Share

Bab 03

Penulis: Olivia Yoyet
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-09 18:57:47

03

Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Sebastian dan Urfan telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka pulang ke Indonesia, karena Sebastian hendak menghadiri pernikahan temannya saat kuliah dulu. 

Kedua pria berbeda tampilan, mengikuti langkah Syuja dan Hasbi, kedua pengawal muda PBK, yang juga baru pulang dinas jadi pengawas di Singapura. 

Selain keempat orang itu, beberapa anggota PG dan PC turut bergabung dalam kelompok pimpinan Syuja. Hadrian Danadyaksha, Yafizhan Endaru, Rylee Maglorius Ghawani dan Riko Mahardika, terlihat berbincang santai sembari meneruskan langkah menuju luar terminal kedatangan khusus luar negeri. 

Dua pria berbadan tegap menyambut mereka dengan penghormatan. Nawang dan Dipta, kedua pengawal lapis 9, menyalami semua anggota kelompok tersebut. 

Seusai berbincang sesaat, mereka bergerak menuju tempat parkir. Tidak berselang lama, kedua mobil MPV hitam telah melaju keluar area parkir bandara, menuju jalan tol. 

"Rapat gabungan, jadinya hari Rabu. Jam 2 siang," tukas Hadrian seusai membaca pesan di grup 1 PG. 

"Tumben? Biasanya rapat gabungan itu hari Jumat," balas Riko, yang berada di samping kanan Hadrian. 

"Mas Tio, Mas Benigno, Mas Linggha, Daddy Baskara, Mas Heru dan Mas Trevor, hari Kamis sore mau berangkat ke Kanada," terang Hadrian. 

"Jenguk Arudra dan teman-teman di sana?" 

"Iyalah. Masa datangin perdana mentrinya?" 

"Bisa saja Mas Ben dan Mas Trevor kenal sama pejabat sana." 

"Setahuku, memang kenal, tapi cuma sepintas. Karena bukan dari kalangan pengusaha, melainkan politikus sejati." 

"Itu dunia yang rumit. Penuh muslihat dan saling sikut," sela Sebastian yang berada di kursi samping kiri sopir. 

"Betul. Makanya, aku nggak tertarik buat nyemplung ke dunia politik," jawab Hadrian. 

"Jangan, Kang. Nanti tenggelam," seloroh Riko. 

"Urang bisa berenang," balas Hadrian. 

"Gaya batu aja bangga." 

"Kamu, teh, nyebelin pisan!" 

"Aku, kopi. Bukan teh." 

"Cocok emang. Buteknya sama." 

"Akang memuji, aku jadi malu." 

Sebastian terbahak mendengar candaan kedua rekannya. Demikian pula dengan Nawang yang menjadi sopir, dan Urfan serta Syuja yang menempati kursi belakang. 

Puluhan menit berlalu, Nawang menghentikan mobilnya di depan kediaman orang tua Sebastian di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. 

Sebastian turun bersama Urfan. Sang bos menunggu kopernya diturunkan sopir, kemudian Sebastian melambaikan tangan untuk berpamitan pada orang-orang di dalam mobil. 

Sebastian menunggu kendaraan operasional PBK itu menjauh, kemudian dia berbalik dan memasuki pekarangan yang gerbangnya telah dibukakan asisten rumah tangga. 

Sebastian mengayunkan tungkai menuju ruang tamu yang pintunya terbuka. Dia tertegun sesaat kala melihat siapa yang tengah bertamu. Kemudian Sebastian memaksakan senyuman, sembari menyambangi sang tamu. Sementara Urfan meneruskan langkah ke belakang rumah.

"Apa kabar, Mitha?" sapa Sebastian sembari menyalami perempuan berambut sebahu. 

"Kabarku baik, Mas," sahut Shelomitha Christabel, anak dari sahabat Ardiatma, papanya Sebastian. "Baru sampai?" tanyanya berbasa-basi. 

"Ya." Sebastian menghempaskan badan di kursi sebelah kiri mamanya. "Masih tinggal di Jepang?" lanjutnya. 

"Enggak. Aku sudah pindah ke sini, sejak dua bulan lalu." 

Sebastian manggut-manggut. "Aku sudah lama nggak ketemu kakakmu. Apa kabarnya?" 

