Share

Bab 05

Penulis: Olivia Yoyet
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-09 18:58:35

05

"Halo?" sapa suara laki-laki yang tidak dikenali Anton. 

"Maaf, apa ini betul nomornya Rinjani?" tanya pria berkulit kecokelatan. 

"Ya. Ini, siapa?" 

"Ehm, temannya." 

Chumaidi, ipar Rinjani terkesiap. Dia seolah-olah pernah mendengar suara orang yang menelepon itu. Namun, Chumaidi melupakan detailnya. 

"Ririn sedang tidak bisa menerima telepon," jelas Chumaidi.

"Apa ada masalah?" tanya Anton tanpa bisa menahan rasa penasarannya.

"Tidak ada. Dia sedang tidur." 

"Oh, begitu." 

"Ada yang bisa saya bantu?" 

"Ehm, nggak ada. Besok saya telepon lagi." 

"Sebutkan namamu. Supaya saya bisa menyampaikannya pada Ririn nanti." 

Anton melirik asistennya yang sedang sibuk bersantap. "Dani," ucapnya, sengaja memakai nama Mardani agar tidak dicurigai orang yang ditebaknya sebagai suami Lidya. 

"Baik." 

"Makasih, Mas. Saya tutup teleponnya. Assalamualaikum." 

"Waalaikumsalam." 

Chumaidi menjauhkan ponsel Rinjani dari telinganya. Pria berkumis tersebut memandangi istrinya yang sedang mengaji dengan suara pelan. 

Chumaidi bergeser mendekati Lidya. Dia menyenggol lengan perempuan berjilbab krem yang seketika menoleh ke kanan. 

"Bun, barusan ada yang nelepon ke hape Ririn," tutur Chumaidi. 

"Siapa?" tanya Lidya. 

"Dia ngaku bernama Dani, tapi, Ayah pikir suaranya mirip Anton." 

Lidya membulatkan matanya. "Kok, dia bisa nelepon? Bukannya sudah diblokir Ririn?" 

"Ini nopenya nggak tersimpan di ponsel Ririn. Mungkin Anton pakai nomor baru." 

"Cepat diblokir, Yah. Jangan sampai si ontohod itu tahu jika anaknya sudah lahir." 

Chumaidi mengangguk patuh. Dia memblokir nomor Dani itu, lalu memberikan ponsel Rinjani pada istrinya. 

Puluhan menit terlewati, Faidhan telah datang dan sedang berada di ruang khusus donor. Sementara Sebastian tengah duduk di bangku kantin bersama Urfan dan Chumaidi. 

Sebastian mendengarkan penjelasan Kakak ipar Rinjani, tentang kondisi terakhir perempuan tersebut, yang masih belum sadarkan diri. 

Kendatipun baru mengenal Rinjani, Sebastian turut bersimpati pada nasib perempuan itu, yang diterangkan Chumaidi telah bercerai dengan suaminya sejak beberapa bulan silam. 

"Berarti, saat cerai itu, Rinjani sedang hamil?" tanya Sebastian, sesaat setelah Chumaidi usai bercerita. 

"Ya. Dia ngotot bercerai karena tidak mau lagi bersama pria itu," jawab Chumaidi. 

Sebastian terdiam sejenak. Dia seolah-olah mengingat kehidupannya sendiri yang sempat berada di titik terendah.

Perceraiannya dengan Keisha masih menyisakan sakit dalam dada. Sebastian berusaha tegar dan menutupi perihnya hati dari khalayak. Terutama karena dia tidak mau dikasihani, dan ingin menanggungnya sendiri. 

Panggilan Urfan menjadikan lamunan Sebastian terputus. Dia mengangguk paham kala sang ajudan mengajak ke hotel untuk beristirahat. 

"Kami pamit dulu, Mas," ujar Sebastian sambil bangkit duduk. "Besok, saya datang lagi," lanjutnya sembari menyalami Chumaidi yang turut berdiri.

"Ya, Bas. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya. Tanpamu, mungkin Ririn tidak tertolong," balas Chumaidi, kemudian dia beralih menyalami Urfan. 

