Arka melepas Ana dari cengkramannya. Sementara Gio yang terbangun langsung memeluk Arka.
“Pa,” panggil Gio. Arka yang tadinya tak sadarkan diri langsung menyadari perbuatannya barusan pada Ana. Sementara Ana langsung mengambil baju dan pergi ke kamar mandi. Ana mengutuk dirinya di dalam kamar mandi. Dia terdiam cukup lama dan berusaha menyadari kejadian barusan. Setelah merasa cukup, dia lalu keluar ke kamar. Di kamar hanya tersisa Gio yang kembali terlelap dalam tidurnya. Sementara Arka sudah tak nampak di kamar itu. Ana pun melanjutkan aktivitas malamnya dan tak lupa mengunci pintu kamarnya. *** Pagi harinya, Ana melakukan kegiatan seperti biasa. Dia sudah mulai terbiasa dengan tugasnya. Gio terlihat sudah rapi memakai seragam sekolahnya. Mereka sedang sarapan pagi. “Non Ana baik-baik aja kan?” tanya bi Sri menyapa Ana di meja makan. Ana melihat bi Sri sambil menyuapi Gio. “Iya bi, baik-baik aja kok,” ucap Ana. Lalu bi Sri mencoba duduk di sebelah Ana. “Rambutnya basah ya non,” ucap bi Sri melihat ke arah rambut Ana yang setengah basah. “Iya bi, tadi pagi saya keramas. Soalnya udah dua hari belum keramas,” ucap Ana dengan lugunya. Dia masih belum memahami maksud dari bi Sri. “Ouhh, terus gimana yang tadi malam non?” tanya bi Sri lagi sambil menyembunyikan senyumannya. “Hah?” tanya Ana kebingungan mencoba memahami maksud bi Sri. “Iya non, itu loh,” ucap bi Sri sambil menaik turunkan sebelah alisnya. “Bi Sri salah paham,” ucap Ana menaruh piring makanannya Gio. Lalu bi Sri tertawa puas dan meneruskan pekerjaan menyiapkan makanannya. Ana menggigit bibirnya dalam. Dia tak ingin ada yang salah paham dengannya tadi malam. Belum sempat Ana menjelaskan, tiba-tiba Arka sudah turun dari lantai dua mengenakan pakaian rapinya. “Tuan, sarapan dulu,” peringat Bi Sri pada Arka. “Saya keburu, ada meeting pagi,” ucap Arka sambil melipat lengan bajunya. Sementara Ana mencoba fokus tanpa memperhatikan Arka. “Papa,” sapa Gio. Arka langsung memeluk Gio sekilas lalu langsung melepasnya. Arka pun langsung meninggalkan kediaman rumahnya itu. “Ayo Gio, saatnya berangkat sekolah,” ucap Ana. Gio pun menurut. Sementara di sebuah bangunan besar. Di dalamnya tengah ada beberapa staff yang menghadang kedatangan kedua orang. Mereka mencoba memberikan penjelasan. “Maaf Tuan dan Nyonya, Tuan Muda Arka tengah sibuk melakukan meeting bersama para klien penting,” ucap seorang staff penjaga resepsionis. “Saya tidak peduli, mana Arka. Saya harus bertemu dia,” ucap Rika dengan wajah masamnya. Sementara laki-laki di sampingnya tengah bersedekap dada. “Sabar Ma, kita tunggu sampai meeting nya selesai saja,” ucap laki-laki itu dengan tenang lalu duduk di ruang tunggu. “Gak bisa begitu Pa, Anak itu sudah sangat berlebihan. Dia membuat kerja sama proyek kita menurun,” ucap Rika dengan amarahnya yang menggebu. “Sudah Ma, jangan buat keributan. Malu, banyak karyawan Arka yang melihat dari tadi,” ucap Abraham. Dia tampak lebih tenang dari sang istri. “Mama capek sama anak itu!” keluh Rika mengibas rambut pendeknya. Lalu Arka tiba-tiba keluar dari ruang meeting dan langsung menemui orang tuanya. “Pa, Ma,” sapa Arka nampak menyambut kedatangan prang tuanya. “Mama kecewa sama kamu, Arka,” ucap Rika langsung to the point. “Ayo ke ruangan Arka,” ucap Arka tak enak jika harus berdebat dengan kedua orang tuanya di tempat banyak karyawan. “Demi perempuan itu kamu merelakan kerja sama yang sangat besar dampaknya