Pesona Istri Season 3Wajah cantik itu memerah, nafas kami berat dan bersahutan seperti habis berlarian. Ini yang pertama bagiku, bagi kami. Aku memang tak sesoleh Atma, tapi tak juga berbuat semaunya. Aku tak pernah berniat merusak anak gadis orang meskipun hanya sekedar menikmati bibirnya. "Kenapa Abang membentak barusan," tanya Queena. "Mana?" Aku berkelit. Memang tadi aku sempat sedikit berkata keras padanya karena kupikir dia sudah melakukan hal yang tidak-tidak. "Tadi, barusan. Sebelum Abang menerkamku.""Enggak ah.""Pasti Abang pikir aku sudah tidak per ....""Sttt!" Kuletakkan jariku di bibirnya. "Kamu sengaja kan melakukannya. Pura-pura sedih, memelas, agar Abang berpikir yang tidak-tidak. Kamu sukses ngerjain Abang."Queena hanya tersenyum menanggapi perkataanku. Benar kan dugaanku, tak habis-habisnya dia berbuat seperti itu. Lagian tak mungkin dalam sekejap, Queena berubah seperti tadi. Kubelai pipinya yang halus, sejak tadi kami tak berniat untuk merubah posisi, Quee
Pesona Istri Season 3 Suasana Restoran cukup rame pagi ini, banyak orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan, sarapan. Kami memilih tempat semi outdoor dengan meja yang muat banyak orang. Sengaja agar kami bisa duduk bersama-sama dengan dua keluarga. Ada Mama dan Papa, Om Wisnu juga Tante Syifa, Atma dengan istrinya, aku dengan Queena, lalu juga Hulya. Menu yang kami ambil sesuai selera sudah terhidang di meja. Kami tinggal menikmati sambil berbincang-bincang. "Mama dan Papa hari ini pulang," ucap Mama. "Kamu jaga diri, jadi suami dan menantu yang bertanggung jawab," sambungnya, memberi pesan padaku. "Iya, Mam.""Kalau Mama rindu, kalian mau datang, kan?" tanya Mama lagi. "Tentu saja Mam," jawab Queena."Kamu masih punya Hulya dan Atma, jangan terlalu merasa kehilangan begitu. Dia bukan pergi kemana-mana, hanya tinggal bersamaku," timpal Om Wisnu. Mama tak menanggapi ucapan besannya, hanya menatap tajam tanda tak suka. Sepertinya Mama sedang enggan berdebat de
Pesona Istri Season 3 POV Atma Matanya yang bening dan berbinar-binar itu selalu langsung tertunduk saat tak sengaja kami berpandangan. Senyum manis selalu menghias wajahnya yang bersih bak pualam. Suaranya lembut, dan begitu nyaman saat menyapa indera pendengaran. Gadis itu, semakin tumbuh dewasa semakin anggun dan menawan. Ibarat bunga mawar, aku melihatnya sejak saat dia baru tumbuh dedaunan, kemudian ranting semakin banyak, lalu tumbuhlah kuncup-kuncup kecil yang yg begitu indah, siap mekar dan memperlihatkan pesonanya sebagai bunga. Zitni Khaldean Mukhsin, itu nama yang tersemat pada gadis itu. Aku melihat dan mengenalnya saat usia kami sama-sama masih remaja. Seperti halnya Nata yang sudah tertarik dengan Queena sejak masih remaja, begitu pula denganku. Kupikir, rasa ini hanyalah rasa yang biasa terjadi pada remaja-remaja yang dalam masa mencari jari diri, masa pubertas. Namun sering berjalannya waktu, aku tetap mengaguminya. Dalam diam, kami saling mencuri pandang.Dua sauda
Pesona Istri Season 3"Abang, sholat dulu," lirih Zitni, yang sudah berada di bawahku. Tak kuasa aku untuk tidak menjamahnya begitu dia tersenyum padaku tadi. Seakan semua penghalang sudah lenyap dan aku bisa melakukan apa saja padanya. Hingga dengan naluri berburu yang ada pada laki-laki, aku menciumnya dan membawanya ke pembaringan.Ah, iya. Aku sampai lupa untuk mengawali dengan mendirikan sholat dua rakaat. Apa aku memang setergesa-gesa itu ingin menyatu dengan pujaan hatiku. Pertama kali yang harus ditegakkan bersama dengan pasangan adalah taat kepada Allah, makanya kebersamaan suami istri hendaknya diawali dengan sholat dua rakaat. "Harusnya kamu menyambutku dalam balutan mukena, biar aku gak khilaf," ujarku, mencari pembenaran atas tindakan yang barusan kulakukan. "Iya, kah?" Zitni balik bertanya. "Ya sudah ayo, ke kamar mandi." Tak berniat membalas perkataannya, kuajak dia untuk bersuci saja. Aku bangkit dari posisiku, dimana tubuhku menindihnya dengan sempurna. "Ngapain?
