Share

Bab 3

Author: Arif
Pekerjaan yang tersisa sudah tidak terlalu sulit. Wira hanya perlu membersihkan rumputnya, lalu menghaluskannya dalam lesung batu.

Setelah bekerja hingga seluruh badannya sakit, Wira baru mengumpulkan seember rumput yang sudah dihaluskan.

Dia pun menjinjing ember itu sampai ke Sungai Jinggu sambil sesekali beristirahat selama perjalanan.

Wira memilih tempat yang ada banyak ikan, lalu menabur tepung kedelai ke dalam sungai.

Setelah ada umpan, ikannya menjadi semakin banyak. Wira pun menuangkan serpihan rumput ke dalam sungai dengan hati-hati.

Seiring dengan serpihan rumput yang menyebar, satu demi satu ikan pun mulai mengapung.

...

Tidak lama kemudian, Wira sudah berhasil menangkap delapan ekor ikan besar dan lima belas ekor ikan kecil.

Ikan yang besar beratnya di atas dua kilogram, sedangkan yang kecil beratnya di atas 250 gram. Wira melepaskan ikan yang lebih kecil dari itu.

Setelah matahari terbenam, Wira pun pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, Wira melewati sebuah gubuk jerami di ujung timur dusun. Di depan gubuk jerami itu, ada sebuah kandang sapi dan halaman kecil yang dibatasi dengan pagar bambu.

“Paman Hasan!” teriak Wira.

Tiga gadis cilik berlari keluar dari rumah. Mereka menatap Wira dengan penasaran, tetapi juga takut.

“Wira, ya? Pamanmu baru keluar. Ada apa?”

Seorang wanita paruh baya berjalan keluar dari rumah. Dia menatap Wira dengan waspada.

“Bibi Hani, siang tadi Paman Hasan sudah membantuku. Jadi, aku bawain beberapa ekor ikan untuk kalian!”

Wira menaruh dua ekor ikan besar dan enam ekor ikan kecil di depan rumah mereka. Setelah itu, Wira pun pergi.

“Ah! Ini sudah terlalu banyak! Wira, kamu bawa pulang saja!”

Bibi Hani yang awalnya terlihat waspada pun tercengang.

Pada zaman ini, semua orang hidup miskin. Kerabat yang membantu biasanya juga hanya memberi sedikit bahan pangan sebagai balasan, mana ada orang yang langsung memberikan begitu banyak ikan.

Bahkan kepala dusun yang paling kaya pun tidak rela membeli begitu banyak ikan pada saat Tahun Baru.

Jika ikan yang diberi Wira dijual, mereka sudah bisa menghasilkan beberapa ratus gabak. Bagi Hani, hadiah ini terlalu berharga.

Hani tidak mengerti kenapa si Pemboros itu memberikan begitu banyak ikan untuk mereka.

“Aku masih ada kok!”

Wira sama sekali tidak menoleh dan langsung pergi.

“Ikan! Ikan!”

Tiga gadis cilik itu langsung mengelilingi delapan ekor ikan dengan bersemangat.

Hani sangat kebingungan. Dia ingin memasak ikan itu untuk anaknya, tetapi juga merasa sayang dan takut.

Tidak lama kemudian, Hasan dan kedua putranya kembali.

Hani pun berkata dengan cemas, “Hasan, Wira bilang kamu sudah bantu dia. Jadi, tadi dia bawakan begitu banyak ikan untuk kita. Sebenarnya kamu bantu dia ngapain? Kenapa dia kasih kita begitu banyak ikan?”

“Aku cuman bantu dia gali rumput sebentar. Dari mana dia dapat begitu banyak ikan?”

Hasan menatap delapan ekor ikan itu dengan heran, lalu bertanya, “Kamu nggak salah lihat? Memang Wira yang kasih?”

Untuk mendapatkan ikan sebanyak ini, para nelayan juga harus melaut selama beberapa hari.

Kenapa Wira yang begitu lemah bisa menangkap begitu banyak ikan?

“Aku toh nggak buta, masa bisa salah mengenali Wira!” ujar Hani sambil memelototi Hasan.

