Al menelan ludah ketika mendengar kabar dari Mbok Ratih. "Tolong jangan panik, Mbok. Sekarang, bawa Navya ke rumah sakit saya. Minta antar Pak Rudi. Saya tunggu di IGD. Jangan buang waktu, Mbok. Tolong cepat ya, Mbok," katanya dengan suara tegas meski hatinya berdebar kencang.
Mbok Ratih di seberang sana masih terdengar panik, namun perlahan dia mulai tenang setelah mendengar instruksi dari Al. "Iya, Den. Saya langsung ke rumah sakit sekarang," jawabnya terbata-bata. Begitu panggilan berakhir, Al merasakan gelombang emosi menghantamnya. Dia dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari menuju depan ruang gawat darurat. Sesuatu yang sangat buruk pasti terjadi pada Navya, pikirnya. Tadi pagi seharusnya dia benar-benar melarang Navya keluar rumah, mengingat bagaimana Navya terkena demam tadi malam. Terlebih Navya tidak memakan apa pun sebelum mengantar Axel ke sekolah. Namun, karena perdebatan Navya dan Zoya tadi, membuatPertanyaan itu menghantam Al seperti petir di siang bolong. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Pikirannya berputar-putar, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia masih mencintai Zoya atau tidak, dia sendiri bahkan tidak yakin. Di satu sisi, Zoya adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu memiliki tempat di hatinya. Tapi di sisi lain, Navya adalah istrinya, wanita yang selalu berada di sisinya selama ini, yang memberikan cinta tanpa syarat, bahkan ketika Al sendiri tidak yakin pada perasaannya. Al tertegun, tak mampu memberikan jawaban yang pasti. Dia hanya bisa menatap Navya, berharap jawabannya bisa datang dengan sendirinya, tapi waktu terus berjalan, dan Navya sudah menunggu terlalu lama. Navya tersenyum pahit. "Kamu nggak bisa jawab, ya, Mas?" Al menundukkan kepalanya, rasa bersalah menyesakkan dadanya. "Navya, ini bukan tentang Zoya. Ini tentang kita. Aku ...."
“Mama!” Axel langsung menghampiri Navya, menggenggam tangannya dengan erat. “Ma, Mama gak apa-apa? Kenapa Mama bisa sakit gini?” Suaranya terdengar gemetar, kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Navya perlahan membuka mata, tatapannya lemah namun senyum tipis masih terlihat di sudut bibirnya. “Axel ... Mama nggak apa-apa, Nak,” jawabnya dengan suara serak. “Mama cuma sedikit kecapean. Nggak perlu terlalu khawatir.” Axel menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di matanya. “Tapi Mama pingsan! Itu bukan cuma capek! Mama sakit, Ma. Axel nggak mau Mama sakit. Mama harus sehat ya, Ma.” Navya mengelus lembut kepala Axel, berusaha menenangkan anaknya sambil tersenyum lembut. “Maaf ya, Sayang, Mama udah bikin Axel khawatir. Tapi Mama janji, Mama bakal cepet sembuh. Axel tenang, ya?” Axel menatap Navya dengan penuh emosi. "Axel nggak mau Mama sakit, Ma. Mama nggak boleh ninggalin aku. Aku nggak peduli
Al terdiam sejenak, merasakan pukulan emosional dari kata-kata Axel. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan putranya yang tengah meledak-ledak. Cindy, yang merasa suasana semakin tegang, menunduk ke arah Axel, berusaha tersenyum. "Axel, kamu mau pergi ke mana?" tanyanya lembut. Axel tidak menjawab. Matanya masih lurus ke depan, tidak mau menatap siapa pun. Kedua tangannya mengepal erat, tubuhnya gemetar karena emosi yang tidak bisa ia ungkapkan. Melihat Axel yang tampak begitu emosional, Cindy berusaha mendekat dengan hati-hati. "Gimana kalau kita turun ke kafe di bawah? Kamu suka es krim, 'kan? Kata Mama Navya kamu suka es krim coklat. Tante bisa traktir kamu es krim favorit kamu," tawarnya lembut, berusaha mencairkan suasana. Axel menggerakkan bahunya sedikit, tapi masih tidak menjawab. Meski demikian, ketegangan di wajahnya perlahan melunak. Melihat reaksi Axel, Cindy tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pergi makan es krim sebentar, ya? Kamu pasti bakal mer
