Share

Bab 07

Penulis: Olivia Yoyet
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-26 16:48:47

07

Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. 

Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. 

Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. 

"Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. 

"Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. 

"Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA.

"Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. 

"Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. 

"Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. 

"Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan berambut sebahu. "Namanya, Astri. Masih single," terangnya. 

"Umurnya?" 

"26 tahun." 

"Tinggal di sini?" 

"Hu um. Rumah kami deketan." 

"Bolehlah. Orangnya manis juga." 

"Jangan banyak milih, Mas," celetuk Edelweiss. 

"Ho oh. Yang penting seiman, baik dan nggak banyak tingkah, sudah cukup. Urusan lainnya, bisa diselami sambil jalan," cetus Mutiara. 

"Betul itu. Pacaran lama juga belum tentu beneran baik. Banyak juga yang setelah nikah, baru kelihatan sifat aslinya," beber Tia. 

"Aku setuju. Jalani pendekatan sambil banyakin doa, supaya dia benar-benar jodoh terbaik buat kita," ungkap Shahnaz. 

"Eleuh-eleuh. Neng Shahnaz, meni bagus pantunnya," canda Netha yang menyebabkan rekan-rekannya tersenyum. 

"Aku cuma ngulang omongan kakakku, Tha. Dia, kan, gitu. Pacaran 3 tahun, lalu nikah. Ehh, baru juga setahun, bubar jalan karena lakinya ternyata poligami sama pacarnya di tempat proyek," ungkap Shahnaz. 

"Dia hanya tidak beruntung. Aku sama suami, pacaran 2 tahun. Alhamdulillah, pernikahan kami masih aman terkendali selama 7 tahun ini," papar Lidya. 

"Tepat sekali. Aku sama Mas Arkhan, pacarannya setahun lebih, dan kami masih bertahan bersama hingga sekarang," ungkap Mutiara. 

"Nah! Kalau aku, beda. Sama Koko Dante, nggak sempat pacaran," cakap Edelweiss. "Dikasih tahu orang tua, jika aku dijodohkan sama dia, bulan September. Oktober sampai November, aku masih musuhan sama dia," lanjutnya. 

"Hatiku terketuk, waktu dia jadi mualaf, di bulan Desember. Setelahnya, aku sudah nggak bisa ngelak buat nikah sama orang paling pede sedunia itu," sambung Edelweiss seraya tersenyum. 

"Lagi ngomongin aku, ya?" tanya Axelle Dante Adhitama, CEO Adhitama Grup. Dia melenggang memasuki ruangan bersama Nadhif, ketua pengawal keluarga tersebut. 

"Koko panjang umur. Baru juga diomongin, sudah muncul," tukas Rio, salah satu model terkenal yang merupakan sahabat Mutiara dan Edelweiss. 

"Aku aminkan," ujar Dante sembari menyambangi Ambar dan menyalami perempuan berjilbab krem tersebut. "Sehat, Bu?" tanyanya. 

"Alhamdulillah. Pangestu," jawab Ambar. 

Dante berpindah menyalami Lidya. Kemudian dia mendekati ranjang pasien untuk bersalaman dengan perempuan berbaju hijau. 

"Hello, Mommy. Sudah baikan?" tanya Dante sembari menyalami Rinjani. 

"Ya, Pak. Terima kasih sudah datang," sahut Rinjani seraya tersenyum tipis. 

"Kata staf WO, kamu dibantuin Sebastian, ya?" 

Rinjani membulatkan matanya. "Betul. Apa Bapak kenal sama beliau?" 

"Ya. Kami sering kerjasama dalam banyak proyek PG dan PC." 

"Ehm, aku nggak tahu kalau dia anggota PG." 

"Bukan, dia tim PC. Kalau nggak salah, satu grup dengan Zulfi." 

"Aku kayak pernah dengar nama itu." 

"Zulfi, direktur keuangan PBK. Sekaligus dirut BPAGK. Dia melet adikku, Sabrina. Sampai mau nikah dengannya."

Rinjani menyunggingkan senyuman. "Akhirnya ingat aku. Yang alisnya tebal, dan kalau senyum, manis banget." 

"Yups. Tapi tetap aku paling ganteng." 

"Hmm, ya." Rinjani mengingat-ingat sesuatu. Kemudian dia bertanya, "Bapak punya nomor telepon Mas Sebastian? Dia bilang, ada saved nomorku, tapi aku nggak tahu nomornya." 

