Hamil
Satu kata yang berhasil membuat tubuhnya menengang.
Dia hamil? Sejak kapan." Jangan banyak fikiran, kandungan lo masih rentan "
Rania tersadar dari lamunannya, dia memandang kosong arya dengan air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya.
" Gue hamil? Hhehe " Rania berkata seraya menunjuk dirinya sendiri. Dia membalikkan tubuhnya memandang arya yang juga sedang memandangnya, tanpa aba aba rania memukuli dada bidang arya dengan tenaganya yang lemah.
" Ini semua gara gara lo, bajingaann. Apa kata bokap gue nanti Ya? Kenapa harus guee hahh KENAPA!!!"
" GIMANA KATA ORANG NANTI hikss "
" Kenapa harus guee Ya "
" Kenapa hikss kenapa harus gue yang jadi korban lo hikss gue salah apa sama lo? Gue salah apa bangsat "
Arya hanya diam, dia membiarkan Rania meluapkan emosinya.
" Maafin Nia bunda hikss Nia ngecewain bunda sama Ayah hikss, " rania menundukan kepalanya memandang perutnya yang masih rata dengan mata yang masih dialiri air mata.
" Apapun yang terjadi nantinya gue janji, bakal selalu ada buat lo dan anak kita. "
Arya menarik rania kedalam pelukannya.
" Kita rawat dia sama sama ya "
Arya merasakan usapan di punggungnya di tersenyum samar, akhirnya Rania membalas pelukannya. Dia berjanji akan menjaga mereka berdua.
.....
Rania menatap handphone nya yang sedari tadi berdering. Nama Arya terpampang jelas di layar handhphone tersebut tapi Rania enggan mengangkatnya dia bahkan hanya me-Read beberapa pesan dari Arya.
Arystm
Secepatnya gue bakal kasih tau orangtua gue, lo gausah takut. Gue ga akan ingkar janji20.10Arystm
Jangan banyak fikiran, kasian anak gue kalo lo stres20.15Arystm
Jangan lupa makan20.15Arystm
Gue sayang kalian20.17Rania menghela nafas pelan, dia memikirkan beberapa kemungkinan besar yang akan terjadi nantinya. Kira kira bagaimana reaksi ayahnya jika tau anak nya hamil diluar nikah? Rania tidak bisa, dia tidak mau mengecewakan ayahnya.
Dia mengelus perutnya yang masih rata, pantas saja akhir akhir ini dia merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya, ternyata benar di dirinya terdapat kehidupan.
" Kenapa kamu harus hadir sekarang hm? Kenapa? Aku belum siap "
......
Arya pulang ke rumahnya dia langsung menuju ruang keluarganya, disana sudah ada papah dan mamahnya yang sedang menonton televisi.
" Mah, pah "
Arya menyalimi keduanya dan langsung duduk menatap netra ayahnya serius.Yang ditatap hanya menunjukan raut datarnya, Putra sudah tau jika akan ada hal yang dibicarakan oleh anaknya. Putra menatap Arya dan menghela nafas kecil tangannya mengelus pundak istrinya tapi matanya tak lepas dari Arya yang tampak ragu untuk berbicara.
" Katakan, ada apa "
" Maaf "
" Kamu kenapa sayang? Sakit? Biar mamah panggilin tante Felly "
" Maaf "
" Katakan apa yang terjadi boy "
" Arya Hamilin orang "
Putra masih tenang di tempatnya, sedangkan Faradillah membuka mulutnya tak percaya, bagaimana bisa anaknya berbuat hal yang jauh dari prediksulinya. Putra bangun dari duduknya menuju Arya dan
Bugh Bugh
" Siapa yang ngajarin kamu jadi cowo brengsek, papah gapernah ajarinkamu buat kurang ajar sama prempuan ya. Kamu bolos, tawuran, balapan. Apa pernah papah larang kamu? Atau mamah larang kamu, pernah? Keterlaluan " Putra kembali melayangkan pukulan nya kepada Arya.
" Cukup pahh, cukup jangan pukul Arya lagi " Faradillah mendekati Arya yang sudah tersungkur di lantai dengan tangan yang memegangi sudut bibirnya yang robek akibat Bogem mentah dari papahnya.
Putra masih memandang Arya, namu dengan sorot yang berbeda, ada kilatan amarah yang terlihat jelas disana.
" Siapa? "
" Rania Surya Mahendra "
" Astaghfirullah Arya, bisa bisanya kamu Rusak Keturunan Mahendra. Mau ditaro dimana muka papah Ya. Surya itu rekan bisnis sekaligus teman papah "
" Baguslah, papah jadi enak minta ijin sama orangtua Rania, Arya mau tanggung jawab secepatnya "
Putra hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Surya jika tau masalah ini. Putra tau perjuangan Surya merawat Rania, dan sekarang Anaknya sendiri yang merusak putri dari kolega bisnis sekaligus temannya.
