Share

Bab 5. Kebimbangan Hati Al

Penulis: Sazthree
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-09 13:20:26

Navya tertegun di tangga, menyaksikan Zoya memasangkan dasi di leher Al dengan kelembutan yang terkesan sengaja dipertontonkan.

Saat mata Zoya bertemu dengannya, Navya bisa melihat senyum licik yang penuh arti di wajah perempuan itu. Tanpa basa-basi, Zoya tiba-tiba terhuyung mundur, tubuhnya bergetar seakan kehilangan keseimbangan.

"Ahh!" pekik Zoya dengan suara manja, berpura-pura hampir jatuh.

Dengan refleks, Al langsung meraih pinggang Zoya, menariknya ke dalam pelukan. "Zoya! Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir, menatap dalam matanya.

Zoya tersenyum kecil, berbisik pelan, "Aku nggak apa-apa, Al, makasih."

Axel yang melihat adegan itu dari sudut matanya langsung menoleh ke arah tangga, di mana Navya berdiri. Wajahnya tampak tidak terkejut, tapi matanya penuh kepedihan. Axel segera berlari kecil mendekati Navya, memanggilnya dengan suara lembut, "Mama!"

Navya yang sebelumnya terpaku, langsung tersenyum hangat saat Axel mendekat dan memeluknya. "Axel, Sayang," sambutnya penuh kasih sayang.

Axel kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Navya, dan berbisik, "Jangan sedih, Mama. Ada Axel yang selalu sayang sama Mama. Axel akan selalu ada buat Mama, meskipun Papa nggak peduli sama Mama."

Mata Navya perlahan mengembun mendengar kata-kata polos putra sambungnya itu. 

Namun, dia menahan air matanya agar tidak tumpah. Dengan senyum yang tetap terulas, dia mengelus kepala Axel lembut, "Mama juga sayang banget sama Axel."

Zoya, yang baru saja dilepaskan dari pelukan Al, dengan tatapan penuh kemenangan melangkah mendekati Navya. Dengan suara manis, dia berkata, "Navya, ayo ke meja makan. Kata Al kamu lagi sakit. Kamu pasti belum sarapan, 'kan?" Zoya merangkul tangan Navya dengan kepura-puraan yang manis.

Akan tetapi, Navya yang sudah tak bisa lagi menahan kemarahannya, langsung menepis tangan Zoya dengan kasar. Tubuh Zoya kembali terhuyung ke belakang, tetapi kali ini dia sengaja membiarkan dirinya jatuh terduduk di lantai.

"Aduh! Sakit!" teriak Zoya, menutupi wajahnya dengan tangan.

Al yang melihat kejadian itu langsung mendekat, wajahnya berubah penuh amarah. "Navya! Kenapa kamu bersikap kasar seperti itu sama Zoya? Dia kan cuma ngajakin kamu sarapan! Apa sih salahnya, tidak perlu sampai bertindak sejauh ini!" Spontanitas yang juga tidak disadari oleh Al itu, membuat Navya terluka, tapi tak berdarah. 

Alih-alih menangis atau meminta maaf, Navya hanya tertawa sinis. "Zoya, aku saranin, sebaiknya kamu main sinetron lagi aja deh."

"Aku yakin kamu pasti kepake banget buat jadi pemeran perempuan yang teraniaya gitu. Soalnya kamu hebat banget sih, aktingnya."

"Gak heran kenapa kamu dulu pernah jadi artis. Ya, walaupun nggak tenar-tenar amat sih. Kenapa nggak sibuk shooting lagi aja, dari pada terus berusaha sibuk merusak rumah tangga orang. Enakkan syuting, dapat uang kan?" tutur Navya dengan lembut tapi penuh ketegasan yang tidak pernah dia tunjukkan selama ini.

Zoya memasang wajah shock, matanya berkaca-kaca. Dengan nada tersedu-sedu, dia bertanya, "Kenapa kamu benci banget sih sama aku, Nav? Aku kan nggak pernah bermaksud jahat ke kamu, aku nggak bermaksud merusak hubungan rumah tangga kalian, aku cuma ngajak kamu sarapan lho."