Namun, Hani sudah tenang karena Hasan memang sudah menolong Wira. Dia pun menyimpan ikan itu dan berencana memasak seekor untuk dinikmati mereka sekeluarga.

Ikan yang tersisa akan dia jual untuk membeli kain. Sudah mau Tahun Baru, Hani mau membuat pakaian untuk anak-anaknya.

“Nggak bisa, kita nggak boleh terima. Aku nggak tahu dari mana dia dapatkan ikan ini, tapi dia berutang begitu banyak pada Pak Budi. Dia bisa menjual ikan-ikan ini untuk bayar utang.”

Hasan memasukkan ikan-ikan itu ke ember kayu, lalu hendak membawanya pergi.

“Hasan!” Hani memohon, “Balikin saja ikan yang besar ke Wira. Kita boleh masak ikan yang kecil untuk anak-anak. Mereka sudah lama nggak makan daging. Lagian, ikan kecil juga nggak begitu bernilai.”

Saat melihat kelima anaknya yang menelan ludah, Hasan pun meninggalkan enam ikan kecil dan membawa dua ikan besar itu pergi.

“Paman Hasan, dari mana kamu tangkap ikan sebesar itu! Satu ekor ini beratnya ada sekitar 2-3 kilo, ‘kan?”

Sony yang sedang berkeliaran di dusun menghampiri Hasan. Saat melihat dua ekor ikan yang dibawa Hasan, dia pun langsung menelan ludah. Dia sudah lama tidak makan enak.

Hasan menjawab, “Dua ekor ikan ini punya Wira, aku mau balikin ke dia!”

“Punya Wira?”

Sony tidak percaya.

Siang tadi, si Kutu Buku itu masih menggali rumput. Kenapa bisa tiba-tiba ada dua ikan besar?

Tubuh Wira sangat lemah, sedangkan ikan yang ditangkapnya sangat berat. Berhubung Wira terus berhenti untuk istirahat di sepanjang jalan, Hasan sudah menyusulnya sebelum dia sampai ke rumah.

Hasan mau mengembalikan ikannya, tetapi Wira tidak mau menerimanya. “Paman, kamu ngapain sih? Aku sudah bilang itu untukmu, kenapa dibalikin lagi?”

“Wira, Paman sudah terima ikan kecilnya. Kamu jual saja ikan yang besar untuk bayar utang.”

Hasan langsung memasukkan ikan itu ke keranjang bambu Wira.

“Paman, harga dua ikan ini juga nggak cukup bayar utang.”

Wira mengeluarkan ikannya lagi. “Kalau kamu merasa nggak enak, suruh saja Danu dan Doddy untuk bantuin aku besok. Aku jamin kelak kalian pasti bisa makan daging tiap hari!”

‘Makan daging tiap hari?’

Hasan sangat kaget.

Dia toh bukan pejabat, mana mungkin dia bisa makan daging setiap hari? Sudah bagus apabila mereka tidak kelaparan.

Namun, setelah melihat begitu banyak ikan yang Wira tangkap hari ini, Hasan pun sedikit menantikannya.

...

“Wira ke mana? Kenapa masih belum pulang? Jangan-jangan dia kabur?”

Wulan menunggu di depan pintu dengan gelisah.

Tepat pada saat hatinya kacau, dia melihat seseorang berjalan perlahan ke depan pintu.

Wulan langsung berlari menghampirinya. Saat melihat keranjang bambu yang dipenuhi ikan, Wulan langsung terkejut. Dia mengulurkan tangannya dengan maksud untuk membantu Wira. “Suamiku, kok kamu bisa punya begitu banyak ikan?”

Wira mencegah Wulan yang ingin membantunya mengangkat keranjang bambu itu, lalu berkata, “Ini terlalu berat, aku saja yang angkat!”

Wulan sangat kebingungan. Siapa yang memberi suaminya begitu banyak ikan?

Wira berkata lagi, “Malam ini, kumasakkan ikan buatmu ya!”

Wulan memaksakan seulas senyum. “Suamiku, kamu saja yang makan. Aku minum supnya saja. Besok, kita bisa bawa sisanya ke ibu kota provinsi untuk dijual!”