untuk perusahaan kita. Dimana pikiran kamu Arka?!” geram Rika dengan nada penuh kecewa. “Ma, sudahlah. Kita kesini hanya ingin melihat Arka,” ucap Abraham. “Pa, ini urusan penting …,” geram Rika masih dengan nafas menggebu. “Arka, kenalkan Papa dengan istrimu. Bawa Gio juga, Papa rindu sama cucu papa itu,” ucap Abraham. “Gio lagi sekolah. Kalau gak ada hal yang lebih penting lagi, mendingan Papa sama Mama pergi dari kantor Arka,” ucap Arka dengan dingin. “Tuh kan Pa, anak ini gak tau diuntung emang!” ucap Rika memaki Arka. “Jangan anggap Papa ini orang lain, Arka. Papa masih papamu sampai kapanpun,” peringat Abraham sebelum membawa sang istri meninggalkan gedung itu. Arka meremas tangannya keras. Dia menatap ke kaca jendela di depannya. Sementara di tempat lain. Ana sedang menjaga Gio di luar sekolah. Banyak juga mama muda yang menunggu sang anak dari luar kelas. “Mbak, baby sitter nya Tuan muda Gio ya,” celetuk perempuan dengan pakaian sedikit terbuka. “Eum, kenapa mbak?” Ana tak langsung meng iyakan pertanyaan perempuan itu. “Beruntung banget ya, bisa ketemu setiap hari sama Tuan Arka yang paling tampan dan gagah itu. Duda Hot yang masih muda, siapa sih yang tidak mengenalnya,” ucap perempuan itu dengan heboh sambil membayangkan sosok Arka. “Emang kenal ya mbak?” tanya Ana semakin penasaran. “Gak kenal dekat sih. Tapi rata-rata orang daerah sini pasti kenal. Tuan Arka sudah seperti artis Hollywood tau. Banyak penggemarnya, apalagi mama muda orang tua siswa disini,” ucapnya makin heboh. Ana hanya menggeleng pelan. “Ouh, gitu ya,” ungkap Ana terlihat biasa saja meskipun dia juga mengakui ketampanan suaminya itu. Ana terlihat murung saat mengingat kalau dirinya adalah istri dari sosok yang tengah perempuan di depannya itu ceritakan. “Salam ya mbak, buat Tuan hot Arka. Jadi orang jangan terlalu hot gitu, kan saya jadi kesemsem bayanginnya,” ucap perempuan tadi lalu pergi saat saat sang anak sudah datang. Ana hanya manggut-manggut saja. Lalu Gio datang. Ana pun pulang bersama supir yang mengantar dan menjemput mereka. Sesampainya di rumah. Ana langsung mengurus Gio. Sepertinya anak itu kecapean jadi dia langsung tertidur. Ana pun langsung membereskan mainannya yang berserakan di kamar. Lalu Ana pergi ke dapur untuk membuat minuman karena siang ini terasa sangat panas. Ana membuat jus buah kesukaannya. “Tuan Arka, manis sekali,” lirih suara seorang perempuan dari atas lantai dua. Ana langsung terdiam. Jantungnya kembali berdegup kencang. “Saya mau kamu lebih dari ini,” ucap Arka dengan nafas memburu. “Baik tuan, apapun keinginan Tuan saya penuhi,” lirih perempuan itu. Suara mereka dapat terdengar dengan jelas oleh Ana. Tanpa terasa air mata Ana turun dengan jelasnya. Ana tak dapat membendung nya. Ana mencoba melanjutkan membuat jus buah. Dia mencoba untuk tak memfokuskan pendengarnya itu. Namun nihil, dia tetap mendengar suara kedua insan itu dengan sangat jelas. Sebisa mungkin Ana menahan semuanya. Dia tetap lanjut meminum jus buah yang telah dibuatnya sampai tandas. “Terima kasih Tuan,” ucap seorang perempuan menuruni tangga. Ana melirik sekilas ke perempuan itu. Perempuan berbeda dari sebelumnya. Lalu Arka juga ikut turun dengan tatapan tajam ke arah Ana yang terlihat biasa saja. “Lagi apa kamu?” tanya Arka. “Buat Jus, Pak,” ucap Ana menunjukkan gelas jusnya yang isinya sudah tinggal satu kali tegukan. “Ouhh, untuk urusan tadi malam. Lupain, saya lagi mabuk