"Sehat. Dia lagi sibuk ngurus anak kembarnya." 

Sebastian mengulaskan senyuman. "Kayaknya seru kalau punya anak kembar." 

"Kamu lihatnya begitu. Mama, punya tiga anak yang bukan kembar saja, sudah pusing," sela Eva, Mama Sebastian. 

"Padahal aku kalem dan sopan," seloroh Sebastian yang langsung dicubit lengannya oleh Eva.

"Mas, lenganmu kayak tembok. Keras." 

"Aku sengaja menggedein badan. Biar keren, Ma." 

"Tapi ini terlalu besar. Kayak binaragawan." 

"Memang maksudku begitu. Bisa jadi kerja sampingan. Misalnya jadi model." 

Eva berdecih. "Jangan aneh-aneh. Kerja saja yang benar, sambil cari calon istri baru." 

"Aku belum kepengen nikah lagi. Kapok." 

"Enggak bisa gitu, Mas. Dicobalah buka hati buat perempuan lain. Mungkin kamu bisa bahagia di pernikahan kedua." 

"Nantilah, Ma. Aku lagi nyaman kayak gini." 

"Jangan menunda terlalu lama. Apalagi ini sudah lewat 6 bulan dari perceraianmu. Sudah saatnya mencari yang lain, dan semoga kamu menemukan cinta sejati." 

Sementara itu di tempat berbeda, Rinjani tengah memandangi kesibukan anak buahnya, yang sedang mendekor ruangan besar di sebuah gedung pertemuan di pusat Kota Bogor. 

Sekali-sekali Rinjani akan memijat ponggangnya yang sudah tidak nyaman sejak kemarin. Rinjani tidak berani mengeluh pada orang tuanya, karena tidak mau mereka mengkhawatirkannya yang masih melanjutkan pekerjaan, meskipun telah mengandung 7 bulan lebih.

Rinjani tersenyum saat pengerjaan itu usai. Dia memindai sekitar sembari memuji hasil kerja karyawan WO tempatnya bekerja semenjak beberapa bulan silam. 

Rinjani menoleh ke belakang saat namanya dipanggil. Dia menyunggingkan senyuman, kemudian menyalami Dina, sang calon pengantin yang menyempatkan datang untuk mengecek langsung dekorasi. 

"Ini bagus banget, Rin," puji Dina yang datang bersama asistennya. 

"Sesuai permintaan Teteh," jawab Rinjani. 

"Aku senang banget, karena ini sama dengan impianku." 

"Alhamdulillah. Aku senang kalau Teteh puas dengan hasil kerja tim-ku." 

Dina mengamati Adik temannya yang tengah mengusap-usap pinggangnya. "Sakit, ya?" tanyanya. 

"Biasa, Teh. Hamil tua, ya, begini." 

"HPL-nya kapan?" 

"Dua bulan lagi." 

"Semoga dilancarkan." 

"Aamin. Hatur nuhun pisan." 

"Sami-sami, Rin." Dina menggandeng lengan perempuan berbaju krem. "Aku salut, kamu masih aktif kerja. Padahal kandungan sudah besar," lanjutnya. 

"Aku harus mengumpulkan uang buat biaya lahiran dan biaya kehidupan kami selama cuti. Kalau perlengkapan bayi, bisa pakai punya anak Teh Lidya. Masih bagus-bagus. Bahkan banyak yang belum dibuka bungkusnya."

"Kalau ada yang kurang, kabarin. Nanti kubeli, sebagai hadiah buat anakmu." 

"Sip." 

"Rin, apa kamu nggak minta ke ayahnya?" 

"Enggak, ahh. Aku lebih senang bisa mandiri. Dia pun nggak peduli ke aku. Dari mulai proses cerai, dia sudah nggak pernah nanya kabarku." 

Dina menggeleng. "Dia harus membiayai kehidupan kalian. Enggak bisa lepas tangan gitu aja." 

"Enggak apa-apa, Teh. Justru bagus, artinya dia nggak bisa ngaku-ngaku anakku. Apalagi mau ngambil dia. Akan kulawan habis-habisan." 

***

Sebastian tiba di gedung pertemuan di Bogor, mendekati jam 12 siang. Dia turun dari mobil dan merapikan pakaian. Sebastian menunggu Urfan keluar dari kendaraan, lalu mereka jalan bersama memasuki bangunan. 

