Al bersandar pada kursi kerjanya dengan kedua mata yang terpejam sambil memijat pelipisnya, sementara pikirannya bergemuruh.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa semuanya jadi serumit ini?" gumamnya. Dia ingat setiap detail hubungannya dengan Navya. Dia tak pernah memperlakukan istrinya dengan kasar, bahkan tadi adalah pertama kalinya dia membentak Navya. Egonya berkata bahwa dia selalu memperlakukan Navya dengan baik. Dia memberi kebebasan, memenuhi kebutuhan materi, dan memastikan Navya tidak pernah merasa kekurangan. Hanya satu kesalahannya, nafkah batin yang tidak pernah dia berikan. Apakah benar itu satu-satunya masalah? Pikirannya mulai dipenuhi keraguan. Apa mungkin Navya benar-benar merasa dirinya tidak dianggap hanya karena hal itu? Dia menolak untuk percaya. “Aku nggak bersalah. Sejak awal aku udah bilang kalo aku akan memberikan nafkah batin di saat aku udah bisa cinta sama dia, dan dia sendiri setuju tentang hal itu,” batinnya, mencoba meyakinkan diri. Namun di balik itu, dia tahu, ada bagian dari dirinya yang menyadari bahwa segala yang Navya katakan tadi mungkin bukan sekadar ledakan emosi. "Aku harus segera menyelesaikan masalah ini," gumamnya. Akhirnya, Al bangkit dari kursinya. Dengan langkah berat, ia meninggalkan ruang kerjanya dan menuju kamar. Pintu kamar terbuka saat dia menekan handle pintunya, dan dia bisa melihat sosok istrinya yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya meringkuk, terbungkus selimut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Navya memunggunginya, seakan menegaskan bahwa dia tak ingin berbicara lagi. Al menghela napas panjang, merasa sesak. Dia duduk di tepi tempat tidur, lalu berbaring perlahan di sampingnya. Dengan hati-hati, Al mencoba memeluk Navya dari belakang, lengannya terulur untuk membuka selimut yang menutupi kepala istrinya. Namun, tiba-tiba, Navya memberontak tanpa suara, menendang tubuh Al sekuat tenaga hingga pria itu terjatuh dari ranjang. "Akh! Sakit Nav!" Al memekik, berpura-pura kesakitan, berharap tindakannya akan menarik perhatian Navya. Tapi istrinya itu tetap bergeming, tak bergerak sedikitpun. Dia tetap terbungkus rapat di balik selimut. "Tolong bantu aku! Pinggang aku sakit nih!" Al terus mencoba mencari perhatian istrinya itu. Akan tetapi, alih-alih khawatir dan membantunya, justru Navya berkata dengan ketus dari balik selimutnya, "Minta bangunin sana sama selingkuhan kamu! Ngapain minta bantuin aku yang nggak pernah kamu anggap ada!" Perasaan kesal mulai menguasai Al mendengar tuduhan Navya, dan tanpa berpikir panjang, dia bangkit berdiri, menarik selimut itu dengan kasar. Selimut terlepas, menampakkan wajah Navya yang basah oleh air mata. Bahkan kedua matanya memerah dan sembab. Al terdiam, entah mengapa hatinya terasa hancur melihat wajah sendu Navya. Dia jarang, atau bahkan selama ini belum pernah melihat Navya menangis hingga seperti ini. “K-kamu nangis, Nav?” Al bertanya, suaranya lebih lembut, dipenuhi rasa bersalah yang tak mampu dia sembunyikan. “Selama kita menikah, aku nggak pernah lihat kamu nangis sampai seperti ini," imbuhnya dengan tatapan heran, karena dia hanya pernah melihat istrinya itu menangis di saat Axel demam hingga mengalami kejang tiga tahun lalu, ketika dia baru satu bulan menikahinya. Navya terlihat sangat menyayangi kedua anaknya. Hal itulah yang membuatnya merasa bahwa keputusannya untuk menikahi Navya adalah sebuah keputusan yang terbaik, meskipun dia tidak mencintainya, dan pernikahannya ditentang oleh ibu kandungnya karena latar belakang Navya yang tidak memiliki orang tua dan hanya berasal dari panti asuhan. Navya seketika menutup wajahnya dengan guling yang ia peluk erat, air mata terus mengalir