"Ada. Bentar." 

Dante meminta ponselnya yang dipegangi Nadhif. Pria berkemeja biru pas badan, mencari kontak orang yang dimaksud, dan memberikannya pada Rinjani, yang segera menyimpan nomor itu di ponselnya.

***

Dua unit mobil berbeda tipe dan warna, berhenti di depan bangunan dua lantai bercat krem, di kawasan Lebak Bulus. Beberapa orang keluar dan bergegas memasuki rumah, yang pintunya telah dibukakan seorang pria paruh baya. 

Sebastian menyalami penunggu rumahnya dan berbincang sesaat, sembari mengamati keempat OB kantor yang tengah mengangkat perabotan, dan memindahkannya ke mobil box besar. 

Setelahnya, Sebastian menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Dia memasuki ruangan yang pernah menjadi saksi kisah cintanya dengan Keisha. 

Sebastian terdiam sejenak sembari memindai sekitar. Dia seolah-olah melihat kelebatan Keisha, yang selalu berada di sofa dekat jendela, bila Sebastian memasuki kamar. 

Pria berkemeja marun menghela napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Sebastian menggeleng dua kali untuk mengusir kenangan itu. Sebelum dia mendekati lemari dan membuka pintu benda besar bercat putih.

Selama puluhan menit berikutnya, Sebastian, Urfan dan keempat OB berjibaku memindahkan semua barang ke mobil box. Beberapa perabotan yang tidak terpakai, diberikan Sebastian pada sang penjaga. 

"Rumah ini sudah kujual, Pak. Dibeli temanku dan akan dijadikan mess buat pegawainya," tutur Sebastian sambil memberikan amplop putih pada lelaki tua tersebut. 

"Aku sudah bilang ke orang yang beli, kalau Bapak tetap dipekerjakan di sini, dan dia setuju. Jadi, Bapak nggak perlu khawatir, karena tetap dapat gaji bulanan," tambah Sebastian. 

"Ya, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya selama ini," jawab pria berkaus hitam sembari memandangi Sebastian saksama. "Bapak mau pindah ke mana?" tanyanya. 

"Ke Pasar Minggu. Temanku bikin kompleks perumahan kuldesak, dan aku beli di sana." Sebastian menepuk pelan lengan lelaki tua di hadapannya. "Kapan-kapan, Bapak dan Ibu juga mesti datang ke rumahku yang baru," pintanya. 

"Alamatnya nanti dikirim ke WA, Pak." 

"Ya, nanti Urfan yang ngurusin itu," balas Sebastian. "Aku pamit, ya, Pak," bebernya, sebelum bersalaman dengan sang penjaga. 

Tidak berselang lama, Sebastian telah berada di mobilnya. Lelaki berparas manis, memandangi sekeliling sembari membatin, jika dirinya akan jarang sekali ke tempat itu di masa mendatang.

Kendatipun langit sudah gelap, tetapi jalanan masih padat. Urfan yang menjadi sopir, sekali-sekali akan menggerutu akibat pengendara motor yang serampangan.

Setibanya di gerbang utama kompleks, seorang pria yang mengendarai motor matic, menjadi pemandu kedua sopir menuju cluster di mana rumah baru Sebastian berada. 

Sesampainya di tempat tujuan, Sebastian terkejut menyaksikan banyaknya orang yang tengah berkumpul di depan rumah rekannya, yang bersebelahan dengan kediaman barunya.

Setelah mobil terparkir sempurna, Sebastian keluar untuk menyambangi rekan-rekannya sesama anggota PC. Mereka berbincang sembari mengamati sekelompok kuli panggul dadakan, yang sibuk memindahkan barang-barang, dari mobil box ke dalam rumah dua lantai. 

"Hen, kamu kapan mau ngisi rumah yang ini?" tanya Sebastian sambil menunjuk ke rumah nomor satu yang digabung dengan nomor dua. 

"Tahun depan," jawab Hendri. "Aku beresin dulu proyek di Cianjur, baru nempatin yang ini," terangnya. 

"Rumah yang lama, jadi dibeli Wirya?" desak Sebastian. 

"Bukan dibeli, tapi dirampas," seloroh Hendri. 

"Hen, Wirya dengar, pasti dia langsung mendelik," goda Zulfi. 

"Sahabatmu itu, makin lama makin sensi," keluh Hendri. 

