Dengan bungkam, Sazlina mengambil gamis dan kerudung dari ransel. Berniat membawa masuk ke dalam kamar mandi di pojok ruang. Melewati Khaisan yang duduk di ranjang sambil terus melihatnya. “Kenapa bawa baju ke dalam? Itu kan ribet, Saz. Lagipula kamar ini cukup luas hanya untuk menampungmu bertukar baju,” tegur Khaisan menahan gelisah dan kesal. Sazlina benar-benar terus menghemat suaranya. Sial lagi, sejak terungkap hal besar bahwa sang istri adalah penyelamat di masa lalu, membuat perasaannya canggung dan segan. Khaisan seperti mati kutu dengan tatapan dingin Sazlina. Menjadikannya serba salah. Perempuan yang ditegur tidak menyahut. Terus berjalan hingga tenggelam di balik pintu kayu kamar mandi yang mengkilat berpelitur. “Ck…!” Khaisan bedecak keras sebab merasa suntuk. Tidak terima dengan sikap Sazlina yang berubah acuh tak acuh dan mengabaikan. Namun, sesuatu yang teronggok di atas karpet membuatnya tersenyum dan berdiri dengan cepat. Itu adalah barang pribadi milik Sazlina
Meski salju sudah lama turun dan berhenti dari awal datang. Namun, hawa dingin masih seperti membekukan. Sazlina merasa dirinya jauh lebih sensitif pada cuaca belakangan ini. Bahkan timbul rasa meriang kadang-kadang. “Rambutmu pada berdiri, Saz. Apa sebab aku …?” tanya Khaisan dengan tatapan redupnya. “Bukan, bukan sebab kamu. Aku memang sangat dingin. Bukankah dari berangkat aku selalu mengeluh dingin? Tapi aku berharap ada salju yang kusentuh ….” Sazlina buru-buru menyela ucapan Khaisan. Meski sentuhan suaminya sudah sangat tidak sopan, namun memang hawa dinginlah yang membuat kulitnya meremang. “Salju turun di Osaka sangat sebentar, itu pun jarang terjadi. Sama juga dengan di Tokyo, moment yang tidak terduga. Jika ada pun, hitungan menit saja seperti malam ini.” Khaisan menjelaskan dan kemudian tersenyum. Merasa suka dengan respon Sazlina yang terus bergerak-gerak bak cacing kebingungan di bawah kungkungannya. Lebih semangat lagi, istri yang semula bersikap dingin dan marah, tid
Tok Tok Tok“Ada orang…!” respon Sazlina dengan raut waswas. Mendorong Khaisan untuk menyingkir. “Mungkin Daehan atau Shanumi.” Khaisan tidak berat hati untuk menjauh dari menindih istrinya. Sadar jika panggilan di pintu sangatlah penting kali ini. “Mau ke mana?” Daehan menarik tangan Sazlina untuk mundur kembali. “Bukain pintu…,” sahut Sazlina bingung dan kaget. “Kamu pergilah ke kamar mandi. Biar aku yang buka pintu. Itu belum tentu Shanumi, mungkin juga si Daehan. Sedang kamu… nggak pakai boxer.” Khaisan bicara santai sambil berdiri. Lelaki itu terlihat tetap rapi meski ulahnya sangatlah kelewatan. Hanya zipper celana yang mungkin agak turun, tampak sedang dibenarkan sambil jalan. Sazlina menurut dan tidak membantah. Menyadari keadaannya yang sudah kembali ke semi higienis dan bukan bersih yang sempurna. Berharap yang di luar adalah Daehan dan bukan Shanumi. Sangat tidak nyaman jika harus berbincang dengan keadaan berantakan, Sazlina melesat ke dalam kamar mandi. Lima belas
