"Mengapa baginda ratu selalu mengacaukan rencanaku?" Cakra memandang tajam kepada Mahameru dan Jendral Perang. Laporan mereka belum pernah menggembirakan. Ratu Nusa Kencana mengirim separuh kekuatan tokoh istana untuk menggempur markas besar pemberontak, bersamaan dengan pengiriman bantuan untuk pertempuran di hutan perbatasan. Sebuah keputusan sangat gegabah mengingat informasi telik sandi tidak akurat. "Apa yang mendasari keputusan sri ratu sampai mengeluarkan keputusan konyol? Bagaspati tidak memberi tahu kalau peta markas besar dari telik sandi absurd?" Pengetahuan telik sandi sangat terbatas tentang landscape kediaman Tapak Mega. Mereka sulit mencari informasi akurat. Beberapa di antara mereka tertangkap dan tidak diketahui nasibnya. "Bagaspati sudah mengingatkan bahwa informasi telik sandi absurd sejak mendapat komplain dari gusti pangeran, patik juga sudah memberi tahu kalau situasi belum memungkinkan, Jendral Perang bahkan menentang keras penyerbuan secara sporadis, ia s
"Puteri mahkota sangat kecewa dengan keputusan sri baginda yang merendahkan pangeran." Mahameru terduduk lesu di kursi. Wajahnya berawan seakan menanggung beban berat. "Gusti puteri ingin mengasingkan diri di Istana Rajapati sampai masa kelahiran, maka itu gusti puteri memandang perlu untuk berjumpa dengan pangeran." Perseteruan mereka sulit dihindarkan, pikir Cakra kelu. Dewi Anjani pasti tidak rela ibundanya campur tangan urusan di Bukit Penamburan. Keputusan Ratu Nusa Kencana menimbulkan kegaduhan, dan selalu mengulangi kesalahan serupa. Padahal puteri mahkota sudah menyerahkan sepenuhnya kepada mereka. Sekarang perseteruan mencapai puncak dengan minggatnya puteri mahkota dari Istana Kotaraja. Berarti ia benar-benar sulit menerima keputusan ibundanya. "Puteri mahkota semestinya memahami kalau sri baginda terpaksa melangkahi diriku untuk menyelamatkan leluhur Nusa Kencana." "Gusti puteri percaya pada keterangan kami kalau Nyi Ratu Suri ada bersama pangeran. Menurutnya tidak mu
"Apakah tiga puluh belum cukup bagimu?" Rismala mendelik marah saat Ranggaslawi masuk ke pesanggrahan. Ia berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan tertotok. "Sekarang kau memintaku jadi istri terakhir!" "Aku akan menceraikan mereka jika kau bersedia married denganku. Aku ingin menghabiskan sisa umur di Amsterdam, kota impianmu." "Bebaskan aku!" "Aku akan membebaskan dirimu kalau kau berhenti berteriak. Kau mestinya berpikir kenapa aku tidak menjamahmu, aku ingin kau ikhlas melayani, aku sangat menyayangimu." Rismala mengakui pendekar botuna sangat bebas berbuat apa saja karena ia tak berdaya. "Tua bangka tidak tahu malu!" "Kalau tahu malu, aku tidak jatuh cinta kepadamu." "Kenapa kau tidak memilih satu di antara istrimu untuk menghabiskan hari tua di Amsterdam?" "Mereka married denganku lantaran duit, aku lantaran nafsu. Jadi apa yang tersisa nanti di kota romantis?" "Kau tahu aku tidak pernah mencintaimu!" "Tapi aku sangat mencintaimu. Aku tidak peduli bagaimana perasa
