"Akhh!"
Damarjati meringis, dia menekan dadanya yang terasa remuk dan terbakar. Ajian pria itu tidak asing di mata Damarjati. Saat mengingatnya mata Damarjati membulat, dia bergumam, "Ajian Tapak Geni!" Padmasari berlari untuk menghampiri suaminya yang duduk terkulai di lantai. Tubuhnya menunduk meraih tubuh suaminya yang terlihat lemah. Wajah Padmasari pucat saat melihat bekas telapak tangan berwarna hitam pada kain yang Damarjati kenakan. Dan buru-buru menyibak kain yang menutup dada suaminya. Mata Padmasari memerah dan berair, dia sangat sedih saat melihat dada suaminya yang terkena pukulan berwarna merah kehitaman seperti daging gosong. Dengan bibir yang bergetar dia berkata, "Ini Ajian Tapak Geni, kang mas!" Ucapnya. "Hosh! Hosh!" Nafas Damarjati terdengar berat. "Kau benar!" Padmasari sadar, pria ini bukan tandingannya ataupun suaminya. Namun Padmasari ataupun Damarjati tidak akan pernah tunduk kepada calon raja yang gemar dengan selangkangan wanita. Pria bengis itu terlihat puas, dengan seringainya yang licik dia berkata, "Menyerahlah, aku tidak memukulmu dengan keras, kamu masih bisa hidup. Dengan satu syarat! Menurut pada Sinuwun," ucapnya. "Cih! Tidak akan pernah! Aku tidak sudi masuk dalam kubangan lumpur" Damarjati berdecis sinis, dengan sekuat tenaga berusaha bangkit. Pria tinggi dan kekar itu mengeram, giginya berkertak lalu menyerang kembali Damarjati yang sudah berdiri. Dia sudah tidak bermain-main lagi dalam pertarungan ini! "Mati kau!" Damarjati mendorong istrinya saat pria gila itu tiba-tiba menyerang. Saat tubuhnya sehat saja dia kewalahan. Apalagi saat dia terluka parah. Padmasari cukup terkejut, namun apa yang bisa dia lakukan. Padmasari dan Damarjati sudah tahu akhir apa untuk mereka. Kematian! Dan pada akhirnya. Pedang pria bertubuh tinggi dan kekar itu berhasil menebas kepala Damarjati. Zrak! Kepala itu jatuh dan menggelinding ke sisi ranjang tepat di depan wajah Candramaya kecil, membuat matanya membelaklak dan membeku. Candramaya tercengang menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Perlahan air matanya meleleh menyaksikan kepala Romonya yang terpenggal. Bruk! Tubuh Damarjati tersungkur ke lantai dan menyemburkan banyak darah. Hujan begitu deras di sertai badai dan kilatan petir, meredam suara teriakan Padmasari yang melengking. Api di sumbu lampu minyak padam tertiup angin yang masuk mendobrak jendela dengan paksa. Cahaya minim dan remang serta kilatan petir yang terus menyambar membuat suasana malam itu semakin mencengkam. Cairan merah kental berceceran membasahi lantai dan bau anyir menyeruak memenuhi ruangan. "Tidaakkkkk!" Padmasari memekik, tubuhnya lemas dan berakhir jatuh terduduk ke lantai. Sekujur tubuhnya bergetar, kedua tangannya mengepal kuat, yang dia bisa lakukan hanya menangis, meraung meratapi tubuh suaminya yang terpenggal. "Hiks! Kangmas! Tidak!" Hati Padmasari hancur, dia bahkan tidak bisa bernafas dengan benar. Kehidupannya yang bahagia benar-benar terkoyak dan tercabik-cabik. Pria yang dari tadi hanya menonton menundukan kepala, dia sedih dan merasa bersalah. Ini keluarga ke empat yang dia hancurkan. Namun apa daya, ini perintah. Berbeda dengan pria tinggi dan kekar itu. Sorot matanya telihat puas. Di balik kain yang menutupi wajahnya, dia tersenyum menyeringai. Pria itu berjalan mendekat lalu berjongkok di depan