“Apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku!” Yuriel berteriak histeris ketika dua pria berpakaian hitam membawanya melewati kerumunan orang di klub malam itu.
Yuriel Scott, seorang gadis berusia 20 tahun juga merupakan mahasiswi jurusan Arsitek. Sejam yang lalu saat dia baru selesai kuliah malam dan hendak pulang, dua orang berjas hitam tiba-tiba menghentikan jalannya dan menculiknya ke dalam mobil Van, dia kemudian dibawa ke sebuah Klub malam.
Dua pria itu tidak peduli dengan pemberontakan Yuriel dan terus membawanya melewati kerumunan orang di klub malam.
Dia memberontak dengan putus asa bahkan meminta tolong pada orang-orang di sekitarnya.
Tapi mereka hanya melirik sekilas dengan tidak peduli, bahkan ada yang mencemoohnya.
“Lepaskan aku!” seru Yuriel hampir menangis.
Namun dua orang yang menculiknya itu tidak peduli. Mereka berhenti di depan sebuah pintu ruang VIP. Pintu dibuka dan Yuriel dilemparkan dengan kasar ke dalam.
Yuriel mengaduh kesakitan kepalanya ketika terantuk meja kaca. Darah mengalir dari pelipisnya.
“Aduh, kalian ini gimana sih. Perlakukan tamu kita dengan benar, dong.”
Suara wanita terdengar jahat menegur dua orang berjas itu.
Yuriel menegang mendengar suara yang menjadi mimpi buruknya selama empat tahun di kampus. Dia dengan cepat mendongak melihat gadis berambut merah memakai gaun hitam minim tengah menyeringai sinis dengan sebatang rokok terselip di bibir bergincu merah terang.
“Thalia!” Gadis bermata emerald itu gemetar ketakutan.
Thalia adalah mimpi terburuknya.
Dia terkenal sebagai bully di kampus dan tiran kejam di jurusan mereka. Dia selalu menarget Yuriel sebagai sasaran bully dan menyiksanya di setiap kesempatan. Dia adalah pembully paling kejam yang pernah Yuriel temui.
Saat dia masih mahasiswa baru, Yuriel pernah melaporkan Thalia karena memukul salah satu teman sekelasnya. Dan itu awal mula mimpi buruknya. Thalia menjadikannya sebagai target paling sering di-bully selama dua tahun kuliah.
Yuriel hanya anak yatim-piatu yang tumbuh di panti asuhan. Dia tidak berdaya melawan Thalia yang memiliki keluarga berkuasa.
“Apa yang kau lakukan membawaku ke sini?” Seluruh tubuhnya gemetar.
Bukan hanya Thalia yang ada di ruangan itu. Beberapa adalah teman-teman sekelasnya yang merupakan gengnya Thalia dan beberapa laki-laki yang tidak dikenalnya.
“Menurut apa yang akan kulakukan?” Thalia tersenyum ramah mengelus kepala Yuriel yang duduk bersimpuh di bawahnya.
Elusan di kepalanya berubah menjadi jambakan keras.
“Tentu saja untuk memberi jalang sepertimu pelajaran!” Thalia menjambaknya dengan kuat. “Beraninya kau menggoda Alvin!”
“Aku tidak merayunya! Dia sendiri yang mendekatiku duluan.” Yuriel mengisak di bawah cengkeraman menyakitkan Thalia.
Thalia mencibir.
“Jika bukan karena kau yang banyak tingkah di depannya, apakah Alvin akan sudi mendekati gadis miskin sepertimu, hah!” Thalia bagai kesetanan dan mengempaskan kepala Yuriel ke meja kaca di sampingnya dengan keras.
Terdengar suara terkesiap di antara orang-orang di ruangan VIP itu. Tetapi tidak ada satu pun yang berani menghentikan Thalia dan hanya menonton dengan tangan terlipat menyaksikan gadis malang itu.
