"Memangnya Mbak Alma tidak khawatir semisal mereka selingkuh berdua?”
Alma tampak terkejut kali ini mendengar ucapan Bu Retno. Dan tampaknya Bu Retno juga menyadari hal tersebut karena wanita paruh baya itu buru-buru meminta maaf. “Maaf, Mbak. Saya tidak ada niat apa-apa. Saya tahu Nadine itu adik Mbak Alma dan mereka berdua adalah saudara ipar,” ujar Bu Retno. “Tapi mereka bersama nyaris setiap hari. Pulang pergi bareng terus. Saya cuma mengingatkan saja, karena laki-laki kalau perempuan kalau terlalu sering bersama, pasti ada aja godaannya.” Deg! Ucapan Bu Retno menguatkan rasa gelisah dalam hati Alma. Namun, wanita itu berusaha mengusir bayangan-bayangan tidak mengenakkan apalagi setelah mendengar kata-kata Nadine beberapa saat yang lalu. Ia tidak boleh mencurigai suami dan adiknya seperti ini. “Bu, saya sudah ikut mengasuh Nadine sejak kecil. Ibu kami juga berpesan untuk terus menjaga Nadine sebelum beliau meninggal,” kata Alma. Suaranya terdengar lembut, tapi mengandung ketegasan. “Mas Arhan juga paham kondisi saya dan dia pun berkenan menjaga Nadine bersama saya.” Bu Retno mengehla napas. “Maaf, Mbak Alma. Saya tidak bermaksud menyinggung,” katanya. “Saya hanya khawatir. Apalagi memang sudah jadi omongan tetangga.” "Nggak akan ada apa-apa kok, Bu." Alma tersenyum. “Saya percaya Nadine adalah anak berbudi baik. Begitu juga suami saya.” *** “Mas, mau kupijit sebelum tidur?” Alma menawarkan ketika akhirnya Arhan memasuki kamar dan merebahkan diri di sampingnya. Hari ini pria itu juga pulang larut, kali ini dengan alasan ikut makan malam dengan direktur rumah sakit. “Tidak usah. Tidur saja.” Arhan menolak langsung. Hening sejenak. Alma berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Arhan sudah ada di sebelahnya, tapi rasanya seperti mereka berada di dua dunia yang berbeda. Biasanya, Arhan akan memeluknya sebelum tidur, membisikkan sesuatu yang manis, atau sekadar menanyakan bagaimana harinya. Akan tetapi, malam ini berbeda. Arhan hanya berbaring dengan wajah menghadap ke samping, punggungnya sedikit membelakangi Alma. Napasnya terdengar berat, seperti orang yang terlalu lelah. “Mas,” Alma memanggil pelan, mencoba memulai percakapan. “Hm?” Arhan hanya bergumam tanpa membuka matanya. “Kamu capek, ya?” “Iya, banget,” jawabnya singkat. Setelah itu, ia tidak lagi memberikan respon. Alma menatap suaminya dalam keheningan. Ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya, meskipun lelah, Arhan selalu meluangkan waktu untuk berbicara dengannya sebelum tidur. Namun, malam ini sikapnya terasa dingin. Alma menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pikirannya yang mulai gelisah. Ia mencoba mencari alasan untuk sikap suaminya, berpikir mungkin memang hanya lelah. Tapi jauh di lubuk hatinya, firasat buruk mulai muncul. Ketika Arhan akhirnya tertidur, Alma masih terjaga, memandang langit-langit kamar dengan perasaan gelisah. “Apa sebenarnya yang sedang terjadi?” gumamnya pelan. Saat pagi Alma terbangun, ranjang di sebelahnya sudah kosong. Biasanya, Arhan masih ada di sana, minimal mencuri waktu untuk bercanda atau sekadar membelai rambutnya sebelum bangun. Tapi sekarang, yang tersisa hanya bekas lekukan di bantal serta selimut yang berantakan. Alma bangkit, mengenakan jubah tidurnya, lalu keluar kamar. Di meja makan, Nadine sudah duduk sambil menyeruput kopi. Gadis itu terlihat segar, sementara Arhan tampak sibuk membaca sesuatu di ponselnya sambil mengunyah