"Di mana Candramaya?"
"Kami sudah mencarinya. Tapi Gusti Ayu hilang," ujar salah satu pelayan. Pria paruh baya yang selamat karna tidak menginap kini bersimpuh. Raut wajahnya terlihat cemas dan penuh penyesalan. Wismaya menunduk, perasaannya semakin kacau, Sorot matanya semakin meredup. Adik dan iparnya tewas. Dan sekarang keponakannya menghilang. Bagaimana ini? Tapi mana mungkin adiknya bisa terbunuh jika ada keris pelindung dari leluhurnya? "Yah!! Adikku sudah mewariskan keris itu pada putrinya," batin Wismaya. Wismaya langsung bangkit dari duduknya, saking lemasnya tubuh pria itu terhuyung. Dia tidak sabar, dia ingin memastikan sesuatu. "Candramaya masih hidup!" Batin Wismaya mengusap bulir bening yang membasahi wajahnya. Dia langsung berlari ke dalam rumah adiknya. Wismaya menatap getir pintu yang rusak bekas dobrakan. Dan darah yang mengering di atas lantai serta bau anyir yang menyeruak menusuk indera penciuman. Secara reflek Wismaya menutup hidungnya dengan punggung tangannya. Tujuan utamanya adalah kamar adiknya. Wismaya memasuki kamar yang porak-poranda. Tak! Tak! Candramaya melihat sepasang kaki melangkah memasuki kamar. Dia sudah sadar dan masih menggenggam keris pemberian Ibunya. Rasa takutnya kembali muncul, dia takut kedua orang jahat itu kembali. "Maya ...kamu di mana, Nak? Paman datang," Wismaya memanggil-manggil keponakannya, sambil memindai kamar yang kini penuh dengan jejak kekerasan dan darah kering yang berceceran. Wismaya duduk di sisi ranjang dengan perasaan suram. Dia tidak mencari Candramaya karna percuma. Selagi anak itu menggenggam keris itu dia tidak akan terlihat. "Keluar dari persembunyianmu, Nak. Ini Paman." Pergelangan Kaki Wismaya terasa dingin, seperti ada sesuatu menempel di kakinya. Dia cukup terperanjat. Namun saat dia melihat ke arah kakinya tidak ada siapapun. Namun seulas senyum menghiasai bibirnya, "Ini kau, Nak? Paman tidak bisa melihatmu. Sekarang lepaskan keris itu agar Paman bisa melihatmu." Candramaya melepaskan genggamannya lalu merangkak keluar, dia menatap sang Paman yang terlihat gelisah. Candramaya memilih duduk di sisi ranjang. Sadar ada seseorang yang duduk di sisinya karna ranjang mengeluarkan suara denyitan. Wismaya menoleh, "Lepaskan keris itu, Nak." Candramaya menurut, hingga tubuhnya muncul. Wajahnya terlihat lesu dan pucat, rambutnya berantakan serta tatapannya kosong. Wismaya menatap nanar keponakannya yang terlihat menyedihkan. Dulu dia sangat ceria, kini menjadi murung. Wismaya mengelus pucuk kepala Candramaya lalu memeluknya, rasa syukur dia panjatkan. Tubuh gadis ini sangat dingin, begitu juga dengan tatapannya. "Aku akan menuntut balas! Mata di bayar dengan mata, nyawa di bayar dengan nyawa," batin Wismaya, api dendam membara di hatinya. Tekadnya kuat, tujuan hidupnya sekarang adalah menuntut balas. Wismaya bertekad akan mengumpulkan para keluarga korban untuk meminta keadilan kepada raja Harsa Loka. *** Di sisi lain. Dua pria yang menjadi pembunuh dalam satu malam itu sampai di istana Harsa loka pagi hari. Dengan membawa pesanan Adi Wijaya sesuai apa yang ada di dalam isi surat. Di dalam surat itu tertulis, bahwa kepala keempat pembrotak itu harus di masukan ke dalam guci yang terbuat dari tanah liat dan di simpan di dalam ruang harta milik Adi Wijaya. Tentunya para eksekutor itu menemui tuannya dan melapor. Sekarang mereka sedang duduk bersama Adi Wijaya di gazebo