"Kakakku benar-benar nggak beruntung!" Pemuda itu menghela napas saat berkata, "Wanita secantik ini belum sempat dinikmatinya, sepertinya dia nggak bakal tenang setelah meninggal, bukan?""Nenek bilang, kamu ini pembawa sial untuk suami, jadi dia memperingatkanku untuk menghindarimu. Jujur saja, aku juga sempat takut. Meskipun aku takut, saudara-saudaraku di sini belum tentu takut, bukan?""Mm mm ...." Di sekeliling pemuda itu berdiri enam pria bermantel hitam. Saat ini, tatapan mereka tampak berbinar.Wanita secantik Aulia ini memang terkenal di Kota Jouston. Konon katanya, Aulia memiliki rasi "harimau putih". Tentu saja, orang yang memiliki rasi ini juga terkenal karena membawa sial bagi suaminya!Lima tahun lalu, cucu tertua dari Keluarga Fortran di Kota Jouston menikahi Aulia. Pernikahannya saat itu menggemparkan seluruh daerah di sekitarnya. Acara pernikahan mereka luar biasa megah, sampai-sampai masih diingat oleh banyak orang sampai sekarang.Keluarga Fortran mengadakan pesta be
Aulia sama sekali tidak menggubris keenam pria bermantel hitam itu. Dia terus memprovokasi Gilbert, "Ternyata kamu memang penakut ya? Tapi ingat baik-baik, kalau aku nggak mati hari ini, suatu hari nanti aku sendiri yang akan membunuhmu.""Kamu mungkin nggak akan sempat menunggu hari itu datang.""Bambang, lakukan. Gilir dia," perintah Gilbert dengan wajah pucat.Bambang dan kelima pria lainnya langsung mengelilingi Aulia. Namun, di saat itu, suara dari walkie-talkie di pinggang Bambang tiba-tiba berbunyi. "Kak Bambang, ada taksi baru saja datang.""Hah?" Keenam pembunuh itu tertegun. Bahkan Gilbert pun langsung mengernyitkan dahi.Bambang menekan tombol di walkie-talkie dan bertanya, "Ada apa?""Taksi itu sudah pergi, tapi seorang pria turun dari mobil. Umurnya sekitar 20-an, sekarang dia sedang berjalan masuk ke arah lobi depan.""Pak Gilbert, gimana?" Bambang melirik ke arah Gilbert.Gilbert langsung mengambil alih walkie-talkie dari tangan Bambang. "Tanya dia mau apa. Kalau nggak a
Krak!Rio mendengar suara retakan tulang dada dari tubuh pria bermantel hitam itu. Dalam sekejap, pria itu menyemburkan darah dari hidung dan mulut, lalu tergeletak di lantai dengan mata memelotot.Rio memang seorang satpam. Namun, dia tidak pernah belajar bela diri, bahkan nyaris belum pernah benar-benar berkelahi.Ledakan tenaga barusan sepenuhnya berasal dari dorongan insting dan rasa nekat karena situasi yang mendesak. Dia bahkan tidak tahu apakah pria itu akan mati atau tidak. Bahkan saat ini, kedua tangannya masih gemetar hebat.Satu hal lagi, tadi dia menggunakan kemampuan mengendalikan benda.Rio tidak menyangka bahwa rasanya semudah itu saat dia mengendalikan pulpen tadi. Bahkan, dia merasa tidak perlu menatap benda itu untuk menggerakkannya, cukup dengan niat dan pikirannya saja.Ini adalah penemuan tak terduga baginya.Rio menarik napas panjang berulang kali untuk memaksa dirinya tetap tenang. Kemudian, dia mencabut belati bermata tiga dari pinggang pria itu.Belati itu mema
