Pria itu menjawab dengan suara tertahan, "Mengerti."Akan tetapi, Alya masih belum merasa lega. Dia selalu merasa perkataan Rizki agak aneh. Pria itu selalu berkata bahwa dia setuju dan mengerti, tetapi tindakannya masih semaunya.Tentu saja sebelum Alya dapat berbicara lagi, dia mendengar Rizki berkata, "Tapi aku rasa aku nggak memengaruhi hidupmu."Alya bingung mendengarnya."Bukankah tindakanmu ini memengaruhi hidupku?"Pria di ujung telepon itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Mau aku menjemputmu atau nggak, kamu 'kan masih harus mengantar anak-anak ke sekolah dan pulang ke rumah setelah kerja. Kalau aku datang, kamu bisa menghemat uang bensin dan uang sarapan."Sarapan pagi tadi memang dibayarkan oleh Rizki."Jadi apa aku harus berterima kasih padamu?" ucap Alya."Nggak usah." Rizki berkata dengan sungguh-sungguh, "Sudah seharusnya aku melakukan itu untuk ibu dari anak-anakku."Alya terdiam.Dia benar-benar tidak ingin berbicara dengannya."Keluarlah, aku menunggumu di luar."Mun
Mau karena dia telah mengubah-ubah kontraknya dan takut Alya akan melihatnya, atau karena seperti yang dia katakan, bahwa dia benar-benar berpikir membaca di dalam mobil tidak baik untuk mata.Pokoknya, dia sudah menyimpan kontrak itu dan Alya tidak bisa mengeceknya lagi.Memikirkan hal ini, Alya pun kehilangan minat untuk berbicara dengannya.Rizki mungkin dapat membaca pikirannya, sehingga dia juga tidak berbicara lagi.Mereka berdua terus terdiam seperti ini sepanjang perjalanan, sampai akhirnya mereka sampai di sekolah.Pagi tadi, yang mengantar anak-anak masuk ke sekolah adalah Rizki. Sekarang, yang menjemput mereka juga Rizki. Alya sama sekali tidak bergerak. Tak lama kemudian, dia melihat Rizki membawa anak-anaknya kembali.Kedua anak itu segera menghampiri Alya setelah naik ke mobil dan menyapanya.Sementara Rizki belum naik ke mobil, Maya mengangkat kepala kecilnya dan berbisik pada Alya, "Mama, apa Mama sudah menyetujui Paman RezekiMalam menjadi papa kami?"Pertanyaan ini ...
Sang sopir sudah pernah melihat kemampuan Hana sebelumnya. Jadi setelah mendengar perintah Rizki, dia tidak langsung turun dari mobil dan bertanya, "Bagaimana kalau Nona Hana nggak mau pergi?""Kalau begitu, telepon Cahya dan minta dia bawa orang kemari."Begitu Rizki mengucapkan kalimat itu, sang sopir pun mengerti dan langsung mengangguk."Aku mengerti, Pak Rizki."Kemudian dia membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil.Di tengah angin yang dingin, Hana mengencangkan pegangan pada tali tasnya. Di dalamnya terdapat sesuatu yang diberikan oleh ibunya, ibunya bilang benda itu dapat membuatnya berhasil.Sekarang baru sehari setelah terakhir dia menemui Rizki, dia tahu bahwa datang menemui Rizki sekarang tidak akan memberinya banyak kesempatan. Jadi, awalnya dia berencana untuk menunggu beberapa hari lagi. Akan tetapi, ibunya mendesaknya untuk segera bergerak mumpung situasinya belum memburuk. Di bawah bujukan ibunya, Hana pun datang kemari.Hana mengambil napas dalam-dalam.Keberhas
