Share

Bab 04

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2025-02-09 18:58:15

04

Sebastian menggeleng ketika Yeremia dan Didi saling mendorong bahu. Dia terkekeh saat kedua rekannya tersebut melanjutkan perdebatan dengan saling memelototi. 

Kelompok pria bersetelan jas berbagai warna tersebut, berdiri dan jalan menuju pelaminan. Seusai menyalami pasangan pengantin, mereka berdiri di sisi kanan dan kiri kedua mempelai sambil berpose. 

Beberapa jepretan diambil sang fotografer. Kameramen juga turut mengabadikan kelompok rekan-rekan kuliah sang pengantin laki-laki dalam video berdurasi pendek. 

Setelahnya, mereka menuruni pelaminan. Sebab hendak menuntaskan panggilan alam, Sebastian memisahkan diri dari kelompoknya. 

Pria bersetelan jas abu-abu, mengayunkan tungkai menuju area belakang gedung. Sebastian memasuki toilet khusus laki-laki dan segera menyelesaikan urusannya. 

Saat beranjak keluar, tanpa sengaja Sebastian mendengar suara orang meminta tolong. Dia berdiri sesaat di depan toilet wanita, sebelum memberanikan diri membuka pintunya. 

"Astaga! Kamu kenapa?" tanya Sebastian sembari mendatangi perempuan yang tengah duduk di lantai depan wastafel. 

"Aku ... jatuh," cicit Rinjani. Dia menunjuk ke kaki yang terlihat basah. "Sepertinya ketubanku pecah. Tolong bawa aku ke rumah sakit," pintanya, sesaat sebelum mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. 

Sebastian termangu sesaat. Kemudian dia mengambil ponsel dari saku celana untuk menelepon Urfan. Setelahnya, Sebastian menyambar tas putih yang tergeletak di dekat wastafel. Dia berjongkok untuk mengangkat dan menggendong perempuan yang tengah merintih. 

Sebastian jalan secepat mungkin keluar toilet. Beberapa orang yang berpapasan dengannya, turut membantu memegangi perempuan bergaun panjang sage yang telah basah di bagian bawah dan belakang. 

Setibanya di teras, Urfan membukakan pintu tengah mobil. Dia membantu menarik Rinjani dari sebelah kanan, kemudian Urfan menutup pintunya dan berpindah ke bagian pengemudi. 

Sebastian menempati kursi samping kiri sang sopir. Dia memasang sabuk pengaman, lalu membongkar tas perempuan tersebut untuk mencari ponselnya. 

"Aku harus menghubungi siapa?" tanya Sebastian sembari memutar badan ke belakang. 

"Teh Lidya," jawab Rinjani sembari meringis. "Bilang ke dia, untuk membawakan koper merah di kamarku," lanjutnya, sebelum berteriak saat kembali merasakan kontraksi. 

Sebastian segera menghubungi orang yang disebutkan perempuan di belakang. Dia menjelaskan semuanya dengan tergesa-gesa, sebelum memutus sambungan telepon dan memasukkan ponsel itu ke tas. 

Sebastian meminta Urfan mengebut menuju rumah sakit terdekat. Sementara dia membuka jas, lalu melepaskan sabuk pengaman. Sebastian berpindah ke kursi tengah dan menutupi area bawah perempuan tersebut yang kian basah, dengan jasnya.

Kendatipun panik, tetapi Sebastian tetap berusaha menenangkan perempuan bermata besar yang sedang sibuk mengatur napas. 

"Namamu, siapa?" tanya Sebastian. 

"Rinjani," jawab sang ibu hamil. 

"Aku, Sebastian." 

Rinjani melirik lelaki berkulit putih yang balas menatapnya saksama. Dia hendak mengucapkan sesuatu, tetapi kontraksi kembali datang. Tanpa sadar Rinjani mencengkeram tangan kanan Sebastian, sembari merintih kesakitan. 

Sebastian membiarkan tangannya dipegangi Rinjani. Dia tidak tega melihat perempuan tersebut harus menahan sakit sendirian. Sebastian menyambar tisu dari tempatnya dan menyeka keringat di wajah Rinjani. 

Sesampainya di depan ruang IGD rumah sakit, Urfan menghentikan mobil dan memasang rem tangan. Dia bergegas keluar dan lari memasuki ruangan itu. 