taman yang berada di halaman kediaman pribadi sang Raja. "Apakah mereka menerima penawaranku?" Tanya Adi Wijaya, pria paruh baya itu sedang menikmati secangkir teh melati sambil di temani salah satu selirnya. "Mereka menolak Gusti. Jadi sesuai perintah, kami membawa pesanan Gusti," kata seorang pria bertubuh kecil yang tidak lain adalah Patih kerajaan Harsa Loka yang bernama Bima Reksa. "Hmm ...mereka keras kepala," Adi Wijaya menghela nafas. Dia cukup kecewa. "Sangat di sayangkan, tapi merampas harta dan tanah mereka itu tidak lah buruk, mereka pasti akan memohon. Memangnya siapa yang tahan hidup miskin," batin Adi Wijaya, suasana hatinya sedang baik hari ini. "Apakah Gusti ingin memeriksanya, sebelum kami menguburnya" tanya pria satunya yang bernama Danadyaksa, adik ipar sang Raja. "Hmm ...kenapa di kubur, biarkan saja," jawab Adi Wijaya santai. Danadyaksa dan Bima Reksa saling bertatapan. Mereka cukup kaget, bukankah kepala itu akan membusuk jika tidak segera di kuburkan. Sedangkan Adi Wijaya berfikir yang dibawa bawahannya adalah harta benda dari ke empat orang itu. "Tapi Gusti ...sebaiknya Gusti priksa saja dulu." "Pergilah! Kalian merusak suasana hatiku saja," perintah Adi Wijaya, dia ingin bersantai sejenak. Tapi mereka datang membawa kabar yang tidak enak untuk di dengar. "Bukan hanya keji dan gila kekuasaan, ternyata kakak iparku orang yang tidak waras. Menyimpan kepala manusia untuk apa? Pajangan? Dasar gila!" Batin Danadyaksa, kedua alisnya saling bertautan karna merasa heran. Danadyaksa dan Bima Reksa mengundurkan diri, mereka sebenarnya tidak habis pikir dengan pemikiran Raja. Tapi memilih untuk patuh dari pada berakhir dengan kehilangan kepala. *** Istana Harsa Loka terletak di bawah Gunung berapi yang aktif, tanahnya subur dengan sumber air yang melimpah. Membuat kerajaan Harsa Loka menjadi salah satu kerajaan yang makmur dan subur. Dua hari setelah malam berdarah di istana Harsa Loka. Raja yang berkuasa bernama Adi Wijaya duduk dengan gagah di singgasana. Di temani kedua permaisurinya yaitu Dewi Kamaratih duduk di sisi kanan dan Dewi Puspita Sari duduk di sisi kiri. Sedangkan Putra mahkota bernama Pangeran Dwi Narendra duduk di sisi ibundanya Dewi Puspita Sari. Sedangkan Putri sulung yang bernama Putri Asri Kemuning sedang terbaring lemah karna sakit yang dia derita sejak kecil sedang kambuh. Patih dan para punggawa juga duduk di tempat masing-masing. Setiap pagi pasti semua berkumpul di balai pertemuan untuk berdiskusi tentang urusan kerajaan. "Gusti Prabu ...Lurah dari desa A melapor bahwa banyak para gadis yang hilang secara misterius." "Desa B dan C juga mengalami hal sama." "Sampai saat ini Senopati Damarjati bahkan belum datang, padahal dia yang sedang menyelidiki perkara itu." "Masalah ini sudah tidak terkendali, Gusti!"Laporan para punggawa seperti rasa pahit yang memenuhi mulut Adi Wijaya, membuatnya terlihat kesal. Sepertinya pagi ini akan sangat menguras emosi, tenaga dan pikiran.Adi Wijaya terdiam, dengan mata terpejam lalu memijit pelipisnya yang terasa pening dan kembali mengatur suasana hatinya. Kesialan nyatanya menimpa hidup Adi Wijaya karena memiliki putra yang tidak berguna.Sedangkan akar dari masalah ini adalah putranya sendiri. Tapi dia tidak mungkin menghukum putra tercintanya.Sedangkan Pangeran Narendra, biang kerok dari segala masalah yang mengusik ketenangan Harsa Loka hanya bersikap biasa saja. Wajahnya tenang seperti tanpa beban. Padahal semua punggawa sedang menyinggung masalah yang dia ciptakan. Karna sejatinya, sebaik-baiknya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga! Dan bau busuk itu mulai menyeruak kepermukaan. "Apakah Senopati Damarjati mengatakan sesuatu pada kalian?" Tanya Adi Wijaya. Pria tua itu cukup khawatir, terlihat dari tangannya yang meremas tangannya