Cindy terdiam sejenak, merasa semakin terkejut. Navya, sahabat yang selama ini tampak begitu tegar dan terlihat baik-baik saja, ternyata sudah meminta cerai dari Al? Ini lebih buruk dari yang dia kira. Dia mengira selama ini Navya benar-benar tidak pernah mempermasalahkan kedekatan Al dengan mantan istrinya, tapi ternyata, Navya memilih untuk memendam rasa sakitnya sendirian. Cindy berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak terlalu menunjukkan keterkejutannya di depan Axel. "Tante yakin Mama kamu cuma lagi sedikit marah aja waktu itu," kata Cindy lembut, mencoba menenangkan Axel. "Terkadang, orang dewasa juga punya masalah yang sulit, tapi bukan berarti Mama kamu nggak sayang sama Papa kamu atau sama kamu dan Lexa." Axel menggeleng lagi, kali ini lebih kuat. "Nggak, Tante. Aku tau Mama udah nggak tahan lagi. Papa selalu bikin Mama nangis. Aku nggak mau Mama pergi. Aku sayang banget sama Mama. Kalo Mama beneran mau pergi, aku mau ikut Mama aja ...." Air matanya kembali men
Al menatap Axel dengan sabar, meski sedikit heran dengan keberanian anaknya kali ini. “Papa tau kamu sayang sama Mama, tapi ini tugas Papa. Papa yang harus merawat Mama, bukan kamu.” Axel tetap tidak mau menyerah. "Tapi Mama lebih suka kalo aku yang nyuapin! Aku selalu nyuapin Mama kalo Mama lagi sakit! Mama udah biasa disuapin aku. Papa yang belum pernah nyuapin Mama, nanti pasti berantakan kalo Papa yang nyuapin," bantahnya dengan semangat, tangannya kembali mencoba meraih piring yang dipegang Al. Al menghela napas, mencoba untuk tetap tenang, kesabarannya sungguh diuji oleh putranya. “Axel, dengerin Papa. Kamu bisa bantu hal lain, tapi Papa yang akan menyuapi Mama, ya?” Navya, yang sejak tadi hanya tersenyum lemah melihat interaksi keduanya, akhirnya angkat bicara. "Kalian berdua ini kenapa sih, sampai rebutan begitu?" katanya lembut, tetapi ada nada geli dalam suaranya. Dia tertawa kecil meski suaranya masih lemah. “Gimana kalo ganti-gantian aja? Axel bisa nyuapin Mama beberapa
Navya menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan Axel yang mulai gelisah. "Axel, duduk, Sayang. Jangan marah-marah kayak gitu, ya?" bisiknya sambil meraih tangan anaknya. "Axel nggak boleh melawan Mami Zoya, Mami Zoya yang udah melahirkan Axel. Axel nggak boleh kayak gitu. Axel nggak mau jadi anak durhaka, 'kan?" "Tapi, Mah ...." "Axel ... ayo minta maaf sama Mami, Nak," pinta Navya dengan lembut. Axel menghela napas panjang sebelum akhirnya meminta maaf pada Zoya. "Maaf, Mami," ucapnya dengan kepala menunduk, tanpa menatap Zoya. Zoya tersenyum tipis, senyum yang penuh sindiran. "Kamu ini Navya, nggak usah berpura-pura jadi ibu peri yang selalu sabar dan baik hati di depan anak-anak. Axel sama Lexa itu anak-anak aku, jangan sok ngajarin mereka gimana caranya bersikap sama ibunya. Lagian, Lexa selalu hormat sama aku karena dia lebih sering menghabiskan waktunya sama aku, beda sama Axel yang selalu menentang aku karena dia lebih sering sama kamu. Entah gimana kamu mencuci otak