Sebastian menyambangi kelompok rekan-rekan semasa kuliahnya dulu, yang tengah berkumpul di sisi kanan ruangan. Mereka berbincang mengenai kehidupan masing-masing sembari bersenda gurau mengingat masa silam. 

Urfan mengelilingi semua stand makanan dan menyicipinya dengan santai. Seorang staf WO yang mengenali Urfan sebagai Adik bungsu Arga, manajer operasional BPAGK, menghampiri pria itu dan mengajaknya berbincang. 

"Kalian sudah salaman sama pengantin?" tanya Sebastian. 

"Aku, sudah. Tapi, yang lainnya belum," jawab Didi. 

"Kita barengan aja. Sekalian foto-foto," ajak Raffi. 

"Bentar, makananku belum habis," kliah Yeremia. 

"Kamu makannya lama, kayak putri keraton," ledek Banu. 

"Makanan itu harus dikunyah dengan baik, supaya usus nggak terlalu capek mengolahnya di dalam perut," sanggah Yeremia. 

"Mau dikunyah sehalus mungkin, tetap saja keluarnya bentuk pup. Bukan jadi berlian," cibir Othniel. 

"Omonganmu nggak jauh dari kotoran. Sama kayak otakmu. Mesum!" desis Yeremia. 

"Dah, stop ngomel. Mending cepat habiskan makananmu. Supaya bisa segera salaman," imbuh Sebastian. 

"Habis ini, kita mau ke mana, Gaes?" tanya Raffi. 

"Aku mau langsung pulang ke Bandung. Nanti malam acara keluarga di Lembang," terang Banu. 

"Aku, sih, free," balas Othniel. 

"Kita cari tempat kongkow," usul Yeremia sembari mengusap bibirnya dengan tisu. "Bas, ikut, nggak?" tanyanya sambil memandangi pria berkulit putih yang sedang memerhatikan sekeliling. 

"Boleh, tapi aku nggak bisa lama-lama. Nanti malam ada jamuan makan di restoran. Opaku ulang tahun," jelas Sebastian. 

"Opamu panjang umur. Berapa usianya sekarang?" 

"Kalau nggak salah, 85 tahun." 

"Salam aja ke beliau dan keluarga. Sudah lama aku nggak ketemu mereka." 

"Mainlah ke rumah. Mama pasti senang dikunjungi." 

"Ya. Aku sekalian mau ngapel Aline." 

"Mulai!" 

"Istrimu bakal ngamuk, Yer," seloroh Didi. 

"Kamu ngelindur, Di? Aku, kan, belum nikah," bantah Yeremia. 

"Oh, iya, aku lupa, kamu bujang lapuk." 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 04

    04Sebastian menggeleng ketika Yeremia dan Didi saling mendorong bahu. Dia terkekeh saat kedua rekannya tersebut melanjutkan perdebatan dengan saling memelototi. Kelompok pria bersetelan jas berbagai warna tersebut, berdiri dan jalan menuju pelaminan. Seusai menyalami pasangan pengantin, mereka berdiri di sisi kanan dan kiri kedua mempelai sambil berpose. Beberapa jepretan diambil sang fotografer. Kameramen juga turut mengabadikan kelompok rekan-rekan kuliah sang pengantin laki-laki dalam video berdurasi pendek. Setelahnya, mereka menuruni pelaminan. Sebab hendak menuntaskan panggilan alam, Sebastian memisahkan diri dari kelompoknya. Pria bersetelan jas abu-abu, mengayunkan tungkai menuju area belakang gedung. Sebastian memasuki toilet khusus laki-laki dan segera menyelesaikan urusannya. Saat beranjak keluar, tanpa sengaja Sebastian mendengar suara orang meminta tolong. Dia berdiri sesaat di depan toilet wanita, sebelum memberanikan diri membuka pintunya. "Astaga! Kamu kenapa?"