"Tentu ada, Gusti"Adi Wijaya terbelaklak, wajahnya terlihat tegang dan pucat. Jawaban singkat itu tentu saja seperti anak panah yang melesat menghujam jantung Adi Wijaya. Adi Wijaya terpojok sekarang!Wismaya menatap wajah keponakannya yang pucat, tatapan gadis itu kosong. "Katakan, Nak? Katakan yang kamu ketahui?"Candramaya kecil menatap Pamannya, tangan kecilnya menggenggam erat lengan sang Paman. Satu-satunya orang yang dia percaya saat ini. Jika pagi itu Wismaya tidak mengujungi rumah adiknya, entah apa yang akan terjadi pada gadis malang itu."Du-dua orang, Paman Patih," kata Candramaya, suaranya lirih dan bergetar. Ingatannya kembali ke malam mengerikan itu. Membuat tubuh Candramaya bergetar, dan suara isak tangis mulai terdengar. Wismaya menatap wajah keponakannya yang pucat dengan cemas. Apalagi tatapan gadis itu kosong, dengan lembut Wismaya menepuk pundak lemah Candramaya untuk menyadarkan gadis itu dari lamunan dan berkata, "Katakan yang kamu tahu, Nak?"Candramaya men
Klekkk!! Wanita muda itu bergegas naik ke atas ranjang dan bersembunyi di balik selimut berbahan kain sutra. Terdengar langkah kaki yang perlahan mendekat. "Kamu tidur, Ratih?" Suara yang familiar berhasil membuat wanita itu hampir terkena serangan jantung. "Gawat! Romo Prabu!" Batin wanita muda itu. Wajahnya pucat, hatinya berdebar kencang hingga dia memutuskan untuk menggunakan Ajian Malih Rupa. Adi Wijaya duduk di sisi ranjang. Lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh seseorang. Wajah senjanya terlihat muram, saat melihat seorang wanita berusia 55 tahun yang sedang menangis dalam diam. Wanita muda itu merubah wujudnya menjadi Dewi Kamaratih dan berpura-pura sedang menangis. "Kamu menangis?" Tanya Adi Wijaya, tatapannya terlihat malas. "Hiks! Ini salah paham, kang mas? Menantu kita adalah seorang putra Resi, dia berbudi luhur dan bijaksana. Kangmas tidak kasihan dengan putri dan cucu kita?" Rintih Kamaratih palsu. Dia turun dari ranjang sambil menangis pilu lalu dud
Puspita Sari pergi meninggalkan Kamaratih dengan kesal. Kebenciannya bertambah sampai mendarah daging bahkan sampai ke tulang sumsum. Tujuannya sekarang adalah menuju kamar pribadi Adi Wijaya untuk melancarkan rencananya. Wanita yang selalu mengenakan kain terbaik di negeri Harsa Loka, untuk menutupi tubuhnya yang ramping. Rambut berubannya tersanggul rapih dengan hiasan rambut yang terbuat dari emas. Membuatnya terlihat cantik dan muda, untuk usianya yang sudah setengah abad.Puspita Sari berjalan sambil bersenandung lirih, untuk mengembalikan suasana hatinya yang di rusak oleh Kamaratih."Wanita itu tak selugu yang aku kira, aku benar-benar tertipu. Sial!!!" Batin Puspita Sari, mengepalkan tangan cukup kuat, nafasnya masih terasa sesak seiring amarah yang masih belum meredam.Walaupun Kamaratih adalah orang yang telah membawanya dan adiknya dari jalanan. Tapi memang hatinya yang hitam, bukannya membalas budi dan bersikap baik. Dia justru berusaha merebut apa yang Kamaratih miliki.
