Malam itu, hujan mengguyur deras di Jakarta.
Brian mendorong pintu apartemennya dengan bahu, menyalakan lampu utama yang memantulkan sinarnya ke dinding kaca besar di satu sisi ruangan. Pemandangan gemerlap kota yang basah tampak dari balik kaca, memberi kesan tenang yang kontras dengan gemuruh di luar. Ia melepas sepatu kulitnya dan melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan dingin. Udara terasa sunyi,hanya desiran AC yang menemani. Dengan langkah malas, Brian menuju closet room. Deretan jas kerja mahal, jam tangan eksklusif, dan sepatu yang tertata sempurna di rak kayu mahal menunggu untuk disentuh. Ia melepaskan jasnya, menggantungnya dengan rapi, lalu mengendurkan dasi yang masih menggantung di leher. Ponselnya bergetar. Di layar muncul nama yang membuat bibirnya melengkung samar. Laura. Brian mengangkat telepon sambil membuka kancing kemejanya, tubuh tegapnya kini hanya terbalut kaus dalam. "Ya, Lau..." suaranya berat, namun ada kehangatan di sana. Hembusan napas dari ujung telepon terdengar. Laura, suara yang selalu menjadi penenangnya di tengah malam-malam panjang. "Aku baru selesai meeting," katanya. Suaranya terdengar lelah, namun tetap penuh pesona, seperti biasa. Brian mendengar suara langkah berderap—gema sepatu hak tinggi yang memantul di basement kantor, disusul suara pintu mobil yang ditutup. "Pesankan aku makanan, sayang. Aku tak sempat makan seharian," keluhnya, diikuti suara mesin mobil yang menyala. Brian mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas, meneguk sebotol air mineral hingga habis setengah. "Aku akan memasakkanmu sesuatu," jawabnya datar, namun penuh niat. Tawa kecil terdengar di seberang. "Aku tidak yakin. Jangan-jangan kau yang malah akan memakanku." Brian tersenyum, matanya menyipit karena senang mendengar nada jenaka Laura. "Kau mengenalku dengan sangat baik, babe," jawabnya, mencoba bercanda, meski suaranya tetap terdengar berat dan serius. "Hati-hati di jalan, Laura," lanjutnya. "Dengar itu, pria romantis sedang memperhatikan keselamatanku." Laura terkekeh kecil sebelum menutup panggilan. "Bye, Sayang." --- Aroma musk yang pekat menyeruak begitu pintu terbuka,menyambut Laura dengan kehangatan yang khas dari apartemen pria itu.Hujan di luar belum berhenti, membawa hawa dingin yang segera lenyap begitu ia melangkah masuk. Laura menutup pintu perlahan, langkahnya ringan namun penuh keinginan menuju sosok pia bertubuh tegap di dapur. Tanpa ragu, ia melingkarkan lengannya di pinggang pria itu, tubuhnya merapat, dan bibirnya mendarat lembut di punggung telanjang yang hangat. "Hai, sayang... aku merindukanmu," bisiknya. Brian menoleh sedikit, tersenyum kecil, dan membiarkan sentuhan Laura meresap ke dalamnya. "Makan malam?" Godanya sambil mengusap tangan Laura yang memeluknya. "Bagaimana kantor hari ini?" Lanjutnya. Laura terkekeh, membalas tatapan pria itu."ljinkan aku menikmati makan malamku dulu, Pak CEO," godanya sambil mengeratkan pelukannya. Tangannya yang nakal sempat mencubit sisi perut Brian,membuat pria itu terkekeh ringan. "Kau sudah berani melawan CEO-mu sekarang?" Brian pura-pura memasang wajah tak terima, namun sudut bibirnya terangkat tanda ia menikmati candaan itu."Lebih baik aku mengatakannya langsung di depanmu, Tuan Brian. Dan, terima kasih untuk makan malam dan wine-nya," balas Laura dengan nada menggoda, sebelum melepaskan pelukan dan meraih botol wine di meja.la menuangkan isinya ke dalam gelas, Ialu menyesapnya dengan anggun. Brian menggeleng kecil, matanya tak lepas