Share

7. Tolong Aku

Author: Putri Cahaya
last update Last Updated: 2024-08-19 12:56:32

[Zelda, malam ini aku memutuskan pergi dari rumah neraka itu. Aku udah nggak kuat berada disana]

Harap-harap cemas, Naina mengirimkan pesan untuk sahabatnya itu. Sayangnya, hanya centang dua dan belum dibaca. Mungkin Zelda sedang menikmati waktu bersama keluarganya?

Naina jadi sungkan meminta bantuan. Meski sebelumnya Zelda sudah menawarkan, tetap saja dirinya tidak ingin merepotkan Zelda terus.

Kini, Naina berjalan kaki tak tentu arah. Cukup jauh dari kompleks perumahan mertuanya.

Sudah memesan ojol juga bahkan sampai tiga kali, tetapi semuanya ditolak dengan alasan sudah larut malam.

Tidak mungkin ia pulang ke kampung halaman karena rumahnya sudah dijual untuk modal ke kota ini.

Kembali ke rumah Freya yang selama ini menjadi tempat tinggalnya sebelum menikah pun bukan pilihan bagus. Itu sama saja dengan masuk ke kandang musuh.

Wanita cantik itu kembali memesan ojol dengan tujuan menuju terminal, berharap kali ini orderannya diterima. Lelah berjalan, ia memutuskan istirahat di sebuah halte sambil menunggu ojol datang.

Naina tidak sendirian melainkan bersama beberapa orang yang sepertinya sedang menunggu jemputan. Ia temenung sambil memandang ke arah kendaraan berseliweran.

Apakah keputusannya untuk pergi dari rumah sudah benar? 

Ataukah terlalu buru-buru? 

Naina mengambil keputusan ini dalam keadaan emosi dan pikiran yang kacau. Namun, ia teringat dengan ancaman Bu Anita yang tentunya tidak main-main. 

Naina sama sekali tidak takut karena dirinya berada di pihak yang benar. Namun, ia tidak punya kuasa untuk melawan mereka. Ia juga tidak memiliki bukti kuat untuk membela diri.

Meski ada Bi Lastri sebagai saksi, tetap saja kalau sudah disuap dan diancam pasti akan memihak mereka. 

Hukum bisa dibeli. Orang kecil seperti dirinya pasti akan kalah dengan orang yang mempunyai kuasa. 

Bila dirinya dipenjara, lalu bagaimana dengan nasib anaknya? Ia tidak rela anaknya diasuh oleh Freya yang akan menjadi istri Dhafin nantinya.

Jika memilih bertahan, tidak menutup kemungkinan Freya akan terus menyakitinya. Ia tidak ingin anaknya bernasib sama dengan Altair.

Naina menghela napas berat kemudian melihat ponselnya. Ia menelan kekecewaan ketika lagi-lagi orderannya ditolak padahal tadi sempat diterima.

Orang-orang di halte pun satu-persatu mulai pergi hingga tinggallah dirinya sendirian. Malam semakin larut. Hawa dingin menembus kulitnya walaupun sudah mengenakan jaket.

Entah hanya perasaannya atau bagaimana, Naina merasa ada yang mengawasi. Dan benar saja. Ketika menoleh ke arah kanan, ia mendapati dua orang pria berbadan besar berdiri melihat ke arahnya.

Sontak, jantungnya berdetak cepat. Berusaha tenang, meski rasa takut mulai mendominasi. Ia cepat-cepat mengirim pesan lagi kepada Zelda.

[Zelda, tolong aku. Ada dua orang preman yang mengawasiku. Aku takut…]

Tetap sama. Hanya centang dua.

Tak ingin berburuk sangka, Naina beranjak pergi dari halte itu. Seperti dugaannya, kedua orang itu mengikutinya. Ia pun berjalan cepat menghindari mereka.

[Zelda, tolong. Mereka mengikutiku terus. Aku benar-benar takut. Kumohon… tolong aku]

Naina kembali mengirim pesan. Ia berharap besar kepada Zelda. Namun, pesannya masih belum dibaca bahkan pesan yang pertama tadi pun masih centang dua.

Naina akhirnya menelpon Zelda, tetapi tidak diangkat hanya berdering. Hingga panggilan kelima, tetap tidak dijawab. Ya Tuhan….

Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas bersiap lari. Akan tetapi, lengannya keburu ditahan oleh salah satu dari mereka.

