Ia sangat terkejut mendengar ucapan Freya. Kepalanya menggeleng tidak percaya.
Tidak!
Naina tidak mungkin salah memasukkan vitamin. Ia sangat mengenali bentuk dan isinya. Ia juga ingat betul hari dimana video diambil.
Waktu itu Naina sedang membuatkan sarapan untuk Altair yang mengalami GTM. Dibantu oleh Bi Lastri, kepala pelayan, ia juga sedang memasak sarapan untuk semua orang.
Setelah makanan Altair jadi, dirinya menambahkan vitamin sesuai anjuran dokter. Sebelumnya, ia sudah memastikan bahwa yang dipegangnya benar-benar vitamin. Mulai dari bentuk, isi, hingga takarannya.
“Teliti banget, Non. Bukannya sama aja, ya?” Bi Lastri pun sampai terheran-heran melihat tingkahnya.
Naina tertawa kecil. “Harus dong, Bi, biar nggak salah memasukkan.”
Ia kemudian mengkreasikan makanan itu dengan membuat bentuk lucu. Altair sangat menyukai makanan yang menarik di matanya.
Entah bagaimana video itu diambil padahal Naina tidak merasa direkam. Mungkin ia yang tidak menyadari saking asyiknya bersenda gurau bersama beberapa pelayan di dapur.
“Hahaha….”
Suara tawa Freya yang menggelegar membuat Naina tersadar dari lamunanya. Ia menatap perempuan itu sambil mengepalkan tangannya.
“Kamu bohong! Aku nggak pernah salah memasukkan vitamin.”
Freya mengangkat kedua bahunya masih dengan senyum yang terpatri. “Silakan cari sendiri kebenarannya.”
Ada setitik rasa takut dalam hati Naina bila apa yang dikatakan Freya memang benar adanya. Ya Tuhan… bagaimana bisa ia tidak menyadarinya?
Apa mungkin dirinya dijebak?
Naina kembali menggeleng. Ia tidak boleh ikut terpancing dan percaya begitu saja. Freya pasti sengaja ingin membuat mentalnya hancur lalu terperangkap dalam permainan liciknya.
“Kenapa kamu melakukan semua ini padaku? Apa salahku?” tanyanya.
“Kamu masih mempertanyakan salahmu dimana?” Lagi, Freya tertawa keras. Ia berjalan mengitari Naina.
“Karena kamu itu benalu!” katanya tepat di samping telinga Naina.
Freya kembali melangkah dan berhenti di hadapan Naina. “Keluargaku berubah sejak kedatanganmu. Perhatian Papa jadi terbagi.”
“Papa selalu membanding-bandingkan aku denganmu yang pintar di bidang akademik. Sedangkan padaku, Papa selalu menganggap remeh prestasiku.”
“Meski beda sekolah, tetap aja Papa lebih bangga padamu dibanding aku yang anak kandungnya sendiri!” Freya menekan dadanya menggunakan jari telunjuk.
“Aku tau kamu anak yatim, tapi nggak seharusnya kamu rebut kasih sayang ayahku!”
Naina memejamkan mata sejenak mendengar suara Freya yang semakin meninggi. Pak Irawan, ayah Freya, memang sangat baik kepadanya apalagi saat ibu angkatnya meninggal.
Beliau bersedia merawat bahkan menyekolahkannya hingga sarjana. Ketulusan Pak Irawan membuat ia merasakan kasih sayang seorang ayah yang sama sekali tidak pernah dirasakannya semenjak lahir.
Naina sama sekali tidak meminta. Ia juga cukup tahu diri posisinya dimana. Namun, Freya tidak terima dan terus membuat masalah untuknya.
“Dan sekarang, kamu!” Freya menudingkan telunjuknya tepat di depan muka Naina. “Kamu merebut Dhafin dariku.”
Naina menarik napas dalam-dalam untuk menghadapi Freya dengan tenang. “Aku nggak merebut Mas Dhafin darimu. Salahmu sendiri yang meninggalkannya sebelum akad nikah berlangsung.”