"Kembali kasih. Titip salam buat keluarga." 

"Baik, nanti saya sampaikan." 

Chumaidi memandangi kedua pria bercelana hitam yang tengah jalan menjauh. Dia mengucapkan doa setulus hati, agar Tuhan melindungi Sebastian dan Urfan yang telah menolong Rinjani dari awal hingga tuntas. 

"Pak, aku lupa ngabarin," tukas Urfan, sesaat setelah memasuki mobil.

"Apaan?" tanya Sebastian sembari memijat leher dan pundaknya yang sakit. 

"Komandan Wirya minta kita nginap di resor BPAGK. Free charge," jelas Urfan sembari menyalakan mesin mobil dan bersiap-siap mengemudi.

"Kok, dia bisa tahu kalau kita di sini?" 

"Aku laporan ke Bang Yusuf. Ternyata diteruskan ke dirut." 

Sebastian menggeleng pelan. "Harusnya kamu nggak usah laporan. Semuanya pasti nyampe ke Wirya." 

"Mana bisa begitu? Bapak, kan, tahu, pengawas unit kerja pasti nagih laporan di grup. Mana nagihnya getol lagi. Lewat dari jam 9 malam, orangnya dimention berulang kali di grup." 

Sebastian mengulum senyuman. "Yusuf meniru para seniornya." 

"Hu um." 

"Kamu nanti juga akan begitu. Maksudku, setelah posisimu naik." 

"Masih jauh, Pak. Aku anak bawang." 

"Fokus kerja sebaik mungkin. Aku akan bantu promosi ke Wirya, supaya kamu bisa masuk ke grup binaannya." 

"Siap!" 

***

Hari berganti. Sebastian bangun saat matahari sudah terang. Dia meringis, karena badannya sakit. Terutama bagian leher dan pundak. 

Sebastian bangkit duduk, lalu melihat ke kanan. Kasur yang ditempati Urfan telah kosong. Sebastian bertanya-tanya dalam hati ke mana ajudannya pergi. Namun, tidak berselang lama Urfan muncul dari pintu sembari membawa meja kecil berkaki. 

"Fan, tanyain ke resepsionis. Kalau nggak salah, di sini ada spa, kan?" tanya Sebastian. 

"Ada, Pak. Di lantai dua ujung. Yang menghadap kolam renang," jawab Urfan sembari meletakkan meja berkaki ke kasur bosnya. 

"Badanku pegal-pegal. Mau dipijat dulu, deh. Habis itu baru kita check out dan berangkat ke rumah sakit." 

"Aku juga mau diurut. Kaki ngenyut." 

"Kita sarapan. Lalu, aku mandi. Baru kita ke tempat spa." 

Sementara itu di tempat berbeda, Keisha terlihat gusar. Sejak kemarin malam dia kesulitan menghubungi Anton. Keisha juga sudah menelepon Mardani yang berjanji akan menyampaikan pesan Keisha pada bosnya. 

Akan tetapi, hingga jam berganti, Anton belum juga menghubungi Keisha, dan itu membuatnya gelisah. Perempuan berbibir penuh berpikir cepat, sebelum akhirnya mengetikkan pesan bernada ancaman dan mengirimkannya pada Anton. 

Belasan menit berikutnya, pria tersebut menelepon Keisha. Namun, belum sempat Anton menjelaskan, perempuan berambut panjang itu sudah mencecarnya dengan pertanyaan beruntun. 

"Kei, kepalaku lagi pusing. Tolong, jangan ngomel dulu," bujuk Anton dari seberang telepon. 

"Mas yang bikin aku marah. Susah benar dihubungi!" desis Keisha. 

"Sorry, tapi kemarin aku benar-benar sibuk." 

"Segitu sibuknya, sampai nggak bisa balas chat-ku?" 

"Hapeku ngedadak hang. Akhirnya kumatikan, dan baru nyala tadi pagi. Aku buru-buru mau rapat, jadi lupa nelepon kamu." 

Keisha mendengkus kuat. Meskipun kesal pada Anton, tetapi dia berusaha untuk menenangkan diri. "Mas, kapan kita nemuin orang tuaku? Mereka sudah nanyain tentang kesungguhan Mas untuk menikahiku." 