tanpa bisa ditahan. “Setiap malam juga aku nangis, Mas,” jawabnya dengan suara bergetar. “Sejak mantan istri kamu itu masuk ke dalam pernikahan kita, aku selalu nangis. Tapi kamu aja yang nggak pernah liat, karena kamu nggak pernah peduli sedikitpun sama aku. Kamu selalu lebih peduli sama dia di banding aku!” Kata-kata Navya menampar Al dengan keras. Dia tidak tahu bahwa istrinya telah menderita dalam diam selama ini. Karena Navya selalu bersikap ceria dan tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya. Tapi tunggu ... Al teringat akan sikap Navya beberapa hari belakangan ini yang nampak berbeda. Navya nampak dingin dan cuek padanya. Bahkan istrinya itu tidak pernah lagi memasangkan dasi saat ia hendak pergi bekerja, juga tidak pernah lagi menuangkan makanan ke atas piringnya seperti yang biasa dilakukannya. Justru Zoya lah yang menggantikan perannya melakukan hal yang selama ini selalu Navya lakukan setiap harinya. Rasanya seperti ada beban besar yang tiba-tiba menindih dadanya saat dia menyadarinya, membuatnya sulit bernapas. Al mengulurkan tangan, mencoba mengambil guling yang menutupi wajah Navya. Namun, Navya mencengkeramnya begitu erat, hingga Al merasa kesulitan melepaskannya. “Nav, tolong ... aku ngerti sekarang. Kalau memang kedekatan aku sama Zoya bikin kamu sakit hati, aku akan coba jaga jarak,” ucap Al lembut, berusaha menenangkan suasana. Ada ketulusan dalam suaranya, tapi itu belum cukup bagi Navya. Navya tak bergeming, tubuhnya kaku, tetap memeluk gulingnya erat-erat. Suara tangisannya pelan, namun jelas terdengar di dalam kamar yang sunyi. “Kamu udah pernah bilang begitu, Mas,” bisik Navya lemah. “Tapi setiap kali Zoya atau orang tuanya telepon, bilang Zoya nggak mau kemoterapi, bilang Zoya nggak mau makan, kamu pasti langsung datang menemuinya." "Kamu ninggalin aku, Mas ... selalu. Kamu selalu kayak gitu. Aku capek, Mas! Aku capek sampe rasanya aku pengen mati setiap lihat kamu jauh lebih peduli dan perhatian sama dia! Bahkan aku nggak pernah dapetin perhatian kamu sedikit pun selama tiga tahun pernikahan kita!" Al terdiam. Kata-kata Navya menelusup dalam hati, menimbulkan rasa bersalah yang lebih besar. Dia ingat, beberapa waktu belakangan ini Zoya memang sering kali menolak pengobatan dan menolak makan hingga butuh bujukan darinya. Tapi dia tak pernah berpikir jika ternyata dampaknya pada Navya begitu dalam. “Nav, aku nggak tau kalo kamu ngerasa se-” Al mencoba menjelaskan, namun Navya memotongnya. “Kamu nggak tau karena kamu nggak pernah peduli sama perasaan aku, Mas!” Navya berteriak lirih dan melempar gulingnya ke lantai, lalu bangkit duduk dengan air matanya semakin deras mengalir. Kedua matanya menatap penuh kebencian pada suaminya itu. “Kamu tau aku nggak nyaman setiap kali Zoya ada di rumah kita, tapi kamu nggak pernah peduli tentang itu setiap kali aku coba buat protes sama kamu." "Bahkan saat aku tersiram air panas, Zoya menuduh aku yang menyiramkan air itu ke dia, dan kamu ... kamu malah lebih percaya dan belain dia!" "Kamu langsung urusin dia yang cuma kena tetesan doang di kakinya, sementara aku ... aku yang tangannya tersiram sampe melepuh, cuma berdiri di sana sambil merhatiin kamu yang lagi mengkhawatirkan perempuan lain, Mas! Sakit, Mas! Sakit!" Navya menangis histeris, suaranya penuh kepedihan. Al merasa seperti dihantam palu besar. Setiap kata yang keluar dari mulut Navya membuat hatinya semakin hancur. Sudah terlalu banyak hal menyakitkan yang Navya alami selama ini. Al tidak pernah benar-benar menyadari betapa dalam luka yang ia torehkan di hati istrinya. “Tiga tahun ini ... sejak hari pertama kita menikah, aku nggak pernah merasa benar-benar punya suami, Mas. Aku selalu sendiri. Setiap aku