Tidak berselang lama Urfan kembali dengan seorang perawat yang mendorong kursi roda. Sebastian yang telah keluar dari mobil, berpindah ke sisi kanan untuk membukakan pintunya. 

Tanpa rasa canggung sedikit pun, Sebastian kembali menggendong Rinjani dan memindahkannya ke kursi roda. Sang perawat langsung mendorong kursi roda menuju ruangan dalam. Sebastian menyusul tanpa memedulikan baju dan celananya yang basah. 

Urfan memindahkan mobil ke tempat parkir. Kemudian dia turun, lalu membuka pintu bagasi untuk mengambil tas travel merah berisikan pakaian ganti bosnya. 

***

Langit telah menggelap sejak tadi. Namun, Sebastian dan Urfan masih bertahan di ruang tunggu depan ruangan ICU. Kondisi Rinjani yang kritis seusai melahirkan bayi prematur, menjadikannya harus dirawat di ICU.

Sebastian mengamati keluarga Rinjani yang tengah berdiskusi. Dia mengerutkan dahi ketika menyaksikan raut ketegangan muncul di wajah orang tua dan saudara Rinjani tersebut. 

Sebastian akhirnya berdiri dan menyambangi mereka. Dia menyentuh lengan kanan lelaki tua berkaus putih yang merupakan Ayah Rinjani. 

"Ada apa, Pak?" tanya Sebastian. 

"Kami butuh pendonor darah buat Ririn," terang Basman. 

"Di rumah sakit ini nggak ada stoknya?" 

"Tidak ada. Saya juga sudah memanggil Faidhan untuk segera datang. Tapi, kayaknya jalanan dari Bandung itu macet." 

"Keluarga yang lain, nggak ada yang bisa jadi pendonor?" 

Basman menggeleng. "Hanya istri saya, Ririn dan Faidhan yang golongan darahnya sama. Istri saya tidak bisa jadi pendonor karena tensinya rendah." 

"Apa golongan darah Rinjani?" 

"B resus positif." 

Sebastian terkesiap. "Saya juga sama. Biar saya yang nyumbang darah buat Rinjani." 

"Beneran, Nak?" 

"Ya, Pak. Kalau perlu, saya telepon Adik saya. Riordan juga sama golongan darahnya. Kami nurun dari Papa."

"Alhamdulillah." Basman mengusap dadanya. "Hatur nuhun, Nak," ucapnya. 

"Sama-sama, Pak." 

Basman meminta keponakannya, Abizar, untuk mengantarkan Sebastian ke ruangan khusus pendonor. Urfan mengikuti langkah bosnya hingga tiba di depan ruangan tersebut. 

Urfan duduk di bangku panjang. Dia mengambil ponsel dari saku celana untuk melaporkan hal itu pada Yusuf, atasannya. 

Dalam waktu singkat, kabar itu sudah tersebar ke grup khusus pimpinan PBK. Sekian menit berlalu, Urfan terkejut saat mengetahui jika direktur utama tengah menghubunginya. 

"Waalaikumsalam." Urfan menjawab salam petinggi PBK. 

"Posisi, di mana, Fan?" tanya Wirya dari seberang telepon. 

"Di depan ruangan buat donor darah, Ndan. Pak Tian masih di dalam sana," terang Urfan. 

"Oke. Kalau urgent, jangan sungkan buat langsung telepon aku." 

"Siap." 

"Kalian lebih baik menginap di sana. Nanti Zulfi yang hubungi manajer resor BPAGK. Istirahat dulu semalam. Besok baru pulang." 

"Ya, Ndan." 

"Kalau Sebastian sudah keluar, chat aku, Fan. Aku mau nelepon dia." 

"Oke." 

"Kamu, ada baju ganti?" 

"Ada. Lengkap di bagasi mobil." 

"Sip. Kutunggu kabarnya." 

Sementara itu di tempat berbeda, Anton tengah gelisah. Dia teringat Rinjani dan telah menelepon perempuan tersebut beberapa kali. Namun, semua panggilannya tidak tersambung. 

Anton tidak berani menghubungi keluarga Rinjani. Sebab dia tahu bila Basman dan yang lainnya masih marah serta membenci Anton. 