Kepala Yuriel berdengung usai menghantam meja kaca itu. Luka berdarah di kepalanya bertambah dan mengeluarkan banyak darah. Dia melihat tangannya yang penuh darah dan mendongak menembakkan tatapan penuh kebencian ke arah Thalia, wanita iblis itu.
Apa pun yang dia lakukan atau katakan, Thalia tidak akan peduli sedikit pun dan akan menyalahkannya untuk menyiksanya setiap saat.
“Mengapa kau melakukan ini padaku! Aku tidak perbuat salah apa pun padamu!” Yuriel berteriak marah.
Selama ini dia sudah menahan segala sikap tirani yang selalu dilakukan Thalia. Kali ini dia tidak akan menjadi pengecut lagi di depan wanita iblis itu. Dia sudah menahannya selama ini demi beasiswa kuliahnya.
“Wah, wah, wah ... Kau semakin berani, ya!” Thalia menunjuk-nunjuk dahinya sambil tertawa mencemooh.
“Kau ingin tahu mengapa aku melakukan ini padamu?” Thalia memelintir rambut cokelat terang Yuriel.
“Itu karena kamu adalah Yuriel. Yuriel si gadis miskin yatim piatu. Orang sepertimu tidak hanya bisa bersekolah di kampus yang sama seperti kami, kau bahkan berani merayu Alvin untuk panjat status. Kau pikir kau siapa, hah!” Dia menamparnya dengan keras, lalu menjambak rambutnya sekali lagi.
“Apa pun kau lakukan tidak akan merubah dirimu dari bebek jelek menjadi angsa.” Thalia tersenyum mengejek melihat wajah berdarah Yuriel. Tidak ada belas kasih di matanya.
Yuriel memelototinya dengan tajam. Tidak ada raut permohonan di wajahnya untuk meminta belas kasihannya seperti yang selalu dia lakukan setiap kali Thalia menyiksanya.
“Kau pikir kau bisa sesukamu hanya karena kau mempunyai segalanya? Apa kau tahu apa yang dikatakan Alvin tentangmu?” ujarnya menyeringai mengejek, menatap Thalia menantang.
Raut wajah Thalia berubah mendengar kata-katanya. Dia menarik rambut Yuriel dan membuatnya mendongak.
Ada kekejaman di matanya saat dia mendesis. “Apa yang dikatakan Alvin tentangku, jawab!”
Yuriel meludahi wajahnya.
“Kau gadis mengerikan!”
Raut wajah Thalia tampak mengerikan. Dia melemparkan kepala Yuriel ke meja.
“Sepertinya kau perlu diberi pelajaran keras, ya.”
Dia tersenyum keji menoleh ke arah beberapa teman laki-lakinya, dan memerintah mereka dengan nada manis yang dibuat-buat. “Teman-teman, sekarang dia milik kalian. Perlakukan dia dengan baik, ok.”
Para lelaki itu berdiri dengan penuh semangat menerima perintah Thalia.
“Apa yang kalian lakukan!” seru Yuriel mundur dengan panik ketika lima orang laki-laki mendekatinya dengan pandangan cabul di mata mereka.
“Ayo kemari cantik, kita akan bersenang-senang bersama.”
“Cantik, jangan takut.” Mereka tertawa mesum. Tangan -tangan mereka begitu nakal menyentuh tubuhnya di mana-mana.
Yuriel merasa mengerikan. Dia jatuh terduduk di meja kaca dengan kelilingi lima orang laki-laki itu. Dia berteriak histeris menepis tangan-tangan kotor itu. Tidak satu pun orang yang mau menolongnya. Beberapa teman-teman sekelasnya hanya menontonnya.
Dari ujung matanya dia dapat melihat Thalia tersenyum sinis sambil merekamnya dengan kamera ponsel.
Dia merasa putus asa saat salah satu dari laki-laki itu menarik bajunya sampai robek. Sambil menggertakkan gigi dia mengambil benda terdekatnya dan memukul kepala laki-laki itu dengan botol minuman keras.
“Arggghh!” Laki-laki itu berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya yang berdarah. Semua orang kaget menyaksikan kejadian itu.