"Tenang. Bentar lagi Hisyam pulang dari London. Abang iparmu itu bisa lengser dari dirut PBK, begitu juga aku dan Power Rangers lainnya. Kerjaan kami dilimpahkan ke tim Hisyam, dan kami bisa lebih santai," ungkap Zulfi. 

"Aku nggak percaya," sela Luthfan Baihaqi, yang memiliki rumah nomor 5, tepat di sebelah kanan kediaman Sebastian. 

"Itu cuma wacana. Ujung-ujungnya, Power Rangers tetap blingsatan kerja di luar negeri," ledek Brayden, pemilik rumah nomor 6.

"Tim Hisyam cuma pajangan. Aslinya Power Rangers yang masih ngendaliin PBK," kelakar Zainal Ervansyah, penghuni rumah nomor 7 dan 8. 

Bab terkait

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 01

    01"Mas, aku pamit," tutur Keisha Mahira sambil mengulurkan tangan kanannya. Sebastian Anargya tidak menyahut. Dia bahkan tidak berbalik dan memfokuskan pandangan ke luar jendela. Seolah-olah dedaunan yang tengah bergoyang di pohon dalam pot bunga itu, lebih menarik daripada perempuan di belakangnya. "Aku tadinya berharap, bisa mengakhiri hubungan ini baik-baik," sambung Keisha sambil menurunkan tangannya. "Baik-baik?" tanya Sebastian sembari memutar badan. "Perselingkuhanmu adalah hal terburuk yang pernah kudapatkan dalam hidup ini," lanjutnya. "Kita sudah pernah membahas ini, dan aku telah menjelaskan semuanya dengan detail." "Kamu hanya drama, Kei. Playing victim. Padahal korbannya adalah aku, bukan kamu!" "Aku sudah berulang kali meminta maaf. Kumohon, Mas bisa memahami jika aku masih mencintai Mas Anton, bahkan dari dulu rasa ini tidak pernah berkurang." Sebastian menggertakkan gigi. "Jangan sebut namanya di depanku!" Keisha mendengkus kuat. "Inilah yang membuatku sulit j

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 02

    02Siang itu, Sebastian telah tiba di unit apartemen yang disewanya di kawasan hunian bergengsi di Kota Singapura. Sebab tengah mengerjakan proyek dari PC di sana, Sebastian memutuskan untuk menetap di kota itu. Dia berharap tindakannya tersebut bisa membantunya untuk melupakan Keisha. Sudah beberapa bulan berlalu. Sebastian sama sekali tidak pernah menghubungi Keisha. Sedangkan perempuan itu berulang kali mengirim pesan pada Aline, Adik bungsu Sebastian, untuk meminta harta gono-gini. Sebastian bukan tidak mau memberikan apa yang diminta mantan istrinya. Namun, karena mereka telah menandatangani surat perjanjian pra nikah, yang menyebutkan jika ada perselingkuhan, maka pelakunya tidak berhak mendapatkan harta bersama.Sebastian yakin jika Keisha tahu tentang klausul itu, tetapi perempuan tersebut benar-benar kemaruk. Hingga Keisha melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati dari orang-orang terdekat Sebastian. Pria berkemeja putih seketika menoleh ke belakang saat dipanggil a

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 03

    03Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Sebastian dan Urfan telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka pulang ke Indonesia, karena Sebastian hendak menghadiri pernikahan temannya saat kuliah dulu. Kedua pria berbeda tampilan, mengikuti langkah Syuja dan Hasbi, kedua pengawal muda PBK, yang juga baru pulang dinas jadi pengawas di Singapura. Selain keempat orang itu, beberapa anggota PG dan PC turut bergabung dalam kelompok pimpinan Syuja. Hadrian Danadyaksha, Yafizhan Endaru, Rylee Maglorius Ghawani dan Riko Mahardika, terlihat berbincang santai sembari meneruskan langkah menuju luar terminal kedatangan khusus luar negeri. Dua pria berbadan tegap menyambut mereka dengan penghormatan. Nawang dan Dipta, kedua pengawal lapis 9, menyalami semua anggota kelompok tersebut. Seusai berbincang sesaat, mereka bergerak menuju tempat parkir. Tidak berselang lama, kedua mobil MPV hitam telah melaju keluar area parkir bandara, menuju jalan tol. "Rapat gabungan, jadinya hari