Al menatap Axel yang tertidur di pelukan Navya, sedikit mengerutkan kening. Meski Axel tampak nyaman di sana, Al khawatir keberadaan anak sulungnya itu justru mengganggu istirahat Navya. Ia menghela napas, lalu berbicara pelan agar tidak membangunkan Axel. "Nav, gimana kalo aku pindahin Axel ke sofa aja? Biar kamu bisa istirahat lebih nyaman," usul Al, suaranya lembut tapi jelas. Navya membuka matanya perlahan dan menatap Al dengan mata yang lelah, namun ada kelembutan yang samar di sana. Dia menggeleng pelan, tangannya masih menggenggam tangan Axel yang tertidur. "Jangan, Mas," bisik Navya. "Pelukan Axel bikin aku nyaman ... rasanya perut aku sedikit lebih baik kalo dia di sini. Nggak apa-apa, biar dia di sini aja." Al terdiam sesaat, memperhatikan Navya yang tampak begitu lemah namun berusaha kuat. Kemudian, dia tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Oh, begitu ya? Tapi aku yakin, pelukan aku pasti lebih efektif buat bikin kamu merasa lebih baik daripada pelukan Axel," go
"Ya, aku mau. Tapi aku maunya jalan aja," tegas Navya. Al menatap Navya yang bersikeras untuk tidak memakai kursi roda. Dengan perasaan campur aduk, ia akhirnya mengalah. "Oke, kita jalan aja, tapi aku bakal pegangin kamu sepanjang jalan, dan kamu nggak boleh nolak," kata Al tak kalah tegas, sambil merangkul Navya dengan lembut namun penuh perhatian. Navya tak menolak, meskipun ada sedikit keengganan di matanya. Mereka berjalan perlahan menuju taman rumah sakit, langkah Navya yang lemah membuat Al semakin hati-hati. Sepanjang perjalanan, beberapa perawat dan dokter yang mengenali Navya menyapa mereka dengan senyum simpul, namun ada juga yang memandang dengan tatapan tak suka, mungkin karena rasa iri melihat Navya yang menurut mereka terlalu beruntung menjadi istri seorang Aldevaro Mahendra. Dokter spesialis saraf sekaligus calon pewaris rumah sakit tempat mereka bekerja itu. "Ternyata masih banyak yang kenal sama aku, ya
Axel menarik lengan Navya dengan antusias, wajahnya terlihat tidak sabar. “Ma, Kalo nunggu Papa ganti baju kelamaan! Aku mau es krim coklatnya sekarang! Papa harus cepetan ganti bajunya biar kita bisa foto terus makan es krim. Aku udah nggak sabar, tau!” Navya menunduk, menatap Axel dengan lembut. “Iya, Nak, tolong sabar ya. Nanti habis foto, kita ambil es krim coklat buat kamu, okay?” Axel mendengus kesal dan melipat tangan di depan dada. “Papa ngapain masih bengong sih? Kenapa nggak cepetan ganti baju? Nanti es krimnya keburu habis!” Mendengar celotehan Axel, Al tersenyum geli. “Iya, iya, Papa cepet, kok. Kamu tunggu di sini, ya, sama Mama. Jangan pergi ke mana-mana.” “Papa beneran cepet, 'kan?” Axel menatap Al dengan ragu, seolah menantang ayahnya untuk menepati janji. Al mengangguk sambil tertawa kecil. “Beneran cepet. Papa cuma mau ganti baju sebentar, terus kita foto bareng sama Tante Cindy sama suaminya. Setelah itu, langsung kita ambil es krim coklat buat kamu.” Axel ter
Al tiba di lobi hotel, tempat pernikahan Cindy dilangsungkan. Dengan langkah cepat, dia berjalan masuk ke hotel setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas valet parkir. Hujan gerimis yang menyisakan jejak basah di tubuhnya membuat penampilannya semakin berantakan. Kemejanya tampak kusut, dan rambutnya yang sedikit basah terlihat acak-acakan. Wajahnya yang kusut semakin menambah kesan buruk pada imejnya yang selama ini selalu berpenampilan rapi dan berhasil menarik perhatian para wanita. Begitu tiba di depan ballroom, Al disambut tatapan heran dari para tamu yang berada di luar ruangan. Beberapa di antaranya berbisik-bisik melihat penampilannya yang jauh dari kesan profesional dan elegan yang biasanya ia tampilkan. Al tidak memperdulikannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal—Navya. Dia harus menemukan istrinya sebelum Navya kembali menghindarinya. Ketika hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, dua petugas yang berjaga di pintu langsung menghentikan langkahnya. “Maaf,