Navya mendekat, tatapannya tajam, penuh kemarahan yang terpendam. "Kenapa aku benci sama kamu? Seharusnya aku yang nanya, kenapa kamu terus berusaha menjatuhkan aku, memfitnah aku di depan suamiku dan anak-anak?"

Zoya kembali terhuyung mundur dengan dramatis sambil memegang kepalanya, kali ini Al cepat menangkapnya, menarik Zoya ke dalam pelukannya. "Stop, Navya!" tegur Al keras, masih memeluk Zoya.

Navya hanya tersenyum dingin, menatap pemandangan itu tanpa ekspresi. 

Namum menyiratkan penuh kebencian, kemudian menoleh pada Axel dan Lexa yang sudah duduk di meja makan seraya mengulas senyum manisnya. "Axel, Lexa, kalian udah selesai sarapannya? Kita berangkat sekarang yuk!"

Axel mengangguk, "Iya, Mama. Ayo! Aku udah selesai kok sarapannya."

Dengan cepat, Axel mengambil tas ranselnya dan tas bekalnya dari meja, siap untuk pergi bersama Navya. 

Namun, Lexa dengan suara kecil menolak, "Aku nggak mau pergi sama Mama. Aku mau dianter sama Mami aja. Soalnya Mama jahat sama Mami Zoya."

Hati Navya terasa perih mendengar penolakan dari Lexa. Penolakan yang telah berkali-kali dia terima sejak kehadiran Zoya yang mulai memanipulasi pikiran Lexa. 

Luka itu jauh lebih dalam daripada rasa sakit yang dia rasakan saat melihat kedekatan Al dan Zoya. 

Namun, dia tidak menunjukkan kesedihannya. Dia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Okay. Kalo Lexa mau diantar Mami, nggak apa-apa. Mama sama Axel duluan ya, Sayang." Navya hendak mengecup puncak kepalanya, tapi Lexa menghindar dan memeluk kaki Zoya, seolah mencari perlindungan, membuat hatinya semakin terasa linu.

"Nav, kamu lagi sakit, kamu balik ke kamar aja, istirahat, biar aku sama Zoya yang antar anak-anak ke sekolah," kata Al dengan tegas saat menyadari wajah Navya yang masih tampak sedikit pucat.

Navya pun mengabaikannya, dan menggenggam tangan Axel, lalu membimbingnya keluar menuju mobil. Di dalam hatinya, Navya tahu bahwa dia telah mencapai titik di mana tidak ada lagi ruang untuk terus bertahan.

Al baru saja hendak mengejar Navya ketika tiba-tiba Zoya meringis, mengeluh sambil memegang kepalanya. "Aduh, kepala aku tiba-tiba pusing banget, Al." Suara Zoya terdengar lemah, nyaris berbisik.

Al berhenti sejenak, matanya menatap punggung Navya yang sudah hampir mencapai pintu utama, namun rasa tanggung jawabnya pada Zoya membebani langkahnya. "Zoya, kamu kenapa?" Al segera berbalik, menghampiri Zoya, dan membantunya duduk di kursi ruang makan.

Zoya menutup matanya sejenak, lalu membuka perlahan dengan napas yang terengah-engah. "Mungkin tadi aku terlalu panik ... sekarang kepala aku sakit. Maaf, Al, aku jadi bikin repot kamu terus."

Al menatap Zoya penuh kekhawatiran, namun tetap matanya melirik ke arah pintu depan, tempat Navya hampir saja keluar bersama Axel. "Kamu istirahat di sini dulu, ya. Ada yang harus aku omongin sama Navya!" Al berkata cepat, melepaskan genggaman tangannya dari Zoya.

Zoya berusaha meraih tangan Al lagi, namun kali ini Al sudah setengah berlari ke pintu depan, hatinya cemas. Membuat Zoya mendengus kesal dengan raut wajahnya yang berubah kesal.

Sesampainya Al di pintu, suara mesin mobil terdengar keras, disertai deru mobil Navya yang mulai meninggalkan pelataran rumah. Al berhenti di ambang pintu, hanya bisa memandang mobil Navya yang kini sudah hampir menghilang dari pandangan. 

Napasnya tersengal, bukan hanya karena terburu-buru, tetapi juga karena rasa sesal yang mulai merambat masuk.