Padmasari yang terduduk di lantai. Mereka berdua saling berhadapan. "Aku punya penawaran, memohon padaku dan kamu akan ku jadikan istri. Bagaimana?" Kata pria tinggi dan kekar. Pria itu membelai surai rambut Padmasari, tatapannya penuh dengan ketertarikan. "Cih! Kamu kira aku sudi diperistri oleh manusia keji sepertimu!" sarkas padmasari, menatap iris mata pria itu dengan penuh kebencian. Namun itu membuat pria itu semakin bergairah. Dia ingin wanita ini. Dia ingin menjinakkan wanita ini. "Ayolah, kamu belum melihat wajahku. Aku tampan dan sakti mandraguna!" "Jangan bermimpi! Lebih baik menjadi bangkai dari pada hidup menanggung malu. Dasar Iblis!! Cuih!" Padmasari meludahi wajah pria kurang ajar itu tanpa ragu dan berhasil menyinggung harga dirinya. Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Padmasari. "Wanita tidak tau diri!" sarkas pria tinggi besar itu, wajahnya memerah saat mengelap ludah yang ada di wajahnya. Sorot matanya semakin menggelap. Untuk meluapkan emosinya, pria itu mencekik leher Padmasari dengan kedua tangannya tanpa segan. Matanya menggelap, terlihat aura kemarahan yang menyelimuti pria itu. Padmasari hanya mengerang dan memukul-mukul tangan kekar pria yang sedang kesetanan. Matanya memerah dan berair. Wajahnya mulai pucat karena sulit bernafas. "Hentikan kegilaanmu! Tujuan kita sudah terpenuhi. Sebelum fajar kita harus segera pergi!" Pria satunya memekik. Dia menegur karena sudah dia tahan dengan kebengisan rekannya. Pria itu memejamkan matanya sejenak untuk mengendalikan emosinya. Lalu melepaskan cengkramannya. "Kamu beruntung wanita sialan!" "Ohok! Ohok" Padmasari terbatuk dan buru-buru meraup oksigen. Matanya semakin merah dan menyala. Ini keterlaluan! Tanpa pikir panjang Padmasari meraih pedang yang tergeletak dan bangkit menyerang pria gila itu. Namun? Dia bukan pria sembarangan, serangan Padmasari layaknya bumerang. Jleb!! "Akhh!" Pekik Padmasari, saat sebuah pedang yang dia ayunkan untuk membunuh pria bengis itu justru di tangkis dan berbalik menembus perutnya sampai ke belakang punggungnya. Padmasari memuntahkan darah, tubuhnya ambruk di atas jasad suaminya. Candramaya kecil memekik bersamaan dengan suara petir yang menyambar. "Ibuuuuuu!!!!!" Jgeeer!!! "Paman ...dengar suara itu?" Tanya pria bertubuh tinggi kekar. Matanya menelisik kesegala arah, lalu mengambil lampu minyak yang masih menyala lalu berjalan menyusuri kamar. Dia Ingin membuktikan apa yang telinganya dengar. "Itu suara anak kecil?" "Suara petir maksudmu?" Tanya pria satunya, dia juga dengar dia bahkan melihat seorang gadis kecil bertelungkup di bawah ranjang. Namun, dia tetap diam dan berpura-pura tidak tahu. Dia tidak tega! "Bukan! Sepertinya malam ini akan semakin seru," jawab pria bertubuh tinggi dan kekar, matanya menajam dengan sebelah sudut bibir terangkat dan mengarahkan jari telunjuknya ke kolong ranjang. Pria yang satunya menelan saliva secara kasar, saat rekannya berjalan menuju sisi ranjang. "Sudahlah tidak ada apapun di sana!" Kata pria satunya, mencengkal lengan kekar milik pria bertubuh tinggi dan kekar itu. "Jangan halangi aku, Paman!"Pria bengis itu menangkis tangan rekannya dengan kejam dan tatapan jijik. Tanpa memperdulikan tata krama, bahwa yang dia abaikan adalah orang yang jauh lebih tua.Tanpa ragu dia melangkah untuk membuktikan apa yang dia dengar.Sadar dalam