dari Laura. Wanita itu begitu memesona,bahkan saat menyuarakan protes kecil soal kebijakan kantornya. "Kau mabuk," desisnya, memperhatikan pipi Laura yang mulai memerah, tanda wine itu mulai bekerja. Laura menunjuk dirinya dengan alis terangkat. "Aku? Mabuk? Enak saja!" latertawa kecil, lalu berdiri, tangannya sibuk membuka blazer kerjanya. Namun gerakannya melambat ketika Brian melangkah mendekat dan meraih pinggangnya. Dalam sekejap, Laura mendapati dirinya berada dalam pelukan hangat pria itu. Brian memiringkan kepalanya, menatapnya lekat dengan senyum yang lebih lembut."Peluk aku," bisik Brian, suaranya terdengar candu, seperti permintaan yang tak bisa ditolak. Laura terkekeh kecil, tapi tubuhnya menurut. Tangannya melingkar di leher pria itu, membalas pelukan dengan erat. "Kau memang menyebalkan," bisiknya pelan,sebelum Brian menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman lembut yang begitu dalam.Hujan di luar seakan menjadi irama latar yang sempurna untuk keintiman mereka malam itu. Bagi Brian, hanya dalam apartemen ini ia bisa menikmati Laura sepenuhnya-tanpa formalitas, tanpa batasan. Di sini, ia adalah dirinya, dan Laura adalah dunianya. ----- Air dari shower deras membasahi tubuh mereka, membuat segala suara terdengar samar di tengah derasnya. Ciuman itu datang dengan liar, tanpa jeda. Bibir Brian menyapu bibir Laura, menelusuri rongga hangat mulutnya dengan intensitas yang membuat dada Laura naik turun tak beraturan. Nafas mereka saling berpacu, nyaris tak sempat terhela. Dengan dorongan lembut namun penuh tuntutan, Brian menghujani wajah mungil Laura dengan kecupan dan lumatan yang menurun ke leher jenjangnya, meninggalkan jejak basah di kulitnya.Laura terengah, tubuhnya melemas dibawah kendali pria itu. Brian tak berhenti.Dalam satu gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Laura ke gendongannya, langkahnya tergesa menuju kamar mandi yang terletak di sudut apartemen. la menyalakan shower tanpa berkata-kata, membiarkan air dingin mengguyur keduanya, menyapu panas yang menguar dari tubuh mereka. Ciuman mereka berlanjut,kali ini lebih lambat tapi tak kalah dalam. Tangan Brian bekerja cepat. Satu menarik dress Laura hingga terlepas dari tubuhnya, sementara yang lain mengangkat kedua tangan Laura ke atas. Sebelum Laura sempat protes, Brian mengambil tali kecil dari gantungan handuk, mengikat pergelangan tangannya dengan lihai. "Aku tahu kau suka ini," desis Brian, suaranya rendah namun menggoda. Mata cokelatnya bersinar tajam, memandangi Laura yang kini basah kuyup di hadapannya. Bibir wanita itu bergetar, entah karena dingin air atau panas yang menjalar dari pandangan pria di depannya. Laura tak berkata apa-apa. Matanya sayu, tubuhnya menempel pada dinding kamar mandi yang dingin, terasa kontras dengan panas tubuh Brian yang mendekat. Pria itu menarik kemejanya sendiri dengan gerakan kasar, memperlihatkan tubuhnya yang kokoh, otot-ototnya menegang di bawah siraman air. Tubuh telanjang Brian kini menekan tubuh mungil Laura, kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang. Laura menutup matanya, menggigit bibir bawahnya saat punggungnya bergesekan dengan dinding licin, sementara tubuh Brian terus mendekapnya erat. Detak jantung mereka berpacu, seolah berlomba dengan suara deras air yang terus mnengguyur, menciptakan suasana yang penuh intensitas dan emosi yang tak terbendung. Mereka berdua mabuk berat malam itu, Berciuman pertama kali pada saat mereka menautkan perasaan,usai mendengar pengakuan Laura dan