Perlahan, Al melangkah mendekat, berdiri di samping tempat tidur Axel. Dia melihat Navya yang masih memeluk putranya dengan erat, seperti mencari perlindungan dari kesakitan yang dia rasakan.
Al menelan ludah, mencoba menenangkan kegelisahan di hatinya, tetapi wajah Navya yang penuh kelelahan dalam tidurnya membuat dadanya semakin sesak. "Navya," bisik Al pelan, meski dia tahu istrinya tidak bisa mendengarnya. Hati Al mencelos saat melihat air mata tiba-tiba mengalir di kedua belah sudut mata Navya, bahkan dalam tidurnya. Dia berlutut di samping tempat tidur, kakinya terasa lemas, seluruh darahnya berdesir dan menghantam dadanya. Ia menatap wajah perempuan yang dulu dia pikir hanya akan menjadi ibu dari anak-anaknya, wanita yang akan menjadi pusat dunianya. Namun, kini ... menyadari bahwa Navya adalah lebih dari sekadar pengasuh anak-anaknya, lebih dari apa yang pernah dia pikirkan, lebih dari dunianya. Dia adalah sosok yang telah memberikan hatinya sepenuh-penuhnya untuknya dan juga kedua anaknya, Navya adalah surga baginya. Tetapi, dia sendiri yang tidak pernah benar-benar menyadarinya. "Kenapa aku nggak pernah lihat ini sebelumnya?" gumam Al, meremas jemarinya. "Kenapa aku membiarkan dia merasa sendirian selama ini?" lirih Al, merasa sangat bersalah. Dia tatap dalam wajah Navya yang tampak lelah. Navya tiba-tiba bergerak lagi, tubuhnya menggeliat dalam pelukan Axel. Dengan suara lirih dan serak, dia kembali berbisik, "Maaf ... Axel ... maafin Mama ya, Nak." Pilu, terdengar suara Navya, semakin menyayat hati. Al merasa seakan dihantam oleh ribuan ton beban yang menghujani hatinya. Dia tahu sekarang bahwa ini bukan hanya tentang dirinya yang mengecewakan Navya. Ini tentang bagaimana dia telah mengabaikan semua cinta dan pengorbanan yang diberikan perempuan itu. Navya sudah terlalu lama terluka, dan mungkin kini dia tak punya banyak waktu lagi untuk memperbaikinya. Pantas saja perempuan berhati lembut itu tiba-tiba meminta cerai padanya. Al dengan hati-hati duduk di tepi tempat tidur, menundukkan kepala, membiarkan perasaannya tercurah dalam keheningan. Dia ingin memeluk Navya, membisikkan permintaan maaf, mengatakan bahwa dia tidak ingin pernikahan ini berakhir. "Maafkan aku, Nav. Aku, ingin kita tetap bertahan, bilang sajabaku egois, tendang aku, marah aku, aku terima. Asal jangan bercerai, Nav," bisik Al. Tetapi dia tahu, tidak ada kata-kata yang bisa menghapus semua luka yang telah Navya rasakan selama ini. Saat Al berdiri lagi, matanya tertuju pada Navya yang masih terisak pelan dalam tidurnya. "Besok ...," bisik Al, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Besok aku harus ngomong sama dia. Aku harus minta maaf secara langsung dan aku akan pastikan dia tau betapa pentingnya dia buat aku dan anak-anak." Meskipun, dalam hatinya, dia tahu bahwa kata-kata saja tidak akan cukup untuk menyembuhkan hati Navya yang sudah mendapatkan banyak luka karenanya. Melihat wajah Navya yang terus terlihat gelisah, disentuhnya kening Navya yang ternyata terasa sangat panas. "Dia demam?" gumamnya cemas. Dia segera membuka laci nakas di samping tempat tidur putranya itu, mengambil termometer infrared, dan mengarahkannya ke dahi istrinya. "Hah? Tiga