“Andy!” seru teman-temannya dan menanyakan keadaan teman mereka.
Yuriel mengambil kesempatan saat perhatian semua orang teralihkan untuk melarikan diri dan menerobos anak buah Thalia yang perhatian mereka teralihkan.
Bruk!
Yuriel hampir jatuh ke belakang saat dia menabrak seorang pria di depan pintu ruang ViP.
Sebuah lengan kekar memeluk pinggangnya mencegahnya jatuh. “Hati-hati.”
Yuriel mendongkak dan bertatapan sepasang mata segelap obsidian. Dia punya waktu untuk memandang wajah pria itu ketika suara Thalia meraung marah di belakang.
“Kejar dia!”
Yuriel mendorong kuat pria itu dan berlari kencang meninggalkan tempat itu.
Pria itu mundur ketika dua orang pria berjas keluar dari ruang VIP dengan terburu-buru, mengejar gadis berambut cokelat.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” Asisten pribadinya bertanya khawatir.
Pria itu tidak menjawabnya, tetapi memandang gadis berambut brunette yang menghilang di kerumunan dengan kening berkerut, tampak memikirkan sesuatu.
“Yunifer ....”
Tepat ponsel di sakunya bergetar. Pria itu mengambil ponsel, melihat itu nama Yunifer di layar ponselnya. Pikiran di kepalanya sirna. Dia tidak menjawab ponsel itu dan bertanya dingin pada asistennya.
“Bagaimana dengan sidang perceraian?”
“Nyonya Yunifer menolak datang ke pengadilan dan pergi ke luar kota. Kami tidak tahu ke mana dia pergi.”
Pria itu berdecak.
“Siapkan tiket penerbangan ke ibukota. Aku sendiri yang membuatnya menandatangani surat cerai.”
“Baik, Tuan Gilren.”
Yuriel berlari kencang menembus kerumunan orang di klub tanpa menoleh ke belakang, berlari keluar dari tempat jahanam itu."Berhenti!" Dua orang berjas hitam masih mengejarnya di belakang.Yuriel panik dan terus berlari tanpa menoleh, menyebarang jalan sepi. Tidak ada lagi mobil lewat di jalanan sepi.Dia berhenti di tengah jalan ketika napasnya sudah mencapai batas. Dia tidak bisa berlari lagi.Tiiinnn!Sebuah mobil dengan cahaya lampu menyilaukan membunyikan klakson kencang. Yuriel membelalak ketika mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak tubuhnya, sebelum berbelok menabrak pohon besar di pinggir jalan.Sementaranubuh gadis itu terpanting di aspal jalan. Darah segera mengalir dari keluar dari tubuhnya.Dua orang yang mengejar Yuriel terpaku me
Sosok pria jangkung berjalan mantap di koridor rumah sakit. Kehadirannya menarik banyak perhatian orang-orang yang dilewatinya. Aura karismatik memancar dari tubuhnya tegap yang dibalut setelan jas mahal biru gelap. Wajah tampan nan dingin lelaki itu semakin memperkukuh karismanya sebagai seorang presdir sebuah perusahaan.Aleandro Gilren, siapa yang tidak mengenal sosok Presiden Direktur yang setiap minggunya menghiasi majalah-majalah bisnis.Dengan wajah tampan dan karisma seorang Presdir, banyak wanita yang rela melemparkan diri di bawah kakinya.Aleandro memandang lurus ke depan dengan ekspresi acuh tak acuh, tidak memedulikan hiruk pikuk di sekitarnya. Di belakangnya, asisten dan sekretarisnya mengikutinya, serta seorang pengacara dan asistennya.Seorang dokter paruh baya buru-buru menghampirinya diikuti suster yang mendampinginya.“Tuan Gilren, senang bertemu dengan Anda.” Dokter itu men