Pria berkaus hijau tua, jalan mondar-mandir sepanjang kamar hotel tempatnya menginap selama berada di Surabaya. Anton memutar otak, sebelum akhirnya terpaksa menelepon Netha. 

Akan tetapi, Netha juga tidak bisa dihubungi. Anton mencoba menelepon Tia dan Shahnaz, tetapi tetap tidak tersambung. 

Pintu kamar terbuka dan Mardani memasuki ruangan sambil membawa tas belanja. Dia berhenti di dekat sofa, lalu mengeluarkan dua wadah makanan dan botol minuman dingin ke meja. 

"Mar, apa kamu masih nyimpan nomor telepon Ririn?" tanya Anton sembari duduk di sofa tunggal. 

"Bu Rinjani? Ada, Pak," sahut Mardani. 

"Pinjam hapemu. Nomorku kayaknya diblokir. Dari tadi aku nelepon dia nggak nyambung-nyambung." 

Mardani memberikan ponselnya pada sang bos. Anton mencari kontak Rinjani dan langsung menelepon perempuan tersebut. 

Kala panggilannya masuk, Anton spontan tersenyum. Dia menunggu telepon itu diangkat sambil memikirkan kalimat yang hendak diucapkannya. 

Related chapters

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 05

    05"Halo?" sapa suara laki-laki yang tidak dikenali Anton. "Maaf, apa ini betul nomornya Rinjani?" tanya pria berkulit kecokelatan. "Ya. Ini, siapa?" "Ehm, temannya." Chumaidi, ipar Rinjani terkesiap. Dia seolah-olah pernah mendengar suara orang yang menelepon itu. Namun, Chumaidi melupakan detailnya. "Ririn sedang tidak bisa menerima telepon," jelas Chumaidi."Apa ada masalah?" tanya Anton tanpa bisa menahan rasa penasarannya."Tidak ada. Dia sedang tidur." "Oh, begitu." "Ada yang bisa saya bantu?" "Ehm, nggak ada. Besok saya telepon lagi." "Sebutkan namamu. Supaya saya bisa menyampaikannya pada Ririn nanti." Anton melirik asistennya yang sedang sibuk bersantap. "Dani," ucapnya, sengaja memakai nama Mardani agar tidak dicurigai orang yang ditebaknya sebagai suami Lidya. "Baik." "Makasih, Mas. Saya tutup teleponnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Chumaidi menjauhkan ponsel Rinjani dari telinganya. Pria berkumis tersebut memandangi istrinya yang sedang mengaji dengan

    Last Updated : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 06

    06Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan. Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan. "Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu. "Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian. "Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam." "Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam. "Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja." "Abizar?" "Dia lagi jaga toko bapaknya." Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU. Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju l

    Last Updated : 2025-02-26
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 07

    07Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. "Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. "Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. "Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA."Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. "Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. "Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. "Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan beram

    Last Updated : 2025-02-26
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 01

    01"Mas, aku pamit," tutur Keisha Mahira sambil mengulurkan tangan kanannya. Sebastian Anargya tidak menyahut. Dia bahkan tidak berbalik dan memfokuskan pandangan ke luar jendela. Seolah-olah dedaunan yang tengah bergoyang di pohon dalam pot bunga itu, lebih menarik daripada perempuan di belakangnya. "Aku tadinya berharap, bisa mengakhiri hubungan ini baik-baik," sambung Keisha sambil menurunkan tangannya. "Baik-baik?" tanya Sebastian sembari memutar badan. "Perselingkuhanmu adalah hal terburuk yang pernah kudapatkan dalam hidup ini," lanjutnya. "Kita sudah pernah membahas ini, dan aku telah menjelaskan semuanya dengan detail." "Kamu hanya drama, Kei. Playing victim. Padahal korbannya adalah aku, bukan kamu!" "Aku sudah berulang kali meminta maaf. Kumohon, Mas bisa memahami jika aku masih mencintai Mas Anton, bahkan dari dulu rasa ini tidak pernah berkurang." Sebastian menggertakkan gigi. "Jangan sebut namanya di depanku!" Keisha mendengkus kuat. "Inilah yang membuatku sulit j

