Share

Bab 3

Author: Jose Alatas
Saat itu, kedua pria bertopi yang berada di dalam ruangan sudah berhenti mengacak-acak barang.

Salah satu dari mereka duduk di sofa sambil merokok, sementara yang satunya menodongkan pisau ke leher wanita tersebut dan memaksanya mengatakan sesuatu.

Rio menelan ludah. Lawannya dua orang bersenjata pisau, sementara dirinya hanya membawa pentungan karet. Jelas ini bukan pertarungan yang seimbang.

Namun saat itu juga, Rio melihat ujung pisau si penjahat telah menggores kulit leher wanita itu. Tetesan darah mulai mengalir keluar.

Karena situasi saat ini sudah genting, Rio tidak bisa menunggu lagi. Dia langsung menepuk pintu keras-keras.

"Duk duk duk!"

Jam dua pagi adalah waktu yang sangat sunyi. Suara ketukan itu langsung membuat kedua penjahat dan wanita yang disandera itu terkejut setengah mati. Bahkan Rio sendiri pun sangat tegang. Telapak tangannya dan keningnya dipenuhi butiran-butiran keringat.

Sesuai dugaannya, penjahat yang memegang pisau langsung terperanjat. Penjahat lainnya yang semula merokok, juga sigap mengambil pisau dan bergerak ke arah pintu.

Berhubung tidak tahu siapa yang datang di tengah malam begini dan apakah sudah ada yang mengetahui aksi mereka, kedua penjahat itu tampak sangat gelisah.

Salah satu dari mereka mengintip melalui lubang pintu, lalu melihat seorang pria berlumuran darah berdiri di luar. Matanya bengkak parah, wajahnya juga terlihat habis dipukul habis-habisan.

Akan tetapi, siapa orang ini? Kenapa muncul di tengah malam? Apakah mereka sudah ketahuan? Tapi ... rasanya tidak mungkin.

Pria yang mengintip itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memberi isyarat dengan tangan kepada temannya. Penjahat satunya langsung paham, lalu menyeret wanita itu ke dekat pintu dan berdiri di sisi pintu untuk menyembunyikan diri.

Wanita itu pun membuka mulut dan bertanya, "Siapa di luar?"

Suaranya masih terdengar cukup tenang. Sejak awal, dia memang tidak terlalu panik, sebaliknya dia malah sangat tenang.

"Aku tetanggamu dari bawah. Ada apa dengan rumahmu? Jangan-jangan keran kamar mandi nggak ditutup? Airnya bocor ke bawah," ujar Rio berpura-pura kesal sambil sedikit meninggikan suaranya.

Salah satu penjahat menekan ujung pisaunya ke pinggang wanita itu. Wanita itu pun berkata, "Keranku sudah dimatikan. Kalau ada kebocoran, coba periksa bagian lain. Mungkin bukan dari rumahku."

"Nggak bisa! Rumahku persis di bawah tempatmu. Yang bocor pasti dari rumahmu. Cepat buka pintu! Kenapa akhir-akhir ini sering bocor terus?"

"Aku sudah bilang, bukan dari rumahku! Jangan ganggu atau aku lapor polisi!" balas si wanita berpura-pura marah.

"Silakan, lapor saja. Bahkan kalau kamu nggak lapor, aku yang akan lapor! Rumahmu bocor kenapa kamu yang galak!" sahut Rio sambil benar-benar mengeluarkan ponselnya.

Benar saja, saat pria yang mengintip lewat lubang pintu melihat Rio benar-benar hendak menelepon polisi, dia langsung panik dan memberi isyarat buru-buru pada wanita itu agar membuka pintu.

Anak ini cari mati sendiri, ya sudah ... jangan salahkan mereka nanti. Mereka jelas tidak boleh membiarkannya menelepon polisi.

"Baiklah, aku buka pintunya. Kalau kamu nggak percaya, silakan masuk dan lihat sendiri," kata si wanita saat ikatannya dilonggarkan. Dia lalu membuka pintu perlahan-lahan.