Wira memilih dua ekor ikan yang beratnya sekilo, lalu berkata, “Aku sudah punya cara untuk bayar utang. Nanti malam, kamu harus banyak makan. Kamu sudah terlalu kurus!”

Wulan menjadi sangat gelisah.

Suaminya bermulut manis lagi. Jadi, ikan-ikan ini pasti didapat dengan cara ilegal!

Wira membunuh dan membersihkan ikan yang akan dimasaknya. Wulan mau membantunya, tetapi Wira menyuruhnya untuk istirahat.

Tidak lama kemudian, Wira membawa dua ekor ikan yang sudah dia bersihkan ke dapur.

Namanya saja dapur, sebenarnya tempat ini hanyalah sebuah gubuk jerami yang diisi dengan kayu bakar, panci dan tungku api.

Di dalam sebuah lemari kayu, terdapat dua stoples yang berisi minyak dan garam kasar. Selain itu, juga ada lima buah mangkuk dan empat buah piring.

Di sampingnya, ada sebuah gentong besar berisi air. Di atas gentong, terletak sebuah gayung dan talenan.

Kesederhanaan tempat ini benar-benar mengejutkan Wira!

“Suamiku, kamu itu seorang pelajar. Aku saja yang masak!”

Wulan datang dengan membawa lampu minyak. Dapur yang tadinya gelap pun menjadi sedikit lebih terang.

“Nggak masalah, aku cuman mau cepat-cepat makan. Ayo nyalakan apinya!”

Wulan pun memanaskan pancinya. Kemudian, Wira menuangkan dua sendok besar minyak ke dalam panci.

“Suamiku, minyaknya terlalu banyak! Kalau begitu, minyak kita bakal cepat habis!”

Wulan sangat menyayangkan minyak yang digunakan Wira. Dua sendok besar minyak sudah cukup digunakan untuk setengah bulan.

“Kalau mau goreng ikan, minyaknya harus banyak. Gimana kalau gosong?”

Wira memasukkan kedua ekor ikan itu ke dalam panci. Suara gemericik begitu ikan masuk ke minyak panas pun terdengar. Aroma menggoreng ikan langsung menyerbak ke udara.

Gluk!

Wulan langsung menelan ludahnya.

Aroma ikan goreng yang harum juga menyerbak keluar dari dapur.

“Ikan! Keluarga Wira makan ikan! Makanan mereka bahkan lebih enak dari makanan kita waktu Tahun Baru!”

“Harum banget! Mereka pasti pakai banyak minyak!”

“Dia sudah berutang begitu banyak, kenapa masih berani makan ikan? Mana pakai begitu banyak minyak lagi! Dia memang boros banget!”

Saat mencium aroma ikan goreng yang harum, para penduduk yang melewati rumah Wira pun terlena.

Sony datang ke rumah Wira untuk mengecek apa yang dimakan Wira. Begitu mencium aroma yang harum, Sony pun kehilangan selera untuk memakan tiwul di piringnya.

Setelah menggoreng selama lima belas menit, Wira mengeluarkan garam untuk menaruh rasa.

Garam yang mereka pakai adalah garam yang belum dimurnikan. Warnanya masih sedikit kekuningan dan bercampur dengan kotoran.

Meskipun harganya tidak mahal, hanya sekitar 50 gabak untuk setegah kilogram, ada banyak penduduk yang tidak mampu membelinya.

Setelah ikannya matang, Wira menaruhnya ke piring, lalu menaburkan sedikit serpihan sayuran liar. Kemudian, dia membawanya ke meja makan.

Wira meletakkan sebuah piring berisi ikan di hadapan Wulan, lalu berkata, “Cepat makan! Nanti nggak enak kalau sudah dingin!”

Kruyuk!

