Bibir keduanya saling menempel.
Aroma peppermint dan rose yang menguar, membuat Bara justru menginginkan hal yang lebih.Buai hasrat sesaat membuat Bara membuka sedikit mulutnya, kemudian memasukan lidah tak bertulang itu kedalam bibir Kara, seorang Maid yang baru bekerja di rumahnya selama beberapa hari. Rasa manis bercampur sedikit getir dari sisa alkohol yang ia minum, mulai terasa menyapa indra pengecapnya.Kara yang terkejut hanya bisa terdiam ketika lidah sang majikan mengeksplor, menyesap dan menggigit bibirnya tanpa permisi. Bahkan sampai saat Bara tersadar dan melepaskan ciumannya, Kara masih terdiam mematung di tempatnya tanpa mampu berbuat apa-apa."Sial! Apa yang baru saja kulakukan?" rutuk Bara dalam hati. "Aku, mencium pembantuku sendiri?"Karena terlanjur malu atas sikapnya yang diluar kendali, Bara memilih untuk berpura-pura mabuk dan berjalan kembali ke kamarnya dengan sempoyongan. Dia bahkan membuat aktingnya menjadi semakin paripurna, dengan cara berpura-pura menabrakkan dirinya ke tembok.Kara sendiri masih terdiam, antara terkejut dan bingung harus bersikap seperti apa. Jika dia marah atau menampar majikannya, itu artinya dia harus mencari pekerjaan baru lagi yang belum tentu lebih baik daripada pekerjaannya saat ini.Sesaat setelah menutup pintu kamarnya, secara spontan Bara menyentuh bibirnya dan teringat dengan phobia aneh yang selama ini menghantui dirinya. Philemaphobia yang membuat Bara tak mampu mencium perempuan manapun, karena takut akan bakteri yang ada di dalam mulut.Entah sudah berapa banyak dia mencoba berciuman dengan gadis yang ia pacari. Tapi tak ada satupun yang berhasil, termasuk dengan model terkenal yang kini menjadi kekasihnya.Bara merogoh ponsel di saku celananya dan bergegas menghubungi psikiater terkenal yang tak lain adalah sahabatnya sendiri."Ansel, kau harus membantuku!" pinta Bara ketika panggilan mereka baru saja terhubung."Ada apa? Apa phobiamu kambuh lagi? Atau kau sedang mabuk?""Aku baru saja mencium seseorang!""Hah! Apa? Kau baru saja mencium siapa?" Pria bernama Ansel itu terkejut dan tidak percaya dengan ucapan Bara, dan mencoba menanyakannya lagi.Bara berdecak kesal, "Seorang wanita! Apa kau tuli?!""Oke, cukup! Datanglah ke tempatku, besok!"Disisi lain, Kara yang masih sangat terkejut kembali ke kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang dengan pandangan lurus ke depan namun terlihat tidak fokus. Perlahan dia memegang bibirnya dan mengusapnya dengan lembut.Ingatan tentang rasa getir pahit yang bercampur dengan rasa manis memikat. Aroma woody dan apel, yang menyatu dengan napas hangat. Kara tiba-tiba terbayang akan gerakan lidah serta keahlian bibir Bara."Astaga! Tuan Bara mencuri ciuman pertamaku, tapi aku malah menikmatinya? Sepertinya aku benar-benar gila."Kara berbaring di atas ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut dan mencoba untuk segera tidur. Namun sekeras apapun dia berusaha, gadis itu tetap saja tidak bisa terlelap bahkan hingga sang mentari datang menyapa.Waktu telah menunjukan pukul 7 pagi, ketika Bara turun dengan kacamata hitamnya dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya. Tak seperti biasanya, hari ini Bara memilih pergi tanpa menggunakan supir.Perlu setidaknya 45 menit perjalanan untuk sampai ke tempat Ansel bekerja. Itu sedikit lebih lama memang, karena jalanan cukup macet di beberapa ruas lantaran jam kerja.Sebuah bangunan 3 lantai dengan desain kuno, bercat putih dan terletak di dekat jalan raya. Bangunan yang menjadi rumah sekaligus tempat Ansel membuka praktek. Cukup strategis meski desainnya terlalu kuno, menurut Bara yang selalu protes pada Ansel.Bara turun dengan terburu-buru dari mobil, ketika ia sampai disana. Dipencetnya bel pintu beberapa kali dengan cepat, berharap bujangan muda itu segera membuka pintunya. Namun nyatanya, Bara harus menunggu beberapa detik hingga pintu bercat putih itu terbuka."Kau buru-buru sekali!" ucap pria dengan piyama hitam yang berdiri di ambang pintu.Tanpa menangggapi