“Aku pergi karena ingin mengejar mimpiku. Itu kesempatan emas yang hanya terjadi beberapa tahun sekali. Tapi bukan berarti kamu malah menikahi Dhafin!” balas Freya sengit.
Naina membalas tatapan Freya dengan berani. “Asal kamu tau, Freya, aku juga terpaksa menikah sama Mas Dhafin. Demi menjaga nama baik keluarga, ayahmu memohon-mohon padaku untuk menggantikanmu.”
“Begitu pun ibumu yang mengingatkanku tentang utang budi. Tante Linda mengancam akan memecatku dari perusahaan dan nggak akan bisa diterima di perusahaan manapun. Aku nggak punya pilihan lain selain menerimanya.”
Ia tersenyum. “Sekarang di saat rumah tanggaku baik-baik aja, kamu kembali dan berniat menghancurkannya. Siapa di sini yang disebut pelakor?”
“Kamu!” Freya geram. Matanya berkilat tajam. Namun, dalam sekejap raut wajah itu berubah. Ia kemudian terkekeh kecil terkesan remeh.
“Terserah apa katamu, yang jelas aku ingin mengambil kembali milikku. Setidaknya satu penghalang berhasil tersingkirkan. Tak ada lagi yang menghalangi jalanku memiliki Dhafin sepenuhnya.”
Kini, giliran Naina yang dibuat geram. Ia sangat mengerti maksud dari kata ‘penghalang’ yang disebut Freya.
“Kamu boleh membenciku, menyakitiku semaumu, tapi nggak dengan anakku. Altair nggak ada sangkut pautnya dalam hubungan kalian.”
“Tentu ada. Seperti yang kamu bilang tadi, aku ingin menyingkirkanmu melalui Altair. Dhafin nggak akan menceraikanmu kalau masih ada anak diantara kalian,” balas Freya.
“Bonusnya, mereka langsung menuduhmu. Aku tinggal menambahkan bumbu-bumbu penyedap yang membuat mereka percaya padaku dan semakin membencimu.”
“Dasar licik! Bi*dap kamu!” Naina berang hingga tanpa sadar mengeluarkan umpatan.
Freya tertawa puas. “Yeah, it’s me. Aku nggak akan berhenti sebelum hidupmu hancur sehancur-hancurnya, Naina!” tekannya kemudian berlalu keluar kamar.
Naina terduduk lemas di tepi ranjang. Air mata kembali mengalir seakan tiada habisnya. “Bahkan hidupku udah hancur semenjak Altair meninggal.”
Ia memegang dadanya yang terasa sesak sekaligus berdenyut sakit. Putra semata wayangnya meninggal karena ulah orang lain. Anak sekecil itu yang tidak mengerti apa-apa malah menjadi korbannya.
Wanita itu menurunkan tangannya lantas mengusap perutnya lembut. “Sayang, Mama minta maaf. Mama nggak sanggup, Nak. Maaf, kalau Mama memisahkanmu dengan Papa nantinya.”
Naina beranjak menuju meja rias lalu menatap pantulan dirinya dalam cermin. Ia mengusap kasar pipinya yang basah oleh air mata.
Kesabarannya sudah habis karena tidak ada lagi orang yang mempercayainya di rumah ini. Dirinya sudah sangat lelah dengan semuanya.
“Baiklah, sudah cukup. Aku mengakhiri semuanya.”
Naina mengambil tas besarnya lantas mengambil beberapa bajunya yang dibawa ke rumah ini. Tak lupa, ia memasukkan dokumen penting beserta tabungan.
Sejenak, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang menjadi saksi bisu kisahnya bersama Dhafin.
“Selamat tinggal, Suamiku.”
Naina melangkah keluar kamar. Suasana rumah sangat sepi. Kemungkinan semua orang telah istirahat di kamar masing-masing mengingat waktu yang semakin larut malam.
Dhafin juga tidak terlihat sepertinya sedang mengantar Freya pulang. Baguslah, itu memudahkannya keluar dari sini tanpa diketahui siapapun.
