Share

Bab 8

Author: Jose Alatas
"Kak Aulia, penjahat semalam ... apa mereka dikirim sama pria tua tadi?" tanya Rio di dalam mobil.

Saat itu Aulia sedang menyetir dan Rio duduk di kursi penumpang depan. Dia masih memikirkan ucapan Aulia saat di restoran, lalu memberanikan diri menebak, mungkin penjahat semalam memang ada hubungannya dengan Pak Tambun tadi.

Aulia tersenyum. "Eh, lumayan juga otaknya."

"Tapi si Tambun itu cuma pion kecil." Aulia tertawa ringan.

"Kalau begitu ... kenapa dia mau membunuhmu?" tanya Rio tak paham.

"Urusan bisnis," jawab Aulia singkat.

Sambil bicara, dia memarkirkan mobil di pinggir jalan. Matanya sesekali melirik ke kaca spion dalam.

"Aku tadinya mau ajak kamu jalan-jalan ke pemandian air panas, naik gunung, dan semacamnya .... Tapi sepertinya hari ini nggak bisa. Besok saja ya. Besok pagi, tunggu aku di rumahmu."

"Oke ...." Rio menggaruk kepala, sepertinya Aulia sedang menyuruhnya turun.

Namun, saat dia sudah membuka pintu mobil dan satu kakinya keluar, dia tiba-tiba berpikir sejenak, lalu menarik kakinya kembali dan menutup pintu lagi.

Aulia mengerutkan kening, tapi masih tetap bersabar. "Aku memang lagi ada urusan. Kamu bisa naik taksi pulang, ya? Nih, aku kasih uang buat ongkos."

Sambil berbicara, dia membuka dompet dan hendak mengambil uang.

"Kak Aulia, aku punya ongkos," Rio menatapnya dan berkata serius, "Apa kamu lagi ada masalah? Ada orang yang ngikutin kamu ya?"

Rio juga memperhatikan, Aulia terus melihat ke spion sejak tadi. Dari tempat duduknya, Rio juga bisa melihat ada mobil lain yang berhenti tak jauh di belakang. Kaca mobil itu gelap, tak terlihat siapa yang ada di dalamnya.

Aulia tertawa kecil. "Jadi kamu juga sadar?"

"Sejak kita keluar dari hotel tadi, mobil itu terus ngikutin." Rio mengangguk.

"Orang itu lagi panik .... Kamu ... kamu mau tetap tinggal untuk bantu aku?"

Aulia tiba-tiba menyadari bahwa alasan Rio tidak turun dari mobil, mungkin karena dia memang ingin tetap tinggal dan membantunya. Mata Aulia pun langsung berbinar.

Rio mengangguk serius dengan ekspresi yakin. Aulia menahan senyuman, matanya memancarkan rasa terharu. Dia tidak berkomentar lagi dan langsung menginjak pedal gas sambil berkata, "Kalau begitu, duduk yang tenang ya."

SUV besar itu langsung melaju kencang. Rio tidak bertanya lebih jauh soal masalah yang sedang dihadapi Aulia, dan Aulia juga tetap fokus menyetir tanpa banyak bicara.

Tak lama kemudian, mobil mereka keluar dari area kota dan memasuki jalan tol lingkar luar. Namun, mobil hitam di belakang tetap mengikuti dari tadi. Tidak peduli ke mana Aulia membelok, mobil itu tetap berada di belakang.

Yang membuat situasi semakin serius adalah, mobil hitam itu tahu kalau dirinya sedang diawasi, tapi tetap saja tidak mundur atau berhenti.

Setelah mengemudi di jalan tol selama kurang lebih 20 menit, Aulia keluar tol dan masuk ke jalan nasional, lalu terus melaju hingga ke jalur pegunungan.

Lima belas menit kemudian, tepat pukul sembilan pagi, mereka sampai di sebuah tempat bernama Pusat Pemandian Air Panas Mentari.

Aulia memarkirkan mobil dengan tenang. Dari kaca spion, terlihat bahwa mobil hitam itu tidak ikut masuk ke dalam area.