Dia berdiri diam sejenak, menatap gerbang rumahnya yang kembali ditutup oleh penjaga rumahnya. Seolah ada jarak yang semakin lebar antara dirinya dan Navya, lebih dari sekadar jarak fisik. Kepalanya menunduk, mengusap kasar wajahnya dengan frustrasi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 6. Menghindar

    Di belakangnya, Zoya menyandarkan diri di kursi, senyum tipis muncul di sudut bibirnya yang tadinya tampak kesakitan, karena Al gagal mengejar Navya. Dia menatap punggung Al yang masih terpaku di depan pintu, menikmati momen di mana perlahan, benih-benih keretakan dalam rumah tangga Al dan Navya semakin jelas terlihat. Al kembali ke dalam rumah, dengan raut wajah lelah dan putus asa. Dia menatap Zoya yang tampak sedang mencoba bangkit dengan raut wajah menahan sakit. "Kamu nggak apa-apa? Aku antar kamu ke rumah sakit aja, ya?" tawarnya. Zoya menggeleng pelan, berusaha tersenyum lemah. "Nggak usah, Al. Aku udah mendingan kok. Maaf, aku selalu bikin kamu khawatir ... dan maaf juga karena kehadiran aku selalu bikin masalah buat hubungan kamu sama Navya. Sebentar lagi aku bakal pergi dan nggak akan ganggu hubungan kalian lagi kok, Al." "Ssst, kamu ngomong apa sih? Kamu harus bertahan dan sembuh. Tolong lakukan itu demi anak-anak kita, hum?" kata Al sambil menyeka lembut wajah Zoya y

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-06
  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 7. Usaha Al

    "Aku nggak bisa," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Tanpa berpikir dua kali, Navya memundurkan kembali mobilnya, membelokkan mobilnya menjauh dari rumah. "Nggak, aku nggak akan pulang sekarang. Aku butuh waktu sendiri." Dia melaju menuju salah satu kafe yang biasa dia kunjungi, tak jauh dari rumah mereka. Kafe kecil itu menjadi tempat favoritnya untuk menyendiri ketika dia butuh waktu untuk berpikir. Setibanya di sana, dia memesan caramel macchiato dingin, lalu duduk di tempat favoritnya, di sudut paling terpencil. Tangannya menggenggam erat cup kopinya, tapi pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana semua ini bisa terjadi—hubungan yang semakin renggang, emosi yang semakin tak terkendali. "Ya Allah, aku harus gimana sekarang? Berat banget hati aku buat jauh dari Axel sama Lexa," batinnya sambil menitikkan air mata yang segera dia hapus. Satu teguk kopi belum cukup menenangkan perasaannya ketika suara langkah kak

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-07
  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 8. Pingsan

    Cindy mengernyitkan dahi, lalu detik kemudian dia tersenyum dan berbalik, kembali menghampiri Al dan berdiri di depan meja kerjanya. "Boleh, Dok," jawabnya. "Mau ngobrol tentang apa? Tentang pasien?" "Kamu duduk dulu," kata Al mengulurkan sebelah tangannya, meminta Cindy duduk di kursi depan mejanya. Perempuan berambut pendek dan berparas manis itu pun duduk dan bertanya, "Ada apa, Dok? Apa ini masalah cuti nikah saya, ya?" "Bukan. Bukan tentang itu. Tentang cuti kamu saya sudah mengizinkan kamu mau cuti satu sampai dua minggu pun saya nggak masalah. Karena kamu adalah salah satu perawat yang hampir nggak pernah ambil jatah cuti kamu," elak Al. "Makasih, Dok. Tapi beneran gapapa kalo saya cuti dua minggu, Dok? Soalnya calon suami saya rencananya mau ngajak honeymoon ke Bali sama Lombok." Al hanya mengangguk sebagai jawabannya. Mendengar perkataan Cindy tentang bulan madu, Al tertegun. Menyadari jika dirinya sungguh belum pernah memberikan kebahagiaan apa pun pada istrinya se

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 9. Apa Kamu Masih Mencintainya?