roti. “Mas nggak sarapan nasi?” tanya Alma seraya duduk di sebelah suaminya. Arhan hanya menggeleng tanpa menoleh. “Nggak sempat. Ada operasi pagi ini.” Alma menghela napas, lalu mengambil teh hangatnya. “Akhir-akhir ini kamu sibuk banget, Mas. Padahal aku kangen loh, ngobrol sama kamu.” Arhan akhirnya menoleh, tersenyum tipis. “Maaf ya, Al. Pasienku lagi banyak banget.” Nadine tersenyum melirik Arhan, ia ikut nimbrung sambil meletakkan cangkir kopinya. “Mas Arhan memang dokter paling sibuk di rumah sakit. Bahkan di sela-sela waktu kosong pun masih ada yang butuh Mas Arhan loh, Kak.” Alma melirik Nadine. Ada sesuatu pada nada bicara adiknya yang membuatnya tidak nyaman. Tapi ia hanya tersenyum, mencoba mengabaikan perasaan yang mulai mengusik hatinya. “Kalau sibuknya untuk kerja, aku nggak masalah,” kata Alma pelan. “Aku cuma nggak mau Mas terlalu capek.” Arhan meraih ponselnya dan berdiri. “Aku harus berangkat sekarang. Nadine, kamu berangkat bareng aku lagi?” Nadine langsung mengangguk. “Iya, Mas. Aku juga masuk pagi hari ini.” Nadine menghabiskan minumnya, menyambar tas dan bergegas menyusul Arhan. "Jangan lupa makan siang ya, Mas,” kata Alma, mencoba tersenyum meski hatinya terasa berat. Arhan hanya mengangguk tanpa menoleh, lalu masuk ke dalam mobil. Nadine pun telah duduk di sebelah Arhan. Kini Alma sendirian di teras menatap mobil Arhan hingga menghilang di balik gerbang. *** Beberapa hari setelah kejadian ia menemukan pakaian dalam itu, Alma memang selalu gelisah. Apalagi ia merasa sikap sang suami semakin tidak acuh. Setiap ia ingin mengajak ngobrol, Arhan selalu menghindar. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui sahabatnya yang merupakan dokter psikolog. Seperti siang ini, setelah semua pekerjaan rumahnya beres, dengan taksi online ia berangkat ke suatu tempat. "Langsung aja ke ruanganku, Al!" balas Septiana ketika Alma menelponnya. Tanpa sepengetahuan Arhan dan Nadine, saat ini Alma telah berada di depan rumah sakit tempat suami dan adiknya itu bekerja. Tanpa canggung, Alma masuk ke dalam rumah sakit yang cukup terkenal di kotanya itu. Ia langsung menuju poliklinik dimana Dokter Septiana berada. Sepanjang jalan ia bersyukur tidak berpapasan dengan Arhan maupun Nadine. "Apa masalahmu, Al? Ceritakan semuanya padaku!" Setelah saling bertukar kabar sesaat, mereka mulai bicara serius. "Mungkin dengan cerita begini, aku bisa sedikit lega." Alma mulai menceritakan semua kegelisahannya tentang suaminya yang mulai berubah hingga penemuan pakaian dalam di mobil. Alma juga mengungkapkan kecurigaannya tentang adanya wanita lain dalam rumah tangganya. Setelah selesai konsultasi, Alma pamit untuk pulang. Namun, ketika melewati lorong rumah sakit, langkahnya terhenti melihat sosok yang tidak asing sedang berbincang dengan seorang wanita. (Bersambung)"Alma? Serius ini kamu?"Suara bariton itu akhirnya menyapa Alma lebih dulu. Pria tinggi tegap dengan jas dokter itu mendekat."Felix?" Alma mengerjap, terkejut melihat sosok itu setelah sekian lama. Wajahnya masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja kini lebih dewasa dan lebih berwibawa.Felix tersenyum lebar. "Gila! Aku hampir nggak percaya ini kamu! Udah berapa tahun kita nggak ketemu?"Alma tersenyum kecil. "Cukup lama, ya. Sejak aku menikah, kita jarang ketemu lagi."Felix tertawa kecil. "Iya, bener. Terakhir kita ngobrol itu pas kamu baru lulus spesialis, terus tiba-tiba menghilang dari dunia kedokteran. Aku pikir kamu kabur ke luar negeri!"Alma terkekeh pelan. "Nggak, aku cuma memilih fokus sama rumah tangga."Felix mengangkat alisnya. "Bagaimana kabarmu kini? Kamu baik-baik aja, kan?"Alma mengangguk, meski dalam hati ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu."Kamu ada waktu nggak? Aku lagi break makan siang. Aku traktir," ujar Felix tiba-tiba.Alma ragu, ia berpikir sej
