Dua hari kemudian di aula istana kerajaan.
Bruk!Panglima Janardhana berlutut di depan jasad anaknya yang terbujur kaku dengan tertutup kain putih.Semua yang hadir di Aula istana Kerajaan Malingga sangat terkejut mengetahui jika anak dari panglima perang kembali dengan keadaan tak bernyawa."Semuanya! Berikan penghormatan pada Jaktiwardhana !" seru Maharaja Prabujaya LinggawartaMereka yang ada di aula langsung Jaktiwardhana ."Panglima, saya sangat bersedih dengan hal ini. Jasa jasa kepahlawanan yang di lakukan Jaktiwardhana akan selalu diingat oleh seluruh kerajaan terutama keluarga raja yang selama ini kalian layani." ujar Maharaja Prabujaya LinggawartaPanglima Janardhana menghadap pada Maharaja Prabujaya Linggawarta yang duduk di singgasananya."Terima kasih atas kemurahan hati baginda raja ." Panglima Janardhana menangkupkan tangannya memberi hormat.Raja Maharaja Prabujaya Linggawarta mengangkat tangannya, Panglima Janardhana kNayaka Manggala dan Batari Candawani terus melanjutkan perjalanan menuju alam surga setelah membuat sebuah keputusan jika mereka akan tetap pergi ke sana dan bertambah kuat tanpa memperdulikan waktu dari pelatihan yang sudah hampir habis. "Sepertinya kamu telah naik satu bintang, Bagaimana bisa kamu meningkat secepat ini. Apa yang kamu lakukan saat kamu bilang ingin memeriksa sesuatu?" lirik Batari Candawani "Aku tidak melakukan apa-apa kok hanya sedikit bertarung dengan beberapa orang yang kutemui. Sudahlah jangan terlalu banyak bertanya tentang hal itu dan fokus pada apa yang menjadi tujuan kita saat ini. Seharusnya kolam surga semakin dekat dengan kita." ajak Nayaka Manggala dengan mempercepat lompatan kakinya di antara dahar pepohonan hutan. Hup!Dua hari kemudian, akhirnya keduanya memasuki wilayah dari kolam surga di mana tenaga dalam yang tersebar begitu terasa kental. "Energi alam yang sangat pekat! Apa kita telah mendekati kolamnya? ""Tentu
Setelah beberapa, Batari Candawani menghampiri Nayaka Manggala yang sedang duduk di sebuah akar pohon. "Kenapa wajahmu terus merah seperti itu?" tanya Nayaka Manggala Batari Candawani menahan rasa malunya. Ini adalah kalo kedua Nayaka Manggala melihatnya dengan pakaian tipis seperti itu setelah sebelumnya saat ia menolongnya dari Gumilar Seno."Sudah kubilang jika aku tidak tertarik dengan hal seperti itu." lanjut Nayaka Manggala "Jangan bohong kamu! Tidak mungkin laki-laki seperti kalian tidak tertarik dengan hal yang seperti tadi.""Aku tidak tertarik dengan yang ukurannya segitu."Deg!Ekspresi wajah Batari Candawani yang awalnya begitu malu mendadak jadi terkejut penuh rasa kesal."Apa katamu?" "Sudahlah, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Aku merasakan jika ada beberapa orang dengan ranah yang tinggi tengah menuju ke sini." Nayaka Manggala beranjak dari tempatnya dengan berjalan pergi "Nayaka Manggala ! Apa
Kuil iblis di Alam Kayangan. Raja Agung Nayaka Manggala sedang duduk bersila di sebuah ruangan khusus yang akan menjadi tempat dirinya melakukan penerobosan ranah dari tingkat jalan abadi ke tingkat keabadian yang merupakan puncak dari ranah di Alam Khayangan. Bof! Sebuah pilar tenaga dalam berwarna ungu keputihan melesat ke langit dari tempat Raja Agung Nayaka Manggala, seketika cuaca di langit yang tadinya cerah langsung mendung. Gelombang udara juga terlihat berputar-putar mengelilingi kuil iblis, sambaran guntur berulang kali turun seolah tengah menunggu sesuatu yang besar terjadi. Fenomena alam yang terjadi secara tiba-tiba tersebut menarik perhatian semua penghuni Alam Khayangan. Klap! Jedar! Raja agung Nayaka Manggala mencoba fokus pada penerobosannya, ia yakin jika guntur kesengsaraan yang menjadi ujian seseorang untuk naik tingkat kekuatan akan segera muncul. 4 orang penguasa kuil lain di alam khayangan selain kuil iblis melihat fenomena alam yang berubah seca
