"Sudah larut malam, kalian baru pulang?"
Alma duduk santai di sofa ruang tam. u, kedua kakinya disilangkan, secangkir teh masih mengepul di tangannya. Ia tersenyum saat melihat pintu utama terbuka perlahan. Arhan dan Nadine langsung berhenti di ambang pintu. Mata mereka membesar. Mereka tidak menyangka Alma masih terjaga. Biasanya, di jam selarut ini, Alma sudah terlelap di kamar. "K-Kak Alma, belum tidur?" Suaranya sedikit bergetar, namun wajahnya seperti memaksakan diri untuk tersenyum. Arhan yang berdiri di sebelahnya tampak lebih tenang, meskipun tangannya refleks mencengkeran tali ransel yang masih menggantung di punggungnya. Alma tersenyum, mengangkat cangkirnya sedikit. "Aku nggak bisa tidur. Jadi, aku putuskan untuk duduk di sini. Lagian ... aku penasaran, kenapa kalian bisa pulang selarut ini? Bukannya kalian dinas pagi, ya? Arhan dan Nadine saling bertukar pandang. Nadine dengan cepat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sementara Arhan berdeham sebelum menjawab. "Ada rapat mendadak di rumah sakit," kata Arhan dengan nada tenang. Alma menaikkan sebelah alisnya. "Rapat? Sampai selarut ini?" Nada suaranya masih terdengar tenang. "I-iya, Kak!" Nadine langsung menimpali. "Direktur rumah sakit tiba-tiba mengumpulkan beberapa dokter dan perawat untuk membahas sistem shift baru. Aku dan Mas Arhan jadi harus tinggal lebih lama." Alma tersenyum tipis, menatap keduanya lekat-lekat. "Begitu ya? Wah, berarti kerja keras sekali kalian hari ini." Arhan mengangguk cepat. "Ya, namanya juga tanggung jawab. Kadang pekerjaan memang nggak mengenal waktu." Alma mengangguk pelan, seolah percaya. Namun, matanya tak lepas menatap wajah keduanya yang tampak gelisah. "Aku ngerti," kata Alma kemudian. "Memang sebagai tenaga medis, pasti ada situasi mendadak yang tidak bisa dihindari." Nadine tersenyum lega, tapi senyum itu langsung menghilang ketika Alma menambahkan, "Tapi ada yang aneh. Aku tadi ke rumah sakit, loh, dan ... sepertinya nggak ada rapat apapun malam ini." Arhan yang baru saja hendak melepas sepatu langsung membeku. Nadine pun terdiam seketika. "K-kak Alma ke rumah sakit?" Nadine tergagap. "Sendiri?" "Iya," Alma menyesap tehnya perlahan, menikmati bagaimana ekspresi keduanya mulai berubah. "Aku bertemu dengan seorang teman lama di sana." Arhan menelan ludah, wajahnya sedikit pucat. "Teman lama? Siapa?" Alma tersenyum. "Felix. Maksudku ..., Dokter Felix." Nadine tersentak, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Alma menatap mereka bergantian. "Aneh nggak, sih? Felix nggak bilang kalau ada rapat malam ini. Aku tau, sore tadi dia langsung pulang. Padahal, kalau memang ada pertemuan penting seperti yang kalian bilang, pasti dia tahu, ya, kan?" Ruangan seketika terasa lebih dingin. Nadine mencoba mengendalikan dirinya, namun jelas ada kegugupan di matanya. "Eh ... mungkin Dokter Felix lupa, Kak," katanya cepat. "Mungkin dia terlalu sibuk, jadi nggak mengingat semuanya." Alma tersenyum, tapi kali ini ada sesuatu dalam senyumannya yang membuat Nadine dan Arhan semakin tidak nyaman. "Mungkin juga," kata Alma akhirnya. "Manusia memang bisa lupa. Sama seperti aku yang juga lupa bahwa suamiku dan adikku bisa bekerja sampai selarut ini." Arhan mengalihkan pandangannya, wajahnya terlihat tegang. Nadine tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Y-yang penting kami sudah pulang dengan selamat, kan, Kak?" katanya, tertawa kecil. Alma mengangguk pelan. "Tentu. Aku memang sengaja menunggu kalian pulang." Nadine tampak semakin tidak nyaman. Arhan pun terlihat enggan berlama-lama di sana. "Kalau begitu, aku mau istirahat dulu," kata Arhan buru-buru. "Besok pagi aku harus ke rumah sakit lagi." Alma menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Silakan, Mas. Aku juga sebentar lagi mau tidur." Arhan segera melangkah menuju kamar, diikuti Nadine yang tampak lebih tegang dari sebelumnya. Namun, saat Nadine hendak berlalu, Alma memanggilnya. "Nadine." Nadine menghentikan langkahnya, berbalik dengan ragu. "I-yya, Kak?" Alma menatap adiknya lekat-lekat, lalu tersenyum lembut. "Istirahatlah. Besok kamu pasti butuh banyak tenaga." Nadine menelan ludah, lalu mengangguk cepat sebelum akhirnya bergegas menuju kamarnya. Saat pintu kamar Nadine tertutup, Alma menatap ke arah pintu kamar Arhan. Senyumnya perlahan memudar, berganti dengan tatapan dingin. "Mereka pikir aku bodoh," desisnya pelan. Alma berdiri, meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu melangkah ke kamarnya. Ia melihat Arhan telah terlelap di ranjang dengan posisi membelakanginya. Malam ini, ia berhasil membuat keduanya tidak nyaman. Tapi ini baru permulaan. Keesokan paginya, Alma bangun lebih awal dari biasanya. Ia memilih busana yang elegan, mengenakan jas putih lamanya, lalu berdiri di depan cermin. "Hari ini akan menjadi awal dari babak baru dalam hidupku." Dengan langkah penuh percaya diri, Alma keluar dari kamar dan berjalan ke ruang makan. Dan di sana, Arhan dan Nadine yang sedang sarapan terkejut melihatnya. "Kak Alma mau pergi pagi-pagi?" Nadine bertanya, suaranya terdengar penasaran. Alma tersenyum, menyesap kopinya sebelum menjawab. "Oh, ya, aku sekarang kembali bekerja di rumah sakit." Sendok di tangan Nadine hampir jatuh. Arhan yang sedang menyeruput kopi pun sedikit tersedak. "Kembali ... bekerja?" Arhan mengulang dengan wajah terkejut. Alma tersenyum puas melihat reaksi mereka. "Benar, mulai hari ini," ulangnya lagi. Arhan dan Nadine sama-sama terdiam. Namun, Alma bisa melihat keterkejutan sekaligus kegelisahan dalam mata mereka. (Bersambung)"Aku ingin tahu sudah sejauh mana mereka membohongiku selama ini." Siang itu, Alma memutuskan untuk berkunjung ke rumah sakit tempat Arhan dan Nadine bekerja. Ia tidak memberi tahu siapa pun, hanya mengikuti nalurinya yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus ia cari tahu. Begitu masuk ke dalam gedung rumah sakit, aroma antiseptik yang khas langsung menyambutnya. Suasana yang telah lama menyatu dalam dirinya. Namun terpaksa ia tinggalkan demi menuruti permintaan suami dan mertuanya. Baru beberapa langkah melewati lorong rumah sakit, seorang pria tua dengan jas putih mendekatinya. "Alma?" Suara itu seketika membuat Alma tersenyum lebar. Ia menoleh pada sosok yang ternyata adalah Profesor Mahendra, guru besar yang dulu begitu ia hormati saat masih kuliah. "Profesor," Alma sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. "Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Profesor Mahendra menatap Alma dengan sorot mata berbinar penuh kenangan. "Kamu masih secantik dan secerdas dulu