bahaya, saat ada sepasang kaki menghampiri tempat persembunyiannya. Candramaya menyadarkan dirinya agar tetap tenang dengan apa yang baru dia saksikan.Dia masih kecil. Mampukah dia bertahan?Kematian kedua orang tuanya adalah sebuah pukulan keras yang mengguncang psikisnya.Candramaya kecil menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang. Agar bisa mengingat jaba mantra yang selalu di ajarkan ibunya. Mulut gadis kecil itu komat-kamit, berusaha fokus di kala tubuhnya bergetar hebat."Kanjeng Ibu, Putri Tanjung Kidul! Butakan mata yang bisa melihat! Tulikan telinga yang bisa mendengar. Tubuhku tak terlihat bagaikan asap. Siang dan malam menjadi satu yang ada hanya kehampaan."Keris kecil itu bergerak. Dari ujungnya
"Di mana Candramaya?""Kami sudah mencarinya. Tapi Gusti Ayu hilang," ujar salah satu pelayan. Pria paruh baya yang selamat karna tidak menginap kini bersimpuh. Raut wajahnya terlihat cemas dan penuh penyesalan.Wismaya menunduk, perasaannya semakin kacau, Sorot matanya semakin meredup. Adik dan iparnya tewas. Dan sekarang keponakannya menghilang.Bagaimana ini?Tapi mana mungkin adiknya bisa terbunuh jika ada keris pelindung dari leluhurnya?"Yah!! Adikku sudah mewariskan keris itu pada putrinya," batin Wismaya. Wismaya langsung bangkit dari duduknya, saking lemasnya tubuh pria itu terhuyung. Dia tidak sabar, dia ingin memastikan sesuatu."Candramaya masih hidup!" Batin Wismaya mengusap bulir bening yang membasahi wajahnya. Dia langsung berlari ke dalam rumah adiknya.Wismaya menatap getir pintu yang rusak bekas dobrakan. Dan darah yang mengering di atas lantai serta bau anyir yang menyeruak menusuk indera penciuman.Secara reflek Wismaya menutup hidungnya dengan punggung tangannya.
Laporan para punggawa seperti rasa pahit yang memenuhi mulut Adi Wijaya, membuatnya terlihat kesal. Sepertinya pagi ini akan sangat menguras emosi, tenaga dan pikiran.Adi Wijaya terdiam, dengan mata terpejam lalu memijit pelipisnya yang terasa pening dan kembali mengatur suasana hatinya. Kesialan nyatanya menimpa hidup Adi Wijaya karena memiliki putra yang tidak berguna.Sedangkan akar dari masalah ini adalah putranya sendiri. Tapi dia tidak mungkin menghukum putra tercintanya.Sedangkan Pangeran Narendra, biang kerok dari segala masalah yang mengusik ketenangan Harsa Loka hanya bersikap biasa saja. Wajahnya tenang seperti tanpa beban. Padahal semua punggawa sedang menyinggung masalah yang dia ciptakan. Karna sejatinya, sebaik-baiknya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga! Dan bau busuk itu mulai menyeruak kepermukaan. "Apakah Senopati Damarjati mengatakan sesuatu pada kalian?" Tanya Adi Wijaya. Pria tua itu cukup khawatir, terlihat dari tangannya yang meremas tangannya
"Tentu ada, Gusti"Adi Wijaya terbelaklak, wajahnya terlihat tegang dan pucat. Jawaban singkat itu tentu saja seperti anak panah yang melesat menghujam jantung Adi Wijaya. Adi Wijaya terpojok sekarang!Wismaya menatap wajah keponakannya yang pucat, tatapan gadis itu kosong. "Katakan, Nak? Katakan yang kamu ketahui?"Candramaya kecil menatap Pamannya, tangan kecilnya menggenggam erat lengan sang Paman. Satu-satunya orang yang dia percaya saat ini. Jika pagi itu Wismaya tidak mengujungi rumah adiknya, entah apa yang akan terjadi pada gadis malang itu."Du-dua orang, Paman Patih," kata Candramaya, suaranya lirih dan bergetar. Ingatannya kembali ke malam mengerikan itu. Membuat tubuh Candramaya bergetar, dan suara isak tangis mulai terdengar. Wismaya menatap wajah keponakannya yang pucat dengan cemas. Apalagi tatapan gadis itu kosong, dengan lembut Wismaya menepuk pundak lemah Candramaya untuk menyadarkan gadis itu dari lamunan dan berkata, "Katakan yang kamu tahu, Nak?"Candramaya men