“Mau kemana, Neng? Buru-buru amat.”

“Lepas!” Naina menghentak keras lengannya hingga terlepas.

“Eits, sini dulu. Temani kami berdua.” Preman yang satunya menghadang langkah Naina saat hendak kabur.

Naina mendorong sekuat tenaga preman itu lalu berlari. Mereka pun mengejarnya.

“Hey, berhenti!”

“Tolong…! Tolong…!”

Naina berteriak meminta tolong kepada orang-orang sekitar, tetapi tak ada satupun yang berniat menolongnya. Mereka semua malah menatapnya sinis terkesan menghakiminya.

“Kena kau!” 

Preman yang berambut cepak berhasil menangkap Naina. Ia tersenyum mengejek dan memandangi tubuh Naina penuh nafsu.

“Lepaskan saya!” Naina memberontak berusaha melepaskan cekalan, tetapi tidak bisa.

Keduanya tertawa puas. “Kami tau siapa dirimu. Kau wanita viral yang tega membunuh anakmu sendiri.”

Preman satunya yang berkepala setengah botak berjalan mendekat. “Sebelum kau membusuk di penjara atau dihukum mati lebih baik kita bersenang-senang dulu.”

“Sayang sekali jika tidak dinikmati,” ucapnya seraya membelai pipi Naina yang putih dan mulus. 

Naina menepis kasar tangan pria itu menggunakan tangannya yang bebas. “Tolong…! Tolong…! Tolong…!” teriaknya tidak menyerah.

Tawa mereka semakin nyaring. “Berteriaklah sepuasmu. Tidak akan ada orang yang mau menolong. Pembunuh sepertimu memang lebih pantas mati.”

Naina mulai melawan dengan menendang kuat preman yang mencekalnya menggunakan lutut. Pria itu mengerang kesakitan sambil memegangi alat vitalnya. 

Ia memanfaatkannya untuk kabur. Namun, tangannya kembali ditahan oleh preman berambut setengah botak.

“Kau takkan bisa kabur, Nona cantik. Ayo, ikut saya. Kita bersenang-senang sampai pagi.”

Naina pun melakukan perlawanan menggunakan teknik bela diri yang pernah dipelajarinya.

Dirinya menyerang di titik lemah sehingga mudah dilumpuhkan. Terakhir, ia memukul keras kepala plontos itu dengan tas besarnya.

Wanita itu kemudian kembali berlari. Walaupun memiliki ilmu bela diri, tetapi ia takkan mampu melawan mereka sendirian. 

Tenaganya tak sebanding apalagi dengan kondisinya yang tengah mengandung.

Suasana malam semakin sepi dan mencekam. Kendaran pun kian sedikit yang lewat. Tidak ada yang bisa dimintai tolong. 

Naina menggigil ketakutan, sementara di belakang sana dua preman itu mulai bangkit dan mengejarnya lagi.

Laju larinya melambat saat merasakan perutnya kram. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

“Berhenti kau! Jangan kabur!”

Naina menoleh ke belakang dan langsung membelalakkan matanya begitu melihat jarak mereka yang semakin dekat. 

Jantungnya memompa sangat cepat. Ia kembali berlari dengan langkah tertatih sambil memegangi perut.

Hingga matanya menemukan sebuah minimarket yang buka 24 jam beberapa meter di depan. Dengan segera, Naina berjalan cepat ke arah sana.

Kebetulan ada satu mobil hitam terparkir. Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak kepadanya saat mengetahui mobil itu tidak terkunci.

Dalam keadaan sangat terdesak, ia memutuskan masuk untuk bersembunyi karena tidak kuat lagi berlari. Ia menunduk ketika dua preman itu berada di sekitar mobil.

“Kemana dia?” Suara salah satu dari mereka terdengar membuat Naina tanpa sadar menahan napas.

“Kayaknya ke sana. Ayo, kejar. Kita harus mendapatkannya malam ini juga.”

Dari kaca mobil, Naina melihat mereka berjalan menjauh. Ia menghembuskan napas lega lantas menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang. Namun, rasa kram di perutnya semakin menjadi.

Wanita itu meringis kesakitan seraya meremas perutnya. Dapat ia rasakan ada sesuatu yang hangat mengalir di sela-sela pahanya. Rasa khawatir bercampur takut kehilangan sang calon anak memenuhi hatinya.

“Sshh… Ya Allah, sakit sekali….” rintihnya memilukan.