"Mas, ini pakaian dalam siapa?”Alma bertanya pada sang suami sembari mengangkat sebuah benda berbentuk segitiga dengan warna merah menyala. Wajahnya mengernyit, antara sibuk berpikir dan sedikit jijik.Benda itu ia temukan di dalam mobil suaminya, di bawah kursi ketika ia bersih-bersih. Alma jelas akan mengenali jika benda itu adalah miliknya, tapi ia tidak ingat ia punya pakaian dalam seseksi ini.Apalagi, ini seperti bekas pakai dan sudah kotor.Sementara itu, Arhan terdiam mengamati pakaian dalam tersebut selama beberapa saat. Bibir pria itu sedikit terbuka dan matanya melebar, seperti tengah terperangah.“Mas?” panggil Alma. Kini nadanya terdengar lebih mendesak. “Kamu tahu?”“Itu–”“Pagi, semuanya!” Ucapan Arhan terputus oleh sapaan adik Alma, Nadine, yang tiba-tiba muncul. Gadis berusia 22 tahun itu tampak ceria seperti biasa. “Hari ini aku dapat jadwal–eh, ada apa, Kak?”Bola mata Nadine tampak membesar saat melihat pakaian dalam yang ada di tangan Alma. Wajahnya yang polos te
"Memangnya Mbak Alma tidak khawatir semisal mereka selingkuh berdua?”Alma tampak terkejut kali ini mendengar ucapan Bu Retno. Dan tampaknya Bu Retno juga menyadari hal tersebut karena wanita paruh baya itu buru-buru meminta maaf.“Maaf, Mbak. Saya tidak ada niat apa-apa. Saya tahu Nadine itu adik Mbak Alma dan mereka berdua adalah saudara ipar,” ujar Bu Retno. “Tapi mereka bersama nyaris setiap hari. Pulang pergi bareng terus. Saya cuma mengingatkan saja, karena laki-laki kalau perempuan kalau terlalu sering bersama, pasti ada aja godaannya.”Deg!Ucapan Bu Retno menguatkan rasa gelisah dalam hati Alma. Namun, wanita itu berusaha mengusir bayangan-bayangan tidak mengenakkan apalagi setelah mendengar kata-kata Nadine beberapa saat yang lalu.Ia tidak boleh mencurigai suami dan adiknya seperti ini.“Bu, saya sudah ikut mengasuh Nadine sejak kecil. Ibu kami juga berpesan untuk terus menjaga Nadine sebelum beliau meninggal,” kata Alma. Suaranya terdengar lembut, tapi mengandung ketegasan
"Alma? Serius ini kamu?"Suara bariton itu akhirnya menyapa Alma lebih dulu. Pria tinggi tegap dengan jas dokter itu mendekat."Felix?" Alma mengerjap, terkejut melihat sosok itu setelah sekian lama. Wajahnya masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja kini lebih dewasa dan lebih berwibawa.Felix tersenyum lebar. "Gila! Aku hampir nggak percaya ini kamu! Udah berapa tahun kita nggak ketemu?"Alma tersenyum kecil. "Cukup lama, ya. Sejak aku menikah, kita jarang ketemu lagi."Felix tertawa kecil. "Iya, bener. Terakhir kita ngobrol itu pas kamu baru lulus spesialis, terus tiba-tiba menghilang dari dunia kedokteran. Aku pikir kamu kabur ke luar negeri!"Alma terkekeh pelan. "Nggak, aku cuma memilih fokus sama rumah tangga."Felix mengangkat alisnya. "Bagaimana kabarmu kini? Kamu baik-baik aja, kan?"Alma mengangguk, meski dalam hati ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu."Kamu ada waktu nggak? Aku lagi break makan siang. Aku traktir," ujar Felix tiba-tiba.Alma ragu, ia berpikir sej