Pesona Istri Season 3Semua orang mulai sibuk menyiapkan penikahan Nata dan Queena, akhirnya ... mereka akan menikah juga. Entah bagaimana ceritanya, begitu mereka pulang dari berpergian, Nata dan Queena sudah diijinkan untuk menikah oleh Om Wisnu.Bahkan Queena sudah tinggal di rumah ini selama beberapa hari. Sejak dulu dia memang sudah terbiasa tinggal di rumah ini, jadi bukanlah hal yang luar biasa saat dia berada di sini. Dulu saat masih kecil, dia lebih suka tinggal di sini, katanya lebih banyak teman daripada di rumah kesepian dan seorang diri. Queena memang anak tunggal. Aku turut bahagia, akhirnya kembaranku itu mendapatkan apa yang dia inginkan setelah banyak berkorban untukku.Aku dan istriku, belum berniat untuk pindah rumah. Zitni tampak nyaman di rumah ini, dan Mama juga masih meminta kami tinggal. Sebulan dua bulan, tinggallah di rumah ini. Pinta Mama padaku dan menantunya. Sekalian bantuin persiapan pernikahan adikmu, begitu yang Mama katakan. Empat wanita yang ada di
Pesona Istri Season 3 Bab 140Dengan kepanikan yang masih sama, aku segera membawa Zitni masuk ke dalam gedung rumah sakit, begitu kami sampai di rumah sakit terdekat. Kami langsung di arahkan ke ruang Unit Gawat Darurat. Serangkaian pemeriksaan dilakukan, termasuk USG untuk melihat dan memastikan keadaan bayi kami. Jika dihitung dari waktu Zitni memberikan alat uji kehamilan padaku waktu itu, istriku itu sudah telat kurang lebih lima minggu. Tapi konon katanya, dokter punya perhitungan lain soal kehamilan, dan perkiraan persalinan. Mereka menghitungnya mulai dari hari pertama haid terakhir, bukan kapan pertama kali berhubungan. Ah, entahlah. Laki-laki sepertiku ini jarang-jarang yang peduli pada hal tersebut. Padahal seharusnya hal seperti ini diketahui juga oleh pada pria, apalagi jika setelah menikah langsung hamil. Bisa-bisa mereka akan salah menduga dengan waktu kehamilan ini. Aku menarik nafas lega, istri dan bayiku tak apa-apa. Mereka baik-baik saja, Zitni hanya kecapean dan
Pesona Istri Season 3 Tidurku merasa terganggu karena pergerakan yang terus menerus, apa Zitni tak bisa tidur dengan nyenyak. Kenapa, apa dia merasa tak nyaman dengan perutnya?"Ada apa?" Akhirnya aku terbangun juga. "Aku pengen," jawabnya, dengan suara lirih. Lebih ketidak enak untuk meminta. Apa jangan-jangan dia ingin melakukan hal itu, konon katanya orang hamil hormonnya tak stabil hingga membuat hasratnya juga naik. "Pengen apa?" penasaran aku bertanya. Sejak hamil, tak pernah sekalipun dia meminta sesuatu layaknya orang ngidam. Khawatir dia memang bukan pengen makanan. "Aku pengen makan bakso, berkuah hangat dan nikmat," jawabnya.Ah, otakku sudah kemana-mana saja. Kulihat jam dinding yang terpasang di dinding kamar kami. Jam setengah tiga dini hari, siapa yang jualan bakso jam segini. Aku menghela nafas panjang. "Pengen banget, ya?" Tanyaku memastikan. Berharap dia berubah pikiran. "Aku udah nahanin sejak tadi jam dua belas malam, Abanh. Tadi saat terbangun, tiba-tiba
Pesona Istri Season 3 "Abang, Abang ...." Tubuhku terasa berguncang. Dari yang mulai pelan berlanjut ke kencang. "Apa sih Zitni, mau lagi?" Aku menggeliat malas. Bukannya menjawab pertanyaanku, wanita itu malah meringsek masuk ke dalam pelukanku. Aroma tubuhnya yang wangi membuatku ingin kembali. Entah kapan dia mandi, aku tak tahu karena langsung terlelap begitu menyelesaikan hajatku dengannya.Numun berbeda denganku, sepertinya istriku malah tidak tidur. Buktinya dia sudah mandi saja. Kupikir aku baru memejamkan mata, menikmati rasa nikmat dan nyaman dalam tubuhku. Setelah melepaskan sesuatu yang kutahan hampir sebulan karena dia hamil muda, akhirnya tubuhku terasa sangat ringan. "Ada apa, Sayang?" tanyaku penasaran. Tak mungkin dia ingin lagi padahal sudah mandi. "Aku lapar," sahutnya. Nah, mulai lagi kan. Sejak semua orang tahu dia hamil, Zinti mulai sering meminta makanan tanpa kenal waktu. Kalau dulu Mama hanya meminta tapi Papa yang makan, berbeda dengan Zitni. Dia akan