Dia adalah adik perempuannya Leon Kurniawan, Linda Kurniawan, putri dari Hardi Kurniawan, yang merupakan putra tertua dari Toni Kurniawan.Begitu memasuki ruangan, dia melihat Nova dan Chandra. Dia memperhatikan mereka, kemudian mendatangi Toni, mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan sebuah berita kepada pria itu.Toni tercengang saat melihat berita bahwa Ihsan membungkuk dan meminta Nova untuk masuk Arthur Group.Padahal, Ihsan ini adalah direktur utama Arthur Group.Di Rivera, empat keluarga terkaya saja sangat menghormati Ihsan.Dia dengan cepat mengambil kontrak pesanan di atas meja. Ketika melihat bahwa kontrak itu benar-benar bernilai 200 miliar, dia langsung tertawa terbahak-bahak, “Hahaha. Nova, bagus sekali. Seperti yang diharapkan dari anggota keluarga Kurniawan. Setelah mendapatkan pesanan bernilai 200 miliar dari Arthur Group, Yorda Group-ku akhirnya bisa membusungkan dada di Rivera.”“Kakek, bagaimana dengan Chandra?”“Apa? Putra dari dari keluarga Sinaga datang?” Dari l
David langsung terduduk di lantai.Arthur Group membatalkan kerja sama dengan Almaris Group.Bagaimana itu bisa terjadi?Apa Nova benar-benar menelepon direktur utama Arthur Group tadi?Melihat sikap David, Chandra langsung tahu, pria itu pasti sudah mendapat kabar bahwa Arthur Group membatalkan kerja sama dengan Almaris Group.Di kantor presdir Almaris Group. Bambang Sinaga sedang berteriak memarahi David, karena dia mendapat kabar dari Arthur Group bahwa direktur utama mereka yang memerintahkannya sendiri dan mengatakan kalau David telah menyinggung perasaan seseorang yang seharusnya tidak tersinggung.“Pak Bambang, gawat. Arthur Group bilang adalah masalah kualitas pada bahan obat yang kita produksi. Mereka telah mengajukan gugatan terhadap perusahaan kita dan meminta kita untuk membayar ganti rugi sebesar enam triliun!”“Pak, gawat. Ada pesan dari bank yang meminta kita segera melunasi pinjaman!”“Pak, gawat. Pabrik kita telah ditutup oleh pihak berwenang karena masalah kualitas!”
“Lukisan Gunung Merabu …,” gumam Chandra pelan.Lukisan itu adalah lukisan pusaka milik keluarga Atmaja.Sebelum meninggal, kakeknya pernah memberitahunya bahwa keluarga Atmaja boleh hancur, tapi lukisan ini tidak boleh hilang.Chandra tidak pernah melupakan hal ini selama sepuluh tahun ini.“Paul, bersiaplah. Kita bergerak di malam hari.”“Oke.” Paul mengangguk.“Oke, kamu pergi dulu. Istriku akan segera pulang kerja. Dia nggak berharap aku berurusan dengan orang yang nggak jelas. Kamu nggak kelihatan seperti orang baik. Kalau istriku melihatmu, aku akan dimarahi lagi.”Ekspresi Paul menegang. Kulitnya hanya sedikit hitam. Kenapa dia jadi dianggap orang yang tidak jelas dan orang yang tidak baik?“Kok masih bengong? Cepat pergi.” Chandra menendang pria itu.Paul pun berbalik badan dan pergi.Chandra melihat jam. Sudah waktu pulang kerja. Nova akan segera keluar.Dia pun mendorong motor listrik yang ada di sebelahnya dan berjalan menuju kantor Yorda Group. Sebelum dia sampai ke sana, d
