"Rumah sakit? Rumah sakit mana Pak Kalau boleh tau?" tanya Efgan dengan wajah yang panik bercampur khawatir. Ternayata benar firasatnya tak salah. Istri dan anaknya kini sedang tak baik-baik saja.Bapak itu tak menjawab dan hanya menatap Efgan dengan wajah yang keheranan. "Pak, rumah sakit mana?" tanya Efgan yang sudah tak sabar."Maaf Pak sebelumnya. Kenapa bapak ingin tau di mana rumah sakit tempat istri bos saya di rawat?" Bapak itu bukannya segera menjawab pertanyaan Efgan. Ia malah balik bertanya."Karena kemungkinan besar! Wanita yang sedang Bapak bicarakan itu istri saya. Khania," balas Efgan dengan raut wajah hang sedih."Ih, si Bapak ngomongnya ngaco! Masa ostrinya pak Rizal punya dua suami. Gak mungkin lah pak." Bapak itu terkekeh mendengar penuturan Efgan."Sebentar." Efgan merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Ia dengan cepat mencari foto sang istri dan menunjukannya pada bapak tadi, "ini foto istri saya! Apa wanita ini, yang Bapak maksud?"
Rizal terkejut dengan apa yang dilakukan Khania. Dengan cepat ia menepikan lagi mobilnya dan mengunci puntu mobilnya secara otomatis. Ia dengan cepat membawa sapu tangan yang sudah ia siapkan di dalam laci dashboard untuk berjaga-jaga. Ia pun membekap Khania dengan sapu tangan yang sudah ia kasih obat bius."Maafkan aku Khania. Bukan maksudku untuk menyakitimu. Aku hanya ingin kamu diam dan ikut bersamaku." Rizal kembali mengemudikan mobilnya. Sekilas ia menoleh ke belakang."Tak akan ku biarkan kau menemui lelaki brengsek itu. Beruntungnya kau tadi meminta pulang. Jadi dia gak bisa menemukanmu," sambungnya sambil tersenyum menyeringai.Ia melajukan mobilnya ke arah yang berbeda dari sebelumnya. Ia tak akan membawa Khania ke rumah yang tadi. Karena sudah pasti Efgan tau lokasi rumah itu. Namun, yang menjadi pertanyaanya. Darimana Efgan tau lokasinya. Ia pun menatap Khania sekilas."Gak ... gak mungkin! Ini pasti hanya kebetulan saja," gumam Rizal sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. T
Khania mengerjapkan matanya. Samar-samar ia melihat suaminya kini ada di hadapannya. Ia lalu mengucek matanya untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah dan ia tidak sedang berhalusinasi. Ia tersenyum kala masih melihat sosok suaminya yang kini tengah berdiri di depan mobil. Namun senyuman Khania luntur saat ia melihat Rizal yang tengah menodongkan pistol ke arah Efgan.Khania bergegas keluar dari dalam mobil dan berniat ingin menghampiri Efgan. Akan tetapi langkahnya terhenti kala ia mendengar ucapan Rizal yang membuat ia syok dan terkejut."Heh! Ternyata tak perlu repot-repot untuk bunuh lo. Karena lo sendiri yang udah mengantarkan nyawa lo sendiri ke sini. Syukur lah. Jadi gue gak perlu capek-capek bikin skenario pembunuhan seperti dulu saat gue bunuh si Albi," ucap Rizal yang membuat Khania terkejut bukan main.Khania menutup mulutnya dan membelalakan matanya. Ia sungguh tak percaya jika kematian suaminya dulu itu adalah ulah jahat dari Rizal. Sepupu dari Albi sendiri. Mata K
Khania terkejut saat mobil itu akan jatuh ke dalam jurang ia memejamkan matanya dengan begitu erat. "Ya Tuhan! Apakah ajalku sudah dekat? Apa secepat ini nyawaku kau ambil? Aku tadi hanya bercanda gak serius ingin mati. Aku masih mau melihat anakku dan hidup bersama suamiku," batinnya. Ia menangis di dalam hati merutuki ucapannya yang sembarangan.BRUKK!Mobil itu menghantam sebuah pohon dan beruntungnya mobil itu tak sampai jatuh lebih dalam ke dalam jurang.Khania sempat sadar. Namun beberapa detik kemudian gelap yang Khania rasakan.'Ini kenapa gelap? Apa sekarang saya sudah di alam yang berbeda? Tapi kenapa gelap begini? Ah ... atau jangan-jangan aku lagi ada di dalam kubur? Waduh, kata orang dalam kubur itu akan bercahaya jiga amal kita bagus. Berarti amal perbuatanku selama ini buruk. Ya Allah ampuni dosa hambamu ini,' ucap Khania dalam hatinya."Sayang!" Khania sayup-sayup mendengar suara tangisan seseorang sambil mengucap kata sayang. Khania pun teru
"Dia kenapa Mas?" tanya Khani yang sudah tak sabar mendengar kabar anaknya. Jamtungnya berdetak dengam cepat. Ia takut kalau anaknya kenapa-napa. Ia akan sangat merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada sang anak."Kamu yang sabar ya sayang. Kamu harus kuat," ucap Efgan sambil memeluk Khania dengan erat."Anak kita gak apa-apa kan Mas?" tanya Khania dengan nada suara yang melemah."Dia harus dirawat di NICU, karena saat kamu kecelakaan kamu pendarahan yang mengharuskan kamu oprasi caesar. Kondisi kamu sempat kritis waktu itu dan anak kita juga gak baik-baik aja. Tapi beruntungnya kalian berdua bisa selamat dan sekarang kamu bisa sadar. Mas merasa sangat bersyukur karena kamu bisa melewati masa kritis." Efgan kembali mencuim kening Khania lalu ia beralih menciumi seluruh wajah Khania. Sampai tiba di bibir Khania, ia dengan cepat melahap bibir ranum Khania yang sudah lama tak ia rasakan kenyalnya bibir istrinya itu.Khania memukul pelan dada Efgan saat dia merasa kurang oksigen.