berat,” ucap Arka. “Segampang itu ya pak?” heran Ana. Ana mencoba menatap Arka dengan penuh pertanyaan. “Jangan pernah berharap lebih, baby sitter Ana!” ucap Arka dengan menekankan tiga kata ucapannya di akhir. Bersambung…Sejak malam itu, Ana berusaha mengikis jarak dengan Arka. Semalaman dia tak henti menangisi nasibnya yang begitu menyedihkan. “Tante Ana,” panggil Gio saat istirahat sekolah tengah berlangsung. “Iya Gio,” sambut Ana menerima kertas yang merupakan hasil dari gambaran Gio. “Jangan nangis terus, Tante Ana,” ucap Gio dengan tulus. Lalu dia kembali ke arena bermain bersama temannya yang lain. Ana tertegun, lalu dia segera menghapus sisa tangisan air matanya. Dan berubah fokus dengan kertas pemberian Gio. Dimana di kertas itu ada sebuah gambar perempuan yang sedang memetik bunga di taman. “Gambarnya bagus,” puji Ana sambil melihat ke arah Gio yang tengah tertawa bersama temannya. Ana mencoba menerbitkan secercah senyuman. Setidaknya, tidak semua orang di rumah itu membenci dirinya. Masih ada Gio yang baik padanya. Setelah selesai dari menjaga Gio. Lalu Ana mencoba keluar dari kamar untuk menemui bi Sri yang tengah bergurau dengan pak Martin yang merupakan satpam di rumah itu.
Dua bulan berlalu. Kehidupan Ana terasa sangat menjenuhkan. Tak ada kebahagiaan lebih yang dia rasakan. “Pak, saya boleh tidak, sambil melanjutkan kuliah?” tanya Ana sedikit ragu. Sedari kemarin dia menahan pertanyaannya itu. “Lalu, Gio gimana?” tanya balik Arka. Dia melepas kacamatanya. Mereka berdua tengah berada di ruang kerja Arka yang terletak di lantai satu sebelah kamar Gio. “Saya mau ambil kelas malam. Kan biasanya kalau malam Gio sudah tidur,” ujar Ana menunduk takut. Dia tak yakin dengan keinginannya sekarang. “Gak bisa, Gio butuh kamu,” ucap Arka melarang Ana. “Saya janji bakal jaga Gio dengan baik, meskipun saya sambil kuliah,” ujar Ana meminta pertimbangan pada Arka. “Gak bisa, lagian kamu gak ada biaya kan buat lanjut kuliah?” tegur Arka. Keputusan laki-laki itu tetap saja tidak berubah. Tak ada jawaban, Ana memilih langsung keluar dari ruangan kerja Arka. Ana nampak sekali kecewa. Lalu dia masuk ke kamarnya dengan menangis. “Tante kenapa?” tanya Gio men
Arka melepas tangan Ana saat mereka memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu. Arka kembali fokus menyetir. Sementara Ana memangku Gio yang telah tertidur pulas. “Bu, tadi itu Ana si gadis cupu dan culun kan?” tanya Dania masih ternganga melihat kepergian Ana. “Sepertinya bukan deh, kan dia jadi istri keduanya bang Bewok. Tadi itu bukan bang Bewok kok,” jawab Mirna menggaruk pelipisnya. “Apa jangan-jangan Ana selingkuh ya. Tapi gak mungkin sih selingkuh sama laki-laki kaya dan tampan,” ungkap Dania. Dia terlihat mondar mandir sambil membawa tas belanjaannya. “Udah lah jangan dibahas. Sepertinya barusan itu bukan Ana si gadis miskin itu,” ucap Bu Mirna. Dania pun menyetujui. Lalu mereka melanjutkan aktivitasnya berbelanja kembali. Sementara di rumah megah itu. Arka menggendong Gio menuju kamarnya. Anak itu begitu pulas dalam tidurnya. “Pak Arka, masalah tadi itu …,” ujar Ana menggantungkan kalimatnya. “Ibu tiri dan kakak tirimu kan?” tebak Arka setelah meletakkan Gio. “