Begitu pintu itu terbuka pelan-pelan, wajah cantik wanita itu langsung terpampang di hadapan Rio. Bukan hanya wajahnya, bahkan aroma yang lembut dan menyegarkan dari tubuh wanita itu menyapa hidungnya. Rio belum pernah mencium aroma seharum ini dalam hidupnya.

Namun tentu saja, ini bukan saatnya menikmati aroma parfum. Dia tahu betul, ada dua orang pria yang bersembunyi di belakang pintu dengan senjata tajam di tangannya.

Rio sempat memicingkan mata untuk memperhatikan sejenak. Dia bisa melihat jelas, meskipun kedua penjahat itu tampak tenang, sebenarnya mereka juga merasa tegang menunggunya masuk.

Pikirannya berpacu. Kalau dia langsung memukul satu orang dengan pentungan karet, yang satunya pasti akan menusuk. Jaraknya terlalu dekat,dan Rio tidak yakin bisa menghindar secepat itu.

Meskipun dia adalah seorang satpam, bukan berarti dia ahli bela diri. Dia hanya sedikit lebih kuat dari orang biasa.

Sementara itu, di dalam rumah, wanita itu mulai berkeringat di ujung hidungnya. Dia sadar betapa berbahayanya situasi ini. Dalam hati, dia bertanya-tanya, 'Apa benar pria ini tetangga dari lantai bawah? Kenapa nekat sekali datang?'

Wanita ini yakin rumahnya tidak bocor. Jadi, alasan pria ini datang jelas ada maksud lain. Meski begitu, wanita itu tetap tersenyum sopan. "Kalau nggak percaya, silakan masuk dan lihat sendiri."

"Baik, kalau begitu ... aku masuk," jawab Rio.

Rio tahu tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi. Semakin lama, kedua penjahat ini bisa curiga. Oleh karena itu, dia menarik napas dalam-dalam dan langsung melangkah masuk.

Begitu kakinya menginjak ambang pintu, dia mengayunkan pentungan karetnya ke arah sisi kanan dengan cepat. Di saat bersamaan, Rio juga langsung merunduk.

Sebab dia tahu, penjahat satunya pasti akan menusuk! Jadi, dia harus menjatuhkan salah satu senjata secepat mungkin, lalu merunduk untuk menghindari tusukan dari sisi lain. Dalam hati, Rio juga berdoa semoga penjahat satunya bereaksi lebih lambat agar dia punya waktu!

Bukk!!

Kedua penjahat sama sekali tidak menyangka bahwa pria ini tahu mereka sedang bersembunyi di kedua sisi pintu. Salah satunya bahkan belum sempat bereaksi, lengannya langsung dihantam pentungan karet.

Pukulan itu dilakukan dengan seluruh tenaga Rio. Benar-benar seperti tenaga terakhir dalam hidupnya, bahkan dia bisa mendengar suara retakan tulang saat pukulan mendarat.

Begitu Rio merunduk, pisau dari penjahat satunya tidak jadi menusuknya. Karena entah sejak kapan, tetangganya itu juga sudah bergerak!

Seolah sudah didiskusikan bersama sebelumnya, Rio menghantam penjahat di sisi kanan dan gerakan wanita itu tidak jauh lebih lambat daripadanya. Dengan sebuah Gerakan lengan, wanita itu telah menjatuhkan pisau di tangan penjahat.

Detik berikutnya, siku penjahat itu dipelintir sampai membentuk sudut 90 derajat. Lengannya patah dengan suara yang nyaring!

"Bukk!"

Begitu pintu tertutup, Rio langsung menabrak penjahat yang tadi dihantamnya. Pentungan karetnya mendarat bertubi-tubi di wajah si penjahat tanpa ampun.