Acara ritual penyatuan Ranggaslawi dan Rismala berlangsung khidmat, kemudian berlanjut dengan jamuan makan malam. Sahabat dan tokoh istana terpercaya saja yang menghadiri. Kuatir terdengar oleh sri ratu, ia pasti makin antipati kepada putera mahkota, lagi peperangan mengadakan acara perkawinan, meski mereka tidak dilibatkan. "Macan betina akhirnya jinak juga," canda Golok Santet. "Jangan jadi marmot di kamar, pasti digasak habis!" Mereka tertawa. "Apakah masih kuat di tanjakan?" goda Gagak Betina. "Aku kuatir kehabisan nafas sebelum mencapai puncak." "Usiaku separuh lebih banyak dari suamimu," balas Ranggaslawi. "Kemampuanku juga berarti separuh lebih banyak." Rismala tidak ada pilihan selain mengakhiri masa jomblo dengan pendekar botuna. Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Tapak Mega terlibat dalam peperangan yang tak mungkin dimenangkan. Keponakannya, Pangeran Penamburan dan Srikiti tewas dalam bentrokan dengan kalangan sendiri. Rismala berharap Ranggaslawi menyayangi d
"Keinginan ananda apa tidak bisa dibicarakan lagi?" Ratu Purbasari mencoba menahan kepergian puteri mahkota. Rombongan besar sudah siap berangkat di halaman istana. Tiga kereta kencana dengan model sama persis berderet di antara kereta logistik dan pegawai istana. Tiga kereta itu untuk menyamarkan keberadaan puteri mahkota dari ancaman di perjalanan. "Aku kira meninggalkan istana Kotaraja bukan solusi terbaik." "Tidak ada solusi terbaik untuk situasi ini," sahut Dewi Anjani. "Ibunda ratu selalu mengulangi kesalahan serupa, kesalahan yang membuatku bisa kehilangan garwa." "Keputusanku semata-mata untuk menyelamatkan leluhur kita." "Keputusan itu hanya asumsi dari Ratu Singkawang," tegas Dewi Anjani keras. "Patih Mahameru sudah menjelaskan bahwa Nyi Ratu Suri berada bersama mereka. Alangkah naif mengira ia tersesat di labirin ciptaannya." "Ketua lama sudah merubah lay out dan menciptakan beberapa labirin untuk kepentingan Tapak Mega. Hal itu yang menjadi pertimbangan diriku." "N
"Lembu Sakti memberi kabar Reksajiwa dan beberapa tokoh istana terperangkap di labirin alam." Mahameru menyampaikan laporan saat makan siang. Cakra kelihatan asyik menikmati panggang ayam hutan seolah tidak mendengarkan. Padahal Lembu Sakti adalah wakil ketua tokoh istana yang sangat mendukung kebijakan putera mahkota, sepatutnyalah diperhatikan. Tapi Mahameru tidak menyalahkan sang pangeran kalau menanggapi dengan dingin. "Aku sudah memberi tahu kalian tentang kemungkinan yang terjadi, lalu apa yang menarik?" "Patik tahu laporan ini kurang nyaman untuk pangeran. Tapi Lembu Sakti meminta patik untuk menyampaikan kepada pangeran." "Lalu apa jawabanmu?" "Agresi ke markas besar pemberontak bukan di bawah kendali pangeran, jadi pangeran sulit turun tangan tanpa perintah baginda ratu." "Tanggapan Lembu Sakti bagaimana?" "Ia mencoba mengerti. Maka itu ia dan rombongan menunggu keputusan dari istana." "Takkan ada perintah apapun dari istana selain menunggu mereka keluar dari labirin
"Mereka menunggu purnama untuk kembali ke alam roh." Cakra tahu dari Nyi Ratu Suri kalau gerbang transisi hanya terbuka saat purnama, sehingga mereka gentayangan di alam nyata. "Berarti makhluk roh menunggu di markas besar sampai purnama tiba," kata Iblis Cinta. "Kita mesti dapat mencegatnya sebelum masuk ke gerbang transisi." "Prioritas kita adalah menangkap Tapak Mega dan lima wakilnya," sahut Cakra. "Tiga lagi biarlah pulang ke alam roh. Mereka tidak dapat berkuasa di alam nyata tanpa bantuan makhluk kasat mata." "Apakah seperti itu sifatnya?" tanya Mahameru. "Bukankah mereka menjadi kunci kekuatan Tapak Mega?" "Hanya sebagian kecil makhluk roh yang mampu menampakkan diri tanpa bantuan energi inti makhluk nyata. Sebagian besar menjadi roh gentayangan dan butuh media penampakan." "Berarti tugas kita menunggu di istana Curug Empat?" "Ya. Hari sudah sore. Lampu yang sekiranya perlu saja dinyalakan." Cakra berkeyakinan Tapak Mega dan lima wakilnya tidak bertahan di marka