Tepat saat itu, dari arah resor, muncul belasan pria mengenakan rompi pelayan. Di antara mereka, ada satu pria berkepala plontos yang memakai setelan jas.

"Selamat pagi, Kak Aulia," sapa si botak dengan hormat sambil mendekat.

Aulia berkata dengan dingin, "Ada mobil yang mengikuti dari belakang tadi. Aku nggak peduli siapa di dalamnya, tangkap semuanya. Pelat nomornya, B XXX."

"Pakai mobilku."

"Siap."

Tanpa banyak bertanya, pria botak itu langsung naik ke mobil Aulia, lalu berteriak, "Gio, Fandy, Yakub, Darso, kalian berempat ikut aku! Yang lain jaga Kak Aulia masuk!"

"Siap!"

Para pelayan langsung bergerak. Empat orang naik ke mobil, lalu si botak menginjak gas dalam-dalam dan mobil melesat pergi. Sisa tim lainnya membentuk barisan melindungi Aulia dan Rio untuk masuk ke dalam kompleks pemandian.

Resor tersebut tampaknya belum buka, karena tak terlihat ada tamu.

Rio memandang sekeliling dengan penasaran. Dalam hati, dia bertanya-tanya, apakah pusat pemandian ini juga milik Aulia?

Setelah masuk ke dalam lobi, Aulia mengganti sepatu lalu memberi instruksi kepada salah satu staf:

"Selvi, antar Rio ganti jubah mandi, lalu bawa ke Paviliun Foniks."

"Baik, Kak Aulia. Silakan, Pak Rio." Para staf tidak tahu hubungan Rio dengan Aulia, jadi sikap mereka sangat sopan.

Rio sebenarnya masih khawatir akan keselamatan Aulia. Jadi, saat masuk ke ruang ganti pria, dia buru-buru mengganti pakaiannya. Begitu selesai mengenakan jubah mandi, dia segera melangkah cepat menuju Paviliun Foniks.

Yang disebut Paviliun Foniks ini sebenarnya adalah kolam pemandian air panas pribadi. Tempat ini tidak dibuka untuk umum, karena memang dikhususkan hanya untuk Aulia. Bahkan di luar pintu paviliun pun ada pengawal yang berjaga.

Saat pelayan bernama Selvi mengantar Rio sampai depan pintu, dia berkata pelan, "Kak Aulia sudah ada di dalam. Silakan masuk, Pak Rio."

"Terima kasih."

Begitu pintu terbuka, Rio langsung mencium aroma bunga yang menyegarkan.

Paviliun Foniks memiliki tata ruang bernuansa hangat, atapnya berupa kubah kaca transparan, sehingga dia bisa langsung melihat langit biru saat menengadah.

Di dalam, terdapat pohon bunga persik yang sedang mekar, juga berbagai tanaman hias dan bonsai hijau yang tersusun rapi. Di tengah ruangan, ada kolam air panas yang mengeluarkan uap hangat.

Aulia sudah berada di dalam kolam itu.

Dia telah mengenakan baju renang terbuka di bagian belakang dan bermotif bunga hijau. Dengan lekuk tubuhnya yang memikat dan postur yang menggoda, Rio langsung merasa seperti ada bara api membakar bagian perutnya.

Namun, Aulia melambai padanya dengan santai, "Ayo masuk. Berendam sebentar bagus untuk kesehatan."

"Nggak usah, nggak usah. Aku duduk di sini saja sambil makan buah." Rio buru-buru menolak, dia tidak punya nyali sebesar itu. Pria dan wanita berendam bersama? Itu terlalu berani.

Aulia malah tertawa, "Hahaha, aku yang perempuan saja nggak malu, kenapa malah kamu yang malu? Ayo cepat masuk, duduk di sana malah ganggu."

"Ganggu?" Rio bingung. Namun, akhirnya dia mendekat ke kolam dan mulai melepas jubah mandinya dengan malu-malu. Begitu jubah itu terlepas, mata Aulia langsung berbinar.

Kulit Rio kecokelatan dan tubuhnya terlihat berotot. Bahkan ada sedikit garis-garis otot perut yang cukup menarik perhatian. Bocah ini benar-benar tampak kuat.