" Pah " Faradillah menatap manik putra seraya mengelus tangannya.
" Papah akan atur pertemuan dengan keluarga Mahendra, mungkin akan dalam waktu dekat ini "
" Atur sebagaimana baiknya pah, kasian mantu mamah kalo kelamaan nanggung beban sendiri "
Putra mengerutkan keningnya mendengar kata 'Mantu' yang terucap dari mulut istrinya, terasa asing. Dia tidak pernah menyangka akan mendengar kabar seperti ini.
......Arya melajukan motornya ke rumah Rania, sebenarnya tujuan utamanya keluar adalah untuk mengunjungi Bashcamp tapi dia mengingat gadisnya dan juga anaknya. Mengingat bahwa Rania hamil anaknya membuatnya tersenyum, Arya tidak pernah membayangkan jika diusianya yang masih 19 tahun, dia sudah akan menjadi Ayah.
Arya sampai didepan rumah minimalis bergaya Eropa yang terlihat sepi, dia memakluminya karena arya tau jika hanya ada Rania dirumah besar tersebut. Maidnya sudah pulang ketika waktu menjelang maghrib dan untuk Ayah rania, arya tidak tau pasti jadwal kepulangan surya karena memang surya mempunyai jadwal pulangnya sendiri.
Arya mengetuk pintu tersebut beberapa kali tanpa bersuara. Sudah tiga kali arya mengetuk pintu tapi tidak ada sautan apapin dari sang tuan rumah, arya menyalakan handphone nya dan menghubungi gadisnya.
Panggilan pertama
Tidak diangkatPanggilan keduaMasih tidak ada jawabanPanggilan ketiga" Halo "
Suara gadisnya mengalun indah ditelinganya, suara khas orang ketika baru bangun dari tidurnya, arya tersenyum samar mengingat dia akan menyaksikan langsung muka bantal gadisnya." Halo "
Suara itu kembali terdengar dan menyadarkan arya dari lamunannya." Keluar, gue didepan pintu, gapake lama "
.....
Rania mengerjapkan matanya, dia mencari benda pipih yang sedari tadi berdering dengan Nyaring, tanpa melihat nama sang penelvon Rania mengangkat panggilan tersebut dengan mata yang kembali terpejam.
" Halo "
Tidak ada sautan dari sang penelvon, rania mendengus membayangkan jika aurel yang menelvonnya.
" Halo "
Rania bersiap untuk menutup telvonnya dan melanjutkan tidurnya.
" Keluar, gue didepan pintu, gapake lama "
Suara itu sukses membuat rania membuka matanya. Suara dengan nada otoriter yang sangat dia benci. Dia Arya.
Rania melihat jam yang ada di nakasnya yang menunjukan pukul 20.30, rania mengdengus mengingat tidurnya diganggu oleh arya si medusa.
Rania berniat untuk melanjutkan tidurnya dan mengabaikan keberadaan arya yang berada di depan pintu masuk rumahnya, menurutnya arya tak sepenting tidurnya. Tapi rupanya arya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, karena handphone yang berdering dengan nama arya yang terpampang mengganggu tidurnya apalagi pesan ancaman yang baru arya kirim itu membuatnya kesal, bagaimana tidak? Arya berkata jika akan mendobrak pintu rumahnya jika tidak di bukakan.
.....
Rania membuka pintu rumahnya dengan wajahnya yang berlagak marah, tapi terlihat lucu dimata arya. Bagaimana tidak? Rania menggunakan baju tidur bergambar beruang dengan wajah bantal jangan lupakan sandalnya yang bergambar beruang juga tak lupa matanya yang dipaksa terbuka padahal mengantuk.
" Ngapain si lo kesini, ganggu tau ga "
Arya terkekeh geli mendengar rania yang memarahinya.
" Ngapain lo ketawa, lo kira gue lagi lawak hah " Rania me melototkan matanya.
" Lo lucu, mata lo gausah melotot-melotot gitu nanti lepas "
" Bacot "
" Gaboleh ngomong kasar nanti anak gue denger "
Rania tidak menanggapinya, dia menatap tampilan arya yang rapi dengan pakaian casualnya, baju kaos hitam tipis berlapis jaket denim berlambang elang yang diselimuti api tak lupa celana sobek nya yang menambah kesan badboy pada diri arya.
" Udah neliti nya? "
Rania yang ketahuan pun memalingkan wajahnya malu, sial.
" Nih gue bawa makanan, jangan lupa makan inget lo ga sendiri sekarang ada anak gue didiri lo. Jangan begadang."
Arya menyerahkan kantong makanan yang baik untuk kesehatan ibu hamil, dia sudah konsultasi dengan tante felly mengenai kondisi dan resiko ibu hamil.