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 05

    05"Halo?" sapa suara laki-laki yang tidak dikenali Anton. "Maaf, apa ini betul nomornya Rinjani?" tanya pria berkulit kecokelatan. "Ya. Ini, siapa?" "Ehm, temannya." Chumaidi, ipar Rinjani terkesiap. Dia seolah-olah pernah mendengar suara orang yang menelepon itu. Namun, Chumaidi melupakan detailnya. "Ririn sedang tidak bisa menerima telepon," jelas Chumaidi."Apa ada masalah?" tanya Anton tanpa bisa menahan rasa penasarannya."Tidak ada. Dia sedang tidur." "Oh, begitu." "Ada yang bisa saya bantu?" "Ehm, nggak ada. Besok saya telepon lagi." "Sebutkan namamu. Supaya saya bisa menyampaikannya pada Ririn nanti." Anton melirik asistennya yang sedang sibuk bersantap. "Dani," ucapnya, sengaja memakai nama Mardani agar tidak dicurigai orang yang ditebaknya sebagai suami Lidya. "Baik." "Makasih, Mas. Saya tutup teleponnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Chumaidi menjauhkan ponsel Rinjani dari telinganya. Pria berkumis tersebut memandangi istrinya yang sedang mengaji dengan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 06

    06Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan. Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan. "Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu. "Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian. "Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam." "Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam. "Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja." "Abizar?" "Dia lagi jaga toko bapaknya." Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU. Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju l

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 07

    07Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. "Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. "Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. "Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA."Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. "Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. "Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. "Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan beram

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 08

    08Jalinan waktu terus berjalan. Jumat pagi, Sebastian tiba di gedung belasan lantai di kawasan Jakarta Selatan. Pria bersetelan jas abu-abu muda, melangkah memasuki lobi sembari membalas sapaan karyawan tempat itu dengan senyuman. Urfan yang mengikuti langkah bosnya, sempat memberi hormat pada seorang pria bersetalan jas biru, yang kemudian berbincang dengan Sebastian.Ketiganya meneruskan langkah menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai 11. Sepanjang beberapa saat di dalam elevator, Sebastian dan pria bermata besar tersebut, berbincang santai.Tidak berselang lama mereka telah berada di ruangan besar di ujung kanan lantai itu. Ketiganya menyalami semua orang di ruangan, sebelum menempati kursi masing-masing. Urfan berpindah ke deretan kursi khusus asisten. Dia bersalaman dengan para pendamping bos, lalu duduk di kursi ujung kiri. Hadrian Danadyaksha, sang pemimpin proyek yang tadi berjumpa dengan Sebastian dan Urfan, memulai pertemuan itu dengan untaian doa. Selanjutny

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 09

    09Sebastian tiba di rumahnya menjelang jam 9 malam. Dia memicingkan mata ketika melihat seunit mobil sedan merah di depan pagar rumah, yang seolah-olah tidak asing baginya.Sang asisten rumah tangga, Ida, bergegas membukakan pagar agar mobil yang dikemudikan Urfan nisa memasuki carport. Setelah mobil benar-benar berhenti, Sebastian membuka pintu samping kiri dan keluar. Dia menutup pintu, lalu memandangi Ida yang tengah mendekat. "Keisha ada di dalam?" tanya Sebastian sambil menaikkan alisnya, sesaat setelah Ida menerangkan tentang sang tamu. "Ya, Pak. Aku sudah berusaha ngusir, tapi dia maksa masuk," jelas Ida.Sebastian menyugar rambutnya sembari mendengkus. "Bagaimana dia bisa tahu alamat ini?" "Hai, Mas." Panggilan satu suara dari belakang Ida, menyebabkan Sebastian terdiam. "Sorry, aku nyelonong masuk, tapi, ini benar-benar penting," ungkap pemilik suara tadi. Sebastian memandangi orang yang sudah menghancurkan hatinya. "Kamu tahu alamat ini, dari mana?" tanyanya tanpa berb

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 10

    10Jalinan waktu terus bergulir. Akhir pekan itu, kediaman Basman dipenuhi banyak orang. Acara akikahan Dylan dilaksanakan dengan sederhana, tetapi tetap membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga Daharyadika. Setelah acara pengajian, seorang ustaz yang merupakan teman Basman, memberikan tausiah yang sangat menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Rinjani memandangi sang ustaz sembari mengingat-ingat petuah lelaki tua bersorban putih tersebut. Dalam hati Rinjani berjanji, akan membesarkan anaknya dengan semangat. Meskipun tanpa didampingi seorang suami. Selanjutnya, Lidya dan yang lainnya membagikan tas berisikan makanan, minuman dan kue-kue pada hadirin. Sementara para tamu penting dipersilakan untuk menyicipi hidangan di meja prasmanan, yang disiapkan di ruang makan. Dylan berpindah tangan dari satu orang ke orang lainnya. Walaupun tidak mengenali siapa saja yang tengah mengasuhnya, bayi berbaju biru tua itu tetap tenang dan lebih sering tidur. "Gimana kondisimu, Rin?" tany