    Last Updated : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 02

    02Siang itu, Sebastian telah tiba di unit apartemen yang disewanya di kawasan hunian bergengsi di Kota Singapura. Sebab tengah mengerjakan proyek dari PC di sana, Sebastian memutuskan untuk menetap di kota itu. Dia berharap tindakannya tersebut bisa membantunya untuk melupakan Keisha. Sudah beberapa bulan berlalu. Sebastian sama sekali tidak pernah menghubungi Keisha. Sedangkan perempuan itu berulang kali mengirim pesan pada Aline, Adik bungsu Sebastian, untuk meminta harta gono-gini. Sebastian bukan tidak mau memberikan apa yang diminta mantan istrinya. Namun, karena mereka telah menandatangani surat perjanjian pra nikah, yang menyebutkan jika ada perselingkuhan, maka pelakunya tidak berhak mendapatkan harta bersama.Sebastian yakin jika Keisha tahu tentang klausul itu, tetapi perempuan tersebut benar-benar kemaruk. Hingga Keisha melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati dari orang-orang terdekat Sebastian. Pria berkemeja putih seketika menoleh ke belakang saat dipanggil a

    Last Updated : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 03

    03Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Sebastian dan Urfan telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka pulang ke Indonesia, karena Sebastian hendak menghadiri pernikahan temannya saat kuliah dulu. Kedua pria berbeda tampilan, mengikuti langkah Syuja dan Hasbi, kedua pengawal muda PBK, yang juga baru pulang dinas jadi pengawas di Singapura. Selain keempat orang itu, beberapa anggota PG dan PC turut bergabung dalam kelompok pimpinan Syuja. Hadrian Danadyaksha, Yafizhan Endaru, Rylee Maglorius Ghawani dan Riko Mahardika, terlihat berbincang santai sembari meneruskan langkah menuju luar terminal kedatangan khusus luar negeri. Dua pria berbadan tegap menyambut mereka dengan penghormatan. Nawang dan Dipta, kedua pengawal lapis 9, menyalami semua anggota kelompok tersebut. Seusai berbincang sesaat, mereka bergerak menuju tempat parkir. Tidak berselang lama, kedua mobil MPV hitam telah melaju keluar area parkir bandara, menuju jalan tol. "Rapat gabungan, jadinya hari

    Last Updated : 2025-02-09

Latest chapter

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 07

    07Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. "Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. "Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. "Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA."Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. "Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. "Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. "Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan beram

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 06

    06Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan. Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan. "Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu. "Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian. "Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam." "Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam. "Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja." "Abizar?" "Dia lagi jaga toko bapaknya." Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU. Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju l

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 05

    05"Halo?" sapa suara laki-laki yang tidak dikenali Anton. "Maaf, apa ini betul nomornya Rinjani?" tanya pria berkulit kecokelatan. "Ya. Ini, siapa?" "Ehm, temannya." Chumaidi, ipar Rinjani terkesiap. Dia seolah-olah pernah mendengar suara orang yang menelepon itu. Namun, Chumaidi melupakan detailnya. "Ririn sedang tidak bisa menerima telepon," jelas Chumaidi."Apa ada masalah?" tanya Anton tanpa bisa menahan rasa penasarannya."Tidak ada. Dia sedang tidur." "Oh, begitu." "Ada yang bisa saya bantu?" "Ehm, nggak ada. Besok saya telepon lagi." "Sebutkan namamu. Supaya saya bisa menyampaikannya pada Ririn nanti." Anton melirik asistennya yang sedang sibuk bersantap. "Dani," ucapnya, sengaja memakai nama Mardani agar tidak dicurigai orang yang ditebaknya sebagai suami Lidya. "Baik." "Makasih, Mas. Saya tutup teleponnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Chumaidi menjauhkan ponsel Rinjani dari telinganya. Pria berkumis tersebut memandangi istrinya yang sedang mengaji dengan

