Home / Rumah Tangga / Main Api / Bab 2 . Hambar Yang Mengusik

Share

Bab 2 . Hambar Yang Mengusik

Author: White lily_
last update Last Updated: 2025-01-03 18:45:55

Laura menatap meja makan di hadapannya. Hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi tetap utuh, sama sekali tidak tersentuh. Sambil menghela napas panjang, ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul sebelas malam, dan Juan masih belum pulang. Lagi.

"Dia sibuk," gumam Laura kepada dirinya sendiri, mencoba mencari alasan untuk perasaan hampa yang menyelimutinya. Juan adalah seorang aktor dan model terkenal; jam kerja yang tidak menentu adalah bagian dari kehidupannya. Tapi tetap saja, kesibukan Juan sering kali meninggalkannya sendirian, menghadapi kehampaan yang kian menjadi-jadi. Walauoun sudah terbiasa,tapi tetap saja Laura sedikit merasa kesepian.

Beberapa bulan terakhir, mereka semakin jarang berbicara, bahkan lebih jarang lagi tertawa bersama. Laura tidak ingat kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu sebagai pasangan, berbicara tentang hal-hal kecil, atau sekadar menikmati kebersamaan tanpa terganggu oleh pekerjaan. Kehidupan mereka, yang dulunya penuh cinta dan gairah, kini hanya menjadi rutinitas.

Saat pintu utama terbuka dengan suara berat, Laura tersentak dari lamunannya. Juan masuk dengan langkah lelah, mengenakan jaket kulit dan membawa tas kecil di tangannya. Dia menatap Laura sekilas sebelum meletakkan tasnya di sofa. Juan mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Juan adalah typekal pria yang cuek namun tidak dipungkiri ia mencintai istrinya. Mereka sudah bersama sejak kecil, bersahabat sebelum akhirnya menjadi suami istri. Dan mungkin itulah yang membuat Juan merasa bahwa basa-basi atau kata-kata manis tidak lagi diperlukan di antara mereka. Baginya, cinta itu cukup diwujudkan melalui tindakan nyata: memastikan Laura memiliki segala yang ia butuhkan, tanpa pernah kekurangan

"Sayang..." hentak Laura yabg terkejut dengan Dekapan suaminya.

"Kamu belum tidur?" tanyanya singkat, tanpa basa-basi.

Laura menggeleng. "Aku menunggumu. Kamu tidak bilang akan pulang selarut ini."

Juan hanya mengangguk kecil, berjalan ke dapur tanpa menanggapi lebih lanjut. Laura menggigit bibirnya, menahan rasa frustrasi yang perlahan menyelinap. Ketika Juan kembali dengan segelas air di tangannya, ia sudah terduduk di kursi, memejamkan mata seolah dirinya belum tidur selama berhati-hari.

"Aku tahu kamu sibuk, tapi... kita bahkan tidak bicara lagi," ucap Laura pelan, hampir seperti bisikan.

Juan membuka matanya, menatap Laura dengan sorot mata yang lelah. "Sayang,Aku capek, Laura. Kita bisa bicara besok."

"Tapi kita tidak pernah bicara," desaknya, suaranya kini bergetar.

Juan berdiri, meninggalkan gelasnya di meja tanpa meminum isinya. "Kita bisa menyelesaikannya di kamar,sayang. Aku punya jadwal pemotretan pagi-pagi besok. Jangan buat ini jadi masalah besar, oke? Aku menuggumu di kamar" Juan mengecup kening laura dan tanpa menunggu jawaban, dia melangkah ke kamar mereka, meninggalkan Laura sendirian dengan perasaan yang dilema-Lagi. Walau merasa rumah tangganya hambar, kalau sudah menyangkut hubungan ranjang laura tak pernah menolak. Ia mengakui ia masih menikmati sentuhan Juan yang tidak pernah berubah. Ia tau juan sangat mencintainya karena memang juan sangat mencintainya.