Sekali lagi, ia menatap rumah megah yang hampir empat tahun ini tempatinya.
“Aku janji akan membuat kalian menyesal,” ujarnya.
Tanpa Naina ketahui, ada seseorang yang melihat kepergiannya dan segera mengirimkan pesan.
[Naina pergi dari rumah dengan membawa tas besar]
[Zelda, malam ini aku memutuskan pergi dari rumah neraka itu. Aku udah nggak kuat berada disana]Harap-harap cemas, Naina mengirimkan pesan untuk sahabatnya itu. Sayangnya, hanya centang dua dan belum dibaca. Mungkin Zelda sedang menikmati waktu bersama keluarganya?Naina jadi sungkan meminta bantuan. Meski sebelumnya Zelda sudah menawarkan, tetap saja dirinya tidak ingin merepotkan Zelda terus.Kini, Naina berjalan kaki tak tentu arah. Cukup jauh dari kompleks perumahan mertuanya.Sudah memesan ojol juga bahkan sampai tiga kali, tetapi semuanya ditolak dengan alasan sudah larut malam.Tidak mungkin ia pulang ke kampung halaman karena rumahnya sudah dijual untuk modal ke kota ini.Kembali ke rumah Freya yang selama ini menjadi tempat tinggalnya sebelum menikah pun bukan pilihan bagus. Itu sama saja dengan masuk ke kandang musuh.Wanita cantik itu kembali memesan ojol dengan tujuan menuju terminal, berharap kali ini orderannya diterima. Lelah berjalan, ia memutuskan istirahat di sebuah
Di sisi lain....“Sayang, pertunangan kita akan diadakan dua hari setelah empat puluh harinya Altair. Gimana menurutmu? Apa kamu setuju?”Dhaffin, yang belum tahu kaburnya Naina, hanya mengangguk pelan tanpa menoleh. Matanya tetap fokus melihat jalanan di depan. Sekarang ini, ia sedang dalam perjalanan mengantar Freya pulang.“Kamu nggak apa-apa?” tanya Freya hati-hati sambil menatap Dhafin di sampingnya.“Kenapa?” Dhafin melirik sekilas.Freya menunduk, memainkan jarinya di pangkuan. “Aku merasa nggak enak. Kamu sama Naina kan baru aja kehilangan Altair. Kalian masih dalam suasana duka,” ucapnya berpura-pura simpati.“Maumu gimana? Diundur?”“Nggak nggak, bukan gitu.” Freya buru-buru menggeleng. “Ini kan udah menjadi kesepakatan bersama. Jadi, yaudah ikuti aja rencana mereka.”Dhafin hanya berdehem tanpa menanggapi lebih banyak. Dalam hati, ia juga merasakan hal yang sama. Duka masih sangat kental menyelimuti, apalagi Naina yang merasa paling kehilangan.Namun, kembali lagi. Semuanya
Dhafin tiba di rumah sekitar pukul sebelas malam. Suasana rumah sudah sangat sepi. Bahkan lampu ruang utama sudah dimatikan.Ia pun langsung melangkah menuju kamarnya dan tidak melihat keberadaan Naina.Mungkin tidur di kamar Altair karena semenjak putranya tiada Naina lebih sering tidur di sana.Pria bertubuh tinggi dan tegap itu mengambil piyama tidur yang sudah disiapkan sang istri lantas mengganti pakaiannya.Ia merebahkan tubuh yang terasa lelah di ranjang usai mengirim pesan pada Freya untuk mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai rumah. Matanya terpejam dan tak lama memasuki alam mimpi.Keesokan paginya, Dhafin bangun sedikit telat. Biasanya Naina yang membangunkannya untuk menunaikan sholat Subuh. Namun, kali ini ia belum melihat batang hidung istrinya.“Naina, siapkan bajuku,” perintah Dhafin yang masih mengira Naina berada di kamar Altair. Tangannya sibuk memasukkan berkas ke dalam tas lebih.Tidak ada sahutan membuatnya mengernyit heran. Kamar ini dengan kamar anaknya saling
Dhafin terduduk di pinggiran ranjang masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia senantiasa menatap tespack itu lekat-lekat. Naina hamil. Naina sedang mengandung anaknya. Akan tetapi, kenapa tidak memberitahunya? Kini, Naina pergi entah kemana dengan membawa serta benih di rahimnya. Ia benar-benar tidak menyangka istrinya itu berani berbuat nekat. Setelah semalam minta cerai, kemudian malah kabur. Naina pikir, dirinya akan terbebas begitu saja? Tentu tidak! Dhafin berjanji, akan membawa Naina kembali ke rumah ini bagaimanapun caranya. Naina harus berada dalam genggamannya. Tiba-tiba, Dhafin teringat dengan seorang perempuan yang selama ini menjadi sahabat istrinya. Mungkinkah Naina berada di tempat sahabatnya itu? Sepertinya iya. Siapa lagi orang yang akan dituju Naina kalau bukan sahabatnya? Naina tidak memiliki siapapun di dunia ini. Wanita itu hidup sebatang kara tanpa orang tua dan menumpang hidup di rumah Freya sebelum berakhir menikah dengannya.
