"Kak Aulia, penjahat semalam ... apa mereka dikirim sama pria tua tadi?" tanya Rio di dalam mobil.Saat itu Aulia sedang menyetir dan Rio duduk di kursi penumpang depan. Dia masih memikirkan ucapan Aulia saat di restoran, lalu memberanikan diri menebak, mungkin penjahat semalam memang ada hubungannya dengan Pak Tambun tadi.Aulia tersenyum. "Eh, lumayan juga otaknya.""Tapi si Tambun itu cuma pion kecil." Aulia tertawa ringan."Kalau begitu ... kenapa dia mau membunuhmu?" tanya Rio tak paham."Urusan bisnis," jawab Aulia singkat.Sambil bicara, dia memarkirkan mobil di pinggir jalan. Matanya sesekali melirik ke kaca spion dalam."Aku tadinya mau ajak kamu jalan-jalan ke pemandian air panas, naik gunung, dan semacamnya .... Tapi sepertinya hari ini nggak bisa. Besok saja ya. Besok pagi, tunggu aku di rumahmu.""Oke ...." Rio menggaruk kepala, sepertinya Aulia sedang menyuruhnya turun.Namun, saat dia sudah membuka pintu mobil dan satu kakinya keluar, dia tiba-tiba berpikir sejenak, lalu
Sebenarnya, saat itu Rio sudah tidak mendengar apa yang dikatakan Aulia lagi. Karena kedekatan Aulia yang begitu berani telah membuat pikirannya kacau balau. Harus diakui, pesona Aulia benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Medelyn. Dari sisi tubuh dan aura yang dimilikinya, Aulia jelas jauh di atas Medelyn.Selain itu, Aulia memancarkan aura yang sangat dewasa. Apalagi saat ini mereka sedang berendam bersama di kolam air panas. Aulia tidak perlu menunduk sekalipun, Rio sudah bisa melihat jelas lekuk tubuhnya yang menggoda.Ditambah aroma parfum yang samar dari tubuh Aulia, bercampur dengan harum kelopak mawar di air.Jangankan Rio, bahkan pertapa pun mungkin akan goyah!Rio merasa panas di bagian perut semakin membara, kepalanya pun berdenyut tak karuan. Aulia masih berbicara, tapi Rio sudah tidak mendengar sepatah kata pun.Namun, tepat saat dia larut dalam momen yang penuh godaan itu, tiba-tiba pintu Paviliun Foniks didobrak keras dari luar. Belum sempat Rio bereaksi, Aulia lang
Malam pun tiba. Setelah pulang ke rumah dan mengganti seragam satpam, Rio langsung menuju ke Bar TOP. Dia tidak makan siang dan untuk makan malam pun dia hanya menyantap mie instan.Bar TOP memiliki sepuluh orang satpam. Namun, di zaman sekarang, pekerjaan satpam sangat berbeda dengan dua atau tiga dekade lalu. Kalau dulu, satpam di tempat hiburan malam itu identik dengan tukang jaga preman yang suka berkelahi, bahkan tak jarang terlibat dalam kegiatan ilegal.Sekarang, tugas satpam di tempat hiburan hanya sebatas menjaga ketertiban. Kalaupun ada tamu mabuk yang berbuat onar, barulah mereka turun tangan.Faktanya, ada banyak bar berskala besar yang menyerahkan urusan keamanannya kepada perusahaan jasa keamanan. Jadi, di kota-kota besar, perusahaan jasa keamanan dan manajemen properti sangat marak.Namun, Rio tidak begitu disukai di tim keamanan. Alasannya karena kakak sepupunya. Kakak sepupunya pernah berkelahi dengan kepala tim keamanan, kabarnya karena rebutan seorang wanita.Sejak s