Gilbert memang punya sifat yang sangat keji.Begitu dia melihat bahwa Aulia begitu peduli pada pemuda yang baru saja menerobos masukini, dia malah semakin bersemangat. Dia langsung menyuruh Bambang untuk menangkap Rio hidup-hidup, agar bisa menyaksikan sendiri bagaimana Aulia dipermalukan tepat di depan matanya.Aulia pun segera menangkap maksud busuk Gilbert. Wanita yang tadinya tegar itu, akhirnya mulai menangis dan berteriak, "Rio! Dasar berengsek! Aku nggak butuh kamu! Pergi dari sini, sekarang juga!"Namun, Rio sama sekali tak menggubris kata-kata itu. Dia hanya menggenggam erat belati bermata tiga di tangannya dan menarik napas dalam-dalam. Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh kacau dan panik saat ini.Begitu fokusnya pecah, hari ini dia akan mati mengenaskan. Semua mayat pelayan yang tergeletak di lantai adalah contoh terbaik akan hal ini.Selain itu, meskipun Rio hanya seorang satpam yang tidak memiliki dasar kemampuan bela diri, setidaknya dia punya kekuatan supranatural. Kekua
Kemudian, Bambang menyerigai kejam sambil mengarahkan belatinya ke betis Rio. Rio tersentak panik. Dalam detik itu, matanya refleks kembali melirik pisau di atas piring buah. Saat itu juga, pisau itu tiba-tiba memelesat ke udara dan meluncur secepat kilat menerobos kerumunan ....Crat!Pisau buah itu menancap di belakang kepala Bambang. Lengan Bambang yang hendak menghantamnya pun terhenti. Tubuhnya mematung seketika.Aulia yang tergantung di udara, melihat semuanya dengan jelas. Karena posisinya tergantung tinggi, dan pisau itu berada di dekatnya.Sebaliknya, orang-orang lainnya membelakangi arah datangnya pisau, jadi mereka tidak tahu bagaimana pisau itu bisa terbang sendiri dan menancap tepat di kepala Bambang.Aula terkejut hingga menganga. Bibirnya yang mungil itu pun terbuka lebar. Dia benar-benar terpana.Sementara itu, Gilbert dan yang lainnya juga tercengang. Namun, mereka langsung berbalik dan berdiri dekat satu sama lain untuk memposisikan Gilbert di tengah-tengah. Mereka be
"Sialan, dasar tukang pamer. Habisi mereka."Gilbert akhirnya meledak karena frustrasi. Sebab, dia tidak menyangka bahwa Aulia ternyata punya pelindung. Selain itu, orang kepercayaannya, Bambang, telah dihabisi Rio.Oleh karena itu, Gilbert ingin sekali menghancurkan pasangan ini sekarang juga. Di saat itu juga, Rio tiba-tiba berdiri dan memejamkan matanya.Ngung ....Ngung ... ngung ... ngung ....Pisau buah yang sudah tergeletak di lantai itu tiba-tiba saja memantul ke udara dengan sendirinya, lalu melayang di depan Rio. Mata pisaunya mengarah tepat ke Gilbert dan anak buahnya! Semua orang yang melihat adegan ini langsung terpana, termasuk Aulia yang juga tampak sangat terkejut dan bingung.Sebab ... pemandangan seperti ini biasanya cuma ada di film, bukan? Namun, di dunia nyata, Rio benar-benar bisa melakukan hal seperti itu?Ekspresi Gilbert langsung berubah drastis. Dengan panik, dia mendorong kedua anak buah yang berdiri di depannya, "Cepat maju, serang! Aku nggak percaya dia bis
Setelah itulah, Rio baru menarik tangannya dan meletakkannya di atas pundak Aulia. Saat ini, Aulia masih dalam keadaan linglung. Saat mencium aroma tubuh Rio, Aulia merasa sekujur tubuhnya seolah-olah menjadi lemas. Ingin sekali rasanya dia mendekap dalam pelukan Rio tanpa bergerak sama sekali."Aku nggak bisa jalan lagi. Kamu gendong aku ke lantai dua."Aulia benar-benar sudah kehabisan tenaga. Setelah digantung begitu lama, kedua lengannya bahkan sulit untuk mengangkat barang. Ditambah lagi rasa takut yang belum hilang sepenuhnya, membuat kakinya terasa lemas sekali.Rio tidak banyak berpikir dan langsung mengangkatnya."Ugh ...."Aulia hanya merasa bahwa dada pria ini terasa sangat luas dan hangat. Saat itu juga, dia merasakan sebuah rasa aman yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.Namun, mungkin karena gerakan Rio terlalu besar, pakaian yang diselimutkan di tubuhnya pun melorot. Rio menunduk dan melihatnya sekilas, wajahnya langsung memerah. Kemudian, dia buru-buru memalingkan