Wulan sebenarnya sudah lapar, tetapi dia tetap tidak menyentuh ikan itu. Dia malah bertanya dengan berlinang air mata, “Suamiku, jujurlah padaku. Dari mana kamu dapat ikannya?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 4

    Di dunia ini, cara menangkap ikan sangat bervariatif, ada menjala, memancing dan menangkap ikan. Namun, masih belum ada yang menangkap ikan dengan obat bius.Wira berkata sambil tersenyum, “Aku sudah ketemu teknik rahasia yang bisa tangkap banyak ikan. Cepat makan! Hati-hati tulangnya!”“Teknik rahasia menangkap ikan?”Wulan tidak begitu percaya. Dia menjadi waswas lagi setelah mendapat perhatian dari Wira.Namun, Wulan tidak lanjut bertanya lagi. Kedua orang itu pun mulai menyantap makanan mereka.Entah karena pemilik tubuh sebelumnya terlalu jarang makan ikan atau karena ini adalah ikan liar, Wira merasa ikan yang digoreng dengan garam ini sangat lezat. Dalam sekejap, dia pun sudah menyelesaikan santapannya.Wira melirik Wulan yang makan dengan pelan. Ikannya masih tersisa setengah.“Suamiku, aku sudah kenyang. Makan saja ikannya!”Saat melihat Wira yang menatap dirinya, Wulan pun buru-buru meletakkan sendoknya dan mendorong piring berisi ikan itu ke depan Wira.“Aku sudah kenyang ko

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 5

    Sony berdiri di depan pintu rumah Wira dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.Wira yang melihatnya pun bertanya, “Ngapain kamu berdiri di sini?”Danu dan Doddy langsung melangkah keluar untuk mengepung Sony.Mereka merasa Sony yang pagi-pagi datang ke rumah Kak Wira pasti berniat jahat!Sony langsung terkejut dan buru-buru mundur. Dia berkata, “A ... aku ingin makan ikan!”Si Sony ini benar-benar tidak tahu malu. Wira menggeleng, lalu menjawab, “Kamu datang terlambat, ikannya sudah habis!”Sony berkata dengan cemberut, “Nanti malam masih ada, ‘kan? Asal bisa makan ikan, aku nggak masalah harus ikut banu gali rumput seharian!”Saat berkeliaran semalam, Sony menemukan bahwa keluarga Wira dan keluarga Hasan sudah makan ikan.Saat berkeliaran pagi ini, dia menemukan keluarga Wira makan ikan lagi bersama Hasan dan kedua putranya.Setelah memikirkan keuntungan yang dikatakan Wira kemarin, Sony akhirnya mengerti apa yang sudah dilewatkannya. Dia sudah kehilangan dua kesempatan untuk ma

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 6

    Namun, Wira tidak memedulikan peringatan Hasan. Dia malah berkata sambil tersenyum, “Pak Agus, bisa saja aku bagi ikannya untukmu, tapi kamu juga harus tanggung sedikit utangku! Kalau nggak mau bantu aku tanggung utangnya, kamu boleh bagi sedikit tanahmu padaku. Soalnya, tanahku juga sudah dijadikan jaminan.""Dasar anak tak tahu diri!”Selesai berbicara, Agus pun pergi dengan marah.Dia hanya menginginkan seekor ikan Wira, tetapi Wira malah menyuruhnya untuk bantu menanggung utang dan juga meminta tanahnya. Kenapa si Pemboros itu begitu tidak tahu malu!“Pak Agus, jangan pergi! Aku cuman bercanda. Jangan marah, dong!” teriak Wira.Ikan yang didapatkan Wira hari ini sangat banyak. Dia tidak akan menolak siapa pun yang meminta ikan padanya. Namun, dia tidak akan menerima orang yang menuntut sesuatu dengan alasan yang tidak masuk akal.Agus sudah marah. Setelah mendengar ucapan Wira, dia juga tidak menoleh.Warga yang mengerti maksud Wira pun tertawa terbahak-bahak.Setelah itu, Wira pun

