Semua pandangan seketika tertuju pada Aep. Pria itu dengan cepat menunduk, gugup. Ia menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal. Sesekali Aep mengintip warga melalui ekor mata. Kedua tangannya terkepal ketika mendengar pertanyaan serupa dari warga.
“Jawab, Ep!” pinta Pak Juju.
“Aep!” panggil Ceu Ikoh.
“Saya ... menemukan sesajen saat ... berada di sawah. Saya juga lihat beberapa anggota Kalong Hideung di sana,” ungkap Aep.
“Itu saja?” Euis seolah menginterogasi. Ia memang dari awal curiga dengan Aep yang bisa tahu kalau ritual akan terjadi malam ini, padahal pria itu adalah salah orang yang paling zalim pada Rojali. Jadi, tidak mungkin Aep percaya pada keterangan ustaz muda itu. Pasti ada sesuatu, pikirnya.
“Saya tahu dari ....” Aep segera menutup mulut. Hampir saja ia keceplosan menyebut nama Asep. Betapa berdosanya ia kalau sampai membawa Asep pada persoalan ini. Sudah pasti para warga
“Terus Bapak kumaha?” tanya Euis cemas.“Bapak akan pancing pocong-pocong itu untuk kejar Bapak. Setelah aman, kamu segera pergi,” perintah Pak Juju kemudian.“Tapi—”“Pergi!” Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa menunggu persetujuan Euis, Pak Juju segera berlari menaiki jalan menuju perkampungan. Sesuai dugaan, pocong yang tersisa segera mengejarnya, termasuk yang mengintip di atap tadi.“Bapak,” gumam Euis dengan kondisi terisak. Tubuhnya berguncang kuat saat Pak Juju sudah tak tampak lagi dalam pandangannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, di tengah cahaya temaram, Euis mengendap-endap keluar dari belakang saung. Ia sontak menutup mulut begitu bahunya dipegang seseorang.“Saya ... ikut, Is,” ucap seseorang dengan nada gemetar.Euis tak langsung menoleh. Gadis itu mengatur napas dan berusaha agar tak berteriak. Setelah agak tenang, dengan memberan
Baik Mbah Atim maupun Mbah Jaja sudah sampai di dua titik berbeda. Mbah Atim di sisi timur dan Mbah Jaja di bagian barat desa. Keduanya sengaja memutari kubah untuk sampai di tempat sekarang. Tak ingin membuang waktu, dua pria tua itu dengan cepat mengambil posisi bersemedi. Bersamaan dengan mata tertutup, mulut mereka mulai menggumamkan mantra.Teriakan dan tangisan terdengar dari dalam kubah. Bunyinya sangat nyaring, memekkikan telinga seakan menjadi penghalang agar Mbah Atim dan Mbah Jaja gagal berkonsentrasi. Tak hanya itu, pocong-pocong berkafan hitam mulai berjatuhan dari langit laksana tetes hujan, kemudian mengitari keduanya bak anak di depan api unggun.Keduanya tak gentar saat kedatangan tamu barusan. Baik Mbah Atim maupun Mbah Jaja malah kian larut dalam semedi, tenggelam dalam lantunan mantera. Hanya saja, saat derap langkah terdengar, adik dan kakak tersebut seketika membuka mata dan langsung bergerak menghindari serangan musuh.Memang busana mereka
Mobil yang dikendarai Rojali mulai memasuki jalanan menuju Ciboeh. Tanpa diminta, pikirannya seketika melanglang buana pada kejadian lalu. Ada rasa nyeri di dada saat mengingat perlakuan warga Ciboeh padanya yang semena-mena. Hatinya bagai digores sembilu hingga mencipta luka lebar menganga yang terasa sakit saat disentuh ingatan, terasa nyeri saat lantunan istigfar dipaksa untuk menutup dan menyembuhkan luka, berusaha memaafkan.“Astagfirullah.” Rojali mengusap wajah, berusaha mengenyahkan pikiran tidak-tidak. Fokusnya sekarang adalah menyelamatkan Kiai dan juga menghentikan ritual Kalong Hideung.Rojali kembali fokus pda tujuan. Mobil yang dibawanya agak melambat saat akan memasuki area perkebunan. Kendaraan itu dibuat berguncang beberapa kali akibat kondisi jalan. Di sisi lain, semakin dekat ke lokasi desa, Rojali merasa jika udara kian terasa panas. Meski jendela dari samping kanan dan kiri terbuka, tetapi hal itu sama sekali tak membantu, yang ada keri