Saat Aulia melihat Rio terdiam di tempat, dia pun menghela napas pelan. Dia lalu bangkit dari kursi dan berjalan pelan ke sisi Rio sambil berkata lembut, "Ada beberapa hal yang aku nggak mau libatkan kamu di dalamnya."Rio menatap Aulia dalam-dalam, lalu tanpa berkata apa pun, dia langsung berbalik dan pergi. Apa pun alasan Aulia menyuruhnya pergi, Rio bisa merasakan bahwa Aulia sama sekali tidak berniat buruk padanya.Oleh karena itu, kalau Aulia memang tidak ingin dirinya ikut campur, maka pergi adalah pilihan yang paling tepat. Namun, baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Aulia memanggilnya, "Rio, tunggu sebentar."Rio menoleh dan menatap Aulia dengan bingung.Aulia buru-buru kembali ke belakang meja kerjanya, lalu membuka brankas dengan sidik jari. Dari dalam, dia mengeluarkan beberapa gepok yang seratus ribuan. Setidaknya ada lebih dari 20 ikat lebih.Selain uang, di dalamnya juga ada beberapa perhiasan emas dan perak, serta sebuah kotak kecil.Tanpa banyak penjelasan, Aulia s
Pada pukul 13.30, Rio dan Cheryl bertemu di hotel yang terletak di luar pusat pameran. Cheryl memakai masker dan kacamata hitam besar saat datang. Dia terlihat seperti hendak berselingkuh dengan Rio. Sebenarnya, Cheryl keluar tanpa sepengetahuan Zafir. Pada sore hari, Zafir tidak berada di platform pameran. Jadi, Cheryl menyuruh bawahan untuk mengawasi dan dia keluar untuk bertemu dengan Rio.Terdengar suara berderit saat pintu kamar hotel dibuka. Cheryl langsung mengunci pintu setelah masuk. Dia juga menepuk dadanya.Cheryl merasa sangat antusias bisa bertemu dengan Rio. Namun, dia juga takut diketahui Zafir.Kala ini, Rio sedang duduk di tempat tidur. Dia mengisap rokok sambil sambil memandangi Cheryl. Rio tersenyum lebar.Cheryl tersenyum dan berucap, "Nanti kita baru bicara. Kamu tunggu aku mandi dulu. Pusat pameran sangat panas, seperti sauna."Cheryl melepaskan sepatu hak tingginya sembari bicara. Dia menarik ritsleting gaunnya, lalu gaunnya jatuh ke lantai.Jantung Rio berdegup
Mereka tidak mempunyai keahlian dan tidak bisa berbisnis. Mereka menghabiskan masa muda pada karier yang tidak menjanjikan seperti ini.Tentu saja, mereka juga merasa tidak rela. Namun, apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya orang biasa.Tiba-tiba, Fleko bertanya, "Rio, apa kamu punya cara untuk menghasilkan banyak uang?"Mata Devon berbinar-binar. Dia memang tidak ingin menjadi satpam lagi. Hal ini karena menjadi satpam di Kelab Emperor terlalu sulit. Jadi, dia memandangi Rio dengan penuh penantian.Rio berpikir sejenak, lalu mengangguk dan menjawab, "Apa kalian pernah mendengar tentang judi batu? Batu giok mentah?"Sewaktu Rio mengantar Cheryl dan Zafir kemarin malam, Zafir menceritakan banyak hal tentang pergi ke Moramar untuk mengikuti judi batu. Dia juga menceritakan pengalaman mendebarkan saat 2 truk batu-batunya itu dikirim ke dalam negeri.Rio sangat menikmati cerita Zafir. Pengalaman itu sangat seru dan berbahaya, tetapi juga menghasilkan banyak keuntungan.Waktu itu, Rio