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 04

    04Sebastian menggeleng ketika Yeremia dan Didi saling mendorong bahu. Dia terkekeh saat kedua rekannya tersebut melanjutkan perdebatan dengan saling memelototi. Kelompok pria bersetelan jas berbagai warna tersebut, berdiri dan jalan menuju pelaminan. Seusai menyalami pasangan pengantin, mereka berdiri di sisi kanan dan kiri kedua mempelai sambil berpose. Beberapa jepretan diambil sang fotografer. Kameramen juga turut mengabadikan kelompok rekan-rekan kuliah sang pengantin laki-laki dalam video berdurasi pendek. Setelahnya, mereka menuruni pelaminan. Sebab hendak menuntaskan panggilan alam, Sebastian memisahkan diri dari kelompoknya. Pria bersetelan jas abu-abu, mengayunkan tungkai menuju area belakang gedung. Sebastian memasuki toilet khusus laki-laki dan segera menyelesaikan urusannya. Saat beranjak keluar, tanpa sengaja Sebastian mendengar suara orang meminta tolong. Dia berdiri sesaat di depan toilet wanita, sebelum memberanikan diri membuka pintunya. "Astaga! Kamu kenapa?"

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 05

    05"Halo?" sapa suara laki-laki yang tidak dikenali Anton. "Maaf, apa ini betul nomornya Rinjani?" tanya pria berkulit kecokelatan. "Ya. Ini, siapa?" "Ehm, temannya." Chumaidi, ipar Rinjani terkesiap. Dia seolah-olah pernah mendengar suara orang yang menelepon itu. Namun, Chumaidi melupakan detailnya. "Ririn sedang tidak bisa menerima telepon," jelas Chumaidi."Apa ada masalah?" tanya Anton tanpa bisa menahan rasa penasarannya."Tidak ada. Dia sedang tidur." "Oh, begitu." "Ada yang bisa saya bantu?" "Ehm, nggak ada. Besok saya telepon lagi." "Sebutkan namamu. Supaya saya bisa menyampaikannya pada Ririn nanti." Anton melirik asistennya yang sedang sibuk bersantap. "Dani," ucapnya, sengaja memakai nama Mardani agar tidak dicurigai orang yang ditebaknya sebagai suami Lidya. "Baik." "Makasih, Mas. Saya tutup teleponnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Chumaidi menjauhkan ponsel Rinjani dari telinganya. Pria berkumis tersebut memandangi istrinya yang sedang mengaji dengan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 06

    06Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan. Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan. "Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu. "Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian. "Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam." "Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam. "Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja." "Abizar?" "Dia lagi jaga toko bapaknya." Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU. Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju l

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26

Bab terbaru

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 07

    07Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. "Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. "Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. "Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA."Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. "Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. "Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. "Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan beram

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 06

    06Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan. Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan. "Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu. "Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian. "Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam." "Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam. "Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja." "Abizar?" "Dia lagi jaga toko bapaknya." Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU. Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju l

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 05

    05"Halo?" sapa suara laki-laki yang tidak dikenali Anton. "Maaf, apa ini betul nomornya Rinjani?" tanya pria berkulit kecokelatan. "Ya. Ini, siapa?" "Ehm, temannya." Chumaidi, ipar Rinjani terkesiap. Dia seolah-olah pernah mendengar suara orang yang menelepon itu. Namun, Chumaidi melupakan detailnya. "Ririn sedang tidak bisa menerima telepon," jelas Chumaidi."Apa ada masalah?" tanya Anton tanpa bisa menahan rasa penasarannya."Tidak ada. Dia sedang tidur." "Oh, begitu." "Ada yang bisa saya bantu?" "Ehm, nggak ada. Besok saya telepon lagi." "Sebutkan namamu. Supaya saya bisa menyampaikannya pada Ririn nanti." Anton melirik asistennya yang sedang sibuk bersantap. "Dani," ucapnya, sengaja memakai nama Mardani agar tidak dicurigai orang yang ditebaknya sebagai suami Lidya. "Baik." "Makasih, Mas. Saya tutup teleponnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Chumaidi menjauhkan ponsel Rinjani dari telinganya. Pria berkumis tersebut memandangi istrinya yang sedang mengaji dengan

