Suara dentingan kaca pecah memenuhi ruangan besar itu, dan menggema di setiap sudutnya. Brian berdiri di tengah kekacauan, dadanya naik turun, wajahnya memerah oleh amarah yang tak tertahan. Di tangannya, sisa gelas wine yang hancur sangat mencerminkan tatapan matanya yang gelap dan penuh kemarahan.
"Ini semua tidak masuk akal!" teriaknya, nadanya penuh tekanan. Di sudut ruangan, Livia,bunya menatapnya dengan raut wajah cemas, sementara wanita muda yang duduk di sofa hanya bisa menunduk, merasa tak diinginkan. Wanita itu, Sarah, adalah sosok yang dipilih orang tuanya sebagai calon istri Brian. Wanita yang di kenal dari pertemuan perusahaan Ayah Brian dan Livia,istrinya. Namun, Brian tidak peduli siapa dia.Hanya dengan keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya ingin meledak. Ia benci dengan situasi seperti ini. "Brian," Livia mencoba berbicara, suaranya tenang tapi tegas. "Kamu tidak bisa terus begini. Lihatlah dirimu. Usia tiga puluh lima dan kau masih sendiri. Ayahmu dan aku hanya ingin yang terbaik untukmu." "Yang terbaik?" Brian menatap ibunya dengan sorot mata tajam. "Membawa orang asing ke dalam hidupku dan berharap aku jatuh cinta padanya? Itu bukan yang terbaik, Bu. Itu penghinaan!" Teriaknya penuh tekanan. "Brian, aku—" suara Sarah terdengar pelan, mencoba menjelaskan sesuatu, tapi Brian mengangkat tangannya, memotongnya sebelum dia sempat melanjutkan. "Diam," katanya dingin. "Aku bahkan tidak ingin tahu namamu." Sarah terlihat terkejut, namun ia menahan air matanya. Dia tahu, ini bukan kesalahannya, tapi rasa tidak nyaman yang mengalir di dalam ruangan membuatnya ingin melarikan diri.Apa salahnya ? Kenapa ini terjadi padanya?? --- Brian meninggalkan ruang tamu dengan langkah cepat, napasnya memburu. Dia tidak peduli pada teriakan ibunya yang memanggilnya kembali. Hatinya penuh dengan rasa frustrasi dan amarah, bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap,rasa takut yang membara di dasar dirinya. Dia masuk ke ruang kerjanya, menutup pintu dengan keras hingga suara benturannya menggema. Tangannya meraih vas bunga di meja, melemparkannya ke dinding tanpa berpikir dua kali. Kaca pecah berserakan, tetapi itu tidak cukup untuk meredakan emosinya. Dia mengangkat kursi, membantingnya ke lantai, kemudian menjambak rambutnya sendiri. Dadanya sesak , nafasnya bergemjruh nauj dan turun,badannya merasa gatal dan perih. Brian terengah-engah, punggungnya bersandar pada dinding. Dia menatap kekacauan yang baru saja diciptakannya, tetapi tidak ada rasa lega. Yang ada hanyalah kekosongan yang semakin dalam. Rasa sakit di dadanya kembali datang, membawa ingatan yang telah berusaha dia kubur selama bertahun-tahun. Dia memejamkan mata, tetapi bayangan itu terus menghantuinya. Sentuhan tangan kasar, suara ejekan yang menusuk, dan rasa tidak berdaya yang menghancurkannya. Dia mencoba melupakan, tetapi trauma itu terlalu dalam, tertanam di setiap serat jiwanya. "Brian," suara Livia terdengar di balik pintu. "Buka pintunya. Kita perlu bicara." "Aku tidak ingin bicara!" teriak Brian. Namun, Livia tidak menyerah. "Kamu tidak bisa terus menghindar. Masalah ini tidak akan selesai kalau kamu tidak menghadapi kenyataan." Brian mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri, tetapi tidak berhasil. "Kenyataan? Apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, Bu? Apa kau mengerti kenapa aku tidak bisa melakukan ini?" "Brian, aku tahu kamu mengalami sesuatu yang sulit," kata Livia, nadanya melunak. "Tapi kamu harus mencoba melangkah maju. Kami hanya ingin kamu bahagia." "Bahagia?" Brian tertawa pahit. "Aku tidak pernah merasa bahagia, dan perjodohan ini hanya akan membuat segalanya lebih buruk." --- Livia menghela napas panjang. Dia tahu putranya terluka, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya. Sementara itu, Sarah sudah meninggalkan rumah, merasa tidak ada gunanya memaksakan sesuatu yang jelas-jelas tidak diinginkan.Livia berjalan menuju kamar tidurnya, duduk di tepi ranjang, dan menatap foto keluarga yang terpajang di meja. Dalam foto itu, Brian masih kecil, tersenyum ceria di antara ayah dan ibunya. Dia