Rio melihat berbagai macam orang di tempat ini. Hal ini benar-benar membuka wawasannya.Pukul sebelas malam, saat Rio sedang semangat-semangatnya menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk mengintip para tamu wanita, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. "Rio!""Kak Joran, bikin kaget saja!" Rio langsung terperanjat. Dia sempat mengira bahwa aksi mengintipnya ketahuan.Joran adalah seorang pesulap yang sering tampil di bar ini, jadi dia cukup akrab dengan Rio yang bertugas menjaga pintu belakang. Joran adalah salah satu dari segelintir teman Rio."Lihat apa yang kubawakan?" Joran mengeluarkan sebuah paha ayam yang dibungkus kertas cokelat, seperti sedang memainkan trik sulap."Terima kasih, Kak Joran! Kenapa kamu tahu aku belum makan malam?"Rio memang tidak berbasa-basi karena memang perutnya sudah keroncongan. Dia hanya makan beberapa bungkus mie instan tadi, sehingga perutnya kelaparan. Dia pun langsung menyantapnya dengan lahap.Joran tersenyum. "Pelan-pelan makannya, aku j
Pukul empat pagi, Rio akhirnya selesai bekerja dan naik ke mobil milik Joran. Joran juga seorang perantau, sudah bertahun-tahun dia bekerja keras di Kota Jouston. Namun, sekarang dia sudah punya rumah kecil dan mobil sendiri. Mobilnya memang bukan mobil mewah, tapi tetap saja harganya sekitar ratusan juta dan jenisnya SUV pula.Joran mengajak Rio ke sebuah warung camilan. Meski sudah lewat jam empat subuh, tempat itu masih ramai oleh orang-orang yang makan. Ada nasi goreng, mie goreng, sate bakar, dan makanan lainnya."Kenapa kamu nggak nanya alasan aku nyuruh kamu menjauhi perempuan itu?" Joran memang sudah lama akrab dengan Rio, jadi dia selalu berbicara terus terang dengannya."Kamu nggak mungkin nyakitin aku. Kalau kamu suruh aku menjauh darinya, berarti dia yang bisa nyakitin aku. Aku 'kan nggak bego," kata Rio.Joran tertawa, "Tapi kamu nggak penasaran gimana cara dia bisa nyakitin kamu?" katanya sambil mengunyah."Gimana cara dia nyakitin aku?" Akhirnya Rio bertanya juga.Joran
"Kakakku benar-benar nggak beruntung!" Pemuda itu menghela napas saat berkata, "Wanita secantik ini belum sempat dinikmatinya, sepertinya dia nggak bakal tenang setelah meninggal, bukan?""Nenek bilang, kamu ini pembawa sial untuk suami, jadi dia memperingatkanku untuk menghindarimu. Jujur saja, aku juga sempat takut. Meskipun aku takut, saudara-saudaraku di sini belum tentu takut, bukan?""Mm mm ...." Di sekeliling pemuda itu berdiri enam pria bermantel hitam. Saat ini, tatapan mereka tampak berbinar.Wanita secantik Aulia ini memang terkenal di Kota Jouston. Konon katanya, Aulia memiliki rasi "harimau putih". Tentu saja, orang yang memiliki rasi ini juga terkenal karena membawa sial bagi suaminya!Lima tahun lalu, cucu tertua dari Keluarga Fortran di Kota Jouston menikahi Aulia. Pernikahannya saat itu menggemparkan seluruh daerah di sekitarnya. Acara pernikahan mereka luar biasa megah, sampai-sampai masih diingat oleh banyak orang sampai sekarang.Keluarga Fortran mengadakan pesta be
Aulia sama sekali tidak menggubris keenam pria bermantel hitam itu. Dia terus memprovokasi Gilbert, "Ternyata kamu memang penakut ya? Tapi ingat baik-baik, kalau aku nggak mati hari ini, suatu hari nanti aku sendiri yang akan membunuhmu.""Kamu mungkin nggak akan sempat menunggu hari itu datang.""Bambang, lakukan. Gilir dia," perintah Gilbert dengan wajah pucat.Bambang dan kelima pria lainnya langsung mengelilingi Aulia. Namun, di saat itu, suara dari walkie-talkie di pinggang Bambang tiba-tiba berbunyi. "Kak Bambang, ada taksi baru saja datang.""Hah?" Keenam pembunuh itu tertegun. Bahkan Gilbert pun langsung mengernyitkan dahi.Bambang menekan tombol di walkie-talkie dan bertanya, "Ada apa?""Taksi itu sudah pergi, tapi seorang pria turun dari mobil. Umurnya sekitar 20-an, sekarang dia sedang berjalan masuk ke arah lobi depan.""Pak Gilbert, gimana?" Bambang melirik ke arah Gilbert.Gilbert langsung mengambil alih walkie-talkie dari tangan Bambang. "Tanya dia mau apa. Kalau nggak a