Devon dan Fleko merasa ada yang tidak beres. Rio sangat aneh. Dia pasti merasakan sakit hati yang berlebihan, lalu menjadi gila. Hal ini karena sekarang mata Rio berbinar-binar.Biasanya, mata orang yang mengalami gangguan jiwa selalu berbinar-binar. Mata mereka berbeda dengan orang biasa. Sekarang mata Rio sama persis dengan orang gila."Rio, ayo kita bicara di luar," ujar Devon. Dia dan Fleko bertatapan, lalu hendak membawa Rio keluar.Sudah jelas Rio menjadi gila. Kalau mereka membiarkan Rio memesan banyak makanan dan 3 botol wiski di restoran ini, mereka pasti celaka. Mereka bertiga tidak sanggup membayarnya.Namun, Rio langsung melempar kunci mobil BMW ke atas meja saat mereka berdua baru merangkul lengannya. Keduanya tertegun begitu melihat logo mobil BMW.Ada apa ini? Kenapa Rio mempunyai kunci mobil BMW? Rio berdiri, lalu mendorong mereka berdua kembali ke tempat duduk dan mendesak, "Cepat pesan makanan. Kita mengobrol sambil makan."Rio mengeluarkan setumpuk uang dari bawah ka
Fenny langsung berdiri dan buru-buru naik ke lantai atas dari pintu belakang. Sekitar 5 menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Kemudian, kepala cabang membawa Fenny dan seorang wanita paruh baya datang.Seperti biasa, kepala cabang dan wakilnya menyapa Rio, lalu Rio menjelaskan tujuan kedatangannya. Dia juga mengatakan Fenny yang membuatnya tertarik untuk membuka rekening di bank ini.Satu jam kemudian, Rio sudah menyelesaikan prosedur pembukaan rekening. Fenny langsung naik pangkat menjadi manajer yang khusus melayani Rio.Sementara itu, Rio juga meminta cuti untuk Fenny kepada kepala cabang. Dia mengatakan ingin membawa Fenny berobat.Biarpun Fenny memakai kacamata dan masker, kepala cabang sangat jeli. Mana mungkin dia tidak menyadari Fenny dipukul?Jadi, kepala cabang melambaikan tangannya dan mengizinkan Fenny beristirahat beberapa hari. Dia baru kerja setelah sembuh.Fenny sudah menarik nasabah dengan simpanan hampir mencapai 1 triliun. Dia memberikan kont
Tempat tidur kamar suite hotel bintang lima memang nyaman, tetapi malam ini Rio malah tidak bisa tidur dengan tenang. Dia sangat gelisah dan sulit terlelap.Bagaimanapun, Rio adalah orang yang sangat miskin. Jadi, dia masih sangat antusias karena mendadak beruntung dan menjadi kaya.Selain itu, Rio mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Dia diselingkuhi pacarnya, melakukan pembunuhan, digoda janda, dan lainnya. Sepertinya Rio menjadi dewasa dalam waktu singkat.Dulu, Rio tidak pernah serius menjalani hidupnya. Bahkan, bisa dibilang dia sangat picik. Sekarang Rio mendapatkan pencerahan dan melihat harapan yang berbeda dalam hidupnya.Rio sudah bersemangat pagi-pagi. Dia bangun, lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Rio yang membeli 4 set pakaian sekaligus semalam tidak memakai setelan jas atau sepatu kulit.Sebenarnya semalam Rio belanja karena kesal. Meskipun pakaian mewah bisa meningkatkan karisma seseorang, Rio ingin memakai baju kasual.Jadi, Rio hanya memakai sepatu sport mahal
Sekarang, kenapa pria ini tiba-tiba jadi bermuka tebal?Namun, Aulia sudah berpengalaman. Sudah banyak hal yang dia alami. Julukan Janda Maut bukan hanya julukan kosong."Rio, kamu anggap aku ini wanita seperti apa?" Dari seberang telepon, suara Aulia terdengar bergetar, penuh kemarahan dan kesedihan."Aku kira kamu pria yang baik, tapi kamu ... kamu mengecewakanku. Ternyata kamu sama saja seperti mereka ... cuma mau menindasku!"Usai mengatakan itu, Aulia langsung menutup telepon. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam dan malah tersenyum.Aulia melirik jam tangannya dan mulai menghitung mundur. Dalam waktu semenit, Rio pasti akan menelepon balik.'Bocah ingusan! Mau main sama aku? Kamu masih kurang pengalaman!' batin Aulia.Di dalam kamar suite, Rio terbengong. Dia sama sekali tidak menyangka Aulia akan bereaksi seperti ini. Wanita itu seperti sangat kecewa dan sedih!Rio bisa membayangkan wajah Aulia yang penuh kesedihan. Aulia menganggapnya sama seperti pria lain yang hanya mengin