"Tunggu aku pulang Jumat nanti. Sabtu, kita ke rumah orang tuamu." 

"Bukannya Mas waktu itu bilangnya, dinas cuma sampai Rabu?" 

"Banyak masalah di sini, Kei. Beberapa tender besar gagal didapatkan. Aku mau nyoba ngedeketin Adwaya Lakeswara dan Andreas Karunasekara. Supaya bisa nyelip ke perusahaan mereka." 

"Hmm, kenapa banyak yang gagal?" 

"Karena proyeknya dikuasai PC." 

Keisha tercengang. "Mas Sebastian juga anggota PC." 

"Aku lupa tentang itu." 

"Dia menetap di Singapura juga dalam rangka menyelesaikan proyek PC." 

Anton tertegun sesaat. "Kamu bisa nggak? Deketin dia supaya kita bisa join."

"Aku nggak berani. Dia itu keras kepala. Urusan harta aja, sampai sekarang aku masih berjuang buat mendapatkannya." 

"Dicoba dulu, Kei. Pura-pura baik ke dia. Siapa tahu dia akhirnya luluh dan memberikanmu bagian dari harta gono-gini." 

"Aku nggak yakin. Apalagi dia sudah blokir semua akun sosmed-ku. Untuk berkomunikasi pun, aku terpaksa minta tolong sama Aline." 

"Manfaatkan lagi adiknya itu. Apalagi dia pernah utang budi ke kamu. Sekarang waktunya menagih, supaya kamu dapat harta itu." 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 06

    06Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan. Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan. "Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu. "Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian. "Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam." "Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam. "Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja." "Abizar?" "Dia lagi jaga toko bapaknya." Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU. Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju l

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 07

    07Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. "Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. "Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. "Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA."Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. "Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. "Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. "Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan beram

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 08

    08Jalinan waktu terus berjalan. Jumat pagi, Sebastian tiba di gedung belasan lantai di kawasan Jakarta Selatan. Pria bersetelan jas abu-abu muda, melangkah memasuki lobi sembari membalas sapaan karyawan tempat itu dengan senyuman. Urfan yang mengikuti langkah bosnya, sempat memberi hormat pada seorang pria bersetalan jas biru, yang kemudian berbincang dengan Sebastian.Ketiganya meneruskan langkah menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai 11. Sepanjang beberapa saat di dalam elevator, Sebastian dan pria bermata besar tersebut, berbincang santai.Tidak berselang lama mereka telah berada di ruangan besar di ujung kanan lantai itu. Ketiganya menyalami semua orang di ruangan, sebelum menempati kursi masing-masing. Urfan berpindah ke deretan kursi khusus asisten. Dia bersalaman dengan para pendamping bos, lalu duduk di kursi ujung kiri. Hadrian Danadyaksha, sang pemimpin proyek yang tadi berjumpa dengan Sebastian dan Urfan, memulai pertemuan itu dengan untaian doa. Selanjutny

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 09

    09Sebastian tiba di rumahnya menjelang jam 9 malam. Dia memicingkan mata ketika melihat seunit mobil sedan merah di depan pagar rumah, yang seolah-olah tidak asing baginya.Sang asisten rumah tangga, Ida, bergegas membukakan pagar agar mobil yang dikemudikan Urfan nisa memasuki carport. Setelah mobil benar-benar berhenti, Sebastian membuka pintu samping kiri dan keluar. Dia menutup pintu, lalu memandangi Ida yang tengah mendekat. "Keisha ada di dalam?" tanya Sebastian sambil menaikkan alisnya, sesaat setelah Ida menerangkan tentang sang tamu. "Ya, Pak. Aku sudah berusaha ngusir, tapi dia maksa masuk," jelas Ida.Sebastian menyugar rambutnya sembari mendengkus. "Bagaimana dia bisa tahu alamat ini?" "Hai, Mas." Panggilan satu suara dari belakang Ida, menyebabkan Sebastian terdiam. "Sorry, aku nyelonong masuk, tapi, ini benar-benar penting," ungkap pemilik suara tadi. Sebastian memandangi orang yang sudah menghancurkan hatinya. "Kamu tahu alamat ini, dari mana?" tanyanya tanpa berb