Rizki meragukan apa yang dia dengar.Hana datang menemuinya untuk mengucapkan selamat tinggal? Apa-apaan ini?Rizki menyipitkan matanya dan mengamati Hana yang berdiri di tengah angin malam, wanita itu tampak agak terasingkan.Cuaca sepertinya sangat dingin. Rizki tidak tahu apa yang wanita itu kenakan di dalam bajunya, tetapi tampaknya Hana menggigil. Bahkan pipi putihnya memerah karena dingin.Dari luar, dia memang terlihat menyedihkan dan membuat orang-orang kasihan.Namun, wanita ini telah diam-diam menghapus pesan mengenai kehamilan Alya, bahkan diam-diam memberikan Alya 10 miliar di belakang punggungnya.Tanpa perlu dijelaskan, Rizki sudah tahu apa yang wanita ini ingin lakukan.Jika bukan karena Alya sendiri yang memutuskan untuk melahirkan anak-anak tersebut, dia mungkin sudah kehilangan kedua anak itu.Memikirkan kemungkinan bahwa kedua anak menggemaskan itu bisa menghilang, hati Rizki terasa bagaikan ditusuk pisau.Dia tidak bisa mengasihani wanita ini.Jika membicarakan utan
"Aku akan pergi, jadi aku ingin mengatakan beberapa hal padamu. Apa boleh?"Hana melangkah maju, hendak menarik tangan Rizki.Rizki melangkah mundur menghindarinya, akhirnya dia berkata, "Kalau ada sesuatu katakan saja sekarang."Mendengar ini, Hana melirik ke dalam dan memohon dengan suara kecil, "Aku sangat kedinginan di luar sini, bisakah kita bicara di dalam saja?"Rizki memandang Hana, lalu mengatupkan bibirnya.Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Masuklah, katakan semua yang harus kamu katakan malam ini. Setelah ini, aku nggak akan menemuimu lagi."Mendengar ucapannya, Hana pun menggigit bibirnya dengan keras."Aku mengerti. Tenang saja, setelah malam ini, aku akan menghilang dan nggak muncul lagi di hadapanmu."...Di dalam rumah.Hana duduk di sofa dengan segelas air panas di depannya.Dia sudah terlalu lama terkena angin dingin, tubuhnya yang hampir mati rasa pun sekarang perlahan menghangat.Hana menatap segelas air panas itu cukup lama, lalu mengambil napas dalam-dalam dan
Selanjutnya, dia hanya perlu Rizki untuk bekerja sama.Hana sudah menyiapkan mentalnya dan sedang menunggu Rizki menolak permintaannya."Lima persen saham? Oke.""Nggak bisa? Kalau begitu aku ...."Hana baru saja berbicara ketika kata "oke" itu seketika menghancurkan harapannya. Dia tercengang, tidak dapat memercayai apa yang baru saja dia dengar.Apa barusan ... dia salah dengar?Rizki sepertinya menyetujuinya?Lima persen saham?Sebelumnya dia sudah mengecek profitabilitas Perusahaan Saputra. Meskipun dia hanya mengerti secara kasar, berdasarkan apa yang dia tahu, bila Rizki benar-benar memberinya 5 persen saham Perusahaan Saputra, maka kekayaannya akan meningkat pesat.Namun ... bagaimana bisa Rizki menyetujuinya?Hana menatapnya dengan tidak percaya."Rizki, kamu ...."Rizki benar-benar bersedia memberinya 5 persen saham Perusahaan Saputra? Hanya supaya dia bisa memutus hubungan dengannya?Dia benar-benar rela berbuat sampai sejauh ini demi Alya?Menyadari bahwa Rizki melakukan ini
Dia berbicara dengan sangat tulus, tatapan dan ekspresinya juga sangat tenang, seolah-olah dia sudah benar-benar melepaskan Rizki.Mendengar Hana yang mengharapkan kebahagiaan untuknya dan Alya, kekesalan Rizki pun memudar dan bibirnya mulai tersenyum."Terima kasih."Dada Hana terasa sakit, pria ini benar-benar tahu cara untuk melukainya."Jadi, apa kita bisa menandatangani perjanjiannya sekarang?"Rizki menatapnya. "Aku akan meminta seseorang membuatnya dan mengirimkannya padamu besok.""Nggak." Hana menggeleng. "Malam ini. Ini 10 persen saham, aku takut kamu akan menyesalinya."Alasan utamanya adalah setelah malam ini, dia mungkin tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk berduaan dengannya sambil minum alkohol.Dia harus menangkap kesempatan ini.Dia akan mendapatkan saham itu dan tidur dengannya, lalu dia akan hamil.Melihat situasinya yang menyedihkan, mungkin Tuhan akan mengasihaninya dan membantunya. Dia saat ini sedang berada dalam masa tersuburnya.Jika dia bisa hamil, ditamb