Arka membantu Ana mengobati pahanya yang melepuh karena kopi panas yang tertumpah tadi. Dengan teliti dan penuh kehati-hatian, Arka terlihat fokus mengobati Ana. “Gimana?” tanya Arka melihat intens ke arah Ana. “Apanya ya, Pak?” tanya Ana sedikit loading dengan ucapan Arka yang irit dalam berbicara. “Masih perih nggak?” tanya Arka lagi memperjelas pertanyaannya. “Udah lumayan mendingan, Pak. Makasih ya,” ujar Ana terlihat sedikit membaik setelah tadi merintih kesakitan. “Ya sudah kamu pergi dari sini!” usir Arka pada karyawan perempuan tadi. “Sekali lagi, Maaf Nyonya Ana,” ujar perempuan itu menunduk dalam merasa bersalah. “Gak apa-apa kok, lagian juga gak sengaja kan,” ucap Ana memberikan senyum pada karyawan perempuan itu. Lalu karyawan perempuan itu meninggalkan ruangan Arka. Sementara Arka masih duduk di sebelah Ana. Gio mendekati Ana. “Tante gak apa-apa kan?” tanya Gio terlihat begitu sedih melihat kondisi Ana. “Gak apa-apa kok, Gio,” ucap Ana mengusap kepala G
Sakit dan semakin sakit. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itu yang Ana rasakan sekarang. Arka masih saja menganggapnya bukan siapa-siapa. Ana merengkuh di kamar mandi. Rasa perih di pahanya seakan sudah sembuh. Rasa sakit hatinya terus bertambah karena ucapan dan perlakuan Arka. Ana menyudahi mandi malamnya. Dia lalu memakai handuk kembali. Tok tok tok Pintu kamar itu berbunyi. “Iya, sebentar,” lirih Ana pelan. Semenjak kejadian malam itu. Ana tak lagi membiarkan pintu kamarnya tak terkunci. “Non, ayo makan malam,” ucap bi Sri di ambang pintu saat Ana membukanya. “Saya sudah kenyang, Bi,” lirih Ana pelan. Wajahnya terlihat pucat dengan bibir yang kering dan pecah-pecah. “Loh, ayo, Non harus makan. Wajah non Ana terlihat pucat,” ujar bi Sri memperhatikan dengan dekat wajah Ana. Ana menggeleng pelan. “Nggak Bi, Saya cuma lagi kecapean aja. Sudah ya, saya mau istirahat dulu,” ucap Ana tersenyum tipis. Tanpa menunggu jawaban Bi Sri. Dia langsung menutup pintu kamarnya. Bi
Ana menoleh ke arah Arka. Jadilah kedua insan itu saling pandang sekarang. Di satu ranjang yang sama.“Kamu sudah dewasa, harusnya paham,” ujar Arka menatap Ana tanpa berkedip.“Saya gadis desa biasa, Pak. Belum pernah pacaran, jadi seharusnya bapak sudah tau jawabannya,” ucap Ana tak dapat membalas tatapan Arka. Dia memalingkan wajahnya melihat ke arah langit-langit atap kamarnya.“Ouh, tapi di zaman sekarang banyak loh, meskipun gadis desa tapi sering begituan,” imbuh Arka lagi sambil melirik ke Ana. Dia juga menatap langit-langit atap kamar itu.“Jadi sudah pernah begituan sama gadis desa ya pak?” pancing Ana yang langsung membuat Arka menoleh cepat.“Kurang ajar kamu! Ya nggak lah,” cecar Arka menolak tuduhan Ana.“Ouh, jadi sama gadis kota semua,” ungkap Ana berlagak paham maksud Arka.“Saya gak pernah begituan lagi, kecuali sama mantan istri saya dulu,” ujar Arka dengan suara dan tatapan serius.Ana langsung tersenyum miris. “Iya kah, Pak? Tapi sayangnya saya tidak percaya,” uca
Dion dengan khusyuk mendengarkan cerita Arka. “Dia kenapa?” tanya Dion semakin penasaran. “Ya dia itu sepertinya polos banget. Masih perawan juga,” ucap Arka dengan raut khawatir. “Lah, bagus dong. Itu berarti bonus buat Lo,” ucap Dion. Arka beranjak dari kursi kebesarannya. “Gue insecure, kayak gak pantes aja,” ujar Arka berdiri di samping jendela kaca ruangannya yang dimana dapat melihat pemandangan gedung besar dan jalan diluar. “Yaelah bro, berarti itu udah jodohnya Lo. Bersyukur kek,” celetuk Dion. Dia lalu mengambil beberapa makanan ringan di meja santai sudut kiri ruangan Arka. “Liat nanti ajalah,” ucap Arka akhirnya. Dia menyerah dengan keinginan dan rasa was was dalam dirinya. “Terserah Lo!” ucap Dion akhirnya pun mengalah dengan pikiran dari sahabatnya yang sudah menjadi atasan kerjanya itu. *** Ana sedang membersihkan dirinya. Panasnya sudah menurun dan rasa pusingnya sudah sedikit menghilang. Bahkan hari ini Ana baru beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini