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 7

    “Baik, suamiku!”“Jangan panggil suamiku, panggil sayang saja!”“Nggak bisa!”“Kenapa?”“Sayang itu panggilan yang terlalu mesra! Kamu baru berubah jadi baik sama aku dua hari belakangan, aku masih belum siap panggil kamu begitu.”“Oh ....”Berhubung takut membuat suaminya marah, Wulan pun mengalihkan pembicaraan, “Omong-omong, pernah ada seorang peramal yang datang ke rumahku waktu aku masih kecil. Dia bilang, aku bisa jadi istri pejabat ke depannya.”“Istri pejabat?”“Suamiku, jangan marah. Ramalan peramal itu pasti nggak tepat, mana mungkin aku bisa jadi istri pejabat! Selama kamu menginginkanku, aku bakal menemanimu seumur hidup.”...Keesokan dini hari, Hasan dan yang lainnya sudah sampai ke rumah Wira. Setelah menaruh seluruh ember berisi ikan ke atas gerobak, kelima orang itu pun berangkat ke ibu kota provinsi.Sebelum mereka berangkat, Wulan menyerahkan sebuah kantong kain merah kepada Wira, “Suamiku, kalau uang menjual ikan nggak cukup, gadaikan saja gelang ini! Kalau masih ng

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 8

    “Beri hormat ke pemilik tanah?”Setelah melihat postur sekelompok orang ini, Wira baru tersadar. “Kalian datang buat minta biaya perlindungan?”Danu dan Doddy mengepalkan tangannya dengan marah. Hasan yang berdiri di belakang Wira juga mengerutkan keningnya.Sony buru-buru berbisik pada Wira, “Wira, aku lupa kasih tahu. Dia itu bos ikan Pasar Timur, namanya Iwan Projo. Dia punya julukan ‘si Perusuh’. Anak buahnya kira-kira ada sekitar belasan orang. Dia selalu ambil keuntungan 20% dari siapa pun yang mau jual ikan di Pasar Timur.”“Dua puluh persen?”Wira langsung naik pitam. “Kalian ambil keuntungan yang lebih banyak daripada pemerintah?”Mereka sudah bersusah payah untuk menangkap ikan selama dua hari dan harus berjalan kaki ke ibu kota provinsi untuk menjual ikan. Pemerintah hanya meminta keuntungan 10%, tetapi preman-preman ini malah minta 20%?Setelah mendengarnya, Doddy langsung marah. Bahkan Danu yang biasanya sangat tenang juga mengepalkan tangannya erat-erat.Preman-preman ini

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 9

    Seorang pria paruh baya berjalan mendekat dari kejauhan.Dia mengenakan topi hitam dan seragam biru yang dipadu dengan rompi merah. Di bagian tengah rompi itu terdapat tulisan ‘Patroli’. Dia mengenakan sepatu bot, di pinggangnya juga bergantung sebilah golok.Pria itu tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak pendek. Dia terlihat seperti orang cerdik pada umumnya.Namun, kemunculannya langsung membuat seluruh Pasar Timur menjadi hening.Semua amarah yang terukir di wajah setiap pedagang langsung sirna dan digantikan dengan seulas senyum menyanjung.Pria paruh baya itu adalah petugas patroli Pasar Timur. Namanya Eko Makmur.Status seorang petugas patroli tidak termasuk tinggi di ibu kota provinsi. Akan tetapi, para penduduk juga tidak berani menyinggungnya.Di ibu kota provinsi, jabatan yang berpangkat tinggi adalah patih, pejabat sipil dan jenderal militer. Selebihnya yang tidak berpangkat adalah hakim, patroli, panitera dan sebagainya. Mereka biasanya disebut ‘pejabat’.Meskipun para pe

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 10

    Wira tiba di Toko Besi Keluarga Salim di Pasar Utara. Ini adalah toko besi paman pemilik tubuh sebelumnya.Saat berumur sekitar 10 tahun, pemilik tubuh sebelumnya tinggal di rumah pamannya ini untuk belajar.Istri pamannya sudah meninggal saat persalinan. Jadi, paman dan putrinya hanya bisa bergantung pada satu sama lain. Mereka bersikap sangat baik terhadap pemilik tubuh sebelumnya.Namun, pamannya menentang pernikahan pemilik tubuh sebelumnya dengan Wulan tiga tahun yang lalu.Bagaimanapun juga, ada rumor bahwa keluarga Linardi akan dilenyapkan. Pamannya khawatir pemilik tubuh sebelumnya akan terlibat masalah.Akan tetapi, pemilik tubuh sebelumnya malah tidak mendengar nasihat pamannya. Alhasil, hubungan mereka pun menjadi dingin.Saat menikah, pemilik tubuh sebelumnya bahkan tidak mengundang pamannya. Selama tiga tahun terakhir, dia juga tidak pernah mengunjungi pamannya.Saat tiba di depan toko besi yang tidak asing itu, Wira pun berjalan masuk.“Siapa?” Terdengar suara seseorang