"Jadi kamu menuduhku berbohong! Bukankah kamu juga membacanya sebelum keluar dari kamar ini, karna aku meminta kamu memberi saran pada tulisanku!""Bukan itu maksud Ananda. Tapi, saat Ananda akan memberikan surat itu. Ananda mendengar Kanjeng Ibu berteriak dari kamar Kemuning, Romo," ujar Arya Baladitya. Pemuda itu berusaha keras menjelaskan.Di mata pemuda itu hanya ada kejujuran. Adi Wijaya tidak buta. Dia melihatnya.Menantunya selalu jujur dan tidak pernah mengecewakannya. Dan ini untuk pertama kalinya."Jadi surat itu Ananda letakan di atas nakas dan bergegas membantu Asri kemuning yang sedang pingsan. Di ruang itu ada Ibu Kamaratih, Dewi Damayanti Citra dan dua dayang, Romo.""Kamu teledor bodoh! Bawa mereka berempat kemari!" Titah Adi wijaya dengan rahang yang mengatup, terduduk di sisi ranjang sambil memijit pelipisnya dengan kasar.Beberapa saat kemudian.Dua Prajurit kembali ke kamar Adi wijaya, dengan nafas yang tersengal lalu bersimpuh. "Gusti, kedua dayang istana yang ber
Air mata Asri Kemuning tumpah, menangis pilu di pelukan sang suami, "Takdir macam apa ini!" Batinnya. Hati Kamaratih terasa tercabik-cabik dan sesak. Setelah kekacauan di rapat pagi itu. Dia selalu menemani putrinya. Dia juga menceritakan segalanya mengenai apa yang sedang terjadi. Asri Kemuning tidak terima, hingga akhirnya memutuskan untuk tetap membela suaminya. Walaupun dia harus menjadi anak pembangkang. Tubuh lemahnya keluar dari pelukan sang suami. Dia berjalan menghampiri Ayahnya. "Romo ...tidak adil!" Suara lirih dan lemah Asri Kemuning terdengar. Tatapan Adi Wijaya begitu dingin, telinganya terasa sakit. Sejak kapan putrinya berani melawannya. Apa karena seorang pria? "Kamu bilang apa!" Adi Wijaya membentak putri kandungnya untuk pertama kali. Hampir membuat nyali Asri Kemuning menciut. Namun dengan sorot mata yang penuh tekad dan keberanian dari seorang putri Harsa Loka. Dia berkata dengan lantang, "Romo tidak adil kepadaku. Teganya Romo menghancurkan kebahagiaan putr
Arya Balaaditya menoleh dan tubuhnya terasa membeku, tatapannya lurus menatap lengan istrinya yang di cengkeram oleh Ayah mertuanya. Otaknya seperti mati rasa, dia benar-benar tidak bisa berpikir.Kamaratih merasakan firasat buruk, " jangan-jangan?" Batinnya.Memang siapa yang lebih mengenal tua bangka itu jika bukan istrinya.Senyum licik menghiasi wajah Adi Wijaya. Dengan suara rendah, tua bangka itu berkata, "Putramu atau Putriku? Pilih salah satu!"Deg!Pilihan macam apa ini. Bukankah ini seperti buah si malakama.Seisi ruangan pun terdiam.Jantung Asri Kemuning berdebar kencang, matanya mengerjab-erjam saat melihat tangannya. Dengan ragu dia bertanya, "Romo ...jangan bercanda?"Dengan tawa meledek, Adi Wijaya menunjuk wajahnya seraya berkata, " Apa aku terlihat sedang bercanda? Hah! Kamu tidak tulikan, Nak?"Rupanya, Adi Wijaya butuh tameng agar di masa depan Arya Balaaditya tidak akan membalas dendam atas ketidakadilan yang menimpanya sekarang. Bukankah orang jahat terlahir dar