Sementara itu di sisi lain, wanita itu melakukan gerakan lemparan dan menjatuhkan penjahat satunya ke lantai dengan keras! Lalu, dia menarik dan mendorong lengan lawannya, membuat sendi bahunya langsung terlepas dari tempatnya.

Dalam waktu puluhan detik, kedua penjahat bersenjata berhasil dilumpuhkan total.

"Sudah cukup. Kalau kamu terus pukul lagi, dia bisa mati." Saat Rio masih sedang memukuli penjahat lainnya, wanita itu mulai buka suara.

Dia pun merapikan baju tidurnya yang sempat terbuka saat perkelahian tadi dengan elegan. Kemudian, dia memungut salah satu pisau dari lantai dan menyerahkannya pada Rio sambil berkata, "Jaga mereka. Aku pergi sebentar."

Sambil berkata demikian, dia berjalan ke arah kamar. Sejenak kemudian, Rio mendengar suara wanita itu berbicara, sepertinya dia sedang menelepon seseorang.

Dalam waktu kurang dari semenit, wanita itu keluar. Saat ini, dia sedang memegang sebatang rokok dan berjalan sambil menilai penampilan Rio.

Rio memegang pisau dengan sekujur tubuh yang terlihat tegang. Selama hidupnya, meskipun dia cukup sering terlibat perkelahian, tapi baru kali ini dia menghadapi situasi seperti ini. Lawannya menggunakan senjata sungguhan, lengah sedikit saja nyawanya bisa melayang.

Yang lebih membuatnya kaget lagi, ternyata tetangganya adalah seorang petarung handal.

Namun setelah dipikir-pikir, dia bisa sedikit memakluminya. Dari gerakan split yang dilakukan wanita itu dan kelenturan tubuhnya, semua itu jelas hasil latihan keras selama bertahun-tahun. Dengan kemampuan sefleksibel itu, wajar saja kalau kemampuan bertarungnya juga hebat.

"Pegang pisaunya yang benar. Kalau mereka berani macam-macam, tusuk langsung ke arah jantung,"

ucap si wanita.

Sambil berbicara, tangannya sudah kembali bergerak ke arah salah satu penjahat. Dia mencengkeram lengan pria itu, lalu mengentaknya ke arah atas hingga terdengar suara derakan. Bahu si penjahat langsung mengalami dislokasi.

Penjahat itu langsung menjerit kesakitan.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 4

    Gerakan wanita cantik itu sangat cepat dan presisi. Di saat Rio masih belum mengerti bagaimana dia melakukan semua itu, keempat lengan kedua penjahat itu telah mengalami dislokasi karenanya. Kedua penjahat itu hampir saja pingsan karena kesakitan.Sementara itu, Rio juga bergidik melihatnya. Tetangga cantiknya ini benar-benar kejam!"Anu, itu ... perlu lapor polisi nggak?" tanya Rio dengan hati-hati.Wanita itu langsung tertawa, "Nggak usah, nanti ada yang urus mereka." Setelah itu, dia kembali bertanya dengan jahil, "Kamar mandi rumahmu bocor?""Ng ... nggak.""Lalu kenapa kamu bisa tahu rumahku ada penjahat?" tanya tetangga wanita itu dengan penasaran."Aku ... aku ... cuma kebetulan melihatnya. Aku lihat mereka naik ke lantai atas dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Terus, aku lihat mereka masuk ke rumahmu.""Oh." Wanita itu tampak setengah percaya. Namun, saat melihat reaksi Rio yang gugup, dia kembali tertawa, "Nggak usah gugup, semuanya sudah baik-baik saja. Terima kasih atas b