Sekejap kepala Yuriel berdengung mendengar kata-kata dokter itu. Gambaran sosok berdarah wanita yang tidak bernyawa dalam mobil berkelebat dalam kepalanya.Api besar berkobar membakar mobil itu disertai suara ledakan yang memekakkan telinga berseliweran bagaikan kaset rusak. Yuriel seketika menjerit histeris memegang dadanya. Tikaman rasa sakit menyerang dadanya. Napasnya tercekat. Dadanya sesak. Dia tidak bisa bernapas.Yuriel tersendat-sendat mencoba untuk bernapas. Seluruh pandangannya memburam oleh air mata. Bayangan wanita yang tidak bernyawa dalam mobil terus-terusan berkelebat dalam kepalanya.Dia mencengkeram dadanya. Tangisannya pecah, terdengar seperti lolongan binatang yang terluka. Itu terdengar memilukan membuat orang mengalihkan pandangan dengan mata memerah.Aleandro tertegun dan beberapa orang di ruangan itu terdiam.Dokter
Sosok wanita cantik dengan pakaian bermerek menghardik dua suster yang bergosip di depan pintu kamar rawat Yuriel.“Siapa yang kalian sebut panjat status karena membius, hah! Itu Presdir brengsek yang memaksanya! Selain itu dia duluan berselingkuh dari Yunifer. Apa hak kalian mengkritik Yunifer!”“Apa rumah sakit kalian terlalu longgar membiarkan perawat mereka menghakimi seorang pasien?!”Suara keras Melly yang memarahi dua suster itu menarik perhatian beberapa suster dan pasien yang lewat.Dua suster itu menciut diomeli Melly, seorang super model yang sedang naik daun.Awalnya mereka ingin meminta tanda tangan tetapi melihatnya memarahi mereka bahkan menyebut-nyebut rumah sakit tempat mereka bekerja, mereka panik.Mereka telah melanggar etika profesional di tempat kerja.Jika Dokter Kenneth sampai mendengarnya, mereka tidak bisa membayangkan konsekuensinya.
Yunifer semakin tertekan dengan sikap acuh tak acuh suaminya dan cemoohan orang-orang di sekitarnya.Saat kandungannya memasuki bulan ke enam, dia mengalami keguguran karena bertengkar dengan Sherly di rumahnya sendiri.Bukannya mendapat simpati dari orang-orang di sekitarnya, dia justru mendapat kritikan sebagai wanita pencemburu dan tidak bisa menjaga janinnya hingga mengalami keguguran.Semua orang hanya tahu bahwa Sherly datang untuk mengambil dokumen perusahaan yang teramat penting, namun Yunifer malah mengajaknya bertengkar dan menuduh Sherly mencoba menggoda Aleandro. Padahal Sherly yang memprovokasi Yunifer yang sensitif di masa kehamilan bahwa Aleandro akan menceraikannya setelah bayinya lahir.Yunifer tidak bisa menahan keluhan dan kesedihan karena kehilangan bayinya. Tidak ada seorang pun di sisinya yang mencoba membelanya. Bahkan suaminya menjadi semakin dingin dan jauh sejak dia keguguran.
Yuriel menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Melly.Sheryl memandang kedua wanita itu dengan tidak menyenangkan. Dua puluh triliun bukanlah angka yang kecil. Beraninya dua wanita itu memeras Aleandro!Dia maju dan berdiri di sebelah Aleandro untuk menegur Yuriel.“Yunifer, bukankah kau amnesia. Bagaimana kau bisa mengajukan tuntutan tidak masuk akal. Atau sebenarnya kau ....” Sherly tidak langsung melanjutkan kalimatnya dan melirik Aleandro dengan hati-hati.Seolah tidak ingin mengekspos penipuan Yuriel di depan Aleandro.Yuriel dan Melly memutar bola matanya sebal melihat akting Sherly menjijikkan di mata mereka. Dasar perempuan bermuka dua!Aleandro tidak menanggapi Amanda dan hanya memandang Yuriel dengan kening berkerut seolah sedang menilainya.