---

Kehidupan Laura di kantor jauh berbeda dari rumah. Sebagai bagian dari tim pemasaran, ia dikenal sebagai sosok yang energik dan berdedikasi tinggi. Laura yang ceria Hingga beberapa waktu lalu, segalanya mulai berubah sejak ia memperhatikan atasannya, Brian.

Sore itu, Laura mendapati dirinya berdiri di depan pintu ruang kerja Brian, membawa beberapa dokumen untuk ditandatangani. Ketika ia mengetuk pintu dan masuk, pandangannya langsung tertuju pada Brian yang duduk di kursinya dengan kepala tertunduk, kedua tangannya mencengkeram sisi meja.

"Pak Brian?" panggil Laura ragu, melihat wajah bosnya yang pucat.

Brian mengangkat wajahnya perlahan, tatapannya tajam, tetapi ada kelelahan yang sulit disembunyikan di sana. "Ada apa?" tanyanya singkat.

Laura berjalan mendekat, meletakkan dokumen di atas meja. "Ini dokumen yang perlu Anda tanda tangani. Tapi, apa Anda baik-baik saja?"

Brian tidak menjawab. Sebaliknya, ia mengalihkan pandangannya ke jendela besar di belakang meja kerjanya, seolah pertanyaan Laura tidak ada artinya.

Laura merasa canggung, tetapi ia tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang menyelinap di hatinya. Brian tampak begitu rapuh, bertolak belakang dengan citra kuat dan dingin yang selalu ia tampilkan.

"Pak Brian," panggil Laura sekali lagi. "Kalau ada yang bisa saya bantu, Anda bisa memberitahu saya."

Brian menatapnya untuk sesaat, mata mereka bertemu dalam keheningan. Ada sesuatu di tatapan itu yang membuat Laura merasa seolah dia sedang melihat ke dalam jurang yang dalam dan gelap.

"Terima kasih, Laura," ucap Brian akhirnya, suaranya pelan tetapi tegas. "Tapi tidak ada yang bisa membantu dan tidak perlu."

Laura mengangguk, meskipun hatinya berkata sebaliknya. Ia keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang penasaran.Ada sesuatu tentang Brian yang membuatnya ingin tahu lebih banyak, ingin mengenal pria itu lebih dalam.

---

Ponsel di tangannya bergetar pelan, menandakan panggilan telah tersambung. Laura merasakan jantungnya berdegup semakin cepat, seolah-olah menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Suara di seberang terdengar serak dan berat, memecah keheningan malam.

"Hallo?" Suara itu. Suara yang membuat pikirannya terjebak dalam labirin pertanyaan.

Laura membuka mulutnya, tapi kata-kata seperti tersangkut di tenggorokannya.

Di saat seperti ini, apa yang seharusnya ia katakan? Namun, suara itu terdengar lagi, lebih lembut kali ini, seolah menyadari keheningan di ujung telepon.

"Laura? Ada apa malam-malam begini?"

Laura memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak.

"Pak Brian, ini saya… Laura," katanya akhirnya, suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan.

hanya suara napas di ujung telepon yang terdengar samar. Brian tidak segera merespons, dan itu membuat Laura semakin gugup.

Apa yang sedang ia lakukan?

Mengapa ia merasa perlu menelepon pria ini di tengah malam?

"Ada yang penting?" tanya Brian akhirnya, suaranya masih terdengar datar tapi tidak dingin.

Laura menggigit bibirnya, menatap langit-langit kamar dengan mata yang mulai terasa panas. "Saya... hanya ingin tahu, apakah Anda baik-baik saja," ucapnya, yang bahkan dirinya sendiri tidak yakin mengapa kalimat itu keluar.

Di seberang, Brian menarik napas panjang, seperti sedang mempertimbangkan apa yang akan ia katakan. "Saya baik-baik saja, Laura," jawabnya, n

Nada suaranya penuh kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. "Terima kasih sudah menanyakan."

"Tapi... Anda terlihat sangat berbeda belakangan ini," ujar Laura dengan nada penuh perhatian. "Di kantor, Anda tampak... terbebani. Saya hanya ingin memastikan, jika ada yang bisa saya bantu—"

"Laura," potong Brian, suaranya menjadi sedikit lebih tajam. "Kamu tidak perlu khawatir tentang saya. Ini bukan urusanmu."