Arka terlihat kebingungan dengan ucapannya sendiri. Biasanya dia selalu tegas dan dingin. Namun semenjak ada Ana, terkadang dia merasa perbedaan dalam dirinya.“Maksudnya apa pak?” tanya Ana lagi. “Ya kamu kan emang sudah saya nikahi. Tidak pantas kalau dekat dengan lelaki yang lain,” peringat Arka dengan wajah juteknya lagi.Ana terkesiap dan lalu melihat ke arah Arka. “Iya Pak, saya juga bukan orang yang seperti itu. Saya punya harga diri dan hati nurani,” balas Ana. Sudah merasa diatas langit dan tiba-tiba dijatuhkan ke paling dasar bumi.“Baguslah. Saya mau lanjut meeting diluar. Kamu pulang dulu sama Gio,” ucap Arka langsung mengambil tas kerja dan ponselnya.Arka langsung keluar dari ruangan kerjanya. Ana terlihat masih kesal dibuatnya. Perkataan menyakitkan itu keluar dari mulut Arka. Padahal yang seperti itu adalah dirinya. Ana tak ingin memikirkan itu lebih. Lalu dia mengajak Gio untuk pergi dari kantor papanya itu.Sesampainya di rumah, Ana langsung menuju ke dapur. Sement
Namaku Abidzar, biasa dipanggil Abi atau Bi. Aku memutuskan untuk menuntut ilmu di salah satu pesantren besar yang ada di kota Jakarta. Namanya Pesantren Modern.Dari masa Tsanawiyah aku sudah disana, bahkan hingga masa Aliyah. Aku sangat ingin menjadi salah satu ustadz di pesantren modern.Setiap hari aku berusaha untuk tekun belajar, terutama belajar ilmu keagamaan. Cita-cita mulia ini juga berawal dari Abah ku, yang menjadi salah satu guru besar di dunia pendidikan terkemuka.Tapi aku ingin mengajar di pesantren saja, dimana aku bisa juga sambil mengabdi di pesantren tersebut.Setiap hari ku lalui hari ini dengan semangat, tanpa lelah dan selalu ingin belajar. Aku harap dimasa depan semua ini dapat terbayar, semoga lelah ku ini menjadi Lillah. Insya Allah.Hingga tiba setelah kelulusan tes, dimana namaku terpampang paling atas. Sebagai ustadz, iya aku dapat mengajar di pesantren modern. Pesantren yang pernah mengajarkan ku banyak ilmu dan banyak pengalaman.Sembari mengabdi, aku ju
Malam yang begitu hening. Layla semakin kebingungan akan sikap Abidzar. Terkadang Abidzar begitu meyakinkan untuk dirinya. Tapi di hati itu Abidzar masih meragukan lagi. 'Mas, kenapa kau menghadirkan diriku jika dihatimu masih ada dia. Ternyata sakit, apa boleh aku mengeluh?' Layla membatin dalam kesendirian nya.Setelah kejadian di dapur itu, Layla memilih untuk kembali ke kamarnya. Dia lebih baik membawa tubuhnya beristirahat. Sudah terlalu lelah untuk semua kejadian di hari itu.Di kamar sebelah, tepatnya di kamar tamu. Abidzar termenung. Dia terdiam kaku, pikirannya berkecamuk. Memikirkan semua yang telah terjadi.Abidzar sadar jika dia salah, selama ini dia tidak tegas akan semuanya. Harusnya jika dia memang masih mencintai Jihan, dia bisa membatalkan perjodohan nya dengan Layla.Tapi Abidzar malah membuat kedua wanita itu sama-sama kecewa. Jihan yang kecewa terhadap sebuah janji yang telah diucapkan Abidzar. Sedangkan Layla yang telah kecewa sebab Abidzar tidak bisa memusatkan