Yuriel histeris dan memukul pria itu dengan bantal terdekatnya, mengagetkan Aleandro.“Hei-““Aku akan melaporkanmu karena tindakan pelecehan!” Yuriel tidak membiarkannya mengatakan apa pun barang sejenak dan histeris sembari terus memukulnya dengan bantal.Apa maksudnya dengan pelecehan? Dia itu istrinya!Aleandro semakin tersinggung dan marah dengan reaksi orang yang dianggap sebagai istrinya.Beruntung kamar rawat VIIP itu kedap suara sehingga suara Yuriel tidak Kedengaran sampai keluar.“Hentikan!” Aleandro menahan kedua tangan Yuriel dan menatapnya tajam.“Jangan lupa kau itu adalah istriku.”Yuriel memelototinya seolah ingin menelannya bulat-bulat. Setelah menyebabkan adiknya menderita dan berselingkuh dengan wanita lain, beraninya dia menciumku!
Begitu kata-kata Yuriel keluar, keheningan jatuh dalam mobil sedan itu. Sang sopir bahkan hampir menyerempet dari jalur jalan sebelum menyeimbangkan setir mobil.Aleandro kehilangan kata-kata mendengar ucapan Yunifer, pun dengan Sherly.Itu bukan ungkapan kalimat cemburu. Tetapi penghinaan terhadap status istri seorang Aleandro Gilren yang notabenenya seorang Presdir dan raja bisnis di Capital, tidak sebanding dengan status seorang sekretaris.Siapa itu Aleandro Gilren? Dia adalah seorang Presiden Direktur sebuah perusahaan raksasa terkenal di kota Capital dan berasal dari keluarga kelas atas.Statusnya sudah bergengsi sejak dia lahir dan kini menjadi seorang Presdir dengan kemampuannya sendiri, menjadikannya sosok pria idaman banyak wanita. Tak terhitung jumlah wanita yang berlomba-lomba menjadi istrinya. Tetapi Yuriel merendahkannya seolah status istri Aleandro bukan apa-apa dan bisa dipungut dipinggir jalan
Pernikahan Yuriel dan Aleandro bertempat di sebuah hotel pinggir pantai. Dekorasi pesta di dekor dengan serba putih dan dihias bunga Lily tulip seperti taman khayangan. Altar pengantin dibuat menyerupai gapura bunga. Para tamu sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Keluarga Aleandro berbincang keluarga Flint yang hadir. Di altar sosok Aleandro berdiri dengan gagah dalam balutan setelan putih. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Dia sangat tampan hari ini. Banyak wanita maupun gadis-gadis muda mencuri-curi pandang ke arahnya. Terdengar dentingan piano di mainkan, dan semua orang berdiri melihat ke arah sosok pengantin berdiri di ujung jalan menuju altar. Yuri menjadi pendamping mereka, berdiri di depan sambil memegang keranjang berisi bunga. Dia menaburkan bunga di sepanjang jalan. Lewis secara pribadi menuntun Yuriel menyusuri jalan mengantarnya menuju ke altar, di mana Aleandro menunggu. Le
Ginny mendorong dada Lewis untuk melepaskan pelukannya.Lewis membeku, menatapnya dengan mata membelalak.“Ka-kamu …. Dari mana kamu ….” Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Terdiam menatap air mata mengalir dari mata hijau wanitu.“Aku sudah tahu kamu membunuh kakakku dan mengambil jantung keponakanku untuk menyelamatkanku. Meski aku berterima kasih padamu sudah menyelamatkan aku, aku tidak bisa hidup dengan perasaan bersalah ini seumur hidup.”Ginny terisak memejamkan matanya membiarkan air matanya mengalir di pipinya. Dia menarik napas dalam-dalam dan mendongak menatap Lewis.“Aku tidak hidup bersamamu. Lewis, kamu pembunuh, berdarah dingin dan egois. Aku tidak bisa memaafkanmu karena sudah membunuh kakakku. Setiap bersamamu terasa mencekikku dan membuatku sangat muak.”Lewis terdiam sambil mengepalkan tangannya, menatap tanpa daya wanita di depannya.“Maafkan aku,” ujarn