    Al menelan ludah ketika mendengar kabar dari Mbok Ratih. "Tolong jangan panik, Mbok. Sekarang, bawa Navya ke rumah sakit saya. Minta antar Pak Rudi. Saya tunggu di IGD. Jangan buang waktu, Mbok. Tolong cepat ya, Mbok," katanya dengan suara tegas meski hatinya berdebar kencang. Mbok Ratih di seberang sana masih terdengar panik, namun perlahan dia mulai tenang setelah mendengar instruksi dari Al. "Iya, Den. Saya langsung ke rumah sakit sekarang," jawabnya terbata-bata. Begitu panggilan berakhir, Al merasakan gelombang emosi menghantamnya. Dia dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari menuju depan ruang gawat darurat. Sesuatu yang sangat buruk pasti terjadi pada Navya, pikirnya. Tadi pagi seharusnya dia benar-benar melarang Navya keluar rumah, mengingat bagaimana Navya terkena demam tadi malam. Terlebih Navya tidak memakan apa pun sebelum mengantar Axel ke sekolah. Namun, karena perdebatan Navya dan Zoya tadi, membuat

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 10. Perdebatan Axel dan Lexa

    Pertanyaan itu menghantam Al seperti petir di siang bolong. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Pikirannya berputar-putar, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia masih mencintai Zoya atau tidak, dia sendiri bahkan tidak yakin. Di satu sisi, Zoya adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu memiliki tempat di hatinya. Tapi di sisi lain, Navya adalah istrinya, wanita yang selalu berada di sisinya selama ini, yang memberikan cinta tanpa syarat, bahkan ketika Al sendiri tidak yakin pada perasaannya. Al tertegun, tak mampu memberikan jawaban yang pasti. Dia hanya bisa menatap Navya, berharap jawabannya bisa datang dengan sendirinya, tapi waktu terus berjalan, dan Navya sudah menunggu terlalu lama. Navya tersenyum pahit. "Kamu nggak bisa jawab, ya, Mas?" Al menundukkan kepalanya, rasa bersalah menyesakkan dadanya. "Navya, ini bukan tentang Zoya. Ini tentang kita. Aku ...."

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10
  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 11. Kemarahan Axel

    “Mama!” Axel langsung menghampiri Navya, menggenggam tangannya dengan erat. “Ma, Mama gak apa-apa? Kenapa Mama bisa sakit gini?” Suaranya terdengar gemetar, kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Navya perlahan membuka mata, tatapannya lemah namun senyum tipis masih terlihat di sudut bibirnya. “Axel ... Mama nggak apa-apa, Nak,” jawabnya dengan suara serak. “Mama cuma sedikit kecapean. Nggak perlu terlalu khawatir.” Axel menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di matanya. “Tapi Mama pingsan! Itu bukan cuma capek! Mama sakit, Ma. Axel nggak mau Mama sakit. Mama harus sehat ya, Ma.” Navya mengelus lembut kepala Axel, berusaha menenangkan anaknya sambil tersenyum lembut. “Maaf ya, Sayang, Mama udah bikin Axel khawatir. Tapi Mama janji, Mama bakal cepet sembuh. Axel tenang, ya?” Axel menatap Navya dengan penuh emosi. "Axel nggak mau Mama sakit, Ma. Mama nggak boleh ninggalin aku. Aku nggak peduli

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11
  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 12. Pelukan Pertama

    Al terdiam sejenak, merasakan pukulan emosional dari kata-kata Axel. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan putranya yang tengah meledak-ledak. Cindy, yang merasa suasana semakin tegang, menunduk ke arah Axel, berusaha tersenyum. "Axel, kamu mau pergi ke mana?" tanyanya lembut. Axel tidak menjawab. Matanya masih lurus ke depan, tidak mau menatap siapa pun. Kedua tangannya mengepal erat, tubuhnya gemetar karena emosi yang tidak bisa ia ungkapkan. Melihat Axel yang tampak begitu emosional, Cindy berusaha mendekat dengan hati-hati. "Gimana kalau kita turun ke kafe di bawah? Kamu suka es krim, 'kan? Kata Mama Navya kamu suka es krim coklat. Tante bisa traktir kamu es krim favorit kamu," tawarnya lembut, berusaha mencairkan suasana. Axel menggerakkan bahunya sedikit, tapi masih tidak menjawab. Meski demikian, ketegangan di wajahnya perlahan melunak. Melihat reaksi Axel, Cindy tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pergi makan es krim sebentar, ya? Kamu pasti bakal mer