puluh sembilan derajat?" Al terkejut saat melihat angka yang tertera pada layar kecil termometernya. "Pantesan panas banget. Aku ambil obat sama kompresan dulu, sabar Nav, sabar." Al bergegas keluar dari dalam kamar putranya, dan berlari kecil menuruni anak tangga menuju dapur, mengambil baskom dan air untuk mengompres dahi Navya. Kemudian kembali lagi ke kamar Axel, mencari handuk kecil untuk mengompres Navya di lemari pakaian Axel. "Lepas, jangan ... Aku sudah lelah," lirih Navya yang kembali mengigau, membuat Al menatap sendu wajah istrinya itu. "Nav, aku kompres dulu ya. Kamu demam, Nav. Sudah, jangan memberontak lagi, sini biar aku kompres dulu," bujuk Al, Navya sempat membuka kedua matanya, sebelum akhirnya memejamkan kembali. Setelah memastikan kepala Navya terkompresi dengan sempurna. Dengan telaten, Al mencoba mengangkat kepala Navya, membangunkan Navya yang masih setia memejamkan matanya. "Minum obat dulu yah, Nav. Buka mulut mu, ini minumnya pakai sedotan aja, biar nggak keselek," titah Al lembut dan memasukkan satu butir obat paracetamol ke dalam mulutnya. "Ayo, minum dulu, Nav," ucap Al kembali memintanya untuk meminum air putih untuk mendorong obatnya. Navya pun menurut meskipun dalam keadaan setengah sadar dan kedua matanya yang terpejam. "Pusing," lirih Navya seperti orang mengigau, seluruh wajahnya tampak merah akibat panasnya yang tinggi. "Iya, kamu pasti pusing. Tidur yah, Nav," ucap Al lembut. Lalu dia usap Surai lembutnya Navya dengan menatap penuh kasih sayang. Hatinya menyesal, kenapa baru sekarang dia menyadari betapa dirinya sangat mencintai wanita ini. Kenapa juga, baru kali ini, dia memperhatikan pengorbanan yang sudah diberikan oleh Navya. Lihatlah, bagaimana kacaunya dirinya saat ini. Saat istrinya mengucapkan kata cerai. Bagaimana hancurnya hatinya, saat melihat Navya sakit dan tidak berdaya. Untuk pertama kalinya, sepanjang malam, Al merawat Navya dengan penuh perhatian. Dia bahkan tidak dapat tidur dan hanya terus terjaga, untuk memastikan Navya baik-baik saja. *** Keesokan paginya, Navya terbangun dengan handuk kecil setengah basah yang terlipat di atas dahinya. Dia mengernyitkan dahi sambil meraih handuk kecil itu dan mengambilnya. Menatap handuk kecil yang sudah setengah kering itu. "Kenapa aku dikompres? Emangnya aku demam, ya?" gumamnya heran. "Pasti ini ulah Axel deh. Kenapa sikapnya selalu manis kayak gini sih? Beda banget sama Papanya yang kayak boneka salju. Eh ... tapi boneka salju terlalu lucu." "Dia lebih mirip sama manekin yang terbuat dari es, lebih cocok sama muka galaknya dia," lanjutnya menggerutu, lalu menatap jam yang bertengger di dinding kamar yang didominasi warna putih itu. Kedua matanya terbuka sempurna saat melihat jarum pendek itu terarah ke angka 6, dan jarum panjangnya di angka 5. "Astagfirullah! Udah jam segini?" pekiknya kaget, langsung bergegas bangun dari tempat tidur Axel dengan tubuhnya terhuyung seraya memegang kepalanya, karena masih merasakan sakit di kepalanya. "Kenapa kepala aku pusing begini sih?" gumam Navya, sambil memegang pelipisnya dan satu tangan tampak bertumpu di tembok. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali untuk sedikit meredakan sakit kepalanya, dia bergegas pergi ke toilet untuk membersihkan tubuhnya. Beruntung kemarin sore, sebelum dia membahas masalah perceraian dengan Al, dia sudah mengambil beberapa pakaiannya, dan meletakkannya di lemari pakaian Axel. Setelah berpakaian rapi yang menutupi auratnya, dengan hijab pasmina berwarna nude yang ia kenakan untuk menutupi kepalanya, dia segera turun ke lantai bawah, bergegas untuk mengantar Axel ke sekolah. Namun, pemandangan menyakitkan di bawah sana, berhasil membuat langkah kakinya terhenti, Navya melihat Zoya sedang memasangkan dasi di leher suaminya dengan tatapan penuh cinta.Navya tertegun di tangga, menyaksikan Zoya memasangkan dasi di leher Al dengan kelembutan yang terkesan sengaja dipertontonkan.Saat mata Zoya bertemu dengannya, Navya bisa melihat senyum licik yang penuh arti di wajah perempuan itu. Tanpa basa-basi, Zoya tiba-tiba terhuyung mundur, tubuhnya bergetar seakan kehilangan keseimbangan."Ahh!" pekik Zoya dengan suara manja, berpura-pura hampir jatuh.Dengan refleks, Al langsung meraih pinggang Zoya, menariknya ke dalam pelukan. "Zoya! Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir, menatap dalam matanya.Zoya tersenyum kecil, berbisik pelan, "Aku nggak apa-apa, Al, makasih."Axel yang melihat adegan itu dari sudut matanya langsung menoleh ke arah tangga, di mana Navya berdiri. Wajahnya tampak tidak terkejut, tapi matanya penuh kepedihan. Axel segera berlari kecil mendekati Navya, memanggilnya dengan suara lembut, "Mama!"Navya yang sebelumnya terpaku, langsung tersenyum hangat saat Axel mendekat dan memeluknya. "Axel, Sayang," sambutny
Di belakangnya, Zoya menyandarkan diri di kursi, senyum tipis muncul di sudut bibirnya yang tadinya tampak kesakitan, karena Al gagal mengejar Navya. Dia menatap punggung Al yang masih terpaku di depan pintu, menikmati momen di mana perlahan, benih-benih keretakan dalam rumah tangga Al dan Navya semakin jelas terlihat. Al kembali ke dalam rumah, dengan raut wajah lelah dan putus asa. Dia menatap Zoya yang tampak sedang mencoba bangkit dengan raut wajah menahan sakit. "Kamu nggak apa-apa? Aku antar kamu ke rumah sakit aja, ya?" tawarnya. Zoya menggeleng pelan, berusaha tersenyum lemah. "Nggak usah, Al. Aku udah mendingan kok. Maaf, aku selalu bikin kamu khawatir ... dan maaf juga karena kehadiran aku selalu bikin masalah buat hubungan kamu sama Navya. Sebentar lagi aku bakal pergi dan nggak akan ganggu hubungan kalian lagi kok, Al." "Ssst, kamu ngomong apa sih? Kamu harus bertahan dan sembuh. Tolong lakukan itu demi anak-anak kita, hum?" kata Al sambil menyeka lembut wajah Zoya y
"Aku nggak bisa," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Tanpa berpikir dua kali, Navya memundurkan kembali mobilnya, membelokkan mobilnya menjauh dari rumah. "Nggak, aku nggak akan pulang sekarang. Aku butuh waktu sendiri." Dia melaju menuju salah satu kafe yang biasa dia kunjungi, tak jauh dari rumah mereka. Kafe kecil itu menjadi tempat favoritnya untuk menyendiri ketika dia butuh waktu untuk berpikir. Setibanya di sana, dia memesan caramel macchiato dingin, lalu duduk di tempat favoritnya, di sudut paling terpencil. Tangannya menggenggam erat cup kopinya, tapi pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana semua ini bisa terjadi—hubungan yang semakin renggang, emosi yang semakin tak terkendali. "Ya Allah, aku harus gimana sekarang? Berat banget hati aku buat jauh dari Axel sama Lexa," batinnya sambil menitikkan air mata yang segera dia hapus. Satu teguk kopi belum cukup menenangkan perasaannya ketika suara langkah kak