sakit, mana pernah kamu yang lagi kerja atau perjalanan bisnis ke luar kota, buru-buru pulang cuma karena mengkhawatirkan aku? Nggak pernah, kan, Mas?" "Awalnya aku nggak pernah mempermasalahkan hal itu, Mas. Tapi, setelah Zoya ada di tengah kita dan melihat semua sikap dan perhatian kamu sama dia ... aku baru sadar kalo kamu selama ini bersikap cuek sama aku bukan karena karakter kamu yang kayak gitu, tapi emang karena kamu nggak pernah anggap aku ada, Mas." "Aku capek, aku nggak sanggup lagi. Jadi ... ayo kita cerai aja, Mas. Aku mengalah. Aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaan kamu dan anak-anak,” lanjut Navya dengan suara yang hampir tak terdengar. Al merasakan hantaman terakhir saat mendengar pernyataan itu. Dia ingin memeluk Navya, menghapus semua rasa sakit yang telah ia sebabkan. Tapi entah mengapa, setiap kali dia mendekat, jarak di antara mereka terasa semakin jauh. Navya bangkit dari tempat tidur, hendak menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang basah oleh air mata. Namun, dengan gerakan cepat, Al tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya hingga jatuh di pangkuannya. Spontan saja, Navya terkejut saat tatapan mereka bertemu. Sejenak, keheningan menyelimuti kamar itu. Jantung keduanya berdebar kencang. Al merasakan hangatnya tubuh Navya di pelukannya, dan tanpa sadar, tatapannya tertuju pada bibir ranum istrinya. Seolah terhipnotis, Al perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Navya, niat untuk menyesap bibir mungil nan lembut berwarna pink alami itu muncul di benaknya. Embusan napas mereka saling beradu dengan ujung hidung mancung Al yang saling menyentuh ujung hidung sang istri. "Nav ...."Navya tiba-tiba bangkit dengan kasar sambil mendorong dada bidangnya, membuat Al tersentak. Tanpa kata-kata, Navya menancapkan tumitnya keras-keras ke kaki Al sebelum berlari ke toilet."Akh! Nav! Kenapa kamu injak kaki aku?" Al memekik kesakitan sambil memegangi kakinya. Rasa nyeri menjalar dari telapak kakinya ke seluruh tubuh, tetapi yang lebih menyakitkan adalah perasaan tersisih yang mulai merayap di hatinya."Itu pelajaran buat laki-laki buaya kayak kamu, Mas!" teriak Navya dari dalam toilet.Perempuan itu mengunci pintu toilet, menutup telinga dari segala keributan di luar. Di dalam, dia berdiri mematung di depan cermin, air matanya kembali mengalir tanpa henti.Dengan tangan gemetar, dia meremas bagian dadanya yang sesak, berusaha menenangkan diri."Aku nggak boleh kemakan rayuannya," batinnya berbisik tegas. "Ingat, Nav! Dia itu cuma anggap kamu baby sitter. Nggak akan pernah lebih dari itu! Cinta dia cuma buat Zoya!"Di luar, Al tak henti-hentinya mengetuk pintu toilet. "Na
Perlahan, Al melangkah mendekat, berdiri di samping tempat tidur Axel. Dia melihat Navya yang masih memeluk putranya dengan erat, seperti mencari perlindungan dari kesakitan yang dia rasakan. Al menelan ludah, mencoba menenangkan kegelisahan di hatinya, tetapi wajah Navya yang penuh kelelahan dalam tidurnya membuat dadanya semakin sesak."Navya," bisik Al pelan, meski dia tahu istrinya tidak bisa mendengarnya.Hati Al mencelos saat melihat air mata tiba-tiba mengalir di kedua belah sudut mata Navya, bahkan dalam tidurnya.Dia berlutut di samping tempat tidur, kakinya terasa lemas, seluruh darahnya berdesir dan menghantam dadanya. Ia menatap wajah perempuan yang dulu dia pikir hanya akan menjadi ibu dari anak-anaknya, wanita yang akan menjadi pusat dunianya. Namun, kini ... menyadari bahwa Navya adalah lebih dari sekadar pengasuh anak-anaknya, lebih dari apa yang pernah dia pikirkan, lebih dari dunianya. Dia adalah sosok yang telah memberikan hatinya sepenuh-penuhnya untuknya dan ju