Naina beringsut duduk dibantu oleh suster. Ia menatap dokter laki-laki di sampingnya dengan raut wajah cemas. Jantungnya berdebar-debar menunggu jawaban dari sang dokter. “Ibu mengalami pendarahan hebat. Untung saja anda segera dibawa ke rumah sakit sehingga langsung mendapatkan penanganan.” Naina dibuat sangat syok mendengar penjelasan dokter. Hatinya mencelos. Jantungnya semakin memompa cepat. “Lalu janin saya....” Ucapannya menggantung. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana kalau dirinya kembali kehilangan. Anak ini satu-satunya yang menjadi harapannya untuk tetap bertahan hidup. Dokter mengulas senyum tipis seolah mengerti kekhawatiran pasiennya. “Alhamdulillah, janin ibu bisa diselamatkan.” “Alhamdulillah….” Naina menghembuskan napas lega. Perasaannya seketika plong. Dalam hati, ia sangat bersyukur. Tuhan masih baik kepadanya dengan tidak mengambil calon buah hatinya. “Tapi sekarang ini kandungan ibu sangat rentan keguguran. Kar
“Aku sangat mencintaimu, Freya. Jangan tinggalkan aku lagi.” Deg! Naina menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Dhafin yang menyerupai gumaman. Ia berdiri dengan tubuh yang menegang kaku melihat mereka yang saling berpelukan itu. Dadanya seakan dihantam oleh sesuatu yang besar. Butiran bening telah terkumpul di kelopak matanya siap jatuh kapan saja. Belum cukup sampai di situ, Freya melepaskan pelukannya kemudian tanpa diduga mencium bibir Dhafin. Awalnya, Dhafin tampak terkejut, tetapi lama-kelamaan menikmati dan ikut membalas. Terlihat dari caranya yang memegang pipi dan tengkuk Freya semakin memperdalam ciuman. Sontak, air mata Naina jatuh tanpa permisi. Jantungnya berdetak cepat tanpa bisa dikendalikan. Dadanya sangat sesak menyaksikan langsung sang suami mencium mesra mantan kekasihnya. Ya Tuhan…. sakit sekali. Ia menggenggam kuat-kuat testpack di tangannya. Rencananya yang ingin memberikan kejutan, malah ia yang dibuat terkejut. Pantas saja suaminya p
Naina menarik napasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak dalam dadanya. Ia menatap miris sang putra yang masih menangis hingga suaranya serak.Sepertinya ini menjadi puncak kesabaran Altair menghadapi sikap sang ayah sehingga sangat susah dibujuk.“Kamu ini gimana sih? Anak nangis bukannya ditenangkan malah dibiarkan.” Sang ibu mertua akhirnya turun tangan. Ia berjalan menghampiri Altair.“Udah, Ma. Aku udah membujuk, tapi Altair tetep nggak mau.” Naina senantiasa mengusap punggung Altair yang bersandar padanya.“Ya, kamu harusnya cari cara dong. Pakai alternatif lain atau apa kek. Kasihan cucuku nangis terus dari pagi. Jadi ibu kok nggak becus banget.”Jleb sekali rasanya. Padahal anaknya yang salah karena melanggar janji, tetapi Naina tetap disalahkan bahkan dibilang tidak becus.“Tapi Altair maunya sama Mas Dhafin, Ma. Udah lama Mas Dhafin nggak main sama Altair.”“Jangan cuma mengandalkan Dhafin doang. Mentang-mentang Altair deketnya sama Dhafin, kamu lepas tangan gitu aja,”