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 10

    10Jalinan waktu terus bergulir. Akhir pekan itu, kediaman Basman dipenuhi banyak orang. Acara akikahan Dylan dilaksanakan dengan sederhana, tetapi tetap membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga Daharyadika. Setelah acara pengajian, seorang ustaz yang merupakan teman Basman, memberikan tausiah yang sangat menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Rinjani memandangi sang ustaz sembari mengingat-ingat petuah lelaki tua bersorban putih tersebut. Dalam hati Rinjani berjanji, akan membesarkan anaknya dengan semangat. Meskipun tanpa didampingi seorang suami. Selanjutnya, Lidya dan yang lainnya membagikan tas berisikan makanan, minuman dan kue-kue pada hadirin. Sementara para tamu penting dipersilakan untuk menyicipi hidangan di meja prasmanan, yang disiapkan di ruang makan. Dylan berpindah tangan dari satu orang ke orang lainnya. Walaupun tidak mengenali siapa saja yang tengah mengasuhnya, bayi berbaju biru tua itu tetap tenang dan lebih sering tidur. "Gimana kondisimu, Rin?" tany

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 11

    11*Grup Penghuni Cluster 7*Brayden : @Hendri, iseng banget bikin grup kompleks?Luthfan : Enggak apa-apalsh. Penghuninya juga sudah kenal semua. Zainal : Tinggal tim London yang aku belum kenal.Hisyam : Salam kenal, @Bang Zainal.Zainal : Hai, @Hisyam.Rangga : Hello, semuanya. Valdi : Aku rindu kalian, Gaes! Robi : Abdi sono ka sadayana. Frank : Aku kangen semua orang di Indonesia. Aditya : Berarti, kamu juga kangen sama Mbak kantin soto di kantor PBK, @Frank.Yusuf : Frank juga kangen Teteh penjual seblak. Jauhari : Yang pasti, Frank rindu sama penghuni rumah seberang Bang Aswin.Lazuardi : Eeeeaaa. Syuja : Uhuyyyy! Hasbi : Cie, cie, @Bang Frank. Dimas : Aku tidak bisa talking-talking.Sebastian : Kupikir ini grup PBK. Lainufar : Aku sampai mikir dulu. Baru ngeh setelah lihat logonya. Damsaz : Foto siapa itu, ya? Atalaric : Mas Tio, waktu masih muda.Samudra : Aku salah nebak. Kukira itu fotonya Wandi. Fritz : @Bang Sam. Matanya siwer. Calvin : Bang Sam pasti masih

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 12

    12Sebastian menggeleng pelan kala melihat perdebatan kedua adiknya. Pria berkemeja putih melirik arloji untuk menghitung waktu, sebelum dia berdeham untuk mengalihkan perhatian hadirin. Riordan dan Aline spontan terdiam. Keduanya berusaha menahan diri untuk tidak meneruskan percekcokan. Aline menunduk sambil merapikan rambut dengan jemarinya. Sedangkan Riordan mengendurkan dasi merahnya sembari melirik sang kakak. "Sudah puas berantemnya?" ledek Sebastian yang menjadikan semua orang di ruang rapat itu tersenyum. "Kalau belum, dilanjutkan nanti. Setelah pertemuan ini usai," lanjutnya. "Kalian harusnya tidak perlu beradu urat leher. Kita bisa membagi semua proyek ini dengan adil," ungkap Sebastian. "Dengan syarat, tidak dilimpahkan ke pihak luar. Terutama lawan bisnis kita," sambungnya. "Kalian pasti tahu, siapa saja musuh kita. Terutama tiga perusahaan yang dulunya menjadi partner. Tapi, karena mereka berkhianat, akhirnya saya dan keluarga memutus semua kontrak, dan tidak lagi mem

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-01
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 13