omelan Ansel, Bara melangkah masuk sambil mendorong tubuh sahabatnya yang menghalangi jalan. Dia duduk di sofa dengan santainya. Ansel yang sebenarnya kesal pun tidak bisa melakukan apapun, lantaran Bara adalah salah satu investornya."Baiklah, ceritakan yang terjadi!"Bara menarik napas panjang, kemudian mulai menceritakan tentang bagaimana dia bisa berakhir dengan mencium pembantunya sendiri. Dari awal dia masuk ke rumah, sebenarnya ia cukup sadar. Hanya saja, mata, tubuh, dan kepalanya tidak bisa berkoordinasi dengan baik."Lalu, bagaimana rasanya?" tanya Ansel yang membuat Bara berpikir jika itu adalah sebuah ejekan, hingga membuat Bara melepaskan kacamata dan menatapnya tajam. "Hei perjaka tua!" keluh Ansel kesal. "Aku tidak mengejekmu. Aku hanya ingin mengetahui respon tubuhmu!""Kalau itu—" Bara menyandarkan punggungnya sambil bersedekap tangan. "Sedikit manis," lanjutnya dengan perasaan ragu.Ansel mengangguk, mencoba memahami hal yang terjadi pada Bara. Sebuah phobia aneh yang sudah menganggu pria itu selama belasan tahun."Kalau begitu, cobalah menciumnya seminggu sekali selama beberapa bulan. Mungkin itu bisa menjadi sebuah terapi untukmu," saran Ansel setelah memikirkan solusi untuk sahabatnya itu.Mendengar ide gila Ansel membuat Bara refleks berdiri dari duduknya, "Kau gila?! Mana mungkin aku bisa melakukan itu dengan pembantuku sendiri?""Kalau begitu cobalah dengan Alexa atau wanita yang lain," ujarnya, "Itupun, kalau kau bisa."Seakan mendapat pukulan telak, Bara tidak bisa berkata apapun lagi. Bukan tanpa alasan, tapu dia sudah mencobanya dengan lebih dari 20 wanita, tapi tak ada satupun yang berhasil.Pada akhirnya, pria yang sudah tidak bisa berkata-kata itu bangkit berdiri. Dia pun pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.Selama dua hari penuh, Bara tak bisa fokus pada pekerjaannya karena teringat dengan saran dari Ansel. Hingga akhirnya, malam itu setelah dia selesai bekerja, Bara memutuskan untuk memanggil Kara ke ruangannya."Tentang malam itu, aku minta maaf padamu," ucap Bara ketika seluruh keberaniannya terkumpul."A-apa?" Kara sedikit terkejut mendengar permintaan maaf dari majikannya. "Maaf, maksud saya ... itu tidak masalah. Anda mabuk malam itu."Bara yang tadinya duduk di kursi ruang kerjanya, perlahan bangkit berdiri. Pria dengan kemeja putih itu berjalan, lalu bersandar di ujung meja. Dia terlihat menarik napas panjang, mengumpulkan semua keberanian untuk mengatakan keinginannya."Sebenarnya, aku memiliki phobia." Bara mencoba mengawali pembicaraan dengan membahas phobianya. "Aku sudah coba berkonsultasi dengan dokter tentang itu, dan—" penjelasan Bara terpotong.Kara sendiri hanya menatap bingung pada sang majikan. Dia mencoba menebak-nebak dalam hati, tentang apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh majikannya itu."Dia tidak mungkin ingin memecatku kan?" pikir Kara dengan was-was."Bantu aku menghilangkan phobia sialan ini, dan aku akan memberimu bayaran yang mahal!"Kara yang dari awal tidak mengerti maksud Bara, menjadi semakin tidak mengerti lagi dengan permintaan aneh sang majikan. Bara nyatanya cukup peka setelah melihat ekspresi bingung Kara."Jadilah kissing partnerku. Hanya satu kali dalam seminggu dan akan kuberikan berapapun yang kau mau."Kedua manik mata Kara membulat penuh. Meskipun hanya lulusan SMA, Kara tentu saja mengerti arti dari kata kissing partner itu. Sebuah layanan yang tidak masuk akal dan sudah melampaui batas, menurutnya."Maaf, saya tidak bisa! Saya tidak mempermasalahkan kejadian malam itu, karena anda mabuk saat itu. Dan untuk perkataan Anda malam ini, saya akan anggap Anda tidak pernah mengatakannya."Ditolak?!Bara yang semula cukup percaya diri dengan tawarannya, kini hanya bisa ternganga ketika Kara mengatakan hal itu.Dia bahkan tak berdaya saat gadis belia yang baru berumur 21 tahun itu memohon untuk undur diri dan keluar dari ruangannya."Apa aku tidak salah dengar?""Apa-apaan itu?" gumam Kara pelan, "Kiss ... kiss apa? Kissing