saat itu juga mereka pertama kali melakukannya dengan kesadaran penuh serta Brian yang langsung menjadikan Laura sebagai candu. Brian yang memiliki Haphephobia mulai merasakan dirinya tidak cemas disentuh atau menyentuh orang lain. Laura yang membuat dunianya kembali. Brian menyesap batang nikotin dalam satu tarikan nafas dan menghembuskannya sebelum ikut tertidur disebelah Laura dan memeluknya. Brian ingin memiliki Laura - sepenuhnya. --- "Morning" Laura menjatuhkan ciuman lembut dipipi sang CEO yang baru saja bangun. Brian melirik Jam, dua jam sebelum jam kerja dan laura terlihat merapikan baju kerjanya usai memasang kaling berliannya. "Morning,Sayang." Balas Brian. Laura terkekeh, menangkup rahang tegas itu dan menjatuhkan ciuman lagi pada bibir Brian. "Aku sudah buatkan sarapanmu" Brian mengangguk, mata monolidnya sempat menangkap pergerakan Laura yang tengah memasangkan cincin emas dijari manis kanannya. "Kau akan pergi?" Brian menatap sosok manis itu tak suka. Laura menoleh kearahnya tersenyum tipis dengan mata beningnya menatap Brian penuh arti. "Aku harus pulang. Juan akan tiba dua jam lagi dari Jepang" Luara menyebut nama suaminya tanpa beban sebelum menghilang dari balik pintu kamar, meninggalkan Brian yang terpekur diatas ranjang lalu menoleh kesebelahnya dimana Laura tertidur lelap dalam pelukannya semalam. Daniel menghela nafasnya yang sesak. "Aku ingin memilikimu."Breaking News: Supermodel Alexander Juan baru saja tiba dibandara usaiAktivitasnya sebagai model utama di Jepang Fashion Week.Laura membuka pintu mobil, bergegas duduk dikursi pengemudi,menghela nafasnya yang terasa sesak, jatung wanita itu berdetak cukup cepat saat ia membuka ponsel dan benar saja artikel suaminya yang akan kembali dari jepang sudah muncul dalam pencarian pertama.Laura menatap layar ponselnya lagi, memandangi deretan foto juan dan membaca sekilas komentar-komentar yang sesungguhnya sedikit mengusiknya, terutama jika ia menemukan komentar bernada mengoda daripengguna internet.Tanpa sadar ia tersenyum tipis, menyadari betapa egoisnya ia dalam hubungan pernikahan mereka selama ini.Usai menyalakan mesin mobil, laura bergegas menuju apartement tempatnya dan juan tinggal selama dua tahun sejak pernikahan mereka secara diam-diam, tentu saja dengan restu kedua orangtua mereka dan kehadiran beberapa orang kerabat terdekat mereka.Dirinya mengenal juan nyaris selama hidup
Suara dentingan kaca pecah memenuhi ruangan besar itu, dan menggema di setiap sudutnya. Brian berdiri di tengah kekacauan, dadanya naik turun, wajahnya memerah oleh amarah yang tak tertahan. Di tangannya, sisa gelas wine yang hancur sangat mencerminkan tatapan matanya yang gelap dan penuh kemarahan."Ini semua tidak masuk akal!" teriaknya, nadanya penuh tekanan.Di sudut ruangan, Livia,bunya menatapnya dengan raut wajah cemas, sementara wanita muda yang duduk di sofa hanya bisa menunduk, merasa tak diinginkan. Wanita itu, Sarah, adalah sosok yang dipilih orang tuanya sebagai calon istri Brian. Wanita yang di kenal dari pertemuan perusahaan Ayah Brian dan Livia,istrinya. Namun, Brian tidak peduli siapa dia.Hanya dengan keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya ingin meledak. Ia benci dengan situasi seperti ini."Brian," Livia mencoba berbicara, suaranya tenang tapi tegas. "Kamu tidak bisa terus begini. Lihatlah dirimu. Usia tiga puluh lima dan kau masih sendiri. Ayahmu dan aku