Cindy mengernyitkan dahi, lalu detik kemudian dia tersenyum dan berbalik, kembali menghampiri Al dan berdiri di depan meja kerjanya. "Boleh, Dok," jawabnya. "Mau ngobrol tentang apa? Tentang pasien?" "Kamu duduk dulu," kata Al mengulurkan sebelah tangannya, meminta Cindy duduk di kursi depan mejanya. Perempuan berambut pendek dan berparas manis itu pun duduk dan bertanya, "Ada apa, Dok? Apa ini masalah cuti nikah saya, ya?" "Bukan. Bukan tentang itu. Tentang cuti kamu saya sudah mengizinkan kamu mau cuti satu sampai dua minggu pun saya nggak masalah. Karena kamu adalah salah satu perawat yang hampir nggak pernah ambil jatah cuti kamu," elak Al. "Makasih, Dok. Tapi beneran gapapa kalo saya cuti dua minggu, Dok? Soalnya calon suami saya rencananya mau ngajak honeymoon ke Bali sama Lombok." Al hanya mengangguk sebagai jawabannya. Mendengar perkataan Cindy tentang bulan madu, Al tertegun. Menyadari jika dirinya sungguh belum pernah memberikan kebahagiaan apa pun pada istrinya se
Al menelan ludah ketika mendengar kabar dari Mbok Ratih. "Tolong jangan panik, Mbok. Sekarang, bawa Navya ke rumah sakit saya. Minta antar Pak Rudi. Saya tunggu di IGD. Jangan buang waktu, Mbok. Tolong cepat ya, Mbok," katanya dengan suara tegas meski hatinya berdebar kencang. Mbok Ratih di seberang sana masih terdengar panik, namun perlahan dia mulai tenang setelah mendengar instruksi dari Al. "Iya, Den. Saya langsung ke rumah sakit sekarang," jawabnya terbata-bata. Begitu panggilan berakhir, Al merasakan gelombang emosi menghantamnya. Dia dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari menuju depan ruang gawat darurat. Sesuatu yang sangat buruk pasti terjadi pada Navya, pikirnya. Tadi pagi seharusnya dia benar-benar melarang Navya keluar rumah, mengingat bagaimana Navya terkena demam tadi malam. Terlebih Navya tidak memakan apa pun sebelum mengantar Axel ke sekolah. Namun, karena perdebatan Navya dan Zoya tadi, membuat
Pertanyaan itu menghantam Al seperti petir di siang bolong. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Pikirannya berputar-putar, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia masih mencintai Zoya atau tidak, dia sendiri bahkan tidak yakin. Di satu sisi, Zoya adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu memiliki tempat di hatinya. Tapi di sisi lain, Navya adalah istrinya, wanita yang selalu berada di sisinya selama ini, yang memberikan cinta tanpa syarat, bahkan ketika Al sendiri tidak yakin pada perasaannya. Al tertegun, tak mampu memberikan jawaban yang pasti. Dia hanya bisa menatap Navya, berharap jawabannya bisa datang dengan sendirinya, tapi waktu terus berjalan, dan Navya sudah menunggu terlalu lama. Navya tersenyum pahit. "Kamu nggak bisa jawab, ya, Mas?" Al menundukkan kepalanya, rasa bersalah menyesakkan dadanya. "Navya, ini bukan tentang Zoya. Ini tentang kita. Aku ...."