"Mereka benar-benar melakukannya." Alma masih berdiri mematung di lobi hotel, tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Tatapannya terpaku pada dua sosok yang baru saja selesai check-in dan menghilang di balik lift. Arhan dan Nadine, suami yang telah ia percayai sepenuh hati, dan adik yang ia rawat sejak kecil. Felix, yang berdiri di sebelahnya, juga tampak terkejut. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. "Alma ..." Suara Felix pelan, hampir seperti bisikan. Namun, Alma tidak merespons. Matanya masih menatap lurus ke arah lift yang telah tertutup. Arhan dan Nadine tidak menyadari kehadirannya di hotel ini. Felix mengalihkan pandangannya ke Alma, menatap wanita itu dengan ekspresi campur aduk. Antara cemas dan iba. "Alma, kamu baik-baik saja?" Felix mencoba menyentuh lengannya, tetapi Alma tetap diam. Kemudian, tanpa sepatah kata, Alma berbalik dan melangkah keluar dari hotel. Langkahnya cepat dan tegas
"Sudah larut malam, kalian baru pulang?" Alma duduk santai di sofa ruang tam. u, kedua kakinya disilangkan, secangkir teh masih mengepul di tangannya. Ia tersenyum saat melihat pintu utama terbuka perlahan.Arhan dan Nadine langsung berhenti di ambang pintu. Mata mereka membesar. Mereka tidak menyangka Alma masih terjaga.Biasanya, di jam selarut ini, Alma sudah terlelap di kamar. "K-Kak Alma, belum tidur?" Suaranya sedikit bergetar, namun wajahnya seperti memaksakan diri untuk tersenyum.Arhan yang berdiri di sebelahnya tampak lebih tenang, meskipun tangannya refleks mencengkeran tali ransel yang masih menggantung di punggungnya.Alma tersenyum, mengangkat cangkirnya sedikit. "Aku nggak bisa tidur. Jadi, aku putuskan untuk duduk di sini. Lagian ... aku penasaran, kenapa kalian bisa pulang selarut ini? Bukannya kalian dinas pagi, ya? Arhan dan Nadine saling bertukar pandang. Nadine dengan cepat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sementara Arhan berdeham sebelum menja
"Aku ingin tahu sudah sejauh mana mereka membohongiku selama ini." Siang itu, Alma memutuskan untuk berkunjung ke rumah sakit tempat Arhan dan Nadine bekerja. Ia tidak memberi tahu siapa pun, hanya mengikuti nalurinya yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus ia cari tahu. Begitu masuk ke dalam gedung rumah sakit, aroma antiseptik yang khas langsung menyambutnya. Suasana yang telah lama menyatu dalam dirinya. Namun terpaksa ia tinggalkan demi menuruti permintaan suami dan mertuanya. Baru beberapa langkah melewati lorong rumah sakit, seorang pria tua dengan jas putih mendekatinya. "Alma?" Suara itu seketika membuat Alma tersenyum lebar. Ia menoleh pada sosok yang ternyata adalah Profesor Mahendra, guru besar yang dulu begitu ia hormati saat masih kuliah. "Profesor," Alma sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. "Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Profesor Mahendra menatap Alma dengan sorot mata berbinar penuh kenangan. "Kamu masih secantik dan secerdas dulu