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 5

    Sebuah sikat gigi kini melayang di depan Rio, bergerak ke kiri dan ke kanan di udara. Tubuh Rio bergetar karena terlalu bersemangat.Saat tetangganya hampir menginjak sabun tadi, entah mengapa gerakan refleksnya bisa menendang sabun itu dari jarak jauh. Karena itulah, setelah mengalihkan pandangannya dari lantai atas, Rio langsung mulai bereksperimen.Begitu dicoba, ternyata dia benar-benar bisa mengendalikan benda dari jarak jauh. Dengan memusatkan perhatiannya saat menatap benda tersebut, sikat gigi itu bisa melayang mengikuti arah pandangan matanya.Dalam radius 20 meter, dia bisa membuat sikat gigi melayang dan bergerak ke mana pun yang diinginkannya.Namun kekuatan ini tetap memiliki batasan. Misalnya, dia bisa mengendalikan gelas kosong, tapi ketika gelas itu berisi air, maka benda tersebut tidak bisa bergerak. Terlalu berat dan energinya cepat terkuras.Meski begitu, Rio tetap merasa sangat bersemangat dan tidak bisa berhenti bereksperimen. Dia mencoba berbagai benda kecil satu

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 6

    Rio baru saja menyalakan mesin mobil. Namun, seketika dia melihat Medelyn muncul di depan kap mobil bagaikan hantu.Rio mengatakannya mirip hantu karena Medelyn mengenakan riasan tebal sebelumnya. Namun, setelah disiksa semalaman, riasannya jadi luntur dan di bawah matanya tampak garis-garis hitam yang mengerikan.Sejujurnya saja, Medelyn memang menarik secara fisik. Tinggi badannya 168 cm, tubuhnya ramping, dan dengan sepatu hak tinggi, dia terlihat seperti wanita berkaki jenjang. Namun ketika Rio melihatnya lagi, yang muncul di dalam hatinya hanyalah rasa jijik dan muak.Aulia juga melihat gadis yang berdiri di depan mobil itu. Saat hendak menurunkan kaca jendela untuk berbicara, gadis itu lebih dulu meletakkan tangan di pinggang dan menunjuk Rio sambil berteriak, "Rio! Turun kamu!"Nada bicaranya begitu arogan, seakan-akan menangkap basah pasangan yang berselingkuh di tempat kejadian. Tatapannya menusuk, terutama saat melirik ke arah Aulia dengan penuh kebencian dan penghinaan.Auli

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 7

    "Fathian, coba saja sentuh dia kalau berani?"Begitu Aulia selesai menelepon dan membalikkan badan, dia langsung melihat Fathian berlari ke arah mereka.Namun saat Aulia buka suara, langkah Fathian yang tadinya garang langsung terhenti. Dua orang anak buahnya yang mengikuti dari belakang pun ikut terdiam di tempat. Dua tongkat bisbol yang mereka bawa, terlepas begitu saja dan terjatuh ke tanah.Sementara itu, Medelyn yang tadi sepertinya tidak mendengar perkataan Aulia, langsung bangkit dan berlari ke pelukan Fathian.Air matanya mengalir deras saat dia mengadu, "Pak Fathian, perempuan jalang itu yang menamparku. Lihat ... lihat wajahku sampai bengkak begini.""Pak Fathian, kamu harus balas dendam untukaku. Jangan biarkan pasangan berengsek ini lolos begitu saja."Mendengar hal itu, Fathian seperti baru tersadar. Seketika, dia mengangkat tangannya dan menampar wajah Medelyn sekeras-kerasnya dengan segenap kekuatannya. Tamparan itu membuat Medelyn berputar, lalu jatuh terjerembap ke tan