Klekkk!! Wanita muda itu bergegas naik ke atas ranjang dan bersembunyi di balik selimut berbahan kain sutra. Terdengar langkah kaki yang perlahan mendekat. "Kamu tidur, Ratih?" Suara yang familiar berhasil membuat wanita itu hampir terkena serangan jantung. "Gawat! Romo Prabu!" Batin wanita muda itu. Wajahnya pucat, hatinya berdebar kencang hingga dia memutuskan untuk menggunakan Ajian Malih Rupa. Adi Wijaya duduk di sisi ranjang. Lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh seseorang. Wajah senjanya terlihat muram, saat melihat seorang wanita berusia 55 tahun yang sedang menangis dalam diam. Wanita muda itu merubah wujudnya menjadi Dewi Kamaratih dan berpura-pura sedang menangis. "Kamu menangis?" Tanya Adi Wijaya, tatapannya terlihat malas. "Hiks! Ini salah paham, kang mas? Menantu kita adalah seorang putra Resi, dia berbudi luhur dan bijaksana. Kangmas tidak kasihan dengan putri dan cucu kita?" Rintih Kamaratih palsu. Dia turun dari ranjang sambil menangis pilu lalu dud
Puspita Sari pergi meninggalkan Kamaratih dengan kesal. Kebenciannya bertambah sampai mendarah daging bahkan sampai ke tulang sumsum. Tujuannya sekarang adalah menuju kamar pribadi Adi Wijaya untuk melancarkan rencananya. Wanita yang selalu mengenakan kain terbaik di negeri Harsa Loka, untuk menutupi tubuhnya yang ramping. Rambut berubannya tersanggul rapih dengan hiasan rambut yang terbuat dari emas. Membuatnya terlihat cantik dan muda, untuk usianya yang sudah setengah abad.Puspita Sari berjalan sambil bersenandung lirih, untuk mengembalikan suasana hatinya yang di rusak oleh Kamaratih."Wanita itu tak selugu yang aku kira, aku benar-benar tertipu. Sial!!!" Batin Puspita Sari, mengepalkan tangan cukup kuat, nafasnya masih terasa sesak seiring amarah yang masih belum meredam.Walaupun Kamaratih adalah orang yang telah membawanya dan adiknya dari jalanan. Tapi memang hatinya yang hitam, bukannya membalas budi dan bersikap baik. Dia justru berusaha merebut apa yang Kamaratih miliki.
"Jadi kamu menuduhku berbohong! Bukankah kamu juga membacanya sebelum keluar dari kamar ini, karna aku meminta kamu memberi saran pada tulisanku!""Bukan itu maksud Ananda. Tapi, saat Ananda akan memberikan surat itu. Ananda mendengar Kanjeng Ibu berteriak dari kamar Kemuning, Romo," ujar Arya Baladitya. Pemuda itu berusaha keras menjelaskan.Di mata pemuda itu hanya ada kejujuran. Adi Wijaya tidak buta. Dia melihatnya.Menantunya selalu jujur dan tidak pernah mengecewakannya. Dan ini untuk pertama kalinya."Jadi surat itu Ananda letakan di atas nakas dan bergegas membantu Asri kemuning yang sedang pingsan. Di ruang itu ada Ibu Kamaratih, Dewi Damayanti Citra dan dua dayang, Romo.""Kamu teledor bodoh! Bawa mereka berempat kemari!" Titah Adi wijaya dengan rahang yang mengatup, terduduk di sisi ranjang sambil memijit pelipisnya dengan kasar.Beberapa saat kemudian.Dua Prajurit kembali ke kamar Adi wijaya, dengan nafas yang tersengal lalu bersimpuh. "Gusti, kedua dayang istana yang ber