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-12
  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 13. Perdebatan Ayah Dan Anak

    Cindy terdiam sejenak, merasa semakin terkejut. Navya, sahabat yang selama ini tampak begitu tegar dan terlihat baik-baik saja, ternyata sudah meminta cerai dari Al? Ini lebih buruk dari yang dia kira. Dia mengira selama ini Navya benar-benar tidak pernah mempermasalahkan kedekatan Al dengan mantan istrinya, tapi ternyata, Navya memilih untuk memendam rasa sakitnya sendirian. Cindy berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak terlalu menunjukkan keterkejutannya di depan Axel. "Tante yakin Mama kamu cuma lagi sedikit marah aja waktu itu," kata Cindy lembut, mencoba menenangkan Axel. "Terkadang, orang dewasa juga punya masalah yang sulit, tapi bukan berarti Mama kamu nggak sayang sama Papa kamu atau sama kamu dan Lexa." Axel menggeleng lagi, kali ini lebih kuat. "Nggak, Tante. Aku tau Mama udah nggak tahan lagi. Papa selalu bikin Mama nangis. Aku nggak mau Mama pergi. Aku sayang banget sama Mama. Kalo Mama beneran mau pergi, aku mau ikut Mama aja ...." Air matanya kembali men

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-13

Bab terbaru

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 33. Ego Setinggi Langit

    Axel menarik lengan Navya dengan antusias, wajahnya terlihat tidak sabar. “Ma, Kalo nunggu Papa ganti baju kelamaan! Aku mau es krim coklatnya sekarang! Papa harus cepetan ganti bajunya biar kita bisa foto terus makan es krim. Aku udah nggak sabar, tau!” Navya menunduk, menatap Axel dengan lembut. “Iya, Nak, tolong sabar ya. Nanti habis foto, kita ambil es krim coklat buat kamu, okay?” Axel mendengus kesal dan melipat tangan di depan dada. “Papa ngapain masih bengong sih? Kenapa nggak cepetan ganti baju? Nanti es krimnya keburu habis!” Mendengar celotehan Axel, Al tersenyum geli. “Iya, iya, Papa cepet, kok. Kamu tunggu di sini, ya, sama Mama. Jangan pergi ke mana-mana.” “Papa beneran cepet, 'kan?” Axel menatap Al dengan ragu, seolah menantang ayahnya untuk menepati janji. Al mengangguk sambil tertawa kecil. “Beneran cepet. Papa cuma mau ganti baju sebentar, terus kita foto bareng sama Tante Cindy sama suaminya. Setelah itu, langsung kita ambil es krim coklat buat kamu.” Axel ter

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 32. Omelan Navya

    Al tiba di lobi hotel, tempat pernikahan Cindy dilangsungkan. Dengan langkah cepat, dia berjalan masuk ke hotel setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas valet parkir. Hujan gerimis yang menyisakan jejak basah di tubuhnya membuat penampilannya semakin berantakan. Kemejanya tampak kusut, dan rambutnya yang sedikit basah terlihat acak-acakan. Wajahnya yang kusut semakin menambah kesan buruk pada imejnya yang selama ini selalu berpenampilan rapi dan berhasil menarik perhatian para wanita. Begitu tiba di depan ballroom, Al disambut tatapan heran dari para tamu yang berada di luar ruangan. Beberapa di antaranya berbisik-bisik melihat penampilannya yang jauh dari kesan profesional dan elegan yang biasanya ia tampilkan. Al tidak memperdulikannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal—Navya. Dia harus menemukan istrinya sebelum Navya kembali menghindarinya. Ketika hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, dua petugas yang berjaga di pintu langsung menghentikan langkahnya. “Maaf,