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 8

    "Kak Aulia, penjahat semalam ... apa mereka dikirim sama pria tua tadi?" tanya Rio di dalam mobil.Saat itu Aulia sedang menyetir dan Rio duduk di kursi penumpang depan. Dia masih memikirkan ucapan Aulia saat di restoran, lalu memberanikan diri menebak, mungkin penjahat semalam memang ada hubungannya dengan Pak Tambun tadi.Aulia tersenyum. "Eh, lumayan juga otaknya.""Tapi si Tambun itu cuma pion kecil." Aulia tertawa ringan."Kalau begitu ... kenapa dia mau membunuhmu?" tanya Rio tak paham."Urusan bisnis," jawab Aulia singkat.Sambil bicara, dia memarkirkan mobil di pinggir jalan. Matanya sesekali melirik ke kaca spion dalam."Aku tadinya mau ajak kamu jalan-jalan ke pemandian air panas, naik gunung, dan semacamnya .... Tapi sepertinya hari ini nggak bisa. Besok saja ya. Besok pagi, tunggu aku di rumahmu.""Oke ...." Rio menggaruk kepala, sepertinya Aulia sedang menyuruhnya turun.Namun, saat dia sudah membuka pintu mobil dan satu kakinya keluar, dia tiba-tiba berpikir sejenak, lalu

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 9

    Sebenarnya, saat itu Rio sudah tidak mendengar apa yang dikatakan Aulia lagi. Karena kedekatan Aulia yang begitu berani telah membuat pikirannya kacau balau. Harus diakui, pesona Aulia benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Medelyn. Dari sisi tubuh dan aura yang dimilikinya, Aulia jelas jauh di atas Medelyn.Selain itu, Aulia memancarkan aura yang sangat dewasa. Apalagi saat ini mereka sedang berendam bersama di kolam air panas. Aulia tidak perlu menunduk sekalipun, Rio sudah bisa melihat jelas lekuk tubuhnya yang menggoda.Ditambah aroma parfum yang samar dari tubuh Aulia, bercampur dengan harum kelopak mawar di air.Jangankan Rio, bahkan pertapa pun mungkin akan goyah!Rio merasa panas di bagian perut semakin membara, kepalanya pun berdenyut tak karuan. Aulia masih berbicara, tapi Rio sudah tidak mendengar sepatah kata pun.Namun, tepat saat dia larut dalam momen yang penuh godaan itu, tiba-tiba pintu Paviliun Foniks didobrak keras dari luar. Belum sempat Rio bereaksi, Aulia lang

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 10

    Malam pun tiba. Setelah pulang ke rumah dan mengganti seragam satpam, Rio langsung menuju ke Bar TOP. Dia tidak makan siang dan untuk makan malam pun dia hanya menyantap mie instan.Bar TOP memiliki sepuluh orang satpam. Namun, di zaman sekarang, pekerjaan satpam sangat berbeda dengan dua atau tiga dekade lalu. Kalau dulu, satpam di tempat hiburan malam itu identik dengan tukang jaga preman yang suka berkelahi, bahkan tak jarang terlibat dalam kegiatan ilegal.Sekarang, tugas satpam di tempat hiburan hanya sebatas menjaga ketertiban. Kalaupun ada tamu mabuk yang berbuat onar, barulah mereka turun tangan.Faktanya, ada banyak bar berskala besar yang menyerahkan urusan keamanannya kepada perusahaan jasa keamanan. Jadi, di kota-kota besar, perusahaan jasa keamanan dan manajemen properti sangat marak.Namun, Rio tidak begitu disukai di tim keamanan. Alasannya karena kakak sepupunya. Kakak sepupunya pernah berkelahi dengan kepala tim keamanan, kabarnya karena rebutan seorang wanita.Sejak s

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 11

    Rio melihat berbagai macam orang di tempat ini. Hal ini benar-benar membuka wawasannya.Pukul sebelas malam, saat Rio sedang semangat-semangatnya menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk mengintip para tamu wanita, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. "Rio!""Kak Joran, bikin kaget saja!" Rio langsung terperanjat. Dia sempat mengira bahwa aksi mengintipnya ketahuan.Joran adalah seorang pesulap yang sering tampil di bar ini, jadi dia cukup akrab dengan Rio yang bertugas menjaga pintu belakang. Joran adalah salah satu dari segelintir teman Rio."Lihat apa yang kubawakan?" Joran mengeluarkan sebuah paha ayam yang dibungkus kertas cokelat, seperti sedang memainkan trik sulap."Terima kasih, Kak Joran! Kenapa kamu tahu aku belum makan malam?"Rio memang tidak berbasa-basi karena memang perutnya sudah keroncongan. Dia hanya makan beberapa bungkus mie instan tadi, sehingga perutnya kelaparan. Dia pun langsung menyantapnya dengan lahap.Joran tersenyum. "Pelan-pelan makannya, aku j