    13*Grup EXB*Ethan : Umpan termakan, Gaes. Sebastian : Apa mereka sudah bergerak? Ethan : Tadi Chris bilang, dia sudah signed kontrak dengan Prambudi dan RDH Grup. Brayden : Good job! Wirya : Okay. Lanjut tahap 2, @Ethan. Ethan : Mukti sudah siap menyusup? Wirya : @Zulfi. Terangkeun. Zulfi : Mukti besok meluncur ke kantor mereka. Sebastian : Bilang ke Mukti. Jangan pakai kemeja berlogo PBK. Zulfi : Ya. Logo di baju Mukti sudah diganti. Sebastian : Pakai apa? Zulfi : Fotoku yang paling kasep. Hadrian : Kumat! Xander : Jiah!Lainufar : Uhuk!Hendri : Aku terkejut! Zein : Aku terkesiap! Fritz : Aku terhenyak! Marley : Aku tertipu! Brayden : Aku nggak bisa cepat mikir. Lagi lapar. Luthfan : Ngesot ke sini, @Mas Brayden. Banyak makanan.Brayden : Ngesot gimana? Aku lagi di Tokyo. Luthfan : Pokoknya ngesot aja. Nggak tahu bakal nyampe atau justru nyungsep di jalan. Brayden : Wong edan! Wirya : Luthfan nyari masalah. Hadrian : Baek-baek katana melayang. Hendri : Mendi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-01

Bab terbaru

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 53

    53Sabtu siang, Sebastian menunaikan janji pada Rinjani. Dengan didampingi Gustavo dan Ira, serta kedua adiknya dan para sahabat, Sebastian mendatangi kediaman Basman untuk meminang Rinjani. Tio yang diminta sebagai pembicara, menunjukkan surat identitas baru yang menerangkan jika Sebastian telah menjadi seorang muslim. Sesuai saran Ustaz Mawardi, Sebastian tetap memakai nama sebelumnya. Hal itu supaya tidak perlu mengurus ulang akte lahir dan semua ijazah yang dimiliki Sebastian. Hanya KTP, SIM dan paspor yang diganti, dan kolom agama diubah dari Kristen menjadi Islam. Basman dan keluarganya menyambut kabar itu dengan gembira. Pria tua tersebut juga langsung menerima lamaran Sebastian atas Rinjani, karena sudah mengetahui kepribadian sang duda bermata tajam tersebut."Sekarang, kita bahas tentang tanggal lamaran resmi dan akadnya, Pak," tutur Gustavo yang diminta Sebastian untuk menjadi wakil orang tuanya. "Mengenai itu, lebih baik kita tanyakan pada mereka, Pak," sahut Basman.

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 52

    52Jumat siang, gedung PG dikunjungi banyak orang yang mengenakan setelan jas beraneka warna. Bila semua anggota PG menggunakan setelan jas biru tua mengilat, anggota PC mengenakan setelan biru muda. Keempat puluh anggota PCD memakai setelan jas abu-abu. Para pengawal lapis tiga dan empat tersebut, menjadi orang-orang yang paling gembira, karena mereka bisa berjumpa kembali setelah lama tidak berjumpa. Kesepuluh pengawal lapis tiga yang hadir dalam formasi komplet, duduk berderet di kursi bagian ketiga sisi kiri. Di depan mereka adalah kedua puluh anggota PCD dari kelompok satu dan dua. Di belakang regu Hisyam, Harun dan rekan-rekannya dari pengawal lapis empat, duduk dengan rapi. Deretan selanjutnya diisi para calon anggota tim 5 PCD yang bukan berasal dari PBK. Komisaris utama PG, yakni Tio, memasuki ruangan luas dengan diikuti keempat direktur dan manajer PG. Tio dan Hamid, direktur operasional, meneruskan langkah menuju podium. Sedangkan yang lainnya menempati deretan kursi ya