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 31. Usaha Al

    Al berdiri di samping mobilnya, matanya masih terpaku pada jalanan basah oleh hujan. Gemericik suara gerimis seakan menyatu dengan rasa kacau di dalam dadanya. Dia mencoba menekan nomor Navya lagi, kali ini dengan lebih frustasi, berharap kali ini ada jawaban. Panggilan itu kembali berakhir dengan suara operator yang dingin. Ponsel Navya masih mati. Al mengumpat pelan, “Navya, kamu mau sampe kapan sih ngilang kayak gini?” Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Dia merasa seperti terjebak di dalam mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir. Seketika, ponselnya bergetar. Dengan cepat Al meraihnya, berharap itu adalah Navya. Namun, nama di layar bukan yang dia harapkan. Al menatap nama Axel yang tertera di layar ponselnya. Tenggorokannya tercekat, pikirannya berputar, mencari-cari alasan. Karena dia tahu siapa yang akan ditanyakan putranya itu. Siapa lagi jika bukan Navya yang sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya. Dia menarik napas panjang sebelum menjawab, berusaha

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 30. Gagal Bertemu

    Al melangkah kembali ke mobilnya, merasa semakin tenggelam dalam kebingungan dan kekhawatiran. Sementara hujan telah berhenti, dinginnya malam seolah mencerminkan kehampaan yang dirasakannya. Dia mulai bertanya-tanya, kenapa rasa cemas dan takut ini begitu menguasainya. Apakah ini karena dia sudah mulai mencintai Navya, atau sekadar rasa bersalah yang terus menghantuinya? Ketika dia menyusuri jalan menuju rumah, pikirannya dipenuhi bayangan Navya. Setiap momen yang pernah mereka lalui bersama berputar di benaknya—wajah Navya yang ceria saat selalu menyambutnya pulang, tangannya yang selalu sibuk mempersiapkan segala keperluannya tanpa keluh kesah. Al menghela napas panjang. “Apa aku bener-bener udah mulai cinta sama dia?” tanya Al dalam hati, tanpa mampu menemukan jawabannya yang pasti. Setiap kali dia memikirkan betapa hancurnya Navya saat ini, hatinya terasa semakin tertekan. Namun, dia tidak tahu apakah tekanan itu berasal dari rasa cinta, atau hanya sekadar rasa bersalah atas

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 29. Kamu Di mana?

    Al bergegas membawa Axel pulang, tetapi di kepalanya masih berputar soal Navya. Sesampainya di rumah, Axel, yang baru keluar dari mobil, segera bertanya, "Papa, Mama udah pulang belum?" Al menelan ludah, mencoba tetap tenang meskipun hatinya berkecamuk. "Mama masih di panti, Nak. Papa mau jemput Mama sekarang." Axel berhenti sejenak di depan pintu rumah, wajahnya tampak khawatir. "Aku ikut, Pah! Aku mau ikut jemput Mama ke panti!" Al langsung menghentikan langkahnya dan menunduk, meraih bahu Axel dengan lembut, namun suaranya tegas. "Nggak, Axel. Kamu istirahat aja di rumah. Ini sudah malam, kamu harus tidur. Papa bisa jemput Mama sendiri." Axel merajuk, menatap Al dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi, Pah, aku—" "Axel ...." Al memotong dengan nada lebih tegas kali ini, menatap putranya dalam-dalam. "Denger Papa. Kamu tinggal di rumah dan istirahat. Besok pagi, Mama pasti udah di rumah." Axel mengangguk pelan, merasa tak berdaya di hadapan ketegasan Al. Dia selalu takut jik

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 28. Menghilang

    Navya menatap layar ponselnya yang kini penuh dengan air mata. Di situ, ada foto Al yang sedang menatap Zoya dengan tatapan sendu sambil menggenggam erat tangan Zoya. Foto itu dikirim langsung oleh Zoya dengan pesan singkat.Mak Lampir :Inget ini baik-baik, cewek udik! Al cuma akan jadi milik aku. Cinta dia cuma buat aku. Jadi, jangan mimpi kamu bisa dapetin cinta dia!Bohong jika Navya mengatakan dia baik-baik saja. Hatinya benar-benar merasa hancur sekarang. Bukan hanya sekali ini sebenarnya Zoya mengirim foto-foto yang sengaja dikirim Zoya untuk memprovokasinya.Biasanya, yang dia rasakan tidak sesakit ini. Tapi, mengingat betapa Al memohon padanya untuk tidak bercerai, dan segala perlakuan manis, juga perhatian yang Al berikan kepadanya beberapa hari terakhir ini, membuatnya sedikit memiliki harapan bahwa Al bisa mencintainya.Namun, setelah apa yang terjadi hari ini, juga kiriman foto itu, dia hanya bisa tersenyum getir dengan air mata yang enggan untuk berhenti mengalir. "Kamu

