Suara tangis histeris Ranaya menggema di kamar itu. Mengguncang atmosfer yang sebelumnya penuh bisikan mesra dan gelak tawa. Sagara tersentak. Dengan cepat ia bangkit dari ranjang sambil memasang wajah yang mengeras, sementara tangannya meraih celana panjang yang tergeletak di lantai. Ia mengenakannya secepat tarikan napasnya yang memburu. Perempuan yang awalnya berada di rengkuhan Sagara juga turut bangun. Namun, perempuan berambut panjang itu hanya sekadar menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dari situ Ranaya tahu bahwa perempuan itu adalah Sherly. Pertanyaannya, sejak kapan Sherly berada di rumah ini?! Ranaya mematung di ambang pintu. Dadanya naik turun dipenuhi emosi. Matanya yang membasah memandangi pemandangan menyakitkan itu—suaminya sendiri, tepat di ranjang mereka, bersama perempuan lain. "Sialan! Mana sopan santunmu?!" gertakan Sagara memenuhi ruangan. Lelaki itu sudah mengenakan celananya, lalu memungut kaus yang tergeletak di lantai. "Siapa suruh
'Ranaya, gimana keadaan rumah tanggamu sekarang?' Jantung Ranaya berdebar. Ini sudah kedua kalinya ia mendapat pesan aneh seperti ini, seolah ada seseorang di luar sana yang tahu betul tentang kehidupannya. Namun, yang paling membuatnya ngeri adalah foto yang dikirim nomor tersebut beberapa bulan lalu. Foto Sagara bersama Sherly di pesta malam setelah pernikahan mereka. Ada perasaan getir sekaligus sedih saat matanya terpaku membaca pesan tersebut. Namun, lebih dari itu, Ranaya sangat penasaran dengan sosok pengirim misterius yang kembali mengiriminya pesan. Siapa sebenarnya orang ini? Apa motifnya? Jangan-jangan memang ada orang yang sengaja mempermainkannya! Tapi … siapa? Ranaya tentu pernah memeriksa nomor asing tersebut di sebuah aplikasi yang dapat memunculkan tagar nama kontak. Tetapi, tak berhasil. Sepertinya pemilik nomor itu sengaja menyembunyikan identitas dirinya dan mengatur nomornya menjadi privasi. Ia termangu dan larut dalam pikirannya. Napasnya tersendat tat
Pagi ini Sagara membuka kelopak matanya yang terasa berat. Ia perlahan menoleh, mendapati ruang di sisi pembaringannya kosong tanpa Rayana yang biasanya mendiami. Sagara mengusap wajah secara kasar. Perasaan sepi dan janggal itu menusuk dadanya kembali. Kemarin selama seharian penuh ia tak berhasil menemukan jejak perempuan itu walau dirinya menyusuri sampai ujung kota dan perbatasan wilayah. Orang-orang yang ia temui pun menggeleng tiap Sagara menyodorkan foto Ranaya kepada mereka. Tak terasa matanya tetap terpaku pada tempat kosong yang setiap hari ditiduri Ranaya. Biasanya, meskipun ia sering mengabaikan kehadiran Ranaya, perempuan itu tetap ada dan tidur di sana. Ia sepertinya lupa kalau istrinya tersebut sudah pergi. Bahkan tanpa sadar, selama semalaman ia selalu memberi ruang lain di sampingnya tersebut saat tidur. Sagara bangkit dengan malas, kepalanya berdenyut. Saat membuka lemari, ia mendengus kesal. Biasanya pakaian kerjanya sudah tergantung rapi dengan aroma lembut kh
"Sagara, ayo cari Ranaya sekali lagi!" Alih-alih memperhatikan Sherly yang sedang berbicara kepadanya, pikiran Tantri justru tersulut oleh kecemasannya sendiri. Hal itu membuat kecewa Sherly yang ucapannya justru terpotong. “Gawat, Sagara, pokoknya kita harus cepat menemukan Ranaya apa pun yang terjadi!” tambahnya lagi. Sagara menatap ibunya dengan napas yang tersendat. Ia sendiri sudah kehabisan akal sebenarnya. Kemarin ia menyusuri hampir seluruh sudut kota, tetapi tetap tidak ada jejak perempuan itu. "Ma, mau ke mana lagi kita cari dia? Kita sudah cari kemana-mana," ungkapnya pelan sambil berusaha menahan frustrasi. Mungkin saja Ranaya memang tidak mau ditemukan, batinnya. “Pasti ada cara.” Mata Tantri melebar saat mengucapkannya. Pandangannya tidak terlepas dari satu titik. “Mungkin Ranaya belum pergi jauh. Dia kan lagi sakit.” Tantri manggut-manggut tanpa sadar. Ia yakin akan pendapatnya barusan. Mana mungkin seseorang yang sedang sakit mampu melakukan perjalanan jau