Candramaya kecil menghentikan tangisannya, dia diam dan tidak bergerak. Seiring dengan suara auman yang semakin dekat serta suara rumput kering yang terinjak. Gadis itu mengingat sesuatu, dia meninggalkan kerisnya. Sekarang dia pasti akan menjadi makanan harimau itu. Tanpa pikir panjang dia berlari kembali, Karena rasa takut yang menyerang dia tersandung batu terjal, ibu jari kakinya berdarah. Tubuh kecilnya tersungkur mengenaskan di atas tanah yang dingin. "Tooloooongggg!" Gadis itu berteriak, suaranya menggema. Gadis itu meringis, tubuhnya semakin bergetar ketakutan. Mata harimau itu menyala bagaikan api di tengah malam, yang akan membakar apa saja yang dia pandang. Candramaya hanya menangis melihat harimau besar itu berjalan mendekatinya secara perlahan. Hingga samar-samar dari kejauhan ada suara kaki kuda yang mendekat. Gadis itu menoleh, tampak seorang pria dewasa menaiki kuda dengan gagah. Kudanya melaju tapi kedua tangannya memegang busur panah dan melepaskan anak pa
Prang!!Botol itu jatuh ke lantai dan pecah, namun ternyata hanya botol kosong. Arah mata semua orang kini tertuju pada pecahan botol itu. Narendra merasa terkejut sedangkan Asri Kemuning dan Arya Balaaditya merasa keheranan.Puspita Sari merasa malu sekarang, kedua tangannya saling meremas. Dia menyadari reaksinya menunjukan bahwa dia adalah wanita yang egois. "Kangmas mempermainkanku?!" eram Puspita Sari. Wanita itu mendelik karena merasa dipermainkan."Haha ... Ohok! Ohok!" Adi Wijaya tertawa di sela batuk berdarahnya. Nafasnya terengah dan dadanya mulai sesak. Keringat dingin kini bermunculan di kening pria itu seiring wajahnya yang memucat dan bibirnya yang mulai membiru. Dia menatap istri mudanya dengan tatapan nanar sambil menekan dadanya. Sekarang dia sadar, tidak ada yang benar-benar mencintainya. Tiba-tiba Asri Kemuning menangis, dia berhambur memeluk lengan ayahnya.Sedangkan Narendra dan Puspita Sari yang sudah tahu akhir dari pertarungan ini memilih untuk kabur meningga
"Heh!" Adhinatha mendengkus kesal saat Candramaya menunjukan kepeduliannya. Kedua tangannya semakin mengepal dan kebenciannya semakin besar. Usahanya bertahun-tahun tidak ada artinya.Disaat Candramaya melawan pamannya. Adhinatha memutuskan untuk mengangkat pedangnya dan hendak melawan siapapun yang melindungi Indrayana. Namun, belum sempat niatnya tertunaikan, pintu utama aula rapat terjatuh secara tiba-tiba.Brak!Seseorang telah menendang pintu dari luar dengan paksa. Baladewa dan Naladhipa datang bersama pasukannya. Mereka menggempur kubu Danadyaksa, jumlah mereka dua kali lipat.Keadaan kini terbalik."Kudeta!" Gumam Adi Wijaya, mata pria tua itu menyorot tajam. Dia menyadari bahwa Arya Balaaditya memang sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Apalagi ada sosok yang dia kenal yaitu Guru Besar Padepokan Gagak Hitam. "Sial!" eramnya.Ini di luar kendali!Suasana semakin mencengkam dan kacau.Senyum Puspita Sari memudar begitu pula Narendra dan Damayanti Citra. Tentu saja Damayanti Cit
"Bantuan akan segera datang! Kita hanya perlu bertahan sekarang!" ujar Arya Balaaditya sambil memegang pedangnya yang berlumuran darah. Sesuai perintah Arya Balaaditya, jika dalam lima jam ke depan dia tidak keluar, maka Baladewa dan pasukannya akan masuk ke dalam istana. Mereka menunggu di luar gerbang istana belakang dengan cemas. Dan mungkin sebentar lagi mereka datang. Indrayana berjongkok memegang bahu belakang Candramaya. Wajahnya menunduk dan melihat wajah gadis itu yang terlihat dingin. Gadis itu terduduk di lantai sambil memegang perutnya. Candramaya tampak meringis. "Sadar! Hentikan dulu, kamu belum benar-benar pulih," ujar Indrayana. Dia cukup khawatir. Danadyaksa berjalan dengan bibir menyeringai, "Kalian bocah mentah! Kalian bukan tandinganku!" Candramaya mendengkus kesal dan dia hendak bangkit, namun lengannya tercekal. Candramaya yang sedang dikuasai oleh amarah dan pengaruh negatif Putri Tanjung Kidul, mengeram dengan mata melotot, " Lepas!" Candramaya mem