"Aku tahu kau sangat menantikan kedatanganku karena rindu kepada puteri mahkota." Nyi Ratu Suri menampakkan diri di dekat Cakra yang berbaring di tempat tidur. Ksatria itu bangkit duduk dengan sumringah. Lamunan percintaan dengan Dewi Anjani serta merta terbang dari kepalanya. "Kau tahu kenapa aku sangat mengharapkan kehadiranmu?" "Kau sedang berfantasi bercinta dengan Anjani." Terkaan ratu bidadari jarang meleset, tapi jarang juga Cakra mengakuinya. "Jangan sotoy. Aku rindu berguru padamu." Cakra membuka kancing blus berenda emas. Nyi Ratu Suri memeriksa suhu pemuda itu dengan menempelkan punggung tangan di dahinya. "Normal." "Yang bilang demam siapa?" "Kau bilang rindu berguru padaku, kenapa kau buka kancing bajuku?" "Aku tahu kau menurunkan ilmu kanuragan lewat bercinta." Nyi Ratu Suri terkejut. Matanya memandang tak berkedip. "Jangan drama deh," kata Cakra. "Aku tertarik dengan ilmu Seruput Jiwa." "Kau serius?" "Kok kayak kurang pede jadi guru? Sumpah! Kau adalah gur
"Terimalah hukuman atas kelancangan dirimu!" Ketua lama berubah menjadi Bintang Kehidupan dengan sinar kemerahan yang menyilaukan mata. Bintang itu berusaha menyambar Cakra yang bergerak menghindar dengan lincah. Semua pendekar yang berada di sekitar mereka berusaha menghalangi pandangan dari sinar yang membutakan mata itu. "Ketua lama mulai mengeluarkan ilmu dari kitab terkunci," keluh Ratu Purbasari. "Sampai kapan Cakra mampu bertahan?" "Ilmu warisan Wiraswara sangat dahsyat di tangannya, tapi tidak cukup untuk menandingi," kata Ratu Sihir. "Kita juga tidak bisa menolong, bahkan untuk diri sendiri." "Hei! Lihat...!" seru Ratu Ipritala. Cakra berubah menjadi Seberkas Sinar. Cahaya berekor berwarna keemasan itu menggulung Bintang Kehidupan meninggalkan siluet di angkasa. "Ratu Kencana kiranya sudah mewariskan ilmu roh kepada pangeran," ujar Ratu Purbasari. "Tapi belum cukup untuk memenangkan pertarungan." Padahal ilmu itu diperoleh dari Nyi Ratu Suri lewat kemesraan, dan men
"Aku adalah Raja Agung yang akan menyeretmu pulang ke gerbang siksa." Sebilah pedang kencana muncul secara tiba-tiba di tangan Cakra, pedang itu jelmaan Tongkat Petir. Ketua lama tertawa dengan congkak. "Ha ha ha! Jadi kau murid Ki Gendeng Sejagat?" Sebuah tongkat yang sama persis muncul dalam.genggaman ketua lama, kemudian tongkat itu berubah menjadi pedang serupa. Aku tidak pernah mendengar Tongkat Petir mempunyai kembaran, batin Cakra. Tapi guruku pernah menciptakan duplikatnya. Aku tidak tahu mana yang asli. "Ha ha ha! Gurumu benar-benar gendeng sudah mewariskan tongkat palsu kepada muridnya!""Aku yakin tongkatmu palsu, seperti tongkat di balik celanamu!" Ratu Dublek tersenyum mengejek, ia berkata, "Apakah kau sekarang masih cukup nyali untuk menantang garwaku setelah mengetahui tongkatmu palsu? Aku memberi kesempatan kepadamu untuk hidup dengan melanjutkan permainanku yang terganggu olehmu." "Kau bukan perempuan seleraku," kata Cakra sinis. "Kakek peot itu sudah me