Para pengawal Ludwig langsung bersiaga melihat Lewis menerobos pengawalan Raja. “Tuan Anda tidak bi—” Lewis meraih tangan seorang pengawal yang mencoba menahannya dan membantingkannya ke lantai. Pengawal Ludwig langsung mengeluarkan senjata mereka mencoba menghentikan Lewis mendekati Ludwig. “Berhenti atau kami akan menembak—!” Lewis dengan cepat menjatuhkan senjata pengawal terdekat dan mengalahkan mereka dengan keterampilan bertarungnya. Anak buah Lewis juga membantunya mengalahkan pengawal Ludwig. Senjata mereka dilempar jauh dan mereka terlibat pertarungan fisik. Terjadi kekacauanya di bandara akibat pertarungan mereka. “Gawat, keadaan darurat. Cepat kirim petugas keamanan. Terjadi perkelahian di tempat ini.” “Tuan-tuan mohon berhenti. Kalian tidak bisa berkelahi di tempa ini.” Para stas bandara panik dan memanggil keamanan untuk menghentikan mereka. Ludwig menatap dingin Lewis yang bertarung dengan pe
“Ibu, aku harap kamu akan bahagia.” Yuriel memeluk Ginny erat, sangat enggan melepaskannya.“Jangan khawatir,” ucap Ginny balas memeluknya dengan erat sebelum melepaskannya.“Apa yang kamu rencanakan setelah aku pergi? Apa kamu akan tinggal bersama ayahmu?” tanya Ginny khawatir sambil mengelus rambut Yuriel.“Jangan khawatir Bu, aku akan membawa Yuriel dan anak-anak kembali ke Capital. Kami tidak akan tinggal bersama Lewis. Aku berjanji akan mencintai dan menjaganya.” Aleandro yang menjawab sambil memeluk pinggang Yuriel dan menatap Ginny dengan tatapan tegas.Ginny menoleh menatap Aleandro dan tersenyum.“Syukurlah. Aku tidak akan mencemaskannya lagi. Aku harap kamu akan menepati janjimu.” Ginny menghela napas memandang Yuriel dan Aleandro.“Aku harap kalian selalu bahagia. Terutama kamu Yuriel, jangan bersikap keras kepala dan perlakukan Aleandro dengan lebih baik. Kamu tida
“Apa yang kamu lakukan?!” Dia meringis merasakan hidungnya sakit usai menabrak dada keras Aleandro.Aleandro menarik pinggangnya untuk semakin menempel di tubuhnya.“Apa Freyan sudah tidur?” tanya menunduk menatap Yuriel dengan tatapan panas.“Ya, kenapa?” Yuriel tersipu dan menghindari tatapan panasnya.Aleandro menyeringai dan menunduk untuk berbisik di samping telinganya.“Kalau begitu waktunya kamu menjadi milikku. Sayang mari kita mandi bersama,” bisiknya dengan suara rendah mulai menurunkan jubah mandi Yuriel.Wajah Yuriel memanas. Dia menahan tangan Aleandro dan mendorong dadanya dengan malu-malu.“He-hentikan, aku sudah mandi. Mandilah sendiri. Aku tidak bisa meninggalkan Freyan lama. Bagaimana kalau dia terbangun dengan suara berisik kita,” ujarnya tersipu malu.“Jadilah baik sayang. Bocah itu sudah tidur, dia tidak bangun. Aku akan melakukannya dengan c