Air mata Asri Kemuning tumpah, menangis pilu di pelukan sang suami, "Takdir macam apa ini!" Batinnya. Hati Kamaratih terasa tercabik-cabik dan sesak. Setelah kekacauan di rapat pagi itu. Dia selalu menemani putrinya. Dia juga menceritakan segalanya mengenai apa yang sedang terjadi. Asri Kemuning tidak terima, hingga akhirnya memutuskan untuk tetap membela suaminya. Walaupun dia harus menjadi anak pembangkang. Tubuh lemahnya keluar dari pelukan sang suami. Dia berjalan menghampiri Ayahnya. "Romo ...tidak adil!" Suara lirih dan lemah Asri Kemuning terdengar. Tatapan Adi Wijaya begitu dingin, telinganya terasa sakit. Sejak kapan putrinya berani melawannya. Apa karena seorang pria? "Kamu bilang apa!" Adi Wijaya membentak putri kandungnya untuk pertama kali. Hampir membuat nyali Asri Kemuning menciut. Namun dengan sorot mata yang penuh tekad dan keberanian dari seorang putri Harsa Loka. Dia berkata dengan lantang, "Romo tidak adil kepadaku. Teganya Romo menghancurkan kebahagiaan putr
Prang!!Botol itu jatuh ke lantai dan pecah, namun ternyata hanya botol kosong. Arah mata semua orang kini tertuju pada pecahan botol itu. Narendra merasa terkejut sedangkan Asri Kemuning dan Arya Balaaditya merasa keheranan.Puspita Sari merasa malu sekarang, kedua tangannya saling meremas. Dia menyadari reaksinya menunjukan bahwa dia adalah wanita yang egois. "Kangmas mempermainkanku?!" eram Puspita Sari. Wanita itu mendelik karena merasa dipermainkan."Haha ... Ohok! Ohok!" Adi Wijaya tertawa di sela batuk berdarahnya. Nafasnya terengah dan dadanya mulai sesak. Keringat dingin kini bermunculan di kening pria itu seiring wajahnya yang memucat dan bibirnya yang mulai membiru. Dia menatap istri mudanya dengan tatapan nanar sambil menekan dadanya. Sekarang dia sadar, tidak ada yang benar-benar mencintainya. Tiba-tiba Asri Kemuning menangis, dia berhambur memeluk lengan ayahnya.Sedangkan Narendra dan Puspita Sari yang sudah tahu akhir dari pertarungan ini memilih untuk kabur meningga
"Heh!" Adhinatha mendengkus kesal saat Candramaya menunjukan kepeduliannya. Kedua tangannya semakin mengepal dan kebenciannya semakin besar. Usahanya bertahun-tahun tidak ada artinya.Disaat Candramaya melawan pamannya. Adhinatha memutuskan untuk mengangkat pedangnya dan hendak melawan siapapun yang melindungi Indrayana. Namun, belum sempat niatnya tertunaikan, pintu utama aula rapat terjatuh secara tiba-tiba.Brak!Seseorang telah menendang pintu dari luar dengan paksa. Baladewa dan Naladhipa datang bersama pasukannya. Mereka menggempur kubu Danadyaksa, jumlah mereka dua kali lipat.Keadaan kini terbalik."Kudeta!" Gumam Adi Wijaya, mata pria tua itu menyorot tajam. Dia menyadari bahwa Arya Balaaditya memang sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Apalagi ada sosok yang dia kenal yaitu Guru Besar Padepokan Gagak Hitam. "Sial!" eramnya.Ini di luar kendali!Suasana semakin mencengkam dan kacau.Senyum Puspita Sari memudar begitu pula Narendra dan Damayanti Citra. Tentu saja Damayanti Cit