Laura menatap meja makan di hadapannya. Hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi tetap utuh, sama sekali tidak tersentuh. Sambil menghela napas panjang, ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul sebelas malam, dan Juan masih belum pulang. Lagi."Dia sibuk," gumam Laura kepada dirinya sendiri, mencoba mencari alasan untuk perasaan hampa yang menyelimutinya. Juan adalah seorang aktor dan model terkenal; jam kerja yang tidak menentu adalah bagian dari kehidupannya. Tapi tetap saja, kesibukan Juan sering kali meninggalkannya sendirian, menghadapi kehampaan yang kian menjadi-jadi. Walauoun sudah terbiasa,tapi tetap saja Laura sedikit merasa kesepian.Beberapa bulan terakhir, mereka semakin jarang berbicara, bahkan lebih jarang lagi tertawa bersama. Laura tidak ingat kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu sebagai pasangan, berbicara tentang hal-hal kecil, atau sekadar menikmati kebersamaan tanpa terganggu oleh pekerjaan. Kehidupan mereka, yang dulunya penuh cinta dan gairah, kini hanya m
Laura mengulurkan tangannya dengan ragu, menyentuh lengan Brian yang berdiri membelakanginya. Sentuhan itu singkat, hampir tidak terasa, tetapi reaksinya sungguh tak terduga.Brian tersentak keras, seperti baru saja tersengat listrik. Ia segera melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dengan mata yang melebar. Wajahnya pucat, dan napasnya memburu, seolah sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri."Jangan sentuh,Laura!" serunya, suaranya bergetar dengan nada tegas yang hampir putus asa.Laura terpaku, merasa bersalah sekaligus bingung dengan reaksinya. “Pak Brian, Aku tidak bermaksud—”“Pergi, Laura,” potong Brian dengan nada dingin, tetapi sorot matanya penuh ketakutan. “Keluar dari ruangan ini.”Ya. Laura dan Brian berada di ruangan kerja brian saat ini. Alih-alih memberi Dokumen untuk di tanda tangani, Laura mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan brian setelah beberapa hari ini menahan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya pada Sosok Brian yang d
Breaking News: Supermodel Alexander Juan baru saja tiba dibandara usaiAktivitasnya sebagai model utama di Jepang Fashion Week.Laura membuka pintu mobil, bergegas duduk dikursi pengemudi,menghela nafasnya yang terasa sesak, jatung wanita itu berdetak cukup cepat saat ia membuka ponsel dan benar saja artikel suaminya yang akan kembali dari jepang sudah muncul dalam pencarian pertama.Laura menatap layar ponselnya lagi, memandangi deretan foto juan dan membaca sekilas komentar-komentar yang sesungguhnya sedikit mengusiknya, terutama jika ia menemukan komentar bernada mengoda daripengguna internet.Tanpa sadar ia tersenyum tipis, menyadari betapa egoisnya ia dalam hubungan pernikahan mereka selama ini.Usai menyalakan mesin mobil, laura bergegas menuju apartement tempatnya dan juan tinggal selama dua tahun sejak pernikahan mereka secara diam-diam, tentu saja dengan restu kedua orangtua mereka dan kehadiran beberapa orang kerabat terdekat mereka.Dirinya mengenal juan nyaris selama hidup
Malam itu, hujan mengguyur deras di Jakarta.Brian mendorong pintu apartemennya dengan bahu, menyalakan lampu utama yang memantulkan sinarnya ke dinding kaca besar di satu sisi ruangan. Pemandangan gemerlap kota yang basah tampak dari balik kaca, memberi kesan tenang yang kontras dengan gemuruh di luar. Ia melepas sepatu kulitnya dan melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan dingin. Udara terasa sunyi,hanya desiran AC yang menemani.Dengan langkah malas, Brian menuju closet room. Deretan jas kerja mahal, jam tangan eksklusif, dan sepatu yang tertata sempurna di rak kayu mahal menunggu untuk disentuh. Ia melepaskan jasnya, menggantungnya dengan rapi, lalu mengendurkan dasi yang masih menggantung di leher.Ponselnya bergetar.Di layar muncul nama yang membuat bibirnya melengkung samar.Laura.Brian mengangkat telepon sambil membuka kancing kemejanya, tubuh tegapnya kini hanya terbalut kaus dalam. "Ya, Lau..." suaranya berat, namun ada kehangatan di sana.Hembusan napas dari ujung tele