Namun, saat Aulia baru hendak melihat ke bagian bawah, Rio buru-buru memalingkan tubuhnya dan masuk ke dalam kolam. Wajah Aulia merona dan diam-diam berdecak. Ternyata bocah ini bereaksi juga, dasar ....

Sampai ketika seluruh tubuhnya memasuki kolam, Rio baru berani menoleh. Kemudian, dia berkata dengan wajah merah padam, "Kak Aulia, di luar ... kita ...."

Sebenarnya Rio ingin mengatakan bahwa di luar sedang ada bahaya sekarang, kenapa mereka malah berendam di sini? Bukankah ini agak tidak pantas?

Aulia tertawa. "Cepat atau lambat, semua yang akan terjadi itu nggak akan bisa dihindari." Setelah berkata demikian, dia tiba-tiba bertanya, "Sekarang suasana hatimu sudah baikan belum?"

Sambil berbicara, dia juga mengedipkan mata ke arah Rio.

Jantung Rio berdetak kencang. Dia tidak berani melihat ke arah tubuh Aulia. Oleh karena itu, dia langsung memalingkan wajahnya. "Sudah baikan. Terima kasih, Kak Aulia."

"Kenapa masih sungkan saja? Yang seharusnya berterima kasih itu aku. Kalau nggak ada kamu semalam, aku pasti sudah tewas."

"Sama-sama. Kita ini tetanggaan, sudah sepantasnya saling membantu," pungkas Rio sambil tetap menghindari tatapannya.

Dada Aulia terpampang nyata di hadapannya. Melihat pemandangan ini, tenggorokan Rio terasa kering. Sensasi terbakar di perutnya masih terus bergejolak. Semakin dia berusaha untuk menenangkan diri, api gairah di tubuhnya semakin membara.

Yang paling membuatnya tidak tahan adalah, kaki Aulia terus bergerak tiada henti di bawah air. Sesekali, kakinya menyentuh Rio.

Melihat Rio yang tampak gugup dan serba salah, Aulia justru tertawa puas. Semakin dia melihat ekspresi Rio yang gelisah di dalam kolam, semakin tak tertahan tawanya. Sampai akhirnya, dia harus menutup mulut untuk menahan tawa.

Sepertinya, melihat Rio yang salah tingkah seperti itu membuatnya merasa senang dan terhibur.

Sementara itu, di saat Rio masih berusaha memaksakan diri untuk tetap tenang dan jangan sampai mempermalukan diri, Aulia tiba-tiba berenang ke arahnya.

Splash ....

Cipratan air terdengar saat Aulia berenang mendekat ke sisi Rio.

Rio refleks ingin mundur, tetapi di belakangnya sudah tak ada ruang untuk mundur lagi. Tenggorokannya terasa kering dan dia tidak tahu harus bagaimana bereaksi.

Di saat itulah, Aulia mendekatkan diri ke telinganya, lalu berbisik pelan, "Kalau nanti tiba-tiba ada orang masuk, kamu langsung sembunyi di belakangku ya."

Ucapannya disertai embusan napas hangat yang membuat telinga Rio terasa geli.

Terlebih lagi, Rio bisa merasakan dengan jelas bahwa payudara Aulia yang berdekatan dengannya, sekarang sudah bersentuhan dengan lengannya ....
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 9

    Sebenarnya, saat itu Rio sudah tidak mendengar apa yang dikatakan Aulia lagi. Karena kedekatan Aulia yang begitu berani telah membuat pikirannya kacau balau. Harus diakui, pesona Aulia benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Medelyn. Dari sisi tubuh dan aura yang dimilikinya, Aulia jelas jauh di atas Medelyn.Selain itu, Aulia memancarkan aura yang sangat dewasa. Apalagi saat ini mereka sedang berendam bersama di kolam air panas. Aulia tidak perlu menunduk sekalipun, Rio sudah bisa melihat jelas lekuk tubuhnya yang menggoda.Ditambah aroma parfum yang samar dari tubuh Aulia, bercampur dengan harum kelopak mawar di air.Jangankan Rio, bahkan pertapa pun mungkin akan goyah!Rio merasa panas di bagian perut semakin membara, kepalanya pun berdenyut tak karuan. Aulia masih berbicara, tapi Rio sudah tidak mendengar sepatah kata pun.Namun, tepat saat dia larut dalam momen yang penuh godaan itu, tiba-tiba pintu Paviliun Foniks didobrak keras dari luar. Belum sempat Rio bereaksi, Aulia lang