Klap! Jedar! Sebuah Guntur besar menyambar pada gua tempat harimau putih tinggal. Seketika gua tersebut langsung hancur berkeping-keping. Harimau putih tersebut berhasil menghindari sambaran petir dengan langsung meninggalkan tempatnya. Gentala Surendra dan teman-temannya yang mendengar raungan keras dari harimau sebelum menerkam Nayaka Manggala, hendak masuk ke dalam gua, namun sambaran Guntur yang menghantam gua tersebut membuat mereka terkejut. Setelah gua tersebut hancur harimau putih keluar dari sarangnya yang membuat Gentala Surendra dan teman-temannya semakin terkejut. Niat awal mereka yang ingin menjinakkan harimau putih mendadak menghilang setelah melihat ukuran dari harimau putih yang ternyata sangat besar bahkan melebihi 2 ekor sapi dewasa. "Lari!" Gentala Surendrah dengan cepat memerintahkan teman-temannya untuk meninggalkan tempat tersebut setelah mereka melihat harimau putih yang mengejar ke arah mereka. Padahal harimau tersebut tidak mengejar mereka m
Gardhana Surendra, memberikan arahan pada teman-temannya untuk menyerang ular putih yang sudah dikepung tersebut. "Yang lain coba alihkan perhatiannya sementara sisanya mencoba menyerangnya dari titik buta. Berikan serangan terkuat kalian dan jangan ragu sedikitpun." seru Gardhana Surendra Teman temannya yang lain menganggukan kepala dengan setuju, mereka menyadari kita tidak mengeluarkan semua kemampuan mereka maka dapat dipastikan mereka akan gagal mengalahkan ular putih tersebut. Sstt... Ular putih menjulurkan lidahnya sembari melirik ke sekitarnya, manusia yang telah mengepungnya namun itu tidak membuatnya takut sedikitpun. Krek! Uhuk! Tiba saja ular putih tersebut menguatkan lilitannya pada manusia yang sudah ditangkap. "To-tolong aku!" lirih teman Gardhana Surendra yang tertangkap oleh ular putih Gardhana Surendra melihat temannya telah di ujung kematian dengan cepat menerjang ke depan sembari mengayunkan pedangnya. "Ular sialan! Matilah kamu!" Wuz!
Roar! Rawr! Nayaka Manggala melihat dari balik pohon, di mana terdapat binatang buas yang tengah berhadapan satu sama lain. Dua ekor macan hitam melawan seekor harimau loreng. "Mereka adalah binatang buas tingkat 2 yang cukup kuat, dengan kekuatanku saat ini aku tidak akan mampu mengalahkan mereka. Lebih baik aku menunggu saat yang tepat sebelum melancarkan serangan. Kita harus bijak dalam menentukan pilihan sebelum bertindak." Kedua macam tersebut terus menatap pada harimau loreng yang menjadi mangsanya. Sebagai penguasa dari hutan, tentu saja mau tidak ingin kedua macan tersebut mengalahkannya karena itu tentu akan menghancurkan harga dirinya. Roar! Setelah perang dengan keras harimau loreng tersebut menyerang ke arah kedua macan yang dengan cepat menghindari serangannya. Cat harimau tersebut berbalik salah satu macan langsung melompat ke arahnya dengan menerkam punggungnya. Rawr! Harimau tersebut tersentak dengan meraung keras, mencoba melepaskan diri dari te