“Mama!” Axel langsung menghampiri Navya, menggenggam tangannya dengan erat. “Ma, Mama gak apa-apa? Kenapa Mama bisa sakit gini?” Suaranya terdengar gemetar, kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Navya perlahan membuka mata, tatapannya lemah namun senyum tipis masih terlihat di sudut bibirnya. “Axel ... Mama nggak apa-apa, Nak,” jawabnya dengan suara serak. “Mama cuma sedikit kecapean. Nggak perlu terlalu khawatir.” Axel menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di matanya. “Tapi Mama pingsan! Itu bukan cuma capek! Mama sakit, Ma. Axel nggak mau Mama sakit. Mama harus sehat ya, Ma.” Navya mengelus lembut kepala Axel, berusaha menenangkan anaknya sambil tersenyum lembut. “Maaf ya, Sayang, Mama udah bikin Axel khawatir. Tapi Mama janji, Mama bakal cepet sembuh. Axel tenang, ya?” Axel menatap Navya dengan penuh emosi. "Axel nggak mau Mama sakit, Ma. Mama nggak boleh ninggalin aku. Aku nggak peduli
Al terdiam sejenak, merasakan pukulan emosional dari kata-kata Axel. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan putranya yang tengah meledak-ledak. Cindy, yang merasa suasana semakin tegang, menunduk ke arah Axel, berusaha tersenyum. "Axel, kamu mau pergi ke mana?" tanyanya lembut. Axel tidak menjawab. Matanya masih lurus ke depan, tidak mau menatap siapa pun. Kedua tangannya mengepal erat, tubuhnya gemetar karena emosi yang tidak bisa ia ungkapkan. Melihat Axel yang tampak begitu emosional, Cindy berusaha mendekat dengan hati-hati. "Gimana kalau kita turun ke kafe di bawah? Kamu suka es krim, 'kan? Kata Mama Navya kamu suka es krim coklat. Tante bisa traktir kamu es krim favorit kamu," tawarnya lembut, berusaha mencairkan suasana. Axel menggerakkan bahunya sedikit, tapi masih tidak menjawab. Meski demikian, ketegangan di wajahnya perlahan melunak. Melihat reaksi Axel, Cindy tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pergi makan es krim sebentar, ya? Kamu pasti bakal mer
Axel menarik lengan Navya dengan antusias, wajahnya terlihat tidak sabar. “Ma, Kalo nunggu Papa ganti baju kelamaan! Aku mau es krim coklatnya sekarang! Papa harus cepetan ganti bajunya biar kita bisa foto terus makan es krim. Aku udah nggak sabar, tau!” Navya menunduk, menatap Axel dengan lembut. “Iya, Nak, tolong sabar ya. Nanti habis foto, kita ambil es krim coklat buat kamu, okay?” Axel mendengus kesal dan melipat tangan di depan dada. “Papa ngapain masih bengong sih? Kenapa nggak cepetan ganti baju? Nanti es krimnya keburu habis!” Mendengar celotehan Axel, Al tersenyum geli. “Iya, iya, Papa cepet, kok. Kamu tunggu di sini, ya, sama Mama. Jangan pergi ke mana-mana.” “Papa beneran cepet, 'kan?” Axel menatap Al dengan ragu, seolah menantang ayahnya untuk menepati janji. Al mengangguk sambil tertawa kecil. “Beneran cepet. Papa cuma mau ganti baju sebentar, terus kita foto bareng sama Tante Cindy sama suaminya. Setelah itu, langsung kita ambil es krim coklat buat kamu.” Axel ter
Al tiba di lobi hotel, tempat pernikahan Cindy dilangsungkan. Dengan langkah cepat, dia berjalan masuk ke hotel setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas valet parkir. Hujan gerimis yang menyisakan jejak basah di tubuhnya membuat penampilannya semakin berantakan. Kemejanya tampak kusut, dan rambutnya yang sedikit basah terlihat acak-acakan. Wajahnya yang kusut semakin menambah kesan buruk pada imejnya yang selama ini selalu berpenampilan rapi dan berhasil menarik perhatian para wanita. Begitu tiba di depan ballroom, Al disambut tatapan heran dari para tamu yang berada di luar ruangan. Beberapa di antaranya berbisik-bisik melihat penampilannya yang jauh dari kesan profesional dan elegan yang biasanya ia tampilkan. Al tidak memperdulikannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal—Navya. Dia harus menemukan istrinya sebelum Navya kembali menghindarinya. Ketika hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, dua petugas yang berjaga di pintu langsung menghentikan langkahnya. “Maaf,