Hana mengambil gelas di meja, lalu menghabiskan anggur yang tersisa di dalamnya. kemudian, dia mengisi gelasnya lagi di depan Rizki.Dia memegang gelas itu di tangannya, dengan lembut menggoyangkannya."Anggap saja ini untuk membayar utang nyawamu, beri aku sedikit harga diri. Ayo kita berpisah baik-baik, oke?"Rizki merapatkan bibirnya, matanya sangat dingin. Akhirnya dia duduk di seberang Hana."Menemanimu minum dihitung sebagai berpisah baik-baik? Apa 10 persen saham yang kuberikan padamu nggak cukup untuk berpisah baik-baik?"Hana tersenyum sedih."Aku tahu kamu akan berpikir seperti ini. Tapi Rizki, perasaanku padamu sangat tulus. Meskipun hari ini kamu bukanlah Rizki sang CEO dan hanya seorang pria biasa, aku masih tetap akan mencintaimu. Apa kamu tahu kenapa aku menginginkan 5 persen saham itu? Itu karena aku tahu kamu nggak bisa tenang saat berutang pada seseorang. Kalau aku nggak meminta apa pun, kamu nggak akan percaya kalau aku benar-benar ingin memutus hubungan denganmu. Se
Biasanya dalam situasi seperti ini, Hana akan berbalik dan pergi.Namun, sekarang Hana tidak punya apa-apa lagi. Dia maju beberapa langkah, lalu menggigit bibirnya dan berkata, "Apa maksudmu dengan bercanda menggunakan perasaanmu? Kamu nggak berpikir kalau perasaanmu padanya tulus, 'kan? Begitu tulus sampai-sampai kamu nggak peduli kalau dia jatuh ke dalam pelukan pria lain?"Irfan melihat ke arah asistennya. "Bawa dia keluar.""Irfan, Alya akan bersama dengan Rizki. Apa kamu akan membiarkan mereka bersama begitu saja? Aku tahu bahwa selama 5 tahun ini kamu terus menemani Alya, kamu telah menunggunya selama 5 tahun. Bukankah kamu ingin bersama dengannya? Apa kamu bersedia kalau hari ini dia diambil oleh orang lain?"Hana berteriak seperti orang gila dan hampir histeris, tetapi orang di depannya masih tetap tenang."Sudah cukup bicaranya?"Hana tercengang.Apa maksudnya? Dia sudah berbicara panjang lebar, tetapi Irfan bahkan tidak peduli sedikit pun?Ini tidak masuk akal. Bukankah pria
Setelah ibunya pergi, Hana jatuh ke tempat tidur rumah sakit, menutupi pipinya yang memar dan menangis kesakitan.Jangankan ibunya, dia bahkan ingin menampar dirinya sendiri.Baru sekaranglah dia sadar, bahwa dia harusnya berhenti sejak dulu ....Namun, tampaknya, sekarang sudah terlambat untuk melakukan apa pun.Apakah ada seseorang yang bisa menolongnya?Mungkin ... ada seseorang yang bisa menolongnya.Hana terpikirkan seseorang dan melompat turun dari tempat tidur. "Nanda, cepat, bawa aku mencari taksi."Malam ini adalah malam yang sibuk.Di teras yang hening.Hasan menuangkan secangkir teh panas untuk Irfan, uap teh mengepul di udara yang dingin. Hana berdiri di hadapannya, dengan Nanda yang menopangnya di samping.Dia sudah cukup lama berdiri sana, tetapi Irfan sama sekali tidak berbicara ataupun mempersilakannya duduk.Bahkan Hasan yang berada di sisinya hanya menuangkan secangkir teh panas.Dia berlari keluar dengan terburu-buru, sehingga dia masih mengenakan gaun rumah sakit da