Laura mengulurkan tangannya dengan ragu, menyentuh lengan Brian yang berdiri membelakanginya. Sentuhan itu singkat, hampir tidak terasa, tetapi reaksinya sungguh tak terduga.Brian tersentak keras, seperti baru saja tersengat listrik. Ia segera melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dengan mata yang melebar. Wajahnya pucat, dan napasnya memburu, seolah sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri."Jangan sentuh,Laura!" serunya, suaranya bergetar dengan nada tegas yang hampir putus asa.Laura terpaku, merasa bersalah sekaligus bingung dengan reaksinya. “Pak Brian, Aku tidak bermaksud—”“Pergi, Laura,” potong Brian dengan nada dingin, tetapi sorot matanya penuh ketakutan. “Keluar dari ruangan ini.”Ya. Laura dan Brian berada di ruangan kerja brian saat ini. Alih-alih memberi Dokumen untuk di tanda tangani, Laura mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan brian setelah beberapa hari ini menahan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya pada Sosok Brian yang d
Laura menatap meja makan di hadapannya. Hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi tetap utuh, sama sekali tidak tersentuh. Sambil menghela napas panjang, ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul sebelas malam, dan Juan masih belum pulang. Lagi."Dia sibuk," gumam Laura kepada dirinya sendiri, mencoba mencari alasan untuk perasaan hampa yang menyelimutinya. Juan adalah seorang aktor dan model terkenal; jam kerja yang tidak menentu adalah bagian dari kehidupannya. Tapi tetap saja, kesibukan Juan sering kali meninggalkannya sendirian, menghadapi kehampaan yang kian menjadi-jadi. Walauoun sudah terbiasa,tapi tetap saja Laura sedikit merasa kesepian.Beberapa bulan terakhir, mereka semakin jarang berbicara, bahkan lebih jarang lagi tertawa bersama. Laura tidak ingat kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu sebagai pasangan, berbicara tentang hal-hal kecil, atau sekadar menikmati kebersamaan tanpa terganggu oleh pekerjaan. Kehidupan mereka, yang dulunya penuh cinta dan gairah, kini hanya m
Suara dentingan kaca pecah memenuhi ruangan besar itu, dan menggema di setiap sudutnya. Brian berdiri di tengah kekacauan, dadanya naik turun, wajahnya memerah oleh amarah yang tak tertahan. Di tangannya, sisa gelas wine yang hancur sangat mencerminkan tatapan matanya yang gelap dan penuh kemarahan."Ini semua tidak masuk akal!" teriaknya, nadanya penuh tekanan.Di sudut ruangan, Livia,bunya menatapnya dengan raut wajah cemas, sementara wanita muda yang duduk di sofa hanya bisa menunduk, merasa tak diinginkan. Wanita itu, Sarah, adalah sosok yang dipilih orang tuanya sebagai calon istri Brian. Wanita yang di kenal dari pertemuan perusahaan Ayah Brian dan Livia,istrinya. Namun, Brian tidak peduli siapa dia.Hanya dengan keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya ingin meledak. Ia benci dengan situasi seperti ini."Brian," Livia mencoba berbicara, suaranya tenang tapi tegas. "Kamu tidak bisa terus begini. Lihatlah dirimu. Usia tiga puluh lima dan kau masih sendiri. Ayahmu dan aku