Nayaka Manggala melihat mayat Gardhana Surendrayang terbaring di atas tanah dengan luka tebas dari pundak hingga dadanya. "Aku telah membalaskan dendammu, kamu bisa merasa tenang setelah ini. Namun tenang saja jika aku akan melanjutkan balas dendam terhadap mereka yang beruntung selama ini." Nayaka Manggala segera berlutut dengan mengambil cincin penyimpanan dari tangan Gardhana Surendra dan teman-temannya yang telah terbunuh. "Sebagai murid dari Perguruan Cakra Kembar, mereka tidak memiliki banyak barang berharga, namun ini lebih dari cukup untuk sementara waktu." Nayaka Manggala bergegas duduk bersila sembari kembali menyerap darah dan energi dari mayat Gardhana Surendra dan lainnya. Tak hanya itu ia juga menyerap darah milik ular putih yang tadi dibunuhnya. Kulit beserta sisik ular putih yang terkenal dengan keras segera ia pisahkan dari tubuh ular tersebut. Nantinya kau lihat ular tersebut akan dia buat sebagai pakaian agar ia lebih terlindungi dari serangan di kemudia
Teman teman Gumilar Surendra melihat cara mempermainkan Batari Candawani yang berkesan mengasikan. Berandalan seperti mereka memang selalu menyukai melakukan hal hal tercela seperti itu. Tangan Gumilar Surendra meraih tangan Batari Candawani. "Tidak! Lepaskan! Lepaskan tanganmu!" Batari Candawani memberontak "Hahah kulitmu sangat lembut. Ini benar-benar benar sesuai dengan dugaan!" puji Gumilar Surendra "Cepatlah kakak Gumilar. Kami juga ingin!" desak teman temannya. "Kalian bajingan! Apa kalian tidak takut dengan murka guruku!" ancam Batari Candawani dengan airmata yang membasahi pipinya, "guruku tidak akan memaafkan kalian!" "Hahhaha!" "Lihatlah dia! Membawa nama gurunya disaat saat seperti ini!" cibir teman Gumilar Surendra "Murid langsung dari sesepuh perguruan memang selalu seperti itu!" sambung lainnya "Aku benar benar tak menyukai para murid dari para sesepuh!" Seorang lainnya membuang ludah menggambarkan rasa jijiknya "Mereka terlalu menyombongkan nama guru mereka
Setelah beberapa, Batari Candawani menghampiri Nayaka Manggala yang sedang duduk di sebuah akar pohon. "Kenapa wajahmu terus merah seperti itu?" tanya Nayaka Manggala Batari Candawani menahan rasa malunya. Ini adalah kalo kedua Nayaka Manggala melihatnya dengan pakaian tipis seperti itu setelah sebelumnya saat ia menolongnya dari Gumilar Seno."Sudah kubilang jika aku tidak tertarik dengan hal seperti itu." lanjut Nayaka Manggala "Jangan bohong kamu! Tidak mungkin laki-laki seperti kalian tidak tertarik dengan hal yang seperti tadi.""Aku tidak tertarik dengan yang ukurannya segitu."Deg!Ekspresi wajah Batari Candawani yang awalnya begitu malu mendadak jadi terkejut penuh rasa kesal."Apa katamu?" "Sudahlah, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Aku merasakan jika ada beberapa orang dengan ranah yang tinggi tengah menuju ke sini." Nayaka Manggala beranjak dari tempatnya dengan berjalan pergi "Nayaka Manggala ! Apa
Nayaka Manggala dan Batari Candawani terus melanjutkan perjalanan menuju alam surga setelah membuat sebuah keputusan jika mereka akan tetap pergi ke sana dan bertambah kuat tanpa memperdulikan waktu dari pelatihan yang sudah hampir habis. "Sepertinya kamu telah naik satu bintang, Bagaimana bisa kamu meningkat secepat ini. Apa yang kamu lakukan saat kamu bilang ingin memeriksa sesuatu?" lirik Batari Candawani "Aku tidak melakukan apa-apa kok hanya sedikit bertarung dengan beberapa orang yang kutemui. Sudahlah jangan terlalu banyak bertanya tentang hal itu dan fokus pada apa yang menjadi tujuan kita saat ini. Seharusnya kolam surga semakin dekat dengan kita." ajak Nayaka Manggala dengan mempercepat lompatan kakinya di antara dahar pepohonan hutan. Hup!Dua hari kemudian, akhirnya keduanya memasuki wilayah dari kolam surga di mana tenaga dalam yang tersebar begitu terasa kental. "Energi alam yang sangat pekat! Apa kita telah mendekati kolamnya? ""Tentu