Al berdiri di samping mobilnya, matanya masih terpaku pada jalanan basah oleh hujan. Gemericik suara gerimis seakan menyatu dengan rasa kacau di dalam dadanya. Dia mencoba menekan nomor Navya lagi, kali ini dengan lebih frustasi, berharap kali ini ada jawaban. Panggilan itu kembali berakhir dengan suara operator yang dingin. Ponsel Navya masih mati. Al mengumpat pelan, “Navya, kamu mau sampe kapan sih ngilang kayak gini?” Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Dia merasa seperti terjebak di dalam mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir. Seketika, ponselnya bergetar. Dengan cepat Al meraihnya, berharap itu adalah Navya. Namun, nama di layar bukan yang dia harapkan. Al menatap nama Axel yang tertera di layar ponselnya. Tenggorokannya tercekat, pikirannya berputar, mencari-cari alasan. Karena dia tahu siapa yang akan ditanyakan putranya itu. Siapa lagi jika bukan Navya yang sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya. Dia menarik napas panjang sebelum menjawab, berusaha
Al melangkah kembali ke mobilnya, merasa semakin tenggelam dalam kebingungan dan kekhawatiran. Sementara hujan telah berhenti, dinginnya malam seolah mencerminkan kehampaan yang dirasakannya. Dia mulai bertanya-tanya, kenapa rasa cemas dan takut ini begitu menguasainya. Apakah ini karena dia sudah mulai mencintai Navya, atau sekadar rasa bersalah yang terus menghantuinya? Ketika dia menyusuri jalan menuju rumah, pikirannya dipenuhi bayangan Navya. Setiap momen yang pernah mereka lalui bersama berputar di benaknya—wajah Navya yang ceria saat selalu menyambutnya pulang, tangannya yang selalu sibuk mempersiapkan segala keperluannya tanpa keluh kesah. Al menghela napas panjang. “Apa aku bener-bener udah mulai cinta sama dia?” tanya Al dalam hati, tanpa mampu menemukan jawabannya yang pasti. Setiap kali dia memikirkan betapa hancurnya Navya saat ini, hatinya terasa semakin tertekan. Namun, dia tidak tahu apakah tekanan itu berasal dari rasa cinta, atau hanya sekadar rasa bersalah atas
Al bergegas membawa Axel pulang, tetapi di kepalanya masih berputar soal Navya. Sesampainya di rumah, Axel, yang baru keluar dari mobil, segera bertanya, "Papa, Mama udah pulang belum?" Al menelan ludah, mencoba tetap tenang meskipun hatinya berkecamuk. "Mama masih di panti, Nak. Papa mau jemput Mama sekarang." Axel berhenti sejenak di depan pintu rumah, wajahnya tampak khawatir. "Aku ikut, Pah! Aku mau ikut jemput Mama ke panti!" Al langsung menghentikan langkahnya dan menunduk, meraih bahu Axel dengan lembut, namun suaranya tegas. "Nggak, Axel. Kamu istirahat aja di rumah. Ini sudah malam, kamu harus tidur. Papa bisa jemput Mama sendiri." Axel merajuk, menatap Al dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi, Pah, aku—" "Axel ...." Al memotong dengan nada lebih tegas kali ini, menatap putranya dalam-dalam. "Denger Papa. Kamu tinggal di rumah dan istirahat. Besok pagi, Mama pasti udah di rumah." Axel mengangguk pelan, merasa tak berdaya di hadapan ketegasan Al. Dia selalu takut jik