“Apa? Turun?”Wanita yang merupakan petugas rumah sakit itu mendekat ke arah Naina. “Iya, Mbak. Sahamnya lagi turun drastis. Kurang lebih selama tiga hari ini sih.”Naina berdehem pelan untuk menetralkan rasa terkejutnya. “Ibu tau dari mana?”“Dari anak saya yang bekerja di perusahaan itu. Katanya di sana tuh lagi kacau banget, Mbak. Anak saya jadi lebih banyak lembur buat mengatasi masalah itu.”Naina terdiam tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Ia yakin pasti Dhafin sekarang sedang sibuk mengatasi masalah itu. Dhafin tentunya akan melakukan segala cara untuk mengembalikan nama baik perusahaan.“Anak saya juga bilang kalau masalah ini tuh akibat berita viralnya Mbak. Padahal yang saya tahu, Wirabuana Group itu perusahaan yang bagus banget loh. Nggak nyangka akan menghadapi masalah ini.”Naina membenarkan dalam hati perkataan wanita itu. Wirabuana Group memang salah satu perusahaan ternama yang terkenal sangat bagus. Di mata publik, citranya pun sangat baik seolah tanpa cela sedi
Lora membantu Azhar duduk di sisi kanan neneknya, sementara Amina membantu Zora duduk di sisi kiri. Kini, si kembar berada di samping kanan-kiri Bu Anita, seperti dua permata yang menerangi hatinya.“Zora, cucu Oma yang cantik,” ucap Bu Anita sambil memeluk dan mencium kepala Zora yang dihiasi kunciran dua.Lalu, ia beralih ke Azhar, memeluk tubuh mungil cucu laki-lakinya dan menciumi wajahnya dengan penuh kasih. “Gemes banget sama cucu Oma yang paling ganteng ini.”Lora hanya tersenyum menyaksikan pemandangan itu. Ada rasa hangat mengalir dalam dadanya. Ia lalu duduk di kursi samping ranjang, sementara Amina memilih tempat di sofa. Keputusan untuk membawa si kembar ke sini terasa begitu tepat. Setidaknya, kehadiran mereka mampu menghibur Bu Anita dan mengusir kesepian yang mungkin menyelimuti.“Kalian berangkatnya dari rumah?” tanya Bu Anita sambil menatap si kembar secara bergantian.Ia mencium aroma khas tubuh anak-anak yang baru selesai mandi—wangi bedak bayi masih melekat, terle
“Bagaimana keadaan mantan ibu mertuamu?”Lora yang semula fokus pada piring sarapannya beralih menatap sang ibu. Ia mempercepat kunyahannya, lalu menelan makanan sebelum berbicara. “Ya, begitulah, Bun.”“Masih sering mengeluh sakit perut bagian bawah. Kata Mas Dhafin, lusa dijadwalkan operasi pengangkatan tumor supaya nggak semakin menyebar,” jawabnya dengan nada khawatir.Bu Radha manggut-manggut paham. Ia sudah mendengar kabar tentang kondisi Bu Anita. Wajahnya memancarkan ekspresi prihatin. “Tumor ganas di rahim, apalagi sudah masuk stadium tiga, itu kondisi yang cukup serius. Pada tahap ini, sel kanker biasanya sudah menyebar ke jaringan sekitar atau bahkan ke kelenjar getah bening di sekitarnya.”Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, “makanya, operasi pengangkatan tumor memang langkah yang tepat.”“Biasanya, dokter akan mengangkat rahim dan jaringan yang terdampak agar penyebaran kanker bisa dicegah. Kadang juga dibarengi kemoterapi atau terapi lain, tergantung tingkat
Suasana dalam ruangan tiba-tiba terasa begitu berat. Seolah udara mendadak menipis, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyesakkan.Lora menatap Bu Anita dengan perasaan campur aduk. Wanita itu masih berusaha tersenyum, meski jelas terlihat ada kepedihan yang berusaha ia sembunyikan.“Iya, Lora, aku bahkan baru mengetahuinya.” Dhafin akhirnya bersuara setelah beberapa menit terdiam. Suaranya terdengar lelah.Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan. “Mama begitu rapi menyembunyikan penyakit itu dari kita semua.”Pria itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Kata orang rumah, beberapa hari terakhir Mama sering mengeluh sakit perut. Aku sempat mengira itu hanya gangguan pencernaan biasa.”Tatapannya kemudian mengabur seakan-akan mengingat kejadian yang masih terekam jelas dalam benaknya.“Tapi saat jalan-jalan sama si kembar kemarin, aku mendapat telepon mendadak. Katanya Mama pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.” Rahangnya menge