Dua hari kemudian di aula istana kerajaan.Bruk!Panglima Janardhana berlutut di depan jasad anaknya yang terbujur kaku dengan tertutup kain putih.Semua yang hadir di Aula istana Kerajaan Malingga sangat terkejut mengetahui jika anak dari panglima perang kembali dengan keadaan tak bernyawa. "Semuanya! Berikan penghormatan pada Jaktiwardhana !" seru Maharaja Prabujaya Linggawarta Mereka yang ada di aula langsung Jaktiwardhana ."Panglima, saya sangat bersedih dengan hal ini. Jasa jasa kepahlawanan yang di lakukan Jaktiwardhana akan selalu diingat oleh seluruh kerajaan terutama keluarga raja yang selama ini kalian layani." ujar Maharaja Prabujaya Linggawarta Panglima Janardhana menghadap pada Maharaja Prabujaya Linggawarta yang duduk di singgasananya. "Terima kasih atas kemurahan hati baginda raja ." Panglima Janardhana menangkupkan tangannya memberi hormat.Raja Maharaja Prabujaya Linggawarta mengangkat tangannya, Panglima Janardhana k
Nayaka Manggala melompat di antara pepohonan hutan setelah berhasil merebut buah delima yang hampir saja didapatkan oleh Raden Mahajaya Kusumawarta ."Ini buka buah delima biasa. Ini adalah buah delima yin yang di mana tenaga dalam alam yang telah terkumpul akhirnya bersatu di dalam buah ini. Pantas saja sampai membuat keempat faksi memperebutkannya." gumam Nayaka Manggala Sekilas Nayaka Manggala menoleh ke belakang untuk memastikan kelompok yang mengejarnya, namun mereka tidak terlihat sejauh ini karena ia sempat membuat beberapa pengecoh sembari ia berlari."Sepertinya tidak ada yang mengejarku, aku bisa pergi dengan."Namun baru saja berpikir demikian, tiba tiba sebuah serangan dari samping mengincar kepalanya. Wuzz!Duar!Nayaka Manggala berhasil menghindari serangan tersebut dengan langsung berhenti melompati antara dahan pohon. Srak!Ia menyimpan buah delima di dalam cincin ruangannya sembari memperhatikan kesekitarnya. "Siapa y
Keempat faksi yang tengah berkumpul tidak bisa lagi menahan diri untuk tak saling serang. Saat ini keadaan benar-benar pergi kacau di mana pertempuran akhirnya pecah. Gatawati memimpin Perguruan Sagara Sakti , Pancaka memimpin Perguruan Tangan Besi, Ishwar memimpin Perguruan Cakra Kembar dan Raden Mahajaya Kusumawarta memimpin keluarga kerajaan."Aku tidak mengangkat jika kalian berdua akan bekerja sama!" cibir Ishwar "Tidak ada yang namanya musuh abadi, bisa saja mereka menjadi teman untuk beberapa saat lalu kembali menjadi musuh begitupun sebaliknya. Jangan begitu kaget seperti itu. Kamu bukanlah orang baru yang memasuki dunia beladiri." cibir balik Pancaka Sekte Tianwu bentrok dengan Perguruan Tangan Besi."Pangeran ketiga, jujur saja jika saya sangat tidak menyukai kata-kata anda barusan seolah Anda bisa berdiri sendiri tanpa ada dukungan dari kami." lirik Gatawati Raden Mahajaya Kusumawarta hanya tersenyum tipis, "bukannya kalian tidak ingin