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 10

    Malam pun tiba. Setelah pulang ke rumah dan mengganti seragam satpam, Rio langsung menuju ke Bar TOP. Dia tidak makan siang dan untuk makan malam pun dia hanya menyantap mie instan.Bar TOP memiliki sepuluh orang satpam. Namun, di zaman sekarang, pekerjaan satpam sangat berbeda dengan dua atau tiga dekade lalu. Kalau dulu, satpam di tempat hiburan malam itu identik dengan tukang jaga preman yang suka berkelahi, bahkan tak jarang terlibat dalam kegiatan ilegal.Sekarang, tugas satpam di tempat hiburan hanya sebatas menjaga ketertiban. Kalaupun ada tamu mabuk yang berbuat onar, barulah mereka turun tangan.Faktanya, ada banyak bar berskala besar yang menyerahkan urusan keamanannya kepada perusahaan jasa keamanan. Jadi, di kota-kota besar, perusahaan jasa keamanan dan manajemen properti sangat marak.Namun, Rio tidak begitu disukai di tim keamanan. Alasannya karena kakak sepupunya. Kakak sepupunya pernah berkelahi dengan kepala tim keamanan, kabarnya karena rebutan seorang wanita.Sejak s

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 11

    Rio melihat berbagai macam orang di tempat ini. Hal ini benar-benar membuka wawasannya.Pukul sebelas malam, saat Rio sedang semangat-semangatnya menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk mengintip para tamu wanita, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. "Rio!""Kak Joran, bikin kaget saja!" Rio langsung terperanjat. Dia sempat mengira bahwa aksi mengintipnya ketahuan.Joran adalah seorang pesulap yang sering tampil di bar ini, jadi dia cukup akrab dengan Rio yang bertugas menjaga pintu belakang. Joran adalah salah satu dari segelintir teman Rio."Lihat apa yang kubawakan?" Joran mengeluarkan sebuah paha ayam yang dibungkus kertas cokelat, seperti sedang memainkan trik sulap."Terima kasih, Kak Joran! Kenapa kamu tahu aku belum makan malam?"Rio memang tidak berbasa-basi karena memang perutnya sudah keroncongan. Dia hanya makan beberapa bungkus mie instan tadi, sehingga perutnya kelaparan. Dia pun langsung menyantapnya dengan lahap.Joran tersenyum. "Pelan-pelan makannya, aku j

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 12

    Pukul empat pagi, Rio akhirnya selesai bekerja dan naik ke mobil milik Joran. Joran juga seorang perantau, sudah bertahun-tahun dia bekerja keras di Kota Jouston. Namun, sekarang dia sudah punya rumah kecil dan mobil sendiri. Mobilnya memang bukan mobil mewah, tapi tetap saja harganya sekitar ratusan juta dan jenisnya SUV pula.Joran mengajak Rio ke sebuah warung camilan. Meski sudah lewat jam empat subuh, tempat itu masih ramai oleh orang-orang yang makan. Ada nasi goreng, mie goreng, sate bakar, dan makanan lainnya."Kenapa kamu nggak nanya alasan aku nyuruh kamu menjauhi perempuan itu?" Joran memang sudah lama akrab dengan Rio, jadi dia selalu berbicara terus terang dengannya."Kamu nggak mungkin nyakitin aku. Kalau kamu suruh aku menjauh darinya, berarti dia yang bisa nyakitin aku. Aku 'kan nggak bego," kata Rio.Joran tertawa, "Tapi kamu nggak penasaran gimana cara dia bisa nyakitin kamu?" katanya sambil mengunyah."Gimana cara dia nyakitin aku?" Akhirnya Rio bertanya juga.Joran