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 11

    11*Grup Penghuni Cluster 7*Brayden : @Hendri, iseng banget bikin grup kompleks?Luthfan : Enggak apa-apalsh. Penghuninya juga sudah kenal semua. Zainal : Tinggal tim London yang aku belum kenal.Hisyam : Salam kenal, @Bang Zainal.Zainal : Hai, @Hisyam.Rangga : Hello, semuanya. Valdi : Aku rindu kalian, Gaes! Robi : Abdi sono ka sadayana. Frank : Aku kangen semua orang di Indonesia. Aditya : Berarti, kamu juga kangen sama Mbak kantin soto di kantor PBK, @Frank.Yusuf : Frank juga kangen Teteh penjual seblak. Jauhari : Yang pasti, Frank rindu sama penghuni rumah seberang Bang Aswin.Lazuardi : Eeeeaaa. Syuja : Uhuyyyy! Hasbi : Cie, cie, @Bang Frank. Dimas : Aku tidak bisa talking-talking.Sebastian : Kupikir ini grup PBK. Lainufar : Aku sampai mikir dulu. Baru ngeh setelah lihat logonya. Damsaz : Foto siapa itu, ya? Atalaric : Mas Tio, waktu masih muda.Samudra : Aku salah nebak. Kukira itu fotonya Wandi. Fritz : @Bang Sam. Matanya siwer. Calvin : Bang Sam pasti masih

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28

Bab terbaru

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 53

    53Sabtu siang, Sebastian menunaikan janji pada Rinjani. Dengan didampingi Gustavo dan Ira, serta kedua adiknya dan para sahabat, Sebastian mendatangi kediaman Basman untuk meminang Rinjani. Tio yang diminta sebagai pembicara, menunjukkan surat identitas baru yang menerangkan jika Sebastian telah menjadi seorang muslim. Sesuai saran Ustaz Mawardi, Sebastian tetap memakai nama sebelumnya. Hal itu supaya tidak perlu mengurus ulang akte lahir dan semua ijazah yang dimiliki Sebastian. Hanya KTP, SIM dan paspor yang diganti, dan kolom agama diubah dari Kristen menjadi Islam. Basman dan keluarganya menyambut kabar itu dengan gembira. Pria tua tersebut juga langsung menerima lamaran Sebastian atas Rinjani, karena sudah mengetahui kepribadian sang duda bermata tajam tersebut."Sekarang, kita bahas tentang tanggal lamaran resmi dan akadnya, Pak," tutur Gustavo yang diminta Sebastian untuk menjadi wakil orang tuanya. "Mengenai itu, lebih baik kita tanyakan pada mereka, Pak," sahut Basman.

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 52

    52Jumat siang, gedung PG dikunjungi banyak orang yang mengenakan setelan jas beraneka warna. Bila semua anggota PG menggunakan setelan jas biru tua mengilat, anggota PC mengenakan setelan biru muda. Keempat puluh anggota PCD memakai setelan jas abu-abu. Para pengawal lapis tiga dan empat tersebut, menjadi orang-orang yang paling gembira, karena mereka bisa berjumpa kembali setelah lama tidak berjumpa. Kesepuluh pengawal lapis tiga yang hadir dalam formasi komplet, duduk berderet di kursi bagian ketiga sisi kiri. Di depan mereka adalah kedua puluh anggota PCD dari kelompok satu dan dua. Di belakang regu Hisyam, Harun dan rekan-rekannya dari pengawal lapis empat, duduk dengan rapi. Deretan selanjutnya diisi para calon anggota tim 5 PCD yang bukan berasal dari PBK. Komisaris utama PG, yakni Tio, memasuki ruangan luas dengan diikuti keempat direktur dan manajer PG. Tio dan Hamid, direktur operasional, meneruskan langkah menuju podium. Sedangkan yang lainnya menempati deretan kursi ya