Krak!Rio mendengar suara retakan tulang dada dari tubuh pria bermantel hitam itu. Dalam sekejap, pria itu menyemburkan darah dari hidung dan mulut, lalu tergeletak di lantai dengan mata memelotot.Rio memang seorang satpam. Namun, dia tidak pernah belajar bela diri, bahkan nyaris belum pernah benar-benar berkelahi.Ledakan tenaga barusan sepenuhnya berasal dari dorongan insting dan rasa nekat karena situasi yang mendesak. Dia bahkan tidak tahu apakah pria itu akan mati atau tidak. Bahkan saat ini, kedua tangannya masih gemetar hebat.Satu hal lagi, tadi dia menggunakan kemampuan mengendalikan benda.Rio tidak menyangka bahwa rasanya semudah itu saat dia mengendalikan pulpen tadi. Bahkan, dia merasa tidak perlu menatap benda itu untuk menggerakkannya, cukup dengan niat dan pikirannya saja.Ini adalah penemuan tak terduga baginya.Rio menarik napas panjang berulang kali untuk memaksa dirinya tetap tenang. Kemudian, dia mencabut belati bermata tiga dari pinggang pria itu.Belati itu mema
Pada pukul 13.30, Rio dan Cheryl bertemu di hotel yang terletak di luar pusat pameran. Cheryl memakai masker dan kacamata hitam besar saat datang. Dia terlihat seperti hendak berselingkuh dengan Rio. Sebenarnya, Cheryl keluar tanpa sepengetahuan Zafir. Pada sore hari, Zafir tidak berada di platform pameran. Jadi, Cheryl menyuruh bawahan untuk mengawasi dan dia keluar untuk bertemu dengan Rio.Terdengar suara berderit saat pintu kamar hotel dibuka. Cheryl langsung mengunci pintu setelah masuk. Dia juga menepuk dadanya.Cheryl merasa sangat antusias bisa bertemu dengan Rio. Namun, dia juga takut diketahui Zafir.Kala ini, Rio sedang duduk di tempat tidur. Dia mengisap rokok sambil sambil memandangi Cheryl. Rio tersenyum lebar.Cheryl tersenyum dan berucap, "Nanti kita baru bicara. Kamu tunggu aku mandi dulu. Pusat pameran sangat panas, seperti sauna."Cheryl melepaskan sepatu hak tingginya sembari bicara. Dia menarik ritsleting gaunnya, lalu gaunnya jatuh ke lantai.Jantung Rio berdegup
Mereka tidak mempunyai keahlian dan tidak bisa berbisnis. Mereka menghabiskan masa muda pada karier yang tidak menjanjikan seperti ini.Tentu saja, mereka juga merasa tidak rela. Namun, apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya orang biasa.Tiba-tiba, Fleko bertanya, "Rio, apa kamu punya cara untuk menghasilkan banyak uang?"Mata Devon berbinar-binar. Dia memang tidak ingin menjadi satpam lagi. Hal ini karena menjadi satpam di Kelab Emperor terlalu sulit. Jadi, dia memandangi Rio dengan penuh penantian.Rio berpikir sejenak, lalu mengangguk dan menjawab, "Apa kalian pernah mendengar tentang judi batu? Batu giok mentah?"Sewaktu Rio mengantar Cheryl dan Zafir kemarin malam, Zafir menceritakan banyak hal tentang pergi ke Moramar untuk mengikuti judi batu. Dia juga menceritakan pengalaman mendebarkan saat 2 truk batu-batunya itu dikirim ke dalam negeri.Rio sangat menikmati cerita Zafir. Pengalaman itu sangat seru dan berbahaya, tetapi juga menghasilkan banyak keuntungan.Waktu itu, Rio