Puluhan prajurit mengejar Ranggaslawi. Ia sengaja membawa mereka ke arah sekelompok pasukan gabungan berada. Ratu Sihir bengong melihat kejadian itu, ia bertanya, "Bukankah pendekar botuna sudah pergi ke hutan alas?" "Cakra pasti membawanya kembali," keluh Ratu Purbasari. "Aku heran bagaimana ia bisa bersahabat dengan pendekar cabul. Rencana kita hampir berantakan gara-gara mereka.""Dan sekarang benar-benar berantakan." "Kau harus menegur Cakra dengan keras. Tindakannya sudah melanggar prosedur." "Pangeran kepala batu." "Kau lunakkan dengan body goal mu. Kelemahan kesatria mata keranjang adalah keindahan wanita." "Kenapa bukan kalian saja?" "Maharini keguguran dan Rinjani belum hamil-hamil. Jadi kami tiada alasan untuk bercinta dengan menantu. Lagi pula, selera Cakra bukan maharatu yang mempunyai banyak simpanan." "Ngomong saja kalian kalah cantik." Mereka tiba di alun-alun istana. Pertempuran terjadi di berbagai penjuru. Serangan prajurit musuh datang secara bergelombang
"Mereka sedang mengawasi kalian."Ranggaslawi dan kawan-kawan pucat pasi mendengar keterangan Jaka, meski mereka tak dapat melihatnya. "Baguslah kalian ada rasa hormat," sindir Cakra. "Padahal Ratu Kencana tahu bagaimana bejatnya kalian." "Aku sudah menduga kau punya beking handal," kata Ranggaslawi. "Hanya indung leluhur garwamu yang dapat melumpuhkan ketua lama." "Maka itu aku akan pergi ke dasar segara untuk membantu Nawangwulan. Kalian bantulah Nyi Ratu Kencana." "Enak saja melimpahkan tanggung jawab kepadaku!" sergah suara tanpa wujud. "Kau bereskan dulu urusan di kota Dublek!" "Aku muak berjuang di bawah kecurigaan." "Aku hanya ingin memastikan kau tidak main-main dengan ajian Serat Cinta!" "Kau tahu aku suka main-main." "Baiklah! Aku pergi! Aku akan mengutuk dirimu jadi buruk rupa kalau berani macam-macam!" "Kebetulan aku sudah bosan berwajah ganteng." Ratu Kencana pasti pikir-pikir untuk bertindak senekat itu, kecuali ia siap menerima gelombang protes dari seluruh p
Cakra kemalaman di hutan alas, di mana pada setiap pohon dihuni ular piton. Binatang itu tidur melingkar di batang pohon. Hutan alas merupakan jalan pintas menuju kerajaan Dublek. "Aku tidak tahu mereka tidak mengganggu diriku karena Ratu Siluman Ular atau ilmu Serat Cinta ku." "Aku kira mereka sungkan sama Yang Mulia. Jadi mereka pura-pura tidur." Ular piton yang biasa menjilati wajah Cakra kini seakan tidak terusik dengan kedatangannya. "Tapi aku menikmati situasi ini. Ajian Serat Cinta membuat hatiku terasa damai." Cakra singgah di kuil kuno yang pernah menjadi tempat pembantaian anggota sekte. "Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, Yang Mulia," kata si Gemblung. "Kita beristirahat di kota Dublek." "Aku mendengar suara percakapan di dalam kuil. Aku seperti kenal suara mereka." Cakra membuka pintu kuil. Ia terpukau melihat pendekar botuna duduk santai di sofa sambil minum tuak. "Kalian sedang apa di sini?" tanya Cakra heran. "Bukankah kekacauan di kota Dublek semakin meraj
Ketua lama Dewan Agung berhasil kabur dari gerbang siksa. Ia menjadi pendukung utama Ratu Dublek. Raden Mas Arya Bimantara sebagai ketua baru sungkan untuk menangkapnya. Ratu Kencana sampai turun tangan melobi Cakra, ia sangat peduli dengan kegaduhan yang terjadi. Padahal ia berasal dari langit berbeda. "Nusa Kencana adalah negeri warisanku, aku memiliki keterikatan batin dengan penguasa istana." "Kenapa kau tidak menegur ketua baru untuk bertindak tegas?" "Kepandaian Arya Bimantara belum memadai untuk meringkus ketua lama." "Kenapa diangkat jadi ketua Dewan Agung kalau tidak memenuhi syarat?" "Ia paling pantas menjadi tetua! Tapi ketua lama mempunyai ilmu tertinggi di langit!" "Lalu kau pikir aku memadai? Aku bisa jadi ayam penyet!" "Aku sudah menurunkan intisari roh kepadamu. Jurus dan pukulan saktimu sekarang jauh lebih dahsyat." "Aku diminta taat aturan, kau sendiri tidak tahu aturan. Kau menurunkan ilmu tanpa seizin diriku. Kau seharusnya memberikan ilmu itu kepada indu