Sampai ketika sebuah suara bariton begitu dalam menyapa indera pendengarannya. “Siapa kau? Beraninya masuk ke mobilku tanpa izin.”

"Akh!" Naina membuka mata dan menatap orang itu dengan pandangan buram.  “Tolong aku, sshh... B-bayiku....”

Ia memejamkan mata lagi. Rasa sakit di perutnya semakin tak tertahankan. Tubuhnya lemas luar biasa. Di tengah kesadarannya yang kian menipis ia berdoa dalam hati.

'Ya Allah... jangan ambil anakku. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain dia. Kumohon selamatkan janinku....’

Dan samar, ia dapat melihat wajah panik dari pria yang baru ditemuinya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Alya Pristika
kabur pilihan yang tepat
goodnovel comment avatar
vikana_dee
lagian lama amat bertahannya
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
wanita goblok yg g mau berjuang dan hanya bisa pergi menghindar dari kenyataan. cerita sampah yg terlalu menjual kesedihan dan kebodohan.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   8. Sandiwara Freya

    Di sisi lain....“Sayang, pertunangan kita akan diadakan dua hari setelah empat puluh harinya Altair. Gimana menurutmu? Apa kamu setuju?”Dhaffin, yang belum tahu kaburnya Naina, hanya mengangguk pelan tanpa menoleh. Matanya tetap fokus melihat jalanan di depan. Sekarang ini, ia sedang dalam perjalanan mengantar Freya pulang.“Kamu nggak apa-apa?” tanya Freya hati-hati sambil menatap Dhafin di sampingnya.“Kenapa?” Dhafin melirik sekilas.Freya menunduk, memainkan jarinya di pangkuan. “Aku merasa nggak enak. Kamu sama Naina kan baru aja kehilangan Altair. Kalian masih dalam suasana duka,” ucapnya berpura-pura simpati.“Maumu gimana? Diundur?”“Nggak nggak, bukan gitu.” Freya buru-buru menggeleng. “Ini kan udah menjadi kesepakatan bersama. Jadi, yaudah ikuti aja rencana mereka.”Dhafin hanya berdehem tanpa menanggapi lebih banyak. Dalam hati, ia juga merasakan hal yang sama. Duka masih sangat kental menyelimuti, apalagi Naina yang merasa paling kehilangan.Namun, kembali lagi. Semuanya

    Last Updated : 2024-08-20
  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   9. Dua Garis Merah

    Dhafin tiba di rumah sekitar pukul sebelas malam. Suasana rumah sudah sangat sepi. Bahkan lampu ruang utama sudah dimatikan.Ia pun langsung melangkah menuju kamarnya dan tidak melihat keberadaan Naina.Mungkin tidur di kamar Altair karena semenjak putranya tiada Naina lebih sering tidur di sana.Pria bertubuh tinggi dan tegap itu mengambil piyama tidur yang sudah disiapkan sang istri lantas mengganti pakaiannya.Ia merebahkan tubuh yang terasa lelah di ranjang usai mengirim pesan pada Freya untuk mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai rumah. Matanya terpejam dan tak lama memasuki alam mimpi.Keesokan paginya, Dhafin bangun sedikit telat. Biasanya Naina yang membangunkannya untuk menunaikan sholat Subuh. Namun, kali ini ia belum melihat batang hidung istrinya.“Naina, siapkan bajuku,” perintah Dhafin yang masih mengira Naina berada di kamar Altair. Tangannya sibuk memasukkan berkas ke dalam tas lebih.Tidak ada sahutan membuatnya mengernyit heran. Kamar ini dengan kamar anaknya saling

    Last Updated : 2024-08-21
  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   10. Rumah Sakit

    Dhafin terduduk di pinggiran ranjang masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia senantiasa menatap tespack itu lekat-lekat. Naina hamil. Naina sedang mengandung anaknya. Akan tetapi, kenapa tidak memberitahunya? Kini, Naina pergi entah kemana dengan membawa serta benih di rahimnya. Ia benar-benar tidak menyangka istrinya itu berani berbuat nekat. Setelah semalam minta cerai, kemudian malah kabur. Naina pikir, dirinya akan terbebas begitu saja? Tentu tidak! Dhafin berjanji, akan membawa Naina kembali ke rumah ini bagaimanapun caranya. Naina harus berada dalam genggamannya. Tiba-tiba, Dhafin teringat dengan seorang perempuan yang selama ini menjadi sahabat istrinya. Mungkinkah Naina berada di tempat sahabatnya itu? Sepertinya iya. Siapa lagi orang yang akan dituju Naina kalau bukan sahabatnya? Naina tidak memiliki siapapun di dunia ini. Wanita itu hidup sebatang kara tanpa orang tua dan menumpang hidup di rumah Freya sebelum berakhir menikah dengannya.