partner katanya?" Pemikiran buruk tentang Bara pun tercipta. Awalnya, Kara berpikir jika Bara adalah sosok pria yang penuh wibawa. Tapi nyatanya, dia hanyalah tuan muda cabul, tidak beretika dan sangat mesum. Yah, seperti itulah pendapatnya, setelah ia mendengar penawaran Bara.Dia bahkan tidak mau peduli dengan alasan yang Bara lontarkan, tentang phobia atau apalah itu. Menurut Kara, itu hanya sebuah trik licik.Namun disisi lain. Bara yang masih berdiri ternganga, merasa sangat kesal. Tentu saja, ini pertama kalinya dia mendapat penolakan. Padahal, biasanya Bara lah yang menolak para wanita yang mencoba mendekatinya.Ambisi untuk menaklukan Kara tiba-tiba tumbuh hanya dalam semalam, Bara seolah merasa tertantang untuk menghadapi penolakan dari gadis yang baru bekerja padanya selama beberapa hari itu.Sejak kejadian malam itu, setiap tindakan Kara selalu mendapatkan tatapan dingin dari Bara. Bahkan saat dia memasak, Bara
Kara kembali ke kediaman Bara dengan pikiran yang kacau. Dia bahkan sempat melewatkan satu pemberhentian lantaran melamun, memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang selain setuju dengan tawaran sang majikan.Pergulatan batin dirasakan Kara selama beberapa hari. "Sepertinya aku tidak punya pilihan lain," gumam Kara lirih, dengan wajah sendunya.Sampai akhirnya, dia yang sudah berada diambang keputusasaan hanya memiliki satu pilihan, yaitu menerima tawaran dari majikannya.Hari telah larut, jam dinding pun sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kara yang sudah menyiapkan tekad untuk membicarakan hal itu dengan Bara, terlihat duduk di sofa menunggu kepulangan sang majikan sambil menahan kantuknya. Hingga akhirnya, suara pintu terbuka pun terdengar.Kara terkesiap dalam hitungan detik. Dia langsung bangkit berdiri sambil berkedip beberapa kali, mencoba membuat matanya yang sudah berat kembali terbuka secara sempurna."Ayolah Kara, kau pasti bisa!" seru Kara dalam hati.Kenyataan bahwa dia ma
Sang Mentari mulai naik dari peradabannya, setelah membuat setengah dari bumi gelap tanpa cahaya. Dia menyisingkan sinar yang begitu terang hingga membuat mata silau.Namun anehnya, burung-burung justru menyambutnya dengan kicauan merdu. Bahkan angin pun begitu, dia bergerak sepoi-sepoi menebarkan bau embun yang sangat khas.Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi, tetapi para maid di kediaman Bara sudah terlihat sangat sibuk, termasuk Kara. Gadis itu terlihat sangat amat sibuk membersihkan tempat tidur yang ada di kamar tamu. Meski tidak terpakai, selimut dan sprei tetao diganti setiap minggunya.Bara yang kebetulan sudah selesai bersiap untuk bekerja, sedang berjalan melewati kamar tamu. Pandangan matanya tiba-tiba terfokus pada Kara. Dia bahkan menghentikan langkah kakinya untuk bisa menatap gadis itu sedikit lebih lama.Baju maid yang berupa dress hitam, berpadu dengan renda putih di beberapa bagian seolah memperlihatkan tubuh sexy Kara. Kaki putih mulus nan bersih, dengan rambut yan
Kini, semua mata tertuju pada seorang pria berjas hitam yang berdiri dengan santai usai menerobos masuk begitu saja. Kedatangan pria itu bahkan membuat pemimpin dari para preman bangkit berdiri."Siapa kau?" tanya sang bos preman dengan nada ketus, sambil menunjukkan wajah tak suka lantaran kesenangannya di usik.Namun bukannya segera menjawab, pria yang ditanya justru menoleh ke sekeliling seolah tidak tahu siapa yang dimaksud, "Kau bertanya padaku?"Tindakan pria asing yang bahkan tidak dikenal oleh Kara itu, tentu saja membuat emosi para preman tersulut. Tanpa basa basi, bos dari para preman langsung menyuruh anak buahnya untuk menyerbu.Setidaknya ada lima orang yang menyerbu dalam waktu bersamaan. Beberapa pukulan dilayangkan, tetapi tidak ada satupun yang mengenai pria itu. Sampai akhirnya, dua orang yang memegangi kaki Kara pun ikut bertarung."Hei, hei! Satu lawan tujuh, itu tidak adil!" teriak seorang pria sambil berjalan masuk dengan santainya di tengah pergulatan.Kedatanga