Navya tertegun di tangga, menyaksikan Zoya memasangkan dasi di leher Al dengan kelembutan yang terkesan sengaja dipertontonkan.Saat mata Zoya bertemu dengannya, Navya bisa melihat senyum licik yang penuh arti di wajah perempuan itu. Tanpa basa-basi, Zoya tiba-tiba terhuyung mundur, tubuhnya bergetar seakan kehilangan keseimbangan."Ahh!" pekik Zoya dengan suara manja, berpura-pura hampir jatuh.Dengan refleks, Al langsung meraih pinggang Zoya, menariknya ke dalam pelukan. "Zoya! Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir, menatap dalam matanya.Zoya tersenyum kecil, berbisik pelan, "Aku nggak apa-apa, Al, makasih."Axel yang melihat adegan itu dari sudut matanya langsung menoleh ke arah tangga, di mana Navya berdiri. Wajahnya tampak tidak terkejut, tapi matanya penuh kepedihan. Axel segera berlari kecil mendekati Navya, memanggilnya dengan suara lembut, "Mama!"Navya yang sebelumnya terpaku, langsung tersenyum hangat saat Axel mendekat dan memeluknya. "Axel, Sayang," sambutny
Di belakangnya, Zoya menyandarkan diri di kursi, senyum tipis muncul di sudut bibirnya yang tadinya tampak kesakitan, karena Al gagal mengejar Navya. Dia menatap punggung Al yang masih terpaku di depan pintu, menikmati momen di mana perlahan, benih-benih keretakan dalam rumah tangga Al dan Navya semakin jelas terlihat. Al kembali ke dalam rumah, dengan raut wajah lelah dan putus asa. Dia menatap Zoya yang tampak sedang mencoba bangkit dengan raut wajah menahan sakit. "Kamu nggak apa-apa? Aku antar kamu ke rumah sakit aja, ya?" tawarnya. Zoya menggeleng pelan, berusaha tersenyum lemah. "Nggak usah, Al. Aku udah mendingan kok. Maaf, aku selalu bikin kamu khawatir ... dan maaf juga karena kehadiran aku selalu bikin masalah buat hubungan kamu sama Navya. Sebentar lagi aku bakal pergi dan nggak akan ganggu hubungan kalian lagi kok, Al." "Ssst, kamu ngomong apa sih? Kamu harus bertahan dan sembuh. Tolong lakukan itu demi anak-anak kita, hum?" kata Al sambil menyeka lembut wajah Zoya y
"Aku nggak bisa," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Tanpa berpikir dua kali, Navya memundurkan kembali mobilnya, membelokkan mobilnya menjauh dari rumah. "Nggak, aku nggak akan pulang sekarang. Aku butuh waktu sendiri." Dia melaju menuju salah satu kafe yang biasa dia kunjungi, tak jauh dari rumah mereka. Kafe kecil itu menjadi tempat favoritnya untuk menyendiri ketika dia butuh waktu untuk berpikir. Setibanya di sana, dia memesan caramel macchiato dingin, lalu duduk di tempat favoritnya, di sudut paling terpencil. Tangannya menggenggam erat cup kopinya, tapi pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana semua ini bisa terjadi—hubungan yang semakin renggang, emosi yang semakin tak terkendali. "Ya Allah, aku harus gimana sekarang? Berat banget hati aku buat jauh dari Axel sama Lexa," batinnya sambil menitikkan air mata yang segera dia hapus. Satu teguk kopi belum cukup menenangkan perasaannya ketika suara langkah kak
Cindy mengernyitkan dahi, lalu detik kemudian dia tersenyum dan berbalik, kembali menghampiri Al dan berdiri di depan meja kerjanya. "Boleh, Dok," jawabnya. "Mau ngobrol tentang apa? Tentang pasien?" "Kamu duduk dulu," kata Al mengulurkan sebelah tangannya, meminta Cindy duduk di kursi depan mejanya. Perempuan berambut pendek dan berparas manis itu pun duduk dan bertanya, "Ada apa, Dok? Apa ini masalah cuti nikah saya, ya?" "Bukan. Bukan tentang itu. Tentang cuti kamu saya sudah mengizinkan kamu mau cuti satu sampai dua minggu pun saya nggak masalah. Karena kamu adalah salah satu perawat yang hampir nggak pernah ambil jatah cuti kamu," elak Al. "Makasih, Dok. Tapi beneran gapapa kalo saya cuti dua minggu, Dok? Soalnya calon suami saya rencananya mau ngajak honeymoon ke Bali sama Lombok." Al hanya mengangguk sebagai jawabannya. Mendengar perkataan Cindy tentang bulan madu, Al tertegun. Menyadari jika dirinya sungguh belum pernah memberikan kebahagiaan apa pun pada istrinya se