Lora menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu dalam suara Dhafin yang membuatnya tak bisa menolak. Dengan langkah ragu, ia mengikuti Dhafin yang membuka pintu. Aroma khas rumah sakit langsung menyergap hidung begitu dirinya memasuki ruangan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, memberikan kesan tenang namun juga penuh dengan kenangan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Bu Anita terbaring dengan tubuh lemah, selang infus masih terpasang di tangannya. Matanya terpejam, napasnya teratur meski tampak sedikit berat. Lora melangkah lebih dekat hingga berdiri di samping tempat tidur. Matanya menatap lekat wajah pucat Bu Anita—wanita yang dulu pernah bersikap semena-mena padanya, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Ada perasaan aneh yang menyeruak di dadanya. Bukan kebencian, bukan pula kepuasan melihat keadaan mantan mertuanya seperti ini. Yang ada justru sesak yang sulit dijelaskan. Ini adalah sisi lain dari Bu Anita, yang tak pernah ia
Grissham mengangkat bahunya dengan gerakan yang ringan, seakan tak terlalu memperdulikan topik yang sedang dibicarakan. Ia menghembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Lora dengan sorot mata yang tenang namun dalam. “Karena aku sadar, Twins butuh ayah kandungnya, begitu pula sebaliknya. Aku tidak bisa egois hanya karena perasaan pribadiku.” Laki-laki itu meraih gelas jus di depannya, mengaduk isinya dengan sedotan tanpa benar-benar berniat meminumnya. Ada sedikit ketegangan di wajahnya, tetapi senyumnya tetap terukir tipis. “Aku ingin menjadi bagian dari mereka, tapi bukan dengan menghalangi hubungan mereka dengan Dhafin,” lanjutnya dengan suara lembut. Lora terdiam sejenak, meresapi kata-kata itu. Ia menggenggam tangan Grissham di atas meja, meremasnya lembut. “MasyaAllah... Kak Sham baik banget,” ucapnya dengan suara penuh ketulusan. Grissham tersenyum kecil, ibu jarinya mengusap punggung tangan Lora dengan lembut. “Bagiku, kebahagiaanmu dan anak-anak adalah yang paling u
[Lora, Mama sedang sakit dan sangat ingin bertemu denganmu. Bisakah kau menemui Mama?]Lora hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Dhafin beberapa menit lalu tanpa ada niatan untuk membalas.Raut wajah dan tatapannya datar terkesan jengah. Dalam hati, ia merasa jengkel dengan Dhafin yang tak berhenti mengusiknya.Bukannya Lora tidak percaya bila ibunya Dhafin sedang sakit. Hanya saja dari sekian banyaknya orang, kenapa Bu Anita ingin bertemu dengannya? Apa yang sebenarnya beliau inginkan?“Sayang….”Panggilan dengan suara lembut itu berhasil membuat Lora sedikit tersentak. Ia mengangkat kepala, mengalihkan tatapannya pada Grissham yang duduk di hadapannya.“Ada apa? Kenapa wajahmu cemberut begitu?” Grissham menyadari perubahan ekspresi Lora sesaat setelah membaca sesuatu dalam ponselnya.Lora keluar dari ruang obrolan bersama Dhafin dan langsung menutup aplikasi pesan. “Ini Mas Dhafin ngechat katanya Mama sakit dan ingin menemuiku. Dia minta aku menemui Mama.”“Lalu kau menjawab apa