Pinakabagong kabanata

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 50

    Pada pukul 13.30, Rio dan Cheryl bertemu di hotel yang terletak di luar pusat pameran. Cheryl memakai masker dan kacamata hitam besar saat datang. Dia terlihat seperti hendak berselingkuh dengan Rio. Sebenarnya, Cheryl keluar tanpa sepengetahuan Zafir. Pada sore hari, Zafir tidak berada di platform pameran. Jadi, Cheryl menyuruh bawahan untuk mengawasi dan dia keluar untuk bertemu dengan Rio.Terdengar suara berderit saat pintu kamar hotel dibuka. Cheryl langsung mengunci pintu setelah masuk. Dia juga menepuk dadanya.Cheryl merasa sangat antusias bisa bertemu dengan Rio. Namun, dia juga takut diketahui Zafir.Kala ini, Rio sedang duduk di tempat tidur. Dia mengisap rokok sambil sambil memandangi Cheryl. Rio tersenyum lebar.Cheryl tersenyum dan berucap, "Nanti kita baru bicara. Kamu tunggu aku mandi dulu. Pusat pameran sangat panas, seperti sauna."Cheryl melepaskan sepatu hak tingginya sembari bicara. Dia menarik ritsleting gaunnya, lalu gaunnya jatuh ke lantai.Jantung Rio berdegup

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 49

    Mereka tidak mempunyai keahlian dan tidak bisa berbisnis. Mereka menghabiskan masa muda pada karier yang tidak menjanjikan seperti ini.Tentu saja, mereka juga merasa tidak rela. Namun, apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya orang biasa.Tiba-tiba, Fleko bertanya, "Rio, apa kamu punya cara untuk menghasilkan banyak uang?"Mata Devon berbinar-binar. Dia memang tidak ingin menjadi satpam lagi. Hal ini karena menjadi satpam di Kelab Emperor terlalu sulit. Jadi, dia memandangi Rio dengan penuh penantian.Rio berpikir sejenak, lalu mengangguk dan menjawab, "Apa kalian pernah mendengar tentang judi batu? Batu giok mentah?"Sewaktu Rio mengantar Cheryl dan Zafir kemarin malam, Zafir menceritakan banyak hal tentang pergi ke Moramar untuk mengikuti judi batu. Dia juga menceritakan pengalaman mendebarkan saat 2 truk batu-batunya itu dikirim ke dalam negeri.Rio sangat menikmati cerita Zafir. Pengalaman itu sangat seru dan berbahaya, tetapi juga menghasilkan banyak keuntungan.Waktu itu, Rio

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 48

    Devon dan Fleko merasa ada yang tidak beres. Rio sangat aneh. Dia pasti merasakan sakit hati yang berlebihan, lalu menjadi gila. Hal ini karena sekarang mata Rio berbinar-binar.Biasanya, mata orang yang mengalami gangguan jiwa selalu berbinar-binar. Mata mereka berbeda dengan orang biasa. Sekarang mata Rio sama persis dengan orang gila."Rio, ayo kita bicara di luar," ujar Devon. Dia dan Fleko bertatapan, lalu hendak membawa Rio keluar.Sudah jelas Rio menjadi gila. Kalau mereka membiarkan Rio memesan banyak makanan dan 3 botol wiski di restoran ini, mereka pasti celaka. Mereka bertiga tidak sanggup membayarnya.Namun, Rio langsung melempar kunci mobil BMW ke atas meja saat mereka berdua baru merangkul lengannya. Keduanya tertegun begitu melihat logo mobil BMW.Ada apa ini? Kenapa Rio mempunyai kunci mobil BMW? Rio berdiri, lalu mendorong mereka berdua kembali ke tempat duduk dan mendesak, "Cepat pesan makanan. Kita mengobrol sambil makan."Rio mengeluarkan setumpuk uang dari bawah ka