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 51

    51Hari berganti hari. Selasa pagi menjelang siang, Rinjani tiba di depan gedung belasan lantai yang merupakan pusat bisnis para bos PC. Urfan yang telah menunggu sejak tadi, mendatangi mobil milik bosnya bersama Gumilang, Jariz dan beberapa pengawal muda lainnya. Mereka membantu mengeluarkan banyak wadah makanan dan menyusunnya di beberapa troli. Satu per satu troli diangkut menggunakan lift, hingga isi mobil habis. Setelah menutup dan mengunci pintu, Santos menyusul Rinjani yang tengah berbincang dengan beberapa staf perempuan. Mereka memasuki lift terbesar untuk menuju ke lantai tujuh. Sesampainya di tempat tujuan, Sebastian telah menunggu di ruang tamu luas, yang diperuntukkan untuk tamu umum 10 kantor, yang ada di lantai itu. Selama setengah jam berikutnya, Rinjani berjibaku membereskan meja prasmanan dan wadah kaca untuk hidangan. Semua peralatan makan dipinjam dari kantor PBK, yang sering mengadakan jamuan makan. Freya, staf HWZ, KARZD dan ZAMRUD, bersama beberapa staf PBK

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 50

    50Malam beranjak larut. Rinjani telah menguap beberapa kali, sebelum akhirnya menyandarkan kepala ke tumpukan bantal sofa. Sebastian yang masih menonton film laga dari negeri tirai bambu, melirik ke kiri. Dia mengulum senyum seusai melihat Rinjani yang tengah lelap. Sebastian berdiri dan jalan ke kamar tamu. Dia mengambil selimut, lalu keluar. Sebastian menutupi tubuh kekasihnya, sebelum kembali duduk di tempat semula. Puluhan menit berlalu, suara rengekan Dylan dari kamar utama, mengejutkan Sebastian. Dia berdiri dan jalan cepat memasuki ruangan yang pintunya terbuka, kemudian menyambangi Dylan yang masih menangis di tengah-tengah kasur besar. "Apa, Nak?" tanya Sebastian sembari duduk di tepi kasur. "Haus? Bentar, ya, Om panasin dulu ASIP-nya," lanjutnya sambil mengangkat sang bayi dan menggendongnya dengan tangan kiri. Sebastian bergerak luwes menyiapkan minuman dalam botol. Kemudian dia mengajak Dylan ke ruang tengah dan duduk di sofa tunggal. Sebastian memberikan botol yang

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 49 - Bertukar Pasangan

    49Pertanyaan Sebastian kemarin malam, masih terngiang di telinga Rinjani. Dia syok dan tidak serta merta menjawab pertanyaan lelaki tersebut. Bahkan Rinjani langsung menutup sambungan telepon tanpa mengucapkan apa pun. Sepanjang pagi hingga sore itu, pikiran Rinjani mengembara ke mana-mana. Dia nyaris tidak bisa bekerja, dan hanya menatap kosong pada laptopnya. Sore itu, Rinjani memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia meminta diantarkan ke supermarket pada Santos, karena Rinjani ingin berbelanja bahan makanan.Puluhan menit berlalu, Rinjani telah usai berbelanja. Dia tengah duduk di bangku dekat supermarket sambil meminum es teh dingin. Rinjani sedang menunggu Santos yang sedang antre di depan toko roti. "Rin," panggil seorang pria yang telah duduk di samping kanan. Rinjani terkejut dan sempat bengong sesaat, sebelum dia bergeser menjauh dari pria berkemeja hijau muda. "Aku cuma pengen ngobrol. Jangan menjauh gitu," pinta Anton. "Aku lagi nggak moid buat ngobrol. Apalagi dengan

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 48 - Would You ?

    48Rinjani terkejut, kala tiba di rumahnya sore itu dan ada mobil sedan hitam terparkir di depan rumah Sebastian. Rinjani merasa pernah melihat mobil itu, tetapi dia lupa di mana.Setelah Santos memarkirkan mobil dengan rapi di car port depan rumah nomor 1, Rinjani turun dan bergegas ke rumah sebelah. Perempuan bersetelan blazer abu-abu, tertegun menyaksikan Aline dan Riordan yang tengah bermain dengan Dylan di karpet lantai ruang tengah. Riordan yang melihat sang mama datang, segera bangkit berdiri dan menyambangi Rinjani. Riordan menyalami perempuan tersebut, lalu mengajak Rinjani duduk di sofa ruang tengah. "Aline kangen sama Dylan. Jadi kuantarkan ke sini," terang Riordan. "Ya, nggak apa-apa," sahut Rinjani. "Walaupun kaget, tapi aku senang kalian datang," lanjutnya seraya tersenyum. "Aku mau sering main ke sini. Boleh, Teh?" tanya Aline sembari bangkit duduk. "Boleh. Aku nggak keberatan. Yang penting, Dylan jangan diajak keluar, tanpa penjagaan Santos atau Urfan," ungkap Ri