Chandra tampak tak berdaya.Nova berkata, “Ambilkan gaun di dalam lemariku. Ada perjamuan penting mala mini.”Chandra bangkit dan berjalan menuju lemari, membuka pintu lemari dan bertanya, “Sayang, yang mana?”“Yang putih, dengan belahan V di leher.”“Nggak boleh pakai gaun ini. Kamu nggak boleh pakai yang terlalu terbuka seperti ini di luar. Gaun yang ini bagus.” Chandra mengambil sebuah gaun hitam berleher tinggi dan menyerahkannya pada Nova, lalu bertanya, “Ngomong-ngomong, perjamuan apa?”Nova berkata, “Hindi Sinaga mengadakan acara lelang. Ada banyak barang bagus yang dilelangkan. Tamu yang hadir juga orang-orang penting. Aku juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk memperluas koneksiku.”Chandra sedikit kaget mendengarnya, tapi tidak mengatakan apa-apa dan malah bertanya, “Apa perlu aku mengantarmu pakai motor?”“Aku naik taksi saja.”“Oh, oke.”Setelah berganti pakaian, Nova pun pergi.Di vila kediaman keluarga Sinaga.Ini adalah satu-satunya vila yang tersisa milik keluarga
Puluhan mobil jip melaju menuju vila keluarga Kurniawan. Tentara-tentara bersenjata lengkap menyerbu rumah mereka.Anggota keluarga Kurniawan lainnya langsung panik. Toni yang sudah tidur, terbangun dengan masih mengenakan piyamanya. Ketika melihat puluhan tentara berada di sana, wajahnya menjadi pucat karena ketakutan. Dia buru-buru bertanya, “Ada apa?”“Bawa pergi.”Setelah perintah itu, Toni ditahan oleh dua tentara dan dibawa pergi dengan paksa.Anggota keluarga Kurniawan lainnya yang sudah tidur juga dibawa paksa.Sementara itu, di rumah Nova.Boni dan Yani sudah tidur.“Bruk!” Pintunya didobrak sampai terbuka. Kemudian, sekelompok orang masuk dan membawa mereka pergi dengan paksa.Di lantai atas Rivera Hotel, di sebuah ruang rahasia.Nova diikat, dan setelah beberapa saat, anggota keluarga Kurniawan lainnya juga dibawa ke sana. Kakeknya ayahnya, paman pertamanya Om Hardi, paman keduanya Om Jaka, dan puluhan orang dari keluarga Kurniawan semuanya dibawa ke sana. Semuanya diikat.M
Ada dua luka berdarah di wajah Nova yang cantik. Darahnya menetes ke pipi dan menodai lehernya.Penglihatannya kabur, karena air mata terus menetes.Air matanya mengalir dan bercampur dengan darah di wajahnya.Dia sudah putus asa.Dia merasa tidak berdaya menghadapi Radika, komandan dari keluarga Sinaga itu.Dia benci!Dia benci pada dirinya yang dulu. Mengapa dia harus menerobos masuk ketika mendengar ada teriakan minta tolong di tengah kebakaran itu!Hanya karena dia menolong satu orang, dia terluka bakar dan harus hidup menderita selama sepuluh tahun!Setelah menderita luka bakar itu, dia menjadi bahan olokan dan tertawaan teman-temannya!Teman-teman yang dulu berteman baik dengannya juga ikut mengabaikannya!Teman-teman di kelas kalau melihatnya seperti melihat orang berpenyakit, menjauh darinya!Dia tidak disukai oleh keluarganya, dan bahkan orang tuanya sendiri memandangnya dengan rendah!Setelah lukanya sembuh total, dia merasa penderitaannya selama sepuluh tahun terakhir tidak
“Orang itu adalah aku.”Satu kalimat pendek, tapi kalimat itu menggelegar di telinga semua orang yang ada di sana bagaikan petir, membuat pikiran mereka kosong, membuat mereka bingung.Bahkan, Radika yang berada di panggung juga tertegun sejenak.Dia adalah wakil komandan di perbatasan barat yang telah mengalami banyak pertempuran, tetapi dia juga dibuat terpana oleh teriakan Chandra.Dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi saat itu. Ketika dia sadar, dia melihat seorang pria berjalan masuk.Orang itu mengenakan topeng hitam di wajahnya dan aura dingin menyelimuti seluruh tubuhnya. Aura dingin itu seolah menurunkan suhu ruangan itu.“Dia?”“Pria bertopeng itu yang membunuh Ahmad Sinaga!”Orang-orang di ruangan itu mulai menyadarinya. Wajah mereka pucat karena ketakutan ketika melihat Chandra berjalan mendekat.Setengah bulan yang lalu, tangan Denis Sinaga dipatahkan dan kepala Ahmad Sinaga dipotong. Pemandangan tubuh Ahmad yang terbaring dalam genangan darah muncul di benak semua o