"Mas, ini pakaian dalam siapa?”Alma bertanya pada sang suami sembari mengangkat sebuah benda berbentuk segitiga dengan warna merah menyala. Wajahnya mengernyit, antara sibuk berpikir dan sedikit jijik.Benda itu ia temukan di dalam mobil suaminya, di bawah kursi ketika ia bersih-bersih. Alma jelas akan mengenali jika benda itu adalah miliknya, tapi ia tidak ingat ia punya pakaian dalam seseksi ini.Apalagi, ini seperti bekas pakai dan sudah kotor.Sementara itu, Arhan terdiam mengamati pakaian dalam tersebut selama beberapa saat. Bibir pria itu sedikit terbuka dan matanya melebar, seperti tengah terperangah.“Mas?” panggil Alma. Kini nadanya terdengar lebih mendesak. “Kamu tahu?”“Itu–”“Pagi, semuanya!” Ucapan Arhan terputus oleh sapaan adik Alma, Nadine, yang tiba-tiba muncul. Gadis berusia 22 tahun itu tampak ceria seperti biasa. “Hari ini aku dapat jadwal–eh, ada apa, Kak?”Bola mata Nadine tampak membesar saat melihat pakaian dalam yang ada di tangan Alma. Wajahnya yang polos te
"Aku ingin tahu sudah sejauh mana mereka membohongiku selama ini." Siang itu, Alma memutuskan untuk berkunjung ke rumah sakit tempat Arhan dan Nadine bekerja. Ia tidak memberi tahu siapa pun, hanya mengikuti nalurinya yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus ia cari tahu. Begitu masuk ke dalam gedung rumah sakit, aroma antiseptik yang khas langsung menyambutnya. Suasana yang telah lama menyatu dalam dirinya. Namun terpaksa ia tinggalkan demi menuruti permintaan suami dan mertuanya. Baru beberapa langkah melewati lorong rumah sakit, seorang pria tua dengan jas putih mendekatinya. "Alma?" Suara itu seketika membuat Alma tersenyum lebar. Ia menoleh pada sosok yang ternyata adalah Profesor Mahendra, guru besar yang dulu begitu ia hormati saat masih kuliah. "Profesor," Alma sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. "Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Profesor Mahendra menatap Alma dengan sorot mata berbinar penuh kenangan. "Kamu masih secantik dan secerdas dulu
"Sudah larut malam, kalian baru pulang?" Alma duduk santai di sofa ruang tam. u, kedua kakinya disilangkan, secangkir teh masih mengepul di tangannya. Ia tersenyum saat melihat pintu utama terbuka perlahan.Arhan dan Nadine langsung berhenti di ambang pintu. Mata mereka membesar. Mereka tidak menyangka Alma masih terjaga.Biasanya, di jam selarut ini, Alma sudah terlelap di kamar. "K-Kak Alma, belum tidur?" Suaranya sedikit bergetar, namun wajahnya seperti memaksakan diri untuk tersenyum.Arhan yang berdiri di sebelahnya tampak lebih tenang, meskipun tangannya refleks mencengkeran tali ransel yang masih menggantung di punggungnya.Alma tersenyum, mengangkat cangkirnya sedikit. "Aku nggak bisa tidur. Jadi, aku putuskan untuk duduk di sini. Lagian ... aku penasaran, kenapa kalian bisa pulang selarut ini? Bukannya kalian dinas pagi, ya? Arhan dan Nadine saling bertukar pandang. Nadine dengan cepat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sementara Arhan berdeham sebelum menja
"Mereka benar-benar melakukannya." Alma masih berdiri mematung di lobi hotel, tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Tatapannya terpaku pada dua sosok yang baru saja selesai check-in dan menghilang di balik lift. Arhan dan Nadine, suami yang telah ia percayai sepenuh hati, dan adik yang ia rawat sejak kecil. Felix, yang berdiri di sebelahnya, juga tampak terkejut. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. "Alma ..." Suara Felix pelan, hampir seperti bisikan. Namun, Alma tidak merespons. Matanya masih menatap lurus ke arah lift yang telah tertutup. Arhan dan Nadine tidak menyadari kehadirannya di hotel ini. Felix mengalihkan pandangannya ke Alma, menatap wanita itu dengan ekspresi campur aduk. Antara cemas dan iba. "Alma, kamu baik-baik saja?" Felix mencoba menyentuh lengannya, tetapi Alma tetap diam. Kemudian, tanpa sepatah kata, Alma berbalik dan melangkah keluar dari hotel. Langkahnya cepat dan tegas