Sebuah sapu tangan putih dengan bordir bunga tulip di salah sudutnya masih menjadi pusat perhatian Sagara. Jemarinya mengusap lembut kain itu, seakan mencoba merasakan jejak pemiliknya yang telah pergi. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kantornya membuat sapu tangan itu tampak berkilau. Di sela-sela pekerjaannya, Sagara lebih memilih memperhatikan sapu tangan yang kini masih berada di tangannya. Benarkah ini milik Ranaya? Tapi, kalau tidak, kenapa bisa ada di kamarnya? Sagara tentu saja pernah mencari sapu tangan serupa di toko-toko maupun platform online. Namun, tak ada sapu tangan yang dijual sama persis seperti sapu tangan yang ada di hadapannya. Sebenarnya ini cukup mengganggunya sejak saat itu. Ia belum sempat mendapat jawaban yang benar dari bibir wanita yang kini telah pergi dari kehidupannya. Sementara ia sendiri tak ingat apakah Ranaya memang pernah satu sekolah dengannya. Rasa-rasanya tidak, sekuat apa pun dirinya menguras ingatan. Tak terasa kerutan hal
Mobil hitam yang ditumpangi Ranaya akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar nan megah. Gerbang besi yang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi dan bangunan utama yang menjulang gagah. Namun, bagi Ranaya, ini bukanlah pemandangan yang indah. Melainkan jeruji yang menambah kecamuk di pikirannya. Mau dibawa ke mana ia sekarang? Lebih tepatnya, siapa yang menangkapnya? Tempat apa juga ini?! Detak jantungnya berpacu, tubuhnya bergetar. Ia menatap pria-pria berjas yang kini turun dari mobil. Wajah mereka tetap datar tanpa ekspresi. Tak ada jawaban untuk segala kebingungannya. Seorang pria menariknya keluar, mendorongnya ke halaman belakang rumah tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Langkah kaki Ranaya terpaksa ikut terburu-buru, sampai hampir terseret karena cengkeraman erat di lengannya. Ranaya mencoba meronta, tapi sia-sia. "Tolong, lepaskan aku!" Tidak ada yang menjawab. Ia dibawa melewati lorong panjang di sekitar taman
Semua orang membisu setelah mendengar kalimat yang baru saja Sherly lontarkan. Kini sorot mata mereka tertuju kepada Sagara. Hening dan ketegangan lantas menyelimuti atmosfer di ruang tamu keluarga Wiratama. “Apa benar itu, Sagara?” Suara bariton yang sarat amarah lantas keluar dari mulut Harto. Tampak rahang pria tersebut sudah mengeras. Sagara hanya menarik napas panjang. Ia tidak akan mungkin membantah. Memang itulah kebenarannya. Nasi sudah menjadi bubur karena Sherly sudah lancang mengatakannya di depan kedua orang tuanya. Sejujurnya, tentu ia akan berani menjawabnya secara lantang. Toh, dirinya sudah lama ingin punya istri seimut dan sepolos Sherly. Namun, entah kenapa kini rasanya begitu berat. Seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. “Ya, benar,” sahut Sagara akhirnya. Tantri yang duduk di samping Harto sontak mengusap wajahnya. Perasaan malu dan kecewa bercampur menjadi satu. Sekilas ia menoleh ke arah Mayang dengan sungkan. Bagaimanapun ia dan Mayang sudah
Ranaya duduk dengan tenang di meja makan yang luas dan mewah. Sejujurnya dari awal ia berusaha menyesuaikan diri dengan suasana sekitar. Sejak tadi ia lebih banyak diam sambil menyimak obrolan para kerabat yang masih asing baginya. Sesekali matanya melirik ke arah ibunya yang tampak sudah akrab dengan beberapa orang. Ida dan Ranaya memang berbeda. Jika ibunya itu mudah bergaul, berbeda dengan Ranaya yang memiliki sikap pengamat dan hati-hati yang sifatnya diturunkan dari Sugik. "Kamu tuh kebanyakan diam, Ran. Dari dulu kalau ketemu orang baru selalu begitu." Demikian yang diucapkan Ida jika Ranaya menyatakan ketakjuban pada ibunya yang cepat mengenal banyak orang dalam waktu singkat. Ranaya tersenyum samar seraya menyesap pelan minuman dingin yang baru saja terhidang saat membayangkan momen tersebut. Di sela lamunannya, seorang perempuan dengan senyum lebar menyodorkan piring ke arah Ranaya. "Mbak, cobain ayam ingkungnya juga, deh. Enak lo! Ini selalu jadi andalan tukang masak