Semenjak kejadian pagi ini, Layla tidak banyak bicara. Dia semakin banyak diam. Pikiran nya kalang kabut. Tidak mungkin hal semacam itu tidak sengaja. Abidzar pun menyadari tentang sikap Layla yang tidak seperti biasanya. Abidzar berpikir keras, siapa kira-kira yang berani melakukan hal tidak baik itu kepada Layla.Padahal Abidzar sejauh ini tidak mempunyai musuh. Atau sedikit pun dia tidak bermasalah dengan teman-teman nya sekalipun.Eh, tapi tunggu. Abidzar mengingat dengan jelas kata-kata itu. Sebuah ancaman kepada Layla untuk menjauhi dirinya. Berarti orang itu tidak suka dengan Layla. Berarti dia salah satu yang pernah dekat dengan Abidzar.Jihan? Tapi menurut Abidzar, seorang Jihan tidak mungkin bertindak seperti itu. Abidzar sangat tahu jika Jihan bukanlah sosok yang seperti itu. Tidak mungkin Jihan bertingkah berlebihan seperti ini.Terus siapa kalau bukan Jihan. Atau ada seseorang yang sangat tidak suka dengan hubungan rumah tangga nya dengan Layla. Hingga dia mau mengancam
"Gak apa-apa Mas, cuma belum siap aja. Kalau udah siap nanti juga dibuka tanpa disuruh." Ucap Layla sedikit menjelaskan."Ouh, gitu, bukan karena kamu punya mata ninja kan?" Tanya Abidzar sedikit menggoda."Ish, apa sih Mas, ya nggak lah. Aku normal, masa punya mata ninja." Ucap Layla.Setelah itu mereka pun terlelap untuk beberapa saat. Hingga sampai waktu sholat Dzuhur, Layla terbangun terlebih dahulu. Sedangkan Abidzar masih begitu terlelap.Layla hendak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dikarenakan Abidzar masih tertidur. Layla membuka cadarnya ke kamar mandi.Keluar dari kamar mandi dia langsung sholat Dzuhur, usai sholat Dzuhur dia hendak keluar kamar untuk memasak.Abidzar terbangun, dia terkejut Layla sudah tidak ada di kamarnya. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu. Dia langsung melaksanakan sholat Dzuhur sendirian.Ternyata Layla lagi memasak bersama Ratna- ibu mertuanya. Mereka sambil bercanda gurau menceritakan Abidzar semasa waktu kecilnya. Layla lup
"Iya, Ummah, ada apa?" Tanya Abi sekali lagi."Itu, besok ummah mau menginap di rumah kalian selama beberapa hari. Boleh kan?" Ucap mamanya Abidzar bertanya."Ya ampun, dikira ada apa, ya boleh lah Ummah. Boleh banget malahan, tiap hari disini juga boleh." Ucap Abidzar."Ya sudah, sana tidur, kasian Layla sendiri tuh, maaf ya, Ummah ganggu malam-malam." Nasihat mamanya Abi."Baik, Ummah." Ucap Abi sambil memutus panggilan telfon nya."Ada apa Mas? Ada sesuatu yang terjadi kah, Sampek Ummah nelfon malam-malam." Tanya Layla khawatir."Itu Layla, Ummah dalam beberapa hari ke depan mau menginap disini. Ummah besok siang mungkin kesini nya, cuma mau ngabarin itu aja sih." Jawab Abidzar menerangkan."Ouh, aku kira ada apa. Syukurlah kalau cuma mau bilang itu." Jawab Layla.Akhirnya mereka pun lanjut untuk tidur, Layla tetap tidur di kamar Abidzar. Dia masih berjaga-jaga takut Abidzar memerlukan sesuatu jika demam nya kambuh lagi. Akhirnya setelah hampir tiga Minggu mereka bisa satu kamar da
"Iya, gak papa kalau mau poligami kok Mas. Silahkan saja. Tapi jangan sama aku lagi." Ucap Layla sambil tersenyum. "Layla, jangan dengerin perkataan Abudzar ya, dia kalau ngomong emang suka aneh loh." Ucap Ratna.Abidzar hanya terdiam, akibat salah ucapnya. Semuanya jadi rumit. Pasti setelah ini dia akan dimarahin habis-habisan oleh Ummah nya.***Di lain tempat, Jihan berniat ingin menemui Abidzar lagi di Pesantren Modern. Dia mengira kalau Abidzar hari ini akan mengajar.Waktu masuk pintu utama, secara tidak sengaja dia berpasangan dengan seorang laki-laki yang tidak asing."Yusuf, ini kamu Yusuf kan? Santri pesantren Salaf Nurul Huda." Tanya Jihan meyakinkan."Iya benar, maaf ini dengan siapa ya." Yusuf lupa terhadap wanita itu. Padahal kepada Layla yang berubah penampilan dia tidak melupa. Aneh memang kalau pikiran sudah dikuasai rasa suka."Ini aku Jihan. Teman kamu dulu waktu masa Tsanawiyah. Masa lupa sih." Ucap Jihan sedikit kesal."Ouh Jihan ya, aku kira siapa. Soalnya kamu