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 51

    51Hari berganti hari. Selasa pagi menjelang siang, Rinjani tiba di depan gedung belasan lantai yang merupakan pusat bisnis para bos PC. Urfan yang telah menunggu sejak tadi, mendatangi mobil milik bosnya bersama Gumilang, Jariz dan beberapa pengawal muda lainnya. Mereka membantu mengeluarkan banyak wadah makanan dan menyusunnya di beberapa troli. Satu per satu troli diangkut menggunakan lift, hingga isi mobil habis. Setelah menutup dan mengunci pintu, Santos menyusul Rinjani yang tengah berbincang dengan beberapa staf perempuan. Mereka memasuki lift terbesar untuk menuju ke lantai tujuh. Sesampainya di tempat tujuan, Sebastian telah menunggu di ruang tamu luas, yang diperuntukkan untuk tamu umum 10 kantor, yang ada di lantai itu. Selama setengah jam berikutnya, Rinjani berjibaku membereskan meja prasmanan dan wadah kaca untuk hidangan. Semua peralatan makan dipinjam dari kantor PBK, yang sering mengadakan jamuan makan. Freya, staf HWZ, KARZD dan ZAMRUD, bersama beberapa staf PBK

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 50

    50Malam beranjak larut. Rinjani telah menguap beberapa kali, sebelum akhirnya menyandarkan kepala ke tumpukan bantal sofa. Sebastian yang masih menonton film laga dari negeri tirai bambu, melirik ke kiri. Dia mengulum senyum seusai melihat Rinjani yang tengah lelap. Sebastian berdiri dan jalan ke kamar tamu. Dia mengambil selimut, lalu keluar. Sebastian menutupi tubuh kekasihnya, sebelum kembali duduk di tempat semula. Puluhan menit berlalu, suara rengekan Dylan dari kamar utama, mengejutkan Sebastian. Dia berdiri dan jalan cepat memasuki ruangan yang pintunya terbuka, kemudian menyambangi Dylan yang masih menangis di tengah-tengah kasur besar. "Apa, Nak?" tanya Sebastian sembari duduk di tepi kasur. "Haus? Bentar, ya, Om panasin dulu ASIP-nya," lanjutnya sambil mengangkat sang bayi dan menggendongnya dengan tangan kiri. Sebastian bergerak luwes menyiapkan minuman dalam botol. Kemudian dia mengajak Dylan ke ruang tengah dan duduk di sofa tunggal. Sebastian memberikan botol yang

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 49 - Bertukar Pasangan

    49Pertanyaan Sebastian kemarin malam, masih terngiang di telinga Rinjani. Dia syok dan tidak serta merta menjawab pertanyaan lelaki tersebut. Bahkan Rinjani langsung menutup sambungan telepon tanpa mengucapkan apa pun. Sepanjang pagi hingga sore itu, pikiran Rinjani mengembara ke mana-mana. Dia nyaris tidak bisa bekerja, dan hanya menatap kosong pada laptopnya. Sore itu, Rinjani memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia meminta diantarkan ke supermarket pada Santos, karena Rinjani ingin berbelanja bahan makanan.Puluhan menit berlalu, Rinjani telah usai berbelanja. Dia tengah duduk di bangku dekat supermarket sambil meminum es teh dingin. Rinjani sedang menunggu Santos yang sedang antre di depan toko roti. "Rin," panggil seorang pria yang telah duduk di samping kanan. Rinjani terkejut dan sempat bengong sesaat, sebelum dia bergeser menjauh dari pria berkemeja hijau muda. "Aku cuma pengen ngobrol. Jangan menjauh gitu," pinta Anton. "Aku lagi nggak moid buat ngobrol. Apalagi dengan

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 48 - Would You ?

    48Rinjani terkejut, kala tiba di rumahnya sore itu dan ada mobil sedan hitam terparkir di depan rumah Sebastian. Rinjani merasa pernah melihat mobil itu, tetapi dia lupa di mana.Setelah Santos memarkirkan mobil dengan rapi di car port depan rumah nomor 1, Rinjani turun dan bergegas ke rumah sebelah. Perempuan bersetelan blazer abu-abu, tertegun menyaksikan Aline dan Riordan yang tengah bermain dengan Dylan di karpet lantai ruang tengah. Riordan yang melihat sang mama datang, segera bangkit berdiri dan menyambangi Rinjani. Riordan menyalami perempuan tersebut, lalu mengajak Rinjani duduk di sofa ruang tengah. "Aline kangen sama Dylan. Jadi kuantarkan ke sini," terang Riordan. "Ya, nggak apa-apa," sahut Rinjani. "Walaupun kaget, tapi aku senang kalian datang," lanjutnya seraya tersenyum. "Aku mau sering main ke sini. Boleh, Teh?" tanya Aline sembari bangkit duduk. "Boleh. Aku nggak keberatan. Yang penting, Dylan jangan diajak keluar, tanpa penjagaan Santos atau Urfan," ungkap Ri

