memimpin keluarga kerajaan."Aku tidak mengangkat jika kalian berdua akan bekerja sama!" cibir Ishwar "Tidak ada yang namanya musuh abadi, bisa saja mereka menjadi teman untuk beberapa saat lalu kembali menjadi musuh begitupun sebaliknya. Jangan begitu kaget seperti itu. Kamu bukanlah orang baru yang memasuki dunia beladiri." cibir balik Pancaka Sekte Tianwu bentrok dengan Perguruan Tangan Besi."Pangeran ketiga, jujur saja jika saya sangat tidak menyukai kata-kata anda barusan seolah Anda bisa berdiri sendiri tanpa ada dukungan dari kami." lirik Gatawati Raden Mahajaya Kusumawarta hanya tersenyum tipis, "bukannya kalian tidak ingin
"Apakah kamu mengancamku? Apa kamu pikir dengan bergabung bersama pak tua itu bisa membunuhku! Kamu terlalu meremehkanku!" tegas Saroni sembari melonjakan tenaga dalam miliknya Seketika gelombang kejut menyebar ke sekitar hingga sejenak membuat pertarungan berhenti."Sudahi perlawanan mu! Kamu hanya akan buang-buang waktu dan tenaga yang sia-sia!" seru Pancaka "Berhentilah omong kosong dan maju lawan aku!" tantang Saroni Pancaka melirik pada Gatawati yang nampak tidak menganggap ancaman tersebut. "Baiklah! Aku akan meladenimu sebentar!"Wuz!Tiba-tiba kedua orang tersebut langsung melesat dengan saling bentrok.Duar!"Kalian semua segera bantai mereka tanpa ada yang tersisa. Jangan buang waktu lagi!" perintah Gatawati "Baik sesepuh !"Perintah yang terdengar tersebut membuat orang dari Perguruan Sagara Saktib dan Perguruan Tangan Besi kembali melanjutkan pertarungan dengan beringas. Jayanegara yang sedang bertarung bersama