Hal yang diinginkan Pak Yayat saat ini hanyalah bisa tertidur nyenyak di ranjang kasur. Namun, sebagai pria yang sudah mengenal asam pahit kehidupan, ia tahu betul kalau kenyataannya akan selalu mempercundangi kenyataan. Nyatanya yang terjadi padanya jauh dari keinginan dan bayangan. Ia memang pernah melihat penampakan kuntilanak dan pocong. Hanya saja, dikejar oleh kumpulan pocong berkafan hitam baru pertama kali ia alami. Hihihihi .... Demi apa pun, Pak Yayat lebih memilih diomeli istrinya selama berjam-jam sampai telinga berbusa dibanding harus mendengar suara barusan. Meski pandangannya lurus ke depan, ekor matanya masih bisa melihat pocong-pocong berlompatan di kiri dan kanan jalan, memamerkan wajah buruk rupa yang tak ingin ia lihat. Tak ada waktu bagi Pak Yayat untuk beristirahat meski raganya bak mobil tua yang dipaksa jalan. Napasnya terputus-putus, dan kakinya terasa ingin copot karena dipaksa berlari tanpa persiapan. Sa
Cecep memutuskan untuk ikut berbaring. Tubuhnya yang besar membuat Arif dan Deden tersudut hingga ke sudut saung. Keduanya sebal, tetapi tak dapat komentar. Memang begini nasib berteman dengan orang gendut. Selama beberapa menit, suasana menjadi hening, yang terdengar hanya suara katak di pematang sawah, dan serangga yang melompat dari satu tangkai padi ke tangkai lain. Meski keadaan di dalam saung tampak tenang, tetapi pada kenyataannya kondisi di luar sudah dipenuhi pocong-pocong dan juga kabut tebal. Meski mata tertutup, nyatanya Cecep tak bisa terlelap. Ia tahu kalau dua sahabatnya pun merasa demikian. Lagi pula siapa yang bisa tidur nyenyak saat berita kalau diri kita akan ditumbalkan? Cecep perlahan membuka mata. Pria itu sebenarnya tak nyaman dengan posisinya sekarang. Hanya saja, ia sadar diri. Kalau sampai ia bergerak sedikit saja, pasti Arif dan Deden akan terganggu. Terakhir kali saja, Cecep melihat bila keduanya tersudut ke sisi ruangan. C
Mahmud, salah satu warga Cigeutih yang memilih tinggal di rumah dibanding mengungsi. Saat ini, ia bersama dua anak dan istri berada di ruang tengah dengan bercahayakan lampu minyak karena listrik mendadak mati.Mahmud sesekali mengintip keluar. Setiap kali ia lakukan, kabut kian menghalangi pandangannya untuk mengetahui keadaan sekitar. “Kalian tidur saja,” ucapnya sembari menyeka keringat di dahi.Dibanding ikut berbaring dengan yang lain, Mahmud lebih memilih duduk di kursi kayu dekat jendela, dengan harapan ia bisa mengawasi keadaan luar dengan lebih leluasa. Sebatang rokok ikut menemani aksi terjaganya malam ini.Jujur saja, meski Mahmud tak ikut mengungsi seperti warga lain dengan alasan tak percaya, tetapi sebenarnya ia meyakini bila yang dikatakan Aep dan Pak Harun itu benar, terlebih saat mereka menunjukkan surat dari pesantren. Hanya saja, di siatuasi terburuknya, dibanding mati di sawah atau kebun orang, ia pikir akan lebih baik jika mati d