Navya menatap layar ponselnya yang kini penuh dengan air mata. Di situ, ada foto Al yang sedang menatap Zoya dengan tatapan sendu sambil menggenggam erat tangan Zoya. Foto itu dikirim langsung oleh Zoya dengan pesan singkat.Mak Lampir :Inget ini baik-baik, cewek udik! Al cuma akan jadi milik aku. Cinta dia cuma buat aku. Jadi, jangan mimpi kamu bisa dapetin cinta dia!Bohong jika Navya mengatakan dia baik-baik saja. Hatinya benar-benar merasa hancur sekarang. Bukan hanya sekali ini sebenarnya Zoya mengirim foto-foto yang sengaja dikirim Zoya untuk memprovokasinya.Biasanya, yang dia rasakan tidak sesakit ini. Tapi, mengingat betapa Al memohon padanya untuk tidak bercerai, dan segala perlakuan manis, juga perhatian yang Al berikan kepadanya beberapa hari terakhir ini, membuatnya sedikit memiliki harapan bahwa Al bisa mencintainya.Namun, setelah apa yang terjadi hari ini, juga kiriman foto itu, dia hanya bisa tersenyum getir dengan air mata yang enggan untuk berhenti mengalir. "Kamu
Navya menunduk, merenung sejenak. Dia merasa ada kebenaran dalam kata-kata Sean, namun untuk membuat keputusan itu butuh keberanian yang belum tentu dia miliki. “Kalo kamu butuh temen ngobrol atau butuh bantuan, kamu tau dimana harus cari aku, Nav. Nomer aku masih yang dulu kok. Aku juga aktif di sosmed. Kamu tinggal DM aku aja kalo emang kamu udah nggak save nomer aku. Jangan ragu buat chat aku kapanpun kamu mau,” ucap Sean dengan penuh ketulusan. Navya menatapnya lagi, kali ini ada secercah harapan di matanya. "Makasih, Sean." "Eh, nggak sadar, ya. Kok kita awet banget ya ngobrol di depan toilet kayak gini. Gimana kalo kita ke kafe atau ke mana gitu yuk buat lanjut ngobrol?" ajak Sean. Navya tersenyum tipis, "Maaf, Sean. Aku mau pulang, mau istirahat. Next time aja, ya." Sean tersenyum dan mengangguk, meskipun sorot matanya terlihat kecewa. "Kalo gitu, aku anter kamu pulang aja, ya? Gimana?" "Nggak usah. Aku udah pesen taksi online kok. Nih drivernya udah chat aku. Aku
Navya merasa tubuhnya lemas dan pusing, seolah dunia di sekitarnya berputar. Tepat saat ia hampir jatuh, sebuah tangan kuat menahan tubuhnya dengan cepat. “Navya?” Suara pria itu terdengar terkejut. Navya, yang masih setengah sadar, perlahan mengangkat pandangannya. Seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah yang tak asing baginya—Sean, teman lamanya yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya, sekaligus adik dari Zoya. Raut wajah Sean dipenuhi kekhawatiran. "Sean?" tanya Navya, suara dan tatapannya masih lemah. “Ka-kamu ... kamu ngapain di sini? Bukannya kamu di London?” "Aku harusnya yang tanya, kamu ngapain sendirian, di sini, huh? Mau pingsan pula. Kamu sakit?" Sean bertanya dengan nada prihatin sambil membantu Navya berdiri lebih tegak. Navya menepis tangannya pelan, mencoba menstabilkan dirinya sendiri. “Aku nggak apa-apa, cuma maag aku aja yang lagi kambuh,” jawabnya dengan nada datar, mencoba menyembunyikan kegundahannya. Sean memicingkan mata, jelas tida
Al akhirnya menghela napas panjang, merasa terjebak di antara kewajiban dan kenyamanan keluarga kecilnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menjawab panggilan itu. “Halo ... Tante?” Suara Al terdengar berat, seperti sedang bersiap untuk mendengar kabar buruk. Dari seberang telepon, suara Merry terdengar menangis terisak dengan penuh kepura-puraan. “Al ... tolong. Zoya ... dia butuh kamu. Dia ... dia tadi batuk darah banyak banget, Al. Tapi dia nggak mau dibawa ke rumah sakit. Dia bilang, dia mau ... dia mau mati aja, karena katanya kamu udah bahagia sama Navya dan anak-anaknya. Dia merasa udah merusak kebahagiaan kamu. Dia nggak mau merusak kebahagiaan kalian. Dia nyerah sama penyakitnya, Al. Tolong ... tolong datang ke sini sekarang, Al." Al terdiam, menatap Navya yang masih memperhatikan dengan tatapan penuh pertanyaan. "Tante takut sesuatu yang buruk terjadi sama dia. Cuma kamu yang bisa bujuk dia, Al. Tante mohon. Tolong Tante. Setidaknya, lakukan ini demi putri k