Kata-kata itu membuat Laura terdiam. Ada sesuatu di nada suaranya. Sesuatu yang bukan sekadar angkuh dan dingin, tetapi juga menyiratkan rasa sakit yang mendalam. Tapi sebelum ia sempat merespons, suara Brian terdengar lagi, kali ini lebih lembut. "Maaf, aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya... sedang banyak pikiran."

Laura ingin bertanya lebih jauh, ingin menggali lebih dalam. Tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, suara Juan yang bergerak di tempat tidur membuatnya panik.

"Laura, ada yang kamu ingin sampaikan lagi?" tanya Brian, nadanya datar namun terdengar seperti menunggu sesuatu.

Laura buru-buru menutup telepon tanpa menjawab. Tangannya gemetar, dan dadanya terasa sesak. Apa yang baru saja ia lakukan?

Percakapan singkat itu membekas di hatinya. Dan Laura menyadari bahwa perasaan ini bukan lagi sekadar rasa penasaran.

Apa yang ia cari sebenarnya?

Dan mengapa ia merasa begitu sulit untuk menghentikannya?

Related chapters

  • Main Api   Bab 3. A Fragile Embrace

    Laura mengulurkan tangannya dengan ragu, menyentuh lengan Brian yang berdiri membelakanginya. Sentuhan itu singkat, hampir tidak terasa, tetapi reaksinya sungguh tak terduga.Brian tersentak keras, seperti baru saja tersengat listrik. Ia segera melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dengan mata yang melebar. Wajahnya pucat, dan napasnya memburu, seolah sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri."Jangan sentuh,Laura!" serunya, suaranya bergetar dengan nada tegas yang hampir putus asa.Laura terpaku, merasa bersalah sekaligus bingung dengan reaksinya. “Pak Brian, Aku tidak bermaksud—”“Pergi, Laura,” potong Brian dengan nada dingin, tetapi sorot matanya penuh ketakutan. “Keluar dari ruangan ini.”Ya. Laura dan Brian berada di ruangan kerja brian saat ini. Alih-alih memberi Dokumen untuk di tanda tangani, Laura mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan brian setelah beberapa hari ini menahan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya pada Sosok Brian yang d

    Last Updated : 2025-01-03
  • Main Api   Bab 4. When The Rain Meets Fire

    Malam itu, hujan mengguyur deras di Jakarta.Brian mendorong pintu apartemennya dengan bahu, menyalakan lampu utama yang memantulkan sinarnya ke dinding kaca besar di satu sisi ruangan. Pemandangan gemerlap kota yang basah tampak dari balik kaca, memberi kesan tenang yang kontras dengan gemuruh di luar. Ia melepas sepatu kulitnya dan melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan dingin. Udara terasa sunyi,hanya desiran AC yang menemani.Dengan langkah malas, Brian menuju closet room. Deretan jas kerja mahal, jam tangan eksklusif, dan sepatu yang tertata sempurna di rak kayu mahal menunggu untuk disentuh. Ia melepaskan jasnya, menggantungnya dengan rapi, lalu mengendurkan dasi yang masih menggantung di leher.Ponselnya bergetar.Di layar muncul nama yang membuat bibirnya melengkung samar.Laura.Brian mengangkat telepon sambil membuka kancing kemejanya, tubuh tegapnya kini hanya terbalut kaus dalam. "Ya, Lau..." suaranya berat, namun ada kehangatan di sana.Hembusan napas dari ujung tele

    Last Updated : 2025-01-03
  • Main Api   Bab 5. Shatteres Vows.