"Mereka benar-benar melakukannya." Alma masih berdiri mematung di lobi hotel, tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Tatapannya terpaku pada dua sosok yang baru saja selesai check-in dan menghilang di balik lift. Arhan dan Nadine, suami yang telah ia percayai sepenuh hati, dan adik yang ia rawat sejak kecil. Felix, yang berdiri di sebelahnya, juga tampak terkejut. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. "Alma ..." Suara Felix pelan, hampir seperti bisikan. Namun, Alma tidak merespons. Matanya masih menatap lurus ke arah lift yang telah tertutup. Arhan dan Nadine tidak menyadari kehadirannya di hotel ini. Felix mengalihkan pandangannya ke Alma, menatap wanita itu dengan ekspresi campur aduk. Antara cemas dan iba. "Alma, kamu baik-baik saja?" Felix mencoba menyentuh lengannya, tetapi Alma tetap diam. Kemudian, tanpa sepatah kata, Alma berbalik dan melangkah keluar dari hotel. Langkahnya cepat dan tegas
"Aku ingin tahu sudah sejauh mana mereka membohongiku selama ini." Siang itu, Alma memutuskan untuk berkunjung ke rumah sakit tempat Arhan dan Nadine bekerja. Ia tidak memberi tahu siapa pun, hanya mengikuti nalurinya yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus ia cari tahu. Begitu masuk ke dalam gedung rumah sakit, aroma antiseptik yang khas langsung menyambutnya. Suasana yang telah lama menyatu dalam dirinya. Namun terpaksa ia tinggalkan demi menuruti permintaan suami dan mertuanya. Baru beberapa langkah melewati lorong rumah sakit, seorang pria tua dengan jas putih mendekatinya. "Alma?" Suara itu seketika membuat Alma tersenyum lebar. Ia menoleh pada sosok yang ternyata adalah Profesor Mahendra, guru besar yang dulu begitu ia hormati saat masih kuliah. "Profesor," Alma sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. "Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Profesor Mahendra menatap Alma dengan sorot mata berbinar penuh kenangan. "Kamu masih secantik dan secerdas dulu
"Sudah larut malam, kalian baru pulang?" Alma duduk santai di sofa ruang tam. u, kedua kakinya disilangkan, secangkir teh masih mengepul di tangannya. Ia tersenyum saat melihat pintu utama terbuka perlahan.Arhan dan Nadine langsung berhenti di ambang pintu. Mata mereka membesar. Mereka tidak menyangka Alma masih terjaga.Biasanya, di jam selarut ini, Alma sudah terlelap di kamar. "K-Kak Alma, belum tidur?" Suaranya sedikit bergetar, namun wajahnya seperti memaksakan diri untuk tersenyum.Arhan yang berdiri di sebelahnya tampak lebih tenang, meskipun tangannya refleks mencengkeran tali ransel yang masih menggantung di punggungnya.Alma tersenyum, mengangkat cangkirnya sedikit. "Aku nggak bisa tidur. Jadi, aku putuskan untuk duduk di sini. Lagian ... aku penasaran, kenapa kalian bisa pulang selarut ini? Bukannya kalian dinas pagi, ya? Arhan dan Nadine saling bertukar pandang. Nadine dengan cepat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sementara Arhan berdeham sebelum menja
"Mereka benar-benar melakukannya." Alma masih berdiri mematung di lobi hotel, tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Tatapannya terpaku pada dua sosok yang baru saja selesai check-in dan menghilang di balik lift. Arhan dan Nadine, suami yang telah ia percayai sepenuh hati, dan adik yang ia rawat sejak kecil. Felix, yang berdiri di sebelahnya, juga tampak terkejut. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. "Alma ..." Suara Felix pelan, hampir seperti bisikan. Namun, Alma tidak merespons. Matanya masih menatap lurus ke arah lift yang telah tertutup. Arhan dan Nadine tidak menyadari kehadirannya di hotel ini. Felix mengalihkan pandangannya ke Alma, menatap wanita itu dengan ekspresi campur aduk. Antara cemas dan iba. "Alma, kamu baik-baik saja?" Felix mencoba menyentuh lengannya, tetapi Alma tetap diam. Kemudian, tanpa sepatah kata, Alma berbalik dan melangkah keluar dari hotel. Langkahnya cepat dan tegas