"Bantuan akan segera datang! Kita hanya perlu bertahan sekarang!" ujar Arya Balaaditya sambil memegang pedangnya yang berlumuran darah. Sesuai perintah Arya Balaaditya, jika dalam lima jam ke depan dia tidak keluar, maka Baladewa dan pasukannya akan masuk ke dalam istana. Mereka menunggu di luar gerbang istana belakang dengan cemas. Dan mungkin sebentar lagi mereka datang. Indrayana berjongkok memegang bahu belakang Candramaya. Wajahnya menunduk dan melihat wajah gadis itu yang terlihat dingin. Gadis itu terduduk di lantai sambil memegang perutnya. Candramaya tampak meringis. "Sadar! Hentikan dulu, kamu belum benar-benar pulih," ujar Indrayana. Dia cukup khawatir. Danadyaksa berjalan dengan bibir menyeringai, "Kalian bocah mentah! Kalian bukan tandinganku!" Candramaya mendengkus kesal dan dia hendak bangkit, namun lengannya tercekal. Candramaya yang sedang dikuasai oleh amarah dan pengaruh negatif Putri Tanjung Kidul, mengeram dengan mata melotot, " Lepas!" Candramaya mem
Woooossssh!Keris itu mengarah ke leher Danadyaksa, pria itu menghindar dengan cepat. Sedangkan Indrayana yang sudah mulai cemas, memilih terjun untuk menolong Candramaya. Dia menyerang dan memecah konsentrasi Danadyaksa. "Kalian akan mati sekarang!" pria tua itu mengeram, ada kebencian yang terlintas dari sorot mata dinginnya. Candramaya menyeringai, "Heh! Meleset."Di lain sisi."Apa kamu akan diam saja Adhi?" pertanyaan bernada cibiran itu terlontar dari pikirannya sendiri. Bulu mata Adhinatha terkulai ke bawah, wajahnya sedikit menunduk dengan ekspresi kesulitan. Dia mengangkat kedua tangannya yang bergetar lalu bergumam, "Aku? Aku harus memihak ke siapa?" Pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepala Pangeran Adhinatha. Dia seperti berada di depan dua persimpangan. Entah jalan mana yang akan Adhinatha pilih. Di satu sisi, ada pamannya yang bekerja keras menjaga posisinya sebagai Pangeran Mahkota. Di sisi lain ada sepupunya yang sangat dia benci dan wanita yang sangat dia ci
Suara teriakan kesakitan mengudara secara serempak, seiring tubuh-tubuh yang jatuh satu persatu terkulai di lantai dengan bersimbah darah.Para punggawa yang mendukung Arya Balaaditya tercengang begitu pula dengan Wismaya dan yang lainnya.Mereka tanpa sadar berjalan mundur dengan kaki yang terasa lemas. Wajah para eksekutor itu terlihat dingin dan datar. Aura dalam aula rapat seketika mencengkam. Haha!Hingga suara gelak tawa terdengar menggema dari seorang pria tua yang sedang duduk di singgasana. Namun setelahnya Adi Wijaya yang tampak bahagia seketika merengut, suara tawa itu pun lenyap. Mata binar kebahagian berubah dingin, lalu Adi Wijaya berkata dengan gigi berkertak, "Aku benci orang bermuka dua! Mereka adalah contoh orang yang mengakuiku sebagai raja, hanya saat di ambang maut!"Asri Kemuning terbelaklak, wanita itu berdiri dengan kaki lemas dan bergumam, "Ro-romoo!"Dia tidak menyangka, ayahnya bisa bersikap layaknya psikopat. Indrayana menatap mayat-mayat yang bergelimpan
"Di mana Danadyaksa?" tanya salah satu Punggawa.Mereka semua di aula melupakan sesuatu. Adi Wijaya duduk bersandar di singgasana dengan tenang. Dia menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak dan membuat semua mengalihkan pandangannya pada sosok yang sedang tergelak.Apa ada yang lucu?Hampir semua orang yang ada di dalam aula rapat saling menatap penuh keheranan.Tiba-tiba suara derap langkah kaki mulai terdengar. Semua orang menoleh dan bertanya-tanya, "Apa kiranya yang ada di balik tembok itu?"Sedangkan Indrayana, dia berdiri terpaku dengan tatapan tajam. Berkat batu mustika yang dia miliki. Indrayana mampu melihat rombongan orang yang datang mendekat dari balik tembok. Begitu pula dengan Candramaya yang mulai mengepalkan tangan, merasakan firasat buruk.Suara itu semakin mendekat, sangat ramai dan serempak. Lalu suara itu menghilang, semua orang seakan menahan nafas seiring suasana yang menjadi hening. Begitu juga dengan tawa Adi Wijaya yang meredup.Klekk!Pintu utama kembali ter