Devon dan Fleko merasa ada yang tidak beres. Rio sangat aneh. Dia pasti merasakan sakit hati yang berlebihan, lalu menjadi gila. Hal ini karena sekarang mata Rio berbinar-binar.Biasanya, mata orang yang mengalami gangguan jiwa selalu berbinar-binar. Mata mereka berbeda dengan orang biasa. Sekarang mata Rio sama persis dengan orang gila."Rio, ayo kita bicara di luar," ujar Devon. Dia dan Fleko bertatapan, lalu hendak membawa Rio keluar.Sudah jelas Rio menjadi gila. Kalau mereka membiarkan Rio memesan banyak makanan dan 3 botol wiski di restoran ini, mereka pasti celaka. Mereka bertiga tidak sanggup membayarnya.Namun, Rio langsung melempar kunci mobil BMW ke atas meja saat mereka berdua baru merangkul lengannya. Keduanya tertegun begitu melihat logo mobil BMW.Ada apa ini? Kenapa Rio mempunyai kunci mobil BMW? Rio berdiri, lalu mendorong mereka berdua kembali ke tempat duduk dan mendesak, "Cepat pesan makanan. Kita mengobrol sambil makan."Rio mengeluarkan setumpuk uang dari bawah ka
Fenny langsung berdiri dan buru-buru naik ke lantai atas dari pintu belakang. Sekitar 5 menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Kemudian, kepala cabang membawa Fenny dan seorang wanita paruh baya datang.Seperti biasa, kepala cabang dan wakilnya menyapa Rio, lalu Rio menjelaskan tujuan kedatangannya. Dia juga mengatakan Fenny yang membuatnya tertarik untuk membuka rekening di bank ini.Satu jam kemudian, Rio sudah menyelesaikan prosedur pembukaan rekening. Fenny langsung naik pangkat menjadi manajer yang khusus melayani Rio.Sementara itu, Rio juga meminta cuti untuk Fenny kepada kepala cabang. Dia mengatakan ingin membawa Fenny berobat.Biarpun Fenny memakai kacamata dan masker, kepala cabang sangat jeli. Mana mungkin dia tidak menyadari Fenny dipukul?Jadi, kepala cabang melambaikan tangannya dan mengizinkan Fenny beristirahat beberapa hari. Dia baru kerja setelah sembuh.Fenny sudah menarik nasabah dengan simpanan hampir mencapai 1 triliun. Dia memberikan kont
Tempat tidur kamar suite hotel bintang lima memang nyaman, tetapi malam ini Rio malah tidak bisa tidur dengan tenang. Dia sangat gelisah dan sulit terlelap.Bagaimanapun, Rio adalah orang yang sangat miskin. Jadi, dia masih sangat antusias karena mendadak beruntung dan menjadi kaya.Selain itu, Rio mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Dia diselingkuhi pacarnya, melakukan pembunuhan, digoda janda, dan lainnya. Sepertinya Rio menjadi dewasa dalam waktu singkat.Dulu, Rio tidak pernah serius menjalani hidupnya. Bahkan, bisa dibilang dia sangat picik. Sekarang Rio mendapatkan pencerahan dan melihat harapan yang berbeda dalam hidupnya.Rio sudah bersemangat pagi-pagi. Dia bangun, lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Rio yang membeli 4 set pakaian sekaligus semalam tidak memakai setelan jas atau sepatu kulit.Sebenarnya semalam Rio belanja karena kesal. Meskipun pakaian mewah bisa meningkatkan karisma seseorang, Rio ingin memakai baju kasual.Jadi, Rio hanya memakai sepatu sport mahal
Sekarang, kenapa pria ini tiba-tiba jadi bermuka tebal?Namun, Aulia sudah berpengalaman. Sudah banyak hal yang dia alami. Julukan Janda Maut bukan hanya julukan kosong."Rio, kamu anggap aku ini wanita seperti apa?" Dari seberang telepon, suara Aulia terdengar bergetar, penuh kemarahan dan kesedihan."Aku kira kamu pria yang baik, tapi kamu ... kamu mengecewakanku. Ternyata kamu sama saja seperti mereka ... cuma mau menindasku!"Usai mengatakan itu, Aulia langsung menutup telepon. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam dan malah tersenyum.Aulia melirik jam tangannya dan mulai menghitung mundur. Dalam waktu semenit, Rio pasti akan menelepon balik.'Bocah ingusan! Mau main sama aku? Kamu masih kurang pengalaman!' batin Aulia.Di dalam kamar suite, Rio terbengong. Dia sama sekali tidak menyangka Aulia akan bereaksi seperti ini. Wanita itu seperti sangat kecewa dan sedih!Rio bisa membayangkan wajah Aulia yang penuh kesedihan. Aulia menganggapnya sama seperti pria lain yang hanya mengin