Tok Tok Tok! Bunyi ketukan sangat keras. “Ada orang …!” Sazlina memekik kaget. Keluar dari kamar Oma dengan perasaan lega, tiba-tiba terdengar ketukan nyaring di ruang tamu. Posisi pintu utama rumah tidak jauh dari yang sedang dilewati bersama sang suami. “Siapa bertamu larut malam seperti ini …,” gumam Khaisan. Merasa keluarga di Tokyo tidak ada yang berencana datang ke Osaka malam ini. Hanya dirinya dan Sazlina. Namun, Khaisan gegas melangkah mendekati pintu. Tidak suka akan ada ketukan keras lagi berikutnya. Menyingkap sedikit tirai guna memastikan keamanan. Bereaksi terkejut dan kini diam sambil memandang Sazlina.“Siapa di luar …?” Sazlina mendekat dan bertanya rendah. Merasa janggal dengan reaksi suaminya. “Keponakan Oma,” sahut Khaisan dan terlihat enggan. Tidak juga kembali menghadap pintu. “Kenapa tidak cepat dibuka? Di luar pasti dingin, kasihan …,” ucap Sazlina heran. Sambil akan merapat ke pintu. “Biar aku yang buka, Saz!” Khaisan setengah berseru lirih sambil meng
Lelaki yang lamat-lamat diingat Sazlina dan bergelagat memberi ancaman, telah bertindak lebih gesit darinya. Dekapan yang mengunci tak terlawan oleh tenaganya yang bagi lelaki itu pasti tidaklah seberapa. “Jangan kurang ajar! Kenapa kamu tidak menghargai keponakanmu?” tanya Sazlina yang segera paham situasi dan kondisi. Secara silsilah, tempat Khaisan adalah sebagai keponakan pria itu. “Aku tidak menyangka, keluarga sepupuku adalah pengkhianat semuanya.” Pria di belakang Sazlina berbicara lirih. Mengunci dua pundak Sazlina dengan membentang lengan di bawah leher. Wajah merapat di kepala Sazlina. Meski berkerudung, tetapi terasa jika bibir pria itu menempel di telinga mungilnya. “Maksudmu apa? Tapi, singkirkan tanganmu.” Sazlina bicara tegas. Namun, lelaki itu mengabaikan dan bertahan dengn posisi semula. Sungguh risih rasanya. “Aku sangat menyukai adikmu. Tetapi tiba-tiba Daehan menikahinya. Dia berbohong, dia bilang Shanumi sudah punya calon. Aku pun mundur, sebab sebetulnya aku
Pesawat yang membawa Shanumi dan Daehan telah membumbung tinggi di angkasa biru langit Jepang yang cerah dan merekah pagi ini. Meninggalkan dua insan dengan ekspresi berlainan. Yang satu bermuka tenang dan cerah, satu lagi terlihat sedih dan muram dengan mata yang tak henti berkaca-kaca. “Sudah, Saz, ikhlaslah. Semua manusia di dunia, sedekat dan sesayang apa kita, akan berpisah dan memiliki masa depan sendiri-sendiri. Kamu dan adikmu sudah memiliki pasangan hidup, dengan keluarga barumulah seharusnya kamu merasa bahagia saat ini.” Khaisan berusaha meredam kegalauan istrinya. “Siapa keluarga baruku?” tanya Sazlina tersenyum. Tidak ingin menghampakan maksud baik perkataan suaminya. “Mama Hana…,” sahut Khaisan sambil mengulum senyum. “Kok mertua … lalu suamiku buat apa?” tanya Sazlina pura-pura bersungut. Kesedihan akan kepergian Shanumi dari negara Jepang benar-benar sedikit berkurang sebab canda suaminya. “Keluarga barumu hanya aku. Tetapi jika kamu menganggap Mama dan Papa juga
Perjalan panjang yang singkat tetapi penuh warna dan bahagia dengan kereta cepat pun berakhir. Mereka kembali pulang. Rumah besar yang terlihat lengang dari luar, tetapi ada dua orang tukang kebun sedang bekerja di area taman dalam rumah. Buru-buru menoleh dan mengangguk khidmat demi menyambut kedatangan Tuan Muda rumah itu. “Apa tidak ada orang di rumah?” Khaisan bertanya pada mereka dalam bahasa lokal. “Kami tidak tahu, kami baru datang.” Mereka menyahut juga dalam bahasa Jepang sambil menggeleng berulang kali. Sebab mereka terlihat sungguh-sungguh, Khaisan tidak ingin bertanya lagi. Tukang kebun itu hanya datang tiga kali dalam satu bulan. Bukan pekerja tetap rumah ini. Sebab tidak pernah tukar orang, wajah dua tukang kebun itu sangatlah dihapalnya. Khaisan membawa Sazlina masuk ke ruang utama dan langsung menuju tangga untuk naik ke lantai dua. “Saz …!” seru Kjaisan pada Sazlina yang sudah melewati kamarnya. Mereka sudah berada di deretan kamar di lantai dua. “Aku ingin men