Al menelan ludah ketika mendengar kabar dari Mbok Ratih. "Tolong jangan panik, Mbok. Sekarang, bawa Navya ke rumah sakit saya. Minta antar Pak Rudi. Saya tunggu di IGD. Jangan buang waktu, Mbok. Tolong cepat ya, Mbok," katanya dengan suara tegas meski hatinya berdebar kencang. Mbok Ratih di seberang sana masih terdengar panik, namun perlahan dia mulai tenang setelah mendengar instruksi dari Al. "Iya, Den. Saya langsung ke rumah sakit sekarang," jawabnya terbata-bata. Begitu panggilan berakhir, Al merasakan gelombang emosi menghantamnya. Dia dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari menuju depan ruang gawat darurat. Sesuatu yang sangat buruk pasti terjadi pada Navya, pikirnya. Tadi pagi seharusnya dia benar-benar melarang Navya keluar rumah, mengingat bagaimana Navya terkena demam tadi malam. Terlebih Navya tidak memakan apa pun sebelum mengantar Axel ke sekolah. Namun, karena perdebatan Navya dan Zoya tadi, membuat
Pertanyaan itu menghantam Al seperti petir di siang bolong. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Pikirannya berputar-putar, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia masih mencintai Zoya atau tidak, dia sendiri bahkan tidak yakin. Di satu sisi, Zoya adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu memiliki tempat di hatinya. Tapi di sisi lain, Navya adalah istrinya, wanita yang selalu berada di sisinya selama ini, yang memberikan cinta tanpa syarat, bahkan ketika Al sendiri tidak yakin pada perasaannya. Al tertegun, tak mampu memberikan jawaban yang pasti. Dia hanya bisa menatap Navya, berharap jawabannya bisa datang dengan sendirinya, tapi waktu terus berjalan, dan Navya sudah menunggu terlalu lama. Navya tersenyum pahit. "Kamu nggak bisa jawab, ya, Mas?" Al menundukkan kepalanya, rasa bersalah menyesakkan dadanya. "Navya, ini bukan tentang Zoya. Ini tentang kita. Aku ...."
Axel menarik lengan Navya dengan antusias, wajahnya terlihat tidak sabar. “Ma, Kalo nunggu Papa ganti baju kelamaan! Aku mau es krim coklatnya sekarang! Papa harus cepetan ganti bajunya biar kita bisa foto terus makan es krim. Aku udah nggak sabar, tau!” Navya menunduk, menatap Axel dengan lembut. “Iya, Nak, tolong sabar ya. Nanti habis foto, kita ambil es krim coklat buat kamu, okay?” Axel mendengus kesal dan melipat tangan di depan dada. “Papa ngapain masih bengong sih? Kenapa nggak cepetan ganti baju? Nanti es krimnya keburu habis!” Mendengar celotehan Axel, Al tersenyum geli. “Iya, iya, Papa cepet, kok. Kamu tunggu di sini, ya, sama Mama. Jangan pergi ke mana-mana.” “Papa beneran cepet, 'kan?” Axel menatap Al dengan ragu, seolah menantang ayahnya untuk menepati janji. Al mengangguk sambil tertawa kecil. “Beneran cepet. Papa cuma mau ganti baju sebentar, terus kita foto bareng sama Tante Cindy sama suaminya. Setelah itu, langsung kita ambil es krim coklat buat kamu.” Axel ter
Al tiba di lobi hotel, tempat pernikahan Cindy dilangsungkan. Dengan langkah cepat, dia berjalan masuk ke hotel setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas valet parkir. Hujan gerimis yang menyisakan jejak basah di tubuhnya membuat penampilannya semakin berantakan. Kemejanya tampak kusut, dan rambutnya yang sedikit basah terlihat acak-acakan. Wajahnya yang kusut semakin menambah kesan buruk pada imejnya yang selama ini selalu berpenampilan rapi dan berhasil menarik perhatian para wanita. Begitu tiba di depan ballroom, Al disambut tatapan heran dari para tamu yang berada di luar ruangan. Beberapa di antaranya berbisik-bisik melihat penampilannya yang jauh dari kesan profesional dan elegan yang biasanya ia tampilkan. Al tidak memperdulikannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal—Navya. Dia harus menemukan istrinya sebelum Navya kembali menghindarinya. Ketika hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, dua petugas yang berjaga di pintu langsung menghentikan langkahnya. “Maaf,