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 13

    "Kakakku benar-benar nggak beruntung!" Pemuda itu menghela napas saat berkata, "Wanita secantik ini belum sempat dinikmatinya, sepertinya dia nggak bakal tenang setelah meninggal, bukan?""Nenek bilang, kamu ini pembawa sial untuk suami, jadi dia memperingatkanku untuk menghindarimu. Jujur saja, aku juga sempat takut. Meskipun aku takut, saudara-saudaraku di sini belum tentu takut, bukan?""Mm mm ...." Di sekeliling pemuda itu berdiri enam pria bermantel hitam. Saat ini, tatapan mereka tampak berbinar.Wanita secantik Aulia ini memang terkenal di Kota Jouston. Konon katanya, Aulia memiliki rasi "harimau putih". Tentu saja, orang yang memiliki rasi ini juga terkenal karena membawa sial bagi suaminya!Lima tahun lalu, cucu tertua dari Keluarga Fortran di Kota Jouston menikahi Aulia. Pernikahannya saat itu menggemparkan seluruh daerah di sekitarnya. Acara pernikahan mereka luar biasa megah, sampai-sampai masih diingat oleh banyak orang sampai sekarang.Keluarga Fortran mengadakan pesta be

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 14

    Aulia sama sekali tidak menggubris keenam pria bermantel hitam itu. Dia terus memprovokasi Gilbert, "Ternyata kamu memang penakut ya? Tapi ingat baik-baik, kalau aku nggak mati hari ini, suatu hari nanti aku sendiri yang akan membunuhmu.""Kamu mungkin nggak akan sempat menunggu hari itu datang.""Bambang, lakukan. Gilir dia," perintah Gilbert dengan wajah pucat.Bambang dan kelima pria lainnya langsung mengelilingi Aulia. Namun, di saat itu, suara dari walkie-talkie di pinggang Bambang tiba-tiba berbunyi. "Kak Bambang, ada taksi baru saja datang.""Hah?" Keenam pembunuh itu tertegun. Bahkan Gilbert pun langsung mengernyitkan dahi.Bambang menekan tombol di walkie-talkie dan bertanya, "Ada apa?""Taksi itu sudah pergi, tapi seorang pria turun dari mobil. Umurnya sekitar 20-an, sekarang dia sedang berjalan masuk ke arah lobi depan.""Pak Gilbert, gimana?" Bambang melirik ke arah Gilbert.Gilbert langsung mengambil alih walkie-talkie dari tangan Bambang. "Tanya dia mau apa. Kalau nggak a

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 15

    Krak!Rio mendengar suara retakan tulang dada dari tubuh pria bermantel hitam itu. Dalam sekejap, pria itu menyemburkan darah dari hidung dan mulut, lalu tergeletak di lantai dengan mata memelotot.Rio memang seorang satpam. Namun, dia tidak pernah belajar bela diri, bahkan nyaris belum pernah benar-benar berkelahi.Ledakan tenaga barusan sepenuhnya berasal dari dorongan insting dan rasa nekat karena situasi yang mendesak. Dia bahkan tidak tahu apakah pria itu akan mati atau tidak. Bahkan saat ini, kedua tangannya masih gemetar hebat.Satu hal lagi, tadi dia menggunakan kemampuan mengendalikan benda.Rio tidak menyangka bahwa rasanya semudah itu saat dia mengendalikan pulpen tadi. Bahkan, dia merasa tidak perlu menatap benda itu untuk menggerakkannya, cukup dengan niat dan pikirannya saja.Ini adalah penemuan tak terduga baginya.Rio menarik napas panjang berulang kali untuk memaksa dirinya tetap tenang. Kemudian, dia mencabut belati bermata tiga dari pinggang pria itu.Belati itu mema