Khaisan berdiri di belakang istrinya di depan cermin rias di kamarnya. Tidak bosan memandang dengan bibir senyum simpul. Mata rada sipitnya yang biasa bersorot tajam, kini meredup dan teduh. “Sudah, biar aja terlihat. Hanya ada Mijhe.” Khaisan memberikan pendapat. “Tiba-tiba ada orang datang, kan malu…. Lagipula, yakin ya jika Clara gak ada?” sahut Sazlina sambil memasang dan membenarkan kerudung instan agar menutup di leher serta dadda. Setelah tampak sibuk mengoles salep di beberapa titik lebam pada leher putihnya. Ulah Khaisan siang tadi saat mereka coba making love yang pertama. “Padahal itu hanya noda palsu.” Khaisan berkata lirih yang jadi melebar senyumnya. Abai akan tanya Sazlina tentang Clara. “Kok noda palsu?” sahut Sazlina cepat hingga menolehkan wajah. Bukan lagi memandang di cermin. Sambil menatap suami, dia menyimpan sajadah dan mukena ke dalam almari. Mereka baru saja berjamaah dalam shalat. “Gimana tidak palsu, aku gagal…,” ucap Khaisan mengeluh sambil mendekati s
Memang lelaki, konon … meski tidak memakai hati, tetapi napsu dan hasrat terus menyala panas melebihi bara api. Begitu pun Daishin. Rasa kesal dengan niat sekadar menggoda, pada akhirnya seperti lupa diri. Mengakui jika tampilan Osara terlalu membuat lena yang akan menyeretnya hingga seperti gila. Benar-benar lupa dengan batasan bahwa gadis itu masih berstatus saudara baginya. Juga abai pada aturan hingga dirinya mulai membuat lagi dosa besar.Tap (Lampu kamar mandi menyala) Tap (Lampu meja di samping ranjang menyala) Tap (Lampu di depan pintu menyala) Seperti lepas posisi jantung di dadanya. Kondisi gelap gulita berubah terang benderang. Cahaya silau seperti menusuk dalam di mata Daishin yang redup. Sesaat.... Sebab rasa tertusuk dan silau oleh lampu, terganti dengan pemandangan memabukkan dari Osara yang hampir telanjangg sebab ulahnya. Hasrat dalam jiwa kembali menggelegak hingga ke ubun di kepala. Namun…. “Maafkan aku, Osa!” ucap Daishin setelah terkesiap dengan kedua mata
“Shiin!” Seruan Osara terdengar gemetar dan ragu. Daishin tidak jadi membuka pintu kamar saat merasa kemeja piyamanya tertarik keras ke belakang hingga membuat kerahnya mencekik leher. Merasa ini perbuatan Osara yang random dan tidak cukup hanya memanggil. “Apalah kau ini, Osa!” Daishin merasa kesal dengan cara gadis itu menahan langkahnya. Bahkan kepala pun ikut mendongak ke atas. Memanggil ragu tetapi tarikan di baju kelewat kencang. Rada-rada memang. “Berapa lama mati lampu…?” tanya Osa dalam gelap. Masih menarik kuat ujung kemeja belakangnya. Ponsel Daishin sudah benar-benar tidak berdaya menyala. Sedang punya Osara diletak sembarangan dalam koper bersama tas cantiknya begitu saja sebab buru-buru. “Aku tidak tahu, biasanya lama.” Daishin menyahut susah sambil berdecak samar. Menduga Osara takut gelap seperti perempuan pada umumnya, menyimpan sikap manja terpendam. “Kamu jangan narik kemeja gini, ah! Kepalaku bisa nengkleng. Ketampananku bisa aus sebelum mencapai lansia.” Dai