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 11

    Lestari dan Suryadi buru-buru keluar. Mereka melihat Wira mengangkat panci itu, lalu menuangkan campuran cairan gula dan lumpur kuning ke dalam corong yang dilapisi jerami.“Ayah, lihat!” ujar Lestari dengan cemberut.Suryadi juga melihat situasinya dengan kaget.Larutan gula itu mengalir turun melalui corong dan mulai terpisah.Tidak lama kemudian, bagian atas mengkristal menjadi gula putih, bagian tengah membentuk gula cokelat dan bagian paling bawah adalah ampas gula mentah.“Gula cokelat dan gula putih!” seru Lestari dengan terkejut.Harga gula mentah paling murah, 100 gabak per setengah kilo, sedangkan harga gula cokelat 300 gabak per setengah kilo. Di pasar, belum ada yang menjual gula putih.Perbandingan warna lapisan gula itu adalah 50% gula putih, 30% gula cokelat dan 20% ampas gula mentah.Dengan perbandingan seperti itu, gula cokelat yang didapat sudah bisa menutupi modal gula mentah. Sementara penjualan gula putih sudah benar-benar murni keuntungan.Suryadi, Hasan, Danu dan

Latest chapter

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3251

    Setelah menganggukkan kepala, Arhan dan Nafis langsung mulai membagi pasukan dan berlari ke dua arah.Melihat adegan itu, Joko langsung tercengang. Dia sudah sangat waspada untuk mencegah tipu muslihat dari musuh, tetapi dia tetap tidak menyangka musuh akan membagi pasukan pada saat seperti ini.Joko pun mengernyitkan alis dan berteriak, "Cepat kirim orang keluar. Kali ini kita harus benar-benar menumpas habis mereka. Selain itu, kirim mata-mata untuk menghubungi Jenderal Zaki, bilang sekarang pasukan musuh sudah lewat dan kita gagal menghentikan mereka."Wakil jenderal yang berdiri di samping menganggukkan kepala setelah mendengar perintah itu, lalu segera memimpin pasukan ke depan.Setelah membagi pasukan, Arhan dan Nafis langsung menjalankan rencana yang sudah disusun sebelumnya dan mengejar pasukan kavaleri Zaki.Beberapa saat kemudian, Zaki yang saat ini berada di barisan depan pun terus bersiap menghadapi serangan musuh.Pada saat itu, mata-mata yang mengikuti Zaki dari belakang

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3250

    Di dalam tenda sementara, Joko mendengar suara riuh dari luar. Ekspresinya langsung berubah serius. Dengan suara lantang, dia berteriak, "Gawat, ada masalah! Segera susun pertahanan!"Pasukannya segera bergerak dan mengatur pertahanan. Begitu semuanya siap, Joko langsung keluar bersama anak buahnya. Hampir bersamaan dengan itu, anak panah berdesingan di udara menuju ke arah mereka. Namun, ketika dia melihat ke depan, tidak ada tanda-tanda keberadaan musuh.Joko merasakan firasat buruk. Jantungnya berdegup kencang. Dia kembali memerintahkan, "Semua bersiap untuk melawan! Jangan sampai kita kalah dari musuh! Serang balik!"Mendengar perintah itu, pasukannya segera mengangguk, meskipun merasa merepotkan. Namun, beberapa orang mulai panik dan berseru, "Ada yang nggak beres! Ini jebakan!"Sambil mengatur pertahanan, Joko segera mencari wakilnya. Dengan ekspresi serius, dia berkata, "Ada yang aneh. Kamu segera atur pasukan dan tuntaskan masalah ini secepatnya! Kalau kita nggak bisa mengatasi