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 47

    47Senin pagi, Rinjani tiba di kantor EO menjelang jam 8. Dia bergegas menuju ruang rapat yang ternyata telah ramai orang. Rinjani menyalami mereka satu per satu, termasuk Jemmy, suami Shireen, yang juga memiliki saham di perusahaan itu.Selama beberapa saat berikutnya, Rinjani larut dalam perbincangan dengan rekan-rekannya. Tidak berselang lama, Mutiara dan Edelweiss memasuki ruangan bersama Cyra, manajer tim Bandung yang merupakan istri Zafran, direktur PC. Mutiara meminta Jemny untuk memimpin rapat, dan laki-laki tersebut memulainya dengan pembacaan doa, sesuai agama masing-masing. Selama puluhan menit berikutnya, Rinjani mendengarkan penuturan Jemmy yang bergantian mengoceh dengan Mutiara. Rinjani meringis, ketika dirinya diminta untuk menjadi penanggung jawab acara ulang tahun Ganendra Grup, yang akan dilaksanakan awal bulan depan. Setelah rapat dibubarkan, Rinjani mengikuti langkah kedua komisaris menuju ruang kerja mereka. Jemmy dan Jhon turut bersama ketiga perempuan terseb

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Vab 46 - Pengakuan

    46Hari berganti. Siang menjelang sore itu, Sebastian telah berada di ruang kerja Dante, di kantor Adhitama Grup di kawasan Kuningan. Keduanya berdiskusi mengenai berbagai hal, terutama tentang pengalaman Dante sebelum menjadi mualaf, beberapa tahun silam. Dante menerangkan semuanya dengan detail dan sangat jujur. Dia memahami bila Sebastian membutuhkan banyak masukan, karena berpindah agama itu bukan hal sepele. Hampir satu jam berlalu, Sabrina, istri Zulfi yang juga merupakan Adik sepupu Dante, memasuki ruangan. Dia menyalami Sebastian, kemudian berpindah untuk menyalami Dante dengan takzim. Seperti halnya sang koko, Sabrina juga dimintai masukan oleh Sebastian. Perempuan bermata sipit itu menerangkan kisahnya dengan tenang, hingga tuntas. "Berarti, pengalaman kalian hampir sama denganku. Yaitu, merasa tenang saat mendengar suara azan ataupun orang mengaji," tutur Sebastian, sesaat setelah Sabrina usai berceloteh. "Aku juga suka lihat orang salat. Aku bahkan sudah hafal geraka

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 45 - Trust Me!

    45Suasana tegang melingkupi ruang tamu kediaman Ardiatma Anargya. Beberapa orang yang berada di tempat itu, menunggu lelaki tua berkemeja hijau lumut, yang masih memegangi kertas berlogo rumah sakit F.Ardiatma mengulang membaca detail hasil tes DNA atas Sebastian dan Dylan. Angka 77% di bagian yang digaris merah, membuatnya terpaku. Ardiatma benar-benar terkejut dengan kenyataan itu. Rasa marah, kecewa, sedih, dan penyangkalan, bercampur menjadi satu dalam benak pria yang rambutnya telah dihiasi uban. Hal nyaris setupa juga dirasakan Eva yang membaca salinan keterangan hasil tes DNA. Perempuan tua berambut sepundak, menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Eva menggeleng pelan. Dia tidak bisa memercayai penglihatan. Otaknya mendadak buntu dan Eva hanya bisa terpaku sembari memejamkan mata. Riordan mengambil kertas yang dipegangi Eva. Dia membaca hingga tiga kali. Sebelum menengadah dan memandangi Sebastian serta Rinjani, yang menempati kursi panjang di dekat jendela. "Mas, berarti

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status