"Apakah kamu mengancamku? Apa kamu pikir dengan bergabung bersama pak tua itu bisa membunuhku! Kamu terlalu meremehkanku!" tegas Saroni sembari melonjakan tenaga dalam miliknya Seketika gelombang kejut menyebar ke sekitar hingga sejenak membuat pertarungan berhenti."Sudahi perlawanan mu! Kamu hanya akan buang-buang waktu dan tenaga yang sia-sia!" seru Pancaka "Berhentilah omong kosong dan maju lawan aku!" tantang Saroni Pancaka melirik pada Gatawati yang nampak tidak menganggap ancaman tersebut. "Baiklah! Aku akan meladenimu sebentar!"Wuz!Tiba-tiba kedua orang tersebut langsung melesat dengan saling bentrok.Duar!"Kalian semua segera bantai mereka tanpa ada yang tersisa. Jangan buang waktu lagi!" perintah Gatawati "Baik sesepuh !"Perintah yang terdengar tersebut membuat orang dari Perguruan Sagara Saktib dan Perguruan Tangan Besi kembali melanjutkan pertarungan dengan beringas. Jayanegara yang sedang bertarung bersama
Nayaka Manggala mengangkat kepalanya sembari menarik tangannya setelah melancarkan serangan cakar hantu miliknya."Kamu harusnya berbangga hati karena berhasil melukai tubuh tuan muda ini." Nayaka Manggala tersenyum lebar.Hosh! Hosh!Danartama melirik kebelakang. "Ba-bagaimana kamu bisa seperti sekuat ini? Ke-kenapa aku bisa kalah darimu..."Nayaka Manggala mendongakkan kepalanya menatap langit yang mulai cerah kembali setelah mendung selama pertarungan terjadi. "Bagaimana mungkin tuan muda ini kalah darimu. Kalian para kultivator aliran kebenaran benar benar berpikir telah menjadi kuat hanya dengan berlatih keras seperti ini? Sungguh menggelikan."Bruk!Tubuh Danartama ambruk ke depan dengan langsung tertelungkup. Matanya perlahan tertutup. Danartama kalah dan mati dalam pertarungan tersebut.Bruk!Nayaka Manggala terduduk di tanah sembari memegang perut sampingnya yang tadi terkena serangan telak beberapa kali."Seper
Mendengar provokasi dari Nayaka Manggala tersebut. Danartama bertambah marah sembari mengeluarkan tenaga dalam miliknya."Benar-benar mengejutkan bocah sepertimu mampu bertahan sampai sejauh ini. Tetapi pertarungan sebenarnya baru saja akan dimulai!" ujar Danartama Tubuh Danartama diselimuti tenaga dalam . Setelahnya dengan cepat ia menerjang ke arah Nayaka Manggala .Sementara itu Nayaka Manggala tidak hanya diam saja, ia menerjang ke arah Danartama .Duar!Bentrokan dari keduanya membuat ledakan besar. Bang! Bang!Setelah ledakan terjadi keduanya saling bertukar serangan beberapa putaran. Klang! Klang!Suara bentrokan pedang terdengar. Krak!Nayaka Manggala dan Danartama saling berhadapan dengan tatapan yang tajam. Kedua belah pedang saling bersinggungan satu sama lain membuat suara derita."Mengagumkan melihatmu bisa mengimbangiku! Tetapi aku baru akan saja mulai serius?" ujar Danartama "Berhentilah ngoc
Ekspresi wajah kedua teman Danartama mendadak semakin terkejut dengan melirik pada Danartama sekilas selalu beralih Nayaka Manggala ."Pendekar iblis ?" pekik salah satu orang "Pendekar aliran kejahatan yang banyak di luar kerajaan Malingga ?" sambung orang lainnya."Bagaimana bisa ada kultivator demonic di kerajaan Malingga ini? Bukankah itu sama saja ia merupakan penghianat yang harus dibunuh!""Tidak kusangka jika di Perguruan Cakra Kembar yang sangat lemah tersebut ternyata ada seorang seniman beladiri menjijikan sepertimu."Danartama dan kedua temannya mencibir jijik Nayaka Manggala .Namun Nayaka Manggala diam saja dengan tidak merespon. Ia tidak peduli dengan ejekan tersebut karena menurutnya selama ia menjadi kuat itu bukanlah masalah. Lagi pula karena mereka telah mengetahui hal tersebut, maka kematian adalah satu-satunya jalan yang akan mereka tempuh setelah ini."Melihat kamu yang merupakan seniman beladiri iblis yang terkenal begit