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 16

    Gilbert memang punya sifat yang sangat keji.Begitu dia melihat bahwa Aulia begitu peduli pada pemuda yang baru saja menerobos masukini, dia malah semakin bersemangat. Dia langsung menyuruh Bambang untuk menangkap Rio hidup-hidup, agar bisa menyaksikan sendiri bagaimana Aulia dipermalukan tepat di depan matanya.Aulia pun segera menangkap maksud busuk Gilbert. Wanita yang tadinya tegar itu, akhirnya mulai menangis dan berteriak, "Rio! Dasar berengsek! Aku nggak butuh kamu! Pergi dari sini, sekarang juga!"Namun, Rio sama sekali tak menggubris kata-kata itu. Dia hanya menggenggam erat belati bermata tiga di tangannya dan menarik napas dalam-dalam. Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh kacau dan panik saat ini.Begitu fokusnya pecah, hari ini dia akan mati mengenaskan. Semua mayat pelayan yang tergeletak di lantai adalah contoh terbaik akan hal ini.Selain itu, meskipun Rio hanya seorang satpam yang tidak memiliki dasar kemampuan bela diri, setidaknya dia punya kekuatan supranatural. Kekua

Pinakabagong kabanata

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 50

    Pada pukul 13.30, Rio dan Cheryl bertemu di hotel yang terletak di luar pusat pameran. Cheryl memakai masker dan kacamata hitam besar saat datang. Dia terlihat seperti hendak berselingkuh dengan Rio. Sebenarnya, Cheryl keluar tanpa sepengetahuan Zafir. Pada sore hari, Zafir tidak berada di platform pameran. Jadi, Cheryl menyuruh bawahan untuk mengawasi dan dia keluar untuk bertemu dengan Rio.Terdengar suara berderit saat pintu kamar hotel dibuka. Cheryl langsung mengunci pintu setelah masuk. Dia juga menepuk dadanya.Cheryl merasa sangat antusias bisa bertemu dengan Rio. Namun, dia juga takut diketahui Zafir.Kala ini, Rio sedang duduk di tempat tidur. Dia mengisap rokok sambil sambil memandangi Cheryl. Rio tersenyum lebar.Cheryl tersenyum dan berucap, "Nanti kita baru bicara. Kamu tunggu aku mandi dulu. Pusat pameran sangat panas, seperti sauna."Cheryl melepaskan sepatu hak tingginya sembari bicara. Dia menarik ritsleting gaunnya, lalu gaunnya jatuh ke lantai.Jantung Rio berdegup

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 49

    Mereka tidak mempunyai keahlian dan tidak bisa berbisnis. Mereka menghabiskan masa muda pada karier yang tidak menjanjikan seperti ini.Tentu saja, mereka juga merasa tidak rela. Namun, apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya orang biasa.Tiba-tiba, Fleko bertanya, "Rio, apa kamu punya cara untuk menghasilkan banyak uang?"Mata Devon berbinar-binar. Dia memang tidak ingin menjadi satpam lagi. Hal ini karena menjadi satpam di Kelab Emperor terlalu sulit. Jadi, dia memandangi Rio dengan penuh penantian.Rio berpikir sejenak, lalu mengangguk dan menjawab, "Apa kalian pernah mendengar tentang judi batu? Batu giok mentah?"Sewaktu Rio mengantar Cheryl dan Zafir kemarin malam, Zafir menceritakan banyak hal tentang pergi ke Moramar untuk mengikuti judi batu. Dia juga menceritakan pengalaman mendebarkan saat 2 truk batu-batunya itu dikirim ke dalam negeri.Rio sangat menikmati cerita Zafir. Pengalaman itu sangat seru dan berbahaya, tetapi juga menghasilkan banyak keuntungan.Waktu itu, Rio