Woooossssh!Keris itu mengarah ke leher Danadyaksa, pria itu menghindar dengan cepat. Sedangkan Indrayana yang sudah mulai cemas, memilih terjun untuk menolong Candramaya. Dia menyerang dan memecah konsentrasi Danadyaksa. "Kalian akan mati sekarang!" pria tua itu mengeram, ada kebencian yang terlintas dari sorot mata dinginnya. Candramaya menyeringai, "Heh! Meleset."Di lain sisi."Apa kamu akan diam saja Adhi?" pertanyaan bernada cibiran itu terlontar dari pikirannya sendiri. Bulu mata Adhinatha terkulai ke bawah, wajahnya sedikit menunduk dengan ekspresi kesulitan. Dia mengangkat kedua tangannya yang bergetar lalu bergumam, "Aku? Aku harus memihak ke siapa?" Pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepala Pangeran Adhinatha. Dia seperti berada di depan dua persimpangan. Entah jalan mana yang akan Adhinatha pilih. Di satu sisi, ada pamannya yang bekerja keras menjaga posisinya sebagai Pangeran Mahkota. Di sisi lain ada sepupunya yang sangat dia benci dan wanita yang sangat dia ci
Suara teriakan kesakitan mengudara secara serempak, seiring tubuh-tubuh yang jatuh satu persatu terkulai di lantai dengan bersimbah darah.Para punggawa yang mendukung Arya Balaaditya tercengang begitu pula dengan Wismaya dan yang lainnya.Mereka tanpa sadar berjalan mundur dengan kaki yang terasa lemas. Wajah para eksekutor itu terlihat dingin dan datar. Aura dalam aula rapat seketika mencengkam. Haha!Hingga suara gelak tawa terdengar menggema dari seorang pria tua yang sedang duduk di singgasana. Namun setelahnya Adi Wijaya yang tampak bahagia seketika merengut, suara tawa itu pun lenyap. Mata binar kebahagian berubah dingin, lalu Adi Wijaya berkata dengan gigi berkertak, "Aku benci orang bermuka dua! Mereka adalah contoh orang yang mengakuiku sebagai raja, hanya saat di ambang maut!"Asri Kemuning terbelaklak, wanita itu berdiri dengan kaki lemas dan bergumam, "Ro-romoo!"Dia tidak menyangka, ayahnya bisa bersikap layaknya psikopat. Indrayana menatap mayat-mayat yang bergelimpan
"Di mana Danadyaksa?" tanya salah satu Punggawa.Mereka semua di aula melupakan sesuatu. Adi Wijaya duduk bersandar di singgasana dengan tenang. Dia menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak dan membuat semua mengalihkan pandangannya pada sosok yang sedang tergelak.Apa ada yang lucu?Hampir semua orang yang ada di dalam aula rapat saling menatap penuh keheranan.Tiba-tiba suara derap langkah kaki mulai terdengar. Semua orang menoleh dan bertanya-tanya, "Apa kiranya yang ada di balik tembok itu?"Sedangkan Indrayana, dia berdiri terpaku dengan tatapan tajam. Berkat batu mustika yang dia miliki. Indrayana mampu melihat rombongan orang yang datang mendekat dari balik tembok. Begitu pula dengan Candramaya yang mulai mengepalkan tangan, merasakan firasat buruk.Suara itu semakin mendekat, sangat ramai dan serempak. Lalu suara itu menghilang, semua orang seakan menahan nafas seiring suasana yang menjadi hening. Begitu juga dengan tawa Adi Wijaya yang meredup.Klekk!Pintu utama kembali ter