"Alma? Serius ini kamu?"Suara bariton itu akhirnya menyapa Alma lebih dulu. Pria tinggi tegap dengan jas dokter itu mendekat."Felix?" Alma mengerjap, terkejut melihat sosok itu setelah sekian lama. Wajahnya masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja kini lebih dewasa dan lebih berwibawa.Felix tersenyum lebar. "Gila! Aku hampir nggak percaya ini kamu! Udah berapa tahun kita nggak ketemu?"Alma tersenyum kecil. "Cukup lama, ya. Sejak aku menikah, kita jarang ketemu lagi."Felix tertawa kecil. "Iya, bener. Terakhir kita ngobrol itu pas kamu baru lulus spesialis, terus tiba-tiba menghilang dari dunia kedokteran. Aku pikir kamu kabur ke luar negeri!"Alma terkekeh pelan. "Nggak, aku cuma memilih fokus sama rumah tangga."Felix mengangkat alisnya. "Bagaimana kabarmu kini? Kamu baik-baik aja, kan?"Alma mengangguk, meski dalam hati ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu."Kamu ada waktu nggak? Aku lagi break makan siang. Aku traktir," ujar Felix tiba-tiba.Alma ragu, ia berpikir sej
"Memangnya Mbak Alma tidak khawatir semisal mereka selingkuh berdua?”Alma tampak terkejut kali ini mendengar ucapan Bu Retno. Dan tampaknya Bu Retno juga menyadari hal tersebut karena wanita paruh baya itu buru-buru meminta maaf.“Maaf, Mbak. Saya tidak ada niat apa-apa. Saya tahu Nadine itu adik Mbak Alma dan mereka berdua adalah saudara ipar,” ujar Bu Retno. “Tapi mereka bersama nyaris setiap hari. Pulang pergi bareng terus. Saya cuma mengingatkan saja, karena laki-laki kalau perempuan kalau terlalu sering bersama, pasti ada aja godaannya.”Deg!Ucapan Bu Retno menguatkan rasa gelisah dalam hati Alma. Namun, wanita itu berusaha mengusir bayangan-bayangan tidak mengenakkan apalagi setelah mendengar kata-kata Nadine beberapa saat yang lalu.Ia tidak boleh mencurigai suami dan adiknya seperti ini.“Bu, saya sudah ikut mengasuh Nadine sejak kecil. Ibu kami juga berpesan untuk terus menjaga Nadine sebelum beliau meninggal,” kata Alma. Suaranya terdengar lembut, tapi mengandung ketegasan
"Mas, ini pakaian dalam siapa?”Alma bertanya pada sang suami sembari mengangkat sebuah benda berbentuk segitiga dengan warna merah menyala. Wajahnya mengernyit, antara sibuk berpikir dan sedikit jijik.Benda itu ia temukan di dalam mobil suaminya, di bawah kursi ketika ia bersih-bersih. Alma jelas akan mengenali jika benda itu adalah miliknya, tapi ia tidak ingat ia punya pakaian dalam seseksi ini.Apalagi, ini seperti bekas pakai dan sudah kotor.Sementara itu, Arhan terdiam mengamati pakaian dalam tersebut selama beberapa saat. Bibir pria itu sedikit terbuka dan matanya melebar, seperti tengah terperangah.“Mas?” panggil Alma. Kini nadanya terdengar lebih mendesak. “Kamu tahu?”“Itu–”“Pagi, semuanya!” Ucapan Arhan terputus oleh sapaan adik Alma, Nadine, yang tiba-tiba muncul. Gadis berusia 22 tahun itu tampak ceria seperti biasa. “Hari ini aku dapat jadwal–eh, ada apa, Kak?”Bola mata Nadine tampak membesar saat melihat pakaian dalam yang ada di tangan Alma. Wajahnya yang polos te