Di kamar suite Grand Victus, Rio terus membasuh wajahnya dengan air dingin. Di usia 20-an tahun, dia sedang berada di puncak gairahnya.Terlebih lagi setelah otaknya mengalami perkembangan misterius, terutama sejak mendapatkan kekuatan banteng, fisiknya benar-benar berubah.Tak ada sedikit pun lemak yang tersisa, garis ototnya jelas, sosoknya penuh dengan aura maskulin yang luar biasa kuat.Alasan Rio berkali-kali membasuh wajahnya dengan air dingin karena dia harus menenangkan diri. Jika tidak, dia benar-benar ingin memanggil dua wanita ke kamarnya dan melampiaskan semuanya!Seakan-akan ingin membalas semua penderitaannya di masa lalu, Rio ingin membebaskan diri dan bersenang-senang sepuasnya!Namun, dia juga ragu karena dia masih perjaka. Kalau dia benar-benar memberikan kesuciannya pada wanita penghibur, bukankah itu terlalu disayangkan?Jadi, satu-satunya cara adalah menahan diri dengan cara ini.Tepat pada saat itu, ponselnya kembali berdering. Rio tidak langsung mengangkatnya. Di
Bram adalah salah satu orang kepercayaan bos Bar TOP, Sugi. Selain itu, Bram juga adalah manajer bar ini.Dulu, Bram adalah sosok yang ditakuti. Tiga puluh tahun lalu, hanya dengan sebuah sekop besi, dia menghajar 20 orang sekaligus. Pertarungan itu membuat namanya melambung tinggi. Tentu saja, sekarang dia sudah pensiun dan punya saham di bar ini."Kenapa? Bocah itu nggak balik?" Di sofa, Fathian duduk santai sambil menyilangkan kakinya. Dia tertawa sinis, lalu mengejek, "Pak Bram, kamu lemah sekali. Satpam saja berani membantahmu.""Bajingan itu bilang dia mengundurkan diri. Sialan, buat naik darah!" maki Bram."Oh? Mengundurkan diri?" Fathian memang berjanji pada Medelyn untuk membuat Rio dipecat dari Bar TOP.Siapa sangka, sebelum dia sempat bertindak, Rio sudah mengundurkan diri. "Ya sudah, biarin saja."Fathian tidak mengusut masalah ini lagi. Toh dia sudah meniduri wanita Rio dan sekarang Rio juga berinisiatif mengundurkan diri dari bar ini. Jadi, tidak ada lagi hal menarik untu
Saat Delon dan Fenny bertengkar di rumah, Aulia terbangun dari tidurnya. Sejak siang tadi setelah menelepon Rio, dia langsung tidur.Semalam, dia tidak bisa beristirahat dengan baik. Jadi, ketika dia bangun sekarang, hari sudah hampir gelap.Namun, Aulia merasa aneh, kenapa Rio belum datang menemuinya? Dia melihat ponselnya, tidak ada panggilan tak terjawab, juga tidak ada pesan di WhatsApp."Apa mungkin tadi dia sempat mengetuk pintu, tapi aku nggak dengar?" Aulia menepuk dahinya. Kalau dia tidur begitu lelap, mungkin Rio sudah kesal setengah mati sekarang."Ya, ya, cowok dewasa yang gampang ngambek." Aulia meregangkan tubuh, lalu mengambil kunci dan turun ke bawah.Tak lama kemudian, dia mengetuk pintu apartemen Rio. Setelah mengetuk cukup lama, tidak ada respons dari dalam."Apa mungkin dia lagi kerja? Oh ya, hari ini dia sif malam!" Aulia menepuk dahinya lagi, lalu buru-buru kembali ke kamarnya untuk menelepon Rio. Namun, tidak ada yang mengangkat."Ya sudahlah, aku ke bar saja bua