    Last Updated : 2024-08-21
  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   11. Ketika Masa Lalu Kembali

    Naina beringsut duduk dibantu oleh suster. Ia menatap dokter laki-laki di sampingnya dengan raut wajah cemas. Jantungnya berdebar-debar menunggu jawaban dari sang dokter. “Ibu mengalami pendarahan hebat. Untung saja anda segera dibawa ke rumah sakit sehingga langsung mendapatkan penanganan.” Naina dibuat sangat syok mendengar penjelasan dokter. Hatinya mencelos. Jantungnya semakin memompa cepat. “Lalu janin saya....” Ucapannya menggantung. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana kalau dirinya kembali kehilangan. Anak ini satu-satunya yang menjadi harapannya untuk tetap bertahan hidup. Dokter mengulas senyum tipis seolah mengerti kekhawatiran pasiennya. “Alhamdulillah, janin ibu bisa diselamatkan.” “Alhamdulillah….” Naina menghembuskan napas lega. Perasaannya seketika plong. Dalam hati, ia sangat bersyukur. Tuhan masih baik kepadanya dengan tidak mengambil calon buah hatinya. “Tapi sekarang ini kandungan ibu sangat rentan keguguran. Kar

    Last Updated : 2024-08-22
  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   12. Luka Tak Berdarah

    “Aku sangat mencintaimu, Freya. Jangan tinggalkan aku lagi.” Deg! Naina menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Dhafin yang menyerupai gumaman. Ia berdiri dengan tubuh yang menegang kaku melihat mereka yang saling berpelukan itu. Dadanya seakan dihantam oleh sesuatu yang besar. Butiran bening telah terkumpul di kelopak matanya siap jatuh kapan saja. Belum cukup sampai di situ, Freya melepaskan pelukannya kemudian tanpa diduga mencium bibir Dhafin. Awalnya, Dhafin tampak terkejut, tetapi lama-kelamaan menikmati dan ikut membalas. Terlihat dari caranya yang memegang pipi dan tengkuk Freya semakin memperdalam ciuman. Sontak, air mata Naina jatuh tanpa permisi. Jantungnya berdetak cepat tanpa bisa dikendalikan. Dadanya sangat sesak menyaksikan langsung sang suami mencium mesra mantan kekasihnya. Ya Tuhan…. sakit sekali. Ia menggenggam kuat-kuat testpack di tangannya. Rencananya yang ingin memberikan kejutan, malah ia yang dibuat terkejut. Pantas saja suaminya p

    Last Updated : 2024-08-23
  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   13. Tersebar Luas

    Naina menarik napasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak dalam dadanya. Ia menatap miris sang putra yang masih menangis hingga suaranya serak.Sepertinya ini menjadi puncak kesabaran Altair menghadapi sikap sang ayah sehingga sangat susah dibujuk.“Kamu ini gimana sih? Anak nangis bukannya ditenangkan malah dibiarkan.” Sang ibu mertua akhirnya turun tangan. Ia berjalan menghampiri Altair.“Udah, Ma. Aku udah membujuk, tapi Altair tetep nggak mau.” Naina senantiasa mengusap punggung Altair yang bersandar padanya.“Ya, kamu harusnya cari cara dong. Pakai alternatif lain atau apa kek. Kasihan cucuku nangis terus dari pagi. Jadi ibu kok nggak becus banget.”Jleb sekali rasanya. Padahal anaknya yang salah karena melanggar janji, tetapi Naina tetap disalahkan bahkan dibilang tidak becus.“Tapi Altair maunya sama Mas Dhafin, Ma. Udah lama Mas Dhafin nggak main sama Altair.”“Jangan cuma mengandalkan Dhafin doang. Mentang-mentang Altair deketnya sama Dhafin, kamu lepas tangan gitu aja,”

    Last Updated : 2024-08-24
  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   14. Mencari Naina