" Didalem ada susu hamil rasa coklat sama stroberi, lo tinggal pilih mau yang mana."
Rania masih diam.
" Gue ke markas dulu, jangan gadang ya "
Arya mengelus puncak kepalanya.Rania memperhatikan arya yang sudah tak terlihat, dia menelisik totebag yang arya berikan. Tatapan nya jatuh ke dua box susu hamil tanpa sadar rania mengelus perutnya.
Rania memasuki rumahnya, dia menuju dapur untuk memindahkan makanan ke piring tak lupa membuat susu hamil rasa coklat untuk nya, entah kenapa dia sangat ingin mencobanya, setelah nya dia membawa makanan dan susu itu ke kamarnya.
Rania memakan makanan itu dengan lahap terakhir meminum susu hamil yang sudah dia buat, bibirnya membentuk senyuman tipis mengingat arya yang mengunjunginya tadi.
Dengan ragu rania berkata seraya mengelus sayang perutnya.
" Bertahan sama momy ya, momy sayang kamu."
Mendengar kata momy yang keluar dari mulutnya membuat nya terkikik geli. Rania memejamkan matanya, melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.
Minggu ini Rania memutuskan untuk mengunjungi toko buku langganannya. Dia ingin membeli buku kesehatan, dan juga beberapa novel yang baru diterbitkan, karena selain suka nonton Drakor, rania juga mempunyai hobi membaca dan menulis. Rania tiba di toko buku yang lumayan ramai, toko buku bercat putih yang dipadukan dengan warna cerah lainnya, rania memaklumi keramaian didepannya karena memang sekarang adalah hari libur. Dia melangkahkan kakinya kesana dan mulai menjelajahi dari rak satu ke rak lainnya. Disela kesibukannya memilih buku dia dikagetkan dengan dorongan di bahunya, dan tanpa sengaja bukunya jatuh berserakan. " Sorry sorry, gue ga sengaja " Orang itu membantu rania membereskan beberapa bukunya yang berserakan. " Eh santai aja gapapako " Rania mendongakkan kepalanya seraya merapihkan rambut yang menutupi wajahnya, dan matanya membulat melihat siapa yang membantunya. " Kamu ngapain disini? "
HoekkkHoekkHoekkkHuh huh rania memijat keningnya yang terasa pusing, tubuhnya juga lemas. Rania memandang dirinya dicermin, satu kata yang bisa menggambarkan dirinya saat ini Pucar macem zombi. Rania menghela nafasnya pelan, sudah seminggu belakangan ini rania selalu mengalami Morning Sicknes, jangan lupakan pola makannya yang berantakan. Dia mengghela nafas pelan, dia sadar ini semua adalah gejala dari kehamilannya. Tapi yang rania tak habis fikir adalah keinginannya untuk selalu berada didekat arya. Hampir setiap malam arya mengantarkannya makanan sehat untuknya, dan sialnya bayi dikandungannya selalu ingin berdekatan dengan papihnya. Tapi rania tidak pernah mengatakan keinginannya karena malu. Tapi untuk hari ini, rania tidak bisa menahan keinginnya lagi. Rasanya dia ingin menangis hanya karena ingin berangkat sekolah bersama dengan arya. Dengan ragu dia menelvon arya. " Halo, kenapa? " Mendengar suara dia sebrang sana
Setelah insiden baku hantam didepan pintu rumah keluarga Mahendra, kini diadakan pertemuan keluarga di ruang tamu yang tempatnya masih di kediaman mahendra. Setelah hening selama beberapa menit, akhirnya Putra selaku papah dari arya memulai pembicaraan. " Begini, sebelumnya saya minta maaf yang sebesar besarnya kepada Pak Surya atas kesalahan anak saya arya, saya tau jika kesalahan anak saya tidak bisa di tolerir lagi. Tapi akan saya pastikan jika anak saya akan bertanggung jawab untuk menikahi putri pak surya " Surya masih diam, dengan mata yang masih menyorot tajam arya yang sedang memandang rania. " Apa kalian bisa menjamin kebahagiaan anak saya? " " Saya ga bisa janji buat bahagiain anak om, tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan rania sepenuh hati saya om " " Jika kamu menyakiti putri saya, saya pastikan kamu tidak akan saya ijinkan bertemu dengan anak dan cucu saya meskipun kamu memohon " " Saya pastikan