"Alma? Serius ini kamu?"Suara bariton itu akhirnya menyapa Alma lebih dulu. Pria tinggi tegap dengan jas dokter itu mendekat."Felix?" Alma mengerjap, terkejut melihat sosok itu setelah sekian lama. Wajahnya masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja kini lebih dewasa dan lebih berwibawa.Felix tersenyum lebar. "Gila! Aku hampir nggak percaya ini kamu! Udah berapa tahun kita nggak ketemu?"Alma tersenyum kecil. "Cukup lama, ya. Sejak aku menikah, kita jarang ketemu lagi."Felix tertawa kecil. "Iya, bener. Terakhir kita ngobrol itu pas kamu baru lulus spesialis, terus tiba-tiba menghilang dari dunia kedokteran. Aku pikir kamu kabur ke luar negeri!"Alma terkekeh pelan. "Nggak, aku cuma memilih fokus sama rumah tangga."Felix mengangkat alisnya. "Bagaimana kabarmu kini? Kamu baik-baik aja, kan?"Alma mengangguk, meski dalam hati ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu."Kamu ada waktu nggak? Aku lagi break makan siang. Aku traktir," ujar Felix tiba-tiba.Alma ragu, ia berpikir sej
"Memangnya Mbak Alma tidak khawatir semisal mereka selingkuh berdua?”Alma tampak terkejut kali ini mendengar ucapan Bu Retno. Dan tampaknya Bu Retno juga menyadari hal tersebut karena wanita paruh baya itu buru-buru meminta maaf.“Maaf, Mbak. Saya tidak ada niat apa-apa. Saya tahu Nadine itu adik Mbak Alma dan mereka berdua adalah saudara ipar,” ujar Bu Retno. “Tapi mereka bersama nyaris setiap hari. Pulang pergi bareng terus. Saya cuma mengingatkan saja, karena laki-laki kalau perempuan kalau terlalu sering bersama, pasti ada aja godaannya.”Deg!Ucapan Bu Retno menguatkan rasa gelisah dalam hati Alma. Namun, wanita itu berusaha mengusir bayangan-bayangan tidak mengenakkan apalagi setelah mendengar kata-kata Nadine beberapa saat yang lalu.Ia tidak boleh mencurigai suami dan adiknya seperti ini.“Bu, saya sudah ikut mengasuh Nadine sejak kecil. Ibu kami juga berpesan untuk terus menjaga Nadine sebelum beliau meninggal,” kata Alma. Suaranya terdengar lembut, tapi mengandung ketegasan
"Mas, ini pakaian dalam siapa?”Alma bertanya pada sang suami sembari mengangkat sebuah benda berbentuk segitiga dengan warna merah menyala. Wajahnya mengernyit, antara sibuk berpikir dan sedikit jijik.Benda itu ia temukan di dalam mobil suaminya, di bawah kursi ketika ia bersih-bersih. Alma jelas akan mengenali jika benda itu adalah miliknya, tapi ia tidak ingat ia punya pakaian dalam seseksi ini.Apalagi, ini seperti bekas pakai dan sudah kotor.Sementara itu, Arhan terdiam mengamati pakaian dalam tersebut selama beberapa saat. Bibir pria itu sedikit terbuka dan matanya melebar, seperti tengah terperangah.“Mas?” panggil Alma. Kini nadanya terdengar lebih mendesak. “Kamu tahu?”“Itu–”“Pagi, semuanya!” Ucapan Arhan terputus oleh sapaan adik Alma, Nadine, yang tiba-tiba muncul. Gadis berusia 22 tahun itu tampak ceria seperti biasa. “Hari ini aku dapat jadwal–eh, ada apa, Kak?”Bola mata Nadine tampak membesar saat melihat pakaian dalam yang ada di tangan Alma. Wajahnya yang polos te