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 48

    Devon dan Fleko merasa ada yang tidak beres. Rio sangat aneh. Dia pasti merasakan sakit hati yang berlebihan, lalu menjadi gila. Hal ini karena sekarang mata Rio berbinar-binar.Biasanya, mata orang yang mengalami gangguan jiwa selalu berbinar-binar. Mata mereka berbeda dengan orang biasa. Sekarang mata Rio sama persis dengan orang gila."Rio, ayo kita bicara di luar," ujar Devon. Dia dan Fleko bertatapan, lalu hendak membawa Rio keluar.Sudah jelas Rio menjadi gila. Kalau mereka membiarkan Rio memesan banyak makanan dan 3 botol wiski di restoran ini, mereka pasti celaka. Mereka bertiga tidak sanggup membayarnya.Namun, Rio langsung melempar kunci mobil BMW ke atas meja saat mereka berdua baru merangkul lengannya. Keduanya tertegun begitu melihat logo mobil BMW.Ada apa ini? Kenapa Rio mempunyai kunci mobil BMW? Rio berdiri, lalu mendorong mereka berdua kembali ke tempat duduk dan mendesak, "Cepat pesan makanan. Kita mengobrol sambil makan."Rio mengeluarkan setumpuk uang dari bawah ka

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 47

    Fenny langsung berdiri dan buru-buru naik ke lantai atas dari pintu belakang. Sekitar 5 menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Kemudian, kepala cabang membawa Fenny dan seorang wanita paruh baya datang.Seperti biasa, kepala cabang dan wakilnya menyapa Rio, lalu Rio menjelaskan tujuan kedatangannya. Dia juga mengatakan Fenny yang membuatnya tertarik untuk membuka rekening di bank ini.Satu jam kemudian, Rio sudah menyelesaikan prosedur pembukaan rekening. Fenny langsung naik pangkat menjadi manajer yang khusus melayani Rio.Sementara itu, Rio juga meminta cuti untuk Fenny kepada kepala cabang. Dia mengatakan ingin membawa Fenny berobat.Biarpun Fenny memakai kacamata dan masker, kepala cabang sangat jeli. Mana mungkin dia tidak menyadari Fenny dipukul?Jadi, kepala cabang melambaikan tangannya dan mengizinkan Fenny beristirahat beberapa hari. Dia baru kerja setelah sembuh.Fenny sudah menarik nasabah dengan simpanan hampir mencapai 1 triliun. Dia memberikan kont

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 46

    Tempat tidur kamar suite hotel bintang lima memang nyaman, tetapi malam ini Rio malah tidak bisa tidur dengan tenang. Dia sangat gelisah dan sulit terlelap.Bagaimanapun, Rio adalah orang yang sangat miskin. Jadi, dia masih sangat antusias karena mendadak beruntung dan menjadi kaya.Selain itu, Rio mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Dia diselingkuhi pacarnya, melakukan pembunuhan, digoda janda, dan lainnya. Sepertinya Rio menjadi dewasa dalam waktu singkat.Dulu, Rio tidak pernah serius menjalani hidupnya. Bahkan, bisa dibilang dia sangat picik. Sekarang Rio mendapatkan pencerahan dan melihat harapan yang berbeda dalam hidupnya.Rio sudah bersemangat pagi-pagi. Dia bangun, lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Rio yang membeli 4 set pakaian sekaligus semalam tidak memakai setelan jas atau sepatu kulit.Sebenarnya semalam Rio belanja karena kesal. Meskipun pakaian mewah bisa meningkatkan karisma seseorang, Rio ingin memakai baju kasual.Jadi, Rio hanya memakai sepatu sport mahal

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 45

    Sekarang, kenapa pria ini tiba-tiba jadi bermuka tebal?Namun, Aulia sudah berpengalaman. Sudah banyak hal yang dia alami. Julukan Janda Maut bukan hanya julukan kosong."Rio, kamu anggap aku ini wanita seperti apa?" Dari seberang telepon, suara Aulia terdengar bergetar, penuh kemarahan dan kesedihan."Aku kira kamu pria yang baik, tapi kamu ... kamu mengecewakanku. Ternyata kamu sama saja seperti mereka ... cuma mau menindasku!"Usai mengatakan itu, Aulia langsung menutup telepon. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam dan malah tersenyum.Aulia melirik jam tangannya dan mulai menghitung mundur. Dalam waktu semenit, Rio pasti akan menelepon balik.'Bocah ingusan! Mau main sama aku? Kamu masih kurang pengalaman!' batin Aulia.Di dalam kamar suite, Rio terbengong. Dia sama sekali tidak menyangka Aulia akan bereaksi seperti ini. Wanita itu seperti sangat kecewa dan sedih!Rio bisa membayangkan wajah Aulia yang penuh kesedihan. Aulia menganggapnya sama seperti pria lain yang hanya mengin