“Silaing butuh bantuan kaula?” ujar sosok itu dengan kedua tangan terlipat ke belakang.Rojali tercenung di tempat, tak bergerak. Ia amati sosok pria di depannya lekat-lekat. Aneh, pikirnya. Kunci pusaka itu tak lagi bersamanya, tetapi sosok itu masih bersuara di pikirannya dan kini malah menemuinya.“Apa yang kamu inginkan dari saya?” tanya Rojali seraya mulai memasang kuda-kuda. Bersamaan dengan hal itu, ia mendengar suara teriakan yang saling bersahutan dan juga ucapan permintaan tolong entah dari mana.“Waktunya sudah dekat,” jawab sosok itu.Rojali berusaha mencerna ucapan barusan. Dugaannya bermuara pada ritual kujang pusaka yang sedang terjadi di Ciboeh. Tak ingin berlama-lama dengan sosok itu, Rojali mengambil keputusan untuk berlari ke arah kubah. Sayang, saat kakinya baru saja melangkah, sosok berpakaian kerajaan itu tiba-tiba berada di depannya.“Saya tidak punya—” Kalimat Ro
Kereta kencana bergerak maju ke arah persawahan. Kondisi di kanan dan kiri menampilkan keadaan warga yang tak sadarkan diri di beberapa petak sawah, atap saung, pinggiran sungai, jembatan kayu, bahkan ada warga yang tersangkut di tumpukan batu, juga bayi yang menangis di pinggir sungai. Beberapa pocong juga tampak melompat-lompat di sekitar warga.Tak ada perubahan ekspresi dari Rojali. Pandangannya masih kosong meski sudah melihat pemandangan mengerikan. Kalau dengan keadaan normal, ia pasti tak berhenti mengucap istigfar.Kereta berbelok arah begitu sampai di akhir persawahan, lantas melaju ke arah perkampungan kembali. Untuk kedua kalinya, Rojali mendapati pemandangan mengerikan di persawahan. Meski begitu, ia tak dapat melakukan apa pun.Saat kendaraan sampai di jembatan penghubung Cimenyan dan Cigeutih, Rojali kembali melihat Ki Jalu dan Badru yang lagi-lagi gelisah, menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak hanya sam
“Ini satu-satunya cara, Kang. Kita tidak punya pilihan lain.”Mbah Jaja akhirnya setuju setelah agak lama berpikir. “Aing bakal pasang pagar gaib lebih dulu.”Sebuah kubah segera melingkupi seluruh gubuk. Di pandangan orang biasa, bangunan itu akan tampak seperti halaman kosong.Mbah Atim dan Mbah Jaja dengan cepat duduk bersila di depan dan belakang orang gila itu. Mulut mereka mulai berkomat-kamit membaca mantra. Butuh kekuatan dan konsentrasi tinggi untuk bisa menggunakan ajian pengubah raga.Tubuh orang gila itu secara tiba-tiba bergetar beberapa kali. Mulutnya terbuka dengan kondisi bola mata memelotot seperti hendak meloncat. Raganya kemudian berguling-guling di lantai, dan tidak lama setelahnya, fisik pria edan itu persis menyerupai Mbah Atim.“Semoga saja si Jalu tidak sadar,” ujar Mbah Atim yang berdiri dengan wajah pucat. Keringat mulai membanjiri keningnya. Tenaganya benar-benar terkuras habis
1990Sehari sebelum kejadian penemuan jenazah tanpa kepalaCiboeh sangat panas siang ini. Debu-debu berterbangan ketika kaki melangkah dan roda kendaraan menggerus jalan. Beberapa warga tampak menyiram air ke halaman untuk mengusir panas. Meski begitu, tawa anak-anak terdengar bersahutan ketika mereka tengah mengerumuni seorang pria berpakaian kumal.“Nugelo (orang gila)! Nugelo!” Anak-anak kompak meneriaki seorang pria yang tengah berjongkok di tengah mereka.Orang gila itu melirik ke kanan dan ke kiri. Sesekali tangannya menepis ranting yang disodorkan anak-anak padanya. Bibirnya bergerak seperti menggumamkan sesuatu.Seorang anak laki-laki tiba-tiba saja melempar ranting ke sembarang arah ketika melihat Rojali dan Reza tengah berjalan ke arah mereka.“Ada Ustaz Rojali,” ujar Uden, “ayo kabur sebelum kita dihukum.”“H