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 47

    Fenny langsung berdiri dan buru-buru naik ke lantai atas dari pintu belakang. Sekitar 5 menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Kemudian, kepala cabang membawa Fenny dan seorang wanita paruh baya datang.Seperti biasa, kepala cabang dan wakilnya menyapa Rio, lalu Rio menjelaskan tujuan kedatangannya. Dia juga mengatakan Fenny yang membuatnya tertarik untuk membuka rekening di bank ini.Satu jam kemudian, Rio sudah menyelesaikan prosedur pembukaan rekening. Fenny langsung naik pangkat menjadi manajer yang khusus melayani Rio.Sementara itu, Rio juga meminta cuti untuk Fenny kepada kepala cabang. Dia mengatakan ingin membawa Fenny berobat.Biarpun Fenny memakai kacamata dan masker, kepala cabang sangat jeli. Mana mungkin dia tidak menyadari Fenny dipukul?Jadi, kepala cabang melambaikan tangannya dan mengizinkan Fenny beristirahat beberapa hari. Dia baru kerja setelah sembuh.Fenny sudah menarik nasabah dengan simpanan hampir mencapai 1 triliun. Dia memberikan kont

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 46

    Tempat tidur kamar suite hotel bintang lima memang nyaman, tetapi malam ini Rio malah tidak bisa tidur dengan tenang. Dia sangat gelisah dan sulit terlelap.Bagaimanapun, Rio adalah orang yang sangat miskin. Jadi, dia masih sangat antusias karena mendadak beruntung dan menjadi kaya.Selain itu, Rio mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Dia diselingkuhi pacarnya, melakukan pembunuhan, digoda janda, dan lainnya. Sepertinya Rio menjadi dewasa dalam waktu singkat.Dulu, Rio tidak pernah serius menjalani hidupnya. Bahkan, bisa dibilang dia sangat picik. Sekarang Rio mendapatkan pencerahan dan melihat harapan yang berbeda dalam hidupnya.Rio sudah bersemangat pagi-pagi. Dia bangun, lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Rio yang membeli 4 set pakaian sekaligus semalam tidak memakai setelan jas atau sepatu kulit.Sebenarnya semalam Rio belanja karena kesal. Meskipun pakaian mewah bisa meningkatkan karisma seseorang, Rio ingin memakai baju kasual.Jadi, Rio hanya memakai sepatu sport mahal

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 45

    Sekarang, kenapa pria ini tiba-tiba jadi bermuka tebal?Namun, Aulia sudah berpengalaman. Sudah banyak hal yang dia alami. Julukan Janda Maut bukan hanya julukan kosong."Rio, kamu anggap aku ini wanita seperti apa?" Dari seberang telepon, suara Aulia terdengar bergetar, penuh kemarahan dan kesedihan."Aku kira kamu pria yang baik, tapi kamu ... kamu mengecewakanku. Ternyata kamu sama saja seperti mereka ... cuma mau menindasku!"Usai mengatakan itu, Aulia langsung menutup telepon. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam dan malah tersenyum.Aulia melirik jam tangannya dan mulai menghitung mundur. Dalam waktu semenit, Rio pasti akan menelepon balik.'Bocah ingusan! Mau main sama aku? Kamu masih kurang pengalaman!' batin Aulia.Di dalam kamar suite, Rio terbengong. Dia sama sekali tidak menyangka Aulia akan bereaksi seperti ini. Wanita itu seperti sangat kecewa dan sedih!Rio bisa membayangkan wajah Aulia yang penuh kesedihan. Aulia menganggapnya sama seperti pria lain yang hanya mengin