    “Apa? Turun?”Wanita yang merupakan petugas rumah sakit itu mendekat ke arah Naina. “Iya, Mbak. Sahamnya lagi turun drastis. Kurang lebih selama tiga hari ini sih.”Naina berdehem pelan untuk menetralkan rasa terkejutnya. “Ibu tau dari mana?”“Dari anak saya yang bekerja di perusahaan itu. Katanya di sana tuh lagi kacau banget, Mbak. Anak saya jadi lebih banyak lembur buat mengatasi masalah itu.”Naina terdiam tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Ia yakin pasti Dhafin sekarang sedang sibuk mengatasi masalah itu. Dhafin tentunya akan melakukan segala cara untuk mengembalikan nama baik perusahaan.“Anak saya juga bilang kalau masalah ini tuh akibat berita viralnya Mbak. Padahal yang saya tahu, Wirabuana Group itu perusahaan yang bagus banget loh. Nggak nyangka akan menghadapi masalah ini.”Naina membenarkan dalam hati perkataan wanita itu. Wirabuana Group memang salah satu perusahaan ternama yang terkenal sangat bagus. Di mata publik, citranya pun sangat baik seolah tanpa cela sedi

    Last Updated : 2024-08-25
  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   15. Kemarahan Dhafin

    Dhafin yang baru saja kembali dari butik Zelda menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya. Matanya terpejam dengan tangan menumpu pada dahi. Tak lama, pintu ruangannya terbuka. Ia membuka mata dan mendapati seorang pria yang menjabat sebagai sekretarisnya berjalan mendekat. “Bagaimana? Ketemu Naina-nya?” tanya pria itu lantas duduk di kursi berhadapan dengannya. Dhafin menggeleng pelan sebagai jawaban. Pencarian Naina memang sedikit terlupakan karena ia sangat subuk mengurusi masalah kantor. Baru hari ini dirinya menyempatkan waktu ke tempat Zelda. “Kenapa kamu harus mencarinya?” “Aku takkan membiarkanya lari begitu saja,” jawab Dhafin datar. Arvan, sahabat sekaligus sekretaris Dhafin, mengetuk-ngetuk meja kaca menggunakan jarinya seperti ingin mengutarakan sesuatu. “Menurutku Naina nggak sepenuhnya salah.” “Maksudmu?” Dhafin menegakkan tubuhnya. “Maksudku bisa dibilang Naina ini sebenarnya korban. Dia nggak berniat membuat semua kekacauan ini.” “Dia bersalah.” Dhafin menatap d

    Last Updated : 2024-08-26

Latest chapter

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   285. Memberikan Keluarga Utuh

    Lora membantu Azhar duduk di sisi kanan neneknya, sementara Amina membantu Zora duduk di sisi kiri. Kini, si kembar berada di samping kanan-kiri Bu Anita, seperti dua permata yang menerangi hatinya.“Zora, cucu Oma yang cantik,” ucap Bu Anita sambil memeluk dan mencium kepala Zora yang dihiasi kunciran dua.Lalu, ia beralih ke Azhar, memeluk tubuh mungil cucu laki-lakinya dan menciumi wajahnya dengan penuh kasih. “Gemes banget sama cucu Oma yang paling ganteng ini.”Lora hanya tersenyum menyaksikan pemandangan itu. Ada rasa hangat mengalir dalam dadanya. Ia lalu duduk di kursi samping ranjang, sementara Amina memilih tempat di sofa. Keputusan untuk membawa si kembar ke sini terasa begitu tepat. Setidaknya, kehadiran mereka mampu menghibur Bu Anita dan mengusir kesepian yang mungkin menyelimuti.“Kalian berangkatnya dari rumah?” tanya Bu Anita sambil menatap si kembar secara bergantian.Ia mencium aroma khas tubuh anak-anak yang baru selesai mandi—wangi bedak bayi masih melekat, terle

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   284. Jangan Mudah Goyah

    “Bagaimana keadaan mantan ibu mertuamu?”Lora yang semula fokus pada piring sarapannya beralih menatap sang ibu. Ia mempercepat kunyahannya, lalu menelan makanan sebelum berbicara. “Ya, begitulah, Bun.”“Masih sering mengeluh sakit perut bagian bawah. Kata Mas Dhafin, lusa dijadwalkan operasi pengangkatan tumor supaya nggak semakin menyebar,” jawabnya dengan nada khawatir.Bu Radha manggut-manggut paham. Ia sudah mendengar kabar tentang kondisi Bu Anita. Wajahnya memancarkan ekspresi prihatin. “Tumor ganas di rahim, apalagi sudah masuk stadium tiga, itu kondisi yang cukup serius. Pada tahap ini, sel kanker biasanya sudah menyebar ke jaringan sekitar atau bahkan ke kelenjar getah bening di sekitarnya.”Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, “makanya, operasi pengangkatan tumor memang langkah yang tepat.”“Biasanya, dokter akan mengangkat rahim dan jaringan yang terdampak agar penyebaran kanker bisa dicegah. Kadang juga dibarengi kemoterapi atau terapi lain, tergantung tingkat