Arya Balaaditya mengangkat suara, "Jika bukan dengan cara ini, bagaimana rakyat Harsa Loka akan tahu? Bukankah, dua surat itu adalah tulisan tangan, Romo? Dan cap stempel itu hanya Romo yang memegang. Aku hanya menyuruh orang untuk mengambilnya, jika tidak? Bagaimana aku membuktikan diri," ujar Arya Balaaditya menjelaskan. Adi Wijaya menggertakan giginya, rahangnya terlihat mengeras, dia berdecis, "Jadi sekarang kamu menuduhku? Di depan semua orang kamu berusaha melimpahkan kesalahan yang 15 tahun lalu kamu akui."Menuduh!Siapa di sini yang hobi menuduh?Arya Balaaditya hanya tertawa getir, tatapannya berubah sendu. Kenapa setelah sejauh ini Ayah Mertuanya tidak berubah juga. Arya Balaaditya benar-benar tak habis pikir. "Perihal Paman Bima Reksa, seandainya Pangeran Narendra tidak mengusik cucunya, dia juga pasti masih setia dan bersembunyi sesuai perintah Romo," ujar Arya Balaaditya. Pria itu berhenti sejenak, lalu mengatur nafasnya dan membasahi bibir bawahnya. Pria itu menatap w
Asri Kemuning berjalan dengan anggun dan berwibawa. Dia sambil menggandeng tangan suaminya dengan wajah penuh percaya diri. Tapi matanya terlihat penuh kemarahan dan tekad.Sekarang dia bukan wanita penyakitan dan lemah lagi karena setelah tidak tinggal di istana dia justru berangsur sembuh. Dan ramuan racikan suaminya membuat tubuhnya samakin segar.Semua punggawa tunduk pada ahli waris yang sah. Mereka tunduk pada keturunan asli pendiri Harsa Loka. Walaupun sebagian dari para punggawa juga condong ke pada Adi Wijaya.Itulah alasan Adi Wijaya takut dengan putrinya sendiri karena takut sang putri akan mengkudetanya di masa depan."Paman Patih adalah saksi. Dan suamiku mempunyai bukti. Maaf Romo Prabu, tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi," ujar Asri Kemuning dengan lantang.Adi Wijaya mengerjabakan matanya, dia merasa rindu dengan putrinya. Namun dia juga merasa terancam sekarang. "Kamu membawa seorang pembunuh?" tanya Adi Wijaya sengaja memprovokasi. Dia tahu bahwa semua o
Narendra yang dari tadi menunduk dan menyembunyikan wajah pucatnya, kini mendongak. Dia berdiri dan mulai mengelak dengan suara terbata-bata, "A-apa yang ka-kamu mau heh? Aku bahkan baru pertama kali bertemu denganmu. Jangan asal bicara!"Namun semua orang tahu bahwa Narendra sedang ketakutan, terlihat dari wajahnya yang pucat dan suaranya yang keras dan terbata-bata."Kalau aku punya bukti, apa Pangeran akan mengakuinya?" tanya Kumala. Gadis itu menatap sinis ke arah Narendra.Damayanti Citra tersenyum culas, "Bukti apa yang kamu punya, heh!"Kumala meraih selendangnya, di ujung seledang ada ikatan kecil. Gadis itu membuka ikatan itu dan mengangkat sebuah benda tinggi-tinggi agar semu orang melihat. Adi Wijaya yang dari tadi cemas seketika ingin pingsan dengan apa yang gadis itu pegang. Begitu juga Narendra, dia langsung memeriksa kelingkingnya yang kosong. Cincin itu memang hilang setelah kejadian malam itu. Dia tidak menyangka gadis itu mengambilnya. Wajah Narendra semakin pucat p