Rivera adalah kota pusat kedokteran.Delapan puluh persen bahan obat tradisional di dunia dikirim dari sini.Ada grup farmasi dengan nilai pasar ratusan triliun, dan ada ratusan ribu pabrik pengolahan bahan obat, baik itu yang besar maupun yang kecil.Di sini, pasti ada klinik pengobatan tradisional di setiap jalan dan gang.Jalan Nantaboga adalah jalan yang paling “multicultural” di Rivera. Di sini adalah tempat berkumpulnya tiga agama dan sembilan aliran, ada yang menjual barang antik, ada KTV, bar, dan panti pijat.Ada sebuah klinik di Jalan Nantaboga ini.“Klinik Mortal.”Di sinilah tempat bawahan Chandra, Paul, menetap di Rivera.Chandra adalah Dokter Sakti. Paul telah mengikutinya selama bertahun-tahun dan tahu sedikit tentang kedokteran. Memeriksa orang yang masuk angin ataupun yang memar karena pukulan bukan hal yang sulit baginya.Saat ini di atas meja operasi, di Klinik Mortal.Chandra menatap Nova yang wajahnya berlumuran darah. Lutut wanita itu robek dan kotor karena debu.
Akhirnya, Chandra memenuhi syarat untuk bisa masuk ke dalam kolam energi di pulau itu guna melatih tubuhnya. Chandra dan rombongannya tiba di pulau. Pulau ini adalah tempat terpencil dan tidak berpenghuni. Hal ini bisa terjadi karena mengendurnya segel bumi yang membuat ada banyak tempat baru yang muncul di bumi yang sebelumnya tidak pernah ada. Suasana primitif langsung terasa ketika mereka menginjakkan kaki di pulau terpencil ini. Di sekeliling pulau ini terdapat banyak sekali pegunungan yang menjulang setinggi angkasa dan di dalamnya terdapat pohon-pohon yang ketinggiannya mencapai ratusan meter. Pohon-pohon tua di sekitar mereka memiliki akar yang panjang dan kuat sampai menghalangi sinar matahari yang masuk ke pulau ini.Trigali, Awan dan Peri Puti pergi menempati kolam energi utama yang ada di pulau ini. Di sisi lain, Chandra memilih untuk berjalan di pinggir pulau sampai dia tiba di sebuah ngarai. Di ngarai itu terdapat sebuah kolam dengan lebar mencapai ratusan meter. Air di
Dunia ilusi terbang mendekat dengan tekanan yang mengerikan dan langsung menghantam Trigali dengan ganasnya. Di saat yang bersamaan, Trigali mulai bergerak dan kabut hitam yang sangat kuat tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Dia mengepalkan tangannya lalu dengan cepat melayangkan pukulannya. Kabut hitam bersatu dan membentuk kepalan tangan ilusi di sekitarnya. Duar!Kepalan tangan ilusi itu dengan cepatnya menghantam dunia ilusi yang menyerangnya. Dalam sekejap mata, ledakan dahsyat terjadi seakan seluruh dunia berguncang dibuatnya. Trigali berhasil menghadang dunia ilusi sekaligus memukul mundur Awan beberapa langkah. Seketika, raut wajah Trigali tampak sangat serius. “Ck, ck, benar-benar kuat.”Koko memuji dengan berkata, “Aku tidak menyangka Kak Trigali bisa menghadang Citra Dharma dari Awan yang menakutkan dengan Tinju Iblisnya.”Chandra menatap Koko bingung karena dia tidak mengerti apa itu Tinju Iblis.“Kamu jangan meremehkan seniorku itu. Kak Trigali adalah seorang Master. Dia s