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   283. Kembali Minta Maaf Sebelum Terlambat

    Suasana dalam ruangan tiba-tiba terasa begitu berat. Seolah udara mendadak menipis, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyesakkan.Lora menatap Bu Anita dengan perasaan campur aduk. Wanita itu masih berusaha tersenyum, meski jelas terlihat ada kepedihan yang berusaha ia sembunyikan.“Iya, Lora, aku bahkan baru mengetahuinya.” Dhafin akhirnya bersuara setelah beberapa menit terdiam. Suaranya terdengar lelah.Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan. “Mama begitu rapi menyembunyikan penyakit itu dari kita semua.”Pria itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Kata orang rumah, beberapa hari terakhir Mama sering mengeluh sakit perut. Aku sempat mengira itu hanya gangguan pencernaan biasa.”Tatapannya kemudian mengabur seakan-akan mengingat kejadian yang masih terekam jelas dalam benaknya.“Tapi saat jalan-jalan sama si kembar kemarin, aku mendapat telepon mendadak. Katanya Mama pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.” Rahangnya menge

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   282. Wanita yang Luar Biasa

    Lora menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu dalam suara Dhafin yang membuatnya tak bisa menolak. Dengan langkah ragu, ia mengikuti Dhafin yang membuka pintu. Aroma khas rumah sakit langsung menyergap hidung begitu dirinya memasuki ruangan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, memberikan kesan tenang namun juga penuh dengan kenangan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Bu Anita terbaring dengan tubuh lemah, selang infus masih terpasang di tangannya. Matanya terpejam, napasnya teratur meski tampak sedikit berat. Lora melangkah lebih dekat hingga berdiri di samping tempat tidur. Matanya menatap lekat wajah pucat Bu Anita—wanita yang dulu pernah bersikap semena-mena padanya, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Ada perasaan aneh yang menyeruak di dadanya. Bukan kebencian, bukan pula kepuasan melihat keadaan mantan mertuanya seperti ini. Yang ada justru sesak yang sulit dijelaskan. Ini adalah sisi lain dari Bu Anita, yang tak pernah ia

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   281. Tak Berhak Cemburu

    Grissham mengangkat bahunya dengan gerakan yang ringan, seakan tak terlalu memperdulikan topik yang sedang dibicarakan. Ia menghembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Lora dengan sorot mata yang tenang namun dalam. “Karena aku sadar, Twins butuh ayah kandungnya, begitu pula sebaliknya. Aku tidak bisa egois hanya karena perasaan pribadiku.” Laki-laki itu meraih gelas jus di depannya, mengaduk isinya dengan sedotan tanpa benar-benar berniat meminumnya. Ada sedikit ketegangan di wajahnya, tetapi senyumnya tetap terukir tipis. “Aku ingin menjadi bagian dari mereka, tapi bukan dengan menghalangi hubungan mereka dengan Dhafin,” lanjutnya dengan suara lembut. Lora terdiam sejenak, meresapi kata-kata itu. Ia menggenggam tangan Grissham di atas meja, meremasnya lembut. “MasyaAllah... Kak Sham baik banget,” ucapnya dengan suara penuh ketulusan. Grissham tersenyum kecil, ibu jarinya mengusap punggung tangan Lora dengan lembut. “Bagiku, kebahagiaanmu dan anak-anak adalah yang paling u