Osara tidak menyadari jika salah kamar. Bahkan dirinya hampir tertidur pulas saat Daishin menelponnya dan berkabar bahwa kamar mereka telah tertukar. Maklum, hanya dari koper pribadinya semua keperluan dia ambil. Secara kasat mata memang seperti kamar hotel pada umumnya. Serba warna putih. Namun, aroma kamar yang maskulin memang mencolok dan ini diabaikan Osara. Kini baru disadari jika isi dalam almari memang full barangan pribadi milik lelaki. Boxer, kaos dalam dan kaus kaki besar yang semua serba warna hitam. Juga beberapa piyama polos navy yang modelan lelaki. Serta T-shirt keren yang semuanya berwarna gelap khas pujaan lelaki. “Ish, ada ada saja, pria brengsek, pasti sengaja!” Osara sangat kesal hingga merutuki sambil menyeret koper keluar kamarnya. Meski lengang dan larut, terpaksa ditempuh demi sikap baiknya yang terpendam. Menuju lantai sembilan di nomor kamar yang sudah Daishin sebutkan. Meski ada rasa trauma dan takut akan kejadian waktu itu, tetapi salah kamar yang mem
Sebab tidak ingin menjadi obat nyamuk. Daishin memilih duduk di meja sendiri dan makan dengan santai tanpa perlu berhadapan dengan dua manusia yang di matanya sungguh kekanakan. Namun, membiarkan juga saat tagihan di mejanya dibayarkan oleh teman Osara bernama Tengku itu. Daishin juga acuh tak acuh saat lelaki muda itu terlihat segan yang mungkin sudah menganggapnya calon kakak ipar. “Begitu ya, kelakuanmu di luaran? Orang tua menganggap kamu gadis baik, sampai dicarikan jodoh sultan, nyatanya kamu punya laki-laki di sini?” Daishin menegur Osa setelah saling diam di sepanjang jalan pulang. Tengku adalah orang yang mengantar mereka menuju hotel dan baru saja berlalu. “Kamu kuno sekali. Makan dan ketemuan model gini bukankah lazim? Ini cuma pendekatan dan bukan lamaran. Untuk apa diakui di depan keluarga kalo cuma sebatas makan malam. Aku bukan gadis brengsek. Hari itu aku menolak Firash sebab sudah ada Tengku yang kusaka dan sepertinya dia juga sama. Aku berencana kembali ke Jepang.
Daishin yang terbang ke Jepang lebih cepat beberapa hari daripada Osara, hari ini terpaksa kembali ke bandara untuk menjemput kedatangan gadis itu malam ini. Mama Azizah dan Papa Handy akan menyusul dua hari kemudian. Setelah dirasa kesehatan papanya benar-benar fit tanpa keluhan. Daishin baru saja berdiri di pintu kedatangan saat dari jauh terlihat calon istri dadakannya mendorong koper baru yang berwarna coklat susu. Setelah berada dekat dan mereka saling menghampiri, sangat jelas jika wajah cantik Osara sangat masam dan tanpa senyum memandangnya. “Sudah kubilang, tidak perlu jemput aku. Temanku sudah siaga menyambutku.” Osara berkata dingin seperti biasa belakangan ini. Sikapnya pada Daishin kembali ketus dan kaku setelah mereka dijodohkan. Sikap membaik saat saling dukung untuk mendapat video bukti Firash waktu lalu, kini hilang tak tersisa. “Mana temanmu? Jika siaga harusnya sudah di sini.” Daishin menyahut datar. “Dia masih dalam perjalanan. Lambat beberapa menit hingga bela
Kamar ICU di rumah sakit terasa sungguh sunyi, hanya suara mesin pemantau jantung yang berbunyi pelan di samping ranjang. Osara duduk di kursi, matanya sembab, sementara Daishin berdiri dengan wajah muram di dekat jendela.Sama-sama sedang merasa cemas dan merasa bersalah. Terlebih beberapa kali tatapan Mama Azizah yang tajam seperti sedang mengiris dan menguliti. Di atas ranjang, Papa Handy berbaring lemah meski kesadarannya sudah kembali. Wajah memucat tetapi matanya tetap memancar sorot tegas. "Aku hanya ingin melihat kalian menikah sebelum aku pergi," suara Papa Handy terdengar lirih namun penuh harapan. Kembali mengungkit perkara penyebab kambuh sakitnya. Osara menggigit bibir. "Tapi, Pa ... jangan bicara seperti itu. Kumohon, mengertilah. Kami tidak saling mencintai. Aku juga tidak terpikir untuk menikah dengannya. Keinginan Papa, aku tidak bisa." Osa bersikeras pelan dan hati2. Daishin yang sudah berdiri di sebelahnya pun mengangguk. "Ini bukan hal yang bisa kami jalani beg