Al berdiri di samping mobilnya, matanya masih terpaku pada jalanan basah oleh hujan. Gemericik suara gerimis seakan menyatu dengan rasa kacau di dalam dadanya. Dia mencoba menekan nomor Navya lagi, kali ini dengan lebih frustasi, berharap kali ini ada jawaban. Panggilan itu kembali berakhir dengan suara operator yang dingin. Ponsel Navya masih mati. Al mengumpat pelan, “Navya, kamu mau sampe kapan sih ngilang kayak gini?” Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Dia merasa seperti terjebak di dalam mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir. Seketika, ponselnya bergetar. Dengan cepat Al meraihnya, berharap itu adalah Navya. Namun, nama di layar bukan yang dia harapkan. Al menatap nama Axel yang tertera di layar ponselnya. Tenggorokannya tercekat, pikirannya berputar, mencari-cari alasan. Karena dia tahu siapa yang akan ditanyakan putranya itu. Siapa lagi jika bukan Navya yang sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya. Dia menarik napas panjang sebelum menjawab, berusaha
Al melangkah kembali ke mobilnya, merasa semakin tenggelam dalam kebingungan dan kekhawatiran. Sementara hujan telah berhenti, dinginnya malam seolah mencerminkan kehampaan yang dirasakannya. Dia mulai bertanya-tanya, kenapa rasa cemas dan takut ini begitu menguasainya. Apakah ini karena dia sudah mulai mencintai Navya, atau sekadar rasa bersalah yang terus menghantuinya? Ketika dia menyusuri jalan menuju rumah, pikirannya dipenuhi bayangan Navya. Setiap momen yang pernah mereka lalui bersama berputar di benaknya—wajah Navya yang ceria saat selalu menyambutnya pulang, tangannya yang selalu sibuk mempersiapkan segala keperluannya tanpa keluh kesah. Al menghela napas panjang. “Apa aku bener-bener udah mulai cinta sama dia?” tanya Al dalam hati, tanpa mampu menemukan jawabannya yang pasti. Setiap kali dia memikirkan betapa hancurnya Navya saat ini, hatinya terasa semakin tertekan. Namun, dia tidak tahu apakah tekanan itu berasal dari rasa cinta, atau hanya sekadar rasa bersalah atas
Al bergegas membawa Axel pulang, tetapi di kepalanya masih berputar soal Navya. Sesampainya di rumah, Axel, yang baru keluar dari mobil, segera bertanya, "Papa, Mama udah pulang belum?" Al menelan ludah, mencoba tetap tenang meskipun hatinya berkecamuk. "Mama masih di panti, Nak. Papa mau jemput Mama sekarang." Axel berhenti sejenak di depan pintu rumah, wajahnya tampak khawatir. "Aku ikut, Pah! Aku mau ikut jemput Mama ke panti!" Al langsung menghentikan langkahnya dan menunduk, meraih bahu Axel dengan lembut, namun suaranya tegas. "Nggak, Axel. Kamu istirahat aja di rumah. Ini sudah malam, kamu harus tidur. Papa bisa jemput Mama sendiri." Axel merajuk, menatap Al dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi, Pah, aku—" "Axel ...." Al memotong dengan nada lebih tegas kali ini, menatap putranya dalam-dalam. "Denger Papa. Kamu tinggal di rumah dan istirahat. Besok pagi, Mama pasti udah di rumah." Axel mengangguk pelan, merasa tak berdaya di hadapan ketegasan Al. Dia selalu takut jik