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   280. Berhak Menolak

    [Lora, Mama sedang sakit dan sangat ingin bertemu denganmu. Bisakah kau menemui Mama?]Lora hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Dhafin beberapa menit lalu tanpa ada niatan untuk membalas.Raut wajah dan tatapannya datar terkesan jengah. Dalam hati, ia merasa jengkel dengan Dhafin yang tak berhenti mengusiknya.Bukannya Lora tidak percaya bila ibunya Dhafin sedang sakit. Hanya saja dari sekian banyaknya orang, kenapa Bu Anita ingin bertemu dengannya? Apa yang sebenarnya beliau inginkan?“Sayang….”Panggilan dengan suara lembut itu berhasil membuat Lora sedikit tersentak. Ia mengangkat kepala, mengalihkan tatapannya pada Grissham yang duduk di hadapannya.“Ada apa? Kenapa wajahmu cemberut begitu?” Grissham menyadari perubahan ekspresi Lora sesaat setelah membaca sesuatu dalam ponselnya.Lora keluar dari ruang obrolan bersama Dhafin dan langsung menutup aplikasi pesan. “Ini Mas Dhafin ngechat katanya Mama sakit dan ingin menemuiku. Dia minta aku menemui Mama.”“Lalu kau menjawab apa

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   279. Sakit Parah?

    Dhafin mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu depan kamar inap setelah kepergian dokter. Kakinya terasa lemas hingga tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.Matanya yang tajam itu menatap kosong ke lantai rumah sakit. Apa yang baru saja disampaikan oleh dokter membuatnya seketika terkejut sekaligus syok.Dunianya seakan runtuh mengetahui fakta tak terduga yang selama ini disembunyikan oleh sang ibu.Kata-kata tentang penyakit parah yang diderita sang ibu menggema di kepalanya, berulang-ulang, seolah menolak untuk diterima. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek dan berat. Tangannya yang bertumpu di pahanya mengepal gemetar tanpa disadari.Dhafin merasa marah pada kenyataan yang begitu kejam. Kenapa ibunya harus menghadapi ini sendirian? Kenapa ia tidak diberi tahu sejak awal?Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyergapnya, menghantam dirinya tanpa ampun. Seharusnya Dhafin lebih peka, seharusnya ia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan ibunya selama ini.Pria itu menjambak rambutnya fr

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   278. Datang Menjemput

    Lora paling lemah jika sudah bersangkutan dengan anak-anaknya. Ia tidak sanggup melihat mereka yang rewel seperti sekarang bahkan menangis kejer. Namun, tentu saja tidak semua keinginan mereka harus terpenuhi. Mereka harus belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini berjalan sesuai kemauannya. Ada kalanya harus mengalah dengan keadaan. “Mama, ayo.” Si kembar terus mendesak Lora agar ikut jalan-jalan bersama mereka. Lora kembali memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam. Baiklah, mungkin kali ini dirinya mengalah dulu. Kedepannya, ia akan bersikap lebih tegas lagi pada mereka. “Oke, Mama ikut,” putusnya dengan tangan mengusap kepala sang anak. “Yeayyy…!” Si kembar langsung bersorak senang lantas menghampiri sang ayah. “Ayo, Papa, kita belangkat.” Dhafin menatap sejenak Lora yang menampilkan wajah yang terkesan tidak ikhlas. “Ayo, Lora,” ajaknya sebelum menggandeng tangan si kembar dan menggiring ke mobil. Di dalam mobil, Lora memilih duduk di kursi belakang bersama Amina

  • Mari Berpisah, Aku Menyerah   277. Ikutlah Bersama Kami

    “Udah siap.” Lora telah selesai merapikan penampilan si kembar yang hendak diajak jalan-jalan oleh Dhafin di hari Sabtu ini. Ia mengamati penampilan mereka dari atas sampai bawah sekali lagi. “Anak-anak Mama udah cantik sama udah ganteng. Sekarang kita tunggu Papa menjemput, ya.” Setelah mendapatkan anggukan, Lora bangkit berdiri dan menghampiri Amina yang tengah bersiap. “Udah siap semuanya, Mbak Mina?” Amina memperbaiki letak tas punggung kecil yang berisi keperluan si kembar. “Udah, Mbak.” Lora maju satu langkah, menatap serius pengasuh si kembar ini. “Mbak, nanti kalau Mas Dhafin mengajak si kembar menginap, jangan izinkan. Pokoknya nggak boleh. Mbak Mina harus tolak dengan tegas.” “Nggak usah takut dipecat. Mbak itu kerja sama saya. Jadi, saya yang memutuskan apakah Mbak berhenti atau tetap lanjut kerja. Mereka sama sekali nggak punya hak,” titahnya memberikan briefing. Amina mengacungkan jempolnya. “Siap, Mbak Lora, tenang aja. Kalau udah dikasih tau begini, saya jad

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status