Begitu Trigali buka mulut, dia langsung mengungkapkan asal-usul kedua orang itu. Ini mengejutkan bagi Awan dan Puti. Karena identitas mereka benar-benar dirahasiakan. Tidak ada seorang pun di era ini yang mengenal mereka. Namun, bagaimana Trigali bisa tahu? Sebenarnya siapakah Trigali?Tidak hanya Awan dan Puti. Chandra juga sama terkejutnya. Pertama, dia terkejut dengan identitas Awan dan Puti. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kedua orang tersebut, yang satu lahir 80.000 tahun yang lalu dan satunya lahir 130.000 tahun yang lalu. Kedua, dia dibuat terkejut oleh Trigali. Dia tidak menyangka kalau Trigali akan tahu asal-usul kedua orang itu.Koko mengerutkan bibir dan tersenyum tipis, lalu berkata, “Chandra, kamu jangan kaget dengan Kak Trigali. Dia bisa tahu karena klan kami punya informan di semua dunia. Pesilat mana yang muncul di semua dunia, orang-orang jenius di zaman kuno mana yang memilih untuk disegel, kapan mereka muncul lagi di dunia, muncul di mana, klanku punya semua in
“Tunggu.” Koko buka suara tepat waktu dan memarahi orang itu, “Hentikan.”Pedang orang itu sudah berjarak kurang dari satu meter dari Chandra. Begitu mendengar suara Koko, dia menarik kembali pedangnya tepat waktu. Chandra kaget hingga berkeringat dingin.Kuat sekali. Bawahan Trigali saja sudah begitu kuat. Kecepatannya menghunus pedang membuat Chandra tidak sempat bereaksi. Lantas, seberapa kuat Trigali?Pada saat ini, Koko sudah berjalan mendekat ke arah Chandra. “Chandra, kamu sudah pulang?” tanyan Koko dengan ekspresi terkejut di wajah cantiknya.“Iya.” Chandra menganggukkan kepala, lalu mengeluarkan Mutiara gelap dari Istana Abadi Ceptra dan menyerahkannya kepada Koko. “Terima kasih atas barang pusakamu. Berkat barang pusakamu ini, aku bisa pergi ke dunia tersegel dengan aman.”Koko mengambil mutiara dari tangan Chandra dan menyimpannya, lalu berkata sambil tersenyum, “Sama-sama.”Trigali melihat adegan tersebut. Dia berjalan mendekat dan memperhatikan Koko sejenak, lalu mengernyi
Cahaya putih itu sangat aneh, kadang muncul kadang menghilang. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, cahaya putih itu tidak kelihatan sama sekali. Satu, dua, tiga, lima, delapan, sepuluh ....Diiringi berkas cahaya pertama muncul, lebih banyak berkas cahaya lainnya menyusul. Cahaya itu hanya muncul selama beberapa detik sebelum menghilang. Chandra menatap pulau itu di kejauhan sambil berpikir. Menurutnya, cahaya itu sepertinya dipancarkan oleh barang pusaka di pulau itu. Namun, dia tidak tahu barang pusaka apa itu.Kalau ingin tahu, maka Chandra harus mendekat dulu. Namun, pertempuran di pulau itu sangat sengit. Aura pertempuran juga sangat kuat. Bahkan seorang Chandra juga merasa takut. Jika dia mendekat dengan gegabah dan ketahuan, dia mungkin akan kehilangan nyawanya.Chandra menyaksikan pertempuran di langit yang jauh. Itu adalah pertarungan banyak orang. Namun, ada dua orang yang tidak turun tangan. Salah satunya seorang perempuan. Dia mengenakan gaun putih dan memiliki sepasang
Kelebat bayang-bayang pedang dan terpaan gelombang energi sejati. Gelompang energi sejati yang mengerikan itu seperti riak di air, yang terus menyapu dan menimbulkan gelombang besar setinggi ratusan meter.Chandra melangkahkan kakinya dan muncul di udara. Dia melihat pulau di depannya, lalu bergumam sambil mengernyit, “Kenapa ada prajurit yang bertarung di tengah samudra luas ini? Apa mungkin ada barang pusaka di sini?”Menurut Chandra, hanya keberadaan barang pusaka yang dapat menyebabkan pertempuran sengit di antara para prajurit. Orang-orang yang bertarung memiliki energi yang sangat kuat. Chandra merasa mereka setidaknya telah mencapai Alam Kesucian Tingkat Lima.Pesilat di level seperti itu adalah orang yang sangat kuat. Sekalipun di 3000 dunia tersegel, mereka orang yang sangat kuat. Mungkin sedikit lebih lemah daripada orang hebat yang melawan langit. Namun, orang seperti itu memenuhi syarat untuk memperebutkan keberuntungan dari bencana alam.Chandra tidak ingin ikut campur. Ka