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3249

    Mendengar itu, Wira tersenyum tipis. Dia tentu memahami maksud Adjie. Dengan suara pelan, dia berkata, "Bagus, kalau semuanya sudah dipastikan, kita bisa langsung bertindak. Mulai saja sekarang. Kebetulan urusan kita sudah beres.""Tapi, jangan sampai terlibat pertempuran panjang, cukup ganggu mereka saja. Pastikan Nafis sudah siap."Adjie tersenyum mendengar perintah itu. Menurutnya, jika mereka ingin menyelesaikan masalah ini dengan tuntas, pertama-tama mereka harus memastikan Adjie bisa bergerak dengan leluasa. Karena itu, menurutnya rencana kali ini telah diatur dengan cukup baik.Setelah semua persiapan selesai, Wira tersenyum sendiri di dalam tenda. Apa gunanya musuh mengawasi pergerakannya? Semua itu sia-sia. Dia hanya perlu memastikan segalanya berjalan dengan baik sekarang.Beberapa saat kemudian, Wira terpikir akan sesuatu dan menatap peta di depannya. Dia berpikir sejenak, lalu menyadari sesuatu dan mengangguk pelan.Sesudah mempertimbangkan semua secara matang, dia bergumam

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3248

    Setelah beberapa saat, Wira menatap keduanya sebelum berkata, "Aku mengerti maksud kalian berdua, tapi saat ini hanya ini yang bisa kita lakukan.""Seperti yang dikatakan, semakin besar risikonya, semakin besar juga peluang keberhasilannya. Kalau mereka terpaksa mundur karena tekanan kita, pasukan kavaleri Zaki akan menjadi milik kita. Jadi, menurutku ini adalah solusi terbaik."Mendengar itu, Adjie dan Nafis hanya bisa mengangguk pelan. Meskipun rencana Wira terdengar masuk akal, mereka tetap merasa khawatir. Jika ada kesalahan dalam pelaksanaannya, situasi bisa berbalik menjadi bencana.Melihat ekspresi mereka, Wira tersenyum. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan tenang, "Baiklah, kalian berdua segera laksanakan rencana ini. Serahkan sisanya padaku."Mendengar perintah itu, keduanya memberi hormat, lalu segera pergi untuk menjalankan perintah.Sementara itu, Joko masih mengawasi pergerakan pasukan Wira. Namun, sejak tadi, tidak ada pergerakan mencurigakan dari pihak lawan. Hal i

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3247

    Mendengar pertanyaan Wira, Adjie yang berdiri di samping menyahut, "Tuan, mereka sudah menunggu di luar hampir dua jam. Selain itu, para mata-mata juga melaporkan bahwa yang datang kali ini adalah jenderal lain dari pasukan utara, yaitu Joko. Dia datang bersama Darsa."Datang bersama Darsa? Wira sedikit terkejut mendengar kabar ini. Dari sudut pandangnya, orang ini tampaknya lebih berbahaya dari yang dia bayangkan.Darsa adalah penasihat yang paling dipercaya oleh Bimala. Sebelumnya saat Darsa membawa pasukannya, Wira sudah mendapat laporan sejak awal. Namun, ini pertama kalinya dia mendengar nama Joko.Setelah berpikir sejenak, Wira bertanya, "Apa kalian pernah mendengar nama orang ini sebelumnya?"Adjie dan Nafis saling bertukar pandang, lalu Adjie menjawab, "Tuan, kami nggak tahu. Sepertinya dulu dia bekerja untuk orang lain. Kami memang pernah bertempur dengannya, tapi dalam situasi seperti sekarang, ini pertama kalinya kami melihatnya bergerak."Mendengar ini, Wira mengangguk pela

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3246

    Nafis yang berdiri di samping lantas mengangguk mendengarnya.Setelah urusan di sini selesai, Adjie berjalan masuk. Melihat mereka, Adjie berkata, "Pesan sudah dikirim. Sekarang tinggal menunggu bagaimana mereka merespons.""Tapi, menurutku situasi ini cukup merepotkan. Hanya saja, pasukan utara sudah kita permainkan sampai kebingungan sekarang. Itu hal yang cukup baik."Mendengar ini, Wira tersenyum. Pasukan utara memang sedang dalam posisi lemah, tetapi jumlah mereka tetap banyak. Jika dibiarkan, mereka masih bisa menjadi ancaman.Setelah mempertimbangkan semuanya, Wira berucap, "Sebenarnya, hal yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan masalah ini dari akar. Kalau kita bisa menuntaskan ini, sisanya nggak akan menjadi masalah besar."Adjie yang berdiri di samping mengernyit dan berkata, "Tapi, kalau begitu, masa kita hanya akan menunggu? Kita nggak bisa membiarkan mereka terus mengawasi kita."Wira tersenyum tipis. Setelah berpikir sejenak, dia menjawab, "Hehe, tentu saja ngg