Al berdiri di samping mobilnya, matanya masih terpaku pada jalanan basah oleh hujan. Gemericik suara gerimis seakan menyatu dengan rasa kacau di dalam dadanya. Dia mencoba menekan nomor Navya lagi, kali ini dengan lebih frustasi, berharap kali ini ada jawaban. Panggilan itu kembali berakhir dengan suara operator yang dingin. Ponsel Navya masih mati. Al mengumpat pelan, “Navya, kamu mau sampe kapan sih ngilang kayak gini?” Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Dia merasa seperti terjebak di dalam mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir. Seketika, ponselnya bergetar. Dengan cepat Al meraihnya, berharap itu adalah Navya. Namun, nama di layar bukan yang dia harapkan. Al menatap nama Axel yang tertera di layar ponselnya. Tenggorokannya tercekat, pikirannya berputar, mencari-cari alasan. Karena dia tahu siapa yang akan ditanyakan putranya itu. Siapa lagi jika bukan Navya yang sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya. Dia menarik napas panjang sebelum menjawab, berusaha
Al melangkah kembali ke mobilnya, merasa semakin tenggelam dalam kebingungan dan kekhawatiran. Sementara hujan telah berhenti, dinginnya malam seolah mencerminkan kehampaan yang dirasakannya. Dia mulai bertanya-tanya, kenapa rasa cemas dan takut ini begitu menguasainya. Apakah ini karena dia sudah mulai mencintai Navya, atau sekadar rasa bersalah yang terus menghantuinya? Ketika dia menyusuri jalan menuju rumah, pikirannya dipenuhi bayangan Navya. Setiap momen yang pernah mereka lalui bersama berputar di benaknya—wajah Navya yang ceria saat selalu menyambutnya pulang, tangannya yang selalu sibuk mempersiapkan segala keperluannya tanpa keluh kesah. Al menghela napas panjang. “Apa aku bener-bener udah mulai cinta sama dia?” tanya Al dalam hati, tanpa mampu menemukan jawabannya yang pasti. Setiap kali dia memikirkan betapa hancurnya Navya saat ini, hatinya terasa semakin tertekan. Namun, dia tidak tahu apakah tekanan itu berasal dari rasa cinta, atau hanya sekadar rasa bersalah atas
Al bergegas membawa Axel pulang, tetapi di kepalanya masih berputar soal Navya. Sesampainya di rumah, Axel, yang baru keluar dari mobil, segera bertanya, "Papa, Mama udah pulang belum?" Al menelan ludah, mencoba tetap tenang meskipun hatinya berkecamuk. "Mama masih di panti, Nak. Papa mau jemput Mama sekarang." Axel berhenti sejenak di depan pintu rumah, wajahnya tampak khawatir. "Aku ikut, Pah! Aku mau ikut jemput Mama ke panti!" Al langsung menghentikan langkahnya dan menunduk, meraih bahu Axel dengan lembut, namun suaranya tegas. "Nggak, Axel. Kamu istirahat aja di rumah. Ini sudah malam, kamu harus tidur. Papa bisa jemput Mama sendiri." Axel merajuk, menatap Al dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi, Pah, aku—" "Axel ...." Al memotong dengan nada lebih tegas kali ini, menatap putranya dalam-dalam. "Denger Papa. Kamu tinggal di rumah dan istirahat. Besok pagi, Mama pasti udah di rumah." Axel mengangguk pelan, merasa tak berdaya di hadapan ketegasan Al. Dia selalu takut jik