Sasa selalu seperti ini, dia hanya mengatakan setengah dari apa yang ingin dia katakan. Dia pun meninggalkan rumah Penguasa Kota dan pergi ke daerah di belakang kota. Chandra juga tak berdaya.Selanjutnya, Chandra mengajak Lilian jalan-jalan keliling kota dan memperkenalkan secara singkat asal-usul Istana Abadi Ceptra. Lilian pun memasang wajah penuh takjub.Di luar, pasukan mengangkut makanan dengan sangat cepat. Mereka segera memindahkan semua makanan ke dalam istana. Lilian juga memberi perintah kepada mereka untuk memberi Chandra sedikit benih, agar Chandra bisa membawanya kembali ke bumi.Di luar Istana Abadi Ceptra.Setelah semua makanan dipindahkan ke dalam istana, Chandra menyimpan kembali istana tersebut.Barak militer.Banyak orang berkumpul di sana. Jarga, Lilian dan beberapa anggota keluarga Sky. Lilian melambaikan tangannya kepada Chandra dengan raut wajah enggan.“Sampai jumpa, Kak Chandra. Aku akan latihan dengan giat. Setelah Sky Draga dan bumi bersatu, aku akan pergi c
Chandra tidak terburu-buru. Dia menunggu dengan sabar. Sementara para prajurit memindahkan makanan, dia dan Lilian berjalan masuk ke dalam Istana Abadi Ceptra.Di dalam istana, rumah Penguasa Kota. Begitu Chandra mendekati rumah Penguasa Kota, seekor burung berwarna ungu terbang mendekat. Burung itu semakin mengecil hingga akhirnya menjadi seukuran burung pipit dan hinggap di bahu Chandra.“Ih?” Lilian spontan berseru ketika melihat Pemakan Langit seukuran burung pipit itu.Chandra berbalik dan menatap Lilian, lalu bertanya, “Ada apa?”“Burung ini ... tampak familiar.”Lilian terus menatap Pemakan Langit itu, menatapnya dengan saksama. Beberapa detik kemudian, dia tersenyum dan berkata, “Dia sangat mirip dengan burung merah di pintu masuk desa tanah leluhurku.”Seluruh tubuh Chandra gemetar ketika mendengar kata-kata Lilian. Burung di pintu masuk desa tanah leluhur keluarga Sky? Dia tidak memperhatikan, juga tidak tahu apakah ada burung seperti itu di tanah leluhur keluarga Sky. Namun,
Sekarang di 3000 dunia tersegel telah muncul retakan. Jika orang itu tidak cukup kuat, maka orang itu bisa melewati segel dengan mudah dan muncul di bumi. Akan tetapi, kekuatan segel itu masih sangat kuat. Pesilat yang sangat kuat sekalipun tidak dapat melewati segel dan muncul di bumi. Sekalipun mereka dapat melewatinya, mereka harus bayar harga mahal.Kekuatan Lilian tidak termasuk kuat, dia bisa melewati segel dan pergi ke bumi. Namun, bumi sedang kacau sekarang. Sekalipun ke sana dia juga tidak bisa memperjuangkan keberuntungannya. Lebih baik baginya untuk tetap tinggal di Sky Draga. Keduanya kembali melalui rute yang sama. Beberapa hari kemudian, mereka kembali ke Kota Sky Draga. Begitu kembali, orang-orang di keluarga Sky bertanya pada Chandra. Jawaban Chandra tetap sama, yaitu tidak mendapatkan apa-apa.Keluarga Sky tidak terkejut kalau Chandra tidak mendapatkan apa pun. Selama bertahun-tahun, sudah entah berapa banyak orang dari keluarga Sky telah pergi ke tanah leluhur, tapi