Freyan melepaskan dada ibunya dan menangis keras. Tangisannya mengagetkan Yuriel. Dia dengan cepat membujuknya.“Sayang, sayang, kenapa kamu nangis?” ujarnya cemas mencoba membujuk Freyan dan menyusuinya lagi.Namun Freyan tidak berhenti menangis dan tangisannya semakin keras. Yuriel cemas dan memeriksa apa putranya buang besar.Dia berbalik untuk meletakkan Freyan di atas tempat tidur. Dia menoleh melihat Aleandro. Tatapan tajam pria itu tertuju pada putranya.Yuriel menunduk menatap putranya yang menangis dan Aleandro yang memelototi Freyan. Dia seketika marah.“Aleandro Gilren, apa kamu menakuti putraku!” seru Yuriel memarahinya.Freyan terisak kecil di pelukan ibunya, tampak seolah merasakan ibunya membelanya dan memarahi ayahnya.“Bagaimana aku bisa menakutinya? Bocah itu terlalu manja.” Aleandro berkata dengan enggan dan memelototi Freyan.Tangisan bayi kecil itu mengeras.Yuriel
Wajah Yuriel memanas. Dia mencoba mendorong Aleandro.“A-alenadro Gilren … kamu sebaiknya lepaskan aku—Angh!” Yuriel tidak bisa menahan suara erangannya kala lidah panas Aleandro menjilati bibirnya.“Sayang, akui saja kamu menyukainya. Kamu merindukan aku juga, kan?” bisik Aleandro menggoda di samping telinganya. Sementara tangannya menjelajah di tubuh Yuriel dengan nakal.Wajah Yuriel memerah menangkap tangan nakal Aleandro di bawah perutnya.“Aleandro Gilren, hentikan—” desisnya memukul tangan nakal Aleandro yang menyusup di bawah jubahnya.Aleandro mengangkat kepalanya dan tersenyum miring menatap wajah merah Yuriel.Wajahnya berkeringat bergelut dengannya. Keringat mengalir di wajahnya turun ke leher jenjang nan putihnya. Dia terengah-engah memelototi Aleandro. Wajahnya yang memerah membuatnya tampak menggairahkan.Aleandro menelan ludah kering.“Sayang, akui saja
Aleandro berdiri tenang di bawah guyuran hujan deras. Pakaiannya basah kuyup dan wajahnya memucat.“Hei, apa yang kamu lakukan di situ! Kenapa kamu tidak pergi!” seru Yuriel dari atas.Aleandro mendongak dan tersenyum tipis memandang Yuriel dari bawah. Wajahnya pucat, bibirnya membiru bergetar saat dia tersenyum.“Riel, akhirnya aku bisa melihatmu.”Yuriel berdecak.“Apa yang kamu lakukan di sana? Apa kamu tidak lihat hujan semakin deras!”Aleandro seolah tidak mendengarnya.“ Aku minta maaf sudah menipumu dan berpura-pura bertunangan. Aku tidak bermaksud begitu. Aku melakukan itu agar aku bisa bertemu denganmu dan anak-anak kita. Kamu tahu tidak mudah bagiku untuk ke Kingtown,” ujar Aleandro dengan suara rendah, tampak lemah.Yuriel merasa cemas dalam hati melihat hujan semakin deras.“Apa-apaan, apa kamu pikir dengan melakukan ini aku akan memaafkan kamu. Pergilah,
“Mengapa aku harus bekerja sama denganmu? Apa kamu meremehkan kemampuanku?” kata Lewis tidak senang.“Kamu bahkan tidak bisa mengusirnya dari Kingstown-mu dan membuatnya berkeliaran di sekitar Ibu,” balas Aleandro meremehkan.“Lalu bagaimana denganmu? Kamu bahkan tidak bisa menghentikannya membawa Yuriel,” balas Lewis dingin.Aleandro terdiam dengan ekspresi kesal.“Daripada kita di sini bertengkar tidak jelas, mengapa tidak bekerja sama saja mengusir Ludwig Arghio kembali ke tempat asalnya.”Lewis meliriknya dari ujung matanya acuh tak acuh.“Aku tidak butuh bantuanmu untuk mengusirnya. Lagi pula tidak akan lama dia meninggalkan Kingstown.”Ludwig tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Lewis hanya perlu bersabar lagi menunggunya pergi dari sini dan membalas dendam kecil pada Presiden yang membuatnya terlihat remeh di depan Ludwig.“Benarkah?” kata Aleandro