Melihat tangan Bara yang siap menarik pelatuk dan membuat timah panas itu melesat menembus kepalanya, tentu saja membuat pria bertubuh kurus itu ketakutan. "Ba-baik. Sa-saya akan membuatkan tanda lunasnya!" Tidak sampai dua menit. Dia yang sejak tadi sibuk menulis tanda bukti lunas, kini berjalan menghampiri Bara dengan gugup dan menyerahkan tanda buktinya.Bara menarik secarik kertas dari tangan pria itu, kemudian mengajak Kara pergi dari sana. Namun belum sempat ia keluar dari pintu, Bara sempat berpesan."Jika aku menemukan salah satu dari kalian mengacau lagi. Maka jangan menyesal jika tangan ini melewati batasnya!"Mereka bertiga pun pergi meninggalkan bangunan tiga lantai yang sangat pengap dan tidak bersahabat itu, menuju mobil. Bara terlihat berjalan lebih dulu, disusul oleh Kara dan Zee yang berjalan beriringan. Ketika masuk ke dalam mobil pun begitu. Bara sengaja masuk lebih dulu dengan membiarkan pintu mobilnya terbuka, berharap Kara cukup peka. Namun gadis itu justru mem
"Se-sekarang? Disini?" tanya Kara yang sudah pasti terkejut dengan permintaan tiba-tiba dari Bara. Tentu saja Kara sangat canggung jika harus memberikan service pertamanya saat itu, karena tak hanya ada mereka berdua di dalam mobil.Bara menatap Kara dan mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa? Bukankah di dalam kontrak tidak tertulis tempat dan waktu dimana kau harus melakukan tugasmu?" GLEK!Kara menelan kasar salivanya. Memang benar tidak ada penjelasan tentang tempat dan waktu di dalam perjanjian itu. Kapan dan dimana, semua terserah pada Bara. Hanya saja, dia tidak menyangka jika Bara akan meminta hal itu pada keadaan yang menurutnya kurang memungkinkan.Kara mengalihkan pandangannya ke depan, dan melihat Zer yang tengah mengubah posisi kaca tengahnya. Sepertinya, pria muda itu sangat ahli dalam memahami situasi. Terutama jika hal itu menyangkut urusan Bara."Ba-baiklah. Tapi sebelumnya, saya meminta maaf jika pelayanan pertama saya kurang memuaskan."Ketika Kara sibuk berbicara, t
Napas Bara perlahan menjadi sedikit cepat, pendek, dan berantakan. Tubuh yang semula hangat, langsung menjadi dingin dalam hitungan detik.Usahanya untuk bisa mencium sang kekasih, pada akhirnya harus kandas di jarak yang masih jauh. Dia pun langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Alexa tanpa sepatah katapun.Pria bertubuh kekar dengan kemeja putih itu, langsung berlari masuk ke dalam toilet. Rasa mual di perut yang sudah tidak bisa ditahan, akhirnya ia keluarkan. Suara Bara yang sedang muntah secara tidak sengaja terdengar samar di telinga Alexa, membuat gadis itu semakin jengkel dengan respon sang kekasih.Padahal sebelum datang menemui sang kekasih, dia sudah memastikan mulutnya tidak bau. Dia bahkan menyemprotkan banyak pewangi mulut. Namun tetap saja hal itu tidak bisa membuat sang kekasih memberinya sebuah kecupan."Sial! Kenapa masih belum bisa? Dimana letak kesalahannya?"Bara langsung keluar setelah perutnya merasa lebih baik. Niat hati ingin meminta maaf pada Alexa,
Derap langkah kaki terdengar nyaring di dalam rumah. Tidak ada suara atau kegaduhan sedikitpun, padahal beberapa menit yang lalu Bara baru saja mendapatkan informasi tentang kedatangan orang tuanya.Setengah jam ia tempuh perjalanan dengan mengebut, bahkan sempat menerobos lampu merah. Namun ketika datang, dia justru tidak melihat ada seorangpun yang menyambutnya.Bara hanya menghela napas kasar. Ada ekspresi lega yang tergambar di wajahnya, saat mendapati rumahnya dalam kondisi sepi. Yah, setidaknya dia tidak perlu mendengar ocehan dari sang ibu.Namun kegembiraan itu langsung buyar, ketika ia melihat Alfred sedang duduk di sofa. Pria tua yang rambutnya masih hitam karena disemir itu, langsung menaruh jari telunjuknya di bibir untuk memberi Bara sebuah kode agar tidak berisik.Ketika ia berjalan mendekat, barulah ia melihat sosok Evelyn yang sedang tidur sambil bersandar di pundak Alfred.Melihat sang ibu tertidur, Bara baru mengerti kenapa keadaan rumahnya begitu hening. Hal ini seo