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 44

    Di kamar suite Grand Victus, Rio terus membasuh wajahnya dengan air dingin. Di usia 20-an tahun, dia sedang berada di puncak gairahnya.Terlebih lagi setelah otaknya mengalami perkembangan misterius, terutama sejak mendapatkan kekuatan banteng, fisiknya benar-benar berubah.Tak ada sedikit pun lemak yang tersisa, garis ototnya jelas, sosoknya penuh dengan aura maskulin yang luar biasa kuat.Alasan Rio berkali-kali membasuh wajahnya dengan air dingin karena dia harus menenangkan diri. Jika tidak, dia benar-benar ingin memanggil dua wanita ke kamarnya dan melampiaskan semuanya!Seakan-akan ingin membalas semua penderitaannya di masa lalu, Rio ingin membebaskan diri dan bersenang-senang sepuasnya!Namun, dia juga ragu karena dia masih perjaka. Kalau dia benar-benar memberikan kesuciannya pada wanita penghibur, bukankah itu terlalu disayangkan?Jadi, satu-satunya cara adalah menahan diri dengan cara ini.Tepat pada saat itu, ponselnya kembali berdering. Rio tidak langsung mengangkatnya. Di

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 43

    Bram adalah salah satu orang kepercayaan bos Bar TOP, Sugi. Selain itu, Bram juga adalah manajer bar ini.Dulu, Bram adalah sosok yang ditakuti. Tiga puluh tahun lalu, hanya dengan sebuah sekop besi, dia menghajar 20 orang sekaligus. Pertarungan itu membuat namanya melambung tinggi. Tentu saja, sekarang dia sudah pensiun dan punya saham di bar ini."Kenapa? Bocah itu nggak balik?" Di sofa, Fathian duduk santai sambil menyilangkan kakinya. Dia tertawa sinis, lalu mengejek, "Pak Bram, kamu lemah sekali. Satpam saja berani membantahmu.""Bajingan itu bilang dia mengundurkan diri. Sialan, buat naik darah!" maki Bram."Oh? Mengundurkan diri?" Fathian memang berjanji pada Medelyn untuk membuat Rio dipecat dari Bar TOP.Siapa sangka, sebelum dia sempat bertindak, Rio sudah mengundurkan diri. "Ya sudah, biarin saja."Fathian tidak mengusut masalah ini lagi. Toh dia sudah meniduri wanita Rio dan sekarang Rio juga berinisiatif mengundurkan diri dari bar ini. Jadi, tidak ada lagi hal menarik untu

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 42

    Saat Delon dan Fenny bertengkar di rumah, Aulia terbangun dari tidurnya. Sejak siang tadi setelah menelepon Rio, dia langsung tidur.Semalam, dia tidak bisa beristirahat dengan baik. Jadi, ketika dia bangun sekarang, hari sudah hampir gelap.Namun, Aulia merasa aneh, kenapa Rio belum datang menemuinya? Dia melihat ponselnya, tidak ada panggilan tak terjawab, juga tidak ada pesan di WhatsApp."Apa mungkin tadi dia sempat mengetuk pintu, tapi aku nggak dengar?" Aulia menepuk dahinya. Kalau dia tidur begitu lelap, mungkin Rio sudah kesal setengah mati sekarang."Ya, ya, cowok dewasa yang gampang ngambek." Aulia meregangkan tubuh, lalu mengambil kunci dan turun ke bawah.Tak lama kemudian, dia mengetuk pintu apartemen Rio. Setelah mengetuk cukup lama, tidak ada respons dari dalam."Apa mungkin dia lagi kerja? Oh ya, hari ini dia sif malam!" Aulia menepuk dahinya lagi, lalu buru-buru kembali ke kamarnya untuk menelepon Rio. Namun, tidak ada yang mengangkat."Ya sudahlah, aku ke bar saja bua

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status