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 04

    04Sebastian menggeleng ketika Yeremia dan Didi saling mendorong bahu. Dia terkekeh saat kedua rekannya tersebut melanjutkan perdebatan dengan saling memelototi. Kelompok pria bersetelan jas berbagai warna tersebut, berdiri dan jalan menuju pelaminan. Seusai menyalami pasangan pengantin, mereka berdiri di sisi kanan dan kiri kedua mempelai sambil berpose. Beberapa jepretan diambil sang fotografer. Kameramen juga turut mengabadikan kelompok rekan-rekan kuliah sang pengantin laki-laki dalam video berdurasi pendek. Setelahnya, mereka menuruni pelaminan. Sebab hendak menuntaskan panggilan alam, Sebastian memisahkan diri dari kelompoknya. Pria bersetelan jas abu-abu, mengayunkan tungkai menuju area belakang gedung. Sebastian memasuki toilet khusus laki-laki dan segera menyelesaikan urusannya. Saat beranjak keluar, tanpa sengaja Sebastian mendengar suara orang meminta tolong. Dia berdiri sesaat di depan toilet wanita, sebelum memberanikan diri membuka pintunya. "Astaga! Kamu kenapa?"

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 03

    03Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Sebastian dan Urfan telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka pulang ke Indonesia, karena Sebastian hendak menghadiri pernikahan temannya saat kuliah dulu. Kedua pria berbeda tampilan, mengikuti langkah Syuja dan Hasbi, kedua pengawal muda PBK, yang juga baru pulang dinas jadi pengawas di Singapura. Selain keempat orang itu, beberapa anggota PG dan PC turut bergabung dalam kelompok pimpinan Syuja. Hadrian Danadyaksha, Yafizhan Endaru, Rylee Maglorius Ghawani dan Riko Mahardika, terlihat berbincang santai sembari meneruskan langkah menuju luar terminal kedatangan khusus luar negeri. Dua pria berbadan tegap menyambut mereka dengan penghormatan. Nawang dan Dipta, kedua pengawal lapis 9, menyalami semua anggota kelompok tersebut. Seusai berbincang sesaat, mereka bergerak menuju tempat parkir. Tidak berselang lama, kedua mobil MPV hitam telah melaju keluar area parkir bandara, menuju jalan tol. "Rapat gabungan, jadinya hari

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 02

    02Siang itu, Sebastian telah tiba di unit apartemen yang disewanya di kawasan hunian bergengsi di Kota Singapura. Sebab tengah mengerjakan proyek dari PC di sana, Sebastian memutuskan untuk menetap di kota itu. Dia berharap tindakannya tersebut bisa membantunya untuk melupakan Keisha. Sudah beberapa bulan berlalu. Sebastian sama sekali tidak pernah menghubungi Keisha. Sedangkan perempuan itu berulang kali mengirim pesan pada Aline, Adik bungsu Sebastian, untuk meminta harta gono-gini. Sebastian bukan tidak mau memberikan apa yang diminta mantan istrinya. Namun, karena mereka telah menandatangani surat perjanjian pra nikah, yang menyebutkan jika ada perselingkuhan, maka pelakunya tidak berhak mendapatkan harta bersama.Sebastian yakin jika Keisha tahu tentang klausul itu, tetapi perempuan tersebut benar-benar kemaruk. Hingga Keisha melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati dari orang-orang terdekat Sebastian. Pria berkemeja putih seketika menoleh ke belakang saat dipanggil a

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 01

    01"Mas, aku pamit," tutur Keisha Mahira sambil mengulurkan tangan kanannya. Sebastian Anargya tidak menyahut. Dia bahkan tidak berbalik dan memfokuskan pandangan ke luar jendela. Seolah-olah dedaunan yang tengah bergoyang di pohon dalam pot bunga itu, lebih menarik daripada perempuan di belakangnya. "Aku tadinya berharap, bisa mengakhiri hubungan ini baik-baik," sambung Keisha sambil menurunkan tangannya. "Baik-baik?" tanya Sebastian sembari memutar badan. "Perselingkuhanmu adalah hal terburuk yang pernah kudapatkan dalam hidup ini," lanjutnya. "Kita sudah pernah membahas ini, dan aku telah menjelaskan semuanya dengan detail." "Kamu hanya drama, Kei. Playing victim. Padahal korbannya adalah aku, bukan kamu!" "Aku sudah berulang kali meminta maaf. Kumohon, Mas bisa memahami jika aku masih mencintai Mas Anton, bahkan dari dulu rasa ini tidak pernah berkurang." Sebastian menggertakkan gigi. "Jangan sebut namanya di depanku!" Keisha mendengkus kuat. "Inilah yang membuatku sulit j

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status