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 47

    47Senin pagi, Rinjani tiba di kantor EO menjelang jam 8. Dia bergegas menuju ruang rapat yang ternyata telah ramai orang. Rinjani menyalami mereka satu per satu, termasuk Jemmy, suami Shireen, yang juga memiliki saham di perusahaan itu.Selama beberapa saat berikutnya, Rinjani larut dalam perbincangan dengan rekan-rekannya. Tidak berselang lama, Mutiara dan Edelweiss memasuki ruangan bersama Cyra, manajer tim Bandung yang merupakan istri Zafran, direktur PC. Mutiara meminta Jemny untuk memimpin rapat, dan laki-laki tersebut memulainya dengan pembacaan doa, sesuai agama masing-masing. Selama puluhan menit berikutnya, Rinjani mendengarkan penuturan Jemmy yang bergantian mengoceh dengan Mutiara. Rinjani meringis, ketika dirinya diminta untuk menjadi penanggung jawab acara ulang tahun Ganendra Grup, yang akan dilaksanakan awal bulan depan. Setelah rapat dibubarkan, Rinjani mengikuti langkah kedua komisaris menuju ruang kerja mereka. Jemmy dan Jhon turut bersama ketiga perempuan terseb

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Vab 46 - Pengakuan

    46Hari berganti. Siang menjelang sore itu, Sebastian telah berada di ruang kerja Dante, di kantor Adhitama Grup di kawasan Kuningan. Keduanya berdiskusi mengenai berbagai hal, terutama tentang pengalaman Dante sebelum menjadi mualaf, beberapa tahun silam. Dante menerangkan semuanya dengan detail dan sangat jujur. Dia memahami bila Sebastian membutuhkan banyak masukan, karena berpindah agama itu bukan hal sepele. Hampir satu jam berlalu, Sabrina, istri Zulfi yang juga merupakan Adik sepupu Dante, memasuki ruangan. Dia menyalami Sebastian, kemudian berpindah untuk menyalami Dante dengan takzim. Seperti halnya sang koko, Sabrina juga dimintai masukan oleh Sebastian. Perempuan bermata sipit itu menerangkan kisahnya dengan tenang, hingga tuntas. "Berarti, pengalaman kalian hampir sama denganku. Yaitu, merasa tenang saat mendengar suara azan ataupun orang mengaji," tutur Sebastian, sesaat setelah Sabrina usai berceloteh. "Aku juga suka lihat orang salat. Aku bahkan sudah hafal geraka

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 45 - Trust Me!

    45Suasana tegang melingkupi ruang tamu kediaman Ardiatma Anargya. Beberapa orang yang berada di tempat itu, menunggu lelaki tua berkemeja hijau lumut, yang masih memegangi kertas berlogo rumah sakit F.Ardiatma mengulang membaca detail hasil tes DNA atas Sebastian dan Dylan. Angka 77% di bagian yang digaris merah, membuatnya terpaku. Ardiatma benar-benar terkejut dengan kenyataan itu. Rasa marah, kecewa, sedih, dan penyangkalan, bercampur menjadi satu dalam benak pria yang rambutnya telah dihiasi uban. Hal nyaris setupa juga dirasakan Eva yang membaca salinan keterangan hasil tes DNA. Perempuan tua berambut sepundak, menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Eva menggeleng pelan. Dia tidak bisa memercayai penglihatan. Otaknya mendadak buntu dan Eva hanya bisa terpaku sembari memejamkan mata. Riordan mengambil kertas yang dipegangi Eva. Dia membaca hingga tiga kali. Sebelum menengadah dan memandangi Sebastian serta Rinjani, yang menempati kursi panjang di dekat jendela. "Mas, berarti

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status