Khania yang sebenarnya sudah bangun dan mendengarkan pembicaraan mereka terkenjt kala mendengar Monic yang meminta maaf padanya. Kenapa kakak iparnya itu meninta maaf padanya?Monic yang mendengar suara ketukan di pintu dengan celat ia membuka pintu itu dan terdengar ia menyurub masuk orang itu.Khania yang penasaranpun sedikit membuka matanya. Mata yang semula hanya mengintip kini terbuka lebar kala melihat apa yang ada di hadapanya kini. Ia menelan salivanya dengan kasar.'Gila kenapa kak Monic melakukan itu di sini sih? Ah ... jadi ini yang membuat kak Monic minta maaf dia mau bawa pacarnya ke sini dan mau cipokan di sini. Hmm kayak yang gak ada tempat lain aja,' batin Khania. Khania kembali memejamkan matanya.'Siapa sih pacarnya kak Monic itu? Kok aku penasaran ya,' ucap Khania maaih dalam hatinya. Ia kembali membuka sedikit matanya untuk mengintip.Khania kembali melebarkan matanya dan mulutnya. "Pak Glen," seru Khania tanpa sadar.Sepasang sejoli yang tengah asyik berciuman pun
Monic dan Khania mengernyitkan keningnya.Khania yang tengah dipeluk Efgan pun mendongakan kepalanya."Maksud Mas ngomong gitu apa?" tanya Khania yang tak mengerti maksud sang suami."Glen sama kak Monic pacaran sayang," jawab Efgan dengan santainya.Monic membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar."Lho, katanya Mas Efgan gak tau? Ini dia tau kak?" ucap Khania sambil menatap Monic yang terlihat syok."Kamu juga tau sayang kalau mereka pacaran?" tanya Efgan.Khania mengganggukan kepalanya."Sejak kapan?""Baru tadi aku tau pas lihat mereka yang lagi ci—" ucapan Khania terhenti saat Monic dengan tiba-tiba menyuapkan buah anggur ke mulut Khania."Makan ya, jangan banyak bicara biar kamu sehat. Kamu kan baru sadar masa udah banyak bicara," ucap Monic sambil memberi pelototan pada adik iparnya itu.Khania yang mengerti pun tak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk makan buah yang kini disuapi Monic."Kamu belum selesai lh
Efgan panik saat melihat Khania merintih. "Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit?" Khania menatap Efgan dan tersenyum. "Lapar," ucapnya manja."Kamu itu ya, hampir bikin aku jantungan." Efgan mencolek hidung Khania ia dan tersenyum. "Kamu mau makan apa, hmm?" tanya Efgan sambil medorong kursi roda Khania."Apa aja Mas, yang penting bisa di makan," sahut Khania."Oke, kamu tunggu sebentar di kamar aja ya. Mas beli dulu makanan buat kamu," ucapnya sambil membuka pintu kamar rawat Khania.Di dalam sudah ada nenek, Monic dan Glen. Mereka semua menatap ke arah pintu saat Efgan dan Khania masuk."Udah jenguk Baby nya sayang?" tanya nenek sambil menghampiri Khania.Khania menganggukan kepalanya.Efgan membantu Khania untuk berbaring di atas ranjang. Lalu menyelimutinya."Kamu tunggu sebentar ya, aku gak akan lama." Efgan mencium kening istrinya itu. Dan saat Efgan akan melangkah keluar, langkahnya terhenti saat mendengar seruan yang serentak dari nenek, Glen dan Monic."Kamu mau ke mana?" tany