"Sebenarnya apa yang terjadi?"Nanda secara singkat menjelaskan apa yang dia tahu."Apa? Rizki datang?" Kegembiraan melintas di mata Tesa, dia maju dan menggenggam tangan Hana. "Hana, kenapa kamu nggak memberitahuku kalau Rizki datang? Dia datang menjengukmu, 'kan?"Sayangnya, mata Hana penuh dengan keputusasaan. Dia terlihat seperti pecundang. Tesa memanggilnya berkali-kali, tetapi dia tidak merespons."Hana? Cepat bicara!"Melihatnya yang seperti ini membuat Tesa kesal.Kemudian barulah Hana mendongak, matanya penuh dengan air mata."Ibu, dia tahu, dia sudah tahu. Selanjutnya dia nggak akan membiarkanku, dia juga nggak akan membiarkan Keluarga Adelia."Tesa mengerutkan keningnya."Tahu apa? Bicaralah yang jelas.""Alya, Alya Kartika, ingatan dia sudah kembali. Dia memberi tahu Rizki kebenarannya. Sekarang Rizki sudah tahu bahwa bukan aku yang menyelamatkannya. Dia akan membereskanku, selanjutnya dia pasti akan membereskan kita. Ibu, kita harus bagaimana?"Meskipun perkataan Hana agak
Sekarang Hana pun gelisah.Namun, sekarang dia sudah menenangkan dirinya. Malam ini Rizki datang untuk mempermainkannya.Selama dia menolak untuk mengakuinya, tidak ada yang bisa melakukan apa pun padanya.Memikirkan hal ini, Hana menatap Rizki dan berkata, "Bukankah kamu nggak tahu terima kasih? Apa kamu ke sini untuk mempermainkanku dan memberikan bukti pada Alya? Rizki, biar kuberi tahu kamu, aku nggak akan memberimu apa yang kamu mau. Kamu diselamatkan olehku yang telah mempertaruhkan nyawa. Waktu itu, aku hampir tenggelam di sungai demi menyelamatkanmu. Sementara mengenai Alya, dia bukan urusanku. Tapi, nggak ada satu pun orang yang bisa merebut jasaku. Kalau kamu mau menjadi orang yang nggak tahu terima kasih, silakan. Tapi jangan harap kamu bisa memaksa atau menyogokku untuk mendapatkan bukti apa pun."Setelah mengatakan itu, Hana langsung berbalik dan berjalan ke tepi tempat tidur, dia melepaskan sepatunya, lalu naik ke tempat tidur."Selama belasan tahun ini, akulah yang telah
Jawaban ini membuat Hana benar-benar panik.Tadinya, dia kira Rizki menanyakan hal ini karena ingin mendengarnya menceritakan ulang kejadiannya. Namun, ternyata ....Begitu menyadari betapa buruknya nasib yang harus dia hadapi bila Rizki sampai mengetahui kebenarannya, Hana pun seketika menjadi panik dan mulai berbicara dengan tidak jelas."Rizki, waktu itu benar-benar aku yang menyelamatkanmu. Jangan dengarkan omong kosong Alya, dia hanya ingin membohongimu dan membuatmu membuangku."Dari ucapannya ini, Rizki akhirnya mendapatkan kata kunci yang dia cari-cari. Matanya menyipit dengan mengancam, suaranya juga menjadi sangat dingin."Memangnya aku sudah bilang siapa yang mengatakannya?"Hana pun tercengang."Waktu itu, bukankah hanya ada aku dan kamu di tepi sungai? Kenapa kamu mengira Alya yang mengatakan sesuatu padaku? Kalau dia nggak di sana, apa perkataannya itu penting?"Sampai di sini, nada bicara Rizki seketika berubah menjadi tajam."Atau maksudmu, waktu itu bukan hanya ada kit
Hana tertegun oleh pertanyaannya dan membeku di tempat, dia menatap Rizki dengan bingung.Setelah waktu yang lama, barulah dia menyadari sesuatu.Mungkinkah Rizki sudah mengetahui kebohongannya?Tidak, itu tidak mungkin.Saat diselamatkan, Rizki masih tidak sadarkan diri. Alya juga telah kehilangan ingatannya. Rizki tidak mungkin mengetahuinya, kecuali Alya mendapatkan ingatannya kembali.Namun, bertahun-tahun telah berlalu, jika Alya ingin mendapatkan kembali ingatannya dia pasti sudah lama melakukannya, kenapa harus menunggu sampai sekarang?Apalagi, jika Alya benar-benar telah mendapatkan kembali ingatannya, apakah dia bisa menahan diri untuk tidak segera datang ke sini dan menemuinya? Dia mungkin sudah memberi tahu seluruh dunia bahwa dialah yang menyelamatkan Rizki.Setelah memikirkan hal ini, Hana merasa bahwa dirinya mungkin hanya terlalu sensitif dan curiga karena mimpinya.Rizki yang sekarang menanyakan hal-hal ini, sebenarnya memberikan kesempatan yang sangat bagus untuknya.