Hari sudah larut tapi baik rania maupun arya belum ada yang memejamkan matanya. Arya menolehkan kepalanya ke nakas, melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11 malam. Dia menghela nafasnya melihat rania yang tak kunjung memejamkan matanya. " Tidur " " Belum ngantuk " Arya mendekati rania yang sedang menatap atap kamar mereka, tanpa kata arya mendekap rania dengan tangannya yang melingkar dipinggang ramping itu. Bisa arya rasakan jika rania menegangkan tubuhnya. " Ya lepasin, gue ganyaman "Rania berusaha melepaskan tangan arya yang melingkar dipinggangnya. " Stt biar lo cepet tidur " " Tap.. " " Tidur nia " arya mempererat pelukannya, seraya mengelus pungguh gadisnya agar mengantuk. Ok, fiks. Rania menyerah. Dia sudah tidak memberontak karena merasakan rasa yang begitu nyaman ketika arya mengelus punggungnya. Perlahan matanya terpejam dengan nafas yang mulai teratur. Arya merasakan sapu
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian diparkiran, sekarang tidak ada yang berani mengganggu raina karena memang tidak ada yang mau berurusan dengan anak dari pemilik sekolah, yap siapa lagi jika bukan arya. Jangankan muridnya guru saja sudah lelah memarahi nya tapi yang namanya arya tidak akan pernah kapok membuat ulah. Saat ini apartemen arya yang biasa sunyi kini terdengar ramai, itu semua karena anggota laknatnya yang bertamu sejak sore sampai malam dengan alasan Belajar bersama, karena memang besok adalah hari pertama Ujian kelulusan. " Pulang dah lo pada, pusing gue liatnya. Belajar ngga, rusuh iya. " " Iss pak bos nantilah, masih juga jam 8 biasanya juga kita pulang apa ngga lo ga perduli " revi menjawab dengan mata yang masih terfokus menonton serial boboiboy, tak hanya revi tanpi ardan, kavi dan raka pun sama. Arya memutar matanya malas, dia memejamkan matanya guna menetralisir rasa kesal yang mendera melihat respon temannya, apa
Hari ini rania memutuskan untuk tidak datang ke sekolah, bukan tanpa alasan dia enggan untuk datang. Pasalnya kelas Xii memang dibebaskan pasca ujian maka dari itu dia memilih untuk tidak datang kesekolah. Rania juga mengabari aurel karena memang semalam mereka melakukan vidio call. Rania tersenyum mengingat kejadian semalam. Flashback on. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam tapi rania belum bisa memejamkan matanya padahal rasanya sangat lelah. Karena bosan dia memainkan sosmednya yang memang jarang sekali dibuka, tiba tiba arya datang dengan membawa susu hamil untuknya dan jangan lupakan tangan kiri nya yang juga terdapat laptop. " Nih minum dulu " arya menyodorkan segelas susu yang dibuatnya dan langsung di sambut oleh rania. " Makasih " Setelah nya mereka sibuk dengan kegiatannya masing masing, sampai pada arya yang mengalihkan tatapannya dari laptop ke rania. " Gue mau ngomong " " Apa? "
Sore sudah berganti malam, Rania sekarang sedang mencak mencak tidak jelas diruang tamu. Bagaimana bisa arya belum pulang sampai sekarang. Setelah membeli sate untuk rania, arya pamit pergi lagi, karena sedang ada urusan, katanya. Rania hanya mengangguk sebagai ucapan, karena menurutnya dia tidak berhak mengatur arya. Tapi sekarang, bolehkah dia menyesal karena tidak minta arya untuk membawanya. Sungguh, dia bosan sekarang. Rania menghembuskan nafasnya berkali kali, mendudukan diri diatas sofa dengan kaki yang diangkat keatas, tak lupa bibirnya yang manyun dengan mata yang berkaca. " Iss dimana si, ko ga pulang pulang " " Udah tau istri lagi hamil, malah ditinggal sendirian " Rania mengelus perutnya yang berbunyi, dia kembali melanjutkan ocehannya. " Kamu laper ya sayang, sabar ya kita tunggu daddy " " Hikss daddy lama sayang, mamah laper huaa hiks hiks " rania menangis seperti anak kecil ketika pertunya
Pagi ini Rania sedang berkutat didapur, menyiapkan sarapan untuk nya dan em suaminya? Ah mengingat semalam pipinya mendadak memanas, dia tidak menyangka akan melakukannya untuk kedua kalinya. Lamunannya terganggu ketika sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya, badannya ditarik sedikit kebelakang sehingga tak ada jarak antara mereka. " Iss ngagetin tau ga " " Hem " arya hanya bergumam sebagai jawaban. " Lepasin dulu tangannya, aku lagi masak " " Gamau " " Lepas dulu sayang " Arya mengerjapkan matanya, dia tidak tuli kan? Rania memanggilnya dengan sebutan sayang. " Coba ulangin " " Apanya? " " Iss tadi kamu bilang apa? " " Apa nya? " Arya tidak menjawab dan malah memeluk Rania semakin kencang, tak lupa bibirnya mengecup leher jenjang yang terpampang jelas dimatanya, karena Rania menggelungkan rambutnya keatas. " Kamu mau godain aku ya? " "