Plak! Plak!Dua tamparan keras kembali mampir di wajah Cakra.Kesatria gagah dan tampan itu tersenyum, ia hanya memiliki senyuman untuk perempuan cantik."Aku teringat pertemuan kita di hutan kayu," kata Cakra. "Kau lima puluh kali menampar wajahku sebelum mempersembahkan lima puluh kenikmatan."Plak! Plak!Cakra merasa ada aliran hangat dari tamparan itu, berangsur-angsur menyegarkan tubuhnya."Jadi kau sekarang mengalirkan energi roh melalui tamparan? Apakah Raden Mas Arya Bimantara melarang dirimu untuk bercinta denganku? Jadi kau masih mencintai lelaki pecundang itu? Aku sendiri malu mempunyai indung leluhur seperti dirinya...."Plak! Plak!"Jawabanmu sangat menyebalkan diriku," gerutu Cakra."Kau benar-benar pangeran terkutuk!""Aku mengakui diriku pangeran terkutuk ... terkutuk menjadi gagah dan tampan, bahkan menurut body goal magazine, aku satu-satunya pangeran yang dirindukan tampil telanjang di sampul depan! Tapi kecerdasan buatan tidak mampu menduplikat diriku, lebih-lebih
Puteri mahkota khawatir kesembuhan dirinya menimbulkan masalah baru bagi kerajaan.Bagaimana kalau Nyi Ratu Kencana murka dan menurunkan bencana yang lebih besar?"Aku kira Cakra sudah mempertimbangkan secara matang," kata Pangeran Liliput. "Ia terkenal sering bicara gegabah, namun tak pernah bertindak gegabah."Puteri mahkota memandang dengan resah, ia bertanya, "Bagaimana jika kutukan itu menimpa calon garwaku karena sudah melanggar kehendak ketua langit?" "Janganlah berpikir terlalu jauh, ananda," tegur Ratu Liliput lembut. "Belum tentu apa yang ananda pikirkan itu kejadian.""Bagaimana kalau kejadian, ibunda? Aku pasti disalahkan permaisuri pertama."Puteri Liliput segera meninggalkan pesanggrahan untuk menjumpai calon suaminya.Penjaga bilik tirakat segera berlutut dengan sebelah kaki menyentuh lantai begitu puteri mahkota dan baginda ratu tiba di hadapannya."Bukalah pintu bilik, Paman," pinta Puteri Liliput. "Aku mau masuk.""Patik mohon ampun sebelumnya, Gusti Puteri ... gust
"Ceesss...!"Bunyi pergesekan ujung Tongkat Petir dengan leher Puteri Liliput berkumandang menyerupai bunyi besi panas dicelupkan ke dalam air, seiring mengepulnya asap hitam tebal beraroma busuk.Keringat mengucur deras dari kening Cakra. Tongkat Petir bergetar keras sampai tangannya turut bergetar.Asap hitam tebal menyelimuti pesanggrahan, sehingga menghalangi pandangan sri ratu, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka."Semoga tidak terjadi apa-apa...."Baginda ratu menutup pintu pesanggrahan karena tidak tahan menghirup bau busuk yang sangat menyengat.Ratu Liliput menunggu dengan cemas di depan pintu pesanggrahan.Pangeran Nusa Kencana sungguh nekat mengobati Puteri Liliput, ia tak sepatutnya mengorbankan nyawa untuk hal percuma."Hanya Nyi Ratu Kencana yang dapat menghilangkan kutukan itu," kata Ratu Liliput lemas. "Kesalahan diriku telah membuat murka para ketua langit."Ratu Liliput membuka pintu sedikit, asap tebal menerobos keluar.Ratu Liliput segera menutup pintu kem