Orang-orang di ruang tamu terbelalak. Bahkan juga Osara. Tetapi semua bungkam dan mematung memandang Daishin. Pengakuannya barusan terdengar tidak masuk akal bagi Papa Handy dan Mama Azizah. Osara sungguh heran, tidak menyangka Daishin tiba-tiba mengaku yang sebenarnya. Waswas pada Papa Handy, takut jantung di dada tua itu kembali bermasalah. Lagi-lagi itu membuatnya merasa selalu jadi penyebab segala ketidaknyamanan belakangan ini. Padahal, Osara berharap semua berlalu begitu saja tanpa perlu mencium bangkai dalam rumah di keluarganya. Justru kecewa dan sangat terkejut akan pengakuan Daishin yang tiba-tiba. Sayang, tidak ada kesempatan untuk melarang Daishin membuat pengakuan. “Duh, Shin …. Bicara apa kamu ini? Ucapkan istighfar. Sana ucap istighfar, Nak. Hal begitu tidak boleh buat candaan dan main-main,” Mama Azizah yang akhirnya memecah kebisuan. Memang sama sekali tidak percaya. “Iya, ngomong apa sih? Kamu nggak lihat keadaan! Bercanda nggak kira-kira!” Osara ikut nenimpali
Sebab ucapan Firash, Papa Handy seperti sedang kebakaran jenggot. Sangat tidak terima dan menganggap tuduhan itu hanyalah alibi Firash yang mengada-ngada. “Jangan ucap fitnah secara ceroboh demi menutup aibmu sendiri, Firash.” Papa Handy bicara dengan nafas yang seolah hanya sampai di tekak. Terlalu marah hingga susah berkata-kata. Napasnya pun memburu tiba-tiba. “Siapa yang berkata fitnah, Om? Ha ha ha, aib anak orang di seberang benua sebesar gajah. Aib anak sendiri di lubang hidung tak terendus. Pandai sangat ya Osara kau?!” ucap Firash tampak puas dengan senyum lebarnya pada Osara. Lelah menatap marah pada Firash, kini tatapan Papa Handy bergeser pada Osara. Anak angkat yang sedang diperjuangkannya itu justru menunduk dengan tangisan. Seketika tatapan Papa Handy berubah nyalang sebab perasaannya tiba-tiba tidak enak. Bukan marah, menyangkal atau mengumpat tidak terima, tetapi Osara justru menangis. Ah, respon macam apa itu?! Papa Handy merasa harus terbiasa menghadapi Osara.
Sudah hampir pukul tujuh pagi, tetapi matahari belum terbit di bumi jiran, Malaysia. Maklum, waktu subuh pun tiba sekitar pukul enam pagi. Meski perbedaan waktu hanya 1 jam lebih cepat dengan waktu di Indonesia bagian barat, tetapi perbedaan waktu ini sungguh mencolok. Namun, sebenarnya waktu di Malaysia ini memberi kemudahan kepada seluruh warga. Khususnya bagi muslim. Kenapa? Tentu jatuh waktu begini lebih membuat ringan. Bisa bangun pagi sekalian shalat subuh sambung pergi kerja. Sebab, waktu efektif kerja pun dimulai pukul tujuh pagi. Berbeda tantangan dengan di Indonesia bagian barat. Serba nanggung rasanya, subuh pukul empat lebih, sedang waktu efektif kerja pukul tujuh. Habis subuh tidur dulu. Alhasil bangun tidur kepala jadinya pening! Apa kamu pun begitu? Namun, ada waktu di Indonesia yang bersamaan dengan waktu di Malaysia. Yakni di wilayah Waktu Indonesia bagian Tengah. Tidak ada selisih waktu dengan di Malaysia! Osara turun tangga dengan penampilan yang sudah rapi da