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 04

    04Sebastian menggeleng ketika Yeremia dan Didi saling mendorong bahu. Dia terkekeh saat kedua rekannya tersebut melanjutkan perdebatan dengan saling memelototi. Kelompok pria bersetelan jas berbagai warna tersebut, berdiri dan jalan menuju pelaminan. Seusai menyalami pasangan pengantin, mereka berdiri di sisi kanan dan kiri kedua mempelai sambil berpose. Beberapa jepretan diambil sang fotografer. Kameramen juga turut mengabadikan kelompok rekan-rekan kuliah sang pengantin laki-laki dalam video berdurasi pendek. Setelahnya, mereka menuruni pelaminan. Sebab hendak menuntaskan panggilan alam, Sebastian memisahkan diri dari kelompoknya. Pria bersetelan jas abu-abu, mengayunkan tungkai menuju area belakang gedung. Sebastian memasuki toilet khusus laki-laki dan segera menyelesaikan urusannya. Saat beranjak keluar, tanpa sengaja Sebastian mendengar suara orang meminta tolong. Dia berdiri sesaat di depan toilet wanita, sebelum memberanikan diri membuka pintunya. "Astaga! Kamu kenapa?"

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 03

    03Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Sebastian dan Urfan telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka pulang ke Indonesia, karena Sebastian hendak menghadiri pernikahan temannya saat kuliah dulu. Kedua pria berbeda tampilan, mengikuti langkah Syuja dan Hasbi, kedua pengawal muda PBK, yang juga baru pulang dinas jadi pengawas di Singapura. Selain keempat orang itu, beberapa anggota PG dan PC turut bergabung dalam kelompok pimpinan Syuja. Hadrian Danadyaksha, Yafizhan Endaru, Rylee Maglorius Ghawani dan Riko Mahardika, terlihat berbincang santai sembari meneruskan langkah menuju luar terminal kedatangan khusus luar negeri. Dua pria berbadan tegap menyambut mereka dengan penghormatan. Nawang dan Dipta, kedua pengawal lapis 9, menyalami semua anggota kelompok tersebut. Seusai berbincang sesaat, mereka bergerak menuju tempat parkir. Tidak berselang lama, kedua mobil MPV hitam telah melaju keluar area parkir bandara, menuju jalan tol. "Rapat gabungan, jadinya hari

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 02

    02Siang itu, Sebastian telah tiba di unit apartemen yang disewanya di kawasan hunian bergengsi di Kota Singapura. Sebab tengah mengerjakan proyek dari PC di sana, Sebastian memutuskan untuk menetap di kota itu. Dia berharap tindakannya tersebut bisa membantunya untuk melupakan Keisha. Sudah beberapa bulan berlalu. Sebastian sama sekali tidak pernah menghubungi Keisha. Sedangkan perempuan itu berulang kali mengirim pesan pada Aline, Adik bungsu Sebastian, untuk meminta harta gono-gini. Sebastian bukan tidak mau memberikan apa yang diminta mantan istrinya. Namun, karena mereka telah menandatangani surat perjanjian pra nikah, yang menyebutkan jika ada perselingkuhan, maka pelakunya tidak berhak mendapatkan harta bersama.Sebastian yakin jika Keisha tahu tentang klausul itu, tetapi perempuan tersebut benar-benar kemaruk. Hingga Keisha melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati dari orang-orang terdekat Sebastian. Pria berkemeja putih seketika menoleh ke belakang saat dipanggil a

  • Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu    Bab 01

    01"Mas, aku pamit," tutur Keisha Mahira sambil mengulurkan tangan kanannya. Sebastian Anargya tidak menyahut. Dia bahkan tidak berbalik dan memfokuskan pandangan ke luar jendela. Seolah-olah dedaunan yang tengah bergoyang di pohon dalam pot bunga itu, lebih menarik daripada perempuan di belakangnya. "Aku tadinya berharap, bisa mengakhiri hubungan ini baik-baik," sambung Keisha sambil menurunkan tangannya. "Baik-baik?" tanya Sebastian sembari memutar badan. "Perselingkuhanmu adalah hal terburuk yang pernah kudapatkan dalam hidup ini," lanjutnya. "Kita sudah pernah membahas ini, dan aku telah menjelaskan semuanya dengan detail." "Kamu hanya drama, Kei. Playing victim. Padahal korbannya adalah aku, bukan kamu!" "Aku sudah berulang kali meminta maaf. Kumohon, Mas bisa memahami jika aku masih mencintai Mas Anton, bahkan dari dulu rasa ini tidak pernah berkurang." Sebastian menggertakkan gigi. "Jangan sebut namanya di depanku!" Keisha mendengkus kuat. "Inilah yang membuatku sulit j

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status