Dhafin mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu depan kamar inap setelah kepergian dokter. Kakinya terasa lemas hingga tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.Matanya yang tajam itu menatap kosong ke lantai rumah sakit. Apa yang baru saja disampaikan oleh dokter membuatnya seketika terkejut sekaligus syok.Dunianya seakan runtuh mengetahui fakta tak terduga yang selama ini disembunyikan oleh sang ibu.Kata-kata tentang penyakit parah yang diderita sang ibu menggema di kepalanya, berulang-ulang, seolah menolak untuk diterima. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek dan berat. Tangannya yang bertumpu di pahanya mengepal gemetar tanpa disadari.Dhafin merasa marah pada kenyataan yang begitu kejam. Kenapa ibunya harus menghadapi ini sendirian? Kenapa ia tidak diberi tahu sejak awal?Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyergapnya, menghantam dirinya tanpa ampun. Seharusnya Dhafin lebih peka, seharusnya ia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan ibunya selama ini.Pria itu menjambak rambutnya fr
Lora paling lemah jika sudah bersangkutan dengan anak-anaknya. Ia tidak sanggup melihat mereka yang rewel seperti sekarang bahkan menangis kejer. Namun, tentu saja tidak semua keinginan mereka harus terpenuhi. Mereka harus belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini berjalan sesuai kemauannya. Ada kalanya harus mengalah dengan keadaan. “Mama, ayo.” Si kembar terus mendesak Lora agar ikut jalan-jalan bersama mereka. Lora kembali memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam. Baiklah, mungkin kali ini dirinya mengalah dulu. Kedepannya, ia akan bersikap lebih tegas lagi pada mereka. “Oke, Mama ikut,” putusnya dengan tangan mengusap kepala sang anak. “Yeayyy…!” Si kembar langsung bersorak senang lantas menghampiri sang ayah. “Ayo, Papa, kita belangkat.” Dhafin menatap sejenak Lora yang menampilkan wajah yang terkesan tidak ikhlas. “Ayo, Lora,” ajaknya sebelum menggandeng tangan si kembar dan menggiring ke mobil. Di dalam mobil, Lora memilih duduk di kursi belakang bersama Amina
“Udah siap.” Lora telah selesai merapikan penampilan si kembar yang hendak diajak jalan-jalan oleh Dhafin di hari Sabtu ini. Ia mengamati penampilan mereka dari atas sampai bawah sekali lagi. “Anak-anak Mama udah cantik sama udah ganteng. Sekarang kita tunggu Papa menjemput, ya.” Setelah mendapatkan anggukan, Lora bangkit berdiri dan menghampiri Amina yang tengah bersiap. “Udah siap semuanya, Mbak Mina?” Amina memperbaiki letak tas punggung kecil yang berisi keperluan si kembar. “Udah, Mbak.” Lora maju satu langkah, menatap serius pengasuh si kembar ini. “Mbak, nanti kalau Mas Dhafin mengajak si kembar menginap, jangan izinkan. Pokoknya nggak boleh. Mbak Mina harus tolak dengan tegas.” “Nggak usah takut dipecat. Mbak itu kerja sama saya. Jadi, saya yang memutuskan apakah Mbak berhenti atau tetap lanjut kerja. Mereka sama sekali nggak punya hak,” titahnya memberikan briefing. Amina mengacungkan jempolnya. “Siap, Mbak Lora, tenang aja. Kalau udah dikasih tau begini, saya jad