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 44

    Di kamar suite Grand Victus, Rio terus membasuh wajahnya dengan air dingin. Di usia 20-an tahun, dia sedang berada di puncak gairahnya.Terlebih lagi setelah otaknya mengalami perkembangan misterius, terutama sejak mendapatkan kekuatan banteng, fisiknya benar-benar berubah.Tak ada sedikit pun lemak yang tersisa, garis ototnya jelas, sosoknya penuh dengan aura maskulin yang luar biasa kuat.Alasan Rio berkali-kali membasuh wajahnya dengan air dingin karena dia harus menenangkan diri. Jika tidak, dia benar-benar ingin memanggil dua wanita ke kamarnya dan melampiaskan semuanya!Seakan-akan ingin membalas semua penderitaannya di masa lalu, Rio ingin membebaskan diri dan bersenang-senang sepuasnya!Namun, dia juga ragu karena dia masih perjaka. Kalau dia benar-benar memberikan kesuciannya pada wanita penghibur, bukankah itu terlalu disayangkan?Jadi, satu-satunya cara adalah menahan diri dengan cara ini.Tepat pada saat itu, ponselnya kembali berdering. Rio tidak langsung mengangkatnya. Di

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 43

    Bram adalah salah satu orang kepercayaan bos Bar TOP, Sugi. Selain itu, Bram juga adalah manajer bar ini.Dulu, Bram adalah sosok yang ditakuti. Tiga puluh tahun lalu, hanya dengan sebuah sekop besi, dia menghajar 20 orang sekaligus. Pertarungan itu membuat namanya melambung tinggi. Tentu saja, sekarang dia sudah pensiun dan punya saham di bar ini."Kenapa? Bocah itu nggak balik?" Di sofa, Fathian duduk santai sambil menyilangkan kakinya. Dia tertawa sinis, lalu mengejek, "Pak Bram, kamu lemah sekali. Satpam saja berani membantahmu.""Bajingan itu bilang dia mengundurkan diri. Sialan, buat naik darah!" maki Bram."Oh? Mengundurkan diri?" Fathian memang berjanji pada Medelyn untuk membuat Rio dipecat dari Bar TOP.Siapa sangka, sebelum dia sempat bertindak, Rio sudah mengundurkan diri. "Ya sudah, biarin saja."Fathian tidak mengusut masalah ini lagi. Toh dia sudah meniduri wanita Rio dan sekarang Rio juga berinisiatif mengundurkan diri dari bar ini. Jadi, tidak ada lagi hal menarik untu

  • Kekuatan Super Si Satpam Biasa   Bab 42

    Saat Delon dan Fenny bertengkar di rumah, Aulia terbangun dari tidurnya. Sejak siang tadi setelah menelepon Rio, dia langsung tidur.Semalam, dia tidak bisa beristirahat dengan baik. Jadi, ketika dia bangun sekarang, hari sudah hampir gelap.Namun, Aulia merasa aneh, kenapa Rio belum datang menemuinya? Dia melihat ponselnya, tidak ada panggilan tak terjawab, juga tidak ada pesan di WhatsApp."Apa mungkin tadi dia sempat mengetuk pintu, tapi aku nggak dengar?" Aulia menepuk dahinya. Kalau dia tidur begitu lelap, mungkin Rio sudah kesal setengah mati sekarang."Ya, ya, cowok dewasa yang gampang ngambek." Aulia meregangkan tubuh, lalu mengambil kunci dan turun ke bawah.Tak lama kemudian, dia mengetuk pintu apartemen Rio. Setelah mengetuk cukup lama, tidak ada respons dari dalam."Apa mungkin dia lagi kerja? Oh ya, hari ini dia sif malam!" Aulia menepuk dahinya lagi, lalu buru-buru kembali ke kamarnya untuk menelepon Rio. Namun, tidak ada yang mengangkat."Ya sudahlah, aku ke bar saja bua

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status