Di kamar suite Grand Victus, Rio terus membasuh wajahnya dengan air dingin. Di usia 20-an tahun, dia sedang berada di puncak gairahnya.Terlebih lagi setelah otaknya mengalami perkembangan misterius, terutama sejak mendapatkan kekuatan banteng, fisiknya benar-benar berubah.Tak ada sedikit pun lemak yang tersisa, garis ototnya jelas, sosoknya penuh dengan aura maskulin yang luar biasa kuat.Alasan Rio berkali-kali membasuh wajahnya dengan air dingin karena dia harus menenangkan diri. Jika tidak, dia benar-benar ingin memanggil dua wanita ke kamarnya dan melampiaskan semuanya!Seakan-akan ingin membalas semua penderitaannya di masa lalu, Rio ingin membebaskan diri dan bersenang-senang sepuasnya!Namun, dia juga ragu karena dia masih perjaka. Kalau dia benar-benar memberikan kesuciannya pada wanita penghibur, bukankah itu terlalu disayangkan?Jadi, satu-satunya cara adalah menahan diri dengan cara ini.Tepat pada saat itu, ponselnya kembali berdering. Rio tidak langsung mengangkatnya. Di
Bram adalah salah satu orang kepercayaan bos Bar TOP, Sugi. Selain itu, Bram juga adalah manajer bar ini.Dulu, Bram adalah sosok yang ditakuti. Tiga puluh tahun lalu, hanya dengan sebuah sekop besi, dia menghajar 20 orang sekaligus. Pertarungan itu membuat namanya melambung tinggi. Tentu saja, sekarang dia sudah pensiun dan punya saham di bar ini."Kenapa? Bocah itu nggak balik?" Di sofa, Fathian duduk santai sambil menyilangkan kakinya. Dia tertawa sinis, lalu mengejek, "Pak Bram, kamu lemah sekali. Satpam saja berani membantahmu.""Bajingan itu bilang dia mengundurkan diri. Sialan, buat naik darah!" maki Bram."Oh? Mengundurkan diri?" Fathian memang berjanji pada Medelyn untuk membuat Rio dipecat dari Bar TOP.Siapa sangka, sebelum dia sempat bertindak, Rio sudah mengundurkan diri. "Ya sudah, biarin saja."Fathian tidak mengusut masalah ini lagi. Toh dia sudah meniduri wanita Rio dan sekarang Rio juga berinisiatif mengundurkan diri dari bar ini. Jadi, tidak ada lagi hal menarik untu
Saat Delon dan Fenny bertengkar di rumah, Aulia terbangun dari tidurnya. Sejak siang tadi setelah menelepon Rio, dia langsung tidur.Semalam, dia tidak bisa beristirahat dengan baik. Jadi, ketika dia bangun sekarang, hari sudah hampir gelap.Namun, Aulia merasa aneh, kenapa Rio belum datang menemuinya? Dia melihat ponselnya, tidak ada panggilan tak terjawab, juga tidak ada pesan di WhatsApp."Apa mungkin tadi dia sempat mengetuk pintu, tapi aku nggak dengar?" Aulia menepuk dahinya. Kalau dia tidur begitu lelap, mungkin Rio sudah kesal setengah mati sekarang."Ya, ya, cowok dewasa yang gampang ngambek." Aulia meregangkan tubuh, lalu mengambil kunci dan turun ke bawah.Tak lama kemudian, dia mengetuk pintu apartemen Rio. Setelah mengetuk cukup lama, tidak ada respons dari dalam."Apa mungkin dia lagi kerja? Oh ya, hari ini dia sif malam!" Aulia menepuk dahinya lagi, lalu buru-buru kembali ke kamarnya untuk menelepon Rio. Namun, tidak ada yang mengangkat."Ya sudahlah, aku ke bar saja bua