Arya Balaaditya mengangkat suara, "Jika bukan dengan cara ini, bagaimana rakyat Harsa Loka akan tahu? Bukankah, dua surat itu adalah tulisan tangan, Romo? Dan cap stempel itu hanya Romo yang memegang. Aku hanya menyuruh orang untuk mengambilnya, jika tidak? Bagaimana aku membuktikan diri," ujar Arya Balaaditya menjelaskan. Adi Wijaya menggertakan giginya, rahangnya terlihat mengeras, dia berdecis, "Jadi sekarang kamu menuduhku? Di depan semua orang kamu berusaha melimpahkan kesalahan yang 15 tahun lalu kamu akui."Menuduh!Siapa di sini yang hobi menuduh?Arya Balaaditya hanya tertawa getir, tatapannya berubah sendu. Kenapa setelah sejauh ini Ayah Mertuanya tidak berubah juga. Arya Balaaditya benar-benar tak habis pikir. "Perihal Paman Bima Reksa, seandainya Pangeran Narendra tidak mengusik cucunya, dia juga pasti masih setia dan bersembunyi sesuai perintah Romo," ujar Arya Balaaditya. Pria itu berhenti sejenak, lalu mengatur nafasnya dan membasahi bibir bawahnya. Pria itu menatap w
Asri Kemuning berjalan dengan anggun dan berwibawa. Dia sambil menggandeng tangan suaminya dengan wajah penuh percaya diri. Tapi matanya terlihat penuh kemarahan dan tekad.Sekarang dia bukan wanita penyakitan dan lemah lagi karena setelah tidak tinggal di istana dia justru berangsur sembuh. Dan ramuan racikan suaminya membuat tubuhnya samakin segar.Semua punggawa tunduk pada ahli waris yang sah. Mereka tunduk pada keturunan asli pendiri Harsa Loka. Walaupun sebagian dari para punggawa juga condong ke pada Adi Wijaya.Itulah alasan Adi Wijaya takut dengan putrinya sendiri karena takut sang putri akan mengkudetanya di masa depan."Paman Patih adalah saksi. Dan suamiku mempunyai bukti. Maaf Romo Prabu, tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi," ujar Asri Kemuning dengan lantang.Adi Wijaya mengerjabakan matanya, dia merasa rindu dengan putrinya. Namun dia juga merasa terancam sekarang. "Kamu membawa seorang pembunuh?" tanya Adi Wijaya sengaja memprovokasi. Dia tahu bahwa semua o
Narendra yang dari tadi menunduk dan menyembunyikan wajah pucatnya, kini mendongak. Dia berdiri dan mulai mengelak dengan suara terbata-bata, "A-apa yang ka-kamu mau heh? Aku bahkan baru pertama kali bertemu denganmu. Jangan asal bicara!"Namun semua orang tahu bahwa Narendra sedang ketakutan, terlihat dari wajahnya yang pucat dan suaranya yang keras dan terbata-bata."Kalau aku punya bukti, apa Pangeran akan mengakuinya?" tanya Kumala. Gadis itu menatap sinis ke arah Narendra.Damayanti Citra tersenyum culas, "Bukti apa yang kamu punya, heh!"Kumala meraih selendangnya, di ujung seledang ada ikatan kecil. Gadis itu membuka ikatan itu dan mengangkat sebuah benda tinggi-tinggi agar semu orang melihat. Adi Wijaya yang dari tadi cemas seketika ingin pingsan dengan apa yang gadis itu pegang. Begitu juga Narendra, dia langsung memeriksa kelingkingnya yang kosong. Cincin itu memang hilang setelah kejadian malam itu. Dia tidak menyangka gadis itu mengambilnya. Wajah Narendra semakin pucat p