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3245

    Di dalam perkemahan, Wira tidak menunggu lama. Nafis berjalan masuk dan berdiri di hadapannya. Setelah memberi hormat, dia bertanya, "Tuan, apa ada sesuatu yang perlu kukerjakan?"Tanpa bertele-tele, Wira langsung menjelaskan, "Ini sebenarnya cukup sederhana. Saat ini, kita telah menemukan celah dalam strategi musuh. Hayam sudah berhasil menahan pasukan utara, tapi untuk mencegah mereka melarikan diri, kamu harus memimpin pasukan dan menyerang mereka dari belakang."Mendengar ini, Nafis tertegun sejenak. Kemudian, dia segera mengangguk dan memberi hormat sebagai tanda setuju.Namun, dia tidak segera pergi. Hal ini membuat Wira agak bingung. "Ada masalah lain?" tanyanya.Nafis akhirnya berkata, "Tuan, saat ini nggak ada masalah. Tapi, di luar sana masih ada pasukan utara yang terus mengawasi kita. Kalau kita keluar begitu saja, mereka pasti akan mencoba menghentikan kita."Wira termangu sejenak dan baru menyadari sesuatu. Dia segera berujar, "Aku mengerti. Pantas saja mereka mengirim be

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3244

    Wakil jenderal itu segera mengangguk, lalu memimpin pasukannya untuk menerjang ke medan tempur. Melihat ini, Zaki mengumpat dan segera memanggil seorang mata-mata.Dengan suara tegas, dia memerintahkan, "Cepat kembali dan laporkan! Katakan bahwa kita telah ditemukan musuh dan sekarang kita butuh bantuan!"Mata-mata itu bergegas mengiakan, lalu langsung berlari pergi. Namun, saat berikutnya, sebuah anak panah melesat dan menembus dadanya, membuatnya terjatuh.Wajah Zaki langsung berubah serius. Tanpa membuang waktu, dia memanggil mata-mata lain dan menyuruhnya segera berangkat untuk menyampaikan pesan.Sementara itu, Hayam yang sedang mengawasi jalannya pertempuran bisa melihat pasukan utara semakin terdesak.Dia tersenyum, lalu berkata dengan suara rendah, "Bagus, segera laporkan kepada Tuan Wira! Kita bisa mulai mengerahkan pasukan untuk mengepung mereka sepenuhnya. Saat ini, mereka sudah dalam kendali kita!"Seorang prajurit segera mengangguk, menangkupkan tangan, lalu keluar untuk m

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3243

    Mendengar jawaban itu, Hayam tersenyum. Setelah berpikir sejenak, dia tertawa dan berkata, "Sepertinya ini memang kesempatan yang bagus. Aku nggak nyangka kita bisa bertemu Zaki dalam situasi seperti ini. Tampaknya kita benar-benar bisa meraih pencapaian besar di sini."Mendengar itu, para prajurit di sekeliling ikut tersenyum. Bagi mereka, jika keputusan sudah dibuat, tak ada pilihan lain selain bertarung habis-habisan.Hayam hanya merenung sejenak sebelum akhirnya berkata dengan tegas, "Baiklah, mulai bersiap! Pastikan semua sudah berada dalam posisi. Sembunyi dan tunggu aba-aba dariku!"Semua orang semakin bersemangat. Setelah tahu musuh yang mereka hadapi adalah Zaki, semangat mereka semakin membara.Setelah menunggu beberapa saat, waktu yang dinantikan akhirnya tiba. Beberapa orang sudah tidak sabar. Salah satu dari mereka berkata, "Sebelumnya aku masih nggak nyangka. Tapi, setelah peluang ini datang, kita nggak boleh menyia-nyiakannya."Orang-orang mengangguk setuju. Bagi mereka,

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status