Karena di depan Rizki, dia selalu tampil ramah dan lembut, tidak pernah bertingkah seperti perempuan jahat seperti sekarang.Hana panik, dia segera menyibakkan selimutnya dan turun dari tempat tidur."Rizki, kenapa kamu ke sini?"Sebelum Hana selesai bicara, air mata sudah mengalir di pipinya. Dia menangis dan bergegas menghampiri Rizki."Aku kira kamu nggak mau berbicara denganku lagi."Rizki menurunkan matanya, memandang pergelangan tangan Hana."Kenapa kamu marah sekali?"Mendengar ini, Hana buru-buru menjelaskan, "A ... aku kira kamu mengabaikanku, jadi suasana hatiku sangat jelek. Maaf ... aku nggak bermaksud begitu. Nanda, apa kamu baik-baik saja?"Nanda menggeleng. Sambil melangkah mundur, dia membenci Hana yang bermuka dua ini di dalam hatinya. "Kalau begitu aku keluar dulu, kalian berdua silakan mengobrol."Dia segera pergi, bahkan menutup pintu kamar tersebut untuk Hana.Hana tidak tahu sekarang pukul berapa, tetapi seharusnya sudah malam sekali. Dia tidak menyangka Rizki aka
Setelah Rizki pergi, Alya berdiri seorang diri di depan pintu, berusaha menenangkan napas dan perasaannya.Beberapa waktu kemudian, dia mengangkat tangan dan menyentuh pipinya.Masih hangat ....Jelas-jelas tadi hanya sebuah pelukan.Akan tetapi, dia tidak menyangka Rizki benar-benar memercayainya dan sama sekali tidak mempertanyakannya.Bukankah ini artinya, hati Rizki selalu lebih condong kepadanya?"Mama?"Tiba-tiba, terdengar suara anak kecil dari belakangnya.Alya kaget dan berbalik, menemukan bahwa Satya sudah bangun entah sejak kapan dan sedang berdiri di sana menatapnya.Melihat putranya, Alya pun terkejut."Satya, kenapa kamu bangun?"Bukankah dia sudah tidur?Mata Alya menghindari putranya. Sudah berapa lama Satya berdiri di sana? Barusan dia tidak melihatnya, 'kan?Sambil memikirkan hal itu, Alya berjalan menghampiri Satya, lalu berjongkok di depannya dan menggendongnya. "Kamu keluar tanpa pakai baju tebal, bagaimana kalau nanti kamu sakit?"Setelah digendong, Satya memeluk
"Ya sudahlah." Alya berbalik. "Lagi pula kejadian itu sudah sangat lama berlalu. Kalau aku nggak mengingatnya, siapa pun pasti akan mengira dia yang menyelamatkanmu."Melihat punggungnya, Rizki merapatkan bibir."Kamu tenang saja, aku nggak akan membiarkan pencapaianmu dicuri oleh orang lain tanpa alasan."Alya tertawa dengan dingin."Apa gunanya kamu mengatakan itu sekarang? Semua orang sudah mengira dia yang menyelamatkanmu, kejadiannya juga terjadi bertahun-tahun yang lalu. Apa sekarang kamu akan keluar dan berkata bahwa yang menyelamatkanmu adalah aku dan bukan dia? Apa kamu punya bukti?""Nggak.""Jadi ...."Bahunya terasa berat, Rizki tiba-tiba memegang bahunya dan menariknya, membuatnya bertatap muka dengan pria itu."Bukti adalah sesuatu yang, selama aku inginkan, pasti ada."Alya tertegun. "Apa?"Rizki berkata, "Tadinya, aku hanya ingin memutus hubungan dengannya, lagi pula dia telah menyelamatkanku. Tapi sekarang karena dia nggak menyelamatkanku, ini bukan lagi hanya tentang