    Breaking News: Supermodel Alexander Juan baru saja tiba dibandara usaiAktivitasnya sebagai model utama di Jepang Fashion Week.Laura membuka pintu mobil, bergegas duduk dikursi pengemudi,menghela nafasnya yang terasa sesak, jatung wanita itu berdetak cukup cepat saat ia membuka ponsel dan benar saja artikel suaminya yang akan kembali dari jepang sudah muncul dalam pencarian pertama.Laura menatap layar ponselnya lagi, memandangi deretan foto juan dan membaca sekilas komentar-komentar yang sesungguhnya sedikit mengusiknya, terutama jika ia menemukan komentar bernada mengoda daripengguna internet.Tanpa sadar ia tersenyum tipis, menyadari betapa egoisnya ia dalam hubungan pernikahan mereka selama ini.Usai menyalakan mesin mobil, laura bergegas menuju apartement tempatnya dan juan tinggal selama dua tahun sejak pernikahan mereka secara diam-diam, tentu saja dengan restu kedua orangtua mereka dan kehadiran beberapa orang kerabat terdekat mereka.Dirinya mengenal juan nyaris selama hidup

    Last Updated : 2025-02-27
  • Main Api   Bab 1. Luka yang Terbuka Kembali

    Suara dentingan kaca pecah memenuhi ruangan besar itu, dan menggema di setiap sudutnya. Brian berdiri di tengah kekacauan, dadanya naik turun, wajahnya memerah oleh amarah yang tak tertahan. Di tangannya, sisa gelas wine yang hancur sangat mencerminkan tatapan matanya yang gelap dan penuh kemarahan."Ini semua tidak masuk akal!" teriaknya, nadanya penuh tekanan.Di sudut ruangan, Livia,bunya menatapnya dengan raut wajah cemas, sementara wanita muda yang duduk di sofa hanya bisa menunduk, merasa tak diinginkan. Wanita itu, Sarah, adalah sosok yang dipilih orang tuanya sebagai calon istri Brian. Wanita yang di kenal dari pertemuan perusahaan Ayah Brian dan Livia,istrinya. Namun, Brian tidak peduli siapa dia.Hanya dengan keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya ingin meledak. Ia benci dengan situasi seperti ini."Brian," Livia mencoba berbicara, suaranya tenang tapi tegas. "Kamu tidak bisa terus begini. Lihatlah dirimu. Usia tiga puluh lima dan kau masih sendiri. Ayahmu dan aku

    Last Updated : 2025-01-03

Latest chapter

  • Main Api   Bab 5. Shatteres Vows.

    Breaking News: Supermodel Alexander Juan baru saja tiba dibandara usaiAktivitasnya sebagai model utama di Jepang Fashion Week.Laura membuka pintu mobil, bergegas duduk dikursi pengemudi,menghela nafasnya yang terasa sesak, jatung wanita itu berdetak cukup cepat saat ia membuka ponsel dan benar saja artikel suaminya yang akan kembali dari jepang sudah muncul dalam pencarian pertama.Laura menatap layar ponselnya lagi, memandangi deretan foto juan dan membaca sekilas komentar-komentar yang sesungguhnya sedikit mengusiknya, terutama jika ia menemukan komentar bernada mengoda daripengguna internet.Tanpa sadar ia tersenyum tipis, menyadari betapa egoisnya ia dalam hubungan pernikahan mereka selama ini.Usai menyalakan mesin mobil, laura bergegas menuju apartement tempatnya dan juan tinggal selama dua tahun sejak pernikahan mereka secara diam-diam, tentu saja dengan restu kedua orangtua mereka dan kehadiran beberapa orang kerabat terdekat mereka.Dirinya mengenal juan nyaris selama hidup

  • Main Api   Bab 4. When The Rain Meets Fire

    Malam itu, hujan mengguyur deras di Jakarta.Brian mendorong pintu apartemennya dengan bahu, menyalakan lampu utama yang memantulkan sinarnya ke dinding kaca besar di satu sisi ruangan. Pemandangan gemerlap kota yang basah tampak dari balik kaca, memberi kesan tenang yang kontras dengan gemuruh di luar. Ia melepas sepatu kulitnya dan melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan dingin. Udara terasa sunyi,hanya desiran AC yang menemani.Dengan langkah malas, Brian menuju closet room. Deretan jas kerja mahal, jam tangan eksklusif, dan sepatu yang tertata sempurna di rak kayu mahal menunggu untuk disentuh. Ia melepaskan jasnya, menggantungnya dengan rapi, lalu mengendurkan dasi yang masih menggantung di leher.Ponselnya bergetar.Di layar muncul nama yang membuat bibirnya melengkung samar.Laura.Brian mengangkat telepon sambil membuka kancing kemejanya, tubuh tegapnya kini hanya terbalut kaus dalam. "Ya, Lau..." suaranya berat, namun ada kehangatan di sana.Hembusan napas dari ujung tele