Navya menatap layar ponselnya yang kini penuh dengan air mata. Di situ, ada foto Al yang sedang menatap Zoya dengan tatapan sendu sambil menggenggam erat tangan Zoya. Foto itu dikirim langsung oleh Zoya dengan pesan singkat.Mak Lampir :Inget ini baik-baik, cewek udik! Al cuma akan jadi milik aku. Cinta dia cuma buat aku. Jadi, jangan mimpi kamu bisa dapetin cinta dia!Bohong jika Navya mengatakan dia baik-baik saja. Hatinya benar-benar merasa hancur sekarang. Bukan hanya sekali ini sebenarnya Zoya mengirim foto-foto yang sengaja dikirim Zoya untuk memprovokasinya.Biasanya, yang dia rasakan tidak sesakit ini. Tapi, mengingat betapa Al memohon padanya untuk tidak bercerai, dan segala perlakuan manis, juga perhatian yang Al berikan kepadanya beberapa hari terakhir ini, membuatnya sedikit memiliki harapan bahwa Al bisa mencintainya.Namun, setelah apa yang terjadi hari ini, juga kiriman foto itu, dia hanya bisa tersenyum getir dengan air mata yang enggan untuk berhenti mengalir. "Kamu
Navya menunduk, merenung sejenak. Dia merasa ada kebenaran dalam kata-kata Sean, namun untuk membuat keputusan itu butuh keberanian yang belum tentu dia miliki. “Kalo kamu butuh temen ngobrol atau butuh bantuan, kamu tau dimana harus cari aku, Nav. Nomer aku masih yang dulu kok. Aku juga aktif di sosmed. Kamu tinggal DM aku aja kalo emang kamu udah nggak save nomer aku. Jangan ragu buat chat aku kapanpun kamu mau,” ucap Sean dengan penuh ketulusan. Navya menatapnya lagi, kali ini ada secercah harapan di matanya. "Makasih, Sean." "Eh, nggak sadar, ya. Kok kita awet banget ya ngobrol di depan toilet kayak gini. Gimana kalo kita ke kafe atau ke mana gitu yuk buat lanjut ngobrol?" ajak Sean. Navya tersenyum tipis, "Maaf, Sean. Aku mau pulang, mau istirahat. Next time aja, ya." Sean tersenyum dan mengangguk, meskipun sorot matanya terlihat kecewa. "Kalo gitu, aku anter kamu pulang aja, ya? Gimana?" "Nggak usah. Aku udah pesen taksi online kok. Nih drivernya udah chat aku. Aku
Navya merasa tubuhnya lemas dan pusing, seolah dunia di sekitarnya berputar. Tepat saat ia hampir jatuh, sebuah tangan kuat menahan tubuhnya dengan cepat. “Navya?” Suara pria itu terdengar terkejut. Navya, yang masih setengah sadar, perlahan mengangkat pandangannya. Seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah yang tak asing baginya—Sean, teman lamanya yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya, sekaligus adik dari Zoya. Raut wajah Sean dipenuhi kekhawatiran. "Sean?" tanya Navya, suara dan tatapannya masih lemah. “Ka-kamu ... kamu ngapain di sini? Bukannya kamu di London?” "Aku harusnya yang tanya, kamu ngapain sendirian, di sini, huh? Mau pingsan pula. Kamu sakit?" Sean bertanya dengan nada prihatin sambil membantu Navya berdiri lebih tegak. Navya menepis tangannya pelan, mencoba menstabilkan dirinya sendiri. “Aku nggak apa-apa, cuma maag aku aja yang lagi kambuh,” jawabnya dengan nada datar, mencoba menyembunyikan kegundahannya. Sean memicingkan mata, jelas tida
Al akhirnya menghela napas panjang, merasa terjebak di antara kewajiban dan kenyamanan keluarga kecilnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menjawab panggilan itu. “Halo ... Tante?” Suara Al terdengar berat, seperti sedang bersiap untuk mendengar kabar buruk. Dari seberang telepon, suara Merry terdengar menangis terisak dengan penuh kepura-puraan. “Al ... tolong. Zoya ... dia butuh kamu. Dia ... dia tadi batuk darah banyak banget, Al. Tapi dia nggak mau dibawa ke rumah sakit. Dia bilang, dia mau ... dia mau mati aja, karena katanya kamu udah bahagia sama Navya dan anak-anaknya. Dia merasa udah merusak kebahagiaan kamu. Dia nggak mau merusak kebahagiaan kalian. Dia nyerah sama penyakitnya, Al. Tolong ... tolong datang ke sini sekarang, Al." Al terdiam, menatap Navya yang masih memperhatikan dengan tatapan penuh pertanyaan. "Tante takut sesuatu yang buruk terjadi sama dia. Cuma kamu yang bisa bujuk dia, Al. Tante mohon. Tolong Tante. Setidaknya, lakukan ini demi putri k