Maryam hanya diam mendengar semua kata-kata yang terdengar pilu dari kakak perempuannya itu. Terlihat juga raut kecewa dari orang tuanya, kalau sudah begini apa yang harus Maryam lakukan. Maryam meminta maaf lalu kemudian tetap berjuang, atau Maryam terus bekerja hingga dia menabung banyak uang sampai keluarga nya bangga dan terbebas dari kekurangan, benar saja Maryam sekarang dilema."Maaf Bu, setelah gajian nanti Maryam lunasi hutang ibu. Dan setelah ini Maryam tidak akan menyusahkan lagi." Maryam mendekat dan duduk di depan ibunya. Lalu Kulsum, menghela nafas pasrah. "Sudah tidak apa-apa, tapi benar kata kakakmu, sebaiknya kamu jangan lanjut buat kuliah. Kita ini serba kekurangan, apalagi kalau kamu nanti kuliah sudah gak bisa kerja lagi. Kalaupun tetap kerja nanti takutnya kecapean.Maryam sadar, atau hanya sebatas mimpi. Satu-satunya orang yang Maryam anggap akan selalu mendukung ternyata juga sudah tidak yakin terhadap dirinya. Maryam tau diri, cukup, dia sudah tidak punya lagi
Abidzar sudah sampai di pekarangan rumah nya. Dia langsung masuk. Sesampainya di dalam dia tidak melihat keberadaan istrinya.Ternyata Layla sedang berada di dapur. Layla sedang mempersiapkan makanannya."Assalamu'alaikum Layla." Ucap Abidzar."Wa'alaikumussalam Mas. Sudah pulang? Gimana kerjaan nya hari ini." Tanya Layla sambil menyalami Abidzar."Alhamdulillah baik. Setelah ini liburan semester ganjil selama dua Minggu. Jadi Mas bisa nemenin kamu tiap hari." Ucap Abidzar sambil menggenggam tangan Layla."Alhamdulillah kalau lancar Mas. Padahal aku udah besar, gak usah ditemenin loh." Canda Layla dengan tersenyum hangat."Iya iya udah besar, tapi kan Mas pengen nemenin.""Iya Mas, yaudah makan dulu yuk. Pasti lapar kan?"Akhirnya mereka langsung makan siang, sebenarnya sudah sore. Tapi memang tadi Abidzar waktu di pesantren modern belum makan siang. Banyak tugas dan kerjaan yang harus diselesaikan di hari ini juga.Waktu mereka makan dan saling mengobrol ringan, terdengar suara oran
"Ouh Maaf. Tadi saya cuma gak sengaja mau belikan Layla es krim." Ucap Yusuf kebingungan."Jangan diambil!" Larang Abidzar pada Layla."Mas, kan cuma es krim. Gak apa-apa ya?" Pinta Layla memelas. Dia tidak enak hati pada Yusuf yang telah berbuat baik pada dirinya.Akhirnya Layla mengambil es krim itu. "Makasih ya Yusuf. Lain kali jangan repot kek gini." Ucap Layla sambil tersenyum.Yusuf hanya mengangguk pelan. Kemudian memilih meninggalkan Layla dengan Abidzar.Abidzar menatap Layla yang memakan es krim nya itu tampak tidak suka. Bisa-bisa nya Layla menerima pemberian dari seorang Yusuf.Abidzar tidak suka dengan sikap Yusuf yang menurut nya berlebihan. Lebih ke arah melebihi teman. Anggap Abidzar penuh frustasi."Ayo kita pulang. Acaranya sudah selesai." Ucap Abidzar langsung menarik tangan Layla menuju mobil nya."Tapi Mas …" ucap Layla.Mereka pun akhirnya meninggalkan pesantren modern. Abidzar terlihat tidak baik-baik saja. Dia membawakan mobilnya cukup mengebut. Membuat Layla t