  • Main Api   Bab 3. A Fragile Embrace

    Laura mengulurkan tangannya dengan ragu, menyentuh lengan Brian yang berdiri membelakanginya. Sentuhan itu singkat, hampir tidak terasa, tetapi reaksinya sungguh tak terduga.Brian tersentak keras, seperti baru saja tersengat listrik. Ia segera melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dengan mata yang melebar. Wajahnya pucat, dan napasnya memburu, seolah sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri."Jangan sentuh,Laura!" serunya, suaranya bergetar dengan nada tegas yang hampir putus asa.Laura terpaku, merasa bersalah sekaligus bingung dengan reaksinya. “Pak Brian, Aku tidak bermaksud—”“Pergi, Laura,” potong Brian dengan nada dingin, tetapi sorot matanya penuh ketakutan. “Keluar dari ruangan ini.”Ya. Laura dan Brian berada di ruangan kerja brian saat ini. Alih-alih memberi Dokumen untuk di tanda tangani, Laura mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan brian setelah beberapa hari ini menahan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya pada Sosok Brian yang d

  • Main Api   Bab 2 . Hambar Yang Mengusik

    Laura menatap meja makan di hadapannya. Hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi tetap utuh, sama sekali tidak tersentuh. Sambil menghela napas panjang, ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul sebelas malam, dan Juan masih belum pulang. Lagi."Dia sibuk," gumam Laura kepada dirinya sendiri, mencoba mencari alasan untuk perasaan hampa yang menyelimutinya. Juan adalah seorang aktor dan model terkenal; jam kerja yang tidak menentu adalah bagian dari kehidupannya. Tapi tetap saja, kesibukan Juan sering kali meninggalkannya sendirian, menghadapi kehampaan yang kian menjadi-jadi. Walauoun sudah terbiasa,tapi tetap saja Laura sedikit merasa kesepian.Beberapa bulan terakhir, mereka semakin jarang berbicara, bahkan lebih jarang lagi tertawa bersama. Laura tidak ingat kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu sebagai pasangan, berbicara tentang hal-hal kecil, atau sekadar menikmati kebersamaan tanpa terganggu oleh pekerjaan. Kehidupan mereka, yang dulunya penuh cinta dan gairah, kini hanya m

  • Main Api   Bab 1. Luka yang Terbuka Kembali

    Suara dentingan kaca pecah memenuhi ruangan besar itu, dan menggema di setiap sudutnya. Brian berdiri di tengah kekacauan, dadanya naik turun, wajahnya memerah oleh amarah yang tak tertahan. Di tangannya, sisa gelas wine yang hancur sangat mencerminkan tatapan matanya yang gelap dan penuh kemarahan."Ini semua tidak masuk akal!" teriaknya, nadanya penuh tekanan.Di sudut ruangan, Livia,bunya menatapnya dengan raut wajah cemas, sementara wanita muda yang duduk di sofa hanya bisa menunduk, merasa tak diinginkan. Wanita itu, Sarah, adalah sosok yang dipilih orang tuanya sebagai calon istri Brian. Wanita yang di kenal dari pertemuan perusahaan Ayah Brian dan Livia,istrinya. Namun, Brian tidak peduli siapa dia.Hanya dengan keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya ingin meledak. Ia benci dengan situasi seperti ini."Brian," Livia mencoba berbicara, suaranya tenang tapi tegas. "Kamu tidak bisa terus begini. Lihatlah dirimu. Usia tiga puluh lima dan kau masih sendiri. Ayahmu dan aku

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status