tidak tahu kapan tepatnya senyum itu menghilang, digantikan oleh dinding dingin yang kini mengelilingi hati putranya. "Brian," gumamnya pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" --- Di dalam ruang kerja, Brian akhirnya membiarkan dirinya jatuh terduduk di lantai. Tangannya gemetar saat dia mengusap wajahnya. Dia merasa terperangkap, tidak hanya oleh tuntutan orang tuanya, tetapi juga oleh rasa sakit yang terus menghantuinya.Dia ingat saat usianya masih belasan tahun, ketika sentuhan orang yang seharusnya melindunginya malah meninggalkan luka mendalam. Trauma itu tidak pernah pergi. Dan sekarang, mereka ingin dia membuka hatinya untuk seseorang? Itu hal yang mustahil baginya. Brian meraih ponselnya, menatap nomor ibunya yang tersimpan di layar. Jemarinya melayang di atas tombol panggil, tetapi dia tidak menekan apa pun. Sebaliknya, dia melemparkan ponsel itu ke sofa, mengubur wajahnya di tangannya. "Aku tidak bisa," gumamnya pelan, hampir seperti bisikan. "Aku tidak bisa melakukannya." --- Brian terdiam di sudut ruang kerjanya.Kekacauan di sekelilingnya terasa sepele dibandingkan dengan badai yang berputar di dalam pikirannya. Napasnya berat, dadanya terasa sesak. Tangannya menggenggam erat meja di depannya, berusaha mencari pegangan dari rasa kacau yang tak bisa ia kendalikan.Namun entah bagaimana,bayangan wajah seseorang melintas di benaknya. Laura. Nama itu terasa asing namun juga akrab Ia pernah bertemu dengannya,sekilas, cukup singkat untuk meninggalkan bekas, tetapi terlalu dalam untuk diabaikan. Brian mengingat senyumnya, nada suaranya yang hangat, dan caranya berbicara tanpa beban. Laura adalah seseorang yang tidak pernah berusaha masuk ke dalam hidupnya, Brian pun demikian. Tak ada celah untuk memberikan ruang pada siapapun dalam hidupnya.Tapi entah kenapa beberapa hari terakhir, Brian selalu mengingat wanita itu .Dia mengepalkan tangan, jemarinya bergetar. "Kenapa aku memikirkannya lagi?" gumamnya pelan. Laura adalah kebebasan yang tidak bisa ia miliki. Dia hanyalah potongan kecil dari dunia luar yang selalu datang mengganggunya. Tetapi apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Laura? Kekaguman? Rasa suka? Atau hanya obsesi terhadap sesuatu yang tampaknya tidak mungkin baginya? "Ini salah," katanya pada dirinya sendiri. "Aku bahkan tidak mengenalnya dengan baik. Dia bukan bagian dari hidupku." Namun, pikiran itu tidak membantunya. Sebaliknya, ia merasa semakin frustasi. Bagaimana jika, di masa depan, dia bertemu seseorang seperti Laura lagi? Bagaimana jika perasaan yang sama muncul? Dia takut. Bukan takut kehilangan, tetapi takut dirinya akan hancur lagi,seperti sekarang. Brian berdiri, berjalan ke arah jendela besar. Pandangannya menyapu gelapnya malam, lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. Dia ingin bebas dari semua ini. Bebas dari trauma, dari bayangan masa lalu, dari dirinya sendiri. Tetapi bagaimana caranya? Tiba-tiba Suara dering ponsel memecah keheningan. Brian berbalik, menatap layar ponselnya yang menyala di meja. Nama itu tertera di sana. Sebuah nama yang membuat dadanya sesak sekaligus dipenuhi rasa penasaran. "Laura," bisiknya pelan, sebelum akhirnya meraih ponsel dengan ragu. Apa yang terjadi??Laura menatap meja makan di hadapannya. Hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi tetap utuh, sama sekali tidak tersentuh. Sambil menghela napas panjang, ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul sebelas malam, dan Juan masih belum pulang. Lagi."Dia sibuk," gumam Laura kepada dirinya sendiri, mencoba mencari alasan untuk perasaan hampa yang menyelimutinya. Juan adalah seorang aktor dan model terkenal; jam kerja yang tidak menentu adalah bagian dari kehidupannya. Tapi tetap saja, kesibukan Juan sering kali meninggalkannya sendirian, menghadapi kehampaan yang kian menjadi-jadi. Walauoun sudah terbiasa,tapi tetap saja Laura sedikit merasa kesepian.Beberapa bulan terakhir, mereka semakin jarang berbicara, bahkan lebih jarang lagi tertawa bersama. Laura tidak ingat kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu sebagai pasangan, berbicara tentang hal-hal kecil, atau sekadar menikmati kebersamaan tanpa terganggu oleh pekerjaan. Kehidupan mereka, yang dulunya penuh cinta dan gairah, kini hanya m