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 27. Kiriman Foto

    Navya menunduk, merenung sejenak. Dia merasa ada kebenaran dalam kata-kata Sean, namun untuk membuat keputusan itu butuh keberanian yang belum tentu dia miliki. “Kalo kamu butuh temen ngobrol atau butuh bantuan, kamu tau dimana harus cari aku, Nav. Nomer aku masih yang dulu kok. Aku juga aktif di sosmed. Kamu tinggal DM aku aja kalo emang kamu udah nggak save nomer aku. Jangan ragu buat chat aku kapanpun kamu mau,” ucap Sean dengan penuh ketulusan. Navya menatapnya lagi, kali ini ada secercah harapan di matanya. "Makasih, Sean." "Eh, nggak sadar, ya. Kok kita awet banget ya ngobrol di depan toilet kayak gini. Gimana kalo kita ke kafe atau ke mana gitu yuk buat lanjut ngobrol?" ajak Sean. Navya tersenyum tipis, "Maaf, Sean. Aku mau pulang, mau istirahat. Next time aja, ya." Sean tersenyum dan mengangguk, meskipun sorot matanya terlihat kecewa. "Kalo gitu, aku anter kamu pulang aja, ya? Gimana?" "Nggak usah. Aku udah pesen taksi online kok. Nih drivernya udah chat aku. Aku

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 26. Teman Lama

    Navya merasa tubuhnya lemas dan pusing, seolah dunia di sekitarnya berputar. Tepat saat ia hampir jatuh, sebuah tangan kuat menahan tubuhnya dengan cepat. “Navya?” Suara pria itu terdengar terkejut. Navya, yang masih setengah sadar, perlahan mengangkat pandangannya. Seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah yang tak asing baginya—Sean, teman lamanya yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya, sekaligus adik dari Zoya. Raut wajah Sean dipenuhi kekhawatiran. "Sean?" tanya Navya, suara dan tatapannya masih lemah. “Ka-kamu ... kamu ngapain di sini? Bukannya kamu di London?” "Aku harusnya yang tanya, kamu ngapain sendirian, di sini, huh? Mau pingsan pula. Kamu sakit?" Sean bertanya dengan nada prihatin sambil membantu Navya berdiri lebih tegak. Navya menepis tangannya pelan, mencoba menstabilkan dirinya sendiri. “Aku nggak apa-apa, cuma maag aku aja yang lagi kambuh,” jawabnya dengan nada datar, mencoba menyembunyikan kegundahannya. Sean memicingkan mata, jelas tida

  • MENGEJAR CINTA ISTRI YANG KUABAIKAN    Bab 25. Pria Penolong

    Al akhirnya menghela napas panjang, merasa terjebak di antara kewajiban dan kenyamanan keluarga kecilnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menjawab panggilan itu. “Halo ... Tante?” Suara Al terdengar berat, seperti sedang bersiap untuk mendengar kabar buruk. Dari seberang telepon, suara Merry terdengar menangis terisak dengan penuh kepura-puraan. “Al ... tolong. Zoya ... dia butuh kamu. Dia ... dia tadi batuk darah banyak banget, Al. Tapi dia nggak mau dibawa ke rumah sakit. Dia bilang, dia mau ... dia mau mati aja, karena katanya kamu udah bahagia sama Navya dan anak-anaknya. Dia merasa udah merusak kebahagiaan kamu. Dia nggak mau merusak kebahagiaan kalian. Dia nyerah sama penyakitnya, Al. Tolong ... tolong datang ke sini sekarang, Al." Al terdiam, menatap Navya yang masih memperhatikan dengan tatapan penuh pertanyaan. "Tante takut sesuatu yang buruk terjadi sama dia. Cuma kamu yang bisa bujuk dia, Al. Tante mohon. Tolong Tante. Setidaknya, lakukan ini demi putri k

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status