Navya menatap layar ponselnya yang kini penuh dengan air mata. Di situ, ada foto Al yang sedang menatap Zoya dengan tatapan sendu sambil menggenggam erat tangan Zoya. Foto itu dikirim langsung oleh Zoya dengan pesan singkat.Mak Lampir :Inget ini baik-baik, cewek udik! Al cuma akan jadi milik aku. Cinta dia cuma buat aku. Jadi, jangan mimpi kamu bisa dapetin cinta dia!Bohong jika Navya mengatakan dia baik-baik saja. Hatinya benar-benar merasa hancur sekarang. Bukan hanya sekali ini sebenarnya Zoya mengirim foto-foto yang sengaja dikirim Zoya untuk memprovokasinya.Biasanya, yang dia rasakan tidak sesakit ini. Tapi, mengingat betapa Al memohon padanya untuk tidak bercerai, dan segala perlakuan manis, juga perhatian yang Al berikan kepadanya beberapa hari terakhir ini, membuatnya sedikit memiliki harapan bahwa Al bisa mencintainya.Namun, setelah apa yang terjadi hari ini, juga kiriman foto itu, dia hanya bisa tersenyum getir dengan air mata yang enggan untuk berhenti mengalir. "Kamu
Navya menunduk, merenung sejenak. Dia merasa ada kebenaran dalam kata-kata Sean, namun untuk membuat keputusan itu butuh keberanian yang belum tentu dia miliki. “Kalo kamu butuh temen ngobrol atau butuh bantuan, kamu tau dimana harus cari aku, Nav. Nomer aku masih yang dulu kok. Aku juga aktif di sosmed. Kamu tinggal DM aku aja kalo emang kamu udah nggak save nomer aku. Jangan ragu buat chat aku kapanpun kamu mau,” ucap Sean dengan penuh ketulusan. Navya menatapnya lagi, kali ini ada secercah harapan di matanya. "Makasih, Sean." "Eh, nggak sadar, ya. Kok kita awet banget ya ngobrol di depan toilet kayak gini. Gimana kalo kita ke kafe atau ke mana gitu yuk buat lanjut ngobrol?" ajak Sean. Navya tersenyum tipis, "Maaf, Sean. Aku mau pulang, mau istirahat. Next time aja, ya." Sean tersenyum dan mengangguk, meskipun sorot matanya terlihat kecewa. "Kalo gitu, aku anter kamu pulang aja, ya? Gimana?" "Nggak usah. Aku udah pesen taksi online kok. Nih drivernya udah chat aku. Aku
Navya merasa tubuhnya lemas dan pusing, seolah dunia di sekitarnya berputar. Tepat saat ia hampir jatuh, sebuah tangan kuat menahan tubuhnya dengan cepat. “Navya?” Suara pria itu terdengar terkejut. Navya, yang masih setengah sadar, perlahan mengangkat pandangannya. Seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah yang tak asing baginya—Sean, teman lamanya yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya, sekaligus adik dari Zoya. Raut wajah Sean dipenuhi kekhawatiran. "Sean?" tanya Navya, suara dan tatapannya masih lemah. “Ka-kamu ... kamu ngapain di sini? Bukannya kamu di London?” "Aku harusnya yang tanya, kamu ngapain sendirian, di sini, huh? Mau pingsan pula. Kamu sakit?" Sean bertanya dengan nada prihatin sambil membantu Navya berdiri lebih tegak. Navya menepis tangannya pelan, mencoba menstabilkan dirinya sendiri. “Aku nggak apa-apa, cuma maag aku aja yang lagi kambuh,” jawabnya dengan nada datar, mencoba menyembunyikan kegundahannya. Sean memicingkan mata, jelas tida
Al akhirnya menghela napas panjang, merasa terjebak di antara kewajiban dan kenyamanan keluarga kecilnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menjawab panggilan itu. “Halo ... Tante?” Suara Al terdengar berat, seperti sedang bersiap untuk mendengar kabar buruk. Dari seberang telepon, suara Merry terdengar menangis terisak dengan penuh kepura-puraan. “Al ... tolong. Zoya ... dia butuh kamu. Dia ... dia tadi batuk darah banyak banget, Al. Tapi dia nggak mau dibawa ke rumah sakit. Dia bilang, dia mau ... dia mau mati aja, karena katanya kamu udah bahagia sama Navya dan anak-anaknya. Dia merasa udah merusak kebahagiaan kamu. Dia nggak mau merusak kebahagiaan kalian. Dia nyerah sama penyakitnya, Al. Tolong ... tolong datang ke sini sekarang, Al." Al terdiam, menatap Navya yang masih memperhatikan dengan tatapan penuh pertanyaan. "Tante takut sesuatu yang buruk terjadi sama dia. Cuma kamu yang bisa bujuk dia, Al. Tante mohon. Tolong Tante. Setidaknya, lakukan ini demi putri k