Laura mengulurkan tangannya dengan ragu, menyentuh lengan Brian yang berdiri membelakanginya. Sentuhan itu singkat, hampir tidak terasa, tetapi reaksinya sungguh tak terduga.Brian tersentak keras, seperti baru saja tersengat listrik. Ia segera melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dengan mata yang melebar. Wajahnya pucat, dan napasnya memburu, seolah sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri."Jangan sentuh,Laura!" serunya, suaranya bergetar dengan nada tegas yang hampir putus asa.Laura terpaku, merasa bersalah sekaligus bingung dengan reaksinya. “Pak Brian, Aku tidak bermaksud—”“Pergi, Laura,” potong Brian dengan nada dingin, tetapi sorot matanya penuh ketakutan. “Keluar dari ruangan ini.”Ya. Laura dan Brian berada di ruangan kerja brian saat ini. Alih-alih memberi Dokumen untuk di tanda tangani, Laura mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan brian setelah beberapa hari ini menahan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya pada Sosok Brian yang d
Malam itu, hujan mengguyur deras di Jakarta.Brian mendorong pintu apartemennya dengan bahu, menyalakan lampu utama yang memantulkan sinarnya ke dinding kaca besar di satu sisi ruangan. Pemandangan gemerlap kota yang basah tampak dari balik kaca, memberi kesan tenang yang kontras dengan gemuruh di luar. Ia melepas sepatu kulitnya dan melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan dingin. Udara terasa sunyi,hanya desiran AC yang menemani.Dengan langkah malas, Brian menuju closet room. Deretan jas kerja mahal, jam tangan eksklusif, dan sepatu yang tertata sempurna di rak kayu mahal menunggu untuk disentuh. Ia melepaskan jasnya, menggantungnya dengan rapi, lalu mengendurkan dasi yang masih menggantung di leher.Ponselnya bergetar.Di layar muncul nama yang membuat bibirnya melengkung samar.Laura.Brian mengangkat telepon sambil membuka kancing kemejanya, tubuh tegapnya kini hanya terbalut kaus dalam. "Ya, Lau..." suaranya berat, namun ada kehangatan di sana.Hembusan napas dari ujung tele
Breaking News: Supermodel Alexander Juan baru saja tiba dibandara usaiAktivitasnya sebagai model utama di Jepang Fashion Week.Laura membuka pintu mobil, bergegas duduk dikursi pengemudi,menghela nafasnya yang terasa sesak, jatung wanita itu berdetak cukup cepat saat ia membuka ponsel dan benar saja artikel suaminya yang akan kembali dari jepang sudah muncul dalam pencarian pertama.Laura menatap layar ponselnya lagi, memandangi deretan foto juan dan membaca sekilas komentar-komentar yang sesungguhnya sedikit mengusiknya, terutama jika ia menemukan komentar bernada mengoda daripengguna internet.Tanpa sadar ia tersenyum tipis, menyadari betapa egoisnya ia dalam hubungan pernikahan mereka selama ini.Usai menyalakan mesin mobil, laura bergegas menuju apartement tempatnya dan juan tinggal selama dua tahun sejak pernikahan mereka secara diam-diam, tentu saja dengan restu kedua orangtua mereka dan kehadiran beberapa orang kerabat terdekat mereka.Dirinya mengenal juan nyaris selama hidup
Breaking News: Supermodel Alexander Juan baru saja tiba dibandara usaiAktivitasnya sebagai model utama di Jepang Fashion Week.Laura membuka pintu mobil, bergegas duduk dikursi pengemudi,menghela nafasnya yang terasa sesak, jatung wanita itu berdetak cukup cepat saat ia membuka ponsel dan benar saja artikel suaminya yang akan kembali dari jepang sudah muncul dalam pencarian pertama.Laura menatap layar ponselnya lagi, memandangi deretan foto juan dan membaca sekilas komentar-komentar yang sesungguhnya sedikit mengusiknya, terutama jika ia menemukan komentar bernada mengoda daripengguna internet.Tanpa sadar ia tersenyum tipis, menyadari betapa egoisnya ia dalam hubungan pernikahan mereka selama ini.Usai menyalakan mesin mobil, laura bergegas menuju apartement tempatnya dan juan tinggal selama dua tahun sejak pernikahan mereka secara diam-diam, tentu saja dengan restu kedua orangtua mereka dan kehadiran beberapa orang kerabat terdekat mereka.Dirinya mengenal juan nyaris selama hidup
Malam itu, hujan mengguyur deras di Jakarta.Brian mendorong pintu apartemennya dengan bahu, menyalakan lampu utama yang memantulkan sinarnya ke dinding kaca besar di satu sisi ruangan. Pemandangan gemerlap kota yang basah tampak dari balik kaca, memberi kesan tenang yang kontras dengan gemuruh di luar. Ia melepas sepatu kulitnya dan melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan dingin. Udara terasa sunyi,hanya desiran AC yang menemani.Dengan langkah malas, Brian menuju closet room. Deretan jas kerja mahal, jam tangan eksklusif, dan sepatu yang tertata sempurna di rak kayu mahal menunggu untuk disentuh. Ia melepaskan jasnya, menggantungnya dengan rapi, lalu mengendurkan dasi yang masih menggantung di leher.Ponselnya bergetar.Di layar muncul nama yang membuat bibirnya melengkung samar.Laura.Brian mengangkat telepon sambil membuka kancing kemejanya, tubuh tegapnya kini hanya terbalut kaus dalam. "Ya, Lau..." suaranya berat, namun ada kehangatan di sana.Hembusan napas dari ujung tele
Laura mengulurkan tangannya dengan ragu, menyentuh lengan Brian yang berdiri membelakanginya. Sentuhan itu singkat, hampir tidak terasa, tetapi reaksinya sungguh tak terduga.Brian tersentak keras, seperti baru saja tersengat listrik. Ia segera melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dengan mata yang melebar. Wajahnya pucat, dan napasnya memburu, seolah sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri."Jangan sentuh,Laura!" serunya, suaranya bergetar dengan nada tegas yang hampir putus asa.Laura terpaku, merasa bersalah sekaligus bingung dengan reaksinya. “Pak Brian, Aku tidak bermaksud—”“Pergi, Laura,” potong Brian dengan nada dingin, tetapi sorot matanya penuh ketakutan. “Keluar dari ruangan ini.”Ya. Laura dan Brian berada di ruangan kerja brian saat ini. Alih-alih memberi Dokumen untuk di tanda tangani, Laura mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan brian setelah beberapa hari ini menahan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya pada Sosok Brian yang d
Laura menatap meja makan di hadapannya. Hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi tetap utuh, sama sekali tidak tersentuh. Sambil menghela napas panjang, ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul sebelas malam, dan Juan masih belum pulang. Lagi."Dia sibuk," gumam Laura kepada dirinya sendiri, mencoba mencari alasan untuk perasaan hampa yang menyelimutinya. Juan adalah seorang aktor dan model terkenal; jam kerja yang tidak menentu adalah bagian dari kehidupannya. Tapi tetap saja, kesibukan Juan sering kali meninggalkannya sendirian, menghadapi kehampaan yang kian menjadi-jadi. Walauoun sudah terbiasa,tapi tetap saja Laura sedikit merasa kesepian.Beberapa bulan terakhir, mereka semakin jarang berbicara, bahkan lebih jarang lagi tertawa bersama. Laura tidak ingat kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu sebagai pasangan, berbicara tentang hal-hal kecil, atau sekadar menikmati kebersamaan tanpa terganggu oleh pekerjaan. Kehidupan mereka, yang dulunya penuh cinta dan gairah, kini hanya m
Suara dentingan kaca pecah memenuhi ruangan besar itu, dan menggema di setiap sudutnya. Brian berdiri di tengah kekacauan, dadanya naik turun, wajahnya memerah oleh amarah yang tak tertahan. Di tangannya, sisa gelas wine yang hancur sangat mencerminkan tatapan matanya yang gelap dan penuh kemarahan."Ini semua tidak masuk akal!" teriaknya, nadanya penuh tekanan.Di sudut ruangan, Livia,bunya menatapnya dengan raut wajah cemas, sementara wanita muda yang duduk di sofa hanya bisa menunduk, merasa tak diinginkan. Wanita itu, Sarah, adalah sosok yang dipilih orang tuanya sebagai calon istri Brian. Wanita yang di kenal dari pertemuan perusahaan Ayah Brian dan Livia,istrinya. Namun, Brian tidak peduli siapa dia.Hanya dengan keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya ingin meledak. Ia benci dengan situasi seperti ini."Brian," Livia mencoba berbicara, suaranya tenang tapi tegas. "Kamu tidak bisa terus begini. Lihatlah dirimu. Usia tiga puluh lima dan kau masih sendiri. Ayahmu dan aku