Angin yang berembus lembut di dermaga kecil tepi danau kala sore itu tak mampu menenangkan gejolak yang membara di dada Sagara. Rahangnya mengeras begitu telinganya menangkap dengan jelas nama yang keluar dari bibir Ranaya saat menjawab telepon.Pria itu lagi, pria itu lagi! Kenapa Rio selalu merusak momen yang tengah ia bangun bersama Ranaya?!Padahal sempat ada kelegaan dalam diri Sagara saat ia tahu bahwa Ranaya bukanlah istri pria tersebut. Namun, kedekatan mereka, cara Rio selalu ada di sekitar Ranaya, membuat bara cemburu di hatinya kian membesar.Ranaya menutup teleponnya dengan cepat. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan mengangkat wajah ke arah Sagara. Tatapan pria itu sudah berubah. Dingin, tajam, penuh emosi yang tak bisa ia definisikan."Aku minta maaf, Mas. Aku harus pergi dulu," ujarnya sedikit merasa bersalah.Sagara menatapnya tanpa berkedip. "Ke mana? Menemui Rio?" tembaknya langsung.Untuk sejenak Ranaya mengerutkan kening samar. Nada suara Sagara berubah
"Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t
Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b
"Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala
“Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na
"Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan
Tantri mengangguk-angguk, membenarkan keputusan Sagara. Sebagai seorang ibu, ia juga bisa merasakan firasat yang kuat bahwa anak kecil itu—Radeva—mungkin adalah cucunya. Wajahnya terlalu mirip dengan Sagara saat kecil, bahkan sorot matanya mengingatkannya pada putranya dulu."Aku harap kamu bisa membujuk Ranaya untuk melakukan tes DNA, Sagara," ujar Tantri pelan, seolah berbicara demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap rencana itu akan berhasil.Sagara menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Iya, aku pasti akan melakukannya, Ma. Masalahnya aku memang merasa seperti sudah terikat dengan Radeva bahkan tanpa harus membuktikan apa pun."Tantri mengulas senyum tipis, seakan senyum itu mengambang di udara. Matanya menerawang jauh."Hmm … naluri seorang ayah, ya, mungkin …." gumamnya.Sagara diam. Pikirannya tengah menebak-nebak. Ia membayangkan bagaimana kalau anak itu memang anak kandungnya. Ada sesuatu yang terasa aneh menyelinap diam-diam di hatinya setiap kali mengingat boca
Ruangan itu seketika hening. Hanya suara gesekan kain yang terdengar saat Radeva sibuk kembali melipat baju kecilnya. Tapi, kepala Ranaya masih dipenuhi kalimat barusan.Setelah mengatakannya, Radeva memang sibuk sendiri lagi dalam merapikan baju-baju di depannya. Namun, ungkapan anak itu rupanya berdampak cukup dalam pada Ranaya. Tanpa sadar, bibirnya jadi tertekuk murung."Jadi Deva nggak bahagia kalau sama Mama?" tanyanya berusaha tetap tenang.Radeva menoleh cepat. Wajah imutnya terlihat bingung. "Bukan gitu, Ma. Depa bahagia kok hidup dan punya mama sepelti Mama.""Tapi setelah beltemu Om Papa, Depa jadi ingin selalu dekat dengan Om Papa."Jantung Ranaya mencelos. Selama ini, ia berusaha membangun dunia yang cukup untuk anaknya. Namun, hanya dalam sekali pertemuan dengan Sagara, dunia yang ia bangun itu terasa goyah.Ranaya lantas tersenyum tipis, tapi perih di hatinya tidak bisa diabaikan."Om Papa itu baik banget, Ma. Aku melasa nyaman dan cocok. Mungkin sepelti itu ya yang dil
"Kok kamu yang ngangkat HP suamiku? Di mana Mas Harto?"Cengkeraman Tantri pada ponselnya mengerat. Matanya menyipit curiga. Sementara kepalanya sudah dipenuhi banyak pertanyaan dan berbagai dugaan.Dari seberang, terdengar suara Mayang yang terdengar sedikit tergagap. "Oh, ini … ceritanya panjang, Tantri.""Cepetan kalau ngomong, aku nggak punya waktu! Aku lagi butuh suamiku sekarang. Kondisinya mendesak ini!" dengus Tantri langsung. Kesabarannya menipis oleh karena Mayang tak segera memberi jawaban yang jelas.Mayang terdengar menarik napas sebelum menjelaskan, "Iya, iya, baik. Aku minta maaf. Jadi, tadi aku nggak sengaja lewat jalan dan tahu mobilmu macet. Aku menawarkan bantuan, tapi suamimu bersikeras membenahi mobilnya sendiri. Terus ada telepon dari kamu, jadi aku angkat dulu karena tangan Pak Harto masih kotor.”Kini tangan Tantri yang tengah memegang ponsel sedikit bergetar. Ia berpikir tetap ada yang terasa janggal. Ia punya prasangka di tengah rasa cemburu yang mendadak ban