Dua hari setelah kepergian Kiai, Rojali berkunjung ke Ciboeh bersama Lukman dan Ustaz Ahmad. Pemuda itu sudah mendengar kondisi desa dari keduanya yang porak poranda akibat ritual. Akan tetapi, ia berhasil dibuat terkejut ketika melihat keadaan Ciboeh secara langsung.Saat melewati gerbang desa, ia melihat gapura hancur sebagian. Lebih dekat ke arah utara, banyak rumah roboh dan hancur seperti baru diterjang badai. Kondisi lebih mengerikan tersaji ketika mobil melewati Kampung Cimenyan. Beberapa rumah tampak rata dengan tanah. Tak heran jika berita yang ditayangkan di televisi dan radio menunjukkan bahwa desa ini diserang bencana alam.Mobil menepi di depan reruntuhan kediaman Rojali. Pemuda bermata sipit itu turun bersama Ustaz Ahmad dan Lukman. Ketiganya menatap tanah kosong di mana beberapa puing bangunan masih berada di sana.“Kang Rojali,” ujar Euis yang muncul dari arah samping rumah, “apa itu benar Kang Rojali?” Rojal
Ustaz Ahmad benar-benar merasa gelisah sepanjang waktu. Pikirannya tertuju pada kondisi sang bapak yang masih berada di rumah sakit. Ia hanya duduk memandang perapian di depan, sama sekali belum menyentuh air atau makanan.“Ustaz,” panggil Lukman yang duduk di sampingnya, “sebaiknya Ustaz mengisi tenaga lebih dahulu. Setelahnya, Ustaz bisa berisitirahat.”Ustaz Ahmad mengembus napas panjang, mengangguk pelan. Ia menghabiskan makanan dengan cepat, lalu berbaring di bangku panjang yang berada tak jauh dari tempat dirinya dan Lukman duduk.Sepinya keadaan Cimayit, berbanding terbalik dengan situasi yang ada di pesantren. Tangis kesedihan begitu mendominasi para santri dan tamu yang hadir. Meninggalnya Kiai Rohmat dengan cepat tersebar. Sayang, di saat seperti ini, sang putra justru berada jauh dan belum tahu mengenai kondisi sang bapak.Para pelayat tengah mengerumuni jenazah Kiai Rohmat. Bacaan surat Yasin saling bersahutan dari mulu
Rojali, Ustaz Ahmad, Ilham dan Lukman tiba di Lancah Darah saat siang menjelang. Mobil menepi di tempat terakhir kali mereka memarkirkan kendaraan.“Sebaiknya kita berangkat sekarang,” ujar Ilham dengan pandangan menelisik sekeliling, “jika tidak bergegas, mungkin saja kita akan tiba malam hari.”Setelah memastikan kendaraan aman, keempat pria itu memulai perjalanan memasuki hutan Lancah Darah. Pemandangan indah yang ditawarkan kawasan ini tidak akan berlangsung lama ketika matahari tenggelam.Seperti apa yang dikatakan orang-orang, Lancah Darah menjadi tempat yang “haram” untuk dikunjungi orang. Tak hanya kisah mistis yang melekat, tetapi tentang sekelompok orang yang susah disentuh, termasuk aparat sekalipun.Rombongan beristirahat di pinggiran sungai untuk melaksanakan salat, juga untuk menyantap bekal. Mereka sudah mencapai setengah perlajanan saat langit mulai bersolek lembayung. Kumpulan burung-burung terban
Ciboeh, 1989Selesai salat subuh berjemaah, para tetua desa yang dipimpin Pak Dede memasuki kantor desa. Mereka duduk melingkar beralas tikar tanpa camilan atau air segelas pun. Dilihat dari wajah dan gestur mereka, tampak ada hal penting yang harus segera mereka diskusikan.Hujan mendadak mengguyur deras. Angin tampak menerobos di sela-sela lubang pintu dan jendela, membawa udara dingin. “Jangan sampai ada yang masuk ke kantor, Man,” ucap Pak Dede pada Eman yang berjaga di pintu.“Siap, Pak Kades.” Eman mengacungkan jempol.Ruangan hanya diterangi lampu kecil sehingga cahaya hanya menyinari tengah ruangan, sedang gelap memeluk keadaaan sekelililing. “Kalian sudah memastikan kalau Rojali tidak ada di desa?” tanya Pak Dede sembari mengamati satu per satu orang yang hadir.“Sudah, Pak Dede,” jawab Pak Yayat, “Ustaz Rojali mengabari kalau selama dua hari
Bulan purnama tampak menggantung di cakrawala, memamerkan bulatan sempurna bercahaya keperakan. Di sisi sungai, Mbah Atim dan Mbah Jaja tampak berdiri menunggu kedatangan Ujang. Sudah lewat beberapa menit dari waktu perjanjian.“Awas saja kalau si Ujang mengkhianati kita, Juned,” ucap Mbah Jaja penuh amarah, “aing tidak segan bunuh istri, mertua dan anaknya sekaligus.”“Kita tunggu sebentar lagi, Kang,” sahut Mbah Atim menenangkan. Pandangannya tertuju pada seberang sungai, di mana pekatnya hutan hanya bisa menampilkan kegelapan. Ia mulai tak enak berdiri, pasalnya Mbah Jaja bisa saja nekat, dan saat itu terjadi ia tidak bisa melakukan banyak hal.“Sampai kapan kita harus menunggu si Ujang, Juned?” tanya Mbah Jaja sembari mengeluarkan pisau kecil, memandanginya dengan lekat-lekat. “Bisa saja dia berubah pikiran dan mengkhianati perjanjian kita.”“Saya yakin Ujang pasti datang ke si
Hujan deras yang mengguyur Ciboeh beberapa hari terakhir mengakibatkan bencana longsor. Peristiwa itu terjadi bakda subuh saat para warga sudah mulai bersiap menyambut hari. Lokasi terjadinya bencana berada di perbatasan Cigeutih dan Cimenyan. Hal itu menyebabkan beberapa rumah di dua kampung rusak karena tertimbun. Untungnya tidak ada korban jiwa.Para korban yang berhasil selamat diungsikan di rumah-rumah saudara. Warga saling bergotong royong membantu membersihkan tanah yang menghalangi jalan dan menutup akses jembatan yang menghubungkan kedua kampung.Setelah jembatan dapat kembali dibuka, Rojali berinisiatif meminta bantuan pada pesantren. Syukur dipanjatkan, Kiai mengirim bantuan dengan menerjunkan lima puluh santri ke Ciboeh. Dalam waktu sehari, lokasi sekitar bencana kembali normal meski rumah tampak ambruk.Hari berikutnya, warga masih berjibaku dengan sisa tanah longsor yang masih tertimbun di beberapa bagian sudut desa. Tanpa disangka-sangka, se
Sebuah motor tampak melaju dengan kecepatan sedang di jalanan Kampung Cigeutih. Gerimis tak lama kemudian berubah menjadi hujan lebat. Reza yang berada di atas kendaraan mencibir dengan penuh sumpah serapah. Ia mempercepat laju motor hingga kendaraan bergetar beberapa kali karena menorobos jalan berbatu dan berlubang.Reza berdecak, melempar rokok sembarang. Saat menoleh pada pos ronda, ia sama sekali tidak melihat teman-temannya berkumpul. Dengan terpaksa pemuda itu harus pulang ke rumah, padahal siang tadi ia bersitegang dengan bapaknya. Malas sebenarnya, tetapi ia tidak punya pilihan lain.“Ah, any*ng!” maki Reza dengan badan yang sudah mulai kedinginan. Seluruh pakaiannya basah kuyup, bahkan sampai ke dalam-dalam. Karena emosi, ia sampai melewatkan kediamannya sendiri.“Tol*l!” maki Reza setelah tahu kalau dirinya melewatkan rumahnya sendiri. Ia